Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Jolly Roger Fantasy belongs to Iisaka Yukako

Rate: T

Genre: Romance/ Adventure

Main Pairing: Naruto x Hinata

Slight Shikamaru x Temari

Warning: OOC, OOC dan OOC, Typo, AU, alur cepat, EYD berantakan, minim deskripsi, perubahan latar tempat yang begitu cepat, cerita tidak berbeda jauh dengan komik aslinya.

Sebelum membaca cerita, perhatikan WARNING terlebih dahulu!

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.

Btw, apakah ff yang terinspirasi dari sebuah komik termasuk plagiat? Karena saya tidak meminta ijin kepada mangakanya terlebih dahulu. ._.a

DON'T LIKE DON'T READ!

Yosh ... douzo!

.

.

.

Princess and Pirate

Sebelumnya:

Naruto kemudian memeluk Hinata lembut, berusaha untuk menenangkannya.

"Maafkan aku. Aku terbawa emosi saat mendengar kau lebih memilih Deidara. Egois memang, tapi aku ingin kau hanya menjadi milikku." jelas Naruto sambil membelai rambut Hinata. Perlahan, isakan tangis Hinata sudah tidak terdengar.

"Aku memang bodoh karena tidak mengatakannya langsung. Jadi, kau mau memaafkanku 'kan, Hinata? Apa kau masih mau pergi bersamaku?"

Hinata tampak berpikir. Dia juga merasa bersalah karena tidak percaya Naruto, padahal Naruto setulus ini. "I-iya. Aku mau." Akhirnya dia menjawab dengan senyum termanisnya.

Naruto tersenyum bahagia. "Terima kasih, Hinata. Aku memang senang mencari harta karun, tapi harta yang yang lebih berharga sudah kutemukan."

"Eh?"

Naruto sedikit merenggangkan pelukannya, ingin melihat wajah Hinata. Rona merah terlihat jelas disana. Kemudian dia memiringkan wajahnya dan semakin mendekati wajah Hinata. Hinata hanya menutup matanya, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Terasa hembusan napas hangat Naruto yang semakin dekat dan kemudian dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Lembut, hangat, dan basah. Ciuman yang didasari rasa kasih sayang, tidak seperti ciuman tadi. Kyuubi menutup matanya dengan ekornya, tidak mau mengintip kemesraan mereka. Karena merasa pasokan udara semakin tipis, Naruto melepaskan ciumannya.

"Dan kamulah hartaku itu." bisik Naruto. Hinata tersenyum bahagia mendengar penuturan Naruto tersebut.

"Kapten!"

"Akhirnya mereka menemukan kita."

"Syukurlah. Apa kalian baik-baik saja?"

Naruto dan Hinata telah naik ke kapal. Masih terlihat semburat tipis di pipi Hinata. "Iya. Ayo kita berangkat."

"Iya!"

.

.

CHAPTER 5

.

.

Seminggu setelah insiden bertemunya Naruto dan Deidara, keadaan kapal berjalan seperti biasa. Godaan dan canda tawa mengiringi hari-hari mereka. Pertumbuhan Kyuubi juga berjalan cepat. Sekarang dia sudah mempunyai sepasang sayap dipunggungnya. Makhluk yang satu ini memang ajaib.

Kini mereka telah sampai di Dermaga desa Iwa. Mereka singgah untuk membeli bahan makanan yang sudah menipis juga perlengkapan lainnya. Kebetulan saat ini sedang diadakan pameran jadi mereka sempatkan untuk melihat-lihat bahkan mengikuti permainan yang ada. Menurut kabar, pameran ini diadakan untuk memperingati hari ulang tahun yang ke-18 putra mahkota Kerajaan Nara. Pantas saja semeriah ini.

Setelah puas berkeliling dan telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka memutuskan untuk segera kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan. Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian si pemuda pirang. Sesuatu seperti sayembara-atau lebih tepatnya ultimatum-tertempel berjejer di dinding rumah warga juga di tiang-tiang listrik. Naruto kemudian mendekati tulisan tersebut sedangkan yang lain hanya memperhatikannya dengan tatapan bingung.

"Kalian duluan saja. Ada hal yang ingin kupastikan." perintah Naruto.

Awak kapal juga Hinata langsung menjalankan perintahnya, terkecuali Iruka-san. Dia ingin tahu hal apa yang membuat Naruto penasaran seperti itu.

"Ada apa?" Iruka-san bertanya. Dia sedikit terkejut ketika melihat wajah Naruto yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia pun segera mengarahkan matanya ke arah pandangan Naruto dan dia semakin terkejut setelah membaca ultimatum tersebut.

"I-ini..."

Diberitahukan kepada semua warga di seluruh desa Negara Hi,

bahwa segerombolan bajak laut dengan Kapten bernama Naruto telah 'menculik' putri dari Kerajaan Hyuuga, Hinata Hyuuga.

Jika ada yang melihat mereka, segera laporkan kepada pihak yang berwenang dan jangan biarkan mereka membeli apa pun.

Apabila ada yang melanggar, akan dikenakan hukuman mati.
.

.
Pangeran Kerajaan Suna,
Deidara Namikaze

"Sial. Mau apa makhluk autis itu?" suara Naruto terdengar bergetar menahan amarah. Jelas saja, dia sama sekali tidak menculik Hinata, walaupun dia tidak tau apakah ini bisa dikatakan menculik atau tidak. Diambilnya salah satu ultimatum yang tertempel itu, dibacanya sekali lagi tulisan yang disertai fotonya dan dimasukkannya kertas itu kedalam saku celananya. "Iruka-san, ayo kita kembali ke kapal. Tapi ingat, jangan sampai Hinata mengetahui masalah ini."

"Baik Kapten."

Merekapun segera meninggalkan tempat itu. Jika terlalu lama disini, Naruto yakin keadaan akan menjadi rumit.

.,.,.,.,..,

Hinata dan awak kapal menunggu kedatangan mereka dengan cemas, terlihat jelas raut kekhawatiran di wajah mereka. Hinata dapat menghembuskan nafas lega setelah melihat sesosok pemuda berambut kuning dan lelaki paruh baya berambut hitam yang mulai mendekat. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian lama sekali?"

"Maaf. Tadi kami melihat pengumuman, ternyata itu hanya pengadaan lomba." Naruto berbohong.

"Aku takut terjadi apa-apa pada kalian. Syukurlah kalian baik-baik saja." Hinata hanya tertunduk untuk menahan tangisnya. Dia benar-benar khawatir.

"Maafkan kami. Kami janji tidak akan melakukannya lagi." Naruto membelai rambut indigo Hinata lembut, menenangkannya.

"Iruka-san, segera jalankan kapal. Kita lanjutkan pencarian harta karun." Naruto berseru semangat. Padahal dibalik itu, ada perasaan tidak tenang yang menyelimuti hatinya.

.

.

"Pangeran, bagaimana menurut Anda mengenai ultimatum tersebut?" Lelaki gendut dengan tato lingkaran dikedua pipinya kepada seorang pemuda dengan rambut model nanas berwarna hitam bertanya kepada pangerannya.

"Hoahm ... sudah ku bilang 'kan, jangan memanggilku dengan sebutan itu. Merepotkan! Tapi, apa betul putri dari Kerajaan Hyuuga yang diculik?" Shikamaru, putra mahkota Kerajaan Nara menjawab malas-malasan.

"Betul. Calon tunangannya sendiri yang menyebarkan ultimatum itu. Dia adalah putra mahkota dari Kerajaan Suna."

"Apa yang kau bilang, Choji? Dari Kerajaan Suna?" rasa kantuk yang tadi menghinggapi Shikamaru kini telah melayang entah kemana setelah mendengar nama kerajaan tersebut.

"Iya. Kalau tidak salah, namanya De.. Dei.. Deidara. Ya, Deidara Namikaze. Memangnya ada apa, pangeran?" tanya Choji yang agak bingung dengan perubahan yang terjadi pada temannya sedari kecil ini.

Shikamaru mendengus, "Hei.. Panggil aku Shikamaru."

"Hahaha... Iya. Iya. Emangnya ada apa Shika-chan?" Choji menggoda.
Sebenarnya Shikamaru ingin marah dengan panggilan Choji, tetapi dia terlalu malas untuk melakukan itu.

"Ck. Tidak apa-apa. Hanya saja, mereka adalah teman-temanku."

"Mereka?"

"Naru, Deidara, dan Temari. Sewaktu aku berumur 5 tahun, aku beserta ayah dan ibu pernah mengunjungi kerajaan mereka. Tidak terlalu lama sih, tapi aku senang karena mereka sangat baik. Bagaimana keadaan mereka sekarang ya? Hah. Aku jadi ingin mengunjungi mereka." Shikamaru bernostalgia mengingat masa kecilnya. Apalagi jika dia mengingat gadis manis kepang empat itu. Walaupun dia masih sangat kecil, dia sudah mempunyai perasaan yang dia sendiri juga tidak tahu apa itu.

"Naru? Siapa dia?"

"Dia itu putra kedua dari Namikaze-san, bocah yang sangat enerjik."

"Aku pikir Namikaze bersaudara hanya dua orang, soalnya sewaktu aku mengantarkan undangan ke sana, aku hanya melihat dua orang berambut pirang di sana.

"Kenapa bisa begitu?"

"Aku juga tidak tahu. Namikaze-san juga tidak pernah menceritakan tentang anak yang bernama Naru."

"Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus kesana."

Shikamaru dan Choji yang sedari tadi berbincang d ibalkon istana langsung masuk menuju kamar Shikamaru.

.

.

"Jadi begitu."

"Hahahaha."

Siang itu, semua awak kapal tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita Iruka-san tentang Naruto sewaktu kecil. Hinata saja sampai meneteskan air mata saking banyaknya dia tertawa, sedangkan Kyuubi melompat-lompat gak jelas.

Naruto yang menjadi bahan omongan hanya menekuk wajahnya, menahan marah dan malu. "Sudah ku bilang 'kan, jangan membicarakan hal itu." Naruto terdengar frustasi dan yang lain semakin keras mentertawakannya.

"Haha... Memangnya kenapa? Haha... Naruto. Itu 'kan lucu. Hihihi."

"Arrgh... Tertawalah sampai puas." Naruto langsung menuju kamarnya dengan wajah cemberut. Seperti tidak ada penyesalan bagi mereka, masih saja terdengar suara tawa yang membuat Naruto semakin kesal. Diapun memutuskan untuk mandi agar kekesalannya sedikit berkurang.

Benar saja. Setelah mandi, Naruto merasa pikirannya sedikit segar. Diapun bisa tersenyum cerah kembali dengan tulus. Dia mendatangi tempat kejadian penyakatan (?) yang selalu membuat wajahnya bersemu merah menahan malu. Di sana masih seperti yang tadi, sebelum dia tinggalkan untuk pergi mandi. Entah dewi keberuntungan tidak sedang berpihak padanya atau karena sifatnya yang memang ceroboh, kertas yang tadi dia simpan di saku celananya, terjatuh saat dia menarik tangannya keluar dari saku tersebut.

Saat dia ingin mengambil kertas itu, sudah ada tangan yang terjulur untuk mengambilnya. Dan tangan itu adalah milik Hinata. Seseorang yang tidak diinginkan Naruto untuk mengetahui isi kertas tersebut. "Apa ini, Naruto?"

Dan terlambat. Sebelum Naruto mengambilnya, Hinata sudah keduluan membaca isinya. Awalnya hanya terlihat alis yang saling bertautan, tetapi setelah semua tulisan berjejer itu terbaca, telihatlah raut wajah yang kaget, bingung, juga cemas. "Hinata ... ini-"

"Kenapa?" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, Hinata sudah memotongnya terlebih dahulu. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Naruto."

"Hinata. Ini tidak seperti yang-"

"Apa? Sudah jelas kau menyembunyikannya dariku."

Awak kapal yang tidak tahu-menahu hanya diam mendengarkan pertengkaran mereka.

"Aku tidak-hei, Hinata. Tunggu!" Naruto kemudian mengejar Hinata yang berlari menuju kamarnya. Dia tahu ini akan terjadi, tapi tidak sekarang. Dia belum siap untuk menghadapi hal ini.

"A-ada apa sih?" tanya salah satu awak kapal setelah mereka hening beberapa saat.

"Begini.." Iruka-san pun memulai ceritanya.

.

.

Brak.

Bunyi pintu yang dibuka secara kasar mengiringi suara Naruto yang memanggil nama Hinata. Terlihat Hinata yang menangis dengan wajah yang dibenamkan dilututnya. Kyuubi hanya melihat dengan wajah cemas.

"Hinata." panggil Naruto. Dia mendekat ke arah Hinata, duduk di depannya dan secara perlahan menarik tubuh yang bergetar itu kepelukannya. "Maaf."

Tidak ada respon dari Hinata. Hanya terdengar isakan yang membuat hati Naruto sakit. "Bukan maksudku untuk tidak memberitahukannya padamu. Aku..."

"..."

"Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Aku mengerti dan aku dapat mengira apa yang akan terjadi. Ini memang terdengar egois tapi..." ada sedikit jeda Naruto untuk menarik nafas. Kemudian dia menghembuskannya dengan perlahan dan melanjutkan kalimatnya. "...Itu aku lakukan karena aku menyayangimu. Aku tidak mau kau menyalahkan dirimu sendiri." aku Naruto sambil membelai rambut Hinata dan mencium puncak kepalanya lembut. "Aku tidak mau kehilanganmu, Hinata. Aku tidak mau karena hal ini kau meninggalkanku." Hinata sempat menahan nafasnya ketika mendengar itu, tetapi kemudian dia tersenyum. Dia senang mendengar pengakuan Naruto.

Hinata kemudian menarik tubuhnya untuk memberikan sedikit jarak dengan Naruto agar bisa melihat wajah yang bisa menenangkan hatinya itu. Hinata tersenyum tulus. "Terima kasih, Naruto. Aku senang."

"Oh. Baguslah kalau begitu." Naruto memalingkan wajahnya untuk menutupi wajahnya yang malu karena senyum Hinata yang begitu manis baginya tadi.

"Hihihi."

"Hei, kenapa kau tertawa?"

"Ah. Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Huh, dasar. Jadi … Apa kau bisa mengerti?"

"Iya." Jawab Hinata. "Aku tidak akan meninggalkanmu." Lanjutnya. "Dan aku akan selalu disampingmu."

"Eh?" walaupun cepat dan mendadak, Naruto masih bisa mendengarnya. Padahal Naruto berharap Hinata akan mengulang kalimatnya, tapi melihat wajah Hinata yang sudah memerah, Naruto hanya tersenyum bahagia. "Terima kasih, Hinata."

Awak kapal yang sudah tahu masalahnya, mengintip adegan mereka yang manis itu dengan perasaan bahagia. Mereka tidak menyangka bahwa kapten mereka telah dewasa. Tapi karena lemahnya tenaga pintu dan banyaknya beban yang menghimpitnya menyebabkan pintu itu jebol dan menimbulkan suara berdebum yang cukup keras.

Gubrak.

"Adududuh..." ringisan kesakitan terdengar memekakkan telinga bagi Naruto. De javu. Sepertinya Naruto pernah mengalami kejadian seperti ini.

"Apa yang kalian lakukan disini?" walaupun wajah dan suara Naruto terdengar manis, tetapi aura hitam yang keluar mengitari tubuhnya membuat mereka bergidik.

"Ti-tidak kok, Kapten. Ka-kami hanya ke-kebetulan lewat. Si-silahkan lanjutkan acara kalian." jelas Iruka-san gugup. Diapun langsung berdiri kemudian -wush- pergi secepatnya disusul yang lain. Naruto dan Hinata hanya sweatdrop melihatnya.

"Hinata." panggil Naruto setelah tinggal mereka bertiga-bersama kyuubi-di kamar itu.

Hinata menatap Naruto.

"Aku berjanji akan selalu melindungimu." Setelah mengucapkan itu, Naruto kemudian mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan lembut pada Hinata, sebagai tanda ikrar sucinya.

"Iya." jawab Hinata disela ciuman mereka. Dan Kyuubi lagi-lagi hanya menutup matanya, malu. Ternyata rubah juga bisa malu.
.

.

"Dei-sama. Apa menurutmu rencana ini akan berhasil?"

"Rencanaku tak pernah gagal. Fufufu."

.

.

-TBC-

A/N: jadi, kerajaan Suna itu adalah kerajaan Namikaze, dan Iwa adalah kerajaan Nara. Sedangkan kerajaan Hyuuga berada di Konoha. :D Maaf jika membingungkan. ^^a

Balasan review :

Matsumoto Rika :: hehe,, makasih. Maaf ya karna lama apdetnya. Rnr lagi ya~

Roxas Sora Coolz :: wah~ berarti tebakanmu tepat :D. rnr lagi ya ^^

Ans Micky Namikaze :: um.. iya. Hehe.. makasih atas ripiunya :D. rnr lagi

Yume-chan is Mikado-kun :: di chap ini shikatema udah agak sedikit *plak* maksudnya dah muncul tapi masih awalan. Di chap berikutnya akan selalu nyusul :D.. rnr lagi ya ^^

ZephyrAmfoter :: um,, soalnya Konoha udah diambil ama kerajaan Hyuuga. Karna ingin beda tempat, jadi dipilihlah Suna :D. Kalau masalah pengakuan Naruto, saya ngikut di komik aslinya, tapi mungkin agak gaje. Hehe,, makasih ripiunya, rnr lagi ^^

rie tsubaki :: saya milih Temari karna nyesuai'in req dari yume-chan. Jadi begitu lah. :D

rnr lagi ya :D

NaHi's Lover :: hehe,, makasih. Maaf telat apdetnya. Rnr lagi :D

IpJinchurikiJunibi :: yupz.. saya akan selalu berusaha untuk meramaikan fict NaruHina. Makasih dah ripiu. Rnr lagi ya :D

19 April 2011

Love shower,

Maru

Yosh! Salam damai NHL ^^v