Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Jolly Roger Fantasy belongs to Iisaka Yukako
Rate: T
Genre: Romance/ Adventure
Main Pairing: Naruto x Hinata
Slight Shikamaru x Temari
Warning: OOC, OOC dan OOC, Typo, AU, alur cepat, EYD berantakan, minim deskripsi, perubahan latar tempat yang begitu cepat, cerita tidak berbeda jauh dengan komik aslinya.
Sebelum membaca cerita, perhatikan WARNING terlebih dahulu!
Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.
Btw, apakah ff yang terinspirasi dari sebuah komik termasuk plagiat? Karena saya tidak meminta ijin kepada mangakanya terlebih dahulu. ._.a
DON'T LIKE DON'T READ!
Yosh ... douzo!
.
.
.
Princess and Pirate
Sebelumnya:
"Apa yang kalian lakukan disini?" walaupun wajah dan suara Naruto terdengar manis, tetapi aura hitam yang keluar mengitari tubuhnya membuat mereka bergidik.
"Ti-tidak kok, Kapten. Ka-kami hanya ke-kebetulan lewat. Si-silahkan lanjutkan acara kalian." jelas Iruka-san gugup. Diapun langsung berdiri kemudian -wush- pergi secepatnya disusul yang lain.
Naruto dan Hinata hanya sweatdrop melihatnya.
"Hinata." panggil Naruto setelah tinggal mereka bertiga-bersama kyuubi-di kamar itu.
Hinata menatap Naruto.
"Aku berjanji akan selalu melindungimu." Setelah mengucapkan itu, Naruto kemudian mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan lembut pada Hinata, sebagai tanda ikrar sucinya.
"Iya." jawab Hinata disela ciuman mereka. Dan Kyuubi lagi-lagi hanya menutup matanya, malu. Ternyata rubah juga bisa malu.
.
.
"Dei-sama. Apa menurutmu rencana ini akan berhasil?"
"Rencanaku tak pernah gagal. Fufufu."
.
.
CHAPTER 6
.
.
Siang ini, Naruto dkk singgah di sebuah desa yang bernama Otogakure untuk belanja bahan makanan yang telah menipis. Keadaan di desa ini sama seperti desa-desa yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Rumah-rumah penduduk berjejer tidak jauh dari pasar. Seperti pasar persaingan sempurna lainnya, kita dapat dengan mudah menemukan barang-barang yang sama disana. Sehingga aktifitas tawar-menawar kerap dijumpai. Jika sang penjual tidak memberikan harga yang diinginkan si pembeli, maka si pembeli dengan mudah akan berpindah ke tempat lain, toh barangnya juga sama.
Begitu juga dengan apa yang dialami gadis indigo yang satu ini. Dia tetap bersikeras dengan harga semula yang ditawarnya untuk sebuah barang yang menurutnya sangat cocok dengan pemuda blonde yang telah memikat hatinya itu. Dia ingin sekali memberikan Naruto –si pemuda blonde- sebuah pedang sebagai hadiah ulang tahunnya, yaa walaupun sudah lewat sih. Sebenarnya Hinata ingin memberikan hadiah ini tepat pada hari ulang tahun Naruto, tapi karena uang untuk membeli barang itu baru terkumpul sekarang, jadi mau bagaimana lagi. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali 'kan? Yups. Asumsi yang bagus Hinata. Walaupun lebih baik kau melakukannya tepat waktu. Itu akan lebih optimal.
Tapi, mengingat semua pengorbanan yang telah Hinata lakukan untuk mendapatkan uang itu, -membuat aksesoris dari bahan bekas yang dikumpulkan, kemudian ditukar dengan uang untuk ditukar lagi dengan sebuah pedang- kami terlebih Naruto akan sangat menghargai usahamu itu.
"Ayolah paman, 800 yen aja ya!"
"Tidak bisa Nona, ini pedang sangat mahal. Terbuat dari batu meteor dan pernah dipakai oleh ahli pedang di wilayah ini. Begini saja, bagaimana kalau aku kurangi jadi 995 yen."
Hinata mulai kesal, "Apa? Itu hanya berkurang 5 yen."
"Mau bagaimana lagi nona. Itu juga sudah lumayan."
"Baiklah. Ini tawaran terakhir. 800 yen atau tidak sama sekali. Jika Paman tidak mau juga tidak apa-apa, toh yang jual pedang seperti ini bukan hanya Paman." Ancam Hinata. Tangannya dia lipat didepan dadanya, sok cuek.
Hinata melirik sekilas ke arah Paman penjual pedang yang menurutnya menyebalkan itu. Dia menahan napas cukup lama menunggu reaksi dari si Paman. Harap-harap cemas, tentu saja. Karena Hinata sudah naksir berat dengan pedang tersebut. Jika Paman tidak memberikannya dengan harga yang diinginkan Hinata, maka dia akan berjuang lagi mencari hadiah yang cocok untuk Naruto.
Paman penjual pun mengalah, "Hah ... baiklah. Kau bisa mengambilnya dengan harga 800 yen, Nona."
"Benarkah?"
"Hn…"
"Yatta! Terima kasih Paman. Tolong sekalian dibungkuskan ya!" Hinata bersorak girang.
"Baiklah. Kalau boleh tau, untuk siapa pedang ini?" tanya Paman sambil membungkus pedang tersebut.
Hinata gugup. "A-ano. .. i-ini untuk seseorang yang sangat special untukku."
"Oh ... semoga kalian berbahagia."
"Terima kasih Paman. Ini uangnya."
"Terima kasih kembali." Paman itu tersenyum tulus.
'Ternyata paman ini tidak terlalu menyebelkan.' Sesal Hinata dalam hati karena telah mencap seseorang tanpa tahu sisi baiknya. "Kalau begitu saya pamit dulu. Maaf telah merepotkan Paman."
"Haha. Bukan masalah. Hati-hati Nona!"
Hinata hanya menanggapinya dengan senyuman kemudian berlenggang pergi menuju ke tempat teman-temannya yang lain.
...
"Sudah ketemu apa yang kamu cari?" Tanya Naruto setelah Hinata berada didekatnya.
"Sudah, ini."
"Apa ini?"
"Hadiah."
"Hadiah?"
"Yups. Itu hadiah ulang tahunmu Naruto. Maaf aku baru bisa memberikannya sekarang."
Naruto bingung. Bagaimana Hinata bisa tahu? Ah, pasti Iruka-san.
"Ayo dibuka! Kuharap kau suka."
Naruto kemudian membuka bungkusan tersebut. Alangkah terkejutnya dia setelah melihat apa yang ada di tangannya kini. Sebuah pedang dengan ukiran berbentuk melingkar di kedua sisinya. Naruto sangat terharu. Dia ingin menangis, tapi apa kata yang lain jika melihat kapten mereka -Naruto si bajak laut terkuat-menangis, walau pun itu tangisan haru. Jadi dia hanya menunjukkan kebahagiaannya dengan cara terus memandangi pedang tersebut.
Hinata cemas, tidak ada tanggapan dari Naruto. "Kau tidak suka ya?"
Naruto gelagapan, "Ah! bukan begitu. Aku suka, sangat suka malah."
"Tapi kenapa kau diam?"
"Aku … aku hanya terharu. Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini. Aku sangat senang sehingga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Maaf jika membuatmu sedih." Naruto berujar tulus. Dia mengacak rambut Hinata pelan agar Hinata merasa tenang kembali.
Hinata yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersipu malu.
"Ah! Aku lupa mengucapkan terima kasih. Ehm ... terima kasih my hime." Naruto nyengir lebar yang membuat Hinata semakin malu.
"Sa-sama-sama."
"Ehm... Ehm..." Suara deheman yang dibuat-buat tersebut menyadarkan pasangan favorit kita yang sedang kasmaran ini bahwa di sana tidak hanya ada mereka berdua. Naruto baru sadar bahwa dari tadi mereka sedang diperhatikan.
Untuk menutupi rasa malunya, dia akhirnya membuka suara. "Baiklah, karena semua sudah berkumpul dan semua bahan telah dapat, kita kembali ke kapal."
Semua menjawab serempak, "Hai!"
Mereka akhirnya meninggalkan pasar untuk kembali berlayar dengan canda tawa. Tetapi mereka tidak tau apa yang akan dihadapi didepan sana.
...
"Selamat datang di Kerajaan Suna, Pangeran Shikamaru." Raja Minato menyambut ramah tamunya.
Ya, di sinilah mereka-Pangeran Shikamaru dan Choji berada; Kerajaan Suna. Kerajaan yang pernah dia kunjungi sewaktu kecil dulu, tempat dimana ada seorang gadis yang memikat hatinya. Gadis dengan rambut pirang yang diikat empat dan selalu membawa kipas kemana pun dia pergi. Kalau dipikir-pikir, waktu pertemuan mereka dulu, mereka bisa dibilang masih kecil. Sangat malah. Tapi sudah memiliki perasaan tertarik pada lawan jenis.
Ah, masa muda memang indah.
"Iya, Paman. Rasanya sudah lama sekali saya tidak bermain kemari."
Mereka berjalan ke ruang untuk tamu, khususnya tamu kerajaan.
"Ya... Ya... Kau benar. Padahal dulu kau masih bocah ingusan, sekarang lihat dirimu. Sungguh gagah." Raja Minato memperhatikan Shikamaru dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil terkekeh pelan.
"Ah, Paman terlalu menyanjung."
"Hahaha. Oh iya, bagaimana kabar ayah dan ibumu. Kudengar kemarin ayahmu sempat jatuh sakit." Tidak bisa ditutupi, ada sedikit rasa khawatir di suara sang raja.
"Iya, Paman. Ayah sempat sakit selama seminggu. Kata tabib yang merawat ayah, ayah terlalu banyak pikiran dan kecapekan. Tapi sekarang sudah sehat."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi hal apa yang membuat Shikaku sampai sakit begitu. Padahal kerajaan kalian sepertinya baik-baik saja. Rakyatnya makmur dan damai."
"Entahlah, Paman. Saya juga kurang paham."
Seolah-olah ada lampu pijar yang menyala dengan terang di atas kepalanya, Minato berbicara dengan sedikit gurauan namun masih terdengar tegas.
"Oh, Paman tahu. Sepertinya ayahmu sudah tidak sabar ingin menimang cucu."
"Uhuk!" Shikamaru tersedak minuman yang baru diteguknya karena mendengar ucapan Minato barusan. "Pa-paman bisa saja. Saya masih belum berpikir akan hal itu."
Raja Minato tertawa, "Mengingat kau pewaris tahta satu-satunya, pasti ayahmu ingin kau cepat menggantikannya, dan dia bisa santai sambil menimang cucu. Lagian kau 'kan sudah dewasa, sudah sewajarnya kau menikah dan memberikan cucu yang banyak untuknya dan untukku."
"Eh! maksud Paman?"
"Ya, apalagi kalau bukan kau dan Temari. Kita 'kan sudah lama kenal dan bersahabat, jadi Paman sudah sangat mengenal sifat kalian. Dan kalian cocok, sangat serasi. Hm… Bagaimana?"
"Itu terserah Paman dan Temari saja."
"Hahaha. Temari pasti senang mendengarnya."
Shikamaru tersenyum canggung nan malu. Seharusnya 'kan dia atau ayahnya yang mesti melamar, tapi kenapa malah pihak perempuan yang melamarnya. Ah, sudahlah.
"Maaf, Shikamaru. Bagaimana dengan niat pertama kita datang kemari."
Astaga, Shikamaru jadi lupa.
"Hm, kau benar, Choji."
"Um, Paman. Dimana Naru? Daritadi aku tidak melihatnya."
Walaupun samar, Shikamaru sempat melihat kilatan aneh di mata Minato. Antara kaget, sedih, menyesal, entah apalah itu karena hanya berlangsung sesaat.
"Naru…." Minato berhenti sejenak untuk menguatkan hatinya, mungkin. "Dia sudah lama kabur dari kerajaan ini."
"Eh! APAAA?" Jauh dari sifat Shikamaru yang agak cuek dan pemalas, kali ini dia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. "Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah, Paman juga tidak terlalu mengerti permasalahannya. Tapi yang jelas, ini karena Paman bukan ayah yang baik. Paman tidak bisa menjaga Naru, Paman merasa gagal."
"Bukan, ini sama sekali bukan kesalahan Paman. Pasti ada sesuatu yang membuat Naru kecil tidak betah tinggal di sini."
"Apa itu?"
"Aku juga tidak tahu, Paman. Tapi aku akan segera mencari tahu, karena Naru adalah sahabatku."
Minato tersenyum hangat mendengar penuturan Shikamaru. "Ya, terima kasih Shikamaru. Naru beruntung punya sahabat sepertimu."
.
.
"Kapten, persediaan makan kita sudah kembali menipis."
"Kalau begitu, cepat arahkan kapal ke desa terdekat."
"Baik!"
Sesampainya di desa, Naruto dan kawan-kawan dikejutkan dengan perlakuan warga desa yang cukup 'anarkis'.
"Lihat! Itu Naruto! Cepat lempar mereka." Teriak salah satu warga. Tapi jika dilihat lebih jelas, dia bukan warga desa ini. Sepertinya dia seseorang provokator yang dibayar khusus untuk meracuni warga agar menyerang Naruto dan kawan-kawannya.
Setelah diprovokasi seperti itu, warga yang sebetulnya baik terhadap Naruto karena Naruto sering membantu mereka melawan bajak laut jahat, akhirnya melempar mereka dengan batu-batu yang telah mereka siapkan. Karena Naruto tidak ingin teman-temannya terluka, akhirnya mereka mundur walaupun mereka belum dapat apa yang mereka cari.
Dan ternyata, bukan hanya di desa itu saja mereka mendapat perlakuan seperti itu. Di desa lain juga, malah lebih parah lagi. Naruto bisa menebak, ini semua pasti gara-gara ultimatum yang di sebarkan Deidara. Dia tidak mengira akan menjadi separah ini. Dan yang dia tahu, ini akan menjadi semakin rumit.
.
.
~To be Continue~
A/N: saya tahu ini aneh dan maksa :D Yah, namanya juga AU, jadi latar tempat, serta hubungan antar orang-orangnya memang berbeda. Chapter ini lebih pendek dari sebelumnya.
26 Maret 2012
Love shower,
Maru
Yosh! Salam damai NHL ^^v
