Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Jolly Roger Fantasy belongs to Iisaka Yukako

Rate: T

Genre: Romance/Adventure

Pairing: Naruto x Hinata

Slight Shikamaru x Temari

Warning: OOC, OOC dan OOC, Typo, AU, Alur cepat, EYD berantakan, minim deskripsi, perubahan latar tempat yang begitu cepat, cerita tidak berbeda jauh dengan komik aslinya, perubahan nama panggilan dari chapter sebelumnya, tiap chapter relatif pendek, dll.

Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.

Btw, apakah ff yang terinspirasi dari sebuah komik termasuk plagiat? Karena saya tidak meminta ijin kepada mangakanya terlebih dahulu. ._.a

Sebelum membaca cerita, perhatikan WARNING terlebih dahulu!

DON'T LIKE DON'T READ!

Yosh ... douzo!

.

.

.

PRINCESS AND PIRATE

Sebelumnya:

"Kapten, persediaan makan kita sudah kembali menipis."

"Kalau begitu, cepat arahkan kapal ke desa terdekat."

"Baik!"

Sesampainya di desa, Naruto dan kawan-kawan dikejutkan dengan perlakuan warga desa yang cukup 'anarkis'.

"Lihat! Itu Naruto! Cepat lempar mereka." Teriak salah satu warga. Tapi jika dilihat lebih jelas, dia bukan warga desa ini. Sepertinya dia seseorang provokator yang dibayar khusus untuk meracuni warga agar menyerang Naruto dan kawan-kawannya.

Setelah diprovokasi seperti itu, warga yang sebetulnya baik terhadap Naruto karena Naruto sering membantu mereka melawan bajak laut jahat, akhirnya melempar mereka dengan batu-batu yang telah mereka siapkan. Karena Naruto tidak ingin teman-temannya terluka, akhirnya mereka mundur walaupun mereka belum dapat apa yang mereka cari.

Dan ternyata, bukan hanya di desa itu saja mereka mendapat perlakuan seperti itu. Di desa lain juga, malah lebih parah lagi. Naruto bisa menebak, ini semua pasti gara-gara ultimatum yang di sebarkan Deidara. Dia tidak mengira akan menjadi separah ini. Dan yang dia tahu, ini akan menjadi semakin rumit.

.

.

CHAPTER 7

Hari demi hari telah dilewati. Sudah hampir seminggu Naruto dan kawan-kawan mendapat perlakuan yang sama dari warga desa-–ketika datang ke desa mereka malah dilempar batu, kayu atau barang lainnya. Oleh sebab itu, mereka hanya makan ikan hasil pancingan disetiap harinya.

"Hinata-san, ini ada sepotong daging dan sebutir apel, terimalah."

Hinata menolak halus. "Ah! tidak perlu Teuchi-jisan. Berikan saja pada yang lain, mereka lebih membutuhkan."

Teuchi-jisan tersenyum. "Tidak, Hinata-san! Kamu lebih membutuhkannya daripada kami, kamu itu perempuan. Kami sudah biasa makan makanan seperti ini. Lagipula, ikan itu banyak proteinnya lho~"

"Tapi..."

"Tidak apa-apa Hinata-san, terima saja."

Mau tidak mau, suka tidak suka, ikhlas ataupun tidak, Hinata tetap juga menerimanya. Awak kapal sudah bicara begitu.

"Terima kasih." Hinata tersenyum tulusyang dibalas senyum riang awak kapal.

'Padahal aku orang baru dalam kehidupan mereka, tetapi mereka sangat baik padaku.' Hinata membatin. 'Lihat saja wajah mereka, mereka sudah seperti ikan sarden yang berserakan di pasar saking keseringannya makan ikan.'

Naruto yang sedari tadi memperhatikan Hinata melamun, datang mendekat. "Hei Hinata! Kenapa melamun?"

Kaget, Hinata mengelus-elus dadanya. "Ah! kau mengagetkanku saja, Naruto."

"Salah sendiri kenapa melamun. Ntar ayam tetangga mati lho~" canda Naruto-

"Ha?" -yang malah disambut garing oleh Hinata.

"Sudahlah, lupakan saja." Naruto memalingkan wajah malu karena candaannya garing

Sunyi senyap menyelimuti mereka beberapa saat. Hinata pun berdehem pelan untuk mencairkan suasana. "Naruto..."

"Iya?"

Dengan jarak sedekat ini, tanpa sadar wajah sang putri memerah, dan semakin kentara saat Naruto mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Hinata, untuk memeriksa apakah si rambut indigo demam.

"Tidak panas, kukira kau sakit, Hinata. Wajahmu merah sekali."

Hinata membatin, "Kalau lebih lama lagi, aku bisa pingsan."

"Hei, Hinata. Apa kau tidak apa-apa? Wajahmu masih merah tuh."

"A-aku gak apa-apa, Naruto. Mungkin karena cuaca yang panas." Hinata menjawab gugup. Dia berpikir Kenapa dia jadi gugup, padahal dia sudah terbiasa di dekat Naruto.

"Oh, mungkin iya. Apa yang mau kau katakan tadi, Hinata?"

"Eh! Oh! Ano … I-itu…" Ah, sifat gugupnya muncul lagi.

"Iya?" Naruto dengan sabar mendengar Hinata.

"Aku…" Hinata meneguk ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa dia merasa ada yang memukul dadanya-–tepat di jantung-sehingga dia susah untuk bernafas. "…ingin pergi dari kapal ini." Dan kalimat itu pun akhirnya terucap.

Hening menyelimuti kapal, Naruto berharap apa yang dia dengar adalah salah. Begitu pun para awak kapal yang menyaksikan kemesraan mereka dari tadi juga ikut bingung dengan apa yang baru saja mereka dengar.

"Kenapa Hinata? Apa kau tidak suka berada di kapal ini? Apa kami menyakitimu?" Naruto bertanya tidak sabaran setelah berhasil menemukan suaranya.

"Bukan begitu. Aku senang bersama kalian, sangat senang malah. Tapi, gara-gara aku kalian terlibat dalam masalah ini."

Suara Naruto meninggi. "Apa maksudmu? Kau tidak salah sama sekali."

"Tapi semuanya memang gara-gara aku, Naruto. Kita semua tahu kalau ini semua adalah ulah dari Deidara. Dan Deidara melakukan semua ini karena ingin mengambil tunangannya kembali, yaitu aku."

Entah kenapa, Naruto tidak suka mendengar kalimat itu. Hinata memang tunangan kakaknya-Deidara-tapi dia tidak akan menyerahkan sesuatu yang telah menjadi miliknya pada siapapun, tidak akan pernah. Apalagi pada Deidara.

"Jadi, kau mau pergi dari kapal ini dan pergi ke tempat Deidara?" Naruto menatap tepat di mata Hinata. Tidak bisa ditutupi, terdapat sinar kekecewaan di permata safir tersebut.

"Tidak!" Hinata menjawab tegas yang membuat Naruto bingung. "Aku tidak mau menyerahkan diriku pada orang yang sama sekali tidak kucintai. Aku akan pergi jauh dari kalian agar dia tidak mengejar kalian lagi."

"Tapi, itu berbahaya, Hinata. Bagaimana kalau Deidara menangkapmu? Jika kau terus bersama kami, kami akan selalu melindungimu, apapun resikonya." Naruto tetap bersikeras menahan Hinata.

"Tidak Naruto. Aku tidak mau melibatkan kalian. Lagipula, aku tidak pergi sendiri, aku bersama Kyuubi yang-kau sendiri juga tahu-sangat hebat."

"Tapi Hinata-"

"Sudahlah Naruto, aku pergi. Selamat tinggal dan jaga dirimu, kalian juga. Dan terima kasih atas semua yang telah kalian berikan. Aku mencintaimu, Naruto." Setelah itu, Hinata langsung pergi bersama Kyuubi-–yang sayapnya sudah tumbuh besar-terbang dengan Hinata yang berpegangan pada Kyuubi, tanpa menoleh lagi ke belakang. Mengingat mereka yang masih barlayar di tengah laut, tidak mungkin mereka berenang mengarungi lautan.

"Hinata…" Naruto masih melihat arah dimana Hinata dan Kyuubi terbang tadi. "…kenapa kau sangat keras kepala?" Naruto terlihat frustasi. Dia juga mencintai Hinata, sangat mencintainya. Dan dia belum sempat mengatakannya. Apakah mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama?

"Ka-kapten, apa yang harus kita lakukan?"

Dengan tekad kuat, Naruto akhirnya memberikan perintah mantap kepada awak-awaknya. "Kita kembali ke Suna."

...

"Deidara-sama, ada sebuah kapal yang merapat ke dermaga. Dilihat dari ciri-cirinya, sepertinya itu kapal Naruto." Seorang pengawal melapor kepada Putra Mahkota berambut pirang dengan sebagian rambut yang menutup sebelah matanya tersebut.

"Fufufu~ akhirnya kau datang juga, adikku tersayang."

"Jadi, apa yang akan kita lakukan, Deidara-sama?"

Deidara menyeringai licik. "Siapkan pasukan, karena ini akan menjadi pertarungan antar saudara yang menarik."

"Baik!" Dan setelah pengawal pergi meninggalkan Deidara sendiri di ruangannya, dia mengambil sebuah foto di dalam laci dihadapannya, mengamati foto itu kemudian tertawa mengejek.

"Fufufu~ Naru, Naru. Kau memang adikku yang manis. Sayang kau tidak berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, bahkan kedudukan sekalipun. Fufufu."

Sudah jelas, bahwa kebencian Deidara kepada Naruto hanya karena dia tidak ingin tahta Raja diambil oleh adik laki-lakinya itu. Jika terjadi pemilihan, sudah pasti rakyat, pengawal, pelayan kerajaan bahkan orang tuanya sekalipun akan memilih Naruto untuk menjadi Raja selanjutnya. Dan semua ini tidak ada kaitannya dengan Hinata, karena Deidara tidak pernah memikirkan wanita sebab wanita hanya akan merepotkan, baginya.

Deidara pun akhirnya keluar dari kamarnya, menyiapkan diri untuk menyambut sang adik tercinta.

...

Seorang putri yang menyamar menjadi rakyat biasa mengendap-endap di balik semak-semak, berharap gerak-geriknya tidak mencurigakan sedikitpun. Tapi, sepertinya sia-sia.

"Ibu, Ibu. Orang itu kenapa? Kok dia merangkak diatas tanah begitu, gayanya aneh." Seorang bocah laki-laki berumur 5 tahun dengan polosnya bertanya pada ibunya.

"Entahlah nak, jangan dilihat. Nanti kau juga akan ikut-ikutan aneh." Ibu paruh baya tersebut kemudian menyeret anaknya menjauh dari gadis berambut indigo tersebut.

"Grrr~"

"Ya, aku tahu Kyuubi. Malah kita akan menjadi pusat perhatian kalau seperti ini." Hinata kemudian berdiri, membersihkan pakaiannya dari debu yang menempel di tubuh dan pakaiannya dan melihat sekeliling yang tampak asing baginya. "Kira-kira kita di mana, Kyuubi?"

"Grrr grrr grrr~"

"Hah. Kau juga tidak tahu rupanya. Baiklah, ayo kita berkeliling sebentar."

Saat berkeliling, entah itu de javu atau apa, sepertinya Hinata pernah datang ke tempat ini. Tapi kapan itu, dia sedikit lupa. Tempat ini sangat familiar baginya, terdapat pasir dimana-mana. Pasir? Apakah ini…

"Suna…" Pekik Hinata tertahan. Ya benar, Hinata kini berada di wilayah Suna, tempat dimana Naruto kecil dulu pernah tinggal-

"…Berarti, aku sama saja datang ke tempat Deidara dong." Hinata lmenunduk lesu.

–-bersama Deidara.

...

"Shikamaru. Shikamaru." seorang pria muda dengan postur tubuh yang agak 'gempal' masuk ke ruangan Putra Mahkota kerajaan Nara dengan tergesa-gesa.

"Hoaammm... Ada apa sih, Choji. Ganggu orang tidur saja." Sepertinya pangeran cerdas ini sudah terganggu tidurnya. Padahal dia sedang memimpikan si putri manis dari Kerajaan Suna. Dan semua jadi buyar seketika akibat gempa dadakan yang dihasilkan oleh sahabat sejak kecil, Choji.

"Hah. Hah. Apa kau-" Choji menarik napas yang masih tersengal-sengal akibat buru-buru ingin memberitahukan hal ini kepada Shikamaru.,"-sudah dengar kabar yang beredar?"

"Tentang apa itu, Choji?" Dan Shikamaru memang tidak tahu kabar yang sedang beredar. Tentu saja karena keasikan tidur.

Setelah deru nafasnya sedikit tenang, Choji berujar. "Katanya Naruto, si bajak laut buronan datang ke Suna."

"Benarkah? Kalau begitu, siapkan kapal! Kita segera pergi ke Suna." Perintah Shikamaru. 'Dan sekalian mengunjungi calon istri.' Tambahnya dalam hati. Entah sejak kapan dia memikirkan seorang wanita yang selalu merepotkan baginya. Benar-benar berubah kau, Shikamaru.

"Baik!"

...

"Pengawal, ada apa di luar sana. Kenapa begitu ribut?" Pria paruh baya bersurai pirang yang ternyata adalah Raja Kerajaan Suna, Namikaze Minato bertanya kepada pengawal yang lewat.

Pengawal sempat membubgkuk hormat sebelum menjawab, "Bajak Laut yang katanya telah menculik calon tunangan Deidara-sama, ada di Suna, Yang Mulia. Dan kami diperintahkan oleh Deidara-sama untuk mengepungnya."

"Apa? Baiklah kalau begitu. Aku juga akan melihatnya. Sekarang pergilah!"

"Terima kasih, Yang Mulia."

Sepeninggalan pengawal, Raja Minato segera memakai jubah kebesarannya dan memanggil sang permaisuri untuk melihat apa yang terjadi.

...

"Yang Mulia, kami membawa kabar mengenai Hinata-hime." Salah satu pengawal datang menghadap Raja Kerajaan Hyuuga.

Panik. Permaisuri yang berada di samping raja bertanya dengan tidak sabar. "Apa? Hinata? Apa yang terjadi padanya?"

"Ceritakan!" perintah Raja Hiashi tegas.

"Begini, Yang Mulia. Kami mendengar kabar bahwa Hinata-hime sekarang berada di Suna. Dan Naruto, bajak laut yang diduga menculik Hinata-hime juga berada di sana."

"Kalau begitu, siapkan kapal segera. Kami akan berangkat ke Suna."

"Baik, Yang Mulia. Akan segera kami siapkan."

...

Dan di sinilah Naruto sekarang. Berdiri-dengan awak kawal yang setia di belakangnya-di sebuah lapangan luas tempat biasa diadakannya turnamen bela diri dari kerajaan. Kenapa mereka bisa berada di sini? Itu karena sesampainya mereka di Suna, mereka telah dihadang oleh ratusan prajurit utusan Deidara untuk menangkap si bajak laut buronan-–Naruto dan pengikutnya. Dan di sana jugalah, berdiri dengan gagah seseorang yang saat ini menjadi pangeran satu-satunya kerajaan Suna, Namikaze Deidara.

Mereka-–Naruto dan Deidara-saling bersitatap, meremehkan satu sama lain.

Deidara tersenyum meremehkan. "Selamat datang kembali, adikku tersayang. Aaa … atau bisa ku panggil, Naruto sang bajak laut buronan."

Naruto rasanya ingin sekali segera meninju wajah menyebalkan itu, andaikan dia tidak ingat tujuan awalnya untuk datang kembali ke sini, tanah kelahirannya. "Terima kasih atas sambutan meriahnya, Pangeran." Naruto sengaja menekankan kata 'Pangeran' tersebut.

"Fufufu… apa yang membawamu datang kemari, adikku? Bukankah kamu senang menjadi bajak laut? Atau … apa kamu kembali karena ingin menjadi pangeran agar bisa menikah dengan putri Hinata?"

Naruto berusaha mengontrol emosinya. "Tidak. Aku kemari karena hanya ingin mengambil kepunyaanku, tapi itu bukan kekuasaan."

"Jadi?"

"Hinataku. Aku ingin Hinataku."

Deidara tertawa menyindir. "Hinata? Hinatamu? Hahaha. Sejak kapan Hinata menjadi barang, eh?"

Di tempat yang sama, Hinata dan Kyuubi yang melihat ada keramaian, datang mendekat. Hinata kemudia bertanya kepada seorang warga di dekatnya. "Apa yang terjadi?"

"Dengar-dengar, bajak laut Naruto, si buronan itu datang."

Hinata kaget. "Apa? Na-Naruto? Untuk apa dia kemari?"

"Saya juga kurang tahu. Katanya, dia ingin mengambil wanitanya kembali."

"Wanitanya? Siapa?" Hinata bingung. Siapa yang warga ini maksud dengan wanita Naruto.

"Dia putri dari kerajaan Hyuuga, putri Hinata."

Hinata merasa tidak percaya. Untuk apa Naruto sampai mencarinya begini. Maksudnya, dia kan buronan. Untuk apa buronan menampakkan dirinya ke semua orang, dengan taruhan kepala yang akan terpenggal. Gila! Dan lagi, bagaimana Naruto bisa mengira bahwa Hinata ada di Suna?

"Hyuuga? Wanitanya? Aku?" Hinata masih bingung. Apa maksud dari semua ini.

Naruto kembali bersuara dengan lantang. "Aku tidak pernah menganggap Hinata sebagai barang."

"Itu suara Naruto." Pikir Hinata.

"Hinata itu gadisku." Lanjutnya. Hinata terkesima.

Astaga, sejak kapan Naruto menjadi sok romantis begini?

Deidara semakin tertawa dengan nyaring. "Buktikan kalau kau bisa mengambilnya kembali."

Di saat semua merasa tegang, Raja kerajaan Suna beserta permaisuri, putrinya dan pengawal, Raja Kerajaan Hyuuga, Shikamaru dan Chouji, datang sacara bersamaan. Minato kaget melihat Naruto yang dikenal sebagai bajak laut mirip putranya-Naru-yang hilang.

"Aku hanya ingin meminta izin dari ayah Hinata dan ayah kita."

Naruto berujar begitu lantang. Semua yang mendengarnya terharu, termasuk Hinata.

Deidara menyindir. "Heh, kenapa kau begitu yakin? Apa yang bisa diharapkan dengan bajak laut sepertimu?"

"Aku memang hanya seorang bajak laut, tapi aku akan membuktikan bahwa aku mampu membahagiakan Hinata."

Minato yang melihatnya merasa terharu. Apakah ini Naruto, benar-benar Naru putra mereka yang hilang? Minato yakin dia memang putranya, Naru, begitu juga Kushina. Ikatan batin antara orang tua dan anak memang kuat. Di lain sisi, Raja Hyuuga yang mendengar ketulusan dari seorang Naruto juga jadi ikutan luluh. Tapi, bagaimana dia bisa mempercayakan putrinya kepada seorang bajak laut?

Deidara kembali bersuara. "Buktikan ucapanmu itu dengan cara bertarung denganku. Jika kau kalah, artinya kau tidak bisa membahagiakannya. Bahkan untuk melindunginya sajapun, kau takkan mampu."

"Baik. Aku terima tantanganmu."

...

Angin berhembus, menerbangkan pasir-pasir di sana. Tiupan nakalnya membawa agar rambut serta pakaian mereka yang ada di sana ikut menari mengikuti iramanya. Semua tegang, kelam, mencekam.

Naruto membuka jubahnya, begitupun Deidara. Mereka sama-sama menyiapkan pedang dan menyuruh agar yang lain menjauh. Dalam hitungan ketiga, mereka sama-sama maju untuk menyerang satu sama lain.

Menit demi menitpun berlalu, keduanya seimbang dan sama-sama sudah lelah. Tarikan nafas yang saling beradu, bahu yang naik turun dengan cepat, serta lutut yang sudah goyang, tidak menyurutkan semangat mereka agar bisa menang dari sang lawan. Semua yang menyaksikan pun semakin tegang, terutama Hinata. Naruto dan yang lainnya bahkan tidak menyadari akan kehadirannya di sana.

Dengan persiapan matang, mereka melakukan serangan terakhir. Deidara menyerang, naruto menangkis. Tetapi buruk untuk naruto, tangannya licin akibat keringat dan darah sehingga pegangannya pada pedang sudah tak kuat sehingga pegangannya terlepas. Ini kesempatan yang baik untuk deidara, sehingga ketika naruto lengah, dia segera mengayunkan pedangnya kearah naruto. "Fufufu. Pertarungan akan segera berakhir."

"Narutooooo!"

Naruto kaget. "Eh, itu seperti suara Hinata."

Semua menoleh ke asal suara teriakan tersebut. Dan benar, itu Hinata. Sejak kapan Hinata berada di sana?

Dan Seperti mendapat kekuatan baru, Naruto segera mengambil pedangnya–yang tadi jatuh-kembali saat Deidara juga lengah akibat melihat arah dimana Hinata berada. Dia tidak boleh kalah. Dia harus menang agar bisa membuktikan bahwa dia pantas untuk melindungi Hinata. "Belum berakhir."

Pedang dan pedangpun kembali beradu. Kali ini Naruto lebih unggul karena ada Hinata yang menjadi penyemangatnya. Deidara semakin kesulitan. Dan satu serangan dari Naruto, pedang Deidara pun terlepas. Hanya tinggal satu kali tebasan, maka Naruto akan menang. Tapi Naruto berhenti sebelum ujung pedang mengenai deidara. Dia masih punya hati. Dia tak mungkin melukai Deidara, yang notabenenya adalah saudara kandungnya.

Deidara pucat, gemetaran, tapi bingung kenapa Naruto tidak mengayunkan pedangnya.

"Aku tidak seperti kau. Aku masih punya hati." Ujar Naruto dan kemudian berbalik, memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya dan kemudian tersenyum ke arah Hinata.

Deidara masih belum bisa menerima kekalahannya. Dengan licik, dia mengambil pedangnya kembali dan berniat menyerang Naruto. Tapi usahanya tersebut gagal, karena Shikamaru lebih cepat menghadangnya.

"Jangan jadi pengecut dengan menyerang seseorang dari belakang."

Raja Minato pun menghampiri anaknya. "Kau kalah, anakku. Adikmulah yang menjadi pemenangnya."

Dan dengan begitu, semua yang menyaksikan ikut bersorak. Hinata yang sedari tadi menyaksikan dengan tegang akhirnya berlari, menghambur ke pelukan naruto. "Syukurlah kau tidak apa-apa, Naruto." Hinata terisak bahagia.

Naruto melepaskan pelukannya, menatap Hinata tepat ke mata indah sang putri Hyuuga. "Iya, terima kasih telah menjadi penyemangatku."

"Iya."

"Hinata…"

Hinata menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. "A-ayah?"

"Ayah senang bisa melihatmu kembali."

Hinata menangis dan segera memeluk tubuh ayahnya. "Maafkan aku, ayah. Aku telah membuat ayah khawatir."

Raja Hiashi tersenyum. Diusapnya punggung anaknya yang sedikit bergetar; menenangkan. "Sudahlah. Yang penting kau selamat."

Dengan perlahan, Hinata melepas pelukannya. "Iya."

"Ehem… Ada hubungan apa antara kau dengan bajak laut itu?" walaupun terdengar marah, sebenarnya Raja Hiashi telah merestui hubungan mereka, jikalau memang diantara mereka ada hubungan lebih.

Hinata merona. "Eh… I-itu…"

"Kami memiliki hubungan special." Suara di belakang yang Hinata tahu adalah Naruto mulai menjelaskan; membantu Hinata yang kebingungan mencari jawaban. "Dan setelah ini, aku ingin mengajak Hinata untuk ikut bersamaku kembali." Lanjutnya dengan tegas.

Hinata makin gugup, dan malu. "Na-Naruto…"

"Apa kelebihanmu sehingga yakin bahwa putriku akan bahagia bersamamu?"

Sebelum Naruto menjawab, suara orang dewasa yang lain telah terlebih dahulu menginterupsi. "Dia seorang Putra Mahkota kerajaan Namikaze. Dan saya, sebagai ayahnya ingin melamar putri anda-Hinata-untuk anak saya, Namikaze Naru, yang selama ini kita kenal sebagai bajak laut Naruto."
Karena Hiashi sudah kenal minato sejak lama dan ingin menyatukan kedua kerajaan serta sudah tahu betapa tulus dan hebatnya seorang Naruto, akhirnya dia merestui.

"Itu terserah putriku saja."

"Eh." Hinata yang tiba-tiba diberi wewenang oleh ayahnya malah terpekik kaget. Dengan malu-malu dia menjawab, "A-aku… aku ingin bersama Naruto."

Semua tertawa bahagia, begitu pun Naruto. Dan apa kabar pangeran Namikaze kita yang satunya? Deidara akhirnya mengakui kekalahannya. Dia juga siap menanggung resiko dan dijatuhi hukuman oleh ayahnya akibat perbuatannya selama ini. Karena dia lelaki sejati, dia harus bertanggung jawab.

Dan Raja Minato menugaskannya untuk menjadi pengawal rakyat. Bukan pengawal dalam artian sebenarnya, hanya seseorang yang selalu adauntuk mengurus rakyatnya. Bukankah itu artinya dia yang akan menjadi penerus tahta berikutnya? Belum. Dia harus bisa belajar dewasa dan bijak dulu, baru diangkat menjadi raja.

Kenapa bukan Naruto? Karena Naruto akan tetap menjadi bajak laut, tetapi bajak laut yang tidak merugikan orang, dan berkeliling dunia bersama Hinata. Mungkin sesekali akan kembali mengunjungi orang tua dan mertuanya.

Mengenai Shikamaru, Temari yang menyaksikan kegagahannya -menghalang sang kakak- tadi menjadi semakin terpesona dengan Pangeran berambut nanas. Sepertinya akan terjadi hubungan keluarga di tiga kerajaan.

"Hinata." Panggil Naruto.

Hinata menoleh malu. "Iya, Naruto?"

Naruto menggenggam tangan Hinata. Di hadapan semua orang, dia berseru lantang. "Maukah kau pergi bersamaku, menjadi milikku, dan menjadi ibu dari anak-anakku; anak kita, selamanya dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kita?"

"Iya Naruto, aku mau!" Hinata tak bisa lagi membendung air matanya. Dia bahagia, sangat bahagia. Kyuubi yang berada di belakangnya pun juga ikut merasakan, bersama-sama memeluk Naruto dan Hinata dalam lingkupan sayap besarnya.

Semua bertepuk tangan. Akhir yang indah bukan? Karena semua memang akan indah pada waktunya.

.

.

-END-

A/N : Garing kriuk-kriuk. Bingung? Sama. xD Dan, astagaaa… kenapa ceritanya jadi sinetron begini? Alur cepat, perpindahan waktu cepat, kealayan yang nyempil, dan cerita yang agak maksa. Mana hampir setahun baru update lagi. xD #dibunuh

Saya masih awam, saya masih perlu banyak belajar. Tapi saya akan terus berusaha membuat tulisan yang lebih berkualitas.

Bingung Kyuubi di cerita ini seperti apa? Kyuubi di sini adalah makhluk langka (?) yang lahir dari telur yang diperebutkan oleh bajak laut maupun warga desa biasa karena kehebatannya, seperti cepat tumbuh besar, bisa merubah Sembilan ekornya menjadi ekor/ sirip ikan sehingga hebat dalam berenang *lihat chap 5 saat Kyuubi menolong Naruto dan Hinata yang terjun ke laut*, semakin besar Kyuubi maka dia akan tumbuh sayap dan tentunya bisa terbang walaupun membawa Hinata dan Naruto sekalipun. Dan yang paling diincar adalah kekuatannya untuk menemukan pulau harta karun~ dan sesuai perkembangannya, suara Kyuubi makin lama makin besar, tidak menjadi "pii~' lagi tetapi lebih seperti 'grrr'. Begitulah kira-kira. ^^

Dan saya ucapkan banyak banyak terima kasih kepada kalian yang telah menunggu, membaca, mereview bahkan mengfave fanfic ini. Saya benar-benar terharu~

Special thanks : ZephyrAmfoter, Tori Piya males LoGin, Ans Micky Namikaze, mijami, Zoccshan, Ind, KATROK, Asakura Echo Yume-chan, Matsumoto Rika, KOPLAK, Monster April, Guest, Rurippe no Kimi, NaHi's Lover, Tanigawa Rizumi-chan, Hinata uzumaki, KuroMaki RoXora, Kiranachan naruhina animez, nubie, IpJinchurikiJunibi, Ghifia Kuraudo, BellNicXie, Hiko'Ay Natsuciko, abiresta, ciya, Sunny, Asahi, hinaru, SitiNazuratul, kiriko mahaera, amexki chan, Hanamoto Aika, Rokuna Aldebaran, Hyuna toki, Hina chan, posumah, bhitychan, Chelsi, naruto, Fran Fryn Kun, never talk man, Hyuna. Uzuhi, petra-chan, Ainaka Yuki, Guest, menma namikaze, Jester, LuluAngel, atnanaruHina.

Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa membalas review kalian. Tapi yang jelas, kalian sangat berharga.

Saya exit!

05 Maret 2013

Love shower,

Maru

Salam damai NHL ^^v