Fairy Tail © Hiro Mashima

Bisakah Kau Melihat dan Mendengar Suaraku? © Minako-chan Namikaze

.

Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastis semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/

Pair : Natsu. D & Lucy. H

Genre : Hurt/Comfort & Romance

.

.

LUCY POV.

Pagi ini seperti biasa, aku sudah berada di ruang kesehatan Guild. Tepatnya disamping laki-laki berambut pink yang sedang memakan sarapannya dengan lahap. Aku duduk manis disamping tempat tidurnya sambil membaca buku dengan kaca mata sihirku.

"Hah~ Disini juga tidak ada..." desahku, lalu menaruh buku yang kubaca tadi di tumpukan buku yang sudah kubaca, lalu mengambil salah satu buku ditumpukan lain.

Saat ini aku sedang mencari tahu tentang mantra sihir yang menyebabkan Natsu kehilangan penglihatan sekaligus pendengarannya dari buku-buku yang kupinjam dari perpustakaan Guild. Namun sudah 2 jam aku membaca, tapi sampai sekarang belum menemukan apapun. Entah sudah berapa puluh buku yang kubaca dan kutumpukan dibawah kakiku.

"Disini juga tidak ada..." kembali kecewa, aku lalu menaruh buku yang tadi kubaca di tumpukan, dan mengambil buku lain ditumpukan sebelahnya.

"Luce, kau sedang apa?" tanya laki-laki berambut pink disebelahku. Kutulis di telapak tangannya,

'Sedang membaca buku.'

"Buku tentang apa?"

'Buku tentang mantra-mantra sihir. Aku ingin mencari tahu tentang mantra sihir yang telah membuatmu menjadi seperti ini.'

Natsu terdiam sejenak, lalu berkata sambil tertunduk.

"Naa, Luce. Misalnya, mantra yang menyelimutiku ini tidak bisa dihilangkan, dan aku akan terus seperti ini selamanya, apakah kau akan meninggalkanku?"

Mataku terbelalak mendengarnya mengatakan hal itu. Kutaruh bukuku diatas pangkuanku, lalu kugenggam tangan Natsu dengan erat. Kutuliskan jawabanku ditangannya,

'Aku akan terus bersamamu apapun keadaannya, jadi kumohon jangan berkata begitu lagi.'

Natsu tersenyum kecut. Aku memandangnya dengan khawatir. Sampai disinikah dia akan menyerah begitu saja?

Kutulis lagi di telapak tangannya, 'Jangan menyerah! Aku pasti akan membantumu!'

Dia sedikit terkejut, lalu menjawab, "Ya, kau benar! Aku tidak boleh menyerah semudah ini. Aku harus tetap semangat! Yeah!" katanya sambil memukulkan tinjunya ke udara.

Aku tersenyum lega melihatnya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, lalu mengambil buku yang sudah kusiapkan untuk Natsu.

"Nee, Natsu. Aku membawakanmu buku dengan huruf Braile." kataku sambil menunjukan buku itu didepannya.

Dia tidak merespon.

Kutepuk jidatku karena bisa-bisanya aku lupa kalau Natsu tidak bisa mendengarku. Lalu kuraih tangannya dan kutulis disana.

'Aku membawa buku cerita dengan huruf Braile untukmu. Kau mau membacanya?'

Dia mengangkat alisnya,

"Bagaimana cara supaya aku bisa membacanya?" tanyanya.

Aku tersenyum lalu kutulis lagi ditangannya,

'Kau hanya perlu meraba huruf demi huruf di buku itu.'

Dia ber-oh ria sambil mengangguk-angguk ngerti.

"Kalau begitu aku mau mencoba membacanya!" Katanya bersemangat. Aku menyerahkan buku cerita yang tidak terlalu tebal itu di tangannya. Kulihat tangan Natsu meraba-raba huruf besar yang ada di cover buku itu.

"Etto... Pe-tu-a-la-ngan.. Na-ga.. Ke-c-il... Men-ca-ri.. Ay-ah-nya..." eja Natsu. Aku mengangguk membenarkan.

"Wah, ternyata tidak sesulit yang kukira. Baiklah, aku akan membacanya sampai habis. Lumayan bisa mengisi kebosananku. Terima kasih, Luce!"

Walaupun hatiku terasa sakit melihatnya harus membaca dengan cara seperti ini, tapi aku sangat bersyukur Natsu tidak membenciku dan membiarkanku tetap berada disampingnya seperti ini. Tapi tetap saja aku merasa bersalah, kalau saja waktu itu aku cepat menghindar, pasti Natsu tidak akan menjadi seperti ini. Dan pasti sekarang dia sedang membuat kekacauan di Guild seperti biasa. Bukannya berdiam diri disini dan membaca buku.

Aku kembali mengalihkan pandanganku, dan fokus ke bukuku. Namun akhirnya aku menyerah juga karena tidak bisa mendapatkan apa-apa. Padahal hampir semua buku di perpustakaan Guild sudah kubaca, tapi tetap saja tidak menemukan apapun bahkan sesuatu yang berhubungan dengan mantra itu. Hari sudah semakin malam, dan aku memutuskan untuk pulang ke Apartemenku.

LUCY POV END.

XXX

Sekarang sudah 2 minggu Natsu terus mendekam di ruang kesehatan Guild, memulihkan luka-lukanya. Sekarang luka-lukanya sudah sembuh total dan tidak ada perban lagi yang melilit sekujur tubuhnya. Natsu juga sudah bisa berjalan seperti biasa, malah sampai berlari-lari tidak karuan sehingga Lucy harus menahannya sebelum menabrak tembok atau terpeleset dan jatuh dari tangga.

"Lucy, apa Natsu akan tinggal di Apartemenmu?" Tanya Mira ketika Lucy membantu Natsu duduk di kuris Bar.

"Eh?"

"Lho? Bukannya kau bilang kau akan mengurus Natsu sampai Natsu mendapatkan kembali penglihatan dan pendengarannya? Itu berarti kau harus mengajak Natsu untuk tinggal di Apartemenmu untuk sementara, kan?" tanya Mira sambil tersenyum untuk menggoda Lucy. Lucy memerah mendengarnya. Lalu dia menatap Natsu yang sedang meminum jus strawberinya.

"Y-ya.. Kupikir aku akan mengajaknya untuk tinggal di A-apartemenku sampai dia mendapatkan kembali penglihatan dan pendengarannya.." Jawab Lucy dengan wajah tertunduk. Mira tersenyum puas mendengarnya.

"Huharap Lucy bisa mengatakan perasaannya yang sesungguhnya ke Natsu." batin Mira.

Lucy meraih tangan Natsu dan menuliskan sebuah kata disana,

'Kau mau pulang? Ini sudah hampir malam.'

"Ya, aku juga sudah bosan terus-terusan berada didalam guild selama 2 minggu ini." jawab Natsu.

'Kalau begitu biar kuantar, ya!'

Natsu mengangguk.

"Mira-san, kami akan pulang sekarang." ucap Lucy kepada Mira.

"E-oh, iya." jawab Mira. Lucy menarik tangan Natsu, dan menggandengnya.

"Ayo, Natsu." ucap Lucy.

Kemudian mereka berjalan meninggalkan Guild. Tentunya Happy juga ikut bersama mereka.

XXX

"Nah, Natsu. Kita sudah sampai." ucap Lucy ketika dia dan Natsu memasuki apartemen Lucy. Natsu tidak menjawab. Lucy menuliskan di tangan Natsu.

'Kita sudah sampai.'

Natsu terkejut, lalu mengendus sesuatu.

"Lho? Bukannya disini apartemenmu?" tanya Natsu.

Lucy kembali menulis,

'Iya, mulai sekarang kau akan tinggal di Apartemenku.'

"Tapi... Bukannya dulu kau tidak suka kalau aku menginap di apartemenmu?" tanya Natsu.

Lucy sedikit kesal. Lalu dia menulis lagi,

'Dulu ya dulu! Sekarang ya sekarang! Sudah turuti saja.'

"Ba-baiklah kalau memaksa." ucap Natsu. Padahal dalam hatinya dia sudah kegirangan bisa tinggal di Apartemen Lucy yang nyaman.

Lucy membantu Natsu menaiki tangga lalu mendudukannya di tempat tidur. Happy tiba-tiba menempel di pundak Lucy dan berkata dengan wajah memelas.

"Lu~cy, aku lapar."

"Oh, iya. Aku belum membuat makan malam. Happy, kau tunggu disini saja bersama Natsu, ya?" ucap Lucy kepada Happy.

"Aye, sir!" jawab Happy sambil mengangkat tangannya. Lucy meraih telapak tangan Natsu lalu menulis disana,

'Tunggu sebentar ya, aku mau membuat makan malam dulu.'

Natsu mengangguk. Lucy tersenyum sebentar, lalu beranjak ke dapur.

Lucy membuat sebuah masakan yang mudah dan cepat dibuat, dan tentunya mudah untuk Natsu memakannya. Yup! Itu adalah Nasi Goreng. Setelah selesai memasak, Lucy kembali ke kamarnya dan membawa Natsu beserta Happy ke ruang makan. Mereka makan dengan tenang. Tidak seperti dulu. Biasanya Natsu dan Happy selalu berisik jika makan dan mengotori meja beserta lantai apartemen Lucy dengan makanan mereka yang muncrat kemana-mana. Namun sekarang begitu sepi. Yang terdengar hanya dentingan sendok dan suara Happy yang makan dengan lahap.

Setelah selesai makan, Lucy kembali ke kamarnya bersama Natsu dan Happy tentunya. Lucy mendudukan Natsu di tempat tidurnya, sementara dia sendiri duduk di kursi meja riasnya. Happy? Dia sudah tertidur pulas di kasur Lucy karena kebanyakan makan. Lucy melihat jam.

"Sudah jam 7." Gumam Lucy. Lalu dia terdiam.

Natsu juga hanya diam saja.

Keduanya hanya diam.

Hening.

Sepi.

Senyap.

Tiba-tiba Natsu bersuara.

"Naa, Lucy." Panggil Natsu.

"Ya?" jawab Lucy sambil duduk disebelah Natsu. Dia menulis di tangan Natsu.

'Ada apa?'

Natsu terdiam sebentar lalu menjawab.

"Luce, aku mau mandi."

"A-apa?!" Lucy membulatkan kedua matanya dengan tidak percaya. Apa Natsu memintanya untuk memandikannya? Bukannya Lucy tidak mau, d ia malah sudah memikirkan ini sebelumnya. Tapi kalau secepat ini, dia masih belum siap. Dia butuh persiapan mental untuk memandikan seorang pria polos seperti Natsu. Bagaimana kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak pada Natsu-Oke Lucy, kau mulai berpikiran yang tidak beres.

Lucy mengelus dadanya, mencoba menghilangkan pikiran hentainya itu. Setelah tenang, dia kembali menuliskan di telapak tangan Natsu.

'Maksudmu kau mau aku memandikanmu begitu?' Tangan Lucy sedikit gemetar ketika menulisnya,

Natsu langsung memerah, "Bu-bukan itu maksudku! Aku cuma ingin kau mengantarku sampai ke kamar mandi." ucap Natsu.

Lucy sedikit lega namun juga kecewa. "Dasar! Apa yang sudah kau pikirkan Lucy bodoh! Kyaa! Bikin malu saja, dasar otak hentaaiii!"

Lucy mengutuk dirinya sendiri yang begitu bodoh. Lalu dia menulis ditangan Natsu.

'Baiklah, tapi kau yakin kau baik-baik saja untuk mandi sendiri?'

"Ya, tentu saja. Mana mungkin aku memintamu untuk memandikanku!" Natsu memerah ketika mengatakannya.

"Lagi pula, aku bisa menyabuni tubuhku tanpa harus melihatnya kok!" kata Natsu sambil menggaruk pipinya.

"Bukan itu yang ku khawatirkan. Bagaimana kalau nanti kau terpeleset? Atau bagaimana kalau kau tidak sengaja menumpahkan sabun cairku yang harganya selangit itu di lantai?" batin Lucy sambil menatap Natsu dengan sangat khawatir sambil membayangkan kalau Natsu akan menumpahkan sabun cairnya yang di belinya dengan harga yang sangat mahal itu. Namun kemudian dia menuliskan ditangan Natsu,

'Baiklah. Tapi kau harus janji untuk berhati-hati dalam memegang sabun cairku.'

Natsu mengangguk, lalu mengacungkan jempolnya.

"Tenang saja. Kalau sabunnya tumpah, kau tinggal membelinya lagi saja."

"Itu artinya kau tidak bisa menjamin keselamatan sabun cairku." batin Lucy sambil menangis.

Namun kemudian dia mengantarkan Natsu ke kamar mandi. Lucy kembali menulis ditangan Natsu,

'Handuknya kutaruh dibelakang pintu saja ya.'

Natsu mengangguk, lalu membuka bajunya padahal Lucy sama sekali belum keluar dari kamar mandi itu.

"W-wuah! Apa yang kau lakukan, dasar HENTAI-YARO! Aku sama sekali belum keluar dari sini tahu!" lalu Lucy segera keluar dari kamar mandi.

Dasar, sudah kubilang aku belum siap melihatnya, batin Lucy sambil merebahkan diri di tempat tidurnya. Tidak lama setelah itu terdengar bunyi shower dari kamar mandi. Rupanya Natsu sudah mulai mandi. Lucy memejamkan matanya. Dia merasa sangat lelah hari ini, padahal dia sama sekali tidak melakukan hal yag bisa membuatnya lelah.

Beberapa menit setelah itu terdengar suara Natsu,

"Uwaa! Ittai!" Lucy langsung membuka matanya lalu berlari ke kamar mandi. Di gedornya pintu kamar mandi.

"Natsu! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Lucy.

Tidak ada jawaban.

Benar saja, Natsu kan tidak bisa mendengarnya. Lucy langsung membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci itu tanpa memikirkan konsekuensi dari perbuatannya.

"Natsu! Kau ti-KYAA! SABUNKU!" jerit Lucy ketika melihat sabunnya tumpah dan mengalir ke lubang pembuangan air.

"Luce..?" Lucy menoleh kesamping dan mendapati Natsu tengah terduduk di lantai dengan posisi habis terjatuh (tidak perlu author jelaskan, bisa bikin author blushing nih ngebayanginnya) sambil memegang kepalanya.

"KYAAAAAAAA!" jerit Lucy, lalu dia ambruk dikamar mandi.

Menyadari ada yang jatuh, dan sepertinya itu adalah orang, reflek Natsu berteriak.

"LUCY! JANGAN MATII!"

XXX

Lucy membuka matanya dan mendapati dirinya berada di tempat tidur. Lho? Bukannya tadi dia pingsan di kamar mandi karena melihat sabunnya tumpah dan melihat-argh! Sudah! Jangan diingat lagi.

"Yo, luce! Sudah bangun?" Tanya Natsu ketika menyadari Tubuh Lucy yang tiba-tiba bergerak. Lucy menoleh kesamping dan mendapati wajah Natsu sangat dekat dengan wajahnya. Reflek wajahnya langsung memerah dan dengan tangannya dia mendorong wajah Natsu menjauh dari wajahnya. Lalu dia menyadari posisinya dengan Natsu sekarang. Dia dan Natsu berada diatas tempat tidur dengan Natsu memeluk pinggangnya.

"KYAAA! APA YANG KAU LAKUKAN, DASAR HENTAI YARO!" reflek Lucy memukul wajah Natsu sehingga Natsu langsung meringis kesakitan. Sadar akan perbuatannya, Lucy langsung meminta maaf lalu mengelus wajah Natsu dibagian yang di tonjoknya tadi.

"Kenapa kau tiba-tiba memukulku?!" Natsu langsung Protes. Lucy menulis ditelapak tangannya,

'Habis kenapa kau memelukku ditempat tidur seperti ini? Bikin kaget saja.'

"Habis kenapa kau harus tidur di kamar mandi? Kau tahu betapa susahnya aku dan Happy mengangkatmu dari kamar mandi sampai ketempat tidur begini gara-gara berat badanmu itu." ucap Natsu tanpa menyadari arti dari kata-katanya itu.

Lucy mencubit perut Natsu dengan cukup keras sehingga Natsu langsung menjerit kesakitan.

"Aw! Hey!"protes Natsu sambil memegangi perutnya.

Lucy mendengus, lalu menulis ditangan Natsu,

'Itu hukuman karena bilang aku berat.'

"Iya, iya. Aku minta maaf!" ucap Natsu.

Lucy diam saja tidak bergerak. Natsu menaikkan alisnya.

"Luce? Kau benar-benar marah ya?" tanya Natsu.

Lucy masih tidak merespon.

"Luce..? Kau masih disini?" tanya Natsu sedikit kesal karena Lucy sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya. Dia merasa seperti sedang bicara sendiri. Namun tiba-tiba,

"KYAAA!"

PLAK! PLOK! PLAK! PLOK!

Lucy tiba-tiba menampar wajah Natsu bolak balik dengan tangannya, lalu memeluk dirinya sendiri. Tepatnya dadanya. Rupanya Natsu sedari tadi tidak sengaja menempelkan tangannya di dada Lucy sehingga membuat Lucy syok untuk beberapa saat.

"O-oi, Luce! Kenapa tadi tadi kau terus memukulku sih!" Natsu kembali protes sambil mengelus kedua pipinya.

Lucy menulis di telapak tangan Natsu.

'Itu karena kau hentai! Kau pikir apa yang sedari tadi kau pegang, hah?!'

"Yang sedari tadi kupegang?" lalu Natsu mengangkat tangannya didepan dadanya. Kemudian menggerakkannya dengan cara yang sudah kalian bisa tebak tentunya. Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya dia sadar atas apa yang sudah diperbuatnya.

"Oh! Haha, maaf Luce! Habis kukira dadamu itu bantal. Habis lembut sekali sih!" ucap Natsu dengan wajah tanpa dosa dan minta dihajar.

"Grrr! NATSUUU! HIYAAA!"

"GYAAA!"

Dan setelah itu terdengarlah jeritan kesakitan Natsu.

XXX

"Luce, aku benar-benar minta maaf.. Kau kan tahu aku tidak bisa lihat." ucap Natsu sambil mengelus kepalanya yang benjol tiga tumpuk. Lucy mengela napas, lalu meraih tangan Natsu dan menulis di telapak tangannya.

'Ya, kumaafkan. Lagi pula aku juga terlalu berlebihan memukulmu. Aku minta maaf ya!'

Natsu tersenyum, lalu menggaruk kepalanya, "Tidak! Aku sama sekali tidak masalah kau memukulku tadi. Hehe."

Lucy menghela napas, lalu menulis ditangan Natsu.

'Sudah malam. Kau tidak tidur?'

Natsu menggeleng.

"Kau sendiri tidak tidur, Luce?" Natsu balik bertanya.

Lucy menoleh melihat jam diatas meja,

"Jam 9? Selama itukah aku pingsan?" Gumam Lucy.

"Luce..?" panggil Natsu.. lucy tersadar lalu menulis di telapak tangan Natsu.

'Baiklah aku akan tidur. Kau tidurlah di tempat tidurku.' Natsu menyerngit.

"Lalu kau tidur dimana?" tanya Natsu. Lucy kembali menulis,

'Aku akan tidur di sofa saja.'

Natsu langsung menggeleng.

"Tidak.. kau tidak boleh tidur di sofa. Lagi pula ini kan apartemenmu, masa aku harus membiarkanmu tidur di sofa sementara aku enak-enakan tidur di tempat tidurmu."

'Lalu kau maunya bagaimana?'

"Begini saja. Bagaimana kalau kita tidur sama-sama?" tanya Natsu sambil menunjukakan cengirannya. Lucy langsung memerah mendengarnya dan langsung menulis di telapak tangan Natsu.

'Tidak mau!'

"Kenapa?" Natsu langsung kecewa,

'Tidak mau ya tidak mau! Sudah kau tidur saja sana!' Lucy sedikit kesal.

"Aku tidak mau tidur sebelum kau membaringkan tubuhmu di tempat tidur ini, dan kita tidur sama-sama." Natsu tetap bersih keras. Lucy berpikir sebentar. Kenapa tidak? Lagi pula Natsu tidak mungkin berbuat macam-macam dengannya bukan?

Lucy sudah memutuskan pilihannya, lalu menulis di telapak tangan Natsu,

'Baiklah. Tapi awas kalau kau berani macam-macam saat aku tidur!'

"Tenang saja! Aku tidak mungkin macam-macam denganmu."

Lalu mereka berbaring di tempat tidur dengan Lucy yang membelakangi Natsu. Lucy menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Tidak setelah itu Lucy mendengar dengkuran halus Natsu. Cepat sekali tidurnya, batin Lucy.

Lalu Lucy mengubah posisinya dengan membalik tubuhnya menghadap Natsu.

Lucy sedikit terkejut mendapati wajah Natsu begitu dekat dengan wajahnya ketika dia membalik tubuhnya barusan.

Dipandanginya wajah Natsu lekat-lekat. Lalu tangannya mengelus pipi Natsu. Dan tanpa dia sadari dia sudah menempelkan bibirnya di kening Natsu. Menyadari perbuatannya itu, Lucy langsung memerah dan membenamkan wajahnya di dada Natsu.

"Oyasumi, Natsu..." gumamnya. Lalu dia langsung terlelap.

Bersambung...