Fairy Tail © Hiro Mashima

Bisakah Kau Melihat dan Mendengar Suaraku? © Minako-chan Namikaze

.

.

Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastis semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/

Pair : Natsu. D & Lucy. H

Genre : Hurt/Comfort & Romance

.

.

Cahaya matahari menyeruak masuk kedalam kamar seorang gadis berambut blonde. Menyadari ada cahaya terang yang menusuk matanya, gadis itu perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur karena habis bangun tidur, lalu gadis itu mengucek matanya sambil menguap.

Tiba-tiba suara seorang pria yang berada disampingnya memanggilnya,

"Eh? Luce, kau sudah bangun?" tanya lelaki berambut pink itu. Gadis berambut blonde itu mendongakkan wajahnya sambil terus mengucek matanya.

"Ng..?" gumam gadis itu tidak jelas karena efek baru bangun tidur. Ketika pandangannya sudah jelas, dia menyadari siapa laki-laki yang berada disampingnya sekarang. Sontak wajahnya memerah menyadari wajah mereka yang sangat dekat dan tangannya yang secara dia tidak sadari memeluk bahu Natsu.

Sontak saja dia berteriak, "KYAAAAA!" sambil mendorong wajah Natsu dengan kedua tangannya sehingga kepala Natsu langsung kejedot tembok disamping tempat tidurnya.

"O-Oi, oi! Apa-apaan sih Luce! Kenapa dari semalam kau hobi sekali memukulku?!" protes Natsu sambil memegangi benjol dikepalanya.

Lucy sedikit kaget dengan perbuatannya yang tiba-tiba menjedotkan kepala Natsu ke tembok. Lalu dia menulis ditangan Natsu,

'Maaf! Habis aku kaget.'

"Hah? Kaget kenapa?" tanya Natsu. Lucy sedikit memerah lalu menulis lagi,

'Karena kau memelukku.'

"Lho? Bukannya kau yang memelukku? Aku sampai tidak bisa bergerak gara-gara pelukanmu itu erat sekali." jawab Natsu polos.

Lucy memerah lagi sambil memegangi kedua pipinya.

"Na-naniii? Aku memeluknya? Aku memeluk Natsu semalaman? Tidaaaakk! Kenapa aku selalu bertindak bodoh seperti ini? Bagaimana mungkin aku memeluknya dari malam sampai pagi begini?! Natsu pasti akan bertanya macam-macam kepadaku! GYAAAA! MALU SEKALIII! MAU MATI SAJA RASANYAA!" batin Lucy mulai berteriak-teriak mengutuk kebodohannya sendiri. Namun suara Natsu langsung menyadarkan Lucy dari lamunannya.

"Luce, Luce.. Aku tidak menyangka kalau kau sangat kedinginan sampai-sampai memelukku seperti itu. Haha, untung saja aku ini punya suhu tubuh yang selalu panas." ucap Natsu dengan bangganya.

Lucy menghela napas lega.

"Baka de yokatta! (Untung dia bodoh)" gumam Lucy.

Wajahnya suda tidak memerah lagi tapi jantungnya masih berdegub dengan kencang.

"Ke-kenapa aku jadi gugup begini?" batin Lucy tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

Namun suara Natsu kembali menyadarkannya dari lamunannya,

"Ngomong-ngomong, Luce... Aku lapar." ucap Natsu sambil memegang perutnya. Lucy menulis di telapak tangan Natsu,

'Baiklah. Aku akan masak dulu. Kau mau menunggu disini atau di dapur?'

"Di dapur saja deh. Oh iya, Happy mana?" tanya Natsu.

Lucy melihat tempat tidurnya, dan dia tidak menemukan Happy disana.

"Benar juga, ya. Kemana dia?" gumam Lucy. Lalu dia mendengar suara berisik di dapur.

"Jangan-jangan..!" Lucy mulai khawatir jangan-jagan Happy sedang berada di dapurnya dan mengobrak-abrik kulkasnya. Dia buru-buru bangkit, tapi sebelumnya menulis di tangan Natsu.

'Aku akan mencarinya. Kau tunggu disini dulu.'

Lalu Lucy segera bangkit dari tempat tidurnya tanpa menunggu persetujuan dari Natsu. Dia berjalan tergesa-gesa menuju dapurnya. Dan saat dia sampai, matanya langsung melotot mendapati dugaannya benar 100% kalau kucing biru itu sedang mengobrak-abrik isi kulkasnya. Segera ditariknya kucing itu dan menatapnya dengan deathglare terbaiknya.

"Hey, sedang apa kau bersama kulkasku, hah?" nada suara Lucy terdengar seperti suara Aquarius yang sedang jengkel karena kencannya di ganggu.

Happy menatap Lucy dengan terkejut lalu langsung cengengesan tidak jelas.

"Ooh! Lucy! Ohayou!" ucap Happy sambil menggaruk belakang kepalanya. Bukannya menjawab, Lucy malah menaikkan tingkat level deathglarenya sehingga membuat bulu-bulu biru Happy langsung berdiri.

"G-gomen Lucy! Habis aku sangat kelaparan. Jadi aku 'terpaksa' mengobrak-abrik kulkasmu. Kupikir aku bisa menemukan ikan disana, tapi-" belum selesai Happy bicara, Lucy sudah menginterupsinya terlebih dahulu.

"Kalau begitu kenapa kau tidak membangunkanku saja, hah?!" kini aura hitam sudah keluar dari tubuh Lucy. Kini sosoknya sama seperti Erza yang sedang ingin mengamuk.

"A-aye! Aku sudah melakukannya, tapi kau tidak bangun-bangun. Dan malah mengigau-ngigau seperti ini 'Ng, Natsu.. Jangan mentoel-toel pipiku seperti itu, hehe.. hehe' begitu." jelas Happy.

Lucy langsung memerah mendengarnya. Lalu diangkatnya Happy sampai didepan wajahnya lalu berkata dengan aura membunuh yang melebihi Erza beserta rona merah menghiasi pipinya.

"Dengar Happy! Aku akan memaafkanmu kali ini kalau kau mau merahasiakan tentang igauanku semalam kepada semua orang!" ucap Lucy sambil mengguncang-guncang tubuh Happy membuat mata Happy terlihat berputar-putar.

"A-aye~" jawab Happy setengah sadar.

"Ingat! Jangan ngember kemana-mana!" ucap Lucy menatap Happy dengan deathglarenya. Happy langsung tersadar, lalu menjawab dengan spontan.

"AYE!"

"Bagus, sekarang kau temui Natsu di kamarku dan bawa dia kesini. Aku akan memasak sarapan kalian." ucap Lucy sambil melepaskan Happy.

"AYE, KAPTEN!" seru Happy dengan semangat karena mendengar kata sarapan. Lalu dia segera terbang ke kamar Lucy.

Lucy menghela napas. Entah sudah berapa kali dia menghela napas beberapa minggu ini. Lalu dia melihat kulkasnya yang isinya sudah diobrak-abrik oleh si exceed biru itu. Dia kembali menghela napas lalu membereskannya.

Setelah selesai, diambilnya bahan-bahan untuk membuat pancake karena memang cuma ada bahan itulah di kulkasnya. Ketika dia ingin menyalakan kompor, Natsu muncul bersama Happy. Lalu mereka berdua duduk di meja makan. Lucy tersenyum lalu mulai menuangkan adonan pancakenya.

Setelah mereka selesai makan, Lucy meminta Natsu untuk pergi duluan saja ke Guild bersama Happy. Natsu menurut. Lalu Happy pun mengangkat Natsu menuju Guild. Setelah Natsu dan Happy sudah tidak terlihat lagi, Lucy memutuskan untuk mandi lalu membereskan Apartemennya.

Lucy mandi dengan cepat tanpa memakai sabun sama sekali karena sabunnya sudah ditumpahkan Natsu semalam. Akibatnya selama dia mandi, Lucy terus menangisi sabunnya yang mahal itu. Setelah selesai mandi, Lucy yang sebelumnya berniat membersihkan Apartemennya, langsung hilang mood karena masalah sabunnya dan mengurungkan niatnya untuk membersihkan Apartemennya. Lalu dia segera keluar dari Apartemennya dan berjalan menuju Guild.

XXX

Lucy membuka pintu Guild dan langsung disambut oleh Mira.

"Ah, Lucy. Selamat datang." ucap Mira.

Lucy tersenyum menanggapinya. Lalu dia menggerakan kepalanya ke sekeliling sudut Guild. Mencari seorang pria berambut pink bersama kucing birunya. Dia berniat mengajak mereka untuk melakukan misi, tentunya misi yang bisa dikerjaan oleh Natsu yang sekarang ini. Namun dia sama sekali tidak menemukan sosok yang memakai syal kotak-kotak itu. Mira yang menyadari Lucy sedang mencari seseorang, langsung berkata.

"Kalau mencari Natsu, dia ada di Ruang Kesehatan. Tadi dia tidak sengaja terpeleset gelas bir Kana, dan terjatuh. Lisanna langsung membawanya ke ruang kesehatan." jelas Mira.

Lucy mengangguk mengerti, lalu berkata.

Arigatou, Mira-san!"

Lalu dia berjalan menaiki tangga dan menuju ke ruang kesehatan. Dibukanya pintu ruang kesehatan, dan mendapati Natsu sedang duduk diatas tempat tidur dengan Lisanna yang sedang menempelkan plester di hidung Natsu. Jarak mereka terlalu dekat. Entah kenapa Lucy merasa dadanya terasa sesak.

"Harus berapa kali kubilang kalau aku tidak apa-apa. Dan aku tidak perlu plester ini di hidungku." Ucap Natsu kesal sambil menunjuk hidungnya.

Lisanna menulis di tangan Natsu seperti Lucy.

'Tidak bisa. Biarpun luka kecil, tetap saja itu luka. Nanti terinfeksi bagaimana?'

"Huh, ya sudah. Terserah kau saja deh." Natsu tampak menyerah, namun dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat Lisanna begitu khawatir padanya. Padahal dia tadi cuma menabrak tembok hingga tembok itu retak saja.

Lucy yang melihat Natsu tersenyum lembut kearah Lisanna pun tidak bisa menahan rasa kesalnya, dan memutuskan untuk tidak jadi mengajak Natsu pergi menjalankan misi hari ini, lalu dia turun dan duduk di meja bar. Lagi pula dia tidak mau menjadi pengganggu momen mesra mereka. Lisanna kan suka sama Natsu. Lucy tiba-tiba tersadar akan sesuatu.

"Menjadi pengganggu? Lisanna suka sama Natsu? Benar juga. Itu sebabnya kenapa Natsu tersenyum seperti itu kepada Lisanna tadi." Lucy tersenyum pahit.

"Eh?! Tu-tunggu dulu! Kenapa aku malah merasa sedih karena mereka saling menyukai? Jangan bilang kalau aku menyukai Natsu? KYAAA! Jangan sampai Oh Kami-sama!" Lucy mulai frustasi pada dirinya sendiri lagi.

Mira yang melihat Lucy sedang duduk di kursi bar sambil mengacak-acak rambutnya pun menaikkan alisnya.

"Lucy? Bukannya kau tadi ke ruang kesehatan? Kok malah berada disini?" tanya Mira.

Lucy menoleh dan menjawab dengan gugup.

"Eh? Oh, tidak jadi. Aku tidak ingin.. mm, mengganggu mereka yang lagi berduaan." jawab Lucy berusaha menyembunyikan nada suramnya.

"Mengganggu? Berduaan?" Mira tampak bingung. Namun tiba-tiba dia menyeringai seram kearah Lucy.

"Fufu, aku tahu apa yang sudah terjadi disini. Lucy, kau pasti sedang cemburu, kan?" goda Mira. Lucy langsung memerah mendengarnya.

"A-apa? Ce-cemburu? Itu tidak mungkin. Apa lagi sama Natsu, haha.. Tidak mungkin~" jawab Lucy dengan salah tingkah.

Menyadari jawaban dan tingkah Lucy, Mira semakin menggoda Lucy.

"Dekiterrrruuu~" ucap Mira meniru Happy.

"CHIGAUU!" jerit Lucy. Lalu dia menutupi wajahnya yang sudah sangat memerah. Kepalanya bahkan sudah mengeluarkan asap. Melihat itu,Mira menjadi tidak tega untuk menggoda Lucy lagi.

"Nee, Lucy. Kalau kau memang menyukai Natsu, lebih baik segera kau katakan. Sebelum terlambat, kau tahu? Dari pada menyesal pada akhirnya." ucap Mira dengan bijak.

Lucy hanya bisa terpana. Bukan. Bukan karena kata-kata bijak Mira barusan. Tetapi dia terpana karena Mira benar-benar sangat yakin kalau Lucy memang menyukai Natsu. Lucy tahu benar kalau dia tidak menyukai Natsu, karena mereka adalah patner dan dalam satu tim.

"Sepertinya obrolan kalian asyik. Boleh aku ikut bergabung?" Erza datang sambil membawa sepiring cake strowberry kesukaannya.

"Ah, Erza. Tentu saja boleh. Kami sedang membicarakan tentang Lucy yang suka pada Na-" Lucy langsung membekap mulut Mira agar Mira tidak melanjutkan kata-katanya.

"Suka pada Na? Na itu apa atau siapa?" tanya Gray yang tiba-tiba berada disamping Lucy. Tentunya dengan setengah telanjang.

"Gray, bajumu!" ucap Kana sambil tetap meminum birnya. Gray terkejut lalu memakai kembali baju yang mungkin untuk beberapa menit kedepan akan menghilang lagi dari tubuhnya.

"Na, Na, Na... Naaa..." Lucy tergagap.

"Kenapa aku jadi tergagap begini?! Tinggal sebut saja apa yang berawalan dengan huruf Na, kok susahnya minta ampun sih?!" Batin Lucy mulai menjerit-jerit lagi.

"Na apa?" tanya Erza penasaran.

"Na siapa?" Gray juga ikut penasaran.

"Love rival, Juvia harap 'Na' yang kau maksud tidak berhubungan dengan Gray-sama." Juvia men-deathglare Lucy, membuat Lucy semakin tergagap.

"Na, Na... Nasi goreng! Ya, nasi goreng! Aku suka sekali sama nasi goreng! Hahaha.." Lucy akhirnya tertawa bodoh.

Erza, Gray, Mira, dan Juvia hanya diam, membuat Lucy semakin ciut.

"Oh, begitu. Bilang dong dari tadi. Bikin penasaran saja." Gray langsung percaya.

Lucy sedikit lega. Sementara Mira hanya tertawa kecil.

"Tapi kenapa kau sangat gugup kalau cuma suka Nasi goreng?" tanya Erza.

Jleb! Lucy kembali frustasi.

"Itu benar! Love rival, ternyata benar kau menyukai Gray-sama! Dan kau sengaja berbohong karena takut Juvia tenggelamkan, kan?!" Juvia mengeluarkan aura hitamnya.

"Ti-tidak! Bukan begitu Juvia! Aku tidak bohong kok! Aku benar-benar suka Nasi goreng! Aku benar-benar tidak bohong." ucap Lucy sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Ayolah, percayalah dan berhentilah bertanya! Lama-lama ini bisa membuatku gila!" batin Lucy mulai menjerit lagi.

Akhirnya setelah perjuangannya meyakinkan Erza, Gray, dan terutama Juvia, akhirnya mereka percaya juga.

"Ngomong-ngomong, Lucy. Apa kau mau ikut misi bersama kami? Bukankah sebentar lagi kau harus membayar uang sewa apartemenmu?" tanya Erza.

Lucy terhenyak.

"Benar juga. Baiklah, aku ikut. Memang misinya seperti apa?" tanya Lucy.

"Kita disuruh memeriahkan ulang tahun putri pengusaha kaya raya dengan sihir-sihir kita. Imbalannya cukup banyak, 500.000 jewel." jawab Gray.

"Wah, boleh juga kurasa. Baiklah, aku akan ikut dengan kalian!" jawab Lucy dengan riang. Namun dia teringat Natsu.

"Apa kita juga perlu mengajak Natsu?" tanya Lucy.

"Benar juga. Si kepala api itu pasti akan ngambek kalau kita tidak mengajaknya." ucap Gray.

"Baiklah, kurasa kita juga akan mengajak Natsu. Lagi pula misi ini tidak terlalu berbahaya." ucap Erza membuat keputusan.

"Kalian juga akan mengajak Natsu?" sebuah suara menginterupsi mereka. Mereka menoleh dan mendapati Lisanna tengah berdiri di belakang mereka sambil menggandeng tangan Natsu.

"Ya, kami akan mengajaknya." jawab Erza.

"Tapi.. Natsu kan baru sembuh. Nanti bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?" Lisanna begitu khawatir. Yah, dia tidak ada ketika hari dimana Natsu kehilangan penglihatan dan pendengarannya karena dia sedang menjalankan misi. Karena itu dia begitu kaget dan sangat khawatir pada Natsu bahkan sampai sekarang.

"Err, tapi kalau tidak diajak, nanti di kepala api itu bakal mengamuk." ucap Gray sambil menaikan alisnya, melihat Lisanna memperlakukan Natsu seperti seorang anak kecil.

Lucy hanya diam saja mendengarkan pembicaraan mereka. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk situasi ini.

Lisanna menulis di tangan Natsu,

'Natsu, mereka ingin mengajakmu mengerjakan misi. Apa kau mau ikut?'

Natsu tertegun sebentar. Lalu tanpa diduga sebelumnya, Natsu menggelengkan kepalanya membuat Erza dan yang lainnya kaget setengah mati. Bahkan Lisanna pun kaget dibuatnya.

"Aku.. Tidak ingin menjadi beban semuanya. Jadi, lebih baik aku tidak ikut saja." Jawab Natsu.

"Apa yang kau katakan?! Kau sama sekali tidak menjadi beban bagi kami!" teriak Gray.

Namun tidak bisa mendengarnya. Gray ingin menulis juga di tangan Natsu, tapi gengsi. Masa' dia harus pegang-pegang tangan Natsu dulu?! Natsu kan rivalnya, dan ditambah lagi masa' pria pegang-pegangan tangan sih?

Lucy bangkit dari duduknya dan menghampiri Natsu. Diraihnya tangan Natsu dan ditulisnya sebuah kata di telapak tangan Natsu.

'Kau sama sekali tidak menjadi beban buat kami. Jadi, jangan berkata seperti itu.'

Natsu kembali menggeleng.

"Tidak, Luce. Tetap saja walaupun aku ikut, aku tetap tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kalian." ucap Natsu.

Lucy memandang Natsu dengan sedih. Lalu dia menatap Erza. Erza menundukan kepalanya, lalu berkata,

"Baiklah, kalau itu memang sudah jadi keputusanmu kami tidak bisa memaksamu untuk merubahnya lagi." Ucap Erza sambil menatap Natsu.

Mata Lucy membulat mendengarnya, lalu dia tertunduk.

Jadi mereka tidak akan mengikutsertakan Natsu dalam misi ini?

"Baiklah, kalau itu memang keinginanmu." ucap Lucy sambil menuliskan di telapak tangan Natsu.

Natsu tersenyum sebentar, lalu bicara pada Lisanna.

"Ayo, Lis. Temani aku memancing." ucap Natsu kepada Lisanna. Lisanna mengangguk. Lalu mereka pergi meninggalkan Lucy dan yang lainnya. Namun ketika hampir sampai di pintu guild, Lisanna menghentikan langkahnya, lalu menoleh kearah Lucy.

"Oh iya, Lucy. Kira-kira sampai berapa hari kalian akan pergi?" tanya Lisanna.

Lucy kembali menoleh kearah Erza, karena Erza yang mengajaknya.

"Kira-kira sampai 3 hari. Karena dikertas ini tertulis kalau pestanya akan diadakan 3 malam berturut-turut." jawab Erza sambil menunjukkan kertas misi mereka.

Lisanna mengangguk, lalu menoleh kearah Lucy.

"Kalau begitu, untuk 3 hari ini biar aku saja ya yang merawat Natsu sampai kau kembali dari misi, boleh kan?" tanya Lisanna dengan pandangan memohon kearah Lucy.

Lucy sedikit terkejut, lalu menjawab.

"Tentu saja. Kenapa tidak." jawabnya.

Lisanna tersenyum senang lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu dia langsung menarik tangan Natsu.

"Apa ini tidak apa-apa, Lucy?" tanya Erza sambil menghampiri Lucy.

Lucy menaikkan alisnya bingung.

"Tidak apa-apa apanya?" Lucy bertanya balik.

"Kau membiarkan Lisanna merawat Natsu. Itu berarti Natsu akan terus bersama Lisanna selama 3 hari ke depan." jawab Erza.

"Itu kan sudah pasti. Lagian mereka juga saling menyukai. Jadi kenapa aku harus melarang mereka untuk menghabiskan waktu bersama?" tanya Lucy.

Erza menghela napas.

"Bukankah kau juga menyukai Natsu?" tanya Erza. Lucy langsung memerah mendengarnya.

"Ti-tidak!" bantah Lucy.

"Hee.. Jadi Lucy menyukai si kepala api itu? Berarti yang disukai Lucy tadi sebenarnya bukan Nasi goreng, tetapi Natsu." ucap Gray sehingga Lucy langsung melotot mendengar penuturan Gray itu.

"Sou ka. Pantas saja dari tadi Lucy terlihat sangat gugup ketika mau menyebutkan kata 'Na', rupanya 'Na' yang dimaksud Lucy itu adalah Natsu." Erza ikut berargumen sambil memegang dagunya.

"Akhirnya Love rival Juvia berkurang juga."

Lucy semakin terdesak dan saking tidak bisa menanggung malu, dia tiba-tiba berteriak.

"AAA, URUSAIII! SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MENYUKAI SI PINKY ITU!" jerit Lucy, membuat semua orang yang berada di guild itu menghentikan aktivitasnya.

Hening.

Sepi.

Senyap.

Krik krik.

Krik krik.

"HAHH? LUCY SUKA PADA NATSU?!" tiba-tiba semua anggota guild menjerit dengan serentak.

"CHIGAUUUU!" Lucy ikut menjerit frustasi.

Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara supaya orang-orang guild berhenti mengejek dan membahas kalau dia suka pada Natsu. Lucy mengacak-acak rambutnya seperti orang gila. Melihat itu Erza segera memegang pundak Lucy dan berkata,

"Sudahlah. Kau butuh waktu untuk menyadari perasaanmu sendiri. Sekarang lebih baik kau segera bersiap-siap. Setengah jam lagi kita akan segera berangkat." ucap Erza, lalu berjalan meninggalkan Lucy yang masih duduk dengan frustasi.

XXX

"Aku tidak menyukai Natsu. Aku sama sekali tidak menyukainya. Aku tidak-tidak-tidak menyukainya sama sekali." bagaikan sebuah mantra, kata-kata itulah yang selalu Lucy keluarkan sejak dia duduk di Guild tadi.

Kini dia sedang membereskan barang-barang yang akan dia bawa untuk misinya bersama Erza dan yang lainnya.

"Tapi... Entah kenapa hatiku terasa sakit dan ada perasaan tidak rela ketika melihat Natsu pergi dengan Lisanna tadi." batin Lucy. Lalu dia segera menggelengkan kepalanya.

"Hey, sadar Lucy sadar! Natsu itu adalah patner setimmu! Dan lagi Lisanna sangat menyukai Natsu. Kau harus tahu diri. Natsu sudah pasti juga menyukai Lisanna! Mana mungkin kau mau merusak hubungan mereka! Lucy bodoh!" batin Lucy berusaha menyadarkan dirinya. Namun tetap saja hatinya terasa nyeri.

Lucy segera keluar dari apartemennya setelah memastikan barang-barang yang diperlukannya tidak ada yang tertinggal. Dia berjalan menuju guild ditemani Plue di samping kakinya.

Lalu tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat sebuah toko, Lucy tidak tahu itu toko apa dan tidak mau tahu. Yang membuatnya menghentikan langkahnya adalah dua orang yang berada dan Lisanna. Lucy berniat menyapa mereka, namun segera terurungkan ketika melihat Natsu mengusap kepala Lisanna dengan lembut.

Lisanna menuliskan sesuatu di telapak tangan Natsu, lalu mereka berdua tertawa bersama. Melihat itu Lucy kembali tersadar, kalau mereka berdua itu sangat cocok. Yah, Natsu dan Lisanna. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sangat serasi.

Lucy menunduka kepalanya. Matanya terasa panas. Plue yang melihatnya pun hanya bisa memiringkan kepalanya karena bingung. Lalu Lucy berlari dengan kencang dan meninggalkan Plue yang tengah memekik kaget.

"Puu.. Punnn!"

XXX

Lucy sampai disebuah taman dengan napas yang terenga-engah. Bukan karena dia lelah karena terus berlari. Melainkan karena dadanya yang terasa sesak sehingga dia kesulitan bernapas.

Tes. tes.

Lucy terkejut lalu memegangi pipinya.

Basah.

"Aku... Menangis..?" gumam Lucy sambil menatap jarinya yang basah karena air matanya.

"Tidak. Kenapa aku harus menangis? Bukannya seharusnya aku senang mereka bisa bersatu seperti tadi? Sahabat macam apa aku ini." Lucy mencoba menyemangati dirinya sendiri. Namun percuma. Air matanya malah keluar semakin deras.

Lucy terisak.

Dia mengelap air mata di pipinya dengan punggung tangannya.

"Aku... Aku sangat senang melihat mereka bisa bersatu.. Tapi kenapa aku.. Kenapa aku..." Lucy terduduk sambil berusaha menghentikan air matanya yang terus mengalir tanpa henti.

"Aku... Ternyata benar aku memang menyukainya... Natsu.." kini Lucy tidak lagi berusaha mengelap air matanya. Dibiarkannya saja air matanya mengalir dengan bebas. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menghapusnya.

Hatinya terlalu sakit untuk bisa menghentikan cairan bening itu keluar dari matanya. Kenapa disaat kebahagiaan menghampirinya karena dia telah menyukai seseorang, harus diganti dengan kesedihan karena mengetahui kalau pria yang disukainya telah menjadi milik gadis lain.

XXX

"Lucy lama sekali. Ini sudah hampir 1 jam." ucap Gray sambil mengetukkan kakinya di lantai. Terlihat jelas kalau dia sudah bosan menunggu.

"Sabar. Mungkin dia akan datang sebentar lagi." ucap Erza yang dibelakangnya sudah ada gerobak besar berisi barang-barang yang siap untuk ditarik kapan saja.

"Lho? Kok kalian masih disini?" Lisanna muncul bersama Natsu disampingnya.

"Kami sedang menunggu Lucy. Dia lama sekali." jawab Gray.

"Kalian berdua bukannya sedang memancing?" tanya Erza.

Lisanna mengangguk lalu menunjukan alat pancing yang barusan dia beli di toko tadi.

"Kami membeli alat pancing dulu tadi." jawab Lisanna.

Erza hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Maaf! Aku terlambat!" ucap Lucy ngos-ngosan sambil berlari menghampiri Erza dan Gray. Dia sedikit terkejut melihat Natsu dan Lisanna juga ada disini. Namun dia segera menutupi keterkejutannya itu.

"Kau sangat terlambat Lucy!" ucap Gray dengan kesal.

"Maaf! Tadi aku tidak sengaja terpeleset dan tercebur di sungai. Jadi aku terpaksa pulang lagi untuk mandi dan ganti baju." ucap Lucy sambil menyatukan kedua telapak tangannya.

"Sudah, sudah. Kami memaafkanmu. Baiklah, karena Lucy sudah berada disini lebih baik kita pergi sekarang." ucap Erza.

"Ya sudah, ayo kita pergi sekarang." ucap Gray sambil memasukan tangannya kedalam saku celananya.

"Lho, Happy tidak ikut?" tanya Lucy sambil mengedarkan pandangannya.

"Tidak, dia lebih memilih ikut Wendy dan Charla menjalankan misi." jawab Erza. Lucy hanya be-oh-ria. Lalu menatap Natsu. Dihampirinya Natsu lalu di tuliskannya sebuah kata-kata di telapak tangan Natsu.

'Natsu, kami pergi dulu ya. Baik-baiklah dengan Lisanna.'

Natsu tersenyum lalu berkata,

"Tentu saja! Hati-hati di jalan ya, Luce." ucap Natsu dengan cengirannya.

Lucy tersenyum lalu menghampiri Erza dan Gray yang sudah siap dengan barang-barang mereka. Lucy melambai kearah Natsu dan Lisanna.

"Lisanna, kami pergi dulu ya!" ucap Lucy kepada Lisanna.

Lisanna mengangguk lalu tersenyum sambil melambaikan tangannya.

"Ya! Hati-hati dijalan, ya!" balas Lisanna.

Lucy tersenyum lalu berbalik dan berjalan beriringan dengan Erza dan Gray.

"Ngomong-ngomong Lucy, kenapa matamu sembab sekali?" tanya Erza.

Lucy langsung gelagapan.

"I-ini karena tadi kelilipan!" jawab Lucy cepat.

"Oh..." Erza hanya ber-oh lalu langsung terdiam.

Lucy sedikit lega karena Erza tidak menyadari kalau dia berbohong. Lalu mereka berjalan dengan hening yang terus menyelimuti mereka sampai di stasiun. Biasanya selama perjalanan ke stasiun sangat berisik karena Natsu dan Gray yang terus bertengkar dan Erza yang berusaha melerai mereka.

Natsu. Mengingat nama itu saja langsung bisa membuat hati Lucy kembali nyeri. Lucy menggelengkan kepalanya, lalu segera menaiki gerbong kereta.

Bersambung...

Next Chapter :

"E-erza! Coba lihat ini! Aku sudah menemukan mantra yang digunakan penyihir itu kepada Natsu di buku ini!"

"Jangan menyerah dulu, Lucy. Belum tentu juga Natsu juga menyukai Lisanna."

"Natsu, aku tahu bagaimana cara agar kau bisa melihat dan mendengar lagi!"

"Luce, semuanya tiba-tiba menjadi gelap lagi. Apa caranya tidak berhasil?"

.

.

AN : Yo, Minna-san! Gomen chapter kemarin gak ada teks untuk next chapternya, habis kemarin buru-buru banget, jadi langsung publish aja tanpa ada author notenya

Author harap minna tidak kecewa dengan chapter ini... Dan juga author sebenarnya gak mau bikin Lisanna jadi penganggu hubungan Natsu dan Lucy.. Karena author pikir Lisanna itu orang yang baik dan akan sangat gak mungkin bagi author untuk tiba-tiba membuatnya menjadi tokoh antagonis disini.. Lagipula Natsu itu sangat sayang sama Lisanna..

Sebenarnya author ingin memperpanjang chapter ini, tapi karena malas ngetik, yah, jadi cuma segini deh.. Ya udah, tanpa basa-basi lagi, author minta saran dan juga kritik dari reader sekalian.. Kalo bisa bantu kasih saran buat adegan NaLu selanjutnya.. Ya udah, segitu dulu bacotnya, author mohon diri dulu ya~

Salam manis,

Minako-chan Namikaze