Fairy Tail © Hiro Mashima

Bisakah Kau Melihat dan Mendengar suaraku? © Minako-chan Namikaze

.

Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastic semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/

Pair : Natsu. D & Lucy. H

Genre : Hurt/Confort & Romance

.

.

.

NATSU POV.

Aku membuka mataku dengan perlahan. Ku kerjap-kerjapkan untuk kesekian kalinya, berharap ada setitik cahaya yang bisa kutangkap dengan mata ini. Namun percuma. Tidak ada cahaya atau sesuatu yang bisa kulihat selain kegelapan. Tidak ada yang bisa kudengar selain kesunyian. Betapa menyedihkannya hidupku ini. Aku yang dulu selalu bersemangat dan tertawa bersama teman-temanku kini sudah berubah menjadi aku yang pendiam dan selalu bergantung pada orang lain.

Heh.. Bahkan untuk menjalankan misi pun aku tidak bisa, yang ada aku hanya bisa menjadi beban bagi mereka. Dan lagi, aku tidak mau membuat Lucy selalu kerepotan karena mengurusku. Entah sampai kapan aku harus menjalani semua ini, aku tidak mau menjadi buta dan tuli seperti ini selamanya! Pasti ada suatu cara agar aku bisa kembali normal. Tapi, waktu itu Lucy bilang kalau dia belum menemukan apapun dari semua buku-buku yang dia pinjam di guild. Entah kenapa aku selalu menjadi putus asa memikirkan kalau aku akan terus terjebak dalam keadaan ini. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus hidup didalam kegelapan dan kesunyian ini sendirian.

Aku ingin melihat dunia lagi, aku ingin melihat senyum Lucy, dan aku ingin mendengar suara Lucy lagi. Aku tidak tahu kenapa akhir-akhir ini kepalaku selalu dipenuhi oleh nama Lucy. Yang jelas aku sangat merindukannya. Aku rindu rindu wajahnya yang merona saat dia tersenyum, aku rindu suara tawanya saat aku melakukan atraksi konyol didepannya, aku rindu saat-saat dimana dia menendangku keluar dari apartemennya, dan... Aku sangat merindukan kehangatan dari genggaman tangannya. Saat aku brpikir begitu, tiba-tiba aku merasakan kalau ada seseorang yag menggenggam tanganku.

"Lucy...?" reflek aku mengeluarkan suara. Menyedihkan. Bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Kurasakan tangan yang menggenggamku bergetar. Lalu jari telunjuk tangan itu menuliskan suatu kalimat di telapak tanganku.

'Ini aku Lisanna.'

Ah, benar. Ini sudah pasti adalah Lisanna. Seharusnya aku menyadari itu dari tadi, Lucy kan sedang menjalankan misi.

"Oh, kau rupanya, Lis. Kukira siapa.." aku memberikannya cengiranku. Dia menulis lagi ditanganku,

'Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?'

Aku mengangguk.

"Yah, walaupun aku suka jatuh dari tempat tidur beberapa kali sih..." aku menjawab.

'Seharusnya kau ikut aku ke Fairy Hill saja.'

Aku langsung menggeleng.

"Tidak, Lis. Aku tidak mau kesana. Aku tidak mau teman-teman melihatku dengan keadaan yang seperti ini."

Yah, setelah Lucy pergi menjalankan misi, Lisanna mengajakku untuk tinggal bersamanya sementara waktu. Tapi aku langsung menolak. Entah aku juga tidak tahu alasannya, aku hanya tidak ingin tinggal di Fairy Hill. Jadi aku memutuskan aku akan tetap tinggal dirumahku bersama Happy. Dan setiap pagi Lisanna datang kerumahku, membuatkanku sarapan dan mengajakku keluar jalan-jalan.

"Lis, ini hari apa?" aku bertanya kepadanya.

'Hari kamis. Memangnya kenapa?'

"Berarti besok lusa Lucy akan pulang." aku menjawab pertanyaannya sambil tersenyum. Dia tidak bereaksi. Kemana dia? Apa dia sedang pergi kedapur? Lalu kembali kurasakan ada sesuatu yang berjalan ditanganku. Ah, tidak. Itu jari tangan Lisanna.

'Natsu... Kau menyukai Lucy?'

Aku menaikkan alisku.

"Suka? Tentu saja aku suka... Dia Nakama-ku." jawabku.

'Bukan.. Bukan itu yang kumaksud!'

Kali ini aku mengerutkan keningku. "Jadi apa yang sebenarnya kau maksud?" aku bertanya.

'Apa... Apa kau menyukai Lucy dalam arti lain? Misalnya kau merasa ingin terus bersamanya?'

"Tentu saja. Nakama harus selalu bersama bukan?"

Bisa kurasakan ada hembusan angin menerpa kulitku. Mungkin Lisanna sedang menghela napas. Kenapa dia tiba-tiba melakukan itu?

'Baiklah. Aku sudah membuat sarapan. Apa kau mau makan sekarang?'

Aku mengangguk. Lalu Lisanna menggiringku keluar rumah menuju taman seperti biasa.

END NATSU POV

XXX

Natsu dan Lisanna sampai ditaman Fiore. Lisanna mendudukkan Natsu disalah satu bangku taman lalu menaruh keranjang makanan yang sejak tadi dibawanya di tengah-tengah dirinya dan Natsu. Dibukanya keranjang makanan itu dan bisa tercium di hidung Natsu aroma yang manis.

"Kau membuat pancake?" tanya Natsu. Lisanna mengangguk sambil menuliskan ditangan Natsu.

'Ya. Kau mau memakannya sekarang?' Natsu menunjukkan cengirannya.

"Ya. Kebetulan aku sudah lama tidak makan pancake." Lisanna mengambil piring dari keranjangnya dan meletakkan pancake bagian Natsu disana. Lalu dituangkannya sirup strowberry diatas pancake Natsu dan pancakenya. Diberikannya pancake itu kepada Natsu.

'Bagaimana rasanya? Enak tidak?'

Lisanna menulis ditangan Natsu ketika Natsu sudah selesai memakan pancakenya.

"Ya, enak sekali, Lis. Meskipun tidak seenak pancake buatan Lucy." jawab Natsu polos. Senyum diwajah Lisanna langsung sirna mendengar nama Lucy. Dia menundukkan kepalanya.

"Lagi-lagi Lucy..." gumam Lisanna. Diraihnya telapak tangan Natsu dan menulis disanna.

'Memang apa perbedaan pancake Lucy dengan punyaku?' Natsu tampak berpikir sambil memegang dagunya.

"Hmm... Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perbedaannya. Tapi pancake buatan Lucy sangat enak, tidak terlalu manis tapi terasa lembut dan empuk... Dan juga Lucy selalu menggunakan sirup vanila untuk pancakenya.." jawab Natsu sambil tersenyum lebar. Mendengar itu hati Lisanna semakin tenggelam.

"Heh, dari kata-katanya, sepertinya Natsu sering sekali makan masakan buatan Lucy..." Lisanna kembali menulis di tangan Natsu.

'Natsu, kau sebenarnya suka memakan masakan Lucy karena enak atau karena Lucy lah orang memasak masakan itu?'

Natsu menyerngitkan alisnya. Sulit baginya mengerti pertanyaan Lisanna yang sangat panjang menurutnya. Namun dia berusaha menyusun huruf demi huruf yang dituliskan Lisanna ditangannya.

"Tentu saja karena masakannya. Kalau kau tidak percaya, cicipi saja langsung masakan Lucy. Dijamin kau pasti bakal ketagihan.." jawab Natsu sambil mengacungkan jempolnya. Lagi-lagi Lisanna menghela napas.

"Apa tidak ada orang yang lebih bodoh dari Natsu?!" batin Lisanna kesal. Akhirnya Lisanna memutuskan berhenti bertanya dan mengajak Natsu ke guild.

XXX

Lucy sedang berdiri dihadapan sebuah rak buku besar. Tangan beserta matanya sibuk menelusuri judul-judul buku disana. Diambilnya salah satu buku disana dan membacanya menggunakan kaca mata anginnya.

"Hah~ Ini buku mantra yang ke 78 disini, tapi aku sama sekali belum menemukan apapun..." Lucy menghela napas sambil menaruh kembali buku yang dibacanya tadi ke tempat semula.

"Lucy, disini kau rupanya. Aku mencarimu dari tadi." ucap Erza sambil berjalan mendekati Lucy. Lucy menoleh dan tersenyum kearah Erza.

"Ah, maaf. Aku terlalu asyik mencari buku mantra untuk Natsu sehingga tidak sadar kalau hari sudah malam." ucap Lucy sambil melihat kearah jendela perpustakaan yang memperlihatkan langit malam.

Erza menghampiri Lucy. "Aku hanya ingin memberitahu kalau misi kita sudah selesai. Rupanya pestanya bukan diadakan 3 malam berturut-turut, tapi cuma 2 malam. Jadi besok kita sudah bisa pulang." ucap Erza sambil melihat-lihat buku.

Lucy mengangguk, lalu dia mengambil satu buku dari rak itu. Sebuah buku tua yang bahkan kertasnya sudah berwarna kuning dan banyak bagian yang sobek sana sini. Lucy berjalan kearah jendela. Disandarkannya bahunya di dinding tepi jendela itu.

"Hmm..." Lucy hanya bergumam tidak jelas menanggapi perkataan Erza.

"Kau sudah menemukan mantra yang berhubungan dengan sihir yang membuat Natsu menjadi seperti sekarang?" tanya Erza. Lucy menggeleng sambil membalik halaman di buku yang sedang dibacanya. Erza menghela napas lalu meraih satu buku di rak sebelahnya.

"Naa, Lucy. Apa kau sudah menyatakan perasaanmu kepada Natsu?" tanya Erza tiba-tiba. Lucy langsung memerah mendengarnya.

"A-apa sih? Aku sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun kepada Natsu!" Lucy mengelak sambil menutupi wajahnya dibalik buku tua yang sedang dipegangnya. Erza menghela napas.

"Lucy, perkataan dan perbuatanmu sangat berlainan, kau tahu? Kau tidak bisa menutupinya dariku kalau kau memang mencintai Natsu." ucap Erza sambil menaruh kembali buku yang tadi sempat dibacanya. Lalu dia menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Erza mendengus kesal karena Lucy sama sekali tidak menanggapi kata-katanya dan malah pura-pura membaca.

"Lucy, kalau kau tidak buru-buru menyatakan perasaanmu, bisa-bisa Natsu keburu diambil gadis lain." tegas Erza.

Lucy menurunkan buku yang sedari tadi menutupi wajahnya.

"Untuk apa aku menyatakan perasaanku kalau Natsu sendiri tidak menyukaiku. Lagi pula Natsu memang sudah diambil oleh gadis lain. Dia terlihat lebih bahagia bersama Lisanna. Mereka berdua sudah bersama sejak kecil..." ucap Lucy dengan wajah tertunduk. Erza menaikkan alisnya.

"Lucy, Natsu terlihat bahagia bersama Lisanna, bukan berarti dia menyukainya bukan?" Erza mencoba menyemangati Lucy. Lucy tersenyum pahit lalu menggeleng.

"Mereka saling menyukai, aku tahu itu." ucap Lucy.

"Jangan menyerah dulu Lucy, belum tentu juga Natsu juga menyukai Lisanna..." ucap Erza menatap tajam Lucy.

Lucy mengangkat kepalanya dan menatap Erza dengan tatapan sayu. Erza segera mengganti tatapan tajamnya menjadi tatapan prihatin. Dia bisa melihat dengan jelas sinar keputusasaan di mata cokelat Lucy. Lucy membalikan tubuhnya menghadap keluar jendela. Ditatapinya langit berbintang dengan tatapan hampa.

"Aku tidak menyerah. Aku hanya mengalah... Aku merelakan Natsu untuk Lisanna..." ucap Lucy membuat Erza kembali mengerang. Dihampirinya Lucy dan dipegangnya pundak Lucy dengan erat.

"Lucy! Jangan patah semangat dulu! Aku yakin Natsu juga memiliki perasaan yang sama sepertimu..." ucap Erza dengan sorot mata yang tajam. Lucy memalingkan wajahnya.

"Tapi tatapannya pada Lisanna..."

"Tatapan itu mempunyai banyak arti. Kalau kau menganggap tatapan Natsu pada Lisanna adalah tatapan seseorang yang sedang jatuh cinta, kau salah besar! Aku juga sering melihat Natsu menatap Lisanna. Tapi aku tidak merasakan adanya rasa cinta dari tatapan itu, melainkan rasa sayang layaknya seorang kakak kepada adiknya..." jelas Erza.

Lucy menatap Erza dengan terkejut. Dia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya. Yah, dia hanya langsung mengambil kesimpulan dari presepsinya sendiri tanpa memastikannya dulu.

Tatapan Erza melembut lalu dia berkata, "Sebaliknya, aku malah merasakan adanya rasa cinta yang terpancar ketika Natsu menatapmu..."

Mata Lucy membelalak. "Benarkah itu..?" tanya Lucy.

Erza mengangguk. "Karena itu kubilang jangan menyerah dulu. Belum tentu Natsu juga menyukai Lisanna... Kau harus lebih percaya diri dan nyatakan perasaanmu secepatnya!" ucap Erza sambil menepuk kepala Lucy.

Lucy seperti mendapat sediki harapan dan dia kembali bersemangat. Kata-kata Erza benar-benar sudah memotivasinya.

"Um! Aku pasti akan menyatakannya! Terima kasih, Erza." ucap Lucy sambil tersenyum ceria. Erza juga ikut tersenyum. Lucy kembali membuka buku tua yang sudah dibacanya setengah itu dan membolak-balik halamannya. Kemudian matanya membulat.

"E-erza coba lihat ini! Aku sudah menemukan mantra yang digunakan penyihir itu kepada Natsu!" seru Lucy sambil menunjuk sederetan kalimat yang tertulis dibuku itu. Erza membulatkan matanya dan langsung menghampiri Lucy. Dilihatnya buku tua itu.

"Benar. Tidak salah lagi, ini dia mantranya." ucap Erza dengan penuh keyakinan.

"Tapi, ini..." ucapan Lucy menggantung.

"Benar. Ini tidak bagus.." ucap Erza sambil menganggukkan kepalanya. Ditatapnya buku itu dengan tatapan horror. Lalu dia dan Lucy saling bertatapan. Dan mereka mengangguk bersamaan.

XXX

Lisanna membantu Natsu duduk di kursi bar. Natsu terlihat mendengus kesal.

"Lis, sudah kubilang kalau aku bisa duduk sendiri." dengus Natsu kesal karena Lisanna terlalu memanjakannya dan menganggap dia tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuannya.

'Tapi kau selalu memperbolehkan Lucy membantumu untuk duduk. Kenapa aku tidak boleh?'

Lisanna menulis di telapak tangan Natsu. Natsu hanya terdiam tidak menjawab. Tepatnya tidak tahu harus menjawab apa, dia sendiri tidak tahu kenapa dia memperlakukan Lucy dengan berbeda. Lisanna hanya mendengus karena Natsu tidak menjawab pertanyaannya. Kini dia benar-benar yakin kalau Natsu memiliki perasaan khusus kepada Lucy. Dia memesan minuman kepada Mira, lalu bertanya kepada Natsu ingin minum apa, Natsu hanya diam dan malah mengenduskan hidungnya. Lisanna menaikkan alisnya.

"Bau ini... Lucy kah?" gumam Natsu. Tepat pada saat itu juga pintu guild terbuka dan menampakkan seorang gadis berambut pirang beserta gadis berambut merah tua dan pria berambut hitam kebiru-biruan dibelakangnya.

"Tadaima! Minna!" seru Lucy yang disambut hangat oleh semua anggota guild.

Lucy tersenyum, lalu mengedarkan pandangannya mecari sosok Natsu. Dia tersenyum lebar ketika matanya menangkap sosok berambut pink itu tengah duduk di kursi bar bersama Lisanna disebelahnya. Lucy segera menghampiri Natsu dan memegang tangannya.

"Luce? Ini Lucy kan?" tanya Natsu sambil terus mengendus. Lucy menulis ditangan Natsu.

'Ya, ini aku. Tadaima, Natsu.'

Natsu tersenyum.

"Selamat datang, Luce.." Natsu tersenyum lembut. Lucy juga tersenyum, dalam hatinya dia membenarkan ucapan Erza semalam tentang Natsu.

"Kalian pulang lebih cepat dari perkiraan misi.." ujar Lisanna.

Lucy mengangguk. "Erza mendapat informasi kalau sebenarnya pesta itu diadakan selama 2 malam, bukan 3 malam." ucap Lucy. Lisanna hanya ber-oh panjang.

Lucy langsung teringat sesuatu.

"Natsu! Aku berhasil menemukan cara untuk mematahkan mantra penyihir itu!" seru Lucy. Natsu tidak merespon, dan malah seluruh anggota guild yang ber-APA ria. Lucy sadar kalau Natsu tidak bisa mendengarnya. Lucy menulis ditangan Natsu. Ekspresi Natsu langsung berubah.

"Be-benarkah itu, Luce? Kau sedang tidak bercanda kan?" tanya Natsu. Lucy kembali menuliskan ditangan Natsu.

'Tidak. Sungguh, aku benar-benar sudah menemukannya.'

Wajah Natsu langsung memancarkan kebahagiaan, lalu dia langsung berkata.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita lakukan cara itu sekarang!"

"Tapi sebelumnya kita harus mengetahui bacaan dari tulisan kuno ini." ucap Lucy sambil mengeluarkan selembar kertas yang sengaja dia sobek dari buku tua semalam.

"Ada yang bisa baca tulisan kuno disini?" tanya Lucy sambil memandang seluruh anggota guild. Levy maju sambil menaruh kepalan tangannya didepan dada.

"Lu-chan, serahkan saja itu padaku!" ucapnya.

"Levy-chan!" Lucy langsung sumringah lalu memberikan kertas yang dia pegang kepada levy. Levy menerimanya dan membacanya. Sementara itu Lucy tampak mengedarkan pandangannya, mencari sosok gadis kecil berambut biru disana.

"Dimana Wendy?"

Wendy muncul dari belakang kerumunan.

"Ada apa, Lucy-san?" Wendy mendekati Lucy.

"Wendy, aku perlu bantuanmu untuk membatalkan mantra itu. Karena menurut penjelasan di buku kuno yang kubaca kemarin, dibutuhkan jumlah sihir yang sangat besar seperti sihir naga." jawab Lucy.

Wendy mengangguk mengerti.

"Baiklah. Aku bersedia melakukannya." ucap Wendy.

Lucy kembali tersenyum lalu menatap Levy. "Bagaimana Levy-chan? Kau bisa membacanya?" tanya Lucy.

Levy mengangguk dan membacakan mantra yag ditulis dengan huruf kuno itu. Wendy menghafal mantra itu dan dia membalikkan tubuhnya menghadap Natsu yang sudah siap siaga.

Lucy menulis ditangan Natsu.

'Natsu, ayo kita mulai.' Natsu mengangguk dengan yakin. Wendy mulai merentangkan tangannya dan membacakan mantra yang sudah dihafalnya diluar kepala itu. Tepat saat itu juga sebuah lingkaran sihir muncul dibawah kakinya dan Natsu. Semua orang menatap Wendy dan Natsu dengan tegang. Cahaya kuning keemasan tampak menguap dari tubuh Natsu. Natsu berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Grraahh!"

Sementara itu, Wendy masih berkonsentrasi membacakan mantra itu sambil memejamkan matanya. Lingkaran emas dibawah kaki keduanya pun menghilang dan Natsu langsung terduduk dilantai. Lucy segera menghampirinya dan mengguncang tubuh Natsu.

"Natsu! Natsu! Kau bisa mendengarku?" Lucy menatap Natsu dengan khawatir. Natsu mengangkat kepalanya dan menatap lurus kedepan sambil mengedip-ngedipkan matanya.

"Natsu?" panggil Lucy khawatir kalau cara yang mereka lakukan gagal. Natsu memalingkan wajahnya kearah Lucy.

"Natsu, kau bisa melihatku? Kau bisa mendengar suaraku?" tanya Lucy. Tapi Natsu hanya diam, membuat seluruh anggota guild ikut memandangnya dengan tegang dan khawatir. Mereka mulai menyimpulkan kalau cara yang mereka lakukan telah gagal dengan bukti Natsu sama sekali tidak merespon Lucy.

Natsu mulai membuka mulutnya. "Gray... Kesini sebentar.." ucap Natsu.

Gray menaikan alisnya, heran dengan tingkah Natsu. Tapi dia tetap melangkahkan kakinya ke tempat Natsu berdiri.

"Hah? Ada apa Natsu?" tanya Gray ketika dia sampai didepan Natsu. Natsu terkekeh kecil dan tiba-tiba...

BUAGH! Natsu meninju Gray hingga Gray terpental beberapa meter.

Natsu tersenyum sambil menunjukkan giginya yang putih.

"Hehe... Ternyata bukan mimpi.." ucap Natsu sambil menurunkan kepalan tangannya. Gray bangkit dan berjalan kearah Natsu.

"Teme! Apa yang sedang kau coba lakukan, Hah?!" tanya Gray dengan sewot mendekatkan keningnya dengan kening Natsu. Terlihat ada siku-siku di dahinya, menandakan kalau dia sedang kesal.

"Hah?! Aku sedang memastikan apakah aku sedang bermimpi atau tidak!" jawab Natsu enteng. Mendengar itu, siku-siku di jidat Gray bertambah dan dia langsung mencengram syal Natsu.

"Hey, Flame-head! Dimana-mana kalau orang ingin memastikan dia bermimpi atau tidak, dia harus memukul dirinya sendiri! Bukan orang lain! Sialan!"

Natsu balik mencengkram kerah baju Gray yang tumben sekali dipakai oleh penyihir es itu.

"Aku ingin memastikannya denganmu! Lagi pula waktu pertama kali melihat wajahmu itu, tanganku langsung gatal-gatal ingin menonjok wajah jelekmu itu!" balas Natsu.

"Apa katamu?! Mau berantem?!"

"Boleh saja! Aku sudah membara dari tadi." dan perkelahian pun sudah merajalela antara penyihir es dengan Dragon Slayer Api.

"KALIAN BERDUA BERHENTI!" teriakan sang Titania langsung menghentikan perkelahian tidak penting kedua orang itu.

"Ha'i, sumimasen!"

"A-aye!"

Erza menghela napas.

"Natsu, jadi kau sudah bisa melihat lagi?" tanya Lucy sambil mendekati Natsu. Natsu langsung menunjukkan cengirannya.

"Ya! Ini semua berkat bantuanmu! Terima kasih, Luce!" ucap Natsu. Lucy tersenyum dengan pipi yang merona. Dia sangat senang kalau pria yang sangat dicintainya itu sudah sembuh dan berterima kasih kepadanya.

"Yah! Kalau begitu aku ingin langsung mengambil misi. Sudah lama aku tidak mengayunkan tinjuku.." ucap Natsu sambil berjalan kearah papan misi. Namun langkahnya langsung terhenti. Natsu terdiam mematung sambil mengucek-ngucek matanya. Lucy yang menyadari tingkah Natsu yang aneh pun segera menghampirinya.

"Natsu, ada apa?" tanya Lucy.

"Luce, semuanya tiba-tiba menjadi gelap Lagi. Apa caranya tidak berhasil?"

Lucy langsung membulatkan matanya.

"Na-natsu kembali tidak bisa melihat lagi?! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mantranya tidak berhasil?"