Fairy Tail © Hiro Mashima

Bisakah Kau Melihat dan Mendengar suaraku? © Minako-chan Namikaze

.

Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastic semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/

Pair : Natsu. D & Lucy. H

Genre : Hurt/Confort & Romance

.

.

.

"Luce, semuanya tiba-tiba menjadi gelap lagi. Apa caranya tidak berhasil?" tanya Natsu sambil mengedarkan pandangannya keseluruh arah. Berharap ada sesuatu yang bisa dilihat oleh matanya. Namun nihil. Dia tidak menemukan apapun selain kegelapan yang mengelilingi sekitarnya.

Lucy menatap Natsu dengan sangat terkejut sekaligus bingung.

"Tidak mungkin. Aku sangat yakin kalau aku sudah melakukan semua cara yang ada di buku dengan sangat benar. Kalau begitu apa penyebabnya? Apa penyebab mantranya bisa gagal?" Lucy berkata dengan pose berpikir.

"Wendy, apa kau tidak salah dalam membacakan mantranya?" tanya Lucy sambil mengalihkan pandangannya kearah Wendy.

"Ti-tidak. Aku sangat yakin kalau aku membacanya dengan benar sesuai yang sudah dituliskan Levy-san di kertas ini." jawab Wendy sambil menunjukkan kertas putih berisi mantra yang ditulis oleh Levy.

"Jadi, apa sebenarnya penyebabnya? Kenapa mantranya tidak berhasil?" Lucy bergumam.

Tiba-tiba Gray berbicara dengan lantang,

"Oi, Flame-Head! Kau sedang tidak mengerjai kami, 'kan? Kau tahu, ini sama sekali tidak lucu!" seru Gray.

Natsu merespon kata-kata Gray.

"Hey! Aku tidak bercanda! Aku serius! Aku benar-benar tidak bisa melihat apapun selain kegelapan. Apa kau tidak bisa membedakan wajah orang yang berbohong dengan yang tidak, hah?!" ucap Natsu dengan berbagai siku-siku di jidatnya.

Lucy dan seluruh anggota guild membulatkan matanya. Tunggu! A-apa Natsu baru saja membalas perkataan Gray? Itu berarti...

"Natsu, kau bisa mendengar suaraku?" tanya Lucy.

"Hah? Tentu saja aku bis—tunggu! Kenapa aku bisa mendengar suara kalian semua? Kalau aku bisa mendengar, kenapa aku tidak bisa melihat? Ada apa ini sebenarnya!" Natsu menjambak kepalanya sendiri. Lucy langsung menenangkan Natsu.

"Ini aneh. Padahal aku sudah melakukan semua caranya dengan benar. Tapi kenapa..? Tunggu! Rasanya aku melewatkan sesuatu!" Lucy segera merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar kertas yang dilipat 4 dari sana. Dibukanya lipatan kertas itu dan matanya langsung terbelalak.

"I-ini..." ucap Lucy tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

Seluruh anggota guild memandang Lucy dengan alis terangkat. Erza segera menghampiri Lucy.

"Ada apa, Lucy?" tanya Erza.

Lucy segera menoleh kearah Erza.

"Erza, ternyata tindakan kita sudah salah. Seharusnya kita mencari tahu dulu tentang kelanjutan dari kalimat ini." jawab Lucy sambil menunjuk sederetan kalimat di kertas tua itu. Mira yang penasaran segera melangkah kearah Lucy.

"Lucy, boleh aku lihat kertas itu?" tanya Mira. Lucy mengangguk lalu memberikan kertas tua yang sedaritadi dipegangnya.

Mira mulai membacakan sederetan kalimat di kertas itu.

"...Dan untuk mematahkan mantra itu, diperlukan sihir yang sangat besar seperti sihir Naga dan sihir dari penyihir..." Mira membacakan kalimat itu dengan nada yang menggantung. Dia menaikkan alisnya karena menyadari kalau beberapa kalimat di kertas itu hilang atau lebih bisa disebut menghilang karena dimakan usia. Mira menyadari hal itu karena melihat ada bekas tinta yang memudar di kertas itu.

"Kalau begini, kita tidak akan bisa mengetahui kelanjutan dari kalimat itu." gumam Erza.

"Benar. Penyihir yang ditulis di kertas itu pastilah penyihir yang sangat kuat dan mungkin sihirnya bisa setara dengan sihir Naga.." ucap Gray.

"Jadi, tanpa penyihir itu, mantra yang mengikat Natsu tidak bisa dihilangkan dengan sepenuhnya. Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?" Lucy mengedarkan pandangannya kearah seluruh anggota guild, berharap ada sebuah saran yang bisa diberikan kepadanya. Namun mereka hanya menunduk, tidak tahu harus menjawab apa.

Lucy menunduk sedih sambil mengepalkan tangannya. Jadi usaha yang dilakukannya hanya sia-sia saja, ya.

"Maaf, Natsu. Aku tidak bisa membantumu menghilangkan mantra itu sepenuhnya. Aku benar-benar menyesal." ucap Lucy kepada Natsu. Natsu hanya menunduk, namun dia langsung mengangkat kepalanya dan menunjukkan cengirannya.

"Tidak apa-apa, Luce! Justru aku sangat berterima kasih kepadamu. Berkat bantuanmu aku jadi bisa mendengar lagi. Yah, ini bahkan 100 kali lebih baik dari pada tidak bisa mendengar apapun." ucap Natsu.

Lucy langsung tersenyum mendengar ucapan Natsu. Diraihnya tangan Natsu dan digenggamnya dengan erat.

"Tunggulah, Natsu. Aku pasti akan membuatmu bisa melihat lagi apapun caranya! Aku berjanji!" ucap Lucy dengan yakin dan tegas. Natsu sedikit terkejut mendengarnya, lalu dia membalas perkataan Lucy dengan sangat yakin juga.

"Ya! Dan aku juga akan berusaha membantumu menemukan caranya, Luce!" Mereka berdua saling tersenyum sambil berpegangan tangan.

"Ehem!"

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi momen mereka. Lucy dan seluruh anggota guild menoleh kearah gadis berambut putih pendek yang tengah duduk di kursi Bar. Lisanna melotot kearah Lucy dan Natsu, bukan, tepatnya dia melotot kearah tangan Lucy yang kini tengah menggenggam tangan Natsu. Lucy yang menyadari tatapan Lisanna pun dengan reflek melepaskan genggaman tangannya.

"Ah, baiklah. Kalau begitu aku mau pulang dulu. Aku belum sempat mandi tadi pagi, badanku lengket semua." ucap Lucy, lalu dia berjalan keluar pintu guild. Lisanna hanya menatap kepergiannya dengan wajah datar.

XXX

Lucy sedang berjalan menuju apartemennya sambil membawa kantong yang berisi bahan makanan. Hari sudah malam. Sebenarnya setelah dia pergi meninggalkan guild tadi pagi, dia langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Yah, gara-gara bergadang mencari buku mantra untuk Natsu, dia jadi lupa untuk tidur dan baru tertidur pada pukul 3 pagi. Dan ketika dia menginjakkan kaki di apartemennya, dia langsung berjalan kearah tempat tidur dan melupakan niatnya untuk mandi. Setelah Lucy terbangun dari tidurnya dia langsung menyadari kalau hari sudah malam. Dan dia segera mandi kemudian berjalan ke dapur untuk memasak makan malam. Dan dia baru ingat kalau bahan makanan di kulkasnya sudah habis dan dia terpaksa harus membelinya lagi malam ini juga karena dia sangat kelaparan gara-gara dari pagi tadi belum makan apa-apa. Dan disinilah dia, berjalan dibawah gelapnya malam sambil ditemani spirit kecilnya yang bernama Plue. Lucy langsung menghentikan langkahnya ketika melihat seorang gadis berambut putih pendek tengah berdiri didepan pintu apartemennya dengan raut wajah ragu. Lucy segera menghampirinya dan menegurnya.

"Lisanna? Apa yang kau lakukan didepan pintu apartemenku?" tanya Lucy.

Lisanna sedikit terkejut dan langsung menoleh kearah Lucy.

"Ah, Lucy. Aku hanya tiba-tiba merasa ingin sekali mengobrol denganmu." jawab Lisanna dengan gugup.

Lucy menaikkan alisnya, merasa aneh dengan tingkah plus jawaban Lisanna. Namun dia tidak ambil pusing.

"Kalau begitu, ayo masuk. Tidak enak mengobrol diluar." ajak Lucy sambil membuka pintu apartemennya mempersilahkan Lisanna masuk. Lisanna menuruti kata-kata Lucy dan masuk kedalam.

"Jadi, kau ingin mengobrol tentang apa?" tanya Lucy ketika Lisanna sudah mendudukkan diri di sofa. Lucy menaruh secangkir teh hangat untuk Lisanna di meja.

"Eh? Etto... Bagaimana dengan misi kemarin? Apa berjalan dengan lancar?" tanya Lisanna.

"Ya, lancar. Bahkan sangat lancar. Karena Natsu tidak ikut, tidak ada keributan lagi yang terjadi ataupun bangunan yang hancur karena perkelahian tidak bergunanya dengan Gray.." jawab Lucy.

Lisanna mengangguk dengan raut wajah gelisah.

"Um. Ya, kalau tidak ada Natsu, pasti semuanya akan berjalan dengan lancar ya... Hahaha.." Lisanna tiba-tiba tertawa dengan hambar sehingga membuat jidat Lucy menjadi mengkerut dengan reflek.

"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku, Lisanna? Aku tahu kau tidak mungkin mengunjungiku malam-malam begini hanya untuk mengobrol soal misi. Pasti ada sesuatu yang sangat penting dan hanya bisa kau bicarakan denganku, 'kan?" tanya Lucy tepat sasaran.

Lisanna langsung terkejut dengan pertanyaan Lucy yang sangat mengenainya itu. Dia langsung menundukkan kepalanya.

"S-sebenarnya..." ucapnya. Lucy memandanginya dengan raut wajah penasaran.

"Sebenarnya aku menyukai Natsu..." ucap Lisanna. Lucy membulatkan matanya. Bukan, bukan karena dia terkejut kalau Lisanna menyukai Natsu. Dia sudah lama tahu tentang fakta itu. Tapi fakta kenapa Lisanna malah menyatakannya kepada Lucy?

"Lalu..? Kenapa kau malah menyatakannya padaku?" tanya Lucy. Lisanna menatap Lucy dengan wajah memerah. Terlihat kalau dia sangat malu dengan pertanyaan Lucy.

"Bukan! Aku kesini ingin minta bantuan!" ucapnya.

"Bantuan? Bantuan untuk apa? Kalau aku bisa, pasti akan kubantu." ucap Lucy sambil tersenyum.

Lisanna diam sejenak. Wajahnya sudah tidak memerah lagi. "Lucy... Apa kau juga menyukai Natsu?" tanya Lisanna.

Lucy kembali membulatkan matanya. "A-apa-apan pertanyaan itu? Mana mungkin aku menyukainya!" jawab Lucy.

Lisanna langsung menghela nafas lega.

"Kalau begitu, kau pasti mau membantuku 'kan untuk mendapatkan Natsu? Tenang saja, kau hanya cukup menjaga jarak dengannya." Lisanna berkata sambil tersenyum sumringah.

Lucy menatapnya dengan terkejut. A-apa? Menjauhi Natsu? Lucy tidak mungkin bisa melakukannya.

"Ne, Lucy? Bagaimana? Kau mau, 'kan?" tanya Lisanna.

Lucy hanya menatapnya dengan raut wajah bingung. Apa yang harus dia jawab? Dia tidak mungkin bisa menjauhi Natsu, tapi disisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan Lisanna. Lalu bagaimana ini? Tiba-tiba dia mengingat perkataan Erza kemarin malam.

"Jangan menyerah dulu, Lucy! Kau harus percaya diri dan nyatakan perasaanmu!"

Lucy tersadar kalau dia hampir saja memilih jalan yang salah. Bukankah dia sudah berjanji kepada Erza untuk segera menyatakan perasaannya kepada Natsu? Dan penyihir Celestial Spirit tidak boleh mengingkari janjinya. Lucy mengepalkan tangannya.

"Maaf. Aku tidak bisa melakukannya..." ucap Lucy. Senyum diwajah Lisanna langsung lenyap dengan seketika.

"Eh? Kenapa? Bukankah kau bilang kau mau membantuku?" tanya Lisanna.

Lucy memalingkan wajahnya, dan dengan pipi memerah dia menjawab,

"Maaf. Sebenarnya aku juga menyukai Natsu.. Dan aku tidak mungkin menjauhinya..."

Lisanna langsung membulatkan matanya.

"Ta-tapi... Kau... Aku..." Lisanna tidak tahu harus bicara apa.

Lucy segera mengalihkan pandangannya dan menatap Lisanna dengan mata yang penuh dengan keyakinan.

"Karena itu, Lisanna. Ayo kita bersaing! Siapa diantara kita yang akan mendapatkan Natsu!" ucap Lucy.

Lisanna memandang Lucy dengan tatapan tidak percaya. Lalu tidak lama kemudian dia tersenyum.

"Hm, baiklah. Aku rasa itu adalah cara yang tepat dan juga adil. Lihat saja, Lucy Heartfilia! Aku pasti akan bisa mengalahkanmu!" Lisanna berkata sambil berdiri dan menunjuk Lucy.

Lucy juga ikut berdiri dan menjawab dengan percaya diri,

"Heh, kita lihat saja hasil akhirnya nanti, Lisanna Strauss!"

Mereka saling menatap satu sama lain. Terlihat ada kilatan listrik dari mata mereka masing-masing. Dan setelah itu Lisanna pamit pulang.

XXX

Natsu tampak berjalan bersama Happy menuju Guild.

"Natsu, lewat kiri~" Happy berkata sambil melayang-layang di udara. Saat ini dia tengah memberikan intruksi kepada Natsu mengenai arah jalan. Yah, karena Natsu sudah mendapatkan pendengarannya lagi, dia tidak perlu dituntun Lucy ataupun Lisanna lagi. Natsu berbelok kearah kiri. Dan berjalan lurus kedepan.

"Natsu, pintu guildnya sudah ada didepanmu. Bukalah!" ucap Happy.

Natsu mengangguk lalu mengangkat tangannya dan meraba-raba pintu kayu didepannya. Dibukanya pintu itu dan tiba-tiba dia langsung ditarik seseorang menuju kursi Bar.

"T-tunggu! Apa-" ucapan Natsu langsung terpotong karena sebuah paha ayam goreng tiba-tiba menyumpal mulutnya.

"Natsu! Aku membawa banyak makanan untukmu! Aku membuatnya khusus untukmu, lho! Jadi makan ya!" ucap Lisanna sambil terus menyumpal mulut Natsu dengan makanan buatannya.

"%()^&/ #..." Natsu hendak berbicara sesuatu, namun karena banyaknya makanan yang memenuhi mulutnya, yang keluar malah kata-kata aneh dan tidak bisa dimengerti. Natsu segera menelan semua makanannya tanpa mengunyahnya lagi sehingga Lisanna bisa melihat ada setitik air mata di ujung mata Natsu karena Natsu menelan makanannya dengan paksa.

"Hah... Apa yang sudah kau lakukan, Lis? Kenapa kau tiba-tiba menarikku dan langsung menyumpal mulutku dengan makanan-makanan ini?" tanya Natsu begitu dia sudah selesai menelan semua makanannya. Lisanna hendak menjawab ketika sebuah suara dari arah pintu masuk guild menginterupsinya terlebih dahulu.

"Ohayou, minna!" seru Lucy.

Mira langsung menyambut Lucy. Lucy berniat berjalan kearah Bar namun dia langsung dikejutkan dengan pemandangan dimana Lisanna tengah duduk di kursi Bar bersama Natsu dan berusaha menyuapi Natsu dengan beberapa makanan enak yang di taruh di meja Bar.

"Sial! Ternyata dia sudah maju duluan." batin Lucy. Dihampirinya Lisanna dan berdiri di depannya.

"Rupanya kau sudah bergerak maju duluan, ya Lis." ucap Lucy.

Lisanna tersenyum mengejek kearah Lucy dan membalas kata-katanya. "Tentu saja, apa kau pernah mendengar sebuah pribahasa tentang 'Siapa cepat, dia yang dapat', huh?"

Lucy tersenyum menantang kearah Lisanna.

"Heh, meskipun kau sudah maju duluan, bukan berarti aku langsung kalah begitu saja, bukan?" Lucy mengeluarkan kunci emasnya.

"Membuka gerbang pelayan! Virgo!"

Pop!

Seorang pelayang berambut ungu pendek tiba-tiba muncul didepan Lucy.

"Apa sudah saatnya hukuman, putri?" tanya Virgo.

Lucy segera menggeleng. "Virgo, apa kau bisa menghadirkan makanan mewah dunia spirit kesini?" tanya Lucy. Virgo mengangguk. Dan Lucy langsung menyuruhnya untuk membawa makanan itu ke guild. Virgo menurut lalu menghilang, dan tidak lama kemudian dia muncul kembali dengan sebuah meja besar berisi makanan mewah diatasnya.

"Apa ada hal lain yang harus kulakukan lagi, putri?" tanya Virgo.

Lucy tersenyum puas lalu menggeleng.

"Tidak. Kau boleh pergi sekarang. Terima kasih, Virgo." ucap Lucy.

Virgo mengangguk lalu pamit kepada Lucy. Lucy mengalihkan perhatiannya kearah Natsu yang duduk disebelah Lisanna. Ditariknya Natsu dan didudukkannya di kursi yang sudah disiapkan oleh Virgo.

"Nah, Natsu! Lebih baik kau makan makanan ini saja! Rasanya 10 kali lebih enak dari punya Lisanna!" Lucy menyuapi Natsu spageti. Walaupun Natsu tidak mengerti apa yang tengah terjadi sekarang, tapi dia tidak ambil pusing. Dimakannya makanan yang dibawakan Virgo dengan lahap.

Lisanna menatap Lucy dengan raut wajah cemberut. Lucy membalasnya dengan senyum penuh kemenangan. Lisanna yang tidak mau kalah pun langsung berdiri dan menarik tangan Natsu.

"Natsu, hari ini cuacanya cerah sekali. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" tanya Lisanna.

Lucy juga ikut menarik tangan Natsu.

"Tidak. Natsu akan tetap berada disini bersamaku. Dia masih belum selesai menghabiskan makanannya. Kalau kau mau jalan-jalan, pergi saja sendiri." ucap Lucy. Dan mereka pun mulai berdebat.

"Tunggu! Aku sudah berjanji kepada Happy kalau hari ini kami akan memancing di danau." ucap Natsu.

Lucy dan Lisanna langsung menoleh kearah Exceed biru yang tengah mengunyah ikannya dengan hikmat. Merasa ada memandanginya, reflek Happy pun langsung menoleh dan mendapati dua orang gadis dengan warna rambut berbeda namun memiliki ekspresi yang sama, yaitu memelototinya.

"Happy, hari ini aku ingin mengajak Natsu jalan-jalan, jadi besok saja ya kau mancing dengannya." ucap Lisanna dengan senyuman manis, namun matanya menatap Happy dengan tajam membuat bulu biru Happy merinding dengan seketika.

"A-aye! Kau boleh membawanya selama yang kau mau!" jawab Happy.

Lisanna langsung sumringah dan segera menyeret Natsu keluar Guild. Natsu hanya pasrah ditarik begitu saja. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan lagi yang menarik tangan Natsu yang satunya. Lisanna menoleh dan mendapati Lucy tengah memeluk tangan kiri Natsu.

"Lepaskan, Lucy. Natsu akan ikut aku jalan-jalan ke taman." ucap Lisanna kesal.

"Tidak. Natsu tidak akan jalan-jalan denganmu. Karena dia sudah berjanji akan menemaniku pergi ke danau hari ini." sahut Lucy.

Natsu dan Lisanna menaikkan alisnya.

"Tunggu, Luce. Aku tidak ingat kalau aku pernah berjanji untuk menemanimu ke danau hari ini." ucap Natsu.

Lucy meringis mendengar kata-kata Natsu.

"Tentu saja. Karena aku baru saja kepikiran soal janji itu sekarang." jawab Lucy.

"Dengan kata lain kau tidak mempunyai janji atau keperluan dengan Natsu, kan? Itu berarti Natsu bebas jalan-jalan denganku." ucap Lisanna sambil menarik paksa tangan Natsu.

"Tidak! Natsu tetap akan ikut aku ke danau!" Lucy juga ikut menarik tangan Natsu.

"Hey, hey! Jangan tarik-tarik begitu! Aw! Lisanna kau bisa membuat tanganku putus dengan seketika dengan tarikanmu!" Natsu memprotes kemudian menarik dengan paksa kedua tangannya dari Lucy dan Lisanna.

"Dasar. Kalian ini kenapa sih? Sikap kalian aneh sekali hari ini." ucap Natsu dengan kesal sambil mengusap-ngusap lengannya.

"Maaf..." ucap kedua gadis itu dengan wajah tertunduk. Natsu menghela nafas.

"Baiklah, kalau kalian memang ingin jalan-jalan, kenapa kita tidak jalan-jalan bersama saja? Bukankah lebih menyenangkan kalau bertiga?" tanya Natsu.

Lucy dan Lisanna saling berpandangan. Lalu mereka mengangguk kearah Natsu, tapi sayang Natsu tidak bisa melihatnya.

"Baiklah." ucap Lucy dan Lisanna bersamaan.

"Kalau begitu, ayo kita ke taman." ajak Lisanna.

"Tidak. Kita akan pergi ke danau." ucap Lucy.

"Taman!"

"Danau!"

"Taman!"

"Da-"

"Cukup! Biar lebih adil, kalian Jankenpon saja." saran Natsu yang sudah mulai lelah dengan perdebatan Lucy dan Lisanna. Entah kenapa dia merasa sedang diperebutkan. Tapi untuk apa mereka memperebutkannya?

Lisanna dan Lucy saling berpandangan.

"Baiklah." ucap mereka berdua. Mereka mengangkat tangan mereka dan menjatuhkannya ke bawah sambil berteriak,

"JANKENPON!"

XXX

"Wah, Natsu! Airnya segar sekali! Coba kau celupkan kakimu kesini!" ucap Lucy sambil mencelupkan kakinya di air. Mereka sekarang sedang berada di danau.

"Oh! Benar! Airnya sangat menyegarkan." Lisanna ikut mencelupkan kakinya di danau. Natsu ikut mencelupkan kakinya dan berkata hal yang sama dengan Lucy dan Lisanna.

"Tuh kan! Untung kita ke danau. Kalau kita ke taman, apa yang akan kita lakukan disana? Bermain ayunan? Duduk-duduk di taman?" Lucy tersenyum mengejek kearah Lisanna. Lisanna hanya memalingkan muka.

"Yosh! Ayo kita mancing!" Natsu berteriak sambil mengeluarkan alat pancingnya yang entah dia simpan dimana.

Lucy dan Lisanna langsung berseru,

"Tidak!" ucap keduanya.

"Kenapa?!" Natsu protes.

"Karena kami tidak mau menyia-nyiakan waktu disini hanya untuk memancing." ucap Lisanna.

"Benar. Ini hari yang cerah, lebih baik kita bermain air atau sesuatu yang lebih menyenangkan dari memancing." Lucy ikut menimpali.

"Sesuatu yang lebih menyenangkan?" Natsu mengangkat alisnya.

"Benar. Misalnya seperti ini!" Lisanna mencipratkan air kearah Lucy.

"Hey!" Lucy berteriak ketika mendapati bajunya basah kuyup. Dia tidak mau kalah dan balik menciprati Lisanna. Dan dimulailah perang air diantara kedua gadis dengan warna rambut mencolok itu.

"Aku tidak akan kalah darimu, Love-rival!" seru Lisanna sambil menyiram air kearah Lucy.

"Bicaramu terdengar seperti Juvia saja! Tapi aku juga tidak akan kalah darimu, Lisanna!" Lucy membalas balik.

Sementara kedua gadis itu saling berdebat sambil mencipratkan air, disisi lain Natsu tengah duduk disebuah batu besar sambil memasang wajah bosan. Ditangannya terdapat alat pancing yang tengah dia pasangi umpan. Setelah umpannya siap, Natsu segera melempar kail pancingannya di danau. Dari pada bosan mendengar kedua gadis itu bertengkar, lebih baik dia memancing saja bukan?

"Kalau begini saja tidak asyik. Take Over!" Lisanna berubah menjadi seekor lumba-lumba besar. Dia menggunakan ekornya untuk membuat ombak yang besar dan menerjang Lucy sampai ke darat.

Lucy bangkit dan kembali memasuki air.

"Lihat saja, Lisanna. Aku akan membalasmu." Lucy mengeluarkan salah satu kunci emasnya.

"Membuka gerbang air! Aquarius!"

Dan munculah Aquarius dengan wajah kesalnya seperti biasa.

"Oi, oi! Mereka mulai menggunakan sihir hanya untuk bermain perang air?!" Natsu tidak habis pikir apa yang ada didalam kepala kedua gadis itu. Tapi dia tidak ambil pusing dan melanjutkan acara memancingnya.

"Aquarius! Buat ombak besar dan hanyutkan ikan paus itu!" Lucy menunjuk Lisanna.

"Hey! Ini lumba-lumba!" Lisanna protes karena Lucy mengira bentuk Take Overnya sebagai ikan paus.

Seperti biasa Aquarius hanya berdecak kesal membuat siku-siku di jidat Lucy bermunculan.

"Tidak bisakah kau melakukan perintahku tanpa berdecih terlebih dahulu?!"

"Baiklah, baiklah. Karena kau sedang berusaha mendapatkan pacar, aku akan membantumu untuk kali ini saja." ucap Aquarius. Lalu dia membuat ombak yang besar dan langsung menerjang Lisanna. Namun karena bentuk Take Over Lisanna sekarang adalah seekor ikan, jadi dia tidak tersapu jauh oleh ombak Aquarius. Dan sebaliknya...

"KENAPA MALAH AKU YANG DIHANYUTKAAAAAANNN!" Natsu berteriak sambil tubuhnya dibawah jauh oleh ombak Aquarius.

"NATSUUU!"

XXX

Akhirnya setelah setengah mati mengejar Natsu yang terhanyut, merekapun segera mengeringkan tubuh mereka dan pulang kerumah masing-masing. Natsu memilih pulang sendiri karena dia bilang dia sudah cukup hafal jalan menuju rumahnya. Dan sekarang, terlihat dua orang gadis berambut blonde dan silver berjalan beriringan di bawah sinar matahari senja.

"Hari yang menyenangkan." ucap Lucy membuka pembicaraan. Lisanna menoleh kearahnya dan tersenyum.

"Ya. Sangat menyenangkan. Tidak kusangka hari ini kita benar-benar menjadi Rival dan bersaing hanya untuk mendapatkan perhatian dari Natsu." ucap Lisanna.

Lucy hanya mengangguk. Dia melakukan hal yang benar. Dia lebih memilih bersaing seperti ini dari pada harus menyerah tanpa ada usaha apapun.

"Kalau begitu, sampai sini dulu, ya Lis." ucap Lucy sambil menghentikan langkahnya. Lisanna mengangguk.

"Ya. Lihat saja besok. Pasti aku akan bisa memenangkan hati Natsu!" ucap Lisanna dengan yakin. Lucy tersenyum lebar dan membalas,

"Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Pasti akulah yang akan memenangkan persaingan ini." Lucy mengepalkan telapak tangan kanannya. Lalu mereka berpisah di jalan yang berbeda dan menuju ke rumah masing-masing.

XXX

Lucy mengerang dalam tidurnya. Dia membuka matanya ketika cahaya keemasan dari sinar mata hari tiba-tiba menusuk matanya. Dikucek-kuceknya dengan pelan, lalu dia mengalihkan pandangannya kearah jam weker yang terletak disamping tempat tidurnya. Jam 9 lewat 15 menit. Lucy membulatkan matanya.

Gawat! Gara-gara kelelahan bermain air kemarin, Lucy jadi bangun kesiangan. Padahal gadis berambut pirang itu berniat untuk mengajak Natsu menjalankan misi hari ini. Dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Dia harus cepat sebelum Lisanna mendahuluinya.

Setelah Lucy selesai mandi dan berpakaian, dia langsung melesat keluar dari apartemen, tentunya tidak lupa untuk mengunci pintu apartemennya terlebih dahulu. Bahaya kalau ada maling yang masuk ke apartemennya selagi dia pergi. Ketika Lucy sampai di Guild, dia langsung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru Guild, namun dia sama sekali tidak menemukan pria berambut pink mencolok itu. Lucy menghampiri Mira dan bertanya kepadanya.

"Mira, apa kau melihat Natsu?" tanya Lucy. Mira menghentikan kegiatan mengelap cangkirnya dan menoleh kearah Lucy.

"Ah, kalau tidak salah Natsu tadi pergi keluar bersama Lisanna. Aku tidak tahu mereka mau kemana, mereka sama sekali tidak bilang." jawab Mira.

Lucy mengangguk lalu mengucapkan terima kasih.

"Sial, aku keduluan lagi. Jadi dimana aku harus mencari mereka?" Lucy bergumam kepada dirinya sendiri ketika dia sudah keluar dari guild.

"Mungkin mereka pergi ke taman. Lisanna kan kemarin kepingin sekali pergi ke taman." Lucy berjalan kearah taman Magnolia. Tapi dia tidak menemukan dua sosok yang tengah dicarinya itu. Lucy kembali memutar otak dan dia langsung bisa mendapatkan jawabannya. Dia segera berlari kecil menuju danau tempat mereka bertiga bermain kemarin.

.

Lucy sampai di danau, tapi dia tetap tidak menemukan seorang pun disana.

"Kemana mereka sebenarnya?" gumam Lucy sambil memegang dagunya. Dia berjalan menelusuri tepi danau sambil terus berpikir.

"Natsu, kau tahu. Aku sangat menyukaimu."

Lucy segera menghentikan kegiatan berpikirnya, dan langsung menoleh mencari sumber suara yang telah menarik perhatiannya sepenuhnya. Lucy segera bersembunyi dibalik pohon dan mengedarkan pandangannya kesegalah arah. Dan matanya langsung membulat ketika mendapati pemandangan yang sangat mengejutkan didepannya.

"T-tidak..." Lucy menutup mulutnya dengan tangan bergetar.

Matanya melotot tak percaya menyaksikan pemandangan dua orang yang sangat dikenalinya tengah berdiri saling berhadapan di tepi danau. Bukan, bukan itu yang membuat Lucy tak mampu berkata lagi, melainkan sebuah pemandangan dimana pria berambut pink yang sangat dicintainya itu tengah menempelkan bibirnya di kening Lisanna. Dia melihat Lisanna menatap Natsu dengan wajah memerah. Lalu Lisanna segera memeluk Natsu dengan erat.

Sakit. Itulah yang dirasakan Lucy saat ini. Hatinya hancur dan dadanya terasa remuk redam ketika menyaksikan adegan dihadapannya ini. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi dua orang yang saling berpelukan itu. Air mata hampir merembes keluar dari matanya. Dia segera pergi dari situ sebelum tangisannya berubah menjadi isakkan.

"Ternyata benar kalau Natsu menyukai Lisanna. Lalu untuk apa aku melakukan semua ini? Kalau akan sesakit ini, lebih baik aku langsung menyerah dan tidak menuruti kata-kata Erza. Bodoh! Lucy bodoh!"

Dan Lucy terus mengutuki kebodohannya sambil terus berlari meninggalkan danau.

Bersambung...

AN : *liat alur chapter diatas* *jedotin kepala ke tembok* Wuah! Chapter kali ini GaJe banget! OOC dan gak jelas! Dan lebih parah lagi, alurnya kecepetan! *nangis gulung-gulung* Hiks, maafkan author kalo chapter kali ini gak memuaskan sama sekali, habis mau gimana lagi, author lagi bad mood bikin ni chapter, jadi yah kayak gini deh hasilnya. Ancur lebur. Kalo menurut para reader gimana tentang alur di chapter ini? Kecepatankah atau sedang aja? Oh iya, kalau reader punya beberapa pertanyaan tentang fanfic ini, silahkan ditanya, karena menurut author cerita ini kurang jelas sehingga author berpikir, apakah reader ngerti sama jalan cerita yang author buat. Sekian itu saja yang mau author sampaikan, jangan lupa review ya~

Salam manis,

Minako-chan Namikaze