Fairy Tail © Hiro Mashima

Bisakah Kau Melihat dan Mendengar suaraku? © Minako-chan Namikaze

.

Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastic semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/

Pair : Natsu. D & Lucy. H

Genre : Hurt/Confort & Romance

.

.

.

Pagi itu di Guild, seperti biasa anggota Fairy Tail sudah berkumpul dan melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang sedang mengobrol, ada juga yang sedang berkelahi, dan ada yang hanya berdiri didepan papan misi tanpa berniat untuk mengambil misi apapun. Disamping itu, tampak seorang pria berambut pink sedang duduk di kursi bar sambil mengaduk-aduk minumannya. Jarinya ia ketukkan di meja, tanda dia sedang tidak tenang.

"Lucy masih belum datang juga ya..." gumam pria berambut pink itu, Natsu Dragneel. Saat ini dia sedang menunggu seorang penyihir Stellar Magic berambut pirang untuk diajak menjalankan misi bersama hari ini. Tapi sudah se-jam lebih dia menunggu, tapi gadis berambut pirang itu belum datang-datang juga.

Natsu kembali mengetukkan kelima jari tangannya dengan ritme yang berbeda dan cepat. Dia bosan menunggu. Seharusnya Lucy sudah datang dan menepuk pundaknya seperti biasa. Saat Natsu tengah asyik dengan pikirannya, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menepuk pundaknya. Reflek Natsu langsung menoleh dan berkata,

"Luce, kau lama! Aku menunggumu dari tadi!" ucap Natsu dengan kesal kepada seorang gadis didepannya.

Gadis berambut putih itu menaikkan alisnya, gadis itu hendak berkata sesuatu tapi Natsu keburu menyelanya.

"Kalau begitu, ayo! Kita ambil misi sekarang! Aku sudah lama tidak menjalankan misi. Ototku terasa kaku gara-gara tidak memukul seseorang." ucap Natsu.

Gadis berambut putih dihadapannya hanya diam membisu. Natsu menaikkan alisnya karena Lucy sama sekali tidak menjawabnya. Diraihnya tangan gadis berambut putih yang sangat diyakininya sebagai Lucy itu.

"Luce? Kenapa kau hanya diam saja? Kau tidak mau menjalankan misi denganku ya gara-gara keadaanku begini?" tanya Natsu dengan murung.

Gadis berambut putih pendek dihadapannya pun tersadar dan langsung melepaskan genggaman tangan Natsu.

"Natsu, tidak bisakah kau menyadari kalau di depanmu ini bukanlah Lucy? Apa kau tidak bisa membedakan bau kami dengan indra penciumanmu itu?" batin Lisanna. Dia merasa sakit karena Natsu sama sekali tidak menyadari kalau yang berdiri didepannya itu adalah Lisanna, bukan Lucy. Dan Natsu berhasil membuat Lisanna tersenyum kecut dengan kata-kata Natsu yang memohon agar Lucy mau mengambil misi dengannya.

"Natsu, ini aku. Lisanna. BUKAN Lucy." ucap Lisanna sambil menekankan katan 'Bukan'.

Natsu membelalakkan matanya, lalu dia mengenduskan hidungnya.

"Eh? Iya juga ya, aku baru sadar kalau bau kalian berbeda. Haha! Maaf ya, Lis! Gara-gara tadi aku memikirkan Lucy akan datang sambil menepuk pundakku, aku jadi langsung mengambil kesimpulan kalau itu adalah Lucy hanya karena kau tiba-tiba menepuk pundakku!" jelas Natsu sambil menggaruk belakang kepalanya. Dan kata-kata Natsu barusan berhasil menenggelamkan hati Lisanna kedalam lautan.

"Natsu, kau benar-benar.." air mata Lisanna hampir saja keluar, tapi dia buru-buru mengganti ekspresinya menjadi ceria lagi.

"Tidak apa-apa, kok. Kalau begitu, kau mau tidak ikut aku ke danau lagi? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." tanya Lisanna.

Natsu menaikkan alisnya. "Kenapa tidak bicarakan disini saja?" tanya Natsu.

Lisanna langsung meringis lalu menundukkan badannya agar sejajar dengan Natsu yang tengah duduk didepannya. Ditaruhnya telunjuknya didedapan bibirnya, lalu dia menjawab,

"Karena yang ingin kubicarakan adalah sesuatu yang hanya boleh dibicarakan antara kau dan aku.." bisik Lisanna.

Natsu hanya diam, menunjukkan wajah bingung. Tapi akhirnya dia mengangguk. Lisanna tersenyum puas lalu langsung menarik tangan Natsu keluar Guild.

XXX

"Wah, Natsu! Coba lihat! Ada banyak ikan kecil dibalik batu ini." ucap Lisanna sambil berjongkok di depan batu karang kecil dipinggir sungai. Sementara Natsu berdiri diam di samping Lisanna.

Natsu berdecak kesal, "Lis, bagaimana mungkin kau menyuruhku untuk melihatnya?" tanya Natsu kesal.

Lisanna langsung menutup mulutnya, "Ah, maaf Natsu. Aku tidak sengaja." ucap Lisanna dengan nada menyesal.

Natsu menghela nafas, "Sudahlah. jadi kau ingin membicarakan apa, Lis?" tanya Natsu.

Lisanna langsung terdiam, tepatnya diam untuk menyusun kata-kata yang akan diucapkannya pada Natsu. Dia menghembuskan nafas dengan berat lalu berkata,

"Natsu, ingat tidak waktu kita menetaskan telur Happy bersama-sama ketika masih kanak-kanak dulu?" tanya Lisanna.

Natsu mengerutkan keningnya. Jadi gadis ini mengajaknya kemari hanya untuk mengenang masa kecil mereka?

"Ya. Aku ingat, saat itu kita sama-sama menjaga telur Happy dari paman Gorilla yang ingin memakannya, bukan? Dan aku berhasil mengalahkannya hanya dengan tangan kosong!" jawab Natsu dengan bangga.

Lisanna tertawa kecil lalu berkata, "Ya, kau memang berhasil mengalahkannya. Tapi sebagai hasilnya, wajahmu babak belur sekali waktu itu." ucap Lisanna sehingga Natsu langsung cemberut.

"Aku sama sekali tidak babak belur! Itu cuma luka kecil biasa!" elak Natsu.

Lisanna tersenyum lembut lalu menatap danau dihadapannya.

"Ne, Natsu. Apa kau juga ingat waktu itu aku bilang ingin menjadi pengantinmu ketika kita sudah tumbuh dewasa nanti?" tanya Lisanna.

Seketika wajah Natsu langsung memerah mendengarnya.

"Apa-apaan sih? Kenapa malah membicarakan hal itu?" tanya Natsu sambil mengalihkan wajahnya yang memerah karena malu.

Lisanna yang melihatnya pun hanya tertawa kecil. Natsu menundukkan kepalanya, wajahnya sudah tidak memerah lagi.

"Ya, aku ingat. Tapi waktu itu kau bilang kau hanya bercanda.." ucap Natsu. Dia kembali mengingat saat Lisanna bilang ingin menjadi pengantinnya walaupun sesudahnya dia bilang kalau dia hanya bercanda. Tapi walaupun begitu, Natsu selalu kepikiran tentang kata-kata Lisanna waktu itu. Apa lagi dengan fakta kalau Lisanna adalah teman perempuan pertama yang sangat dekat dan suka bermain dengannya. Erza tidak termasuk, karena setiap dia bertemu Erza, dia akan langsung menantang bertarung dan setelah itu pasti berakhir dengan dia yang babak belur karena dihajar habis-habisan oleh Erza.

Natsu dan Lisanna bertambah dekat sampai mereka berusia remaja. Dan pada saat itu juga, Natsu sudah memendam rasa sukanya kepada Lisanna. Terlihat wajahnya selalu memerah ketika Lisanna memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'. Tapi pada saat itu, ketika Natsu kembali dari misi, dia melihat Mira dan anggota guild menangis terseduh-seduh. Dan dia baru menyadari kalau Lisanna tidak ada diantara mereka. Hati Natsu terasa hancur berkeping-keping ketika mengetahui kalau gadis yang dia sukai sudah meninggal. Natsu sempat frustasi waktu itu, hatinya terasa kosong namun sangat sesak. tapi... Setelah dia bertemu Lucy... Kekosongan di hatinya kembali dipenuhi oleh suara tawa dan nama gadis itu. Dan Natsu sudah bisa melupakan perasaannya terhadap Lisanna.

"Sebenarnya, waktu itu aku tidak bercanda..." ucapan Lisanna langsung membuyarkan lamunan Natsu.

Natsu segera menoleh kearah Lisanna, walaupun dia tidak bisa melihat wajah gadis itu.

"A-apa katamu?" tanya Natsu.

"Sebenarnya waktu itu aku terlalu malu untuk mengakuinya. Tapi sungguh, aku benar-benar serius dengan kata-kataku waktu itu..." ucap Lisanna sambil menggenggam tangan Natsu.

Natsu hanya diam, tidak tahu harus berkata apa. Dia belum sepenuhnya mengeri, tapi dia bisa menangkap kalau gadis berambut silver dihadapannya ini tengah berusaha melamarnya.

"A-apa maksud ucapanmu, Lis? Aku sama sekali tidak mengerti." Natsu mengerutkan keningnya.

Lisanna meringis, sedikit mengutuki kebodohan Natsu.

"Natsu, kau tahu? Aku sangat menyukaimu." ucap Lisanna akhirnya.

Natsu langsung terbelalak mendengarnya. Lisanna menyukainya? Sejak kapan?

"Sejak kapan?" tanya Natsu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Lisanna memalingkan wajahnya.

"Sejak pertama kali melihatmu. Kau baik, ramah, suka pada anak-anak, walaupun terkadang kau suka membuat mereka takut. Tapi itulah yang membuatku sangat menyukaimu, tidak! Aku sangat mencintaimu!" ucap Lisanna sambil menggenggam tangan Natsu dengan erat.

Natsu masih terdiam, Lisanna menyukainya. Dia juga menyukai Lisanna. Bahkan sejak lama dia sudah menyukai Lisanna. Jadi tidak apa-apa 'kan kalau dia bilang kalau dia juga menyukai Lisanna? Baru saja Natsu ingin menjawab pernyataan Lisanna, bayangan seorang gadis berambut pirang tiba-tiba melintas dipikiran Natsu.

"Ah!" Natsu tersentak ketika menyadari gadis itu tersenyum manis dengan pipi yang merona kearahnya. Gadis itu adalah Lucy. Gadis yang terus bersama dengan Natsu hingga sekarang. Gadis yang mengisi kekosongan hati Natsu. Dan gadis yang sangat ingin dia lindungi...

Natsu melepaskan genggaman Lisanna dari tangannya. Dipegangnya pundak Lisanna.

"Maaf, Lis. Aku tidak bisa." ucap Natsu sehingga Lisanna langsung terbelalak mendengarnya.

"...Kenapa?" tanya Lisanna. Air mata hampir merebak dipelupuk matanya.

"Karena ada seorang gadis yang tengah menungguku. Lucy pasti sedang menungguku di Guild, aku harus cepat menemuinya sebelum Gray keburu mengajaknya untuk menjalankan misi bersama..."

Lisanna tertunduk. Wajahnya memerah menahan tangis.

"Natsu... Kau menyukai Lucy?" tanya Lisanna akhirnya.

Natsu sempat terkejut, lalu kemudian tersenyum lembut, "Ya. Aku menyukainya. Bukan, aku sangat mencintainya..." jawab Natsu.

Air mata langsung menetes di pelupuk mata Lisanna, dia segera mengusapnya. Dia menatap Natsu, lalu tersenyum lembut.

"Baiklah, aku sudah menduga kalau aku akan ditolak. Jadi aku sudah mempersiapkan mentalku dari tadi.." ucap Lisanna.

Natsu tersenyum lalu mengusap rambut Lisanna. Dan tanpa dia sadari kalau dia sudah menempelkan bibirnya di kening Lisanna. Lisanna langsung terbelalak. Dia menatap Natsu dengan bingung.

"Meskipun kau tidak bisa menjadi pengantinku, tapi jadilah adik kecilku. Sehingga kau akan menjadi orang kedua yang sangat ingin kulindungi!" ucap Natsu sambil menunjukkan cengirannya.

Lisanna membulatkan matanya lalu tersenyum dengan wajah yang merona karena bahagia. Dipeluknya Natsu lalu berkata,

"Ya. Onii-chan." ucapnya. Natsu langsung tersenyum simpul sambil mengusap puncak kepada Lisanna.

Sementara itu, mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada seorang gadis berambut pirang tengah mengawasi tanpa bisa mendengar percakapan mereka dari tadi. Gadis itu langsung meninggalkan tempat persembunyiannya dengan sebutir air mata menetes dari pelupuk matanya.

XXX

Lucy memasuki Guild dengan tampang lesu.

"Ara, Lucy! Apa yang sudah terjadi denganmu? Kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Mira ketika Lucy mendudukkan dirinya di kursi Bar. Dia bingung melihat Lucy yang kini murung dan memancarkan aura gelap, padahal tadi pagi dia lihat Lucy sangat ceria sekali.

"Lucy...?" panggil Mira sekali lagi karena Lucy sama sekali tidak menjawab pertanyaan. Gadis berambut pirang itu hanya menundukkan wajahnya sehingga Mira tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi beberapa detik setelah itu, Lucy segera mengangkat kepalanya dan tersenyum manis kearah Mira.

"Ah, tidak apa-apa. Aku cuma kecapean saja, 'kok. Gara-gara tadi terus berlari kesana-kemari untuk mencari Natsu." jawab Lucy dengan nada ceria yang dipaksakan. Namun Lucy adalah orang yang tidak pandai berbohong di depan Bermaid silver ini. Karena Mira bisa menyadari dari gelagat Lucy dan ditambah lagi dia bisa melihat kalau mata Lucy sedikit membengkak.

"Lucy, apa kau habis menangis?" tanya Mira tepat sasaran.

Senyum ceria yang Lucy pasang tadi langsung sirna digantikan dengan senyuman gugup,

"Ap-apa maksudmu, Mira? Siapa yang menangis? Aku sama sekali tidak menangis!" Lucy berusaha mengelak. Namun Mira tetap menatapnya dengan tatapan curiga.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?" seorang gadis berambut Scarlet berjalan menghampiri Lucy dan Mira.

"Hm? Apa yang terjadi, Lucy? Kenapa matamu sembab begitu?" tanya Erza ketika dia melihat mata Lucy yang sembab.

Lucy langsung mengalihkan pandangannya, "I-ini gara-gara tadi kelilipan." jawab Lucy tanpa menatap mata Erza.

Mira langsung menggeleng kearah Erza. Seakan mengerti maksud Mira, Erza langsung mendudukkan dirinya di kursi sebelah Lucy.

"Lucy, apa yang sudah terjadi? Kalau kau punya masalah, cobalah untuk bercerita kepada kami. Mungkin kami bisa membantu..." ucap Erza dengan lembut.

"Aku tidak mempunyai masalah apapun. Dan sudah kubilang aku tidak menangis." sahut Lucy. Dia meremas telapak tangannya dengan telapak tangannya yang satunya. Tanda kalau dia sedang gelisah. Mira yang melihatnya pun langsung berjalan kearah Lucy dan duduk disebelahnya.

"Nee, Lucy. Bukankah kau tadi bilang kalau kau ingin mencari Natsu dan Lisanna? Apa ada sesuatu yang terjadi saat kau mencari mereka?" tanya Mira.

Lucy langsung menggeleng.

"Kalau begitu apa yang sudah terjadi kepadamu sehingga kau menangis seperti ini?" tanya Erza mulai tidak sabar.

"Tenang, tenang dulu Erza.." ucap Mira sambil menatap Erza. Lalu dia kembali menatap Lucy yang hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

Ada yang aneh dengan Lucy. Lucy adalah tipe orang yang tidak mudah menangis hanya karena sebuah masalah kecil, berarti sekarang Lucy sedang menghadapi masalah yang besar sehingga membuat Lucy menangis sampai matanya membengkak begini. Tiba-tiba Mira mengingat sesuatu, kalau dia tidak salah ingat, tadi Lucy datang ke guild untuk mencari Natsu, lalu dia kembali keluar untuk mencari Natsu yang sedang jalan-jalan dengan Lisanna. Lalu tidak lama setelah itu, Lucy kembali lagi ke Guild dengan wajah murung.

"Ah!" seperti mendengar bunyi 'klik' dikepalanya, Mira langsung bersuara.

Erza menaikkan alisnya, "Ada apa, Mira?" tanya Erza.

Lucy menoleh kearah Mira.

Mira menatap Lucy dengan tatapan serius, "Lucy, kau pasti habis melihat Natsu berduaan dengan Lisanna, bukan?" tanya Mira.

Tubuh Lucy langsung menegang. Dan entah kenapa tubuhnya bisa bergerak sendiri, sehingga dia langsung mengangguk.

Erza ikut terkejut, "Lucy, jadi kau belum menyatakan perasaanmu?" tanya Erza.

Lucy mengangkat kepalanya dan menatap lurus kedepan.

"Belum. Tapi aku sudah tahu jawabannya. Dia pasti akan menolakku." jawab Lucy.

Erza kembali berdecak tanda dia sedang kesal,

"Lucy, bukankah sudah kubilang kalau Natsu itu—" ucapan Erza langsung dipotong Lucy.

"Dia menyukai Lisanna! Bukan aku. Bukan aku yang dia sukai..." ucap Lucy.

"Apa maksudmu? Jelas-jelas Natsu itu hanya suka padamu Lucy." ucap Erza.

Lucy menggeleng dengan lemah, "Itu tidak benar. Tadi, aku melihatnya sedang berada di danau berdua saja dengan Lisanna. Lalu aku melihat Natsu mencium Lisanna dan mereka langsung berpelukan begitu saja. Apa bukti itu tidak cukup untuk membuktikan kalau mereka berdua saling mencintai?" Lucy menatap Erza dengan sendu.

"Lucy, terkadang apa yang kau lihat, tidak seperti apa yang kau pikirkan.. Apa kau mendengar kalau Natsu menyatakan cintanya pada Lisanna?" tanya Mira.

Lucy menggeleng,

"Aku memang tidak bisa mendengar percakapan mereka, tapi aku bisa melihat dari gelagat mereka berdua. Mereka tersenyum satu sama lain dengan pipi yang memerah..." jawab Lucy.

Mira dan Erza hanya diam.

"Sudahlah Lucy, jangan sedih lagi. Kan kau masih punya kami disini, Nakama-mu. Kau boleh menuangkan keluh kesahmu kepada kami..." ucap Mira sambil mengelus pundak Lucy. Lucy tersenyum simpul lalu mengucapkan terima kasih.

Sementara Erza masih terdiam, masih memikirkan perkataan Lucy.

"Benarkah yang dikatakan Lucy tadi? Tapi bukankah Natsu itu sebenarnya menyukai Lucy?" batin Erza. Dia bingung atas apa yang terjadi. Dia sudah sangat yakin kalau Natsu memiliki perasaan yang sama terhadap Lucy, dia bisa melihatnya dari tatapan Natsu dan juga dari apa yang sudah mereka berdua lewati selama ini. Tapi kenapa Lucy bilang kalau Natsu...?

Ketika Lucy ingin meraih gelas minuman yang disediakan Mira untuknya, tiba-tiba ada sebuah ledakan yang menghantam Guild Fairy Tail.

JDUARRR!

"A-apa yang sudah terjadi?!" Erza berteriak sambil menyingkirkan pecahan dinding guild yang menimpanya.

Lucy dan Mira beserta anggota guild lainnya menyipitkan mata kearah kepulan asap yang menampilkan sedikit bayangan. Bayangan itu semakin mendekat, dia berjalan menembus asap itu. Dan terlihatlah sesosok gadis berambut hitam kelam dengan pakaian berwarna hitam seperti pakaian untuk mengunjungi pemakaman, gadis itu muncul dari balik kepulan asap. Matanya hitamnya sembab, dan rambutnya tampak acak-acakkan. Dia memandang seluruh anggota guild satu-satu.

"Fairy Tail..." gumamnya sambil menggertakkan giginya.

"Siapa kau?! Apa yang sudah kau lakukan terhadap Guild kami, hah?!" teriak Macao.

"Padahal Guild kami baru saja selesai diperbaiki!" Wakaba ikut menimpali.

Gadis itu menoleh kearah Macao dan Wakaba, lalu dia mengangkat tangannya dan keluarlah sebuah bola hitam dengan kilatan listrik di telapak tangannya. Ditembakkannya bola hitam itu kearah Macao dan Wakaba.

BOOOMM! JDUAARR!

Bola itu sukses meghantam Macao dan Wakaba dan menyebabkan dinding guild runtuh dengan seketika. Seluruh anggota Guild yang melihatnya pun langsung membulatkan mata mereka.

"Tou-chan!" Romeo berlari menghampiri ayahnya yang terluka parah.

"Kau! Apa yang kau inginkan, hah?! Beraninya kau melukai anggota kami!" teriak Kana sambil menyiapkan kartu-kartunya. Siap untuk menyerang penyihir itu kapan saja. Erza dan seluruh anggota Guild lainnya segera memasang posisi bertarung. Mereka memang belum mengetahui apa yang diinginkan oleh gadis ini, tapi mereka tidak bisa diam begitu saja melihat Guild dan Nakama mereka diserang tanpa alasan yag jelas.

"Kau! Cepat katakan apa maumu!" Erza melompat maju sambil mengarahkan pedangnya kearah penyihir itu.

BYUUSSS! JDUARR!

Erza langsung terpelanting kebelakang begitu penyihir berambut raven itu menangkis serangan Erza dengan sihirnya. Erza segera bangkit dan kembali menyerang penyihir itu, kali ini dia ditemani oleh Mira, Kana, Wendy, Gray dan juga Taurus yang sudah dikeluarkan Lucy. Namun lagi-lagi penyihir itu menangkis serangan mereka dengan membuat pelindung disekitarnya. Erza dan yang lainnya langsung terpelanting kebelakang.

"Cih! Sial! Siapa dia sebenarnya?! Kenapa semua serangan kita tidak ada yang mempan?!" Erza bangkit dengan susah payah.

"Bahkan dia sama sekali tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya.." Kana menatap tajam kearah penyihir yang sudah memporak-porandakkan Guild mereka.

"Kau! Siapa kau sebenarnya?! Kenapa kau menyerang Guild kami?!" teriak Lucy.

Penyihir itu menatapnya dan berkata, "Namaku Xenia, aku datang kemari untuk menghancurkan Fairy Tail..." ucap pennyihir yang mengaku bernama Xenia itu.

Seluruh anggota Guild membulatkan matanya dengan tidak percaya.

"Datang kemari untuk mengahancurkan Fairy Tail..?"

"Jangan bermain-main dengan kami! Kau tidak tahu kalau sekarang kau sedang berhadapan dengan siapa! Ice Make Hummer!" Gray langsung menggunakan sihir esnya untuk membuat palu besar diatas kepala penyihir itu. Namun pada akhirnya palu itu langsung hancur berkeping-keping akibat pelindung hitam yang melindungi Xenia.

"Kenapa kau ingin menghancurkan Guild kami?" tanya Lucy.

"Karena kalian telah menyebabkan orang yang kucintai mati... Argon, kekasihku... Dia mati karena kehabisan sihir akibat melawan kalian!" teriak Xenia.

Lucy, Erza dan juga Gray langsung membulatkan mata dengan sangat terkejut.

"A-argon..? Penyihir yang telah menyebabkan Natsu kehilangan kedua indranya?" ucap Lucy.

Xenia menatapnya dengan dingin.

"Ya. Dan karena menggunakan sihir itu dia jadi kehabisan energi dan ketika dia ingin menggunakan sihir penghancur, sihir itu langsung menolak energi sihirnya dan malah menghancurkan dirinya sendiri..."

"Itu adalah alasan yang tidak masuk akal. Dia mati bukan karena kesalahan kami!" ucap Erza.

"Memang bukan kesalahan kalian, tapi... Penyebab dia kehabisan energi adalah karena melawan kalian!" Xenia merentangkan kedua tangannya dan menghempaskan seluruh anggota Guild hingga mereka semua menabrak dinding.

"Ini semua salah kalian... Kalianlah yang salah! Kalianlah yang telah membunuh Argon!" Xenia terus menerus menggunakan sihirnya untuk menyiksa seluruh anggota Guild.

"Brengsek! Dia pasti sudah gila!" erang Gray sambil berusaha berdiri.

"Kenapa disaat seperti ini, Master dan Laxus sedang tidak ada?!" Evegreen ikut mengerang frustasi. Lalu tiba-tiba mereka mendengar suara,

"MIRA-NEE!" Lisanna datang bersama Natsu dan Happy disampingnya. Rupanya Exceed biru itu dari tadi menghilang hanya untuk meminta bantuan kepada Natsu dan Lisanna.

Lisanna langsung membulatkan matanya melihat keadaan Guild yang berantakan dan dinding Guild yang hancur dan pecahannya berserakan di lantai. Tapi bukan itu saja yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Natsu... Semuanya... Semuanya terluka parah..." ucap Lisanna sambil menutup mulutnya.

"Apa?!" Natsu menampilkan ekspresi syok. Bagaimana mungkin semua anggota guildnya bisa kalah padahal mereka hanya melawan satu penyihir?

Natsu mengepalkan tangannya. Dia hendak maju melawan penyihir yang sudah melukai Nakamanya. Namun baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba sebuah serangan sudah menghantamnya beserta Lisanna dengan dahsyat. Natsu, Lisanna beserta Happy menabrak dinding hingga dinding yang sudah retak itu langsung hancur berkeping-keping. Natsu langsung bangkit dan menyemburkan apinya kedepan, walaupun dia tidak bisa melihat, tapi dia bisa tahu keberadaan musuh hanya dengan penciumannya.

"KARYUU NO HOKOU!" Api Natsu langsung menghantam pelindung penyihir itu. Namun itu langsung berakhir dengan sia-sia karena penyihir itu tetap berdiri disana tanpa luka sama sekali.

"Hm. Serangan seperti itu tidak akan mempan untuk menghancurkan pelindungku..." penyihir itu berjalan menghampiri Natsu. Diarahkannya telapak tangannya kearah Natsu dan diapun membacakan sebuah mantra.

"A-apa ini?!" teriak Natsu ketika menyadari ada sesuatu yang tiba-tiba menyelimutinya.

Xenia tersenyum dingin dan berkata, "Kau sudah masuk kedalam bola penyiksaanku... Sekarang rasakanlah rasa sakit yang melebihi rasa sakit di hatiku ini!" dan dengan itu, bola hitam yang menyelimuti Natsu langsung mengeluarkan kilatan listrik dan menyetrum Natsu dengan brutal.

"GRAAAHH!" teriak Natsu. Tidak hanya Natsu saja yang diselimuti bola hitam itu, tetapi seluruh anggota Guild termasuk juga Happy.

BRUK!

Natsu langsung tersungkur ke lantai dengan tubuh yang mengeluarkan asap. Xenia mencengkram leher Natsu dan mengangkatnya dengan sebelah tangan.

"Hm, jadi kau yang sudah menyebabkan kekasihku kehabisan sihir, huh? Sulit dipercaya, orang lemah sepertimu bisa membunuh Argon..." ucap Xenia sambil mencengkram leher Natsu kuat-kuat.

"Kkhhh..." Natsu berusaha melepaskan cengkraman Xenia, tetapi tenaganya sudah terkuras habis akibat penyiksaan Xenia tadi.

"Kh.. Natsu..." Lucy berusaha bangkit untuk menolong Natsu.

"Hm? Sepertinya kau sudah berhasil mendapatkan salah satu dari dua indramu yang hilang itu, huh... Tapi kenapa kau hanya mendapatkan satu?" Xenia memasang pose berpikir.

Natsu mencengkram lehan Xenia yang tengah mencekiknya, "Itu bukan urusanmu..." ucap Natsu dengan geram.

Xenia langsung tersenyum sinis. "Hooo... Rupanya ini sang Dragon Slayer Api yang kehilangan indra penglihatannya... Dan akan segera mati ditangan seorang gadis lemah sepertiku... Sungguh ironis sekali kau, Salamander-san... Padahal kau hanya perlu sihir dari salah seorang Dragon Slayer dan juga sihir dari penyihir Roh Bintang yang sudah mempunyai 12 kunci Zodiak..." ucapan Xenia sukses membuat Lucy dan semua yang ada disana terbelalak.

"Ups, sepertinya aku sudah mengucapkan sesuatu yang bisa membuat semua pasang mata disini melotot kearahku... Apakah kalian terkejut dengan perkataanku tadi? Apakah kalian berpikir untuk menyembuhkan Salamander ini dengan bantuan penyihir Roh bintang kalian?" tanya Xenia dengan wajah polos yang dibuat-buat. Namun kemudian wajah polosnya itu langsung berubah menjadi seringaian jahat.

"Maaf saja. Kalian tidak akan bisa melakukan hal itu, karena aku akan segera membunuh Salamander ini sekarang juga!" Xenia membuat sebuah bola hitam yang besar di telapak tangannya. Lucy segera terbelalak.

"Cih, Flame-head!" Gray berusaha bangkit dan berlari menuju karah Natsu diikuti Erza, Mira, dan juga Wendy.

"Natsu!"

"Natsu-san!"

Erza merequip dirinya dan melemparkan 1000 pedang kearah Xenia, sementara Gray meluncurkan banyak panah es kearah Xenia. Mira berubah ke bentuk Satan Soul terkuatnya dan menembakkan serangan terkuatnya diikuti oleh raungan naga langit Wendy. Namun semua serangan itu sia-sia karena Xenia lagi-lagi melindungi dirinya dengan pelindung.

"Cih, bagaimana mungkin serangan kita semua tetap tidak mempan untuk menembus pelindung itu?!"

"Tidak! Coba lihat! Kita berhasil membuat pelindung itu retak!" seru Wendy sambil menunjuk kearah retakan yang cukup besar di pelindung itu.

"Benar! Kalau begitu ayo kita serang dia lagi! Tidak, kita harus terus menyerangnya hingga pelindung itu hancur!" seru Gray. Lalu mereka semua kembali menyerang pelindung itu dengan brutal sehingga pelindung itu hampir pecah berkeping-keping.

Xenia berdecih kesal, lalu mengangkat tangannya, "Tidak akan kubiarkan kalian melakukannya!"

Xenia menembakkan kembali bola hitam yang cukup besar kearah Gray dan yang lainnya sehingga mereka langsung terpental jauh kebelakang. Xenia kembali mengalihkan perhatiannya kearah Natsu yang masih berada di cengkramannya.

"Sekarang, mari kita mulai proses kematianmu, Salamander..." Xenia membuat sebuah bola hitam raksasa di tangan kirinya dan hendak dia tembakkan ke Natsu. Lucy segera bangkit dengan susah payah dan berlari kearah Natsu.

"NATSUUUU!" teriaknya.

"Gawat, waktunya tidak sempat!" batin Lucy ketika menyadari kalau dia tidak akan sampai tepat waktu.

"Lu... Lucy..." gumam Natsu.

"Hm, ayo kita akhiri ini... Salamander Natsu-san..."

JDUUAAARRR!

Terjadi ledakan hebat di atas Guild Fairy Tail. Tunggu! Kenapa diatas?

Xenia membelalakkan matanya ketika menyadari kalau Natsu sudah tidak ada dicengkramannya lagi. Dia segera menoleh kesamping dan mendapati 3 orang asing di depannya.

"Kau! Apa yang sudah kau lakukan pada Guild Natsu-san, hah?!" teriak seorang laki-laki berambut pirang diantara 3 orang itu.

"Natsu-sama, kau baik-baik saja?" seorang gadis berambut silver pendek mengguncang tubuh Natsu.

"Yah. Aku... Tidak apa-apa..." jawab Natsu sambil mendudukkan dirinya.

"Aku tidak begitu mengerti dengan situasi disini, tapi kelihatannya dia adalah musuh." ucap laki-laki berambut hitam diantara mereka.

Lucy dan seluruh anggota Guil membelalakkan mata melihat 3 orang yang berdiri didepan mereka.

"Sting... Rogue... Dan Yukino-san..." gumam Lucy menyebutkan nama ketiga orang itu.

Ketiga anggota Sabertooth itu maju dan berkata, "Kami akan membantu melawan penyihir ini!" ucap Sting.

Bersambung...

AN : Lagi-lagi chapter kali ini kacau dan bertambah gak jelas jalan ceritanya... *jedotin kepala ke tembok* Author sengaja buat fokus dulu ke fanfic ini karena fanfic ini satu-satunya yang sudah mendekati ending... Jadi maaf ya kalo reader sekalian kecewa lagi sama chapter ini yang lagi-lagi gak jelas alurnya... Yaudah, author cuma mau minta review dan pendapat dari reader sekalian... Silahkan isi di kotak review... ^^

Salam manis,

Minako-chan Namikaze