Fairy Tail © Hiro Mashima
Bisakah Kau Melihat dan Mendengar suaraku? © Minako-chan Namikaze
.
Summary : Gelap dan Sunyi. Itulah yang dirasakan Natsu Dragneel saat ini. Hidupnya berubah drastis semenjak sebuah tragedi merenggut penglihatan dan pendengarannya. /"Mungkin dia akan terus seperti ini selamanya."/"Jangan meminta maaf, Luce. Ini semua bukan kesalahanmu."/"Kalau begitu, jadikanlah aku sebagai mata sekaligus telingamu."/
Pair : Natsu. D & Lucy. H
Genre : Hurt/Comfort & Romance
.
.
.
Chapter 8 - Last Chapter
.
Pagi itu, Guild Fairy Tail sedang menjalankan aktivitas harian mereka seperti biasa. Mengambil Misi, mengobrol bahkan berkelahi. Namun, ada juga yang sedang bersenandung riang di sudut bar.
"Ne, Mira-nee, biar aku saja yang mengelap gelas-gelasnya. Mira-nee sebaiknya mengurus Mila dulu. Tampaknya dia sedang tidak betah bersama Ayahnya..." ucap Lisanna sambil berjalan menghampiri Mira.
Mira menoleh kearah Laxus dan 2 anggota Raijinshuu yang tengah panik mendapati putrinya, Mila tengah menangis dengan keras di gendongan Laxus.
"Ahaha.. Kurasa kau benar." ucap Mira sambil menaruh telapak tangannya di pipinya. "Kalau begitu, kuserahkan gelas-gelas ini kepadamu, ya Lisanna?"
Lisanna mengangguk dan mengambil kain untuk mengelap gelas-gelas yang masih basah sehabis di cuci itu. Sementara Mira sudah berjalan menghampiri Laxus yang tengah merutuk tidak jelas sambil menyodorkan Dot ke mulut putrinya.
"Dimana Mira? Aku mau memesan makanan." seorang Fire Dragon Slayer berjalan menghampiri bar dan duduk di salah satu kursinya.
Lisanna menoleh kearah Natsu dan menjawab, "Mira-nee sedang menenangkan Mila-chan yang sedang menangis. Memang kau mau pesan apa Natsu? Biar aku saja yang mengambilkan," ujar Lisanna.
"Pancake Vanila." jawab Natsu singkat.
"Baik, segera datang." ucap Lisanna sambil berjalan meninggalkan Natsu.
Sambil menunggu pesanannya, Natsu mengedarkan pandangannya ke sekeliling Guild. Semuanya sudah berubah semenjak 2 tahun kematian Lucy. Berubah yang dia maksud bukan dalam artian sikap teman-teman Guildnya, hanya saja mereka kebanyakan sudah mendapatkan pasangan, bahkan ada yang sudah berkeluarga seperti Mira, Elfman dan Gray. Penampilan anggota Guildnya pun agak sedikit berubah. Seperti Lisanna yang rambutnya memanjang sampai ke bahu, sehingga membuatnya terlihat seperti Mira, hanya saja yang membedakannya adalah Lisanna tidak menguncir poninya.
"Nah, ini dia, Natsu. Pancake Vanila pesananmu!" ucap Lisanna sambil menaruh sepiring Pancake di hadapan Natsu.
"Ah, iya." sahut Natsu sambil menyendok Pancake-nya.
"Yo! Tadaima!" teriak seorang laki-laki dari ambang pintu Guild.
Lisanna dan Natsu segera menoleh kearah sumber suara.
"Ah, Okaerinasai, Sting... Rogue!" sambut Lisanna sambil tersenyum.
Sting dan Rogue tersenyum mendengar sambutan Lisanna, dan segera berjalan menghampirinya.
"Bagaimana Misi kalian? Berjalan dengan lancar?" tanya Lisanna ketika Sting mendudukkan dirinya di samping Natsu.
"Ya, begitulah. Misinya terlalu mudah." jawab Sting.
"Begitu, syukurlah. Oh iya, apa kalian ingin makan sesuatu?" tanya Lisanna sambil menatap Rogue dan Sting.
"Aku pesan Hamburger saja." ucap Sting.
"Aku juga." ucap Rogue.
"Baik, segera datang." ucap Lisanna sambil mengambilkan pesanan kedua orang itu.
"Oh iya, bagaimana keadaan Yukino? Apa dia baik-baik saja?" tanya Lisanna kepada Rogue.
"Ya, dia baik-baik saja. Cuma terkadang dia sering melakukan pekerjaan berat, sehingga aku harus melarangnya berhenti mengambil Misi untuk sementara sampai dia selesai melahirkan." jawab Rogue sambil memakan Burgernya.
"Heee... Tidak kusangka Rogue sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." ucap Sting sambil mengunyah Burgernya.
"Sting, telanlah dulu makananmu baru berbicara!" tegur Lisanna.
Sting hanya meringis mendengar ucapan tunangannya itu.
"Kalian sendiri kapan akan menikah? Sudah hampir 2 tahun kalian menjalin hubungan." tanya Rogue.
Sting dan Lisanna langsung memerah mendengarnya.
"I-itu masih dalam proses diskusi." jawab Sting.
"Apa-apaan itu? Menikah saja harus didikusikan dulu, padahal kalian sudah saling cinta." ucap Natsu dengan malas.
Ketiga orang disana segera menoleh kearah Fire Dragon Slayer itu.
"Tidak semudah itu, Natsu-san. Kami belum menyiapkan mental untuk ini," ucap Sting sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Itu benar, Natsu." timpal Lisanna.
Natsu hanya memandang mereka dengan malas, lalu melanjutkan makannya. Ah benar, Sting, Rogue dan Yukino sudah menjadi anggota Fairy Tail. Sebenarnya Sting dan Rogue sudah mengundurkan diri dari Sabertooth 2 minggu semenjak insiden kematian Lucy, dan Master mengajak mereka untuk bergabung bersama Fairy Tail.
"Yo! Flame-head! Jangan suka mengurusi urusan cinta orang lain, sementara urusan cintamu sendiri saja tidak kau urusi," seorang laki-laki berambut hitam tanpa baju datang menghampiri Natsu.
Natsu menoleh kearahnya dengan malas. "Apa maumu, Gray? Aku sudah tidak ada minat untung bertarung denganmu." ucap Natsu dengan dingin.
Gray langsung terdiam mendengarnya. Cih, padahal dia pikir cara ini akan berhasil memanas-manasi Natsu agar berkelahi lagi dengannya. Semenjak kematian Lucy, Natsu menjadi pendiam dan dingin, juga selalu saja menghindari pertarungan dengannya. Tidak hanya itu, Natsu juga sudah mengundurkan diri dari Tim dan memutuskan untuk menjalankan Misi secara solo. Sungguh Ironis, kemana Natsu Dragneel yang terkenal super berisik itu? Kemana Salamander yang hobi menghancurkan kota akibat perkelahian tidak pentingnya dengan rekan sekaligus rivalnya itu? Natsu Dragneel yang dulu seolah-olah ikut mati bersama Lucy, dan yang tertinggal disini hanyalah raganya saja tanpa roh dan perasaan di dalamnya.
Natsu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju papan misi. Diambilnya salah satu kertas yang tertempel di papan panjang itu tanpa melihat lagi apa yang tertulis di kertas itu. Dia kembali berjalan menghampiri Lisanna dan menunjukkan kertas misi itu.
"Lis, aku ambil Misi ini." ucap Natsu singkat.
Lisanna segera mencatat Misi Natsu, setelah selesai dia mengangguk kearah Natsu. Mengerti maksud Lisanna, Natsu menyimpan kertas misi itu dalam sakunya dan berjalan menuju pintu Guild.
"Hati-hati, Natsu!" teriak Lisanna.
Natsu menoleh sebentar dan mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya keluar pintu Guild.
"Aku prihatin melihat Natsu-san. Dia seperti tidak memiliki semangat hidup lagi." ucap Sting ketika sosok Natsu menghilang dari balik pintu Guild.
Lisanna mengangguk sambil menaruh segelas air di meja Sting. "Ya, semenjak kematian Lucy, Natsu berubah menjadi seperti ini." ucap Lisanna menanggapi ucapan Sting.
"Juvia harap, Natsu-san bisa kembali menjadi dirinya yang dulu." ucap Juvia sambil mengusap perutnya yang kini mulai membuncit.
"Benar. Guild menjadi sangat berbeda tanpa tingkah konyolnya itu." sahut Gray.
Semuanya hanya mengangguk menyetujui ucapan penyihir Es itu.
XXX
Natsu menginjakkan kakinya di sebuah kota yang sudah lama tidak dia pijaki. Hergeon. Kota dimana dia pertama kali bertemu dengan penyihir roh bintang, Lucy Heartfilia. Natsu menghirup aroma kota itu dengan rasa nostalgia. Dia kembali mengingat cara pertemuannya dengan Lucy dan saat dimana Lucy mentraktirnya dan Happy makan di sebuah restoran. Natsu menundukkan kepalanya dengan suram mengingat semua itu. Dia mengangkat kakinya, dan melangkah kearah kerumunan warga kota itu yang sedang berlalu-lalang.
Bruk!
"Ah, gomenasai!"
Natsu menatap seseorang berjubah hitam yang baru saja menabrak bahunya. Dia langsung tersentak ketika mencium aroma tubuh orang itu. Dia segera berlari menembus kerumunan orang-orang, berusaha menemukan orang berjubah hitam tadi. Tapi nihil. Orang itu sudah tidak ada. Kemana dia? Cepat sekali menghilangnya.
Natsu kembali mengenduskan hidungnya, berusaha mencari aroma tubuh orang itu. Namun hasilnya percuma. Aroma tubuh orang itu sudah tercampur dengan aroma tubuh orang-orang di sekelilingnya, ditambah lagi dia sedang berada di pasar. Sudah pasti aroma orang itu bercampur dengan ikan-ikan dan dagangan lain para pedagang.
Natsu berdecih kesal. Dijambaknya poninya dengan frustasi, itu tidak mungkin Lucy bukan? Lucy sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Tapi kenapa aroma orang berjubah tadi sama dengan Lucy? Natsu kembali berdecih, lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke Guild. Dia sudah menyelesaikan Misi, dan dia berniat untuk mengambil Misi lagi untuk mengalihkan pikirannya dari segala hal tentang Lucy.
"Natsu, kau bisa melihatnya, 'kan? Akhirnya aku bisa menepati janjiku untuk menyembuhkanmu."
Natsu menggigit bibirnya ketika kata-kata Lucy sebelum kematiannya kembali terngiang di benaknya.
"Terima kasih untuk selama ini. Aku senang bisa bertemu denganmu."
"Lucy..."
XXX
Seseorang berjubah hitam berdiri termenung di depan pintu masuk Fairy Tail. Jubah hitamnya berkibar dengan bebas di tiup angin malam. Bibirnya bergetar menahan tangis. Bisa dia dengar, suara gaduh dari dalam sana. Perasaan rindu mulai menyelimuti hatinya. Dia mengangkat tangannya dengan ragu, berniat menyentuh pintu kayu itu. Dia tersentak dan menjauhkan tangannya dari dinding pintu itu. Mata karamelnya menatap dengan rindu pintu Guild di depannya.
"Fairy... Tail..." gumamnya. Tidak terasa air mata mulai menetes dari pelupuk matanya.
.
.
Sementara itu, Natsu tengah berjalan kearah Guild, berniat untuk melaporkan Misi yang baru di selesaikannya hari ini. Dia memandang langit malam yang cerah di hiasi bintang-bintang.
"Andai aku bisa melihat langit mala mini bersama Lucy. Pasti menyenangkan…" dia menundukkan wajahnya ambil terus melangkah di bawah penerangan lampu jalanan. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, dan matanya langsung terbelalak syok.
Bau ini lagi... Bau yang begitu mirip dengan Lucy ini tercium lagi. Siapa pemilik bau ini? Dimana dia berada? Apakah mungkin...? Tidak, masih terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dia harus memastikan terlebih dahulu. Natsu segera menjalankan kakinya dan berlari kearah sumber bau itu.
"Lucy... Mungkinkah itu kau?" batin Natsu sambil mengikuti sumber bau itu. Dia terkejut ketika menyadari bau itu membawanya menuju Guild Fairy Tail. Dia berhenti di depan pintu gerbang, dan mendapati seseorang berjubah hitam yang di temuinya tadi pagi tengah berdiri mematung di depan pintu Guild. Dengan rasa penasaran yang besar, Natsu berjalan pelan kearah orang itu. Di tepuknya pundak orang itu, sehingga membuat orang itu tersentak dan segera menoleh kearah Natsu.
Natsu menyipitkan matanya, berusaha melihat wajah di balik tudung jubah yang dipakai orang itu. Natsu sedikit terkejut melihat adanya aliran air mata di pipi orang itu.
"Kau... Siapa?" tanya Natsu menatap orang itu dalam.
Orang itu mendongak menatap Natsu, sehingga mata karamelnya yang ditutupi oleh bayangan tudung jubahnya menjadi terlihat akibat pantulan sinar bulan. Natsu membulatkan matanya ketika melihat wajah orang itu. Dia mengangkat tangannya yang bergetar, dan menarik tudung jubah itu dari kepala or ang yang berada di hadapannya. Dan tudung itu terjatuh dengan mulus di pundak orang yang ternyata adalah seorang gadis itu. Mata Natsu semakin membulat melihat rambut pirang yang muncul dari balik tudung jubah itu. Ditatapnya lagi gadis di hadapannya itu dengan tatapan tak percaya. Rambut pirang... Mata coklat karamel... Senyuman manis di sertai pipi yang merona... Dan wajah yang selama ini sangat dia rindukan...
"Lucy...?" ucap Natsu pelan sambil menatap gadis pirang di depannya. Dicengkramnya bahu gadis itu dengan erat.
"Lucy? Apa benar ini Lucy? Lucy!" seru Natsu di depan wajah gadis yang begitu mirip dengan Lucy.
Gadis itu sempat terkejut kemudian tersenyum, "Ya.. Ini aku." ucapnya.
Tes.
Setitik air mata tiba-tiba jatuh dari pipi Natsu. "Lucy..." gumamnya dengan suara serak. Kemudian di rengkuhnya tubuh Lucy dan dibenamkannya wajahnya di leher gadis pirang itu.
"Lucy... Kau kembali. Aku tahu, kau gadis yang kuat... Kau tidak mungkin mati," ucap Natsu sambil terisak.
Lucy terhenyak mendengarnya. Direngkuhnya punggung Natsu, dan diusapnya kepala sang Fire Dragon Slayer itu.
"Gomen ne... Membuatmu sedih selama 2 tahun ini.. Aku benar-benar minta maaf." ucap Lucy dengan lembut. Natsu mengusap air matanya, lalu menatap wajah Lucy tanpa melepaskan pelukannya.
"Tidak apa, Luce. Kau tidak perlu meminta maaf. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah kembali pulang... Selamat datang kembali, Lucy." ucap Natsu sambil tersenyum lembut.
Lucy balas tersenyum dan mengangguk. Dan, tanpa sadar, mereka pun mendekatkan wajah mereka masing-masing. Tatapan lembut mereka saling bertemu, dan nafas mereka saling beradu. Hidung mereka saling bersentuhan. Natsu memiringkan wajahnya sambil berbisik pelan, "Aku mencintaimu, Luce." Dan, setelah itu, bibir mereka saling bertemu, bertautan satu sama lain. Lucy memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang di salurkan oleh pria yang amat dicintainya itu. Ciuman itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar 5 detik. Natsu melepaskan ciumannya, dan menatap wajah Lucy. Dihapusnya sisa air mata di pipi Lucy dengan ibu jarinya.
Lucy menempelkan telapak tangannya di punggung tangan Natsu yang menempel di pipinya. "Aku juga, Natsu... Aku juga sangat mencintaimu." ucapnya pelan.
Natsu tersenyum lembut mendengarnya. Lucy menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Natsu, dan menariknya mendekat kearahnya. Dan sekali lagi, bibir mereka saling di satukan. Lucy mengalungkan kedua lengannya di leher Natsu, sementara Natsu memeluk pinggang Lucy.
"Luce..."
XXX
Kreet... Pintu Guild terbuka, dan menampakkan seorang pemuda berambut pink yang tengah tersenyum lebar.
"Ah, Natsu. Okaeri.." sambut Mira.
"Okaeri, Natsu." Lisanna ikut menyambut.
"Okaeri, Natsu-san! Bagaimana Misi-mu?" tanya Sting.
Natsu tersenyum lebar sambil menunjukkan jempolnya. "Sukses! Ah~ Aku lapar..." ucap Natsu sambil memegangi perutnya.
Para anggota Guild yang mendengarnya langsung melongo. Tidak biasanya Natsu menjawab pertanyaan Sting dengan nada ceria seperti itu. Biasanya Natsu selalu berkata dengan nada datar dan ekspresi dingin. Tapi kenapa malam ini sikapnya berubah? Dia menjadi seperti Natsu yang dulu lagi.
"Oi, Natsu! Ada apa denganmu? Apa kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Gray dari meja sudut Guild.
Natsu menoleh kearahnya dan berteriak kesal, "Enak saja! Apa maksud perkataanmu, Ice Boxer?! Aku sama sekali tidak terbentur apapun!" sahut Natsu sewot.
Para anggota Guild semakin melongo mendengar ucapan Natsu. Apa Natsu tadi baru saja menjawab perkataan Gray? Dan lagi, nada bicaranya seperti ingin mengajak berkelahi...
"Natsu, apa yang terjadi denganmu? Apa kau terjatuh di suatu tempat?" tanya Erza sambil menghampiri Natsu.
"Tidak! Memangnya apa yang terjadi denganku?!" Natsu semakin sewot.
"Natsu, sudahlah.. Jangan teriak-teriak seperti itu," ucap sebuah suara dari belakang Natsu.
"Eh? Apa ada orang di belakangmu Natsu?" tanya Erza sambil berusaha mengintip seseorang di belakang Natsu.
"Suaranya... Seperti pernah dengar.." ucap Levy.
"Iya, terdengar sangat familiar.." tambah Lisanna.
Natsu menoleh kebelakang dan menggaruk belakang kepalanya, "Ahaha! Maaf Luce! Habis mereka mengesalkan sekali, sih." ucap Natsu.
Semua anggota Guild kembali terbelalak mendengar penuturan Natsu tadi. Luce? Hanya ada satu orang yang selalu dipanggil Natsu dengan nama itu. Dan orang itu adalah Lucy Heartfilia. Sang penyihir Roh Bintang yang meninggal 2 tahun yang lalu. Tapi, kenapa Natsu memanggil orang di belakangnya dengan panggilan 'Luce'?
"Natsu, siapa orang yang bersembunyi dibelakangmu itu?" tanya Erza.
"Benar, cepat tunjukkan wajahmu." perintah Gray sambil berjalan menghampiri Natsu.
"Oi, Gray! Jangan bicara kasar begitu pada Luce!" bentak Natsu.
"Luce? Lucy maksudmu? Tapi, dia kan..." ucapan Gray langsung terhenti oleh ucapan seseorang.
"Aku belum mati, Gray. Aku disini." orang di belakang Natsu langsung berjalan keluar dari tempat persembunyiannya, dan menatap rindu anggota Guild Fairy Tail.
"Lucy Heartfilia masih hidup... Dan dia tengah berdiri disini.. Sekarang." lanjut Lucy.
Semua mata anggota Guild langsung melebar. Bagaikan di sambar petir, mereka hanya bisa diam mematung, berusaha memahami situasi yang sudah terjadi.
"Lucy? Jadi, kau masih hidup?" Mira menghampiri Lucy, diikuti Lisanna di belakangnya.
"Mira-san... Aku pulang." ucap Lucy sambil tersenyum lembut. Mira menutup mulutnya, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia segera memeluk gadis berambut pirang itu, dan menangis sekeras-kerasnya.
"Syukurlah! Syukurlah, oh tuhan!"
"Lucy... Syukurlah kau masih hidup. Kami semua merindukanmu." ucap Erza.
"Maaf, membuat kalian sedih atas berita kematianku." ucap Lucy dengan rasa bersalah. Tangisan semua anggota Guild akhirnya tumpah di saat itu juga.
"Ngomong-ngomong, Lucy. Kemana saja kau selama 2 tahun ini?" tanya Juvia ketika Lucy mendudukkan dirinya disamping wanita berambut biru itu. Lucy menoleh kearahnya dan berkata,
"Ceritanya cukup panjang. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." ucapnya sambil menggaruk pipi.
Natsu yang berada di sampingnya pun segera berkata, "Bagaimana kalau dimulai dari ketika kau yang tiba-tiba menghilang saat di serang oleh penyihir kegelapan itu?" tanya Natsu.
"Ah, benar juga. Baik, akan kuceritakan." Lucy membenarkan duduknya. Dia menoleh kesekeliling, dimana seluruh anggota Guil mengelilinginya untuk mendengarkan ceritanya.
"Oh iya, mana Master dan anggota Guild lainnya?" tanyanya.
"Master sedang pergi ke suatu tempat. Katanya ada keperluan penting. Lalu, anggota Guild lainnya sedang menjalankan Misi, Happy dan Carla sudah pulang dari tadi sore. Dan Wendy sedang bersama dengan Porlyusica-san." Jawab Mira.
Lucy hanya ber-oh panjang mendengarnya.
"Jadi, Luce? Bagaimana dengan ceritanya?" Tanya Natsu dengan tidak sabaran.
"Ah iya! Begini, sebelum serangan penyihir yang bernama Xenia itu mengenaiku, para Roh Bintang segera membawaku ke dunia mereka. Dan mengobati semua luka-lukaku serta membantuku mengembalikan semua sihirku yang terkuras habis akibat menggunakan Urano Metria dan menyembuhkan Natsu." jelas Lucy.
"Begitu, tapi kenapa bisa sampai 2 tahun bagimu untuk mengembalikan energi sihirmu?" tanya Cana.
Lucy segera menggeleng. "Tidak. Sebenarnya, aku cuma 7 hari di dunia Roh Bintang." jawab Lucy.
"EH?!"
"A-apa maksudnya itu?" Tanya Gray.
"Begini, perbandingan waktu di dunia Roh Bintang dan disini sangat berbeda. Satu hari di dunia Roh Bintang, sama saja 3 bulan disini." jawab Lucy.
Semua yang berada disana hanya bisa mangut-mangut mengerti.
"Begitu. Jadi, selama 7 hari disana sama dengan 2 tahun disini.. Sama sekali tidak terpikirkan olehku." ucap Erza.
"Sudahlah. Yang lebih penting, Luce sudah kembali lagi kesini!" ucap Natsu sambil merangkul Lucy.
"Natsu! Kau terlalu dekat!" ucap Lucy sambil berusaha melepaskan rangkulan tangan Natsu dengan wajah memerah.
"Kenapa? Bukankah tadi kau terlihat nyaman dalam pelukanku, Luce?" tanya Natsu dengan inocent.
Wajah Lucy tambah terbakar mendengarnya.
"Heee... Apa yang kalian berdua lakukan sebelum sampai ke Guild ini, huh?" tanya Sting.
"Sting?! Kenapa bisa ada disini? Ah, dan kenapa kau memiliki tanda Fairy Tail di lenganmu?" tanya Lucy syok.
"Dia sudah masuk ke Guild ini setahun yang lalu." jawab Lisanna sambil berdiri di samping Sting.
"Dan jangan lupakan Rogue dan Yukino juga." ucap Mira.
"Kami juga!" teriak dua Exceed yang merasa di lupakan dari atas meja. "Fro juga!"
"Hee.. Ternyata 2 tahun kepergianku, semuanya sudah berubah drastis, ya." ucap Lucy sambil menatap keselilingnya. Semua anggota Guild sudah punya pasangan mereka masing-masing.
"T-tunggu! Apa disini hanya aku yang belum punya pasangan?! Tidak! Ah iya, ada Erza yang selalu menemaniku jomblo!" ucap Lucy sambil memandang Erza.
"Sayangnya tidak, Lu-chan. Erza sudah bertunangan dengan Jellal." ucap Levy.
"Eh?! Lalu dimana Jellal?" tanya Lucy.
"Dia pulang ke apartementnya. Katanya ingin cepat-cepat tidur." jawab Erza dengan enteng.
"Lalu dimana Wendy, Gajeel, dan yang lainnya?"
"Mereka sedang menjalankan Misi, bukankahMira tadi sudah mengatakannya?" jawab Natsu.
"Hmm," gumam Lucy.
Mira langsung menyikut Natsu dengan tiba-tiba. Natsu meringis pelan sambil menoleh kearah Barmaid itu.
"Apa sih, Mira?"
"Nyatakan perasaanmu, dan cepat lamar Lucy! Sebelum ada yang merebutnya!" bisik Mira.
Natsu langsung tersentak ketika mendengar kata 'Merebut' dari Mira. Dan dengan cepat, dia segera meraih tangan Lucy dan menggenggamnya erat. Lucy segera menoleh kearah Natsu, dan menatapnya dengan terkejut.
"Na-natsu? Ada apa?" tanya Lucy.
"Lucy..." panggil Natsu.
"Y-ya?"
"Lucy... Aku.. Bolehkah aku..." ucap Natsu menggantung.
"Kau boleh apa?" tanya Lucy penasaran. Seluruh anggota Guild memandang mereka dengan tatapan tertarik.
"Bagus, Natsu! Lamarlah dia!" batin Mira.
"Cih, jadi Flame-head akan melamar Lucy, huh?" batin Gray.
"Ganbatte, Natsu!" batin Levy menyemangati.
"Lucy, bolehkah aku.. Aku.."
"Ya?"
"Bolehkah aku makan di apartemenmu malam ini?" tanya Natsu dengan watados. Sehingga membuat para anggota Guild yang dari tadi memandang mereka dengan tatapan seriuspun langsung gubrak berjama'ah di lantai.
"BAKA!"
"Wadow! Hey, apa-apaan kalian?!" protes Natsu sambil mengusap puncak kepalanya yang menjadi sasaran jitakan masal para anggota Guild.
"Kau bodoh, sih! Kirain mau ngelamar!" sahut Gray.
"Natsu, kau memang baka." ucap Lisanna.
"Benar.." Mira ikut menimpali sambil mengurut pelipisnya.
"Hah?" Natsu hanya menaikkan alisnya dengan bingung. Tapi, dia langsung mengangkat bahunya dan kembali beralih kepada Lucy.
"Luce.. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan sejak dulu. Maukah kau mendengarnya?" tanya Natsu.
Lucy tersenyum lalu mengangguk. Natsu menatap Lucy sejenak, lalu bicara dengan tegas.
"Menikahlah denganku!"
"Eh?" Lucy segera membulatkan matanya mendengar ucapan Natsu barusan. Wajahnya sontak merah padam dan dia segera menundukkan wajahnya.
"N-natsu... Aku.."
Natsu menatap Lucy dengan berkeringat dingin, begitu juga dengan Mira dan yang lainnya yang kini sudah kembali menatap dua orang itu dengan tatapan serius.
"Ya, aku mau menikah denganmu." jawab Lucy sambil tersenyum merona.
Natsu tersenyum mendengarnya, dan dia langsung memeluk tubuh Lucy yang kini sudah tidak di tutupi jubah hitam lagi. Dia bisa mendengar sorakan dari seluruh anggota Guild.
"Yay! Akhirnya!"
"Yokatta ne, Natsu!"
"Oi, Flame-head! Tunggu apa lagi? Cepat cium dia!"
"Ya, waktunya berciuman! Ayo cepat lakukan!"
"Ya! Aku ingin melihatnya!"
Natsu segera melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Gray dan yang lainnya.
"Enak saja! Aku tidak aka melakukannya di depan kalian semua! Bisa-bisa ciumannya sama sekali tidak terasa gara-gara mendengar sorakan kalian." sahut Natsu.
"Apa?! Jadi kau mau melakukannya di tempat sepi?"
"Natsu, kau memang laki-laki sejati!"
"Aku salut Natsu."
"Natsu, kau sudah bertambah dewasa rupanya."
"Benar. Kupikir selama ini kau hanya anak kecil yang polos yang terjebak dalam tubuh orang dewasa." ucap Macao.
"Hey!" protes Natsu.
"Sudahlah, Natsu." ucap Lucy sambil menenangkan Natsu. Natsu menoleh kearah Lucy, dan menunjukkan cengiran jahil. Diangkatnya tubuh Lucy, dan dia segera berlari keluar Guild. Tidak dihiraukannya teriakan kecewa para anggota Guild, yang diinginkannya sekarang adalah berduaan dengan Lucy.
"Natsu! Kemana kau akan membawaku pergi?" tanya Lucy.
"Ke apartemenmu. Tentu saja." jawab Natsu.
"Bodoh! Aku 'kan sudah tidak tinggal di apartemen lagi! Mungkin saja apartemen itu sudah disewakan kepada orang lain." ucap Lucy dengan jengkel. Tidak peduli berapa tahun usia Natsu bertambah, Natsu tetaplah Natsu. Otaknya sama seperti otak bawang.
Natsu segera menghentikan larinya, "Oh iya, ya." ucapnya dengan wajah minta dihajar.
"Dasar."
"Ya sudah, kalau begitu kau menginap di rumahku saja, sebentar lagi kau 'kan akan menjadi istriku! Tenang saja, rumahnya tidak berantakan 'kok! Aku selalu rajin membersikannya setiap minggu." ucap Natsu.
"Setiap minggu?" batin Lucy sambil membayangkan keadaan di rumah Natsu.
"Kalau begitu, ayo!" Natsu membalikkan badannya dan berlari kearah rumahnya.
"Tunggu, bagaimana dengan Happy?" tanya Lucy.
"Happy? Dia membangun rumah sendiri di dekat Fairy Hill bersama dengan Carla." jawab Natsu.
Lucy hanya ber-oh panjang. Kemudian dia mendongak keatas, menatap wajah tampan Natsu yang tengah tersenyum lebar. Dia ikut tersenyum lalu menyenderkan pipinya di dada bidang Natsu. Dicengkramnya baju Natsu dengan erat.
"Akhirnya.. Semua ini berakhir dengan bahagia juga."
TAMAT
AN : Yay! Akhirnya tamat! Maaf ya kalau chapter ini GaJe banget. Mau gimana lagi, author lagi buntu ide banget buat bikin adegan-adegannya. Oh iya, disini para anggota Sabertooth, yaitu Sting cs udah bergabung dengan Fairy Tail. Sting sendiri sudah bertunangan dengan Lisanna. Rogue menikah dengan Yukino, dan Mira menikah dengan Laxus. Erza sudah bertunangan dengan Jellal. Evegreen sudah menikah dengan Elfman dan kini sedang mengandung. Ah, pokoknya gitu deh. Mereka semua sudah dapat pasangan masing-masing. Cuma Natsu aja yang belum. Habis, sifat dinginnya yang melebihi suhu es nya Gray, beserta tatapan tajam matanya itu bikin para gadis pada takut buat deket-deket dengannya *plak!
Hehe, author mau ngucapin terima kasih buat para Reader yang udah bersedia baca, review, dan mem-favorit fic ini. Tanpa semangat dari kalian, mungkin fic ini gak bakal selesai dalam jangka waktu pendek. Lalu, kalau ada yang ingin ditanyakan tentang chapter ini, boleh silahkan di tulis di kotak review. Bagi yang login, author bakal jawab di PM. Terus bagi yang gak login, author bakal jawab di Fanfic author yang lain. Dan, setelah ini author mau fokus dulu ke fic author yang satunya, yaitu You're not Her Father! Jadi, belum bisa update fanfic terbaru, mungkin kalau oneshoot bisa.. Ya udah, gak usah banyak bacot. Bolehkah saya minta review dari para reader-chan sekalian?
Akhir kata, salam manis,
-Minako-chan Namikaze-
