"Mrs. Hyuuga"
Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto Sensei
Dan saya cuma pinjem karakter saja,
Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura
*Heyy aku suka pair ini*
Tapi di Cappy ini NaruSaku sedikit ambil porsi
Warning : Cerita berjalan sesuai moodku saja
*reader nurut aja yahhhh, plakkkk*
Genre : Romance & Family
*diusahakan happy ending, manggut-manggut*
"Diantara kamu dan dan dia entah siapa yang akan menempati porsi lebih banyak di hatiku"
"Aku harap kau bahagia, Sakura. Siapapun yang ada disisimu. Semoga dia lebih baik dari Uchiha Sasuke" gumam Ino pelan.
Chapter 3 : Siapa Pengganti Uchiha?
"Sudah lebih baik, Neji san" tanya Sakura saat ia selesai mengganti perban yang melilit tubuh Neji.
"A…, aku sudah jauh lebih baik sekarang. Bolehkah aku menerima misi dalam waktu dekat ini, Sakura?" Neji balik bertanya.
"Kau bosan?" Sakura mencoba menerka.
"Hm…. Begitulah!" sahut Neji sembari memakai kembali baju putihnya.
"Keadaan punggungmu yang mulai sembuh, kukira kau sudah bisa menerima misi dalam waktu dekat ini" jawab Sakura. Tiba-tiba Sakura teringat percakapannya dengan Ino di rumah sakit tadi.
"O iya, Neji san! Ano….!" Sakura sedikit ragu dan gugup. Mengigit bibir bawahnya, Hah… rasanya penyakit gugup Hinata menular pada Sakura.
"Ya?" Neji memasang wajah datar seperti biasa, hanya kali ini sedikit dahinya berkerut tanda penasaran apa yang akan dikatakan Sakura berikutnya.
"Lusa kan ada Festival kembang api, mau…. Ehemm maukah Neji san pergi kesana errrr…..Bersamaku?" entah kenapa Sakura nekat mengatakan hal tabu itu. Sakura makin menunduk seakan siap menerima penolakan dari sang Hyuuga. Namun apa yang ia dengar beberapa detik kemudian membuatnya tersentak kaget dan mendongakkan kepalanya.
"Hmm!" singkat Neji menjawab.
"Nani?" Sakura reflek meluncurkan kata itu. Jujur saja Sakura tidak dapat mengartikan gumaman Neji itu.
"…" Neji memandang Sakura heran.
"Ya" ujar Neji lagi.
Menyadari tatapan heran dari Neji, Sakura sedikit canggung.
"Ano…, arigato Neji san mau menerima ajakanku." Sakura kembali kikuk.
"Ah…. Aku ada urusan lain. Kalau begitu aku pamit dulu, Neji san!" Sakura pun langsung melesat pergi dengan terburu-buru. Seakan tidak mau Neji mendengar detak jantungnya yang mendadak tidak normal.
"Sakura" Neji bergumam pelan, senyum tipispun sedikit terpantri di wajahnya.
Entah kenapa Neji menggumamkan nama gadis itu.
~~~~0000~~~~
~Sakura Pov~
Baka baka baka…. Hah, bodohnya aku mengikuti saran Ino Pig. Neji pasti sangat heran dan menyangkaku aneh. Tapi…. Ahhhhh… kenapa jantung bodoh ini ikut berpacu cepat saat mendengar Neji menerima ajakanku. Mmmm…. Tunggu dulu apakah yang tadi itu ajakan kencan? Hah…..aku bahkan tidak berpikir sampai kesana. Pasti Neji menganggapku gadis yang agresif. Entahlah….. memikirkannya membuatku semakin gugup untuk bertemu dengan Neji lagi.
"SAKURA CHAN!"
Greattt…. Siapa orang yang dengan sangat lantangnya menyuarakan namaku. Membuatku tersentak kaget. Kuedarkan mataku dan tepat di depan sana mataku menangkap sosok dengan rambut pirang.
"Naruto" gumamku sambil menyipitkan mataku untuk memastikan sosok yang tergambar di depan sana. Hah… sinar matahari membuatku silau.
Sosok rambut pirang itupun mendekatiku dengan langkah lincahnya. Hah…. Semangat sekali dia itu.
"Kau darimana, Sakura chan?" tanyanya tepat ketika langkahnya terhenti satu meter di depanku.
"Aku habis memeriksa keadaan Neji san. Kau sendiri mau kemana, Naruto?" tanyaku balik.
"Kau sudah makan siang, Sakura chan?" bukannya menjawab pertanyaanku, si pirang itu malah balik bertanya padaku.
"A…. belum, Naruto. Kenapa? Mau mengajakku makan, eh?" jawabku dengan senyuman jahil.
"Wow….. kau memang pintar, Sakura chan…. Tau saja kalau aku ingin mengajakmu kencan. Hehehehe….!" Ujarnya sambil menggaruk belakang kepalanya dan tertawa kikuk.
"Hey….. Kencan? Ini bukan kencan, Naruto. Makan siang bersama, eh!" sahutku sambil menahan tawa renyahku. Hah… bocah ini tak pernah patah semangat untuk mengajakku kencan.
"Ah…. Sakura chan. Ini sama saja dengan kencan. Seorang pria dan wanita muda makan bersama itu namanya kencan!" Naruto mulai melancarkan kata-kata yang sesuai dengan persepsinya.
"Hah… terserah kau saja lah, Naruto. Aku lapar!" ujarku pasrah sambil menarik Naruto menuju kedai Ichiraku yang ada beberapa meter di samping kananku. Tanpa kusadari kalau wajah pria yang kutarik tangannya ini tengah memerah seperti kepiting rebus.
~Naruto Pov~
Dag dig dug dag dig dug….. hahh….. jantungku ini seperti mau meledak. Hah….. Akhirnya Sakura chan mau menerima ajakan kencanku. Yesss…. Hatiku rasanya ingin meloncat saja saat dia mau menerima ajakanku. Padahal kepalaku ini sudah siap menerima jitakan tangan monsternya itu.
Dan hey….. tangannya begitu lembut menggenggam tanganku, membuat wajahku memerah seperti pantat monyet err…..*sepertinya perumpamaan yang aku pakai sedikit tidak enak didengar. Oke aku ganti wajahku memerah seperti buah tomat kesukaan teme. Haahhh menghela nafas, aku benar-benar bahagia. Lamunanku pun terus terbang ke awan. Tinggi-tinggi hingga…..
Jedukkkkkkk… What the …
"Aw….." jeritku tertahan saat mendapati rasa sakit di sekitar jidatku. Terlalu asik melamun hingga aku tak menyadari bahwa tenda depan Kedai Ichiraku sedikit lebih rendah dari tinggi tubuhku. Alhasil jidatku yang mulus ini bersentukan dengan pilar tenda warna putih milik Paman Teuchi.
"Kau tidak apa-apa, Naruto?" tanya gadis pink yang selalu mengisi ruang hatiku ini khawatir. Tangannya menyentuh lembut jidatku. Aku memejamkan mata menikmati sentuhannya.
"Hey, Naruto baka! Kau tidak apa-apa?" ulangnya sambil berteriak di depan wajahku.
"Iee… aku tidak apa-apa, hanya sedikit berkunang-kunang!" sahutku sambil menyentuh jidatku. Dan aku menemukan tangan mungil masih bertengger di sana. Dapat kulihat cakra hijau menguar dari tangan lembut itu.
"Sudah baikkan?" tanyanya. Aku hanya mengangguk pelan. Jujur saja jantungku benar-benar meloncat-loncat kegirangan.
"Duduklah, Naruto. Kepalamu pasti pening!" si merah muda itupun kembali menarik tanganku menuju sebuah bangku kosong tak jauh dari kami berdiri. Entah kenapa hari ini Sakura bersikap begitu lembut padaku. Ah….. senangnya akhirnya harapanku semakin terbuka lebar.
"Kau mau pesan apa, Naruto!" Ah… suara lembutnya membuyarkan lamunan indahku.
"Seperti biasa, Ramen jumbo ya, Paman!" seruku saat Paman Teuchi menghampiri meja kami.
"Aku mie Miso saja, Paman. Dan segelas Ocha hangat" Sakura menyebut pesanannya.
"Baiklah, tunggu sebentar yah!" ujar Paman Teuchi sambil menuju dapur untuk menyiapkan pesanan.
"Sakura chan, tumben sekali hari ini kau begitu lembut padaku?"tanyaku takut. Jujur saja rasa penasaranku mengalahkan rasa takutku.
"Kau tidak suka Naruto? Ya sudah" sahutnya sembari mengepalkan tangannya. Wow….. sepertinya tangan monster itu akan mendarat di kepalaku.
"Anoo….., bukan begitu. Hanya saja aku heran!" aku berusaha menurunkan tangannya.
"Entahlah Naruto, mungkin hari ini moodku lagi baik!"sahutnya sambil tertawa kecil. Deg….. sudah lama aku tak melihat tawa renyahnya.
"Harusnya kau bahagia, Naruto. Hari ini kepalamu selamat dari jitakanku" lanjutnya sambil melanjutkan tawanya. Oh… Kamisama…. Jagalah tawanya itu. Lelah aku melihatnya murung dan menangis.
"Oh iya, Sakura chan. Pesta Kembang api lusa maukan kau pergi denganku!" shittt aku semakin berani mengajaknya pergi. Kulihat dia menhentikan tawanya lalu tersenyum manis sekali padaku.
"Hah…. Maaf Naruto. Sepertinya aku tidak bisa. Aku terlanjur mengajak Neji san" ucapnya malu. Hey…. Apa katanya mengajak Neji? Apa aku tidak salah dengar. Sepertinya ada yang tidak pas di sini.
"Ano…. Ino memaksaku untuk mengajak Neji san. Hah…. Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak menuruti kemauannya telingaku akan panas dalam seminggu ke depan!" ujarnya sambil memonyongkan bibir tipisnya.
"Oh…." Aku menghela nafas kecewa.
"Oh iya, Naruto!" dia kembali mengeluarkan suara cemprengnya.
"Kenapa kau tidak mengajak Hinata chan saja!" sarannya sambil mengedip-edipkan mata. Entah apa maksudnya.
"A… ya, aku akan coba mengajaknya!" sahutku pasrah. Hah… padahal aku berharap bisa pergi denganmu Sakura chan.
"Pesanan datang!" teriak Paman Teuchi sambil meletakan mie pesanan di meja.
"Itadakimasu" ujarku sambil sesekali mengajak gadis merah muda itu bertukar cerita yang dilaluinya hari ini.
~ End Naruto pov~
~~~~0000~~~~
"Ino…..! apa ini tidak terlalu berlebihan? Maksudku kenapa aku harus memakai yukatta ini?" tanya Sakura dari ruang ganti di salah satu butik langganan Ino, Sakura memandang pantulan dirinya di cermin.
"Dicoba dulu jidat sayanggg!" sahut Ino sambil terus memilih-milih baju lainnya.
Mau tak mau Sakura menurut dan mencoba yukatta yang tadi telah dipilihkan Ino. Yukatta berwarna merah darah dengan obi warna biru tua dan sedikit motif bunga lily putih disana, cukup mencolok perpaduan warnanya namun yukatta itu tergolong indah.
"Ino, bagaimana aku? Apa tidak aneh?" Sakura keluar dari ruang ganti.
"Jidattttt…. Dengan sangat menyesal aku katakan kalau kau sangat cantik. Dan hey… kau harus ingat satu hal bahwa seorang Yamanaka Ino tidak akan pernah salah dalam memilih fashion, Ok!"
"Hah….. terserah kau saja lah Ino!" Sakura menghela nafas pasrah.
"Mm….." Ino terlihat berpikir sejenak, memutari tubuh Sakura sambil sesekali melempar pandang kearah deretan aksesoris rambut. Tak lama kemudian Ino menuju tempat aksesoris dan mengambil salah satu kanzashi warna merah marun dengan aksen bunga sakura sebagai pemanisnya. Dengan segera Ino meraih rambut sepunggung Sakura, menggelungnya setengah dan menyematkan kanzashi yang tadi diambilnya. Setengah rambutnya lagi dibiarkan tergerai.
"Nah… kalau begini aku yakin pasti Neji akan terpesona padamu, Jidat!" Ino mulai mengeluarkan argumennya.
"Kau ada-ada saja, Ino! Pendapatmu itu terlalu tidak masuk akal. Mana mungkin Neji san terpesona pada gadis sepertiku" ujar Sakura sambil melenggang kembali ke ruang ganti untuk melepas yukatta yang baru saja dicobanya.
"Hey, jidattt. Percayalah padaku! Tenang saja, malam festival nanti aku akan merias wajahmu secantik mungkin" ujar Ino yakin.
Beberapa menit kemudian Sakura keluar dari ruang ganti dan menarik tangan Ino untuk segera menuju tempat kasir dan membayar semua belanjaannya.
"Ayo, Ino! Aku lelah. Ternyata belanja bersamamu membuatku kehilangan tenaga hampir sama seperti menyembuhkan sepuluh orang sakit!" Sakura terkikik geli ketika Ino memasang tampang cemberut.
"Ah…. Kau ini jidattt, ini belum seberapa tau!" Ino mencubit pipi Sakura gemas lalu berlari.
"INO BUTA!" Sakura mengejar Ino dengan kepalan di tangannya.
~~~~0000~~~~
Di taman belakang kediaman Hyuuga, tampak Neji sedang asik duduk memandangi kolam ikan di depannya. Terlalu menikmati angin sore Konohagakure yang lembut menerpa wajahnya. Tanpa ia sadari sesosok gadis manis tengah memperhatikannya dari balik pintu belakang. Gadis itu lalu menghampiri sang jenius Hyuuga dengan langkah pelan.
"Neji Nii…!" gadis itu memanggil sang Hyuuga. Sedikit tersentak dari lamunannya, Neji menolehkan kepalanya ke sumber suara. Sedikit terkejut melihat sepupunya, Hyuuga Hinata berdiri tah jauh dari batu yang menjadi tempat duduknya. Menggeser tubuhnya, menyisakan sedikit ruang untuk tempat duduk sepupunya itu. Gadis itu pun duduk dengan manisnya.
"Mm… apakah lukamu sudah membaik Neji nii?" tanya Hinata sambil memandang punggung Neji. Neji memegang punggungnya sebentar. Memastikan apakah sentuhan tangannya masih menimbulkan rasa sakit dipunggungnya atau tidak.
"Kurasa lukaku sudah sembuh, Hinata. Berkat Sakura!" entah kenapa saat menyebut nama Sakura terlukis senyum kecil di bibir Neji. Mata Hinata sedikit menangkap senyum itu. Hinata pun ikut tersenyum.
"Aa… Yokatta! Sakura chan memang handal dalam menangani pasiennya. Benar-benar wanita yang mengagumkam. Pantas saja Naruto kun tak pernah berhenti mengejarnya!"diakhir kalimat Hinata terselip nada pilu. Hinata kemudian menunduk. Neji memandang Hinata sekilas lalu kembali melempar pandang ke arah depan.
"Aa.. Sakura memang hebat!" Neji mengiyakan. Tanpa ia sadari ia kembali memegang punggungnya. Kembali meresapi sentuhan tangan sang kunoichi merah muda itu.
"Ah iya, besok malam ada festival kembang api. Neji nii berminat ke sana kah?" tanya Hinata tiba-tiba.
"Aa…, aku ke sana. Sakura mengajakku!" sahut Neji. Dan alhasil membuat Hinata tersentak kaget. Ia kira sepupunya ini tidak akan pernah tertarik dengan hal-hal yang berbau keramaian. Tadinya Hinata berniat mengajak sepupunya itu ke sana bersamanya. Namun sepertinya ia harus mengajak yang lain. Tunggu, tadi Neji bilang kalau Sakura chan yang mengajaknya, apa benar? Hinata sedikit tidak mempercayai pendengarannya.
"Sa….Sakura chan mengajak Neji nii?" ulang Hinata lagi, memastikan pendengarannya. Ia kira Sakura akan pergi bersama Naruto.
"Aa" sahut Neji pelan. Hinata tersenyum.
"Langit sudah gelap, Neji nii. Mari masuk! Angin sore tak baik buat kesehatan!" ajak Hinata sambil beranjak dari duduknya.
Neji mengangguk dan mengikuti langkah Hinata masuk ke dalam rumah megah Hyuuga.
~~~~~0000~~~~~
Huaaaa…. Cappy ini sedikit galau aku bikinnya…..
Gomen kalau sedikit ga jelas
Arigato buat yang sudi mampir ke fic abal-abalku ini
