"Hyuuga Haruno"

Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto Sensei

Dan saya cuma pinjem karakter saja,

Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura

*Heyy aku suka pair ini*

Warning : Cerita berjalan sesuai moodku saja

*reader nurut aja yahhhh, plakkkk*

Genre : Romance & Family

*diusahakan happy ending, manggut-manggut*

"Aku menyukaimu sekadarnya, tidak berlebih dan tidak kurang"

Chapter 4 : "Festival Kembang Api, Sakura"

~At Apartement Sakura

"JIDATTT….!" Suara Ino terdengar bahkan dari jarak seratus meter dari apartement Sakura.

"Buka pintunya, JIDAT!" lagi lengkingan suara si Nona Yamanaka terdengar, namun kali ini disertai gedoran pintu.

"Tunggu sebentar, PIG….!" Sahut Sakura yang masih berbalut yukatta mandi. Dengan segera ia membukakan pintu untuk Ino.

"Lama sekali, kau sedang apa sih?" Ino langsung masuk apartement Sakura dan menuju lemari pakaian.

Belum sempat Sakura menjawab, suara Ino mulai terdengar lagi.

"Kau simpan di mana yukatta yang kau beli kemarin?" ujar Ino sambil mengobrak-abrik tumpukan pakaian Sakura yang terlipat rapi di lemari.

"Laci nomor dua, Ino" Sakura menyahut pasrah dan duduk di pinggir ranjangnya. Memperhatikan Ino yang sibuk mencari yukattanya. Sepertinya Sakura harus bersiap-siap untuk pasrah mengikuti apa yang akan dilakukan Ino selanjutnya. Ah… sepertinya Ino sudah menemukan apa yang dicarinya. Ia mendelik kearah Sakura yang hanya tersenyum kecil ke arahnya.

"Kenapa kau diam saja, Saku? Cepat pakai ini. Festival kembang api akan di mulai sebentar lagi! Dan kau tidak boleh menolak apa yang akan aku lakukan padamu!" ancamnya. Ah, sepertinya Sakura baru menyadari kalau Ino sudah memakai yukatta warna ungu yang dia tunjukkan kemarin.

"Masih setengah jam lagi Ino." Sahut Sakura sambil memakai yukattanya.

"Dasar baka, setengah jam itu aku butuh untuk membuatmu tampil sempurna di hadapan Neji!" Ino mulai mengeluarkan alat-alat kosmetiknya. Dan Sakura hanya menghela nafas pasrah.

~~~~0000~~~~

~ At Kediaman Hyuuga

Neji dengan berbalut yukatta berwarna biru dongker tengah mematut diri di depan sebuah cermin dengan ukiran lambang Hyuuga. Terlalu focus memandangi pantulan dirinya yang tampan, hingga dia tak menyadari kalau sedari tadi sang Nona sulung Hyuuga berdiri di pintu kamar Neji yang terbuka.

"Neji nii, sudah tampan" ujar Hinata sambil tersenyum geli. Neji sedikit tersentak kaget. Melirik kearah Hinata dengan tatapan datar.

"Aa.." sahutnya

"Belum berangkat ke Festival kembang api?" tanya Hinata sembari duduk di pinggir ranjang sang Hyuuga tampan itu.

"Kau sendiri? Naruto belum menjemputmu?" bukannya menjawab, Neji malah balik bertanya.

"Hai, Naruto kun belum datang. Mungkin sebentar lagi" jawab Hinata

"Aa… bukankah lebih baik Neji nii berangkat sekarang. Tidak baik loh membuat wanita menunggu terlalu lama." Lanjutnya.

"Aa…., aku berangkat, Hinata" ujar Neji sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kediaman Hyuuga.

"Hai, Neji nii" sahut Hinata sembari mengikuti langkah Neji, mengantar kepergian sepupunya sampai gerbang depan.

Sesampainya mereka di depan gerbang kediaman Hyuuga, Neji berpapasan dengan Naruto. Menatap datar Naruto dan tanpa menyapa Naruto, Neji langsung berlalu pergi. Naruto hanya menghela nafas pasrah, maklum akan ketidakramahan Hyuuga tampan itu.

"Na.. ruto kun" sapa Hinata di ambang pintu.

"Ahh… Hinata chan, sudah siap?" tanya Naruto.

"I… yaaa, Naruto kun" balas Hinata sembari menghampiri Naruto.

"Hiashi sama ada di dalam, Hinata chan?" tanya Naruto lagi.

"Aaa.. Tousan sedang ada misi, Naruto kun"

"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!" ajak Naruto sembari menggapai tangan Hinata. Tanpa ia sadari bahwa pemilik tangan yang digenggamnya tengah memerah wajahnya.

~~~~0000~~~~

~At Apartement Sakura

"Nah… selesai, kau benar-benar cantik, Jidatttt" ujar Ino puas dengan hasil make overnya.

"Aku yakin, Neji pasti akan terpesona, eh!" Ino memamerkan senyum manisnya. Namun senyum itu terlihat mengerikan bagi Sakura.

"Hentikan senyumanmu itu, Pig. Wajahmu terlihat mengerikan" canda Sakura.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, Ino bergegas menuju pintu dan membukanya. Tak terkejut ia mendapati Sai tengah tersenyum manis di balik pintu.

"Siapa, Pig?" tanya Sakura sembari menghampiri Ino.

"Malam, Sakura san" sapa Sai.

"Ah.. ternyata kau, Sai. Menjemput Ino, eh!" tanya Sakura sambil menyeringgai.

"Hai" angguk Sai.

"Jidattt, aku duluan yahh…. Semoga si Hyuuga itu tidak membiarkan dirimu menunggu terlalu lama dan membuat make up hasil tanganku luntur. Awas saja kalau itu terjadi.!" Pamit Ino sembari mengapit tangan Sai.

"Kami duluan, Sakura san!" pamit Sai.

Mereka pun berlalu pergi. Tinggallah Sakura yang tengah duduk di pinggir ranjangnya menanti kedatangan Hyuuga.

~Sakura Pov

Kenapa Neji san lama sekali, atau jangan-jangan dia mengurungkan niatnya pergi bersamaku. Atau malah sakitnya kambuh. Ah…. Menunggu memang benar-benar sangat membosankan. Sepertinya aku harus setuju dengan pendapat Sasori san yang tidak suka menunggu. Mendadak aku teringat awal pertama aku bertemu dengannya. Ah tepatnya bertarung dengannya. Dia memang sangat menyebalkan. Semoga arwahnya diterima Kamisama.

Kulangkahkan kakiku menuju jendela dan sedikit kubuka tirainya untuk melihat jalan yang tepat berada dibawah apartementku. Berharap kutemukan sosok si rambut coklat panjang yang telah membuat kakiku pegal bukan main. Hufff.. sepertinya memang dia tak jadi kemari. Aku kembali menghempaskan tubuhku di ranjang empukku. Hingga aku sedikit tersentak mendengar suara ketukan pintu.

Astaga….. kenapa jantungku malah berdegup kencang. Dag dig dug… Hufff.. tarik nafas Sakura…. Keluarkan… tarik lagi… Setelah nafasku mulai normal aku beranikan diri untuk menuju pintu dan membukanya. Besar harapanku untuk menemukan sosok Hyuuga itu dibalik pintu. Dan kutemukan sosok itu tengah berdiri dengan wajah datarnya. Menatapku tanpa mengeluarkan satu kata pun. Dingin sekali Hyuuga ini.

"Neji san" akhirnya aku beranikan diri untuk memecah keheningan.

"A.." Neji menyahut dengan ambigu.

Ya Tuhan, kenapa cuma dengungan kecil yang keluar. Hyuuga! Benar-benar yah. Innerku mulai berteriak. Sabar Sakura sabar….

"Kita pergi sekarang?" tanyaku tak sabar.

"Hai" sahutnya sembari membalikkan badan dan mulai berjalan. Aku pun mengunci pintu apartement dan membututi langkahnya dengan agak tergesa-gesa. Sial… yukatta ini mengganggu jalanku. Neji sedikit memelankan langkahnya ketika menyadari kalau aku kesulitan menyamakan langkah dengannya.

"Gomen" ujarnya lirih. Aku memandang Neji tak mengerti.

"Kau kesulitan berjalan?" tanyanya memandang ujung yukkataku yang panjangnya hampir menyentuh tanah. Ah.. akhirnya aku mengerti kenapa dia meminta maaf.

"Ano… Aku hanya sedikit tidak terbiasa memakai yukatta. Kau tau kan selama ini aku hanya memakai rok pendek dan sepatu ninja. Aku tersenyum miris. Ya ya.. selama ini aku bahkan tidak pernah berminat pergi ke Festival desa dan melihat pesta kembang api. Itu karena….. huff aku tak pernah berhasil mengajak Sasuke kun pergi. Dan semenjak dia memutuskan meninggalkan desa, aku sama sekali tidak berminat pergi dengan siapapun. Hatiku hidup karenanya, dan hati ini mati tanpanya. Tanpa kusadari kalau sedari tadi Neji memandangku heran.

"Doijubu, Sakura?" tanyanya. Aku tersadar dari lamunan panjangku.

"Kalau kau sakit, lebih baik kita tak usah pergi?" tawarnya.

"Ah.. aku tidak apa-apa, Neji san!" elakku. Entah kenapa wajahku sedikit menghangat mendengar pertanyaannya.

"A.."

Kami pun kembali berjalan pada keheningan. Hanya terdengar suara langkah kali yang saling bersahutan. Tanpa terasa akhirnya kami sampai di tempat Festival itu diadakan. Wuihh.. ramai sekali. Ku lihat beberapa Shinobi dan Kunoichi yang tertawa renyah dengan pasangannya. Ah… terlihat beberapa pasangan tengah asik bermain menangkap ikan, sepertinya kau sedikit tertarik mencoba. Namun, ah.. Neji san pasti tak akan mau. Mataku terus saja memandangi stand itu. Hingga tanpa sadar seseorang tengah menarik tanganku dan membimbingku untuk mendekati stand tersebut. Aku menatap tak percaya orang yang telah dengan beraninya mengusik lamunanku.

"Neji san?" cicitku.

"Sepertinya kau terlihat tertarik untuk mencoba" ujarnya. Sekilas kulihat dia tersenyum tipis.

"Hai, arigato!"

"Paman aku mau jaringnya" teriakku lantang saat sampai di tempat penangkapan ikan itu.

"Neji san kau mau mencoba juga?" aku memberikan satu jaring padanya. Dan dia menerimanya dan mulai mencoba. Kulihat gerakannya begitu kikuk. Sepertinya ini baru pertama kalinya dia bermain. Aku pun terus berusaha mengejar ikan-ikan yang berlalu lalang. Lagi dan lagi, aku gagal. Jaringku selalu robek sebelum ikannya tertangkap. Akhirnya aku pun menyerah, jaringku sudah habis namun tak satupun ikan yang aku dapat. Kulirik sosok pria di sebelah yang masih serius menangkap ikan. Kulihat wadahnya terisi satu, dua, ah.. lima ikan ia sudah berhasil didapat. Dasar jenius. Aku pun tertarik untuk menyemangatinya.

"Neji, itu tangkap ikan merah itu.. yaa. Yaa terus kejar. Sedikit lagi sedikit lagi. Yaaaahhhh" teriakku kecewa saat melihat Neji tak berhasil menangkap ikan merah itu. Neji mendesah kecil, yahh… sepertinya dia juga sedikit kecewa.

"Neji san hebat, aku sama sekali tidak dapat ikannya" ujarku kecewa.

"Ah… mau ditukar dengan hadiah apa, Neji san?" tanyaku. Dia sedikit berpikir, kulihat dahinya sedikit dikerutkan.

"Kau mau apa?" dia malah bertanya padaku.

"Bolehkan?" tanyaku heran.

".." Neji hanya mengangguk.

"Paman, boleh kutukar ikannya dengan gelang itu?" aku memanggil sang pemilik dan menunjuk gelang dengan motif bunga sakura disekilingnya.

"Aa…. Gelang ini cocok denganmu, Nona. Terima lah" ujar sang pemilik stand dan memberikan gelang itu padaku. Saat aku sedang memakai gelang itu tiba-tiba terdengar suara ledakan besar sekitar 300 meter dari tempatku berdiri….

"Kyaaaaaaaaaa kyaaaaaaaaaa…." Mulai terdengar teriakan-teriakan panic penduduk desa. Sepertinya telah terjadi penyerangan dadakan di sini.

"Sakura, selamatkan penduduk desa. Bawalah mereka ke tempat yang aman. Aku akan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi!" perintah Neji. Sejujurnya aku ingin ikut kesana. Namun menyadari kalau pakaianku ini tidak mendukung, akhirnya aku hanya bisa mengangguk setuju dengan keputusan Neji.

"Hai" aku mengangguk setuju. Neji pun langsung melesat pergi. Aku pun segera membawa para penduduk desa ke tempat yang jauh dan aman dari sini.

Aku terus berteriak menyuruh penduduk desa untuk lari, tiba-tiba mataku menangkap sesosok pria dengan pakaian berwarna putih tengah memandangi kami, ah tepatnya memandang ke arahku. Aku mengenalinya, Kamisama… dia….. dia…..

~ End Sakura Pov

~~~~0000~~~~

"Neji, dimana Sakura chan?" tanya Naruto saat Neji sampai di tempat kejadian keributan. Neji memandang Naruto sekilas kemudian menatap tanah di depannya yang retak-retak. Terlihat beberapa Anbu tengah bersiaga dan mencari sang pelaku.

"A.. Dia mengamankan penduduk. Kau…" Neji terlihat berpikir

"Dimana Hinata?" lanjutnya

"Dia juga kusuruh untuk membawa penduduk yang sedikit terluka akibat ledakan itu." Sahut Naruto.

"Hn… Sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Neji.

"Entahlah, tiba-tiba terjadi ledakan tanpa ada bekas sang pelaku peledakan itu. Aku khawatir ledakan ini hanya modus untuk mengalihkan perhatian. Atau memang kerjaan orang iseng. Karena tidak ada tanda-tanda penyusup" jawab Naruto.

"A.."

~~~~0000~~~~~

TBC

Huwaaa… jujur, baru sempet lanjut update lagi…

Ide buntu pisan euy…. Apalagi di kantor lagi banyak kerjaan.

Emm…. Rencananya mau bikin Fic lagi nih…

Padahal fic ini masih belum kelar. Entah sampai kapan.

Happy reading