"Hyuuga Haruno"

Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto Sensei

Dan saya cuma pinjem karakter saja,

Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura

Slight SasuSaku

Warning : Cerita berjalan sesuai moodku saja

*Mungkin di Chapter ini Sakura mulai galau akan perasaannya*

Genre : Romance & Family

*diusahakan happy ending, manggut-manggut*

"Bagaimana bisa melupakan, saat aku mulai menerima kehadiran dia, kau malah datang?"

Chapter 5 : "Keputusan Sakura"

Aku terus berteriak menyuruh penduduk desa untuk lari, tiba-tiba mataku menangkap sesosok pria dengan pakaian berwarna putih tengah memandangi kami, ah tepatnya memandang ke arahku. Aku mengenalinya, Kamisama… dia….. dia…..

~Sakura Pov

"Sasuke kun….." gumamku pelan bahkan sangat pelan saat kulihat dirinya memandang tajam ke arahku. Dia tidak berubah, tetap mempesona seperti dulu. Hanya pakaiannya saja yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Aku bergegas menyuruh penduduk untuk mengamankan diri. Setelah yakin semua penduduk sudah berada pergi dari sini beralih ke tempat aman yang aku tunjukkan, aku pun mulai menghampiri sosok itu. Jujur saja, aku kesulitan bernafas, bingung dengan perasaan yang kurasakan sekarang. Antara bahagia, sedih, atau kecewa. Langkahku terasa amat berat, berlahan aku mendekatinya. Dia tetap tidak bergeming, tetap menatapku, seakan menungguku. 'Kamisama, bolehkah aku berharap lagi?'. Tiga langkah lagi, dua langkah lagi, dan satu langkah lagi. Aku menghitung mundur jarak antara aku dan dirinya. Kini dia tepat berada satu langkah di depanku. Mata kami bertemu. Lama kami hanya berpandangan tanpa ada yang berniat membuka suara. Aku tak mampu, Kamisama…aku sakit melihatnya. 'Benar-benar sakit'.

"Apa kabar, Sakura?" suara itu, masih tetap sama saat aku masih genin dulu. Suara yang selama ini membuatku tak bisa tidur.

"A..aku, aku baik-baik saja, Sasuke kun. Kamu apa kabar?" Aku memandang wajahnya. Lalu menunduk. Aku tak sanggup, aku takut… Terlalu takut mengharapkannya lagi.

"Hn," sahutnya. Tetap sama, sampai sekarang aku tak pernah memahami arti 'Hn' yang terucap dari bibirnya itu.

"Kau yang membuat kekacauan ini kan, Sasuke kun?" tembakku langsung. Yah…. Aku yakin pasti kekacauan ini ada hubungannya dengan dia.

"Hn,"

"Untuk apa? Ke…..napa?" tanyaku beruntun. Dia hanya menyeringai dan menatap sinis ke arahku. Kepalingkan wajahku berlawanan dengan arah matanya. Aku memilih menatap hamparan tanah luas di sekelilingku. 'Sungguh' Aku tak sanggup melihatnya tersenyum puas seperti itu. Kamisama, kukira dia akan kembali. Hatiku teriris perih

"Kalau sudah tau jawabannya, kenapa malah bertanya, eh?"

"Konoha yang menyebabkan semua klanku mati! Konoha yang membuatku membenci Itachi dan berniat membunuhnya selama ini. Kau tidak tahu kan bagaimana perasaanku saat aku mengetahui kebenarannya?. Aku bersumpah untuk membalaskan dendam Uchiha. Menghancurkan Konoha seperti mereka memporak-porandakan keluargaku," ujarnya seraya memandang hamparan tanah Konoha. Jujur aku sangat rindu suara itu. Dulu aku sangat berharap dia mengucapkan kalimat panjang. 'NAMUN' bukan kalimat seperti ini. Aku semakin menatap tak percaya padanya. 'Kamisama, apa yang harus aku lakukan'. Aku tak bisa membiarkannya berbuat seperti itu. 'Sungguh, aku masih menyayanginya'.

"Sasuke kun… Kumohon jangan dibutakan oleh dendam. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Kumohon lupakan dendammu itu dan kembalilah ke Konoha. Kembali ke Tim tujuh. Aku…. a… Kami merindukanmu!" mohonku. Kulirik wajahnya, tetap sama. Ekspresinya tetap datar tak terpengaruh sama sekali akan kata-kataku.

"Hn, kau masih sama seperti dulu. Merepotkan." Dia berbalik membelakangiku, berjalan dengan berlahan. Seperti dulu saat dia pertama kali memutuskan untuk meninggalkan Konoha. Memori itu terus menerus berputar dalam otakku. Aku sudah tahu akhirnya. Tapi bolehkan aku berharap akhir yang lain, 'Kamisama'.

"Kumohon! Hiks… hiks…. Kembalilah" aku terinsak perih. Aku menunduk menangis. Berlahan air mataku mulai membasahi tanah yang kuinjak. Langkah demi langkahnya terdengar seiring semakin derasnya bulir-bulir air mata yang jatuh dari mataku. Kudengar langkahnya berhenti. Aku mendongakkan kepalaku. Tiba-tiba angin berhembus membuat daun-daun pohon rindang di sekelilingku bergoyang bahkan ada yang berguguran jatuh di kepalaku. 'Wush' aku merasakan seseorang tiba-tiba hadir belakangku. Seseorang yang awalnya berada di depanku. Aku menangis perih. Dan terjadi lagi, sesuatu yang lembut menyentuh dan memukul tengkukku berlahan. Aku tersentak kaget. Lemah aku berusaha menoleh kebelakang, kulihat sosok itu tersenyum tipis. Samar-samar kudengar kata 'Gomen' dari bibirnya, hingga kesadaranku hilang sepenuhnya.

~~~~0000~~~~

"Sakura," nama itu berulang kali Neji gumamkan. Entah kenapa sejak ia meninggalkan Sakura dan berlari ke tempat terjadinya ledakan perasaan was-was terus saja menghantui pikiran Sang Hyuuga tampan itu. Apalagi ketika ia mendengar dari salah satu anbu yang berjaga di depan gerbang mengatakan bahwa ia melihat sosok yang dicurigai menyebabkan kekacauan ini mirip dengan sang Uchiha bungsu. Entah dirinya mau percaya atau tidak, namun tetap saja ia merasa khawatir. Apalagi saat dia sampai di tempat ledakan, ia dan Naruto tidak menemukan siapa-siapa. 'Apa sosok itu menemui gadis itu?' pertanyaan itu selalu muncul di otak jenius Neji. Entah kenapa memikirkan kemungkinan yang tiba-tiba terlintas di kepalanya membuatnya semakin gelisah.

"Naruto, aku ada perlu sebentar. Kau lanjutkan saja penyelidikan penyebab ledakan ini." Tak tahan dengan rasa penasarannya, Neji memutuskan untuk mencari gadis itu. Meninggalkan Naruto dan beberapa anbu yang sedang membereskan runtuhan akibat ledakan yang terjadi beberapa menit yang lalu.

Neji melangkahkan kakinya cepat, ingin segera menemukan gadis itu. Pertama, Neji kembali ke tempat stand penangkapan ikan, namun yang dijumpainya hanya stand yang sudah kosong tanpa ada seorangpun di sana, matanya mengintari stand-stand yang ada di sana. Ia berlari menuju tempat pengamanan penduduk. Lagi, ia tidak menemukan gadis merah muda itu. Ia hanya menemukan sosok Ino, dan sepupunya Hinata tengah mengobati beberapa penduduk yang terluka. Perasaan cemas makin menghantui pikiran Neji. 'Kemana Sakura?'. 'Apa dia pulang ke apartementnya?' 'Tidak mungkin'. Neji langsung menepis kemungkinan yang baru saja terlintas di otaknya. Tiba-tiba ia teringat suatu tempat yang jadi kemungkinan terakhir. Lapangan yang seharusnya jadi tempat festival kembang api. 'Mungkinkah dia di sana?'. Neji langsung berbalik menuju tempat yang terakhir terlintas di otaknya.

Benar saja, ia menemukan sosok yang sedari tadi ia cari tengah tergeletak tak sadarkan diri di tengah hamparan rumput. Ia langsung berlari menuju gadis itu berada. 'Apa yang sebenarnya telah terjadi padanya?' Menyentuh lembut dahi lebar gadis itu, menyisihkan beberapa helai rambutnya yang lengket akibat peluh yang berasal dari wajahnya. Menempatkan kepala merah muda itu ke pahanya. Neji sangat cemas. Apalagi ketika ia merasakan cakra seseorang yang tak asing baginya, Uchiha Sasuke. Yah…. Tak salah lagi, ini cakra Sasuke. Ia mengalihkan pandangannya ke sekitar lapangan mencari-cari sosok pemilik cakra itu. 'Nihil'. Ia menepuk-nepuk pipi Sakura lembut, berharap kesadaran gadis itu kembali saat tangan kekarnya menyentuh pipi cubbynya. Namun, Sakura masih betah memejamkan matanya. Lama Neji memandangi wajah ayu gadis di pangkuannya itu. Tangannya tetap bertengger manis di pipi Sakura. Berlahan tangan itu beralih menyentuh bibir mungil Sakura. Entah sadar atau tidak Neji makin mendekatkan wajahnya ke wajah gadis di pangkuannya. Mengubah posisi kepala gadis itu yang semula berada di pahanya kini beralih ke dada bidangnya. Berlahan tapi pasti bibirnya menyentuh bibir mungil gadis merah muda itu. 'Cup'. Lama dia tidak berubah dari posisi nyamannya itu. Tidak ada gerakan. 'Sunyi' hanya sesekali terdengar suara semilir angin lembut.

Tiba-tiba Neji tersentak kaget, sadar akan hal yang baru saja ia perbuat. 'Bingung' jujur saja. Itu yang dirasakan Neji sekarang. Dia sama sekali tidak tahu hal apa yang telah mempengaruhinya untuk mencium gadis itu. Tubuhnya seakan bergerak sendiri. Ia, tersenyum tipis menyentuh bibir gadis yang baru saja dia kecup, mengusapnya berlahan. Kemudian dia menyentuh bibirnya sendiri. Melirik ke kiri dan kanan, kemudian ia menggendong tubuh Sakura ala bridal style. Lalu berjalan menuju apartement sang gadis. 'Lega' tentu saja. Namun hatinya masih mengganjal akan apa yang telah sang Uchiha lakukan kepada gadis di gendongannya.

~~~~0000~~~~

~At Apartement Sakura

Sesampainya di Apartement Sakura, Neji sedikit kebingungan. Pasalnya dia tidak tahu dimana Sakura menyimpan kunci Apartementnya itu. Sedangkan saat menyadari posisinya sekarang, ia kesulitan untuk melepaskan gendongannya. Ia tak ingin gadis merah muda itu terganggu. Awalnya ia berpikir akan menggunakan sedikit cakranya untuk membuka paksa pintu tak berdosa di depannya itu. Hingga bunyi 'Cring' mengalihkan pandangannya. Ternyata kunci apartement Sakura jatuh dari Yukattanya. Sedikit berjongkok Neji memungut kunci itu dan membuka pintu. Aroma strawberry langsung menyambut kedatangan sang Hyuuga tampan, langsung saja ia menuju kamar Sakura. Meski awalnya ia ragu untuk masuk wilayah privasi seorang sadis. Namun ia meyakinkan hatinya, ini demi menolong Sakura. Berlahan Neji merebahkan tubuh Sakura di ranjang empuk milik sang gadis. Melepas sandal mungil Sakura dan menyelimuti hingga menutupi hampir setengah badan Sakura dengan selimut berwarna pink yang ia temukan tak jauh dari tempat tidurnya.

Jujur saja, ia tidak tahu bagaimana caranya menyadarkan Sakura. Yang ia lakukan sekarang hanya duduk di samping ranjang gadis itu dan terus memandangi wajah Sakura yang terlihat sedikit pucat. Ia mendekatkan dahinya ke dahi lebar Sakura untuk mengecek suhu tubuh gadis itu, seperti yang biasa dilakukan mendiang Ibunya jika dia sedang demam. 'Panas'. Neji sedikit terkejut menyadari bahwa Sakura demam. Ia bergegas ke dapur untuk mencari kain kopres dan mengambil beberapa bongkah es untuk mengompresnya.

Berlahan Neji meletakan kain kompres yang baru saja ia ambil ke dahi Sakura. Aktivitas itu terus Neji ulang sampai ia sendiri ikut terlelap dengan posisi duduk di samping ranjang Sakura.

~~~~0000~~~~

~At Hutan Perbatasan Konoha

Di tengah hutan belantara yang terletak tak jauh dari Konohagakure, Empat orang ninja pelarian yang menamakan kelompoknya Tim Taka, tiga lelaki dan satu perempuan tengah beristirahat di salah satu gua yang terdapat disana. Sang pria dengan rambut hitam model mencuat kebelakang tengah memandangi hamparan tanah luas di depannya. Tatapan matanya kosong, seakan tengah memikirkan sesuatu. Dua orang lelaki dengan rambut berwarna putih dan orange, tengah berbaring tak jauh dari lelaki berambut hitam itu. Satu-satunya gadis di kelompok itu malah tengah sibuk membuat api unggun.

"Kau tadi kemana eh, Sasuke?" tanya Suigetsu melirik lelaki yang duduk tak jauh darinya. Merasa dipanggil, Sasuke memalingkan wajahnya menatap balik Suigetsu sebentar kemudian kembali menatap hamparan tanah di depannya.

"Bukan urusanmu," tandasnya.

"Kau menemui gadis itu? Ah.. siapa namanya, Juugo? Aku lupa," tanya Suigetsu pada sosok pria yang berbaring di sebelah kanannya.

"Sakura" jawab Juugo sembari menunjukkan seringainya.

"Kau merindukannya, eh Sasuke?" tebak Suigetsu tersenyum menggoda. Sasuke mendelik tajam. Hampir saja ia mengaktifkan saringannya. Kalau saja Juugo tidak buru-buru menyuruh Suigetsu untuk menghentikan senyum mengerikannya itu.

"Huh," Sasuke mendengus kecil kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ketiga rekannya yang menatapnya bingung.

"Hey, Sasuke! Kau mau kemana?" gadis yang sedari tadi hanya melihat percakapan yang terjadi diantara ketiga rekannya kini mulai buka suara. Yang ditanya sama sekali tak memperdulikan pertanyaan sang gadis, Karin. Dia terus saja melangkah menjauhi gua itu.

"Hah…, kau ini cari gara-gara saja, Sui" Karin mengomeli Suigetsu.

"Biarkan saja, ketua kita itu memang aneh. Tak pernah menyadari perasaannya. Tidak sadarkah kalau beberapa kali ia menggumamkan nama gadis merah muda itu dalam mimpinya." Juugo mulai melontarkan pendapatnya.

"Bahkan aku sama sekali tidak mengerti apa tujuannya menyuruh kita untuk membuat keributan kecil di tengah Festival Kembang api Konoha. Sedangkan dia malah pergi entah kemana saat itu," sambungnya

"Diam kau, Juugo!" Karin membentak Juugo, ia 'cemburu' tentu saja. Karin tersenyum pahit.

~~~~0000~~~~

~ At Apartement Sakura

Matahari sudah mulai menampakkan cahaya kuningnya. Menerpa seluruh hamparan tanah Konoha, tanpa terkecuali. Begitu pun dengan nasib sebuah kamar di salah satu apartement yang terletak tak jauh dari kantor Hokage. Cahaya mentari nan hangat pun masuk ke dalam kamar seorang gadis pemilik apartement itu. Tirai jendela yang semalam entah sengaja atau lupa ditutup oleh pemiliknya, memudahkan sengatan matahari menerpa tubuh sang gadis yang terlelap di ranjangnya. Ah… Tak jauh dari ranjang, sesosok pemuda tampan dengan rambut coklat panjang pun tengah terlelap di sana. Dengan usil sang mentari mengusik kedamaian tidur sang pemuda. Sosok pemuda itu pun terbangun, menguap beberapa kali dan mulai merenggangkan ototnya. 'Bingung' tentu saja, pemuda menatap ke sekelilingnya menyadari kalau saat ini ia bukan sedang berada di kamar tercintanya. Diliriknya sosok gadis yang masih senantiasa memejamkan kedua bola matanya. Tersenyum kecil sambil sesekali tangannya mampir ke wajah gadis itu.

'Kaget' saat gadis yang terlelap itu mulai menggerakkan wajahnya ketika tangan pemuda itu menyentuh kelopak matanya. Dengan segera tangan itu menjauh dari wajah gadis merah muda itu. Berlahan gadis itu mulai membuka mata emeraldnya. 'Terkejut' mendapati sosok pria di depannya.

"Neji san?" matanya mulai mengawasi wajah tampan pria itu, Neji.

"Aa," Neji menyahut kecil.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sakura mengedarkan matanya ke sekelilingnya.

"Di kamarku?" tanya Sakura penasaran. Ia melirik tubuhnya. Dia masih memakai yukatta semalam. 'Apa Neji yang telah menolongnya' Sakura berpikir.

"Aku menemukanmu pingsan di Lapangan Festival. Lalu aku membawamu kemari" jawab Neji tanpa menatap Sakura. Sakura mendudukkan tubuhnya menyandarkannya ke ranjang.

"Arigato," ujar Sakura.

'Hening' kedua manusia berbeda gender ini larut dalam pikiran masing-masing.

"Kau kenapa?" Sakura tersentak kaget saat mendengar Neji bertanya padanya.

"Aku… aku..," Sakura terlihat bingung mencari jawaban. Memori semalam pun kembali mengusik otaknya. Tiba-tiba bulir air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Neji terkejut. Ingin rasanya Neji merengkuh tubuh gadis yang terlihat rapuh di depannya itu. Namun otaknya melarang. Ia mengepalkan kedua tangannya. Ia tahu, sangat amat tahu sosok yang membuat gadis di depannya menangis.

~~~~0000~~~~

Author's note

Heum….. akhirnya selesai juga mengerjakan chapter ini.

Jujur saja aku bingung untuk bagian sweet Sasusaku dan Nejisakunya….

Bawaannya malah jadi melting sendiri.

Apakah mereka ooc?

Di sini aku sudah bikin Neji mulai menunjukkan perasaannya pada Sakura meski secara tidak langsung, tanpa Sakura ketahui.

Dijah Hime

Eh, maaf kemarin aku bingung bikin adegan sweet Nejisakunya.

Apakah chapter ini kerasa sweetnya. Takut ooc, beneran.

Heheheh…

Sippp thanks yah atas masukannya.

Jujur saja aku buta arah soal EYD. heheheh

SakuraChica93

Makasih reviewnya….

Silahkan menikmati chapter selanjutnya

Saitou Chiaki

Heheheh…. Salah satu modusku untuk menarik perhatian ya dengan membuat reader penasaran Hehehehehe, Maaf yahh…..

Ini aku udah update…

Makasih udah fav fic-ku ini.

Jujur saja aku seneng banget. Jadi makin semangatttt

LovyS

Heheheh… maaf…

Awal-awal mungkin tulisanku bikin sakit mata yah…

Hahahha….

Mudah-mudahan tulisanku yang ini makin menarik matamu untuk membaca…

Makasih semangatnya…

Silent Reader

Terima kasih juga untuk para silent reader yang berbesar hati mau membaca fic-ku ini.