"Hyuuga Haruno"

Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto Sensei

Dan saya cuma pinjem karakter saja,

Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura

Slight SaiSaku

Warning : Alternative Universe, Cerita berjalan sesuai moodku saja

*Galau tingkat badai, harus membayangkan Neji*

Genre : Romance & Family

*diusahakan happy ending, manggut-manggut*

"Mencintai yang lain bukan berarti melupakan cinta yang lama"

Chapter 6 : "Lamaran Hyuuga"

~Kediaman Hyuuga

Di sebuah ruangan pertemuan yang tepat berada di tengah-tengah kediaman besar Hyuuga, terlihat beberapa para tetua Hyuuga tengah menatap tajam ke arah pemuda tampan Hyuuga yang berada di depan mereka. Sang pemuda itu hanya menunduk mendengar segala macam petuah yang terlontar secara bergantian dari bibir para tetua Hyuuga yang ada di depannya itu sambil sesekali mengangguk.

"Kau harus memilih calon istri dalam waktu dekat ini, Neji. Umurmu sudah cukup untuk membangun sebuah keluarga dan memberikan kami Hyuuga-hyuuga kecil," ujar sang pemimpin Klan Hyuuga, Hiashi sama pada sosok pemuda berambut coklat panjang yang duduk tepat di depannya. Sang pemuda menatap sang paman sebentar dan mengangguk.

"Hai, Hiashi sama, aku mengerti," sahut Neji pasti.

"Dari suaramu tadi, sepertinya aku menangkap kalau kau sudah siap dan menemukan calon istrimu itu. Boleh kami tahu siapa gadis pilihanmu itu?" tanya Hiashi disertai anggukan para tetua Hyuuga yang duduk di samping kiri dan kanannya. Neji memandang ragu ke arah Hiashi sama membuat sang Ketua Klan Hyuuga itu mengernyit bingung.

"Apa kau belum menemukan gadis itu? Kalau memang belum, biar kami yang akan mencarikannya untukmu," putus Hiashi.

"Aku sudah menemukannya, Hiashi sama," potong Neji saat tahu kalau pamannya hendak meminta pendapat para tetua Hyuuga yang duduk di samping kiri dan kanannya.

"Kalau begitu beritahu kami, siapa gadis itu?" tanya Hiashi lagi.

"Haruno Sakura," sahut Neji pasti. Menarik nafas sebentar lalu menatap secara bergantian orang-orang yang duduk di depannya untuk melihat reaksi mereka saat ia menyebutkan nama gadis pilihannya itu. Tidak ada raut terkejut yang terukir pada wajah mereka, membuat sang jenius Hyuuga ini sedikit bingung namun ia tetap memasang wajah datarnya.

"Kunoichi medis didikan Hokage kelima, Senju Tsunade. Selain cantik dia juga memiliki kehebatan dalam bidang medis hampir menyerupai Tsunade sama. Kau cukup pintar memilih calon istri, keponakanku," puji Hiashi sambil tersenyum.

"Besok lusa kita akan mengajukan lamaran ke keluarga Haruno," putus Hiashi disertai anggukan setuju dari para tetua Hyuuga yang lain.

"Baiklah pertemuan kali ini cukup sampai disini, Selamat malam" ujar Hiashi lagi, menutup acara pertemuan keluarga Hyuuga.

Sebelum Neji beranjak dari tempatnya tiba-tiba Hiashi menghampiri Neji.

"Kau sudah dewasa, Neji. Kau memang salah satu andalan keluarga Hyuuga. Ayahmu di sana pasti sangat bangga kepadamu, nak" ujar Hiashi menepuk pelan pundak Neji. Neji menatap wajah pamannya, tidak ada keraguan dan kepura-puraan di sana. Neji mengangguk pasti. Tersenyum tipis kemudian beranjak menuju kamarnya meski hatinya masih ragu akan isi hati gadis yang ia sebut namanya.

~~~~0000~~~~

~ Apartement Sakura

Pagi ini matahari dengan gagahnya bersinar terik di atas dataran Konohagakure, suara burung dan semilir angin ikut meramaikan pagi yang cerah ini. Di salah satu kamar dari bangunan sederhana yang terletak di sudut kiri taman Konoha terlihat seorang gadis berambut merah muda dengan terusan gaun tidur warna putih gading tengah sibuk mengepak baju-baju yang ada di lemari ukiran kayunya, memindahkannya ke sebuah tas besar warna hitam tak jauh dari tempat tidurnya. Sang gadis sesekali menyeka peluh yang menetes dari dahi lebarnya. Bingung, jujur saja. Gadis yang kurang lebih dua tahun memilih untuk tinggal di sebuah apartement terpisah dari orang tuanya yang sebenarnya tinggal tak jauh darinya itu mendadak disuruh pulang dan tinggal kembali bersama kedua orang tuanya. Hatinya bertanya-tanya kenapa tiba-tiba orang tuanya menyuruhnya pulang. Dan yah… sebagai anak tunggal yang penurut, Sakura nama gadis itu akhirnya mengikuti kemauan orang tuanya.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di apartementnya.

'Tok tok tok'

Sakura menghentikan aktivitasnya lalu dengan langkah malas ia menyeret kakinya ke arah pintu dan membukanya.

"Sai?" ujar Sakura sedikit terkejut saat mendapati teman satu timnya tengah tersenyum di balik pintu apartementnya.

"Pagi Sakura san," sahut Sai, memandang Sakura dari ujung rambut sampai ujung kaki Sakura kemudian sedikit memalingkan wajahnya yang tiba-tiba memerah. Sakura mengernyit bingung akan tingkah laku Sai.

"Kau kenapa, Sai? Apa kau sakit? Wajahmu kenapa tiba-tiba merah begitu, Sai?" tanya Sakura beruntun dan menperpendek jaranknya dengan pemuda pelukis itu dan menempelkan punggung tangannya ke dahi mulus Sai yang membuat Sai makin berjengit menjauh. Rasanya saat Sakura mendekat kepala Sai mendadak pusing.

"A…Ano Sakura san, bajumu!" ujar Sai tanpa memandang Sakura. Mendengar kalimat Sai, Sakura melihat apa yang dipakainya, wajahnya ikut memerah melihat balutan baju tidur tipis yang dipakainya itu sedikit memperlihatkan lekukan badannya, apalagi belahan bajunya itu sedikit memperlihatkan ehem –dadanya- dan tanpa sadar dengan segera Sakura menutup pintu apartemennya kencang hingga membuat Sai tersentak kaget dan sedikit lagi pintu itu menerjang wajah tampan Sai andai saja pria itu masih hanyut dalam lamunannya. Beberapa menit kemudian Sakura kembali membuka pintu, kali ini ia mengenakan kaos warna merah dan celana pendek selutut warna hitam.

"Gomen, Sai. Ada apa kau datang ke sini pagi-pagi?" tanya Sakura seraya mempersilakan Sai masuk ke Apartementnya.

"Ano, aku dengar dari Ino kau hari ini pindah dari apartement dan kembali ke rumahmu? Awalnya aku dan Naruto ingin membantumu beres-beres. Namun, Naruto tiba-tiba mendapat misi mendadak ke Iwagakure selama tiga hari," sahut Sai sambil mulai memunguti barang-barang Sakura yang tergeletak asal di lantai warna putihnya.

"Ini ditaruh di mana, Sakura san?" tanya Sai.

"A… taruh di kardus besar itu, Sai," sahut Sakura menunjuk salah satu kardus yang ada di samping kiri pemuda berambut klimis itu.

"Hai," sahut Sai sambil menaruh barang yang ada di tanggannya ke dalam kardus yang ditunjukan Sakura.

"Hei, Sai. Kudengar kau sedang dekat dengan Ino ya? Kau jatuh cinta padanya, eh?" tanya Sakura ditengah kegiatannya merapikan baju. Sai memandang Sakura sebentar kemudian melanjutkan kegiatannya memasukan barang-barang ke kardus.

"Tidak," elak Sai.

"Kau tidak usah malu-malu padaku, Sai. Kalau kau mau aku akan membantumu." tawar Sakura, Sai mau tak mau menatap sendu ke arah gadis merah muda itu. Tangannya menggepal keras.

"Aku menyukai gadis lain, Sakura san," potong Sai membuat Sakura menatap Sai bingung.

"Eh, menyukai gadis lain? Siapa gadis itu, Sai? Setahuku wanita yang dekat denganmu itu hanya Ino. Atau jangan-jangan kau terlibat cinta lokasi dalam misimu ya?" tebak Sakura. Sai hanya tersenyum. Membuat Sakura yakin kalau tebakannya itu benar. Gadis itu kembali ke aktivitasnya tanpa menyadari kalau sedari tadi pria berambut klimis itu memandang sendu wajahnya dan tersenyum tipis.

~~~~0000~~~~

~Kamar Hyuuga Neji

Pria berambut coklat panjang dengan balutan kaos warna putih dan celana hitam itu tidak bergeming dari posisi duduknya di pinggir jendela sedari satu jam yang lalu, tepatnya sejak ia bangun dari tidur gelisahnya, 'gelisah?' tentu saja ia sangat gelisah memikirkan hasil pertemuan yang semalam keluarga Hyuuga adakan. Pertemuan yang membicarakan masa depannya, masa dimana ia berharap bisa bersanding dengan gadis pilihannya. Neji memandang hamparan rumput liar yang tumbuh tepat di bawah kamarnya tanpa memperdulikan sorot mentari yang kadang menggoda matanya dan menyebabkan lambing bunkenya sedikit berkilau. Tatapan matanya kosong, sesekali menyebut nama gadis yang berhasil mencuri hatinya itu. Hatinya meragu jujur saja, apakah putusannya itu akan berakhir dengan bahagia dan bersatunya ia dengan gadisnya itu? Atau malah sebaliknya? Apakah gadis yang sejujurnya ia tahu tak pernah berhenti mencintai sosok pria terakhir Klan Uchiha itu akan menerima lamaran yang akan diajukan Pamannya esok nanti?. Takut, terang saja, dirinya bahkan bukan siapa-siapa gadis itu. Dia hanya sosok pria yang setengah tahun lalu telah jatuh hati pada gadis merah muda itu. gadis yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Awalnya ia hanya menganggap perasaannya itu hanya rasa kagum semata, namun lama-kelamaan rasa itu semakin tumbuh dan tumbuh begitu saja. Ia semakin candu memandang wajah ayu gadis merah muda itu hingga tanpa ia sadari dirinya telah menjadi seorang penyelinap di tengah malam. Yah…. Dia selalu menyempatkan diri mengunjungi gadis merah muda yang terkadang ia dapati tengah terlelap dalam tidurnya. Memandang dari balik kaca jendela kamar sang gadis yang memang tidak pernah ditutup. Memudahkan sang pria pemilik kekkei genkai byakugan ini tidak perlu mengeluarkan jurus andalannya itu. Dan satu jam memandang wajah gadis itu cukup membuat rindunya terobati dan mampu membuat tidurnya malam itu nyenyak. Dan tidak perlu heran, kenapa beberapa bulan ini dia sangat senang mendapat misi berbahaya, misi yang terkadang membuatnya terluka. Ia bahkan dengan bodohnya berharap musuh sedikit melukainya, agar sepulangnya dari misi ia bisa dirawat oleh sang gadis merah muda itu. 'Alasan Klasik'

Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan sang jenius Hyuuga ini. Memandang ke arah pintu kamarnya dan menggumamkan kata masuk agar sang pengetuk pintu tidak perlu segan mendorong pintu kamarnya. Dengan langkah ragu, sang pengetuk pintu, Hyuuga Hinata mendekati Neji dan duduk di ranjang empuk tak jauh darinya.

"Ada apa, Hinata?" tanya Neji tanpa bangkit dari posisi nyamannya itu hanya kepalanya saja yng menoleh.

"A… Tousan menyuruhku untuk memanggil Neji nii, Tousan ingin agar Neji nii yang memilih baju persembahan untuk lamaran besok. Pelayan telah menyiapkan beberapa baju yang cocok untuk Sakura chan, Neji nii hanya perlu memilih salah satunya saja," ujar Hinata, terselip nada bahagia di setiap uraian kata yang keluar dari bibir Hinata.

"Aa…. Aku akan ke sana. Arigato, Hinata," sahut Neji.

"Aku permisi, Neji nii," pamit Hinata.

"Aa.."

~~~~0000~~~~

~ Kediaman Haruno

"Apa?" teriak gadis merah muda di tengah acara makan malamnya bersama sang ayah dan ibu tercinta saat tiba-tiba orang tuanya menyebutkan alasan mereka menyuruhnya pulang ke rumah. Hampir saja ia menyemburkan kunyahan Onigiri yang tengah ia santap kalau saja Ibunya tidak segera menyodorkan gelas berisi air minum. Mengelap bibirnya yang mendadak basah, kemudian menatap tak percaya ke arah Ayahnya.

"Kemarin ada utusan Hyuuga yang menyampaikan pada kami kalau besok Hiashi sama akan berkunjung untuk mengajukan lamaran untukmu, putriku," ujar Haruno Kizashi. Sakura semakin terkejut menatap kedua orang tuanya bergantian, otaknya mulai berputar, 'Hiashi sama mengajukan lamaran untuknya? Sepengetahuannya, anak Hyuuga Hiashi cuma Hinata dan Hanabi, dan perlu ditekankan kalau mereka itu wanita jadi itu amat sangat mustahil kan Hiashi sama melamar dirinya untuk anaknya. Jadi kemungkinannya adalah…..'.

"Hiashi sama melamarmu untuk keponakannya, Hyuuga Neji" ujar Haruno Mebuki, seakan dapat membaca pikiran putri semata wayangnya itu.

"Eh," Sakura tersadar dari lamunannya.

"Kami tidak memaksamu untuk menerimanya sayang, semua keputusan ada di tanganmu," ujar Mebuki lembut.

"Hai," sahut Sakura meski tersirat keraguan yang teramat di hatinya. 'Kenapa secepat ini? Kenapa di saat seperti ini?' batinnya mulai bergejolak. Kilasan-kilasan kejadian baru-baru ini mulai berkeliaran di pikirannya, pemuda beryukatta putih dengan rambut raven tiba-tiba menyeruak otaknya. Lalu berganti dengan usapan lembut tangan dari pria berambut coklat panjang. Dan dua sentuhan basah dibibirnya dengan rasa yang berbeda mulai terasa seakan nyata.

"Kaasan Tousan, aku sudah selesai," ujar Sakura seraya bangkit dari duduknya dan mulai menapaki tangga menuju kamarnya. Menutup pintu kamarnya pelan dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang empuk single size miliknya. Menyentuh bibirnya pelan, mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi antara dirinya dan kedua pria dengan sifat yang hampir sama itu. 'Uchiha Sasuke dan Hyuuga Neji, apa yang sebenarnya telah mereka lakukan pada dirinya, tepatnya bibirnya. Dirinya saat itu dalam keadaan tak sadar, namun entah kenapa ia merasa bibirnya tersentuh benda lembut dengan dua rasa yang berbeda dan dalam waktu yang berdekatan, apa jangan-jangan mereka telah…., menciumnya?' batinnya mulai bertanya-tanya.

"Arrrggghhhh…" jeritnya frustasi.

~~~~0000~~~~

Keesokan harinya, di ruang tengah Keluarga Haruno., beberapa tamu kehormatan dari Klan Hyuuga yang ditunggu-tunggu telah duduk bersimpuh mengelilingi sebuah meja kayu dengan ukiran bunga Sakura. Di atasnya terdapat beberapa jamuan yang terdiri dari kudapan khas keluarga Haruno, sepiring onigiri dan dua teko agak besar berisi ocha beraroma mawar yang menguar. Haruno Kizashi dengan yukatta berwarna hitam duduk tepat di depan sang Pemimpin Klan Hyuuga, Hiashi sama yang mengenakan yukatta putih dengan lambang khas Hyuuga di punggungnya. Di samping kanannya ada sang istri, Haruno Mebuki tengah tersenyum dengan yukatta merah marun, dan di samping kirinya seorang gadis cantik bermahkota merah muda dengan yukatta warna merah muda pula tengah menunduk sambil sesekali meremas ujung yukattanya. Beberapa utusan Hyuuga pun ikut duduk bersimpuh di samping kiri dan kanan Hyuuga Hiashi. Ah…. Jangan lupakan pria yang duduk tepat di sebelah kanan Hyuuga Hiashi, rambut coklat panjang dengan yukatta putih andalannya pun tengah menunduk, sesekali melempar pandang ke arah gadis merah muda yang ada di depannya. Obrolan demi obrolan keluarga pun mulai memenuhi ruangan sederhana itu. Sakura sesekali memandang takut ke arah Neji. Dan saat pandang mereka bertemu, dengan cepat mereka kembali menunduk. Hingga obrolan intipun mulai terasa.

"Jadi kedatangan kami ke sini adalah melamar putrimu, Haruno Sakura untuk keponakanku Hyuuga Neji," ujar Hyuuga Hiashi sembari menyerahkan sebuah bingkisan yang terbungkus kain warna biru dengan ukiran lambang klan Hyuuga mengelilingi pinggirnya. Haruno Kizashi menerima bingkisan itu dengan tersenyum. Melirik istrinya sebentar kemudian beralih melirik putrinya yang masih menunduk. 'Hening'. Menarik nafas sebentar, setelah merasa apa yang akan diucapkan ini pantas, Haruno Kizashi mulai membuka mulutnya.

"Sejujurnya kami merasa sangat terhormat mendapat lamaran dari Anda, Hiashi sama," Kizashi kembali menarik nafas dan melepaskannya berlahan.

"Namun, biar putri kami saja yang menjawabnya," lanjut Kizashi menatap ke arah putrinya. Sakura yang semula menunduk kini menegakkan kepalanya menatap balik sang ayah, tersenyum tipis kemudian beralih menatap takut ke arah Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Neji bergantian.

"Kami tidak memaksa Sakura chan untuk menjawabnya sekarang. Kami akan datang tiga hari lagi untuk meminta jawaban. Ini adalah penentuan masa depan Sakura dan Neji nanti. Dan kami tidak ingin keputusan penting ini diambil buru-buru," ujar Hiashi seakan mengerti kalau Sakura masih butuh waktu untuk berpikir. Sakura tersenyum tipis.

"Baiklah, kami pamit dulu," ujar Hiashi lagi. Pasangan suami istri Haruno mengangguk dan tersenyum. Mengantar sang keluarga Hyuuga ke pintu depan. Sakura mengikuti kedua orang tuanya di belakang dengan langkah lemah dan kepala menunduk, hingga ia tidak menyadari kalau pria yang berjalan di depannya berhenti melangkah dan membuat dirinya menabrak punggung pria itu pelan. 'Bukkk'. Sang pria menoleh ke belakang dan mendapati gadis merah mudanya menatapnya takut. Tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya menyentuh pucuk kepala merah muda itu dan sedikit berbisik,

"Aishiteru,"

~~~~0000~~~~

Tbc

Author's note

Akhirnya chapter 6 selesai juga.

Dan memakan banyak waktu menurutku…..

Terima kasih bagi yang telah bersedia meninggalkan jejak.

Ayano Futabatei

Ini sudah dilanjutkan

Happy reading yah

Aden L Kazt

Ini sesi lamaran Neji….

Tapi Sakura masih belum bisa menjawabnya.

Selamat membaca yahh

Hyuuga Aki

Jujur saja, aku sendiri bingung menggambarkan perasaan Sakura.

Huwaaaa….. galau pas menceritakan Neji di sini, pengen nangisssssss

Terima kasih sudah fav

Amonimor

Aku sedikit menggambarkan apa yang telah Sasu lakukan terhadap Saku.

Hihihihihi…

Kaname

Sudah update…