"Hyuuga Haruno"

Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto Sensei

Dan saya cuma pinjem karakter saja,

Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura

*Slight SaiSaku in this chapter*

Warning : Alternative Universe, Out Of Character_maybe

Genre : Romance & Family

"Semirip apapun perangaimu dengannya, kamu tetap bukan dia"

Chapter 7 : "Kamu berbeda"

~Taman Konoha

Waktu begitu cepat berlalu, kejadian demi kejadian datang silih berganti. Bahkan hal yang tidak pernah terlintas dalam benak seorang Kunoichi cantik merah muda ini datang bertubi-tubi. Ya… Haruno Sakura tidak pernah membayangkan bahwa seorang Prodigy Klan Hyuuga menaruh rasa padanya bahkan meminangnya. Hyuuga Neji melamar seorang Haruno Sakura. Dalam benak hampir seluruh warga Konoha pasti tidak ada yang sempat berpikir sampai ke sana bukan. Yang mereka tahu, Haruno Sakura sangat mencintai Uchiha Sasuke.

Sore ini, gadis merah muda itu tengah duduk termenung di sebuah taman tak jauh dari rumahnya. Sesekali ia menghela nafas lemah seakan hidupnya berakhir di detik berikutnya. Kilasan balik masa kecilnya tertukir di otak cerdasnya. Saat-saat dimana ia mulai masuk akademi ninja, satu tim dengan Naruto, Sasuke, dan Kakashi-sensei, menjalani misi dari Hokage. Semuanya seakan baru kemarin terjadi. Bahkan sampai sekarang ia masih merasakan sakitnya rasa ketika Sasuke meninggalkan Konoha, meninggalkan dirinya yang sangat mencintai pemuda itu.

Kilasan bayangan pria Uchiha itu tiba-tiba berganti menjadi sosok pria tampan berambut coklat panjang dengan lambang aneh tergores di dahinya, Hyuuga Neji. Mau tidak mau, Haruno Sakura memikirkan sosok pria yang kemarin baru saja menyatakan pinangannya. Sosok yang mirip dengan sosok pria yang sebelumnya ia pikirkan. Hyuuga Neji mirip dengan Uchiha Sasuke. Ya…. Akhir-akhir ini, Sakura sedikit menghabiskan waktu untuk memikirkan pria prodigy Klan Hyuuga meski hanya beberapa menit sebelum ia memejamkan matanya.

Entah kenapa ia dirinya merasakan perasaan nyaman saat sedang berada satu atmosfer dengan pemuda itu. Ia selalu berbohong pada dirinya sendiri saat ia mengatakan kalau merawat Hyuuga Neji adalah hal yang menyusahkan. Tak bisa dipungkiri kalau sejujurnya ia sangat senang berada di samping pria itu. Membalutkan perban, menyeka keringatnya, bahkan pergi melihat Pesta kembang api bersamanya. Dan begitu ia mengingat kejadian kemarin, lamaran Klan Hyuuga padanya, tatapan pria berambut panjang itu padanya, dan bagaimana suara Hyuuga Neji membisikkan kata 'Aishiteru' padanya saat ia mengantar kepulangan mereka, membuat muka Sakura mendadak memerah. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil tersenyum geli. 'Bolehkah aku jatuh cinta lagi?'.

"Kau sedang apa?"

Suara seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang punggung gadis itu, membuat gadis itu terlonjak.

"Neji-san?" Sakura memandang bingung sosok pria yang tiba-tiba berada di sampingnya. Pria itu memposisikan dirinya duduk di samping kanan Sakura. Dan pria itu melempar tatapan bertanya padanya.

"Kau sedang apa, Sakura?" Neji mengulangi pertanyaannya yang belum sempat terjawab oleh Sakura.

"Ah… aku sedang menikmati angin sore, Neji -san."

"Kau sendiri?" Sakura balik bertanya.

"Aku mencarimu," sahut Neji. Sakura mengangkat satu alisnya bingung. 'Neji mencarinya? Bukankah ia diberi waktu tiga hari untuk memberikan jawaban atas lamarannya'

"Aku mencarimu, bukan untuk meminta jawaban atas lamaranku kemarin," ujar Neji seakan tahu apa yang sedang ada terlintas dalam pikiran gadis merah muda itu. Isi otak Sakura memang mudah ditebak oleh Neji. Mimiknya sangat jelas terlihat.

"O…..," Sakura tersenyum kikuk.

"Lalu, untuk apa Neji-san mencariku? Ada hal penting yang ingin dibicarakan denganku kah?" tanya Sakura lagi. Mendengar pertanyaan Sakura barusan membuat Neji gelagapan. Jujur saja, Neji sendiri tidak tahu alasan apa yang membuatnya ingin bertemu dengan Sakura. Semenjak insiden lamaran kemarin, sosok gadis merah muda itu semakin ganas memakan sebagian besar isi otaknya. Karena tak tahan, akhirnya Neji menyerah dan mencari gadis itu. Dan di sinilah dia, terjebak akan ketololannnya akan cinta hingga dia belum sempat memikirkan jawaban macam apa yang akan dia berikan pada Sakura saat gadis itu bertanya. 'Kuso'

"Hokage memberiku misi selama satu hari ke Sunagakure besok." Sial, Neji semakin terlihat bodoh dengan mengatakan kalimat barusan. Hanya kalimat itu yang mendadak terlintas dalam otaknya. Mendengar jawaban Neji, Sakura semakin terlihat bingung. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Sakura hanya menggangguk dan tersenyum kikuk.

'Hening' Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Saling melempar tatapan sesekali kemudian kembali hanyut dalam angan. Satu detik…..satu menit…..bahkan satu jam terlewati dalam keheningan. Tanpa terasa matahari dengan berlahan meninggalkan mereka berdua. Berganti dengan gelap yang sedikit demi sedikit tertimpa cahaya bulan. Sang gadis tiba-tiba tersadar,

"Neji -san," panggil Sakura. Sang pria ikut tersadar. Tersentak melihat gelap mengelilingi mereka.

"A.. sudah malam, kuantar kau pulang," ujar Neji sembari bangkit dari duduknya. Mengulurkan tangan kanannya ke arah Sakura. Tersenyum tipis saat tangan halus gadis itu meraih uluran tangannya. Menggenggamnya erat. Merekapun berjalan dalam hening menuju rumah sang gadis.

~~~~0000~~~~

~Rumah Sakit Konoha

Keesokan harinya, seperti biasa Rumah Sakit Konoha dipenuhi para Shinobi yang terluka akibat misi atau latihan yang berlebihan. Beberapa kunoichi medis sibuk berseliweran dengan membawa map di tangannya. Sesekali mereka tersenyum sambil melempar sapa kepada beberapa Shinobi yang pulang dari Misi. Beralih ke sebuah ruangan yang berada di sebelah kiri dari ruangan obat, terlihat seorang gadis cantik merah muda tengah mengobati pria berambut hitam klimis.

"Harusnya kau tidak perlu berlatih sampai membuatmu hampir mati, Sai!" ujar gadis merah muda pada seorang pria berambut hitam klimis yang tengah berbaring lemah di ranjang salah satu ruangan di Rumah Sakit Konoha. Sesekali pria itu meringis kesakitan saat si gadis merah muda menyentuh luka yang baru saja terukir di sekujur badannya. Tangan gadis itu menguarkan cakra warna kehijauan yang membuat Sai merasa lebih baik.

"Tidak biasanya kau seperti ini, Sai. Apa kau sedang banyak pikiran hingga menyiksa diri seperti ini?" tanya gadis itu lagi.

"Aku hanya merasa kasihan pada diriku sendiri, Sakura -san . Aku tidak bisa menggantikan posisi seseorang di hatinya. Aku kesal kenapa aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan hal ini padanya. Dan sayangnya kini aku sudah kehilangan kesempatan tanpa pernah mencobanya terlebih dahulu. Gadis itu sudah hampir jadi milik orang lain," ujar Sai panjang lebar. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit. Sakura yang tidak mengerti apa yang baru saja Sai bicarakan hanya menatap bingung ke arah pemuda itu.

"Kau patah hati, Sai?" tebak Sakura. Sai hanya tersenyum kecut.

"Gadis itu bodoh, Sai karena tidak bisa membaca isi perasaanmu," ujar Sakura menanggapi penuturan Sai.

"Dan kau lebih bodoh. Kenapa kau tidak mengatakan perasaanmu padanya? Mungkin saja kalau kau menyatakan perasaanmu, gadis itu pasti lebih memilihmu," lanjut Sakura.

"Apa benar akan seperti itu, Sakura-san ? Apa kau bisa menjamin gadis itu lebih memilihku?" Sai balik bertanya.

"Tentu saja, kau tidak terlalu jelek bahkan tidak berlebihan kalau aku menyebutmu tampan, kau pandai melukis, dan kau sangat hebat. Meskipun kau terkadang melakukan hal-hal aneh," sahut Sakura yakin.

"Kalau aku mengatakannya sekarang, apakah Sakura-san lebih memilihku daripada Neji-san? Atau aku tetap menjadi pilihan terakhir setelah Sasuke-san, Naruto-san, danNeji-san?" Sai memandang Sakura lekat. Mendengar penuturan Sai barusan, membuat Sakura membelalakkan matanya tak percaya. 'Jadi gadis bodoh yang telah membuat Sai seperti ini adalah dirinya' batin Sakura.

"Ma-maksudmu? Gadis bodoh itu aku, Sai?" tanya Sakura. Sai mengangguk.

"Ya…. Aku mencintaimu, Sakura-san. Aku memang tidak pandai menunjukkan berbagai macam ekspresi, tapi yang aku tahu aku selalu ingin di sampingmu. Aku nyaman bersamamu. Kau gadis yang sangat berbeda. Kau kuat, cantik, dan cerewet. Bohong kalau dulu aku menyebutmu jelek. Sungguh, kau selalu cantik di mataku." Sai meraih tangan kanan Sakura. Menggenggamnya. Sakura masih tidak bergeming dari posisi duduknya di tepi ranjang Sai. Menatap pemuda itu sayu. Pandangannya memburam. Perlahan, air matanya turun membasahi pipi mulusnya. 'Kenapa semuanya terasa sangat tiba-tiba dan mustahil' Sakura membatin.

Sai mengulurkan tangan yang satunya untuk menghapus air mata gadis itu.

"Kau tidak boleh menangis lagi. Naruto-san pasti akan sangat kecewa melihatmu menangis. Jangan pikirkan aku. Bahagialah, dengan siapapun itu." Sai bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk, Menyentuh pucuk kepala Sakura, membelainya berlahan, lalu mengangkat dagu gadis itu. memaksanya untuk menatap dirinya. Sakura tetap diam sambil memandang pemuda itu. Dengan berlahan, Sai mengecup singkat pipi kanan Sakura.

"Aishiteru, Sakura-san,"

Sakura tersentak kaget saat mendapati bibir Sai mendarat di pipinya. Dengan segera ia menjauhkan wajahnya dari wajah Sai. Menatap tak percaya pada pemuda itu.

"Sai…"

"Gomen, Sakura-san. Ijinkan aku menciummu sekali saja." Pemuda itu tersenyum tipis sambil memegang bibirnya yang terasa manis. Sakura menghela nafas.

"Kau meminta ijin padaku setelah kau melakukan hal itu. Dasar kau ini, Sai!" Sakura berusaha mencairkan suasana yang mendadak kikuk.

"Kau sudah menerima lamaran Neji-san ?" tanya Sai. Sakura menggeleng pelan.

"Kenapa?" tanya Sai lagi

"Neji-san, memberiku waktu tiga hari untuk menentukan jawabannya," sahut Sakura.

"Terimalah, Neji-san sangat mencintaimu," ujar Sai. Mau tak mau Sakura menatap Sai tidak percaya.

"Neji-san mencintaiku? Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Sakura penasaran.

"Hah, kau memang bodoh, Sakura-san. Seperti katamu tadi, kau itu bodoh! Bagaimana mungkin kau tidak merasakan kalau Neji-san menaruh perasaan padamu. Neji-san bukanlah ninja yang lemah bukan! Tidak mungkin akhir-akhir ini dia selalu pulang dari misi dengan keadaan terluka. Dia menginginkan kau selalu dekat dengannya dan merawatnya. Jadi sudah tidak ada alasan untuk menolaknya. Kalian saling menyukai. Meskipun aku tahu, ada sedikit ruang yang masih ditempati Sasuke-san di hatimu. Tapi sungguh, aku ingin kau bahagia, Sakura-san." Sakura menatap Sai lalu mengangguk.

"Aku pasti bahagia," ujar Sakura.

"Ah…. Aku ada urusan lagi, Sai. Kau jangan lupa istirahat dan minum obat yah. Jaa," pamit Sakura sambil beranjak pergi dari kamar Sai. Meninggalkan pemuda klimis yang masih tersenyum tipis.

Sepeninggalnya gadis merah muda itu, Sai melirik ke arah jendela.

"Keluarlah, Naruto. Aku tahu kau dari tadi bersembunyi di balik jendela itu," ujar Sai.

Dan tak lama setelah itu, keluarlah pemuda berambut kuning jabrik dengan tiga goresan tipis di kedua pipinya. Pemuda itu tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menghampiri ranjang Sai dan duduk di sampingnya.

"Kau mendengarnya bukan?" tanya Sai. Naruto mengangguk.

"Kita tidak bisa menempati hatinya, Naruto. Ada seseorang lagi yang bahkan tidak pernah terpikir oleh kita yang hampir berhasil menempati sebagian hatinya. Mungkin Neji-san lebih mampu membuat Sakura-san bahagia," ujar Sai sambil memandang Naruto yang terlihat murung.

"Hm…. Kau benar, Sai." Naruto menatap balik Sai lalu tersenyum.

~~~~0000~~~~

~Kamar Haruno Sakura

Sepulangnya dari rumah Sakit Konoha, Sakura dengan segera membanting badannya yang terasa remuk di kasur kesayangannya. Beberapa kali ia menghela nafas berat sambil mengerjapkan matanya. Sakura merasa sangat lelah hari ini. Di rumah Sakit tadi, Sakura mendapatkan lima orang pasien dengan luka sedang, ditambah satu pria yang merupakan rekan setimnya, Shimura Sai yang terluka sedikit parah.

Mengingat Sai, mau tak mau hati Sakura bergetar. Sai mencintainya. Kamisama, hal ini tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Sakura.

Sakura melirik ke arah meja di samping ranjangnya. Di sana terdapat sebuah foto yang berdiri manis di sisi kanan meja. Memungut foto itu lalu memandangnya lama. Foto dirinya, Naruto, Sasuke, dan Kakashi-sensei. Berlahan bulir air mata Sakura turun satu persatu. Membasahi pakaian yang dipakainya.

"Sasuke-kun. Bolehkah aku jatuh cinta lagi?" tanya Sakura pada foto yang ada di tangannya.

"Jujur saya, sebelah hatiku masih ingin mengharapkanmu. Tapi sebelah hatinya lagi aku ingin bahagia bersama orang yang mencintaiku? Dan mungkin aku juga mulai menyukai pria itu. Sasuke-kun , aku mecintai Neji-san. Sungguh, Terkadang aku lelah menunggu. Mengharapkan sesuatu tanpa ada sedikitpun kepastian yang akan berbalik padaku. Neji-san mirip denganmu, tapi dia berbeda.

Dia lebih terbuka memperlihatkan perhatiannnya padaku meskipun terkadang aku tidak melihat perhatian lebihnya itu sebagai sesuatu yang berbeda. Sampai sekarang pun aku masih tidak bisa meyakinkan hatiku apakah kau mencintaiku balik? Mungkin Sai benar, aku harus bahagia dengan siapapun itu. Semoga Sasuke -kun juga bahagia dengan pilihan yang Sasuke-kun ambil." Sakura kembali meletakan foto itu ke tempat asal. Beranjak dari kasurnya Sakura menuju kamar mandi. Mungkin dengan mengguyur badannya dengan air bisa sedikit mengurangi penat di hatinya.

Beberapa menit kemudian Sakura keluar dari kamar mandi dengan handuk merah muda melilit di tubuhnya. Beberapa tetesan air yang berasal dari rambutnya mulai membasahi lantai. Membuka lemarinya berlahan, mengambil baju tidurnya, dan mulai memakainya.

Sakura kemudian duduk di meja riasnya, memandang wajahnya yang terpantul di cermin dan tersenyum tipis. 'Aku harus bahagia' batin Sakura. Sakura lalu merebahkan tubuhnya di kasur dan memcoba memejamkan matanya. Belum sempat ia terlelap, tiba-tiba ia merasakan kehadiran cakra yang ia kenal ada di sekitar kamarnya.

"Neji-san?" Sakura menggumamkan nama pemilik cakra itu. Bangun dari ranjangnya kemudian menuju ke jendela kamarnya. Tersenyum tipis saat mendapati seorang pria tampan, berambut coklat panjang dengan kimono putih membungkus tubuh kekarnya. Sang pria lalu menatap balik gadis merah muda itu dan tersenyum tipis.

"Ada apa Neji-san menemuiku malam-malam begini? Bukankah hari ini Neji-san ada misi di Sunagakure?" tanya Sakura heran.

"Misiku selesai dan berhasil. Aku selalu mengunjungimu sepulangku dari misi. Hanya saja kau tidak pernah tahu karena kau selalu dalam keadaan terlelap saat aku ke sini," sahut Neji pasti. Sakura tersenyum tipis lalu menunduk, ternyata selama ini Neji menstalker dirinya.

"Besok keluargaku akan datang kemari untuk meminta jawaban atas lamaranku kemarin." Neji menatap Sakura, menyentuh lembut pipi gadis itu. Entah kenapa akhir-akhir ini Neji seperti candu untuk melakukan sentuhan fisik dengan gadis di depannya ini.

Sakura begitu menikmati sentuhan tangan Neji di pipinya, Sakura memejamkan matanya.

"Apapun jawabanmu, aku tetap mencintaimu," ujar Neji lagi sambil menarik tangannya yang sejujurnya masih betah mendarat di pipi gadis merah muda itu. Sakura membuka matanya. Menatap mata perak di depannya. Lalu mengangguk.

"Tidurlah, aku kembali besok." Neji mendekatkan wajahnya, memegang dagu Sakura dan mengecup singkat bibir Sakura. Kemudian 'Buff' Neji menghilang. Meninggalkan Sakura yang masih terdiam menikmati sensasi yang baru saja menerjang bibirnya. 'Aku mencintaimu, Neji-san'.

~~~~0000~~~~

"Habis mengunjunginya lagi, Neji-san?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang sang Hyuuga.

"Hn,"

"Aku heran, kau begitu mencintainya. Tidak kusangka orang sepertimu bisa jatuh cinta juga," ujar orang itu lagi.

"Kau mencintainya juga kan, Sai?" tanya Neji menatap sosok pria itu tanpa menghentikan langkahnya.

"Yah… sayangnya aku dan Naruto-san tidak seberuntung dirimu dan Sasuke-san. Tidak bisa sedikitpun menempati ruang di hati Sakura-san. Jujur aku iri padamu, Neji -san." Sai mengikuti langkah Neji.

"Maksudmu?" tanya Neji.

"Yah…. Sakura-san juga mencintaimu asal kau tahu. Aku dan Naruto-san sudah merelakan Sakura-san untuk bahagia denganmu. Kuharap kau bisa menjaganya untukku dan Naruto-san." Sai menepuk pundak Neji berlahan dan tersenyum.

"Aku percaya padamu, Neji-san." Sai lalu mendahului langkah Neji. Meninggalkan pria Hyuuga itu yang tengah mengangguk dan tersenyum pasti.

"Aku akan menjaganya, tanpa kau suruh sekalipun. Karena aku begitu mencintainya," ujar Neji pasti.

~~~~0000~~~~

TBC

Author's Note

Hello….. Kim Keyna kembali hadir dengan chapter baru….

Jujur saja, tiga bulan aku terkena WB untuk Fic Mc ini.

Lebih memilih untuk membuat Fic Oneshoot.

Tapi….. setelah aku kembali membaca beberapa review dari para reader yang masih mengharapkan fic ini update, akhirnya dengan sedikit menguras otak munculah kelanjutan dari fic ini.

Hankira

Hahahahha, aku juga pasti akan meleleh saat ada pria tampan yang mengatakan kata keramat 'Aishiteru' padaku….

Terima kasih sudah menyukai fic ini.

Sudah update meski jeda waktu dari chapter sebelumnya agak lumayan lama.

Kaname

Hah, fic-ku seru yah…. Terima kasihhh..

Padahal jujur saja aku masih sedikit ragu apakan fic-ku ini seru.

Dalam chapter ini Sai mulai mengungkapkan rasa cintanya ama Saku.

Sejujurnya perasaan Sasuke sedikit disinggung di chapter sebelumnya.

Gomen updatenya lama.

Yepeh

=)

Hyuuga Aki

Hey…. Mungkin sedikit out of character Neji di Fic-ku ini.

Namun jujur saja aku lebih suka pria yang lebih menunjukan perasaannya dengan sikapnya.

Terima Kasih sudah fav fic ini.

Sudah apdate yah… meskipun mungkin kamu lelah menunggu.

Emiliaindri

Adegan Sai/Sasuke ngerebutin Saku yah…

Untuk Sai, di sini aku buat dia lebih memilih merelakan Sakura bahagia dengan Neji.

Tapi untuk Sasuke masih belum terlihat perebutan di mana mereka bertiga dipertemukan.

Masih memikirkan idenya.

Terima Kasih untuk semangatnya.

Nisa Piko

Terima kasih yah…

Baru yah di FFN. Sejujurnya aku pengen balas melalu PM. Tapi kamu waktu review ga login yah.

Jadi bingung balasnya.

Cara ngirim fic, cukup upload doc yang berisi fic-mu ke FFN saja.

Untuk ending, aku suka happy ending tenang saja.

Ree

Di sini masih belum ada putusan Sakura.

Tunggu chapter selanjutnya yah…

Tapi kayaknya kamu sudah bisa nebak kan jawaban Saku apa…

Ya….. tapii untuk bagaimana nanti Sakura nerima Neji kita lihat Chapter depan yah..

Semoga sabar menunggu…..

~~~Happy Reading Minna~~~