"Hyuuga Haruno"

Naruto sudah hak paten milik Masashi Kishimoto-Sensei

Dan saya cuma pinjem karakter saja,

Pairing : Hyuuga Neji – Haruno Sakura

Warning : Alternative Universe, Out Of Character_maybe

Genre : Romance & Family

"Ada saat dimana kamu harus merasakan rasa yang sama namun dengan seseorang yang berbeda"

Chapter 7 : "Ya, Neji-kun"

"Aku akan menjaganya, tanpa kau suruh sekalipun. Karena aku begitu mencintainya," ujar Neji pasti.

~Kediaman Hyuuga

Hari ini adalah tepat hari ketiga setelah peristiwa lamaran Hyuuga Neji pada Haruno Sakura. Dan sesuai dengan tenggang waktu yang diberikan sang Ketua Hyuuga, Hiashi sama, maka hari ini adalah penentuan apakah beberapa hari setelah hari ini akan berlangsung sebuah pernikahan atau tidak. Semuanya tergantung jawaban dari sang kunochi cantik merah muda yang berhasil merebut perhatian sang prodigy klan Hyuuga ini.

Beberapa pelayan Hyuuga telah bersiap untuk mengunjungi kediaman Haruno. Tidak lebih dari sepuluh bingkisan berisi kudapan khas keluarga Hyuuga telah rapi tersusun di atas meja, siap dibawa untuk keluarga Haruno.

Di sisi kanan ruang keluarga Hyuuga terlihatlah sosok pria tampan dengan rambut coklat panjang memakai setelan kimono berwarna putih keabuan dengan lambang Hyuuga di punggungnya tengah duduk menatap beberapa pelayan yang terlihat berseliweran di depannya dengan beberapa nampan ditangannya. Sang pemuda sesekali memejamkan matanya dan terdengar menghembuskan nafas kecil dengan resah. Pemuda itu gugup. Sangat gugup malah.

"Neji -nii, gugup?" tanya seorang gadis berambut indigo panjang yang tiba-tiba datang menghampiri sang pemuda itu.

"Aa," sahut Neji memandang sang gadis.

"Semuanya akan baik-baik saja. Neji-nii tenang saja, aku yakin Sakura-chan pasti menerima Neji-nii," ujar gadis itu lagi.

"Sayangnya aku masih ragu, Hinata," sahut Neji sedikit kalut.

"Ragu? Apa Neji-nii ragu akan perasaan Neji-nii terhadap Sakura-chan ?" tanya Hinata. Terselip nada khawatir di sana.

"Tidak, aku sama sekali tidak ragu akan perasaanku padanya. Aku mencintainya. Sungguh. Tapi… aku sama sekali tidak bisa menjamin kalau Sakura memiliki perasaan sama denganku." Neji menunduk menutupi wajahnya yang terlihat sendu. Hinata dengan hati-hati menepuk pundak Neji.

"Tenanglah. Apapun keputusan Sakura-chan, semuanya akan baik-baik saja." Hinata tersenyum. Neji pun ikut tersenyum tipis. Sangat tipis. Neji lalu melangkahkan kakinya bersiap mengikuti para Tetua yang tengah menunggunya di depan gerbang Kediaman Hyuuga. Iring-iringan Keluarga besar Hyuuga pun mulai menapaki jalan menuju kediaman Haruno. Hinata tersenyum di balik pintu. Yah…. Dia tidak ikut dalam iring-iringan itu. Hanya , Neji, Ayahnya, beberapa Tetua Hyuuga, dan segelintir pelayan yang membawa bingkisan. Hinata hanya berdoa dalam hati, 'Semoga Neji-nii mendapatkan gadis yang dicintainya.'

~~~~0000~~~~

~Kediaman Haruno

"Kau gugup, anakku?" tanya Mebuki saat dirinya tengah berada di dalam kamar anak semata wajangnya, sesekali tangannya menyisir rambut merah muda anaknya pelan.

"Heum… aku sangat gugup, Kaasan," sahut Sakura, memandang pantulan wajahnya yang kini berlapis make up tipis hasil tangan Kaasannya.

"Tenanglah. Kau sudah membuat keputusan anakku?" tanya Mebuki lagi. Sakura mengangguk pasti.

"Ya… aku sudah memutuskannya, Kaasan."

"Baiklah, apapun keputusanmu semoga itu adalah yang terbaik." Mebuki tersenyum tipis. Menggelung rambut panjang Sakura ke samping kiri lalu menyelipkan kazashi ornament bunga Sakura.

"Nah… sudah selesai, turunlah, temani Tousanmu di ruang keluarga. Kaasan akan ke dapur sebentar untuk mengecek persiapan makanan yang akan disajikan nanti saat Neji dan Hiashi-sama tiba," ujar Mebuki sambil mengecup singkat dahi lebar Sakura, Mebuki lalu menuju dapur. Sedangkan Sakura dengan berlahan menuruni tangga dan menemui Tousannya yang tengah duduk bersimpuh dengan sesekali menyesap teh yang ada di depannya. Kizashi tersenyum saat mendapati anak gadisnya dengan kimono warna putih aksen bunga tulip kuning tengah berjalan menghampirinya.

"Kemarilah anakku," ujar Kizashi menganyunkan tangannya mengundang anak gadis merah mudanya untuk duduk di sampingnya. Sakura tersenyum tipis menuruti kemauan sang tousan. Duduk bersimpuh di samping Kizashi.

"Tousan tidak sadar kalau kau sudah besar anakku. Hahaha…. Padahal sepertinya baru kemarin kau merengek minta dibelikan halus manis sampai menangis," kekeh Kazashi sambil mengelus kepala merah muda Sakura.

"Kau ingat, dulu kau merengek minta masuk akademi ninja Konoha. Padahal dulu kau sangat cengeng, Tousan sangat khawatir waktu itu. Tapi kau terus merengek dan meluluhkan hati Tousan. Dan sekarang Tousan bangga padamu, sayang! Kau berhasil menjadi seorang Kunoichi yang hebat."

Sakura memeluk erat Kizashi. Erat sekali, hingga suara ketukan pintu menginterupsi kegiatan ayah dan anak itu. Tak lama kemudian, tibalah Mebuki diikuti beberapa Keluarga Hyuuga dan seorang pria tampan.

"Ah… Selamat datang Hiashi-sama, silakan duduk," ujar Kizashi sambil tersenyum. Mereka pun duduk dan saling melempar senyum. Obrolan kecil pun dimulai. Awalnya hanya saling bertanya kabar, kesibukan masing-masing, dan sesekali mengungkit ingatan masa lalu. Sang pria berambut coklat panjang hanya sesekali ikut menanggapi dan sesekali pula matanya terfokus pada sosok gadis merah muda di depannya. Hingga tiba-tiba…..

"Jadi… Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mengetahui jawaban atas lamaran yang kami ajukan tiga hari yang lalu," ujar Hiashi to the point. Sakura yang semula menunduk kini tersentak kaget dan menegakkan kepalanya memandang Hiashi-sama dan Tousannya bergantian lalu memandang pemuda Hyuuga yang telah berani melamarnya. Saat matanya bersiborok dengan sang Hyuuga Neji, Sakura menangkap kalau Hyuuga Neji menatapnya kelu. Hatinya berdesir. Memejamkan matanya sesaat lalu menghela nafas kecil. Kilasan memori berseliweran di pikirannya.

"Ya, Hiashi-sama. Saya menerima lamaran Hyuuga-san," ujar Sakura pasti. Mendengar jawaban Sakura, ingin rasanya Hyuuga Neji berteriak keras. Sungguh ini diluar dugaannya. Ia tersenyum. Tanpa sadar dirinya bangkit dari duduknya kemudian mendekati Sakura yang menatapnya heran. Neji menyingkirkan beberapa helai poni merah muda Sakura, kemudian mengecup dahinya singkat dan berbisik.

"Arigato, dan panggil aku Neji-kun," ujar Neji pelan di telinga Sakura. Mau tak mau Sakura memerah wajahnya. Mereka masih memandang satu sama lain, wajah Neji beringsut semakin mendekati wajah Sakura hingga sebuah deheman keras menginterupsi kegiatan mereka.

"Ehem,,," dehem Hiashi. Menyadari kecerobohannya Neji langsung tersentak kaget dan buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura dan bergegas kembali ketempatnya semula. Beberapa Tetua Hyuuga hanya memandang Neji dengan muka yang menyiratkan 'Dasar anak muda, tidak pandang situasi'. Situasi pun menjadi sangat canggung. Sakura hanya menunduk dengan wajah yang masih memerah sambil menggigit bibir bawahnya.

"Baiklah, untuk pesta pernikahannya akan diadakan minggu depan di Kediaman Hyuuga. Bagaimana menurutmu, Kisazhi?" ujar Hiashi memandang Kisazhi dan Mebuki bergantian.

"Aa… kami setuju, Hiashi-sama."

~~~~0000~~~~

~Kediaman Hyuuga

Keesokan harinya di Kediaman Hyuuga tepatnya di salah satu kamar yang berada di lantai dua, terlihatlah sosok pria tampan berambut coklat panjang tengah asik berguling kesana kemari di atas tempat tidurnya. Dirinya sudah terjaga dari dua jam yang lalu, namun ia enggan untuk bangkit dari ranjangnya. Ia masih betah dengan posisinya yang seperti itu. kilasan kejadian yang terjadi kemarin terus terngiang di otaknya.

"Ya, Hiashi-sama. Saya menerima lamaran Hyuuga-san."

Sungguh ini bukan dirinya, sikap dingin yang biasa ia tunjukan dalam sekejap luntur hanya karena mengingat kata yang diucapkan gadis merah muda itu. Ia menggigit bibirnya pelan untuk mencegah sebuat teriakan yang ingin rasanya ia keluarkan saking senangnya.

Kamisama, apa kata para tetua jika mereka mengetahui bahwa sang prodigy Hyuuga yang terkenal jenius tiba-tiba menjadi setengah gila.

Tiba-tiba sebuah ketukan pintu menginterupsi lamunannya. Hampir saja dirinya terjungkal dari ranjangnya, untung saja gerakan refleksnya jauh lebih cepat dari otaknya.

"Masuk," ujarnya pada si pengetuk pintu. Seorang pelayan datang menghampirinya dengan sebuah nampan ditangannya.

"Pagi, Neji-sama. Tidak biasanya Anda melewatkan sarapan pagi bersama. Hiashi-sama menyuruh saya untuk mengantarkan sarapan ini," ujar sang pelayan seraya tersenyum tipis saat menyadari keadaan ranjang sang prodigy Hyuuga yang jauh dari kata rapi. Neji tersenyum kikuk di atas ranjangnya dan mengisyaratkan untuk menaruh sarapannya di meja samping kiri ranjangnya.

"Apa Anda baik-baik saja, Neji-sama?" tanya sang pelayan lagi.

"A… Aku baik-baik saja," sahut Neji.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Pelayan itu pun langsung menutup pintu dan meninggalkan sang prodigy Hyuuga yang tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Neji menghela nafas pelan dan mulai menuju kamar mandi. Mungkin kepalanya memang butuh siraman air dingin.

~~~~0000~~~~

~Rumah Sakit Konoha

"Berhenti tersenyum seperti itu, Sakura! Atau aku akan memukul kepalamu dengan tabung oksigen di dekatku!" ujar sang gadis pirang pada gadis merah muda di sampingnya. Jujur saja gadis pirang ini dibuat terkejut dengan kelakuan sahabat merah mudanya yang mendadak seperti orang yang tidak waras. Bagaimana bisa tadi pagi tepatnya setengah jam yang lalu saat dia berada di ruang UGD, ia mengatakan kesehatan seorang ninja yang kritis dengan tersenyum. Dan sampai detik ini saat berada di ruang kerja Sakura tetap saja tersenyum.

"Kau seperti orang gila!" lanjutnya.

Gadis yang baru saja mendapatkan gelar 'orang gila' dari sahabat nomor satunya ini hanya menghela nafas bosan. Ia melirik sahabatnya itu dan mencubit lengan kirinya pelan. Sebuah jeritan kecil pun meluncur dari si pirang. 'Aw'.

"Kalau aku gila, kau lebih gila karena mau berada satu ruangan dengan orang gila," kekeh sang gadis merah muda. Ia kembali membereskan beberapa map yang ada di mejanya.

"Kau sedang bahagia, eh?" tanya si Pirang menyelidik.

"Menurutmu, Ino?" bukannya menjawab pertanyaan Ino, Sakura malah balik bertanya.

"Ya… kau pasti sedang bahagia. Mmm… Ah, aku ingat. Kau…. Kau … Apakah kau menerima lamaran Neji?" tanya Ino keras. Sakura langsung menutup mulut Ino dengan tangan kanannya.

"Kau berisik, Ino. Ingat ini rumah sakit." Setelah memastikan tidak aka nada teriakan dari bibir sahabatnya itu, Sakura menjauhkan tangannya dari mulut Ino.

"Jadi….." Ino menaikkan salah satu alisnya dan memandang layaknya kucing kelaparan ke arah Sakura.

"Yupp, seperti tebakanmu. Aku menerima Neji-kun," sahut Sakura seraya memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan wajah Ino.

"Kun? Sejak kapan kau memanggil Neji dengan suffik 'kun'?" tanya Ino makin penasaran akan panggilan baru sahabatnya ini pada pria yang tiga hari yang lalu mengajukan lamaran.

"Kemarin, Neji-kun yang menyuruhku," ujar Sakura.

"Ceritakan padaku!" ujar Ino seraya menarik Sakura untuk duduk di sebuah sofa yang tak jauh darinya. Sakura hanya menghela nafas pasrah dan mulai menceritakan bagaimana ia bisa menerima lamaran sang Hyuuga dan memanggilnya dengan suffik 'kun'. Ino menatap Sakura tak percaya saat mendengar cerita Sakura tentang Neji kemarin. Sangat bukan Neji sekali.

"Hah, aku tidak menyangka kalau Neji bisa bersikap seperti itu," ujar Ino.

"Jadi, kapan kalian akan menikah? Hyuuga bukanlah orang yang sabar."

"Hiashi-sama akan mengadakan pernikahan minggu depan. Kamisama…. Aku gugup sekali, Ino," ujar Sakura sedikit frustasi.

"Hahahaha… tenanglah, Jidat. Memang seperti itulah perasaan gadis yang akan melepas masa lajangnya. Kau sudah memilih gaun pengantin?" tanya Ino.

"Kemarin Hiashi-sama bilang kalau segala persiapan pernikahan akan diurus oleh Keluarga Hyuuga. Mungkin aku akan ke kediaman Hyuuga kalau diperlukan. Aku hanya khawatir kalau prosesi pernikahan Hyuuga akan membuatku kesulitan. Hah… kau tahu kan, Ino. Hyuuga sangat penuh dengan aturan." Sakura mendesah panjang. Matanya menatap memelas ke arah Ino.

"Tenanglah, Saki. Semuanya akan baik-baik saja." Ino menepuk pundak kiri Sakura pelan.

"Ya… semoga semuanya baik-baik saja."

"Ah,, aku lupa. Hari ini aku ada janji dengan pasienku untuk mengajaknya ke taman. Kau mau ikut denganku, Saki?" tanya Ino.

"Tidak, aku masih harus membereskan dokumen ini. Kau tahu kan Tsunade -sama pasti tidak akan senang kalau aku menelantarkan tugasku ini," tolak Sakura.

"Ah… Baiklah. Kalau begitu aku pergi yah, Saki. Jaa…" pamit Ino sambil melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Sakura. Sepeninggalnya Ino, Sakura kembali berkutat dengan tumpukan dokumen di meja kerjanya. Hingga suara seorang pria yang begitu dikenalnya tiba-tiba menembus gendang telinganya.

"Pagi, Sakura," sapa seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Sakura. Sakura mendongakkan kepalanya dan sedikit terkejut saat mengetahui siapa pria itu.

"Ah… Pagi, Neji-kun," sahut Sakura. Dengan segera ia menggeser tumpukan dokumen yang tadi berada tepat di depannya menjadi ke pinggir meja sisi kanan. Neji mendudukan dirinya tepat di kursi yang berada di depan meja Sakura.

"Kau sibuk?" tanya Neji.

"Ya… seperti yang kau lihat. Tsunade-sama menugaskanku untuk menyelesaikan catatan kesehatan ini secepatnya. Padahal aku ingin libur," ujar Sakura seraya menatap jenuh tumpukan dokumen di atas mejanya.

"Kau bisa," ujar Neji. Sakura yang tidak mengerti maksud perkataan Neji mengerutkan dahinya dan memandang Neji heran.

"Tadi aku sudah meminta ijin pada Hokage-sama untuk memberikanmu cuti selama dua minggu terhitung esok hari," ujar Neji menjelaskan maksud dari sepenggal katanya.

"Hah? Dua minggu? Apa itu tidak terlalu lama. Neji-kun?" tanya Sakura penasaran. Bukannya ia tidak senang mendapat cuti panjang sesuai dengan keinginannya. Hanya saja dua minggu bukanlah waktu yang sebentar. Pasti sulit menghabiskan cuti panjang itu hanya berdiam diri di rumah. Dan sialnya dia sama sekali belum membuat jadwal untuk menghabiskan cutinya itu kalau memang ia diijinkan.

"Besok, kita akan ke kuil Leluhur Hyuuga untuk mengambil cincin pernikahan. Lusanya kita akan mencoba gaun pengantin. Dan beberapa hari setelahnya kau harus tinggal di Kediaman Hyuuga. Ada beberapa hal yang harus dipelajari sebelum prosesi pernikahan," ujar Neji panjang lebar. Sakura tiba-tiba merinding mendengar rentetan kegiatan yang akan dilakukannya. Hyuuga memang penuh aturan.

"Kenapa rasanya rumit sekali, tidak bisakan kita hanya menikah secara biasa, Neji-kun ?" tanya Sakura memelas. Neji memandang pilu Sakura, lalu menggeleng. Sakura mendesah panjang.

"Haaaahhh…., baiklah," ujar Sakura akhirnya.

~~~~0000~~~~

Keesokan harinya, Hyuuga Neji menjemput sang calon nyonya Hyuuganya untuk berangkat bersama ke Kuil Tua Hyuuga yang letaknya sekitar lima kilo meter dari Kediaman Hyuuga. Sakura mengenakan Yukatta warna putih dengan lambang Hyuuga yang dibawakan Neji pagi tadi. Begitu pula dengan Neji, ia memakai kimono putih dengan celana panjang hitam. Yah… busana wajib saat mengunjungi Kuil Hyuuga adalah dengan berpakaian putih.

Kedatangan Neji disambut hangat oleh keluarga Haruno. Mereka sangat menyukai sosok Neji yang terlihat tulus menyayangi putri semata wayangnya, Haruno Sakura. Selang beberapa menit setelah mereka sarapan bersama, Neji dan Sakura langsung berpamitan untuk segera pergi ke Kuil di mana mereka akan mengambil cincin pernikahan.

Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain. Sebenarnya mereka bisa saja menggunakan sedikit cakra untuk melompati atap dan berlari. Namun tidak untuk kali ini. Dengan busana seperti yang Sakura pakai sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal seperti biasanya kan. Berjalan saja Sakura sudah sangat kesulitan, apalagi untuk melompati atap. Oh… Tidak terima kasih.

Beberapa warga Konoha yang berpapasan dengan pasangan baru itu tersenyum dan menyapa mereka singkat. Yah…. Hampir semua warga sudah mengetahui fakta bahwa empat hari lagi Haruno Sakura akan resmi menjadi istri dari Hyuuga Neji. Hal yang tidak pernah terlintas dalam benak siapapun. Tapi inilah yang terjadi. Siapapun tidak ada yang bisa mengetahui dengan pasti siapa takdir yang Kamisama ikat dengan kita.

Beberapa menit kemudian sampailah mereka di tempat yang dituju. Beberapa Tetua Hyuuga sudah menunggu di sana dengan duduk bersila. Dengan canggung Sakura melepas sandalnya dan ikut duduk bersimpuh tepat di depan sosok Tetua Hyuuga yang berkepala botak. Melirik sosok pria di sampingnya, Sakura tersenyum kikuk. Pria di sampingnya tersenyum seakan menguatkan.

Neji lalu melakukan sedikit gerakan kepala menunduk dengan kedua tangan yang di letakkan di atas lantai dan membungkukkan punggungnya. Sakura mau tak mau ikut mengikuti gerakan Neji. Dalam hati ia meruntukin dirinya sendiri. 'Kenapa tadi dia tidak menanyakan apa yang harus ia lakukan di Kuil ini?'.

Beberapa Tetua Hyuuga sedikit terkikik geli saat melihat gerakan penghormatan Sakura yang sangat kaku. Namun dalam hati mereka memahami, faktanya Sakura bukanlah berasal dari Klan yang sama dengan Neji. Masih butuh waktu untuk beradaptasi.

Setelah prosesi penghormatan selesai, sosok Tetua yang duduk tepat di tengah depan Sakura dan Neji langsung buka suara.

"Neji pandai sekali memilih calon istri, kamu sangat cantik dengan rambut merah mudamu. Tidak heran kalau Neji sangat menyanyangimu. Senyummu pun sangat manis," ujar sang Tetua tersenyum ke arah Sakura. Sakura balas tersenyum lalu menunduk. Bingung harus berkata apa. Lidahnya mendadak kelu.

"Ah… tak perlu gugup putriku," ujar sang Tetua lagi.

"H—hai," sahut Sakura sedikit terbata.

Sang Tetua lalu mengambil sebuah bungkusan kecil yang terletak di meja samping kanannya. Membukanya lalu menyodorkan bungkusan kecil itu pada Neji.

"Pakaikanlah pada jari manis calon istrimu!" titah sang Tetua. Neji lalu mengangguk. Lalu mengambil cincin dengan uiran khas Hyuuga yang berukuran lebih kecil lalu memakaikannya pada jari manis kiri Sakura. Sakura memandangi tangan Neji yang tengah memegang tangan kirinya. Dengan berlahan cincin itu tersemat di jari manisnya. Neji tersenyum padanya. Sakura terpaku dan tetap diam.

"Nah… putriku, sekarang kau pakaikan cincin satunya ke jari calon suamimu!" titah sang Tetua memandang lembut ke arah Sakura. Sakura mengangguk dan mengambil cincin yang sama dengannya namun berukuran jauh lebih besar. Tangannya lalu meraih tangan besar Neji. Seketiga jantungnya seakan berdetak lebih kencang saat merasakan sensasi hangat yang menguar dari tangan Neji. Sakura menggigit bibir bawahnya, lalu memandang Neji. Neji kembali tersenyum tipis. Menutup matanya sebentar lalu membukanya lagi, Sakura kemudian memakaikan cincin itu pada jari manis kiri Neji.

Suara tepuk tangan pun terdengar. Mereka semua mengucapkan selamat. Dalam hati Sakura bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memandang satu persatu orang yang hadir di Kuil itu dengan tersenyum kikuk. Ia sama sekali tidak mengerti apa arti dari tepuk tangan dan ucapan selamat yang diberikan padanya.

Menyadari raut wajah bingung begitu tercetak jelas di wajah Sakura. Akhirnya sang Tetua berdehem untuk menghentikan riuh tepuk tangan.

"Sepertinya putriku ini masih belum mengerti, kau belum menjelasakan arti prosesi ini Neji?" tanya Tetua pada Neji. Neji hanya mengangguk.

"Hah… jadi begini putriku, setelah kau dan calon suamimu sudah saling memakaikan cincin klan Hyuuga itu artinya kau sudah resmi diterima menjadi anggota Klan Hyuuga. Dan mulai besok kau harus tinggal di Kediaman Hyuuga bersama calon suamimu. Kami sudah menyiapkan rumah yang akan kau tinggali bersama calon suamimu. Di sana ada dua kamar, kami berharap kalian bisa menahan diri sebelum pernikahan kalian resmi diadakan. Kami juga menyediakan beberapa pelayan yang akan menyiapkan segala macam kebutuhan kalian," jelas Tetua sambil melirik penuh arti ke arah Neji. Neji mengangguk. Sedangkan Sakura masih terlihat terkejut akan apa yang tadi dikatakan Tetua. Neji memang bilang padanya kalau besok dia harus tinggal di kediaman Hyuuga, tapi ia sama sekali tidak sampai berpikir bahwa ia akan tinggal serumah dengan Neji. Kamisama…..

~~~~0000~~~~

TBC

Author's Note

Huwaaaa… akhirnya saya berhasil melanjutkan fic ini….

Gomen yah,,, kemarin saya terlalu larut dalam hingar bingar Korea a.k.a Super Junior jadi fandom Naruto sedikit terabaikan.

Jujur saja saya sedikit kehilangan arah di sini…

Full Neji Saku…. Hampir tidak menyinggung pair lain..

Gomen….

Saatnya membalas review….

Desti

Sudah update yah…. Maaf…. Bulan ini waktuku tersita habis untuk memikirkan Super Junior.

Hahahhahaha….

Kaname

Terima kasih sudah mampir, sudah update yah…

Chapter ini Full Neji Saku..

Semoga suka

Hankira

Ah…. Terharu kalau fic ini bisa membawa tangis. Hahhahaha

Sudah update yah…

Semoga sukaaaaa

Hanazoro Yuri

Hahahha… update nya lamaaa maaff

Hahahha….. Iyaaa, aku juga suka NejiSaku.

Ok ok….. sepertinya Sasuke tetep stay jadi pihak ketiga deh

KunoichiSaki dan Ruchi

Yeyyyy….

Saku nerima Neji ko… tenang saja…

Aku bikin Saki move-on

Hahhaha…

Acinta, Ayu, Rahayu Dea

Sudah update yah..

Hahahhaha… mungkin Neji di sini OOC banget tapi aku suka cowo manis

Hahhahahha

Kirei Neko

Iyaaa… sosok cerewet kadang lebih asik dipasangkan sama sosok kalem

Hahahhah…. Ala drama Korea gitu…

Sudah Update yah…

Happy Reading Minna…

Tong Hilap ~Review~ nya