Disclaimer : naruto milik masashi kishimoto, bukan punya saya... *masih nangis
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
Sakura bersandar pada tiang jembatan. Wajahnya yang putih menunjukan expresi tidak senang. Wajar saja, dia sudah menunggu selama dua jam tapi anggota tim 7 yang lain belum juga muncul.
'*sigh, apakah mereka berdua sudah benar - benar tertilar virus dari kakashi-sensei? Apa hanya aku satu – satunya orang di dunia ini yang mengerti artinya tepat waktu?! Mereka itu menyebalkan!"
"yo..! eh, jadi Cuma kau sakura?"
"iya.."
"hmm begitu"
"kakashi-sensei, bagaimana dengan misi hari ini?"
"yah sudahlah, misi hari ini di batalkan, pergi cari sasuke dan naruto dan cari tahu mengapa mereka tidak datang hari ini."
"baik kakashi-sensei"
"ja ne"
kakashi pergi dengan cara yang sama dengan dia datang. Sakura memandang tempat kakashi berdiri sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan jembatan tempat seharusnya mereka bertemu.
'baiklah, sepertinya aku harus ke rumah sasuke-kun. Mungkin aku harus membawakan sesuatu yang disukainya, mungkin dia akan mempersilahkan ku masuk dan kami akan mengobrol lama, dan... dan... mungkin... kyaaa!'
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
sasuke menikmati nasi dan daging panggang yang disiapkan sang kekasih untuk sarapannya. Sasuke memandang wajah kekasihnya yang sedang menikmati sarapan di depannya.
'ting tong'
Sasuke berjalan ke pintu depan dan bersiap untuk memberikan death-glare terkejamnya pada siapapun di balik pintu karna telah berani menggangggu waktunya bersama naru-chan nya. Sasuke membuka pintu dengan kasar menampilkan wajah penuh harap sakura di depan pintu. Bersumpah serapah di dalam hati, karna tatapan setajam apapun dan kata-kata sekasar apapun tidak akan masuk ke otak gadis didepannya ini.
"mau apa?"
"ano.. sasuke-kun, kakashi menyuruhku kesini untuk menanyakan kenapa kau tidak datang hari ini."
"naruto sakit"
"baiklah, itu menjelaskan kenapa naruto tidak datang. Lalu kau?"
"merawat naruto"
"demo..."
"kalau sudah tidak ada perlu apa – apa lagi. Pergilah, aku sibuk"
"eh? Tunggu sasuke-kun, aku membawakan kue untukmu, mungkin kita bisa memakannya bersama"
"aku tidak suka manis."
"tapi..."
"Oi teme, siapa diluar?"
"bukan siapa – siapa"
Sasuke menutup pintu depan, kali ini sedikit lebih pelan karna tak mau kekasihnya tahu dia mengusir sakura. Naruto selalu berkata untuk bersikap baik pada gadis pink itu, tapi sasuke tidak peduli.
Sakura berdiri mematung di depan pintu uchiha mansion. Air mata mengalir deras di pipinya. Memandang hampa pada sebilah papan yang menghalanginya untuk masuk ke kediaman uchiha, kediaman yang selalu diimpikannya agar suatu saat nanti dia bisa tinggal disana. Papan itu menghalangi segalanya, menghalanginya untuk memasuki kehidupan sasuke-kun nya.
'kenapa? Apa yang naruto punya dan aku tidak? Kenapa?'
Tiba-tiba wajah sakura berseri, dia memikirkan sesuatu yang mungkin bisa membuat sasuke menjadi miliknya selamanya.
'atau apa yang aku miliki dan naruto tidak'
Sakura berlari dari komplek milik keluarga uchiha dengan senyum sumringah bertengger di bibirnya. Sisa – sisa air mata masih menempel di pipinya.
'iya, cara ini pasti berhasil. Sasuke-kun akan menjadi miliku.'
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
"auw"
Naruto meremas ujung meja dengan kencang menahan sakit di bagian belakannya yang berdenyut-denyut. Berdiri dengan cepat setelah duduk beberapa lama di meja makan bukanlah pilihan yang bijaksana. Apalagi setelah aktivitas yang dia lakukan semalam.
"kau baik – baik saja dobe"
"tidak."
"sepertinya kau harus istirahat dobe."
Sasuke menyelinap kebelakang naruto dan mengangkat tubuh mungil kekasihnya itu menggendonnya ke kamar mereka. Sasuke menurunkan tubuh naruto ke atas tempat mereka tidur dengan perlahan. Menarik selimut dan membalut tubuh naruto dengan selimut mereka. Sasuke mencium naruto lembut.
"maaf ya."
"kau meminta maaf dua kali hari ini sasuke. Seorang uchiha meminta maaf. Aku kira aku tidak akan hidup cukup lama untuk mendengarnya"
"hn, salahkan dirimu sendiri. Kau yang sudah membuat seorang uchiha bertekuk lutut di hadapanmu."
Sasuke menempelkan dahinya ke dahi naruto. Memandang pada bola mata sebiru langit yang selalu dapat membaca fikirannya seperti sebuah buku yang terbuka lebar. Naruto selalu mengerti makna dibalik perkataannya, mengerti tujuan dari segala tindakannya, mengerti makna dibalik expresinya. Naruto selalu mengerti dirinya bahkan melebihi dia mengerti dirinya sendiri. Mengingat masa lalu, dimana sasuke meninggalkan naruto yang tidak sadarkan diri di lembah kematian untuk pergi ke orochimaru. Saat itu sasuke begitu dekat dengan naruto, wajah mereka hampir bersentuhan. Iris biru itu tertutup oleh kelopak mata tan.
"sasuke?"
"hn?"
"apa yang kau lakukan?"
"memandangimu"
"aku tahu. kenapa?"
"karna kau manis"
"teme!"
"hn"
Sasuke berbaring di tempat tidur di samping naruto. Melingkarkan lengannya di pinggang naruto dan menariknya lebih dekat, memeluknya erat.
"oi teme, apa kita hanya akan bermalas – malasan seharian?"
"biarkan saja"
Mereka memejamkan mata sebelum akhirnya terlelap kedunia mimpi.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
sasuke memandang wajah naruto yang sedang terlelap. Terselip sedikit rasa bersalah di hatinya, rasa bersalah karna memikirkan sesuatu yang harusnya sudah terkubur dalam. Klan uchiha. Sasuke berusaha menyingkirkan fikiran itu jauh-jauh dari otaknya. Sejak awal, sejak dia memutuskan untuk menjadikan naruto miliknya, dia juga telah memutuskan untuk menyerah pada mimipinya membangkitkan klan uchiha, klan yang penuh kebanggaan dan terpandang. Tapi tetap saja terkadang pikirannya tertuju pada mimpi itu. Saat dia melewati lorong – lorong uchiha mansion yang terukirkan lambang keluarga uchiha, Bisikan – bisikan para penduduk desa tentang klannya, dia tau betapa bisikan menyakitkan itu mempengaruhi naruto. Tapi bagaimana dia bisa meyakinkan naruto tentang hubungan mereka jika dia sendiri memiliki keraguan dihatinya. Seolah-olah orang tuanya, para tetua uchiha mengutuk hubungan mereka karna dengan adanya hubungan mereka klan uchiha akan mati bersama sasuke. Sasuke memandang keluar jendela, kearah dinding yang mengitari kompleks uchiha, dinding yang terukir lambang uchiha di setiap jengkalnya, seolah berteriak padanya untuk meneruskan keturunan uchiha.
'sial, kenapa aku harus membunuh itachi.'
Sasuke beranjak dari tempat tidurnya, keluar dari kamar mereka dan menutup pintu dengan pelan agar tidak membangunkan naruto dan berjalan menjauh. Tanpa di ketahuinya naruto meneteskan air mata tepat saat dia mendengar pintu tertutup.
'apa kau masih memmimpikan mimpimu dulu sasuke? Apa aku menjadi penghalang bagi mimpimu?'
Sasuke menyusuri lorong panjang yang di penuhi simbol klan uchiha menuju satu ruangan, ruangan yang dia bahkan tidak mengijinkan naruto untuk masuk. Kamar orang tuanya dulu. Dia memasuki ruang berdebu itu, memandang sekeliling. Barang – barang yang menjadi kenangan masa lalunya tersimpan disini, tidak pernah terjamah semenjak dia kembali dari desa bunyi satu setengah tahun yang lalu.
"ayah, ibu. Apa aku mengambil keputusan yang benar?"
Sasuke menampar dirinya dalam pikirannya, bagaimana bisa dia mempertanyakan keputusannya untuk bersama naruto? Padahal sejak awal dia yang menarik naruto untuk masuk ke dalam kehidupannya. Sasuke segera keluar dari ruangan itu dan mengunci pintunya rapat-rapat.
'tidak! Naruto adalah satu – satunya untukku. Hanya naruto.'
Sasuke kembali melewati lorong panjang yang tadi telah di lewatinya, menuruni anak tangga menuju dapur. Ini sudah lewat jam makan siang. Dia berfikir untuk memasak untuk kekasihnya. Lagi pula kekasihnya tidak bisa keluar dari tempat tidur tanpa menyakiti pantat sexinya yang menggoda itu.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
naruto mengangkat badannya hingga ke posisi duduk, dia meghapus airmata yang sedari tadi mengalir deras di pipinya. Beranjak dari tempat tempat tidurnya, sedikit menahan sakit saat berdiri, yah memang masih sakit. Naruto berjalan perlahan menuju kamar mandi yang terhubung dengan kamar mereka (damn rich uchiha). Naruto memandang bayangannya di cermin, mata biru, rambut pirang berantakan, kulit wajah yang memerah dan mata yang merah dan bengkak adalah refleksi yang dia dapatkan. Dia menghidupkan kran air di wastefel, mengumpulkan air di telapak tangannya dan menyapukannya ke wajahnya berkali-kali untuk mengurangi warna kemerahan dan matanya yang bengkak. Saat dia kembali ke kamar sasuke sudah ada di kamar mereka, membawa makan siang mereka.
"seharusnya kau memanggilku jika ingin ke kamar mandi dobe
"aku tidak perlu bantuan hanya untuk ke kamar mandi teme."
"kau bilang aku harus menggendongmu kemana saja"
"jarak kamar mandi hanya dua meter teme, apa aku harus menunggumu hanya untuk itu?"
"hn"
Sasuke meletakan makan siang yang tadi dibawanhya ke meja di sebelah tempat tidur dan membantu naruto untuk naik kembali ke tempat tidur.
"aku membuatkan makan siang untukmu"
"ramen?" naruto bertanya dengan penuh harap.
"bukan" sasuke memutar bola matanya atas kelakuan kekasihnya ini
"tapi aku mau ramen"
"kita sudah makan ramen kemarin dobe"
"itukan kemarin"
"kau harus mengurangi porsi makanan tidak sehat itu"
Naruto menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya dari sasuke.
"naruto." Ketika sasuke memanggilnya dengan nama naruto tau dia sedang serius.
"apa?"
Sasuke mengangkat dagu naruto dan membuat naruto menghadapnya, mendekatkan wajahnya ke wajah naruto dan memperhatikannya dengan seksama.
"apa kau habis menangis?"
"ti-tidak"
"jangan bohong, matamu bengkak."
"..."
"naru-chan, ada apa?"
"tidak ada apa-apa"
Sasuke duduk di samping naruto, kedua telapak tangannya menyentuh kedua pipi naruto membuat naruto hanya bisa terfokus ke arahnya.
"ada apa"
"tidak ada, hanya mimpi buruk"
Naruto membenamkan wajahnya di dada bidang sasuke, sengaja menghindari tatapan mata yang tajam milik sasuke. Dia tau jika dia memandang ke dalam mata sekelam langit malam itu, tidak akan ada kebohongan yang terlewat.
Sasuke merengkuh tubuh mungil kekasihnya, mengelus rambut pirang yang tak beraturan namun sangat lembut, menghirup aroma cytrus dan vanila yang sangat dia sukai.
"ayo makan, ini sudah lewat jam makan siang."
Naruto hanya mengangguk pelan. Wajahnya masih terbenam seluruhnya di dada sasuke. Naruto mengangkat wajahnya dari dada sasuke dan tersenyum kepada sasuke.
"jadi apa makan siang kita teme"
"yakiniku"
Sasuke mengambil mangkuk berisi nasi dan daging memberikannya pada naruto dan mengambil miliknya sendiri.
"itadakimasu" naruto berteriak dengan semangat sebelum melahap makanan yang disiapkan oleh kekasihnya. Mereka menikmati makan siangn yang sedikit terlambat itu dengan tenang.
x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x
pendek ya? Versi awalnya lebih pendek.. maaf yaa.
