ANGRY BEAR 2

ANNYEONGHASEYO~

Kimmy datang lagi.. datang lagi.. datang lagi.. hahaha..

Ini canon story lagi ya, idenya datang dari foto-foto sama desas desus soal luka di pipi Jae Umma pas JYJ mau berangkat ke Guangzhou, sama cara jalan Umma yang agak aneh. Hahahaha.. agak-agak ngangkang gimana gitu.. (upss)

Enjoy Reading~ Kindly leave review, ne.. GOMAWO.. MUAACHHHH…

.

.

.

"Seharusnya ia tak meragukan cintaku padanya. Aku benci ia yang tak meyakini kesetiaanku."

.

.

Ratusan kali Kim Jaejoong melihat ke arah pintu apartement kekasihnya dan berharap pintu itu terbuka, menampilkan sosok seseorang yang sangat dirindukannya. Nihil, hampir 5 jam Jaejoong menunggu, tapi namja tampan itu tidak juga datang, tidak ada yang membuka pintu itu dan tidak ada yang terkejut mendapati keberadaan Jaejoong di dalamnya, kekasihnya, Jung Yunho, tidak kunjung terlihat. Pintu itu seperti terkekeh mengejek namja cantik yang mendengus sebal itu. Padahal Jaejoong sudah mengorbankan waktu istirahatnya agar bisa mampir ke apartement kekasihnya dan bertemu dengannya, tapi apa yang ia dapatkan dari pengorbanannya? Apartement Kosong.

"Dia belum pulang hingga selarut ini, apa sih yang dilakukan si Jung itu, sebetulnya?" Gumam Jaejoong, padahal jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi tapi kekasihnya belum juga pulang dari gedung tinggi tempatnya bekerja, SM building.

Jaejoong benar-benar lelah menunggu kekasihnya datang, masakan yang ia siapkan untuk Yunho sudah tidak lagi mengepul, tidak ada yang menyentuh hasil masakan jerih payah Jaejoong. Ia sampai berpikir apakah Yunhonya benar-benar lembur dikarenakan pekerjaannya atau dia lembur karena alasan yang lain? Tapi untuk alasan apa Jaejoong juga tidak tahu. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi hubungan mereka akhir-akhir ini memang membuat jaejoong merasa lelah, ia mulai merasa ada yang asing yang seharusnya tidak berada diantara mereka berdua, tapi apa? Segera ia tepiskan pikiran yang bukan-bukan lalu membuang masakan-masakan itu, sungguhpun perutnya perih karena lapar, tapi ia tidak berselera sama sekali, makanan yang sudah susah payah ia hias dan sajikan rapi di atas meja makan, kini harus berakhir di tempat sampah. Kemudian ia beranjak ke kamar, membersihkan diri, berganti baju dan tidur.

.

Entah pukul berapa, akhirnya Jaejoong merasakan kasur di sebelahnya terisi, dan sebuah tangan kekar melingkari pinggang rampingnya, menarik Jaejoong ke dalam pelukan hangat yang begitu ia rindukan, kini Jaejoong bisa bermimpi indah, tidur di pelukan kekasihnya sungguh sangat nyaman dan kenyamanan inilah yang ingin ia rasakan selamanya. Selamanya.

Pagi-pagi sekali, alarm di ponsel Jaejoong berbunyi, padahal mungkin ia baru benar-benar tidur sekitar satu jam, hari ini JYJ harus berangkat ke Guangzhou, China, Jaejoong harus segera kembali ke apartementnya, mengambil koper dan seluruh perlengkapan yang memang sengaja sudah ia siapkan sejak kemarin, lalu berangkat ke airport.

.

"Apa kau harus pergi sepagi ini, Boojae? Aku bahkan belum puas memelukmu, sayang ." Protes manja kekasihnya ketika Jaejoong hendak melepaskan diri dari pelukan protektifnya..

"Kau darimana saja semalam? Kenapa baru pulang menjelang pagi?" nada suara yang keluar dari mulut Jaejoong cukup mengagetkan Yunho. Terbukti dengan tatapan mata Yunho yang berubah mendelik tajam dan menusuk itu.

"Dari SM, memang darimana lagi?" Yunho beranjak dari kasur dan masuk ke kamar mandi sebentar.

"Lembur? Kau pikir aku percaya, Jung? Aku berada disini dan menunggumu 6 jam lebih, tapi kau tidak kunjung pulang."

"Kau tidak bilang mau datang kan, Kim? Jangan salahkan aku kalau aku tidak tahu kedatanganmu kemari." Adu mulut mulai terdengar diantara keduanya.

"Aku hanya ingin memberimu kejutan selamat datang, tapi tidak ku sangka malah aku yang terkejut."

Jung Yunho terkekeh, "Kejutan selamat datang? Ini tidak terlalu pantas jika disebut sambutan selamat datang."

"KAU BERENGSEK JUNG YUNHO! ! ! Kau sibuk berselingkuh dengan senior jalangmu itu kan?" teriak Jaejoong sambil melempar bantal ke arah kekasihnya.

"KIM JAEJOONG!" seruan Yunho yang sangat keras itu membuat Jaejoong tersentak. Tiba-tiba saja Yunho sudah berada di depannya dan merebut bantal yang tadinya hendak Jaejoong lepar lagi ke wajahnya.. Ada apa dengannya? Alisnya yang tegas dan rapi itu bertaut, bibirnya mengatup dengan dingin dan tatapannya …. Membuat Jaejoong was-was. Jaejoong lalu merundukkan wajahnya takut. Pagi itu, bahkan ayampun belum bangun, kedua insan yang terikat perasaan cinta itu sudah saling berteriak.

"Kau ingin bicara? Ayo, kita bicarakan pelan-pelan." Bujuk Yunho mencoba untuk tenang.

Jaejoong masih berdiri mematung, kata-kata Yunho tadi hanya sehembus angin yang masuk ke telinga kanan dan keluar dari telinga kirinya.

"Kenapa kau baru pulang menjelang pagi? Kau kemana?" suara Jaejoong terdengar parau, menahan tangis.

"Semalam aku ada meeting dengan manager, dan pelatih koreografi."

"Kenapa tak memberitahuku?" potong Jaejoong.

"Aku tidak merasa kau perlu tahu, kalau saja kau bilang mau datang kesini, aku pasti akan pulang lebih cepat Boojae, mengertilah. Ini bukan sepenuhnya kesalahanku." Yunho menghela nafasnya, lelah. Ia lelah menghadapi Jaejoong yang sedang emosi.

"Jelaskan padaku soal ini?!" Jaejoong memperlihatkan foto kemesraan Yunho dan BoA yang kemarin beredar ramai di twitter.

"Kau mau penjelasan seperti apa?" tantang Yunho.

"Akui saja, kalau kau selingkuh, Jung Brengsek! ! !" teriak Jaejoong dengan air mata yang mulai mengambang.

Yunho merebut paksa ponsel Jaejoong dan,

BRRAAAKKK!

Mata indah Jaejoong melebar, terpaku melihat aksi Yunho yang seenaknya melempar ponselnya layaknya seorang pitcher yang melempar bola baseball. Amarah Jaejoong memuncak naik ke ubun-ubun, rasa-rasanya sebentar lagi ia betul-betul mau meledak memikirkan kelakuan berlebihan Yunho, untuk apa Yunho kesal kalau foto itu memang tidak ada artinya untuk dia? Untuk apa?

"Sejak tadi kau kubiarkan meracau tidak jelas, tapi kini kau semakin lancang, menuduhku, memojokkanku, AKU MUAK BOOJAE-AH! ! !"

"Bukan berarti kau berhak menghancurkan handphoneku! !" teriak Jaejoong tak kalah keras darinya. "Lagipula kau bilang apa tadi, Meracau? Aku sedang menasehatimu sebagai seorang kekasih! Kau miliku, Yunho! Aku wajib tahu dimana kau berada dan apa yang sedang kau lakukan!"

"Menasehati? Sejak kapan menasehati berubah menjadi kalimat-kalimat tuduhan? Dan apakah berteriak seperti ini masih cocok disebut menasehati?"

"Jangan mencoba mengalihkan permbicaraan Yunho-ah, Jelaskan padaku hubunganmu dengan yeoja yang selalu saja menganggu hubungan kita, kau benar berselingkuh? Iya? Katakan padaku, Yunho-ah?

"Tidak sepantasnya kau bicara begitu Kim Jaejoong! Apa kau tidak pernah merasa harus bercermin pada dirimu sendiri?"

"Aku? Kau mau memutar balikan fakta, Yunho?! Kau bahkan kenal dengan semua temanku, dan aku selalu mengabarimu semua kegiatanku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, tapi kau? KAU TIDAK PERNAH YUNHO! ! ! Hingga aku bertanya-tanya apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana, bahkan sempat terpikir olehku kau mungkin tidur dengan wanita lain di luar—"

.

PLAAAAAKK! !

.

Sebuah tamparan sukses mendarat di pipi mulus Jaejoong, yang parahnya adalah, permata di cincin Yunho melukai pipi mulus Jaejoong, darah merangsak keluar dari luka kecil itu. Tangis Jaejoong pecah, air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Baru kali ini Yunho bertindak sekasar ini pada dirinya. Memang tamparan dan luka yang disebabkan Yunho sedikit sakit dan perih, tapi bukan luka itu yang membuat Jaejoong menangis hebat, bukan, bukan karena sakit dipipinya melainkan hatinya. Hati Jaejoong rasanya seperti teriris mengingat Yunho tak pernah melukai fisik sebelumnya, semarah apapun ia pada Jaejoong, tapi kali ini dia benar-benar keterlaluan.

Terlihat Yunho pun tampak terkejut dengan kelakuannya sendiri, itu seperti diluar kesadarannya. "Sayang, aku— —"

"AKU BENCI PADAMU!" Jaejoong menatap langsung mata musang itu nanar dengan mata yang basah, ia beranjak meninggalkannya. Dengan nafas yang tersendat-sendat dan luka dengan darah yang menetes Jaejoong pergi dari apartement Yunho, kejutan selamat datang Jaejoong sukses besar, dan tamparan ini adalah hadiah yang didapatkannya. Fantastis.

.

Setelah kepergian Jaejoong dari apartementnya, Yunho tersadar akan perbuatannya, 'Tuhan, apa yang barusan kulakukan padanya? Kenapa aku menamparnya? Astaga, kerasukan apa aku ini hingga tega-teganya menampar wajah kekasihku sendiri?'

Kedua lutut Yunho terasa sangat lemas membuat tubuhnya jatuh terduduk di sofa, perlahan matanya terasa panas dan berair. Ia merasa begitu bersalah pada Jaejoong, merasa begitu berdosa karena telah melakukan perbuatan kasar yang melukai fisik dan hati Jaejoong.

Jung Yunho melihar ke arah ponsel kekasihnya yang masih tergeletak berceceran di lantai, Kenapa ia begitu lepas kendali? ?

Teringat kejadian panas beberapa menit lalu, hati Yunho memang begitu sakit saat Jaejoong menuduhnya telah bermain dengan wanita lain. Seharusnya Jaejoong tahu bahwa ia tidak mungkin melakukannya. Hanya Jaejoong satu-satunya yang ia cintai. Benar-benar hanya Jaejoong.

"Seharusnya ia tak meragukan cintaku padanya. Aku benci ia yang tak meyakini kesetiaanku."

"AAARRRGGGHHH! SHIT!" teriak Yunho sembari mengacak rambutnya dan menjambaknya kuat. Kepalanya pusing, dadanya bergemuruh dan hatinya sakit. Namun rasa bersalahnya yang teramat menyiksanya.

.

Yunho tau hari ini JYJ akan berangkat ke Guangzhou, China. Dan dia tidak akan tenang sebelum masalah ini selesai dengan kekasihnya, tergesa-gesa ia menjambret asal jaket dan kunci mobil lalu pergi menyusul kekasihnya di apartement namja cantik itu.

Seperti orang kesetanan, Yunho mengemudikan mobilnya, jujur saja ia takut terlambat, ia takut jaejoong sudah berangkat ke bandara, dan ia tidak mungkin bodoh menampakan diri di bandara, masalah akan semakin runyam. Tapi mungkin saja itu akan dilakukannya bila nanti ternyata jaejoong sudah tidak di apartementnya.

Dewi fortuna rupanya masih berpihak pada Yunho, Jaejoong masih berada di apartementnya, bahkan ia masih meringkuk di tempat tidrunya, suara tangisan terdengar menyayat hati Yunho, jangan ditanya bagaimana Yunho masuk ke dalam apartement kekasihnya, passcode apartement mereka berdua adalah deretan angka yang sama, tidak ada rahasia sekecil apapun diantara mereka, andai saja jaejoong mau memahaminya.

.

"Sayang.." Yunho merangsak naik ke atas tempat tidur Jaejoong.

"Pergi, kau Bear." Suara Jaejoong terdengar sangat serak.

"Maafkan aku, tolong maafkan aku. Aku betul-betul tidak sadar melakukannya tadi. Hatiku sakit Baby, kenapa kau meragukan cintaku padamu? Kau harusnya bisa merasakannya, sayang." Yunho menghela nafasnya. "Kau adalah satu-satunya milikku, satu-satunya kekasihku. Demi Tuhan aku tidak pernah melakukan apapun yang kau tuduhkan, Boojae." Yunho mengusap lembut gundukan selimut yang tidak lain adalah kekasihnya.

Jaejoong membuka selimutnya, wajahnya sembab dan matanya bengkak, luka gores di pipinya bahkan belum dibersihkan dan diobati.

"Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan padamu." Yunho sungguh sakit melihat kondisi kekasihnya yang tampak mengenaskan itu, mata bulat besarnya tampak benar-benar bengkak dan lingkaran di bawah matanya terlihat sangat memerah, lalu darah dari luka gores di pipinya mulai mengering.

"Maafkan aku, bear. Aku juga emosi tadi." Tangis Jaejoong pecah lagi.

Jung Yunho menarik tubuh rapuh kekasihnya ke dalam pelukannya. Mengecupi luka yang ia buat tadi, dan menciumi kedua mata bengkak kekasihnya. Kemudian ciuman itu turun ke bibir ranum kekasihnya yang juga tampak membengkak karena menangis, kini Yunho tidak bisa lagi menahan hasrat kerinduannya pada tubuh indah kekasihnya, dan Jaejoong ia hanya pasrah menerima perlakuan Yunho, jujur ia sangat menyukainya.

.

"Bear, maafkan aku mencurigaimu." Kata Jaejoong pelan disela-sela kegiatan intim mereka.

"Aku yang harusnya minta maaf, harusnya aku mengerti sifat pencemburuanmu, harusnya aku tidak berteriak padamu, harusnya aku tidak menamparmu, harusnya aku …" kalimat Yunho terputus manakala jaejoong meraup bibir hatinya untuk dikulumnya seperti permen.

"Kau terlalu cerewet, Bear."

"Aku mencintaimu, sayang."

"Aku juga mencintaimu."

"Jangan pernah ragukan lagi cintaku, karena ini hanya milikmu."

"I am the only one?"

"Yes, you are.. and all my heart, my body and my soul is yours. I love you." Bisiknya lembut di telinga sensitif milik Jaejoong.

"How much?"

"There aren't enough numbers to measure it."

"There is no number that represents your Love's amount to me?" Tanya Jaejoong, pipinya betul-betul memerah, namun bukan karena ditampar Yunho, tapi karena rona bahagia yang di salurkan hatinya.

"No number exist."

"Do you really love me that much?"

"You shouldn't have to ask, baby."

"Then give me your kisses."

"You will never get enough with only my kisses, angel."

"Dasar beruang gendut pervert! Selalu saja berakhir begini, dan ingat, kau harus ganti ponselku." namja cantiknya terkekeh kecil.

"Akan ku ganti dengan yang terbaru, gajah cantikku."

.

Dan mereka punya waktu satu jam untuk membuatkan Changmin seorang dongsaeng, sebelum manager JYJ menjemput Jaejoong.

.

.

.

-END-