Nah, selamat menikmati chapter 3 nya... semoga memuaskan. hehe... minta do'anya biar UTS lancar, ntar jadi cepet update kalau UTS lancar. hehe. soal nama tempat, maaf kurang tau ya... kalau ada kesalahan, review aja :) insyaallah ren perbaiki :)
Nemui Neko-chan : Iya, hehe. sama tuh... nel-chan juga ngubek-ngubek jantungku :D. Ah, sebenarnya ga sejahat ntu kok. cuman plinplan aja ;)
orb90 : Nih lanjut :)
Dinah : Nih cepet apa engga? hehe
NaPpy : Buat senpai tersayang gtoooo~~ hehe. G bakalan balik tuh Athrun.
Guest : Jangan nangis atuhhhh...
ichirukilover30 : Nih Kira muncul :D
G punya akun : Makasih. karena kamu cinta cerita ini, aku cinta kamu! haha
Fivani-chan : Makasih! ;) semoga ini juga memuaskan vani-san :)
pandamwuchan : Nee-chan baka! *gigit kepala nee-chan... cepet update atuh!
popcaga : ets, masih belum. hehe
asucaga lovers : iya, lanjut, lanjut :) makasih setia baca ya...
Misca : Arigatou misca-san ;)
: berhubung ren anak baik, g ingkar janji. hehe
Asuka Mayu : ha'i ;) arigatou.
NN : seneng kalau masuk ke hati :) nih lanjut ceritanya. jangan nangis lagi ya :)
Di tengah hujan itu, aku pergi tanpa tau kemana tujuanku. Aku begitu lemas, serasa tak mampu untuk berdiri lagi saat kusadari dua hari ini tak ada satupun makanan yang masuk ke perutku. Aku ingin makan, tak ingin membuat sakit janinku. Tapi tak bisa, sudah tak ada selembar atau sekoinpun uang yang ada di dompetku. Bagaimana ini? aku sangat takut jika terjadi suatu hal yang buruk pada janinku.
Saat aku bersikeras berjalan menelusuri kota metropolitan ini, kakiku berkata lain. Seberapa besar niatku untuk tetap melaju, kakiku tak mampu mewujudkannya. Aku bersandar di dinding sebuah toko roti, menengok ke dalam, tergiur dengan bau sedap yang masuk di indra penciumku.
'Apa ada orang yang berkenan memberiku sedikit roti miliknya? Kami-sama… Tubuhku sebentar lagi akan tumbang.'
Aku menunduk, mengelus perutku yang masih nampak datar walau saat disentuh mulai terasa berbeda dengan perutku dua bulan yang lalu. Dengan beratnya hidup yang aku jalani sejak meninggalkan rumah itu, aku masih dapat tersenyum jika ingat aku akan memiliki seorang bayi dari orang yang aku cintai.
"Maaf, apa kau ingin berbagi roti hangat ini denganku? Aku membelinya terlalu banyak. Kau tahu? Ini roti terbaik di negara ini."
Aku mengangkat kepalaku, terkejut pada suara maskulin yang sepertinya ditujukan padaku. Berdiri di sana, pria berambut coklat yang tersenyum seraya mengulurkan sebuah roti yang nampak enak. Aku tersenyum, bersyukur Tuhan masih peduli padaku. Namun saat aku akan meraih roti dari tangan kekarnya, tubuhku ternyata benar-benar tumbang saat itu juga.
.
.
.
Desclaimer : Gundam Seed/Gundam Seed Destiny Is not Mine
Wanita Simpanan by. RenCaggie
Rate : T semi M (?)
Genre(s) : Drama, Hurt, Family
Warning : GaJe, Abal-abal (-_-)
.
.
Cagalli POV
5 bulan telah berlalu sejak aku mulai tinggal di rumah ini, rumah milik Komandan Utama militer Helitopsis. Dia pria berusia sekitar 26 tahun, sama… dengan pria di masalaluku. Aku tahu, aku seperti benalu yang tinggal di rumah seseorang yang sebelumnya sama sekali tak kukenal. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada tempatku berteduh di dunia ini. Aku lari dari ORB, pergi tanpa arah hingga tiba di Negara ini, Helitopsis. Aku ingin hidup mandiri, namun uang sakuku tak mencukupi untukku menyewa sebuah kontrakan sekecil apapun. Lalu aku bertemu dengannya, orang yang membawaku ke sini karena di depan toko itu aku pingsan dan dia juga merawatku hingga siuman.
Pertama aku membuka mataku, seorang wanita paruhbaya tersenyum lembut padaku. Aku bingung, tak tahu di mana aku berada. Kulihat sekelilingku, sebuah kamar yang sangat luas. Aku bertanya pada wanita itu, dia berkata ini kediaman Tuan Yamato. Tak lama, pria yang aku jumpai di depan tokopun muncul dengan pakaian kasual yang membuatnya nampak santai. Aku jadi gugup saat itu, merasa tak enak hati setelah perbuatan baik yang dilakukan pria itu. Aku akan pamit padanya ketika itu juga sampai ia bertanya kemana aku akan pergi. Ah, aku tak tahu. Diapun mengatakan sebuah fakta yang membuatku terkejut, kondisi kehamilanku, memburuk.
Seperti seorang paranormal saja, dia mencoba membaca riwayat hidupku. Dia berkata bahwa aku perempuan yang hamil di luar pernikahan dan lari dari keluargaku. Aku sempat membisu saat itu, lalu kemudian berkata padanya bahwa aku bukan lari dari keluargaku, dari awal aku tak punya seseorang yang bisa aku akui sebagai keluaga. Diapun terdiam, seperti memikirkan seatu hal hingga sabuah kalimat ajakan meluncur dari mulutnya. 'tinggalkan di sini'.
Aku menolak, tak ingin aku mengulang cerita yang lalu dengan pria baru. Aku tak ingin menjadi beban orang lain, aku tak ingin hidup seperti wanita simpanan lagi. Namun satu alasan membuatku menyerah pada egoku, janin ini, aku tak mungkin mengacuhkannya dan membahayakan nyawanya. Pria itu bercerita tentang sedikit hidupnya, suatu waktu, dia tak sempat untuk menjaga wanita yang dicintainya ketika mengandung. Karena itu, ia ingin merawatku untuk menebus dosanya. Wanita paruhbaya itu menghampiriku, memegang tanganku dan meyakinkanku bahwa pria itu dengan tulus ingin membantuku, tak akan berbuat hal buruk padaku.
Aku memejamkan mataku sejenak, berpikir, apa menerimanya adalah keputusan yang baik? Aku memantapkan hatiku dan berkata terimakasih padanya serta dengan senang hati menerima tawaran untuk tinggal di rumah ini. Diapun menghampiriku dan menjabat tanganku.
"Aku, Kira Yamato. Dan ini Myrna, orang yang membantuku dalam urusan rumah tangga."
"Cagalli Hibiki."
XXXXXXXX
Aku hidup dengan tenang di rumah ini. Myrna sangat baik padaku, dan Kira memperlakukanku dengan sewajarnya. Sebagai orang yang hanya menumpang di rumahnya, akupun membantu Myrna dalam mengerjakan pekerjaannya. Tapi aku hanya mengerjakan pekerjaan ringan seperti memasak dan merawat tanaman berhubung Kira dan Myrna begitu Overprotective pada kondisiku yang seringkali melemah.
Saat ini aku sedang berada di halaman belakang, dengan sebuah gunting kupotong bunga tulip segar untuk mengganti bunga yang ada di vas bening di ruang tamu. Ini menjadi kesukaanku, apalagi halaman belakang rumah ini sangatlah luas dengan berbagai macam bunga-bunga.
"Cagalli, istirahatlah … matahari sudah mulai meninggi." Aku mendengar suara Myrna dari arah belakang. Aku berbalik dan tersenyum padanya.
"Baiklah, sepertinya bunga tulipnya juga sudah cukup." Akupun melangkah masuk ke dalam rumah. Aku mengganti bunga dalam vas kemudian duduk di sofa yang terdapat di ruang tengah.
"Ah, kau di sini rupanya." Aku melihat ke sumber suara, seorang pria berambut cokelat dengan mata Amesthy berdiri dengan sekantung kresek. Dia kemudian berjalan mendekatiku dan duduk di sampingku.
"Selamat pagi jagoan!" Ucapnya sambil mengelus lembut perut buncitku. Oh iya, selama ini dia selalu mengantarku mengikuti cek kesehatan kehamilan. Bulan lalu aku mengikuti cek USG, dan ternyata bayi dalam kandunganku diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Kira tersenyum, dia bilang, dia senang memiliki anak laki-laki yang akan berlarian di rumahnya nanti. Dia akan mengajarinya banyak hal dan dengan semangat mengatakan bahwa dia akan mengajak anakku nanti berpetualang di hutan rimba. Lupakan pernyataannya yang terakhir, aku tidak akan mengijinkan anakku berpetualang dalam 'medan' yang berbahaya.
"Kau beli apa, Kira?" Tanyaku dan mengarahkan pandanganku pada kantung kresek yang dibawanya.
"Ini buah-buahan, untukmu."
"Terimakasih, Kira."
"Jagalah kesehatan selalu, aku tidak mau mendengar kau pingsan lagi. Itu seperti pernyataan bahwa aku gagal menjagamu." Ucapnya dengan nada sendu.
"Maafkan aku, Kira." Aku menunduk, merasa bersalah padanya.
"Sudahlah, tak apa." Dia tersenyum dan mengelus puncak kepalaku yang membuatku cemberut.
"Aku ibu hamil, bukan anak SD, Ki-ra!"
"Haha… dasar kau ini." dia tertawa, seperti senang memperlakukan aku sebagai anak SD.
Beginilah hari-hariku, penuh dengan perhatian dari Myrna dan Kira. Aku sampai bingung sendiri, kenapa aku sampai sakit padahal mereka bergitu memperhatikanku serta asupan nutrisiku. Mungkin, karena setiap malam aku memikirkan seseorang yang kini jauh dariku. Aku sudah mencoba melupakannya, aku bahkan menghindari diri dari menonton televisi agar tak sampai melihat wajahnya. Namun bayang-bayang tentang dirinya, tetap jelas di memoryku.
XXXXXX
Hari ini aku akan pergi dengan Kira ke luar rumah, ini pertama kalinya aku keluar selain untuk keperluan cek kesehatan. Dengan pakaian putih biru model khusus ibu hamil, aku merapikan rambutku yang kini mulai memanjang. Aku melangkah keluar kamarku dan disambut hangat oleh Kira.
"Kau siap?" tanyanya.
"Ya, aku sangat rindu udara luar."
Kami berjalan berdampingan menuju pintu depan. Namun saat hampir sampai, Kira menepuk jidatnya petanda dia melupakan suatu hal.
"Dompetku tertinggal. Bisa kau tunggu di mobil? Aku akan ke kamar sebentar."
Aku mengangguk dan diapun melesat pergi menuju kamarnya. Aku kembali melangkah, membuka pintu untuk menunggunya di mobil. Tapi saat aku membukanya, berdiri di sana sosok yang terakhir ingin aku temui di dunia ini.
Aku membatu, ini… hanya mimpi, bukan? kenapa bisa, wanita berambut merah muda ini ada di depanku? Apa dia mencariku?
"Ah, aku baru saja akan menekan bel. Siapa kau?"
Aku diam mematung ketika ia mulai membuka mulutnya. Aku ingin lari, tak ingin berada di posisi ini.
"Hey, kenapa kau ada di rumah Kira? Apa kau tamunya, nona? Kira ada di dalam?"
Aku berusaha mengontrol akal sehatku agar bersikap normal dan menjawab pertanyaannya.
"A-ada…" aku tak berhasil, aku menunduk dengan gugup.
"Ada apa dengan kau ini? dasar. Tapi tunggu…" aku melirik padanya, dia seperti sedang memikirkan suatu hal dengan serius.
"Kau ini, bukankah kau perempuan itu?" tanyanya yang membuatku panik dan sedikit gemetar.
"Benar, kau,kau wanita itu! kenapa kau ada di sini? Terlebih, dengan perut buncitmu? Dasar wanita jalang!" dia menaikkan nada bicaranya dan menamparku dengan seketika membuat aku dengan paksa melihat ke kananku.
"Berani-beraninya kau merebut suami orang. Berani-beraninya kau!" Dia kembali menamparku , kali ini memaksaku melihat arah kiri. Kedua pipiku terasa panas dan sakit.
"Wanita murahan! Kali ini apa? Kau menggoda Kira?" dia mendorongku hingga terjatuh. Aku takut padanya, aku takut pada situasi ini, aku takut akan hal buruk yang mungkin terjadi pada kandunganku. Tapi aku hanya bisa diam, tak mampu membalas karena aku merasa salah.
"Kenapa hanya diam?! Dasar, berani hanya di belakang?! Kau merebut Athrun dari belakangku! Kau wanita murahan!" Dia semakin menaikkan nada bicaranya, dia menarik rambutku dengan kedua tangannya membuat aku merintih kesakitan. Kami-sama… kenapa harus sekarang? Kenapa aku harus bertemu dengannya? Aku tahu aku salah, tapi bukankah aku berniat melupakannya? Lagipula, perempuan inilah nomor satu bagi Athrun… posisiku hanyalah bayang semu di hidupnya. Bisakah Kau membuat aku memulai hidup baru yang lebih baik? Kenapa malah seperti ini?
"Gomennasai…" Ucapku dengan pelan.
"Apa? Apa katamu?! Kau bilang maaf? Setelah apa yang kau lakukan? Kau tidak tahu betapa aku mencintainya! Kau hanya perusak rumah tangga orang lain!" dia terus menarik rambutku, membuat beberapa helai terlepas. Aku menitikkan air mataku, aku terluka dengan perkataan dan perbuatannya. Aku ingin menghilang saat ini, lenyap seperti abu yang tertiup angin.
Beberapa menit rasanya bertahun-tahun bagiku saat ia tetap mencaci dan melukaiku secara fisik. Aku menelan semua hinaannya, aku menerima semua tamparannya. Tak ada yang bisa aku lakukan selain diam terisak. Aku terus berkata maaf, yang kemudian dijawabnya dengan tamparan baru membuat darah keluar di sudut bibirku. Inikah hukuman untukku?
"Apa yang kau lakukan, Meer?!" Suara itu adalah suara Kira, dia datang dan menarik perempuan itu menjauh dariku. Aku tak bangun, hanya duduk menunduk di lantai ini. Bahkan jika perempuan itu akan melanjutkan aksinya, aku akan menerimanya tanpa perlawanan. Aku ingin menebus semua dosaku.
"Lepaskan, Kira! Aku ingin memberinya pelajaran!"
"Apa sih maumu?"
"Dia wanita itu! dia wanita simpanan Athrun!"
"Tidak mungkin, Cagalli tidak mungkin wanita itu."
"Aku yakin! Aku melihat fotonya di ponsel Athrun!"
"Cagalli, katakan padanya bahwa kau bukan wanita itu. lagipula kau bukan dari ORB, kan?"
Kira menghampiriku, jongkok dan memegang pundakku lalu memaksaku menatap mata lembutnya. Aku tak bisa berbohong, aku tak ingin bersembunyi.
"Aku wanita itu."
Mata Kira membulat, pupilnya mengecil. Dia sepertinya sangat terkejut akan pengakuanku. Sepertinya Kira mengenal dekat Athrun hingga tau bahwa Athrun memiliki wanita simpanan di ORB. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kira menunduk dan berkata dingin seperti Athrun dulu.
"Jika benarpun, kau tidak memiliki hak untuk menghakiminya, Meer. Kau bukan siapa-siapa bagi Athrun Zala."
"Jangan bilang kau membelanya, Kira."
Tunggu, perempuan itu bukan siapa-siapanya Athrun? Bukankah dia istrinya?
"Aku mengenal Cagalli, aku tahu dia perempuan yang baik. Jika seseorang perlu marahpun, itu Lacus sebagai istri sah Athrun, bukan kau." Kira berdiri dan membuka pintu selebar mungkin.
"Silahkan pergi Meer, aku tahu kau ke sini ada suatu keperluan. Tapi silahkan menghubungiku via e-mail, aku sedang tidak dalam suasana hati baik untuk melayanimu."
"Ba-baiklah! Aku pergi." Perempuan yang disebut Meer itupun pergi meninggalkan kami. Aku bernafas lega, tak tahu kenapa. Kira terdiam membelakangiku, aku kembali merasa takut pada sikapnya. Tapi syukur, dia berbalik dan menatapku khawatir. Dia jongkok dan membantuku untuk berdiri. Dalam diam, dia menuntunku masuk ke dalam kamarku dan mendudukanku di tepi tempat tidur.
"Apa kau baik-baik saja?" pertanyaannya memecahkan kesunyian di anatara kami.
"Ya, aku baik-baik saja." Aku mengangguk dan mengusap darah di sudut bibirku. Aku merapikan rambutku, tetap diam dan memperhatikannya di sudut mataku. Kira duduk di sampingku, menunduk memainkan ponselnya. Apa pendapatnya sekarang tentang diriku? Apa dia akan mengusirku pergi? Kemana aku akan berlari lagi?
"Jadi, bayi dalam kandunganmu itu… bayi dari Athrun?"
Sesaat aku membatu, Kira sangat cepat dalam membaca situasi. Aku, tidak mungkin membohonginya. Akupun hanya mengangguk, tak mampu berkata-kata.
"Kau tahu, kan? Apa yang kalian lakukan tidak bisa dibenarkan."
Aku mengangguk lagi untuk ke sekian kali.
"Athrun telah memiliki seorang istri. Kau tahu itu juga, bukan? namanya Lacus, memang mirip dengan perempuan yang kau temui tadi. Bagaimana menurutmu jika Lacus tahu? Apa yang akan kau lakukan?"
Aku tak bisa menjawabnya, selama beberapa menit, taka da satu katapun yang keluar dari mulutku. Kira ikut diam, sepertinnya tak ingin mengatakan apapun sebelum aku menjawabnya. Akupun menarik nafas, menggenggam erat tanganku sendiri.
"Aku, aku hanya akan mengakuinya dan meminta maaf padanya. Lagipula, ini semua sudah berakhir, aku sudah menjauh dari hidup Athrun. Jika kau bertanya mengapa tidak dari dulu aku lari darinya, aku tak bisa saat itu, maaf… aku, aku sangat mencintainya. Namun percayalah," aku mengangkat wajahku dan menatap tepat ke matanya, menunjukan maksud bahwa aku benar-benar serius dan tak bohong. "Percayalah, bahkan dari dulu, aku tidak berniat merusak rumah tangga mereka. Aku akan pergi jika istrinya tahu, aku akan pergi jika Athrun menyuruhku pergi, aku akan pergi jika kudengar hadirku membuat istrinya terluka. Aku… aku minta maaf."
Kira menatapku lembut, lalu duduk mendekat dan mengusap air mataku yang tak kusadari kembali terjatuh.
"Aku bilang, aku mengenalmu, bukan? aku percaya padamu."
"Arigatou, Kira."
Cagalli POV end
XXXXXX
Lacus POV
Beberapa jam telah kulalui dengan menempuh perjalanan dari PLANTS ke ORB. Aku menatap pintu kaca mobil pribadiku, memperhatikan pemandangan alami ORB. Seminggu ini ia menghilang, kuyakini ia pergi ke Negara ini. Apa yang sedang dilakukannya sekarang?
"Nona, kita sudah sampai di alamat tujuan."
Aku memperhatikan sebuah rumah kecil dibalik kaca ini, sepertinya rumah itu sudah lama ditinggalkan dengan terlihatnya beberapa daun berguguran dan kaca-kaca jendela yang Nampak berdebu. Aku sudah tahu jawabannya, kurang lebih sudah 5 bulan, rumah ini ditinggalkan oleh 'mereka'. Apa mungkin dia ada di sini?
Supir pribadiku membukakan pintu untukku, akupun turun dan mengatakan terimakasih padanya. Kumantapkan langkah kakiku, berjalan memasuki rumah yang Nampak asing bagiku. Kubunyikan bel, tak ada jawaban. Namun saat aku mencoba membuka pintunya, itu tak terkunci. Aku masuk, menelusuri rumah kecil ini.
Berdebu, sunyi dan terasa sangat dingin. Apa tempat ini yang selalu ada dalam mimpi-mimpinya? Apa tempat ini yang selalu dirindukannya? Apa tempat ini yang begitu ingin dijadikannya tempat pulang? Kenapa dadaku terasa sakit saat berpikir rumah yang mungkin hangat kini begitu dingin?
'Athrun… apa hatimu lebih terasa sakit dengan kondisi ini?'
Aku berdiri di depan sebuah pintu, pintu yang aku yakini merupakan jalan masuk pada sebuah kamar. Kuketuk, tak ada jawaban seperti halnya bel tadi. Kucoba membukanya, sama, tak terkunci. Aku menengok ke dalam, itu kamar kecil yang Nampak kosong. Namun di ranjang itu, diatas tempat tidur berseprai putih, seorang pria tidur meringkuk. Dengan pelan kudekati, berusaha tak membuat kebisingan yang mungkin membuatnya terbangun. Aku duduk perlahan di tepi tempat tidur, di sampingnya.
Kuperhatikan wajahnya, Nampak sangat lelah. Matanya sembab, mungkin dia telah lama menangis. Di tanganya tergenggam telephone hitam, yang saat aku buka tombol aktifnya, di sana Nampak foto seorang gadis berambut pirang yang tersenyum ceria.
'Kau sangat merindukannya, bukan?' aku mengusap pipinya, sosok pria yang beberapa tahun ini menjadi suami sahku. Dia terbangun, perlahan membuka matanya yang kupercaya sangat berat itu. Tentu saja aku tahu, melihat dari sembabnya mata itu, itu akan sangat sulit kau buka. Aku tersenyum dengan kepolosannya saat terbangun dari tidurnya.
"Lacus? kenapa kau di sini?" Tanyanya tanpa bangun dari posisinya.
"Kau harus kembali, Athrun. Orangtuamu sangat mencemaskanmu."
Dia diam, kembali menutup matanya.
"Aku, ingin di sini untuk beberapa saat."
"Sampai kapan? Kau tahu kan dia tidak akan kembali begitu saja?"
Matanya melebar, aku tahu aku memasuki topik yang tidak seharusnya aku ucapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tak tahan, aku tak bisa membiarkan Athrun terus berbohong pada dirinya sendiri. Berpura-pura tegar, menghadapi semuanya seolah ia pria dengan hati Es. Aku tahu, dia selalu memikirkan perempuan itu.
Kuperhatikan, tangannya mengerat menggenggam ponsel hitamnya dan memeluknya erat seakan itu perempuan pirangnya. Kuusap kembali rambutnya, mencoba sedikit menenangkannya. Tak lama, aku mendengar isakannya, aku mendengar ia menyebut nama perempuan itu beberapa kali, Cagalli, Cagalli, Cagalli, ia mengucapkannya seolah itu akan sampai pada perempuan itu.
"Athrun, carilah ia. Kau tidak bisa seperti ini terus."
"Tidak, tidak, dia mungkin sudah bahagia sekarang, aku tidak berhak mencampuri hidupnya lagi."
"Athrun, setidaknya temui dia dan katakan perasaanmu, kau tidak bisa terus membohongi dirimu sendiri."
"Untuk apa? Ini lebih baik, dia akan bahagia tanpaku."
"Kau Si Duta jenius itu, bukan? orang yang berhasil menstabilkan kondisi PLANTS hingga kedamaian yang sebenarnya yang kita dapatkan. Kau tidak boleh menjadi pria bodoh yang hidup dalam penyesalan. Temui dia, bilang padanya kau mencintainya."
"Aku… mencintainya?" Dia menatapku, terkejut akan pernyataan yang aku lontarkan.
"Ya, kau mencintainya." Aku tersenyum dan mengusap pipinya. "Itu Nampak sangat jelas, kau begitu perhatian padanya, kau begitu nyaman ada di sekitarnya, kau membicarakan tentangnya padaku dengan senyum bahagiamu. Jujurlah pada hatimu, Athrun… bukankah kau ingin hidup bersamanya? Ingin ada di sampingnya dan membuatnya bahagia?"
"Ya… tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, kini saatnya kau meraih bintangmu."
Athrun terdiam, memalingkan pandangannya dariku. Sepertinya ada hal yang masih menjadi pikirannya. Dan aku rasa, aku tahu itu. Ingin aku menjelaskan suatu hal, tentang aku, Tooru, tepatnya kami. Tapi niatku terhenti ketika ponsel di tas kecilku bergetar. Aku membukanya, ternyata pesan dari Kira.
From : Kira-kun
Dia ada di sini, aku menemukannya.
Apa benar Kira menemukannya? Yokatta…
"Nah, Athrun…" aku menarik tangannya dan memaksanya berdiri.
"A-apa yang kau lakukan, Lacus?" tanyanya. Aku hanya tersenyum dan menariknya keluar.
"Ayo kita pergi, kami ada hadiah special untukmu."
Aku akan menunjukan arah yang benar untukmu pergi, Athrun. Inilah saatnya aku membalas semua kebaikkanmu, inilah saatnya kau meraih kebahagiaanmu yang sebenarnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thank You So Much : OrenoExia, PopCaga, Nemui Neko-san, Ichirukilovers30, Pandamwuchan, Asuka Mayu, Lennethia, Asucaga Lovers, NaPpy, Fivani-chan, NN, Guest, G punya akun, , And All silent reader
