Two Sides Girl's Butler

Halo,minna! Reihaka sudah update nih,chapter ke-2 nya! Maaf kalau lama banget updatenya,soalnya Reihaka agak sibuk(baca: banget) akhir-akhir ini. (readers: kenapa gak loe buat hiatus,hah?)Jadinya nggak bisa buat fanfic,deh(hiks). Tapi sebelumnya Rei ingin membalas review dari para readers dulu,ya!

Shiho Nakahara

Salam kenal, Shiho-san!

Hihihi... Rei sendiri juga kadang bingung,soalnya gaje sih... Nah,ini Rei udah update. Jangan lupa review,ya!

Thanks a lot for your review...

Uchiha cucHan clyne

Salam kenal juga,Cu(imut banget namanya!)

Kalo mau tahu apa yang akan terjadi pada Naru,langsung baca aja sekarang(promosi)

Hehehe... gomen,karna keasyikan buat cerita tentang Naru,jadi lupa soal sasuke,deh...

Makasih untuk reviewnya,ya!

Gekikara hn

Arigatou,gekikara. Ini review yang berguna banget,soalnya Rei ga tau tentang itu(ketahuan gak rajin baca buku). Karna itu,mohon diingatkan lagi kalau ada salah,ya!

Thanks for your useful review!

Meg chan

Oke,Meg,ini udah update(walaupun kelamaan).

RnR again,ok?

Thanks berat.

Nanao Yumi

Hai,salam kenal juga,Nanao!

Makasih atas pujiannya,ya.

Hm,kenapa Naru gampang tidur? Baca aja di next chap!

Sori ya Nanao, Sasunya baru dimunculin chap depan.

Wah,kalau soal berapa chapter,Rei gak tau juga. Soalnya Reihaka anaknya agak plin plan(hiks)

Reihaka senang Nanao udah mau review. Thanks,ya!

Naru3

Salam kenal juga,Naru3! Iya,Rei juga sukaaa banget sama femnaru.

Hiks...Rei terharu. Ini ilmu yang bermanfaat,Naru3! Pengetahuan Rei jadi nambah. Jadi Reihaka sama sekali nggak menganggap ini flame. Mohon dikritik lagi kalau salah,ya?

Thanks a lot for your great review!

Dragonichi

Gomen,gomen,gomen Agon...bukannya nggak mau kritik,tapi Reihaka nggak sempat kasi tau,soalnya udah keburu Agon publish dan Reihaka nggak baca semuanya. Gomenasai…

ShinoZuki NiGhtFlame47

Kalonaruto tuh pinter-pinter nggak. Dia jagonya dalam bahasa inggris doang. Yang lain udah review,ya.

Sori lama update

Two Sides Girl's Butler Chapter 2

Chapter 2: Dark Naru

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXFemnaru

Rated: T

Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC,de-el-el.

Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih.

Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?

DON'T LIKE,DON'T READ!

" NARUTO! "

Flashback

Minato menyeruput teh panasnya sambil mengamati data perusahaannya dengan serius. Akhir-akhir ini permintaan terus melambung, sehingga ia harus pintar mengelola harga bahan baku obat-obatan dengan baik dan mengawasi pendistribusiannya. Dia tidak ingin perusahaan yang telah mendapat puluhan penghargaan ini tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Minato selalu ingin memuaskan konsumen sekaligus mendatangkan laba yang banyak bagi perusahaannya. Karena itulah dia harus bekerja keras setiap hari agar bisa mewujudkan harapannya tersebut.

" Sudahlah, Minato. Jangan terlalu memaksakan diri. Kau sudah cukup bekerja keras. " bujuk Kushina seraya menuangkan teh lagi ke cangkir Minato yang mulai habis isinya. Minato mendongak sebentar, lalu tersenyum.

" Tidak apa-apa... aku tidak lelah, kok. Lagipula, masih banyak hal yang harus kukerjakan. "ujar Minato ringan. Lalu matanya kembali menatap kertas yang sedari tadi digenggamnya.

" Ya, terserah apa maumu. Aku hanya- "

"ARRGGH! "

Mereka terdiam.

" Naruto! " pekik Kushina tertahan. Dia baru saja mendengar suara teriakan Naruto dari lantai atas. Dengan panik dia menatap ke kamar Naruto.

" Ada apa dengannya? " ujar Minato cemas sambil berlari mengikuti Kushina yang tiba-tiba sudah menaiki tangga. Kushina tidak menjawab. Pikirannya terlalu kalut untuk bisa memikirkan apa yang telah terjadi pada Naruto. Bagaimana tidak! Belum pernah dia mendengar teriakan Naruto seperti itu. Suara teriakannya terdengar begitu besar dan mengerikan, seperti sedang menahan ketakutan yang sangat. ' Apa yang terjadi padamu, Naruto? ' batin Kushina khawatir sementara kakinya tengah menyusuri koridor panjang menuju kamar Naruto.

" Ini terkunci! " seru Minato yang entah sejak kapan berdiri di depan kamar Naruto. Tangannya sibuk menarik-narik kenop pintu kamar anak semata wayangnya.

" Minggir! " teriak Kushina sambil mendorong kasar Minato ke samping.

BRAKK!

" He...hebat... " puji Minato dengan mulut ternganga. Kushina menendang pintu kualitas terbaik itu hanya dengan sekali tendangan. Tendangannya sangat kuat, sehingga pintu itu langsung terpental sejauh 2 meter dengan meninggalkan luka mendalam di engselnya.

Minato tersadar dari rasa kagumnya.' Itu tidak penting sekarang ' pikir Minato. Dia segera memasuki kamar Naruto dan kekhawatiran langsung memenuhi kepalanya begitu dia tidak melihat siapa-siapa di dalam ruangan itu.

' Naruto…'

" Kau cari di sebelah sana,Minato! Aku akan memeriksa kamar mandi. "

Minato bergegas berlari kearah tempat tidur Naruto yang ada di sebelah timur kamarnya. Setiap inchi ruangan yang dilaluinya membuatnya semakin khawatir. Bagaimana mungkin ia tidak khawatir! Komik berserakan dimana-mana, seprai acak-acakan, dan guling yang tergeletak pasrah di samping meja belajar menambah kesan negatif di pikiran Minato. Seprai yang tidak rapi atau buku pelajaran yang tersangkut di berbagai tempat itu sudah biasa. Tapi dengan komik yang tergeletak begitu saja di lantai? Tidak mungkin Naruto yang seorang otaku melakukan hal itu! ' Pasti terjadi sesuatu 'batin Minato ngeri.

Tapi apa?

Minato merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya.

Jendela belum tertutup...

End Flashback

Kelegaan luar biasa melanda Minato. Kekhawatirannya langsung lenyap begitu melihat sosok yang dicarinya ketika ia melihat ke arah jendela kamar. Disana, di depan jendela, terdapat Naruto sedang duduk membelakanginya. Dia duduk dengan kaku tanpa bergeming sedikit pun walau angin dingin amat menusuk tulang. Ya, dia hanya mendongak menatap langit malam tanpa menghiraukan keributan yang telah ditimbulkannya.

" Kushina! " seru Minato memanggil istrinya. Kushina yang berada di kamar mandi langsung menuju ke arah Minato.

" Ada apa? Apa kau sudah menemukan-oh, Naruto? Kau tidak apa-apa, Nak? Apa yang telah terjadi padamu? Kecelakaan? Kekerasan? Apa kau terluka? " tanya Kushina bagai rentetan peluru begitu melihat sosok Naruto. Wanita berambut merah yang dilanda kecemasan itu langsung menghampiri Naruto dan mengguncang-guncangkan bahunya.

" Katakan sesuatu, Naruto. " ujar Minato yang sekarang berdiri di samping gadis berambut kuning tersebut. Dia ingin mendengar suara Naruto, memastikan kalau keadaannya baik-baik saja. Tapi Naruto tidak menjawab apapun, melainkan mengangkat kepalanya perlahan dan menoleh ke arah Minato.

DEG

Tanpa sadar Minato mundur ke belakang.

' Apa yang terjadi? ' batin Minato terperangah, meragukan penglihatannya sendiri. Dia... dia baru saja melihat wajah yang paling ironis yang pernah dilihatnya selama ini. Wajah itu begitu mengerikan, begitu menyedihkan, begitu... begitu mencengangkan. Belum pernah dia menyaksikan pemandangan seperti itu sebelumnya. Pemandangan yang membuatnya terperangah sekaligus tak percaya pada apa yang dilihatnya. Minato yakin bahwa tidak ada seorang pun yang bisa membayangkan apa yang telah terjadi pada pemilik wajah seperti ini. Jika pun ada, pasti hal yang pertama mereka pikirkan adalah hal-hal yang mengerikan.

Wajah itu menatapnya tanpa ekspresi. Garis-garis wajahnya terlihat amat kaku, dengan segaris bibir tipis yang terkatup rapat. Kulit tannya yang amat pucat terlihat begitu mengerikan sehingga Minato sempat mengira bahwa siapapun yang memiliki warna kulit seperti ini adalah orang-orang yang sedang sekarat. Otot rahangnya mengeras dengan beberapa urat menonjol di pipi kanannya. Kepalanya agak sedikit dimiringkan dan keringat bercucuran membasahi lehernya. Semua yang ada padanya menunjukkan keabnormalan kondisi fisik manusia sehat. Namun sebenarnya bukan semua hal itu yang membuat Minato takut.

Melainkan matanya...

Mata itu begitu kelam dan gelap, tanpa ada sedikitpun kilau tersisa di bola matanya. Sehingga warna biru yang dulunya cemerlang kini menjadi biru kehitaman. Sorot matanya kosong dan memancarkan kehampaan,seakan dia tidak tahu apa yang dia lihat atau apa yang dia lakukan. Ya,benar-benar kosong sehingga Minato seolah-olah dapat melihat bagian dalam matanya. Mata yang amat gelap,tanpa cahaya hidup...

Minato hanya tahu ada satu mata seperti itu.

Mata orang mati.

' Tidak... 'batin Minato ngeri. 'Ini lebih buruk dari itu. '

Wajah yang ada di hadapannya sekarang seperti mimpi buruk baginya,dan bagi orang-orang yang mengenal seorang Namikaze Naruto.

" Kaasan? Otousan? "

.

.

.

" Naruto? Ka-kau...Naruto? " tanya Kushina yang juga telah melihat wajah gadis itu dengan ragu-ragu. Ketakutan terdengar jelas dari suaranya.

" Benar. " jawabnya datar dengan suara pelan,nyaris tak terdengar.

Kushina seketika itu juga bergidik. Suaranya aneh sekali. Terdengar sangat hampa dan dingin,seakan berasal dari tempat yang jauh. Kemana perginya suara nyaring yang penuh bersemangat itu? Dan apa yang terjadi pada wajah ceria milik Naruto? Kenapa semuanya berubah? Pikir Kushina tanpa henti.

" Kau tahu siapa kami? "terdengar suara Minato bertanya dengan ragu-ragu.

" Hanya orang bodoh yang tidak mengenal orang tuanya sendiri. "jawab Naruto sedingin es. Matanya yang menyeramkan itu menambah kesan horor pada dirinya.

Minato mematung. Anak ini benar-benar berbeda, terlalu berbeda malah. Dia tidak menemukan sedikit pun ciri-ciri Naruto(selain wajahnya)pada sosok yang berada di depannya. Naruto yang sekarang tampak seperti kebalikan pada Naruto yang selama ini dikenalnya. Naruto yang lincah, bersemangat, dan berisik itu kini telah berubah menjadi orang yang seperti tidak mempunyai perasaan.

HAH?

Tunggu dulu...

Kesadaran yang muncul mendadak itu mengguncangnya.

" Ku...Kushina..." panggil Minato dengan suara bergetar. Kushina segera menoleh.

" To-to...tolong ambilkan obat penenang di laboratorium bawah. " lanjutnya dengan napas putus-putus. Kecemasan yang luar biasa terlihat jelas di matanya. ' Tidak... TIDAK MUNGKIN hal itu terjadi! Mustahil! Mana mungkin Naruto telah... '

" Hah? Untuk apa? Kau mau menidurkan Naruto? " tanya Kushina setengah berbisik sambil menatap Naruto yang telah kembali menatap langit.

Tenang Minato... TENANG! Pikirkan semua ini dengan kepala dingin.

" Minato? "

" SUDAHLAH, AMBILKAN SAJA! " bentak Minato gusar. Pikirannya dipenuhi hipotesis-hipotesis menakutkan. Gejala itu... tatapan itu...

Tubuh Minato mengejang.

" Baiklah. " ujar Kushina takut-takut. Tidak biasanya Minato terlihat begitu gelisah seperti ini,apalagi sampai membentaknya segala. ' Pasti dia mengetahui sesuatu tentang Naruto. ' pikir Kushina yakin. Suaminya itu sangat cerdas. Tidak sulit baginya untuk menganalisis masalah yang terjadi pada Naruto dalam waktu sekejap. Lalu tanpa bertanya lagi, wanita berambut merah itu langsung berlari menuju pintu.

" ... "

" Hei, Otousan, " ujar Naruto lirih. Minato segera menoleh, penasaran apa yang menyebabkan suara anaknya keluar.

" Kenapa...langit itu selalu gelap? " tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dari jendela. Minato mengerenyit heran. Selalu gelap?

" Apa maksudmu,Naruto? Bukankah pada siang hari langit itu sangat terang? " kata Minato ceria, dengan harapan dapat mencairkan suasana yang semakin lama semakin mencekam. Naruto menggeleng.

" Tidak..aku selalu melihat langit yang gelap. Tidak pernah kutemui langit lain selain langit yang kulihat sekarang. "kata Naruto sambil menatap Minato. Di bawah sinar bulan purnama,wajah Naruto terlihat lebih menyakitkan hati dari pada sebelumnya.

Minato terkesiap. Ada apa sekarang? Apa maksudnya dia tidak pernah melakukan apapun di siang hari? Atau dia selalu tertidur saat siang dan terjaga ketika hari sudah gelap? Tapi itu tidak mungkin! Bagaimana dengan sekolahnya? Dia kan, selalu pulang siang. Mustahil dia tidak pernah melihat langit pada siang hari. Jadi apa maksud perkataannya itu?

Apa dia berbohong?

" Minato! Aku sudah membawanya. Kubawa dosis ringan agar tidak terlalu merusak sarafnya. " terdengar suara Kushina yang sudah kembali dari laboratorium sambil mengenggam sebuah suntik kecil. Napasnya terengah-engah.

" Tahan, Kushina. Ada yang ingin aku tanyakan padanya. " ucap Minato dingin. Sorot matanya yang selalu hangat kini terasa begitu menusuk.

" Apa maksudmu? Bukankah kau selalu keluar di siang hari? " tanya Minato serius, membuat Kushina tertarik untuk mengikuti percakapan mereka lebih lanjut.

" Sudah kukatakan padamu. Aku hanya terbangun dan melihat kegelapan dimana-mana. Itu saja "

" Eh? "

" Sstt... " desis Minato begitu mendengar suara Kushina yang kebingungan.

" Kalau begitu...apakah ini pertama kalinya kau mengalami hal seperti ini? "

" Tidak, " jawab Naruto pelan. " Aku selalu mengalaminya. " lanjutnya lagi.

" Dan...apa kau ingat apa yang kau lakukan sebelum ini? " tanya Minato dengan nada mendesak. Dia sampai mengguncang-guncangkan bahu Naruto.

" Memangnya apa yang kulakukan? Kurasa tidak ada. " respon Naruto tak acuh.

" Benar-benar tidak ada? Makan malam? Acara ulang tahun pernikahan kami? Kartun malam yang selama ini kau tonton? "

" Aku melakukan semua yang kau katakan tadi."

" Bagaimana dengan pesta ulang tahunmu tahun lalu? " pancing Minato. Dan dengan cerdasnya dia menyentuh bagian samping leher Naruto dan memperhatikan denyut nadinya. Detektor alami kebohongan.

" Ulang tahun apa? " tanyanya pelan.

" Ulang tahunmu yang ke-16 Minggu sore. " jelas Minato tak sabar.

" Hal yang terakhir kali kuingat soal siang hari adalah saat kakiku terperosok ke lubang buaya, dan bencana banjir di berita malam kemarin. "

" Hah? Bukankah itu 10 tahun yang lalu? " seru Minato terperangah kaget. Jadi selama ini Naruto-orang ini-hanya hidup di malam hari selama 10 tahun?

" Kemudian apa yang kau lakukan dengan kakimu itu? "

" Kaki apa? "

" Itu yang barusan kau bilang. Kakimu terperosok ke lubang dan... "

" Kau mengigau? Aku tidak pernah terperosok ke lubang mana pun. " sahut Naruto dingin dengan nada mencela.

Mata Minato membesar.

" Baiklah,aku mengerti. Tapi...bukankah kau mengatakan kalau kau hanya melihat kegelapan? Apa ada yang lain? Apa kau ingat sesuatu saat kakimu terperosok… "

" Sudah kukatakan, kakiku tak pernah terperosok! " sahut Naruto bersikeras.

"Oh, maaf kalau begitu. Lalu, selain kegelapan atau hal-hal lain yang kau lihat selama malam hari, apa ada lagi yang kau lihat? " desak Minato dengan gigi bergemerutuk. Naruto menatapnya aneh.

" Ya... aku melihat sinar matahari. Kemudian aku... "

" NARUTO! " teriak Minato panik. Tiba-tiba saja tubuh Naruto mengejang. Matanya membesar, seperti mau keluar. Dan yang lebih parahnya lagi, bola mata itu memutih! Ya, warna biru kehitaman itu berubah menjadi putih dengan sangat cepat. Matanya bergetar hebat ketika proses pergantian warna itu. Dan akhirnya perlahan tapi pasti,bola matanya bergerak keatas...dan terus keatas sambil diiringi kelopak mata yang semakin menutup.

" Tidak! Naruto,sadarlah! " jerit Minato ketakutan. Tangannya yang kuat langsung memeluk tubuh Naruto yang mengeras. ' Jangan mati...JANGAN!'

" Maaf, "ujar Naruto kaku. " Bisa kau lepaskan aku sebentar? Kau membuat paru-paruku terjepit. "

" Naruto? " seru Minato tak percaya. Tubuh yang tadi kaku seperti papan kini telah melunak dan menggerakkan anggota badannya. Pria berambut kuning itu segera melepaskan pelukannya dan refleks menatap mata Naruto.

Biru kehitaman.

" Kau baik-baik saja? "

" Tidak selama kau masih memelukku seperti boneka. "

" Oh,maaf. " kata Minato salah tingkah. Kemudian dia segera mendudukkan bocah itu di kursi tempatnya duduk semula.

" Lalu,apa yang terjadi? " tanya Minato tanpa menunggu lama-lama. Tampaknya rasa keingintahuannya lebih besar dari pada rasa khawatirnya.

" Apa? "

" Itu...saat kau melihat sinar matahari-lalu apa? " jelas Minato tak sabar. Naruto menatapnya sebentar.

" Apa yang sedang kau bicarakan? Lalu, Matahari itu... apa? "

Hah?

.

.

.

" Aku membutuhkan penjelasan. " desis Kushina pelan dengan mata yang berkilat-kilat menyeramkan. Ekspresi wajahnya seolah-olah mengatakan kau-akan-mati-kalau-kau-tidak-memberitahuku.

Dia telah menyuntikkan obatnya secepat kilat setelah melontarkan beberapa pertanyaan kepada Naruto, diantaranya tentang baju –panda-berenda pemberiannya Kamis siang.

Glek!

" Apa maksudmu, Kushina? Aku tidak menyembunyikan apapun, kok. " elak Minato gugup. Matanya bergerak kesana-kemari. 'Mana mungkin aku akan mengatakannya padamu.' batin Minato. ' Apa yang dialami Naruto tidak akan pernah bisa diterima akal sehat. 'pikirnya lagi. Mendengar itu, Kushina langsung menyeringai kecil.

" Ba-baiklah, akan kuceritakan. Yang penting kau jauhkan pisau itu dariku. Dan jangan lupa dengan taringmu. " pinta Minato ketakutan. Kushina telah mengeluarkan pisau sepanjang lengan manusia dan mengacung-acungkannya ke wajah tampan Minato. Perempuan itu juga mengeluarkan deathglarenya, ditambah dengan penampakan gigi taring Kushina tiba-tiba tampak lebih panjang dan runcing dari biasanya.

" Jangan disini, Minato, " kata Kushina tajam setelah menyeret tubuh Naruto yang tertidur dan menghempaskannya ke ranjang begitu saja. " Kupikir itu akan menjadi penjelasan yang menarik. Jadi mungkin akan lebih menyenangkan jika kita membicarakannya di ruang bawah tanah. " tambahnya dengan senyuman yang membuat Minato merinding. Ruang bawah tanah kan, ruang yang dipakai Kushina untuk menenangkan diri? Biasanya ruangan itu banyak terdapat sarung tinju, tongkat bambu, batu-bata, serta boneka dengan berbagai macam ukuran untuk dijadikan objek sasaran. Semua boneka-boneka itu memiliki nama tersendiri. Ada boneka Naru-chan yang memiliki kumis, boneka Jirai-chan yang bewarna putih, dan boneka Min-chan yang berambut jabrik kuning. Kushina sering menghantam boneka-boneka itu dengan segala jenis senjata mematikan untuk melampiaskan kemarahannya. Ada yang dipukul dengan kayu, ditusuk dengan pisau, bahkan sampai digantung. Minato masih ingat bagaimana Kushina membakar boneka Min-chan sambil terkekeh-kekeh tepat setelah ia dan Kushina bertengkar untuk pertama kalinya. Dan…dan… dia akan membicarakan masalah ini disana? Ini sama saja dengan bunuh diri!

" Iya kan, Min-chan? "

" Ampuni aku, Kushina! "

Minato gelisah. Dia harus menjelaskan segalanya di hadapan Kushina, segala hal yang bahkan hampir dilupakannya. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan ini, namun pilihan lain apa yang ia punya? Dia tidak ingin membuat Kushina bersedih a.k.a marah, namun dia juga tidak mampu membendung rasa penyesalan di rongga hatinya. Tapi dia tidak tahu apa dia sanggup menceritakan kebenarannya. Dia takut kalau hipotesisnya benar, takut kalau Naruto benar-benar…

Namun…

Sampai kapan ia akan menjadi ayah yang tidak bertanggung jawab?

" Kushina… " ujarnya serius. Lututnya bergetar hebat.

" Hm? "

" Sebenarnya… Naruto itu… yah, be-begitu… "

" Apa? Jangan membuatku penasaran! Kau mau mati, ya? " bentak Kushina tak sabar. Dia tidak sanggup menahan rasa cemasnya lagi. Sudah cukup baginya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Minato mendongak, menampakkan matanya yang kian meredup.

" Kau percaya pada jiwa yang menghilang, Kushina? "

.

.

.

TBC

Khu…khu…khu… akhirnya siap juga nih fic. Fiuuh, capek banget Reihaka buatnya, because inspirasi Reihaka lagi macet, nih. Ditambah PR-PR gak mutu dari guru di sekolah (readers: Wah, murid durhaka,lu!) makin buat masalah jadi runyam. Karena itu gomen(1000X) untuk semuanya… Reihaka harap para readers gak ada yang marah atas kelambatan publish nya dan masih bersedia me-riview fic ini. Reihaka masih butuh saran dan pendapat kalian semua. Karena itu…

Mind to RnR ?

Naruto: Fufufufu…cool juga gue,jadi orang yang punya 2 kepribadian. Hei, author pemalas, kepribadian gue yang satunya lagi cowok macho, kan?

Reihaka: Gila nih orang, dikutuk malah senang!

Minato: Huwee… Naru-chan ku kenapa jadi begini?(mewek)

Reihaka: Iya! Iya!Cup…cup… Loe sih Nar, jadi orang kok gampang banget dikutuk!

Kushina: WOI! Ngapain loe pegang-pegang laki orang,heh?(nunjuk-nunjuk author pake pisau)

Reihaka: Halah! Figuran aja sok-sok kejam. Gue matiin baru tau!

Kushina: (langsung melempar pisaunya dan nyaris kena kepala author.)

Reihaka: HIII… AMPUN!