Two Sides Girl's Butler

Hola…

Reihaka kembali dengan membawa chapter ke-4! Maaf ya, kalau lama update. Soalnya akhir-akhir ini Rei lagi bad mood, nih, jadinya gak ada semangat ngetik. Tapi Reihaka mencoba bangun dari keterpurukan(jiah!) berkat review dari kalian semua. Nah, sekarang, kita balas review, yuk!

Ocha

Makasih…

Umm, update asap itu apa yah?

Kazuki NightFlame47

Setuju!

Iya! Sasu punya hubungan ama Madara, lho.

Thanks, ya…

Meg chan

Fiuh… syukur deh Meg chan nggak menghilang beneran. Hehehe…

Kepanjangan, ya? Gomen…

Ini Reihaka udah update!

Thanks a lot, Meg!

NanaMithrEe

Eh? Nana ngerti, ya? Rei pikir malah tambah bingung. Habis Rei nggak bias buat penjelasan sih…

Iya, Sasu memang payah.(dichidori)

Arigatou…

uchiha cucHan clyne

naru emang otaku, hampir sama dengan authornya…

makasih atas reviewnya yan, Cu.

Dragonichi Tsukaze

Hai, Tsuka…

Makasih ya atas pujiannya.

Hmm… Rei emang agak OOC di fanfic. Hehe…

Thanks for your review and enjoy the story!

nupY's miE schiffer d'caSsie

hehehe… makasih nupY!

Zoroutecchi

Makasih atas revewnya, ya, Zoroutecchi!

Kirana Agi Qiao

Aduh… jangan berantem, dong!

Wah, senang ya, punya aneki dan aniki…

Um, kalo ada hal yang harus Rei perbaiki, bilang aja, ya! Mungkin itu bias jadi masukan buat Rei.

Thanks a lot for your review!

Chapter 4: Who is She?

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXFemnaru

Rated: T

Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC,de-el-el.

Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!

Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?

DON'T LIKE,DON'T READ!

"Huh!" gerutu Naruto cemberut sambil memalingkan wajahnya ke samping, tidak ingin melihat ekspresi Sasuke yang pasti menyakitkan untuk diketahui.

Sasuke terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Diamatinya Naruto dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambutnya yang pendek, lengan sedikit berotot, kulit tan, dan kakinya yang kokoh sama sekali tidak menunjukkan adanya penampakan ciri khas perempuan. Yang ada hanya suaranya yang sedikit melengking. Tapi itu belum tentu dia bukan laki-laki, bukan?

Apa benar dia perempuan?

"Be-benarkah itu?" tanya Sasuke sekali lagi, membuat tensi darah Naruto meninggi.

"Kau ini cerewet sekali! Kan sudah kukatakan tadi! Tuli, ya?" seru Naruto kencang. Urat mulai bermunculan dari dahinya. Sebenarnya dia ini butler sungguhan atau tidak, sih? Lama sekali loadingnya!

Butler itu mematung.

"Saya mengerti," kata Sasuke akhirnya. Kemudian dia segera membungkuk lagi. " Maafkan saya yang telah lancang ini. "

Mendengar itu, Naruto hanya memutar bola matanya dan berkacak pinggang.

"Ya sudahlah, aku maafkan. Nah, sekarang kau turun saja. Aku mau mandi dulu." perintah Naruto sembari menunjuk pintu. Sasuke mengangguk pelan.

"Terima kasih. Kalau begitu saya akan membuatkan sarapan untuk Nona. Saya permisi dulu." ujarnya setelah menegakkan badannya kembali dan berjalan menuju pintu, hendak ke dapur.

BUK!

"Apa yang Anda lakukan, Nona?" tanya Sasuke seraya mengusap-usap belakang kepalanya yang dilempari bantal oleh Naruto. Orang yang ditanya cuma melotot, lalu segera melempar bantal lagi.

"Jangan panggil aku 'Nona', Sasuke!" seru Naruto kesal setelah melempar bantal kedua yang sukses ditangkap Sasuke dengan sebelah tangan. Pria itu mengerenyit.

"Apa maksud Anda? Bukankah saya harus memanggil begitu karena Anda perempuan, Nona?"

"Diam kau!" teriak Naruto dengan suara melengking. "Aku tidak suka dipanggil 'Nona'. Kau panggil saja aku seperti sebelumnya! Dan kalau perlu, jangan pakai 'Tuan'! Panggil saja aku Naruto!" sambungnya lagi. Dia benci dipanggil 'Nona'. Menurutnya sebutan itu hanya untuk gadis-gadis ayu nan kaya yang lemah! Dan panggilan seperti itu hanya akan membuatnya risih!

Lagi-lagi Sasuke terdiam. Matanya menatap tajam Naruto yang misuh-misuh sendiri. Sebenarnya apa mau orang ini? Tadi bersikeras agar Sasuke menganggapnya perempuan, tapi ketika dipanggil 'nona' malah kesal sendiri.

'Majikan yang aneh.' batin Sasuke dalam hati.

"Maaf," ucap Sasuke sopan. " Saya tidak bisa memanggil Anda hanya dengan nama Anda. Dan kalau Anda tidak suka dengan panggilan 'Nona', saya akan memanggil Anda dengan 'Tuan' saja, Tuan Naruto. " lanjutnya lagi, membuat wajah Naruto yang tadinya mengerut kini langsung berubah cerah.

"Nah, begitu! Sejuk rasanya mendengar panggilan seperti itu lagi. Dan sekarang, keluar sana, aku harus segera bersiap-siap. Siapkan sarapan yang enak, ya!" pinta Naruto ceria sambil menepuk-nepuk pundak Sasuke dan mendorongnya keluar. Kemudian dengan anggunnya dia langsung menutup pintu dengan sekali tendang, sehingga meninggalkan bunyi bedebum yang keras.

.

.

.

Naruto berjalan ke sekolah dengan tertatih-tatih. Tangan memegangi perutnya. Sulit sekali berjalan dengan perut kekenyangan seperti ini. Semua ini salah Sasuke! Siapa suruh dia memasak sarapan yang terlalu enak! Masa' dia memasak onigiri dan roll udang rasa ramen? Sampai 3 porsi lagi! Tentu saja hal itu membuat air liur Naruto menetes dan langsung memakannya dengan kalap, sampai-sampai tanpa sadar dia sudah membersihkan seluruh isi meja makan. Dan sekarang inilah hasilnya, dia berjalan ke sekolah seperti kakek-kakek tua!

"Huh…" gerutu Naruto pelan sambil menyandarkan punggungnya di pagar KIHS. 'Akhirnya sampai juga' batinnya lega seraya mengusap peluh di dahinya. Perutnya sudah kram sejak tadi dan kakinya terasa berat untuk melangkah. Rasanya ingin sekali kembali ke rumah. Tapi apa boleh buat, dia harus terus berjalan karena hari ini ada pertemuan anggota. Sebagai ketua dia tidak bisa meninggalkan rapat yang dipimpinnya, kan?

"Se-selamat… pagi…" sapa Naruto dengan napas terputus-putus ketika dia baru saja menginjakkan kaki di kelas. Rasa mulas mulai merambati perutnya.

"Selamat pagi, Naruto!" balas Lee semangat seraya berjalan menghampiri Naruto yang lagi-lagi bersandar di tembok. Kelelahan.

"Hei, bagaimana kalau kita bertanding sekarang? Aku sudah menunggumu dari tadi." ajak pemuda beralis luar biasa tebal itu dengan mata berbinar-binar. Naruto menatapnya sejenak dengan pandangan tak percaya. Bisa-bisanya alien ini mengajaknya bertanding, sementara jelas-jelas dia melihat kondisi Naruto seperti ini?

"Tidak mau." ucap Naruto pendek. Mendengar itu Lee langsung memasang puppy eyes dan membujuk Naruto lagi.

"Please… Sebentar saja, ya?" pintanya setengah merengek.

"Tidak."

"Naruto yang baik… keren… dan kuat…"

"Tidak."

"Ayolah, tidak lama kok!"

"Kau tuli, ya? Kubilang tidak ya, tidak!" seru Naruto mulai naik darah. Emosi mulai menggerogoti kepalanya. Kenapa sih, dengan kepala anak ini? Memaksakan kehendak seenaknya saja!

"Kau kan biasanya bertanding setiap pagi denganku! Jadi ayo kita…"

BUK!

"BERISIK!" hardik Naruto keras setelah menendang bahu Lee dengan tendangan sampingnya, membuat Lee terpental sejauh 1 meter ke seberang ruangan. Lalu tanpa rasa iba gadis itu langsung berjalan ke bangkunya dengan kepala meletup-letup tanpa melirik Lee yang sudah terkapar dengan darah mengucur dari hidungnya.

"Lee… Lee…" desah Temari iba sambil geleng-geleng kepala. " Kau tidak jera juga, ya? Padahal ini bukan pertama kalinya kau terluka gara-gara membuatnya marah. " tambahnya lagi setelah mengecek denyut nadi Lee. Siapa tahu sudah berhenti.

"Huh! Apa sih sebenarnya mau anak itu?" keluh Naruto geram sendiri. Dihempaskannya badannya ke kursi dan segera mengaduk-aduk isi tasnya. Tak berapa lama, si pirang itu mengeluarkan setumpuk komik dan menyusunnya di laci meja tanpa berhenti menggerutu. Naruto memang senang membawa komik sebanyak-banyaknya ke sekolah, bahkan lebih banyak dari buku pelajarannya sendiri.

"Kau semakin kuat saja, Naruto." puji Gaara tulus pada Naruto yang mulai membaca komiknya seraya melirik Lee yang sudah diangkat ke UKS oleh Neji. "Ingin rasanya bisa sekuat dirimu."

"Hehehe… terima kasih." tawanya sambil menyeringai kecil, merasa tersanjung. Gila sekali dia! Bisa-bisanya tertawa setelah menendang anak orang!

TENG…TENG…

"Selamat Pagi, Anak-anak…" sapa Kurenai-sensei yang masuk beberapa saat setelah bel masuk berbunyi. Anak-anak kelas XI-A membalas sapaannya dengan suara menggelegar.

"Selamat Pagi, Kurenai-sensei!"

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan 2 murid baru. Sensei harap kalian bisa bekerja sama dengan baik." kata Kurenai-sensei lagi. Murid-murid di kelas itu langsung berbisik-bisik seru.

"Semoga saja mereka laki-laki." harap Ino sambil memainkan rambutnya dengan centil. Mendengar itu Sakura dan Ten-Ten langsung menggelengkan kepala mereka pelan.

"Tidak, kurasa perempuan." ujar Sakura serius. Ten-Ten mengangguk.

"Ya, feelingku juga mengatakan demikian." timpal gadis berambut cokelat itu mendukung argumen Sakura.

"Yah… padahal aku…"

SET

Sontak mereka semua terdiam begitu mereka mendengar suara langkah kaki dari balik pintu kelas mereka. Semua memfokuskan perhatian mereka pada daun pintu yang mulai terbuka.

Tampaklah seorang gadis berambut indigo panjang dengan mata tanpa pupil memasuki ruangan dengan canggung. Kepalanya terus menerus menunduk dan kakinya bergetar hebat. Tangannya pun tak henti-hentinya memainkan ujung roknya dengan gelisah. Anak yang cantik memang, tapi sepertinya dia pemalu.

"Nah, yang satu lagi, silakan masuk."

Mereka semua menahan napas.

Perlahan, sosok kedua pun muncul dari balik pintu. Seorang laki-laki dengan tubuh tinggi dan tegap memasuki ruangan dengan tenang, bak pangeran kerajaan yang memasuki pesta dansa. Jalannya teratur dan penuh ketenangan. Rambutnya berdiri melawan gravitasi dan kulitnya putih bersih, membuatnya kian terlihat seperti pangeran.

"Wow…" desah beberapa murid, takjub melihat wajah si cantik dan si tampan yang berdiri bersampingan.

"Perkenalkan, mereka berdua adalah teman baru kalian. Hinata, silakan perkenalkan dirimu." pinta Kurenai-sensei begitu mereka berdua telah berdiri di depan kelas. Gadis pemalu yang dipanggil Hinata itu menundukkan kepalanya.

"Pe-perk-kenalkan… Na-na-nama s-saya Hyu… Hyuga Hi..n-nata! S-s-saya pindahan da-dari Sunaga-gakure. Moh…mohon bantuannya!" kata gadis itu dengan kegugupan yang luar biasa sehingga mereka harus mencerna kata-katanya selama beberapa saat. Dia juga tidak berhenti memainkan jari-jarinya dan wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

"Ba-baiklah," ujar Kurenai-sensei dengan sebutir keringat besar meluncur dari dahinya. "Sekarang giliranmu memperkenalkan dirimu." sambungnya pada murid baru berambut aneh disamping Hinata. Murid itu menatap mereka sejenak dengan pandangan dingin, lalu membuka suara.

"Namaku Uchiha Sasuke, pindahan dari Kirigakure. Mohon bantuannya." katanya datar, singkat, padat, dan aneh.

SIINGG…

"KYAA!" pekik gadis-gadis di ruangan itu dengan darah mengucur dari hidung mereka. Bahkan Kurenai-sensei juga ikut-ikutan.(?)

"Ke-keren sekali…" puji Sakura terbata-bata sambil mengusap hidungnya dengan sapu tangan. Yang lain mengangguk-angguk setuju. Sasuke hanya menatap Sakura dengan pandangan dingin.

"Hn." respon Sasuke nggak jelas, namun itu malah membuat para murid perempuan semakin menjerit girang.

Kecuali Naruto.

"Apa-apaan sih, kalian?" bentak Naruto yang acara membaca komiknya terganggu oleh teriakan centil yang memenuhi kelas. Emosi yang sejak tadi ditahannya kini meledak sedikit.' Kenapa? Kenapa mereka semua ribut saat cerita sedang seru-serunya, sih? Hanya ini kesempatannya membaca komik di pagi hari, tahu! ' batinnya marah. Naruto memang paling kesal kalau kegiatannya sebagai otaku terganggu. Membaca komik itu membutuhkan penghayatan, konsentrasi, dan ketenangan jiwa yang sempurna! Bukannya di tengah-tengah keributan seperti ini!

Naruto mendongak, hendak menghajar siapapun yang berani menganggunya.

"…"

"…"

"WAA!"

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini, Sasuke?" seru Naruto syok berat. Untuk apa Sasuke mengikutinya sampai sekolah? Pakai seragam pula!

"Sebagai butler Anda, saya akan melayani dan melindungi Anda kapanpun dan dimanapun, termasuk di sekolah. Karena itu saya mendaftar menjadi murid disini, dan berhasil sekelas dengan Anda." jelas Sasuke dengan sudut bibir terangkat, puas dengan ekspresi Naruto yang seakan-akan baru melihat jin.

"Aku paham itu. Tapi kenapa kau juga mengikutiku sampai toilet, hah?" seru Naruto gondok berat. Belum hilang rasa kagetnya saat dia melihat Sasuke berdiri di depan kelasnya, sekarang orang ini malah mengikutinya sampai ke toilet!

Tadi dia kaget setengah mati begitu melihat Sasuke berdiri di depan kelas sambil tersenyum kecil padanya. Awalnya dia berniat memberi pelajaran pada sumber keributan tadi, namun yang dia lihat malah Sasuke yang mengenakan seragam sekolahnya dan memakai tanda pengenal KIHS. Jelas saja Naruto terkejut. Padahal Naruto adalah majikannya, tapi orang itu sama sekali tidak memberitahukan rencananya untuk bersekolah disini!

Dan yang bisa dilakukan hanyalah berpura-pura tidak kenal.

Tapi sia-sia saja Naruto bersikap tidak acuh padanya. Teriakannya yang keluar begitu saja ketika melihat Sasuke menimbulkan kecurigaan semua orang. Susah payah dia berbohong pada mereka kalau dia hanya kaget karena tidak menyadari ada murid baru. Berhasil, memang, tapi Sasuke sama sekali tidak membantunya! Dia terus menerus tersenyum pada Naruto dan mengikutinya sejak bel istirahat berbunyi, bahkan ke toilet!

Sasuke tidak menjawab, tidak bisa mengatakan hal yang sejujurnya pada Naruto. Bagaimana tidak! Alasannya mengikuti Naruto ke toilet kan, untuk memastikan apakah si pirang itu akan memasuki toilet pria atau wanita. Kalau dia memasuki toilet wanita, sudah pasti dia adalah perempuan. Jadi mana mungkin dia mengatakannya? Bisa-bisa dia dilempar dari lantai 4!

Wah, rupanya dia masih ragu tentang gender Naruto, ya?

"Saya hanya ingin melindungi Anda." jawab Sasuke berbohong. Naruto berdecak tak sabar.

"Aku tak perlu kau lindungi sekarang! Lagipula siapa yang akan menyakitiku di toilet?" tanya Naruto dengan nada meremehkan. Lalu dia mendorong Sasuke sejauh mungkin dan memelototinya seolah mengatakan awas-kau-kalau-kau-mendatangiku-lagi.

Dan begitu Naruto berbalik, dengan gesitnya Sasuke mengendap-endap di balik pot yang terletak agak jauh dari toilet dan mengeluarkan teropongnya. Terlihat Naruto memasuki toilet bertuliskan 'female'.

Sasuke menghela napas berat.

Ternyata dia memang benar-benar perempuan tulen…

.

.

.

Naruto melirik Sasuke yang duduk di samping kirinya dengan sebal. Anak itu masih dikerubungi gadis-gadis bagaikan gula yang dikerubungi semut. Ada yang bertanya ini-itu lah, menawarkan bekal, lah, dan segala perbuatan tidak jelas lainnya. Mereka semua berebut mencari perhatiannya, membuat Naruto semakin sebal. Padahal bel masuk sudah berbunyi, tapi mereka tetap saja ribut!

"Hu-uh…" keluhnya dalam geraman. Dia tidak bisa konsentrasi membaca komik, teriakan-teriakan centil itu menganggunya.

"Kyaa! Sasuke-kun memang keren! Tidak salah kalau…"

"DIAM!" teriak Naruto frustasi pada segerombolan manusia di sampingnya. "Tidakkah kalian bisa diam? Kalian membuatku gila!" bentaknya lagi dengan suara yang naik satu oktaf di setiap kalimatnya. Hawa hitam pekat menguar dari badannya.

Gadis-gadis yang memenuhi meja Sasuke mengerut, ketakutan. Kemarahan Naruto adalah hal yang paling mengerikan kedua di sekolah ini setelah amukan Kakashi. Memang Naruto jarang marah, tapi anak itu akan menjadi monster kalau ada yang berhasil menyulut emosinya. Dan walaupun Naruto tidak pernah memukul perempuan, tetap saja mereka merasa ngeri melihat kemurkaan Naruto.

"Dan kau, Sasuke! Kenapa kau tidak menyuruh mereka diam?" tambahnya pada Sasuke yang masih membaca bukunya. Orang yang dimarahi mendongak sebentar, lalu berjalan ke arah Naruto.

"Maafkan saya," ujarnya sambil membungkuk. "Saya tidak tahu kalau hal itu menganggu Anda. Saya menyesal, Tuan." lanjutnya, kemudian dia menegakkan dirinya lagi dengan bibir yang tertarik satu senti ke kanan dan satu senti ke kiri.

"EH? Kau memanggilnya apa, Sasuke-kun?" seru Ino kaget, tak percaya apa yang barusan didengarnya.

"Tidak masalah, kan, Tu-hmph!"

"Hahaha… aku maafkan kalian, kok. Nah sekarang, aku ada urusan dengan Sasuke. Kami pergi dulu, ya!" elak Naruto sambil terus membekap mulut Sasuke dan menyeretnya keluar kelas, membuat semua orang yang melihatnya semakin mengagumi kekuatan Naruto yang dengan mudah menaklukan orang setinggi Sasuke.

"Kau ini apa-apaan, sih! Jangan sembarangan kau memanggilku dengan panggilan 'Tuan' disini!" tegur Naruto cemas. Dia telah membawa Sasuke ke koridor luar kelas dan memarahinya disana.

Sasuke tidak menjawab. Dia sibuk merapikan jas sekolahnya yang kusut akibat ditarik secara tidak berperikemanusiaan oleh Naruto. Setelah memastikan kemeja dan jasnya sudah rapi, barulah dia menjawab.

"Saya tidak mengerti apa maksud Anda, Tuan. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang butler pada majikannya." jawab Sasuke pelan.

"Aku tahu. Tapi bisakah kau tidak terlalu sering memanggilku dengan panggilan itu? Apa kau mau aku ketahuan memiliki seorang butler yang melayani dan melindungiku setiap saat? Aku tidak mau dicap sebagai orang lemah yang harus dilayani, tahu!" ujar Naruto memberi alasan. Sikapnya sudah agak melunak sekarang. Menurutnya kata-kata Sasuke cukup masuk akal karena seorang butler harus bersikap sopan pada majikannya. Tapi tidak harus seperti itu, kan?

Mata onyx itu menyipit cukup lama dan dahinya berkerut, memikirkan permintaan Naruto. Sebagai seorang butler dia harus memperlakukan tuannya dengan baik. Tapi kalau dia diperintahkan begitu…

"Baiklah, saya mengerti. Tapi itu tidak akan membuat saya menurunkan pelayanan dan penjagaan saya kepada Anda." ucapnya patuh. Mendengar itu Naruto tersenyum senang.

"Nah, begitu. Kau membuatku bahagia." kata Naruto ceria sambil berjalan memasuki kelasnya kembali. Bibirnya menyenandungkan sebuah lagu dengan lirih. Lega rasanya begitu satu masalahnya dengan Sasuke sudah beres.

BRUK!

"Aduh…" ringis Naruto begitu mendapati dirinya menabrak seseorang hingga terjatuh. Kepalanya sampai menyentuh lantai.

"Anda tidak apa-apa?" tanya Sasuke yang bergegas menolongnya.

"Aku baik-baik saja." jawab Naruto pelan. Didongakkannya kepalanya untuk melihat siapa yang menabraknya.

"Ma-maaf… aku-aku-aku ti…dak sengaja!" kata murid baru yang berdiri di samping Sasuke saat perkenalan dengan ekspresi ngeri di wajahnya.

'Ceroboh sekali dia ' batin Naruto seraya bangkit berdiri. Lha, bukannya kau yang salah, Naruto?

"Tidak apa-apa." sahut Naruto pendek sambil menggoyang-goyangkan rambutnya, berusaha membersihkan debu yang mungkin menempel pada rambut pendeknya. Kelakuannya itu membuat rambutnya tersibak dan bergerak kesana-kemari bak ditiup angin. Dan jujur, itu membuatnya tampak sangat keren.

BLUSH….

"Eh, eh, eh…" gagap Hinata dengan wajah memerah. Baru kali ini dia melihat pemuda setampan dan semanis itu. Rambut pirangnya yang acak-acakan, mata biru seperti langit, dan posturnya yang sempurna membuat sosok Naruto tampak seperti dewa dari kayangan…

Naruto yang melihat kelakuan Hinata langsung tersenyum kecil.

"Namaku Uzumaki Naruto." kata Naruto sambil mengulurkan tangannya. Hinata yang melihat uluran tangan itu terpaku sejenak, lalu mengenggam tangan Naruto dengan canggung.

"Hyuuga Hinata."

"Senang berkenalan denganmu, Hinata-chan." ujar Naruto dengan senyum hangat tersungging di bibirnya. Tiba-tiba saja Hinata merasa pusing dengan senyum yang menyilaukan itu. 'Ya ampun… dia ini manusia atau dewa?' batin Hinata tak habis pikir.

Naruto melebarkan senyumnya dan melepas genggaman tangannya dengan Hinata. Aneh juga melihat seorang gadis bersikap malu-malu seperti ini padanya. Rasanya seperti selebritis saja.

Melihat Hinata yang masih berdiri di dekat pintu, Naruto segera menarik tangannya dan menuntun gadis itu memasuki kelas kembali. Senyum di bibirnya tak kunjung memudar, malah makin lebar kala dia melihat wajah Hinata kian memerah.

Mau tak mau mulut Sasuke ternganga sedikit. Dilihat dari sudut manapun, Naruto tampak seperti playboy kelas kakap. Dia terus tebar pesona di depan Hinata yang malangnya, semakin larut dalam pesonanya. Walaupun Sasuke tahu kalau Naruto melakukan itu hanya karena ingin berteman baik dengan Hinata, tapi tetap saja bisa menimbulkan kecurigaan. Senyumnya itu, lho, bikin mata jadi tidak tahan.

"Gerah sekali hari ini, ya?" ujar Naruto setelah duduk di kursi dihadapan Hinata. Gadis itu hanya mengangguk kecil.

"Benar-benar gerah." tambahnya lagi sembari melonggarkan dasi dan menggantungkan jasnya di pundaknya tanpa berniat memasukkan tangannya kedalam lengan jas. Ya, anak itu memang memakai seragam murid laki-laki setiap harinya. Dia tidak mengenakan kemeja dengan rok dan dasi aneh berbentuk pita kecil seperti murid perempuan pada umumnya. Baju olahraganya pun baju khusus putra. Jadi maklum saja kalau orang-orang yang dekat dengannya pun seringkali lupa kalau dia adalah perempuan.

Apalagi Hinata yang tidak mengenal Naruto.

"Umm… Na-Naruto-kun…" panggil Hinata dengan suara terbata-bata. Naruto menoleh.

"Hm?" respon Naruto yang sedang menyisirkan tangannya pada rambutnya.

'Uh-huh… kerennya…' batin Hinata melihat gaya Naruto yang cool itu. Dasi yang tak terpasang dengan rapi dan jas yang menutupi bahunya… tampangnya yang tampan sekaligus manis saat matanya melirik Hinata…

Amazing!

"Ka-kau mau i-ini?" tawar Hinata saraya menyodorkan sekotak biskuit padanya. Naruto yang tidak mungkin melewatkan makanan gratis pun langsung menyambar biskuit itu dan mengunyahnya.

"Enak!" seru Naruto setelah menelan gigitan pertamanya. " Kau membuatnya sendiri? " tanya Naruto antusias. Hinata mengangguk malu-malu.

"Hebat! Kau ini bisa menjadi istri yang baik, Hinata!" puji Naruto ringan, tanpa menyadari kalau pujiannya itu telah membuat Hinata serasa melayang di angkasa…

.

.

.

"Hah…" Naruto menghela napas berat. Direbahkannya tubuhnya di atas sofa empuk di ruang santai. Dia merasa penat sekali. Entah kenapa jam belajar di sekolah bertambah satu jam, sehingga dia baru bisa keluar pada pukul 3 sore. Belum lagi rapat Perkumpulan Bela Diri Konoha yang berlangsung alot. Para junior ingin agar waktu latihan ditambah 2 jam, sedangkan para senior yang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian malah meminta agar waktu latihan dikurangi. Lalu ada yang meminta agar perkumpulan mereka mengadakan kunjungan ke desa lain dan merekrut orang luar, lagi. Benar-benar kurang kerjaan! Peminat dari Konoha saja sudah tak terhitung banyaknya, ini malah mau merekrut petarung dari desa lain.

"Lelah, Tuan?" tanya Sasuke basa-basi dengan nampan berisi secangkir teh dan biskuit. Naruto mengangguk muram.

"Ya… ternyata susah juga menjadi pemimpin."kata Naruto setelah menyeruput teh hangatnya. Sasuke tersenyum maklum.

"Tentu saja. Tapi saya yakin Tuan dapat memimpin dengan baik." hibur Sasuke seraya mohon diri.

"Jangan pergi. Aku membutuhkan teman bicara, nih. Lagipula kalau kau pergi, aku tidak tahu harus melakukan apa." cegah Naruto. Tangannya menarik siku Sasuke dan menghempaskannya ke sofa di depannya.

"Tapi saya…"

"Ah, sudahlah," potong Naruto cepat. "Sudah saatnya kau beristirahat, Sasuke. Duduklah, kita nonton tv sama-sama. Oke? " lanjutnya ceria. Tangannya menggapai-gapai remote tv yang terletak diatas meja. Kemudian setelah menekan beberapa tombol dan mengamati satu-dua siaran, dia langsung menyerah.

"Tidak menarik, " keluhnya bosan. "Acara tv makin hancur saja. Lihat, yang ada hanya drama cengeng penuh tetek-bengek." caci Naruto pedas. Dilemparnya remote itu ke arah Sasuke dan memberi isyarat agar dia saja yang menentukan salurannya.

"Bagaimana kalau kita memutar DVD saja, Tuan?" usul Sasuke begitu melihat Naruto yang mulai bergelung di sofa seperti kucing. Mendengar itu Naruto mendongak semangat.

"Benar juga! Kita nonton 07 Ghost, yuk!" ajak Naruto bergairah. Cepat-cepat diambilnya sebuah DVD di laci bawah tv. Dan tanpa membuang waktu, dia menekan beberapa tombol dengan gesit dan berbalik menghadap Sasuke dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

"Nah, mari kita saksikan!"

Ternyata Naruto amat menikmati tontonannya. Berkali-kali dia berteriak histeris ketika pemeran utama, seorang bocah manis berambut cokelat, kehilangan bola merah kecil yang melayang-layang. Dia juga cekikikan sendiri setiap ada adegan lucu, atau mengerucutkan pipinya tiap kemunculan tokoh antagonis. Naruto menontonnya dengan sepenuh hati, seakan-akan dia juga mengalaminya.

"Lucu, deh, Sasuke. Lihat! Mereka terjatuh!" pekik Naruto kegirangan sambil menunjuk-nunjuk layar televisi. Tangannya menarik tangan Sasuke yang nyaris terjengkang akibat tenaga Godzilla Naruto.

"I-iya…" timpal Sasuke seadanya. Naruto yang rupanya tidak puas dengan sikap pas-pasan Sasuke dengan cepat menarik Sasuke lagi agar satu sofa dengannya dan meninju bahunya pelan.

"Hei, Sasuke. Kau itu jadi orang jangan terlalu kalem. Sesekali tunjukkanlah ekspresimu sedikit." Tegur Naruto cengengesan.

"Saya…"

"Mau cola?" tawar Naruto ceria seraya menyodorkan sekaleng cola yang didapatnya entah dari mana tanpa menggubris Sasuke. Sasuke menatap cola itu sejenak, lalu mengambilnya dengan ragu-ragu.

"Terima kasih."

"No problem, Mademoiselle…" sahut Naruto dengan gaya Prancis, hendak menggoda Sasuke rupanya.

"Lucu sekali." Desah Sasuke tanpa minat setelah membuka kaleng cola dan meneguknya. Naruto meninju bahunya lagi.

"Nah, begitu dong. Sesekali bersikaplah layaknya orang seusiamu. Umurmu berapa? Kutebak 20-an." Cerocos Naruto yang tumben tidak memperhatikan anime kesukaannya.

"Bukan, " jawab Sasuke tenang. "Umurku 16 tahun."

Krik…krik…

"APA?" teriak Naruto tak percaya. Cola menyembur dari mulutnya, nyaris mengenai Sasuke. "Seusia denganku, dong!"

Sasuke mengangguk tenang.

"Tidak adil!" seru Naruto. "Aku dilindungi oleh orang yang sebaya denganku? Yang benar saja!" lanjutnya tak terima. Ini penghinaan! Seorang Namikaze Naruto, orang terkuat di Konoha harus dilindungi anak yang sebaya dengannya?

"Tapi itulah kenyataannya, Tuan." Respon Sasuke singkat, kontras dengan reaksi Naruto yang berlebihan.

"Kau…" geram Naruto. Tangannya meraih kerah kemeja Sasuke. "Jangan sok keren! Aku ini lebih keren darimu!"

"Saya tahu." Sahut Sasuke mengiyakan, membuat Naruto mati kutu.

"A-ambilkan biskuit lain, Sasuke. Yang ini sudah habis." Pinta Naruto enggan. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Ternyata sia-sia saja adu mulut dengan orang itu. Dilihat dari segi manapun dia jauh lebih pintar dari Naruto.

"Baik."

Sasuke beranjak dari sofa. Tanpa sadar dia mengelus-elus tangannya yang ditarik Naruto dengan kuat. 'Orang yang menarik' pikir Sasuke seraya menyusun biskuit-biskuit di piring. Dia belum pernah melihat orang seperti Naruto. Energik, ceria, berisik, dan mengerikan. Semua tindakannya lebih bergantung pada emosinya ketimbang akal sehat. Dia bisa sangat menyenangkan kalau dia sedang bahagia, dan bisa menjadi monster kalau marah.

Tapi itulah yang membuatnya berbeda. Berteman dengan siapa saja tanpa memandang status dan kekayaan… tersenyum tanpa terpaksa… serta bisa membuat orang lain merasa nyaman…

Ingin sekali Sasuke bisa menjadi seperti Naruto.

"Sudah gelap, ya?" gumam Sasuke setelah meletakkan biskuit terakhirnya. Tanpa terasa hari sudah menjelang malam. Matahari nyaris menghilang dan udara dingin mulai berhembus. Segera dia membawa nampan itu dan berjalan tanpa suara menuju ruang santai. Begitu sampai disana dilihatnya televisi masih menyala, tapi tak ada suara yang terdengar, baik suara tv atau suara Naruto. Padahal bocah itu masih ada disana.

"Saya datang membawa biskuitnya, Tuan." Kata Sasuke begitu dia berdiri di belakang Naruto yang tampaknya menonton tv dengan serius, namun tanpa suara. Lalu dia berjalan ke arah meja di depan sofa, meletakkan piringnya, dan membungkuk pada Naruto.

"Siapa kau?"

"Eh?" tanya Sasuke seraya menegakkan badannya.

SET

Kaki Sasuke mundur secara otomatis, hampir menabrak meja di belakangnya. Matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan pekik tertahan. Tubuhnya mematung kaku di hadapan gadis berambut pendek itu.

Lalu mendadak jantungnya seakan berhenti berdetak. Orang yang dilihatnya sekarang tampak begitu menyeramkan. Di depannya, gadis yang seharusnya diketahui Sasuke sebagai Naruto sedang menatapnya tanpa ekspresi dengan pandangan kosong, seperti melamun. Tampangnya memang tampang Naruto, tapi banyak yang berbeda… Matanya biru kehitaman, kulitnya yang dulu kecokelatan kini tampak seperti kulit mayat yang sangat pucat. Urat menonjol di sepanjang pipi hingga lehernya, membuat wajah itu kelihatan seperti diselimuti jaring hijau…

"Siapa kau?"

Rasanya seperti tak ada udara di ruangan ini. Paru-paru Sasuke terasa berat untuk menghirup udara dan ia merasa sesak ketika dia melihat sepasang sapphire hitam di wajah Naruto. Dia tidak sanggup melihat mata bening Naruto yang begitu kelam. Dia tidak tahan melihat sapphire yang seharusnya berkilau itu redup. Dia tidak kuat melihat mata itu tidak memantulkan cahaya seperti yang terjadi pada orang normal, tapi mata itu hanya menampakkan kegelapan… seolah-olah di dalam mata itu terdapat sebuah lorong gelap yang tak berujung…

"Kupikir… kau bisa mendengar."kata orang itu datar, membuat bulu roma Sasuke meremang. Suaranya itu seperti campuran antara suara orang tercekik dan suara orang yang berada di dalam sumur.

"S-saya... saya memang bisa mendengar, Tu-tuan…" ujar Sasuke terbata-bata, merasa ketakutan dengan sosok dihadapannya.

"Apa maksudmu dengan 'Tuan'? Apa aku mengenalmu?" tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dari Sasuke. Sasuke tersentak kaget.

"Mengenal? Bukankah saya sudah bersama Tuan sejak pagi tadi?" jelas Sasuke keheranan dengan ketakutan yang bertambah setiap detiknya.

"Pagi?" ulang Naruto tak mengerti.

"Saya butler Tuan." Tambah Sasuke pelan, berusaha menangkap kebohongan dari wajah Naruto. Siapa tahu dia hanya bercanda.

Tapi…

Wajah itu datar sekali, tidak ada satu pun ekspresi yang bisa ditangkap disana.

"Kau mengarang? Butler? Menemaniku dari pagi? Jangan bercanda…" sanggah Naruto tetap dengan suaranya yang tanpa intonasi sedikitpun.

"Ta-tapi…"

"Lagipula," potong Naruto seakan tak ada interupsi. "Kita baru bertemu sekarang. Dan pagi itu apa?"

Terperangah, Sasuke menguatkan hatinya untuk mencari kebenaran dari mata Naruto. Apa maksudnya? Dia baru bertemu dengan Sasuke sekarang? Dia tidak tahu apa itu pagi? Apa-apa yang sebenarnya terjadi?

Disentuhnya pipi Naruto dengan tangan gemetar.

"Anda… benar-benar tidak mengenal saya?" tanya Sasuke, berusaha tidak mengacuhkan rasa perih di ulu hatinya. Yang ditanya hanya menggeleng.

"Tidak sebelum kau menyebutkan namamu." Kata Naruto tenang. Dan dia dapat merasakan tangan yang menyentuh pipinya menegang.

Sasuke melepaskan tangannya. Wajahnya menunduk dalam-dalam dan tangannya terkepal kuat. Mata onyxnya menghilang, tersembunyi di balik rambutnya.

Dia mempunyai perkiraaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto…

Tapi dia tidak mau memikirkannya…

Dan dia tidak mau kalau itu benar…

"Tuan Minato," ujar Sasuke dingin dengan ponsel di telinganya. Bibirnya bergetar hebat.

"Saya ingin tahu apa yang terjadi pada Tuan Naruto."

.

.

.

Bocah pirang itu berjalan dengan lunglai. Setiap langkah kaki yang diayunkannya membuatnya semakin pusing. Ya, lagi-lagi dia terbangun dengan kondisi yang tidak mengenakkan seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Kepala terasa berat, mata berkunang-kunang, dan bawaannya ingin muntah terus. Belum lagi rasa kantuk yang senantiasa menyergap, membuatnya selalu ingin tidur.

Dan dia tidak mengingat apapun! Dia tidak ingat apa yang terjadi semalam, kemarin malam, atau malam-malam yang lalu! Hal terakhir yang dia ingat hanya saat ia dan Sasuke menonton tv, lalu setelah itu dia terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar dengan Sasuke yang tertidur di sofa kamarnya.

Dan ngomong-ngomong soal Sasuke, sepertinya ada yang aneh dengan anak itu. Dia terlalu kaku. Memang sih, anak itu selalu kaku setiap hari, tapi tidak sekaku hari ini! Dia hanya menjawab Naruto dengan anggukan atau jawaban yang tak lebih dari dua kata, membungkuk lebih lama dari biasanya, dan melayani Naruto kelewat serius. Lalu Naruto berkali-kali mendapati Sasuke sedang mengamati dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan, antara melamun dan sedih. Entah apa yang dipikirkannya, Naruto tidak tahu. Yang jelas, dia ingin Sasuke cepat kembali seperti biasanya.

"Kita sudah sampai, Tuan." Kata Sasuke yang sedari tadi berjalan disampingnya dengan sopan, membuyarkan lamunan Naruto.

"Eh-oh… ya, terima kasih." Sahut Naruto gugup. Raut wajah Sasuke aneh sekali.

"Umm, Sasuke…" panggil Naruto. Sasuke menoleh.

"Ya?"

"Tadi malam kau menungguiku, ya?" tanya Naruto to the point.

Sasuke memandangnya sejenak.

"Ya." jawabnya singkat, tapi cukup membuat Naruto menghentikan langkahnya.

"Kenapa?" tanya Naruto. Nada menuntut terdengar jelas dari suaranya. Mendengar itu, Sasuke menghela napasnya dengan berat sebelum menjawab.

"Itu tugas saya sebagai butler Tuan."

"Tapi tak perlu sampai seperti itu, kan? Maksudku, sebagai butler kau memang harus melayani majikanmu dengan baik, tapi kau masih mempunyai hak sebagai manusia! Aku maupun siapapun tak berhak merampasnya, kau tahu itu?" seru Naruto dengan suara meninggi. Dia tidak suka orang lain membantu atau melayaninya kelewat batas. Mungkin dia masih bisa mentolerir sikap buler ini karena ayahnyalah yang menyewanya, tapi jangan sampai menyusahkan diri sendiri! Memangnya dia hanya orang tak berguna yang senang-senang saja dilayani oleh orang lain?

"Saya hanya…"

"KYAA…"

Kata-kata Sasuke tenggelam dalam jeritan. Refleks keduanya menoleh kearah sumber suara. Dibelakang mereka, tepatnya dibawah pohon, berdiri Hinata yang sedang dikerumuni oleh segerombolan laki-laki tak dikenal. Hinata tampak begitu ketakutan, tapi tak ada seorang pun yang mau membantunya.

"Apa yang- Tuan!" teriak Sasuke memangil Naruto yang tiba-tiba saja berlari menuju Hinata. Gerakannya cepat sekali, sampai-sampai Sasuke nyaris tidak menyadari kalau Naruto sudah tidak ada di tempatnya. Dan walaupun sekilas, Sasuke dapat melihat kemarahan dan kebencian terpahat jelas di seluruh permukaan wajahnya.

"Hei, kalian! Apa yang kalian lakukan pada Hinata?" bentak Naruto sambil mencengkram kerah salah seorang dari gerombolan yang mengerumuni Hinata. Orang itu berkulit amat pucat dengan mata dan rambut hitam legam. Dia hampir tak bereaksi akan sikap Naruto yang membentak-bentaknya dengan berang.

"Sudah?" tanya nya dingin begitu Naruto mengambil napas, membuat urat bertonjolan di dahi si pirang itu. Semua orang yang melihat mereka segera menjauh. Bahaya kalau dekat-dekat dengan Naruto.

"Kau ini…" geram Naruto terbata-bata karena kesulitan menahan emosinya.

"Kami hanya ingin berkenalan dengan gadis manis ini. Lalu kami akan bermain-main sebentar dengannya." Kata orang itu enteng. Hinata langsung mengkeret di balik pohon.

"Jangan sentuh dia!"

"Oh, siapa kau? Pacarnya, ya?" tanya si pucat dengan nada mengejek. Mendengar itu, sekarang tak hanya urat Naruto saja yang bertonjolan, tapi mukanya sudah merah padam menahan marah dan entah kenapa gigi taringnya tampak lebih panjang dari biasanya.

"HEAATT!"

Bruk!

"Sai! SAI!" seru kawan-kawannya panik begitu melihat orang itu terkapar setelah di tendang wajahnya oleh Naruto. Tendangannya luar biasa kuat, sehingga orang itu langsung terlempar jauh dan terkapar di tanah. Pipinya lebam dan darah mengucur dari sudut bibirnya. Wah, sepertinya tulang rahangnya retak.

"Katakan pada bos kalian yang seperti mayat itu," kata Naruto dingin sembari mengenggam tangan Hinata dan membawanya menjauh. "Sekali lagi dia menganggu kawanku, akan kubantai dia." Lanjut Naruto kejam, membuat gerombolan itu merasa ngeri. Hawa pembunuh Naruto terbang kesana-kemari dan beberapa orang terkena hawa pembunuh itu tepar di tempat.

"Uh-huh…" ringis orang yang ditendang Naruto beberapa saat kemudian. Tangannya menyentuh pipinya dan dia merasa nyeri. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia baru saja-ditendang?

"Sai! Kau tidak apa-apa?" tanya orang berambut cokelat yang diketahui bernama Hayate cemas. Darah mengucur semakin deras dan hidungnya bengkok. Sai mengangguk pelan, lalu sibuk menyeka darah dari bibirnya.

"Gadis itu… suatu saat akan kubalas dia!" geram Hayate dengan tangan terkepal, tanpa menyadari tampang ngeri Sai dan kawan-kawannya yang lain.

"Ga-gadis?"

"Ya. Orang yang berambut pirang tadi itu perempuan." Kata Hayate tenang. "Walaupun dia kelihatan seperti lelaki, dia itu betina lho. Yah… wajar saja kalian tidak tahu. Habis dia itu perkasa sekali." Lanjutnya dengan nada antara kagum dan heran.

Mata Sai langsung melebar dan mulutnya ternganga. Si pirang tadi itu… perempuan? Orang luar biasa kuat yang berhasil membuatnya tumbang, orang pertama yang bisa menyakitinya adalah seorang gadis?

"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Sai yang mendapat kekuatan entah dari mana segera bangkit berdiri dan mengguncang-guncangkan bahu Hayate.

"Du-dulu aku tetangganya…"

"Sai… SAI!" panggil kawannya takut melihat Sai mematung dengan ekspresi aneh di wajahnya,

Itulah orang yang selama ini dia cari-cari. Tipe idamannya. Seorang wanita yang dapat melukainya sampai seperti ini adalah orang yang selama ini dia rindukan. Ya, selama ini dia mengidolakan para wanita yang hebat dan dapat melindungi diri sendiri.

Dan sosok itu muncul dalam diri Naruto.

Gadis itu benar-benar hebat. Kuat, berani, dan keren. Walaupun dia memiliki wajah semanis itu, dia tetap terlihat luar biasa. Keperkasaan dan kegagahannya sungguh menakjubkan. Lalu kekuatannya… kecepatannya… staminanya… Bahkan seorang laki-laki pun sepertinya tidak bisa menandinginya!

Mata sapphire yang berkilauan…

Rambut pirang yang tersibak…

Dan postur tubuh yang membuatnya terlihat gagah…

Tanpa sadar Sai mengusap pipinya yang ditendang Naruto dengan pelan.

'Si pirang itu… bagaimana pun juga dia harus menjadi milikku!'

Ok! Reihaka udah selesai ngetik chapter 4! Wah, capek juga, ya, kalo ngetik di bulan puasa… padahal cuma jari doang yang bergerak. Trus, Reihaka bakal hiatus kira-kira satu bulan karena lagi banyak tugas dan Rei mau PulKam. Maaf ya…

Reihaka: Hiks… Rei mau pulang kampung nih…

Naruto: Pergi aja lu sono! Gak usah balik lagi!

Reihaka: Woi! Kalo gue gak balik lagi ceritanya nggantung dong?

Naruto: Iya juga ya… lagipula gue gak mau diincer ma si mayat masokis itu!

Reihaka: Masokis? Maksud lo si Sai?

Naruto: Tau deh apa namanya. Yang jelas tuh orang aneh banget. Gue bantai malah jadi naksir gue. Hiiyy!

Reihaka: Kan cocok ama lo…