Two Sides Girl's Butler
Ohayou Minna! Reihaka balik lagi ke Fanfic setelah 1 bulanan nggak nongol-nongol. Wah, seneng banget bisa nulis fic lagi. Soalnya di kampung Rei nggak berani bawa laptop, takut kebanting sama barang-barang yang lain. Tapi disana seru juga lho, dapat banyak duit! Khe…khe… khe(ngitung fulus). Oh ya, Rei mau bilang, mulai chap ini, balesan reviewnya di bawah, ya!
Chapter 5: Sasuke's Mask
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC tingkat akut,de-el-el.
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
Flashback
'Dia dikutuk, Sasuke. Tentu kau sudah melihat perubahan yang terjadi padanya. Sebenarnya dengan otak yang kau miliki, itu pasti cukup untuk mengetahui detailnya lebih lanjut.'
'Saya memang mempunyai dugaan, Tuan. Tapi saya tetap ingin mendengar penjelasannya dari Tuan sendiri.'
'Baiklah. Sepuluh tahun yang lalu dia dikutuk oleh partner kerjaku untuk menjadi orang yang berkepribadian ganda. Tetapi sebenarnya yang terjadi, jiwanya menghilang ketika malam hari dan kembali ketika pagi menjelang. Hal itu membuat ingatannya terbagi 2. Pada siang hari dia akan melupakan semua hal yang dialaminya pada malam hari, begitu juga sebaliknya.'
'Begitu.'
'Itu reaksi yang mengejutkan. Kupikir kau akan bertanya lebih lanjut.'
'Semua hal yang Anda jelaskan sudah cukup bagi saya.'
'Baguslah. Agak sulit bagiku untuk menceritakannya lagi, memang. Tapi Sasuke, aku mempunyai sebuah…'
'Saya hanya menerima perintah dari Tuan Naruto.'
'Ini bukan perintah, Sasuke. Tapi permintaan. Ini hanya permintaan seorang ayah demi putrinya. Kumohon, dengarkan dulu apa yang akan kukatakan ini.'
'…'
'Sasuke?'
'Baiklah.'
'Sasuke… Tolong kau turuti semua permintaan atau perintah dari Naruto, apapun itu. Aku tahu dengan sifatnya yang seperti itu, dia pasti akan meminta yang aneh-aneh. Tapi turuti saja, jangan pernah kau menolak keinginannya.'
'Saya tidak bisa. Walaupun saya seorang butler, saya tidak bisa melakukannya. Adakalanya saya harus menolak perintah dari majikan saya jika perintah itu bertentangan dengan prinsip hidup dan hak saya.'
'Aku tahu. Tapi kumohon, kali ini saja. Turutilah semua kata-katanya sampai aku kembali. Saat dia kehilangan jiwanya dia tidak bisa merasakan apapun lagi. Dia tidak bisa meraskan segala emosi yang seharusnya dapat dirasakan manusia. Hanya saat sianglah dia bisa kembali normal. Karena itu tolong, bahagiakanlah dia selama aku pergi.'
'…'
'Baiklah.'
End Flashback.
.
.
.
"Selamat Pagi semuanya!" sapa Naruto ceria begitu dia sampai di kelasnya. Tangannya terentang lebar dan senyum tersungging di bibirnya.
"Selamat Pagi." Balas Kiba seraya menghampiri Naruto dan menyikutnya pelan. Seringai jahil muncul di wajahnya. "Wah, setiap pagi kalian selalu pergi bersama, ya? Pulang juga bersama. Ada apa ini sebenarnya?" Komentar Kiba sambil menunjuk wajah stoic Sasuke. Naruto mengangkat bahunya.
"Haah… kau ini pagi-pagi sudah banyak bicara. Ngomong-ngomong, kau sudah latihan belum?" tanya Naruto penuh selidik pada Kiba yang sudah bergabung dengan klub Karate sejak kelas 1.
"Ha-eh… Sudah! Aku sudah latihan kok! Aku latihan setiap pagi malah." Elak Kiba tidak professional. Kebohongan tampak jelas dari suaranya. Mana mungkin dia latihan. Dibandingkan berlatih, dia akan lebih memilih bermain dengan anjingnya.
"Baguslah. Sepulang sekolah kau bertanding denganku, paham?" kata Naruto seenaknya sambil lalu, meninggalkan Kiba yang sudah memasang tampang ngeri. Bertanding? Bertanding dengan Naruto? Yang benar saja! Naruto kan, seorang shihan yang memegang rokudan atau DAN 6. Shihan adalah master dengan tingkatan yang sangat tinggi, diatas DAN 5! Sedangkan dia? Dianggap senpai saja sudah syukur.
Belum lagi jutsu-jutsu mengerikan yang dikuasai Naruto. Chinte, Nojushiho, Bassai mudah saja baginya. Tsuki waza, uke waza dan geri waza-nya tak perlu diragukan lagi. Ken nya mematikan, kime nya sempurna. Siapa yang mau menjadi lawan seperti dia?
"Ng, anu, Naruto… aku tidak bisa. Pulang sekolah aku harus membawa Akamaru ke rumah sakit." Tolak Kiba dengan badan gemetar. Mendengar itu kepala Naruto langsung berputar dengan sangat pelan.
"Oh, ya sudah," kata Naruto sambil tersenyum lebar. Suaranya manis sekali. "Kalau begitu kita besok bertanding shito, oke?" lanjutnya enteng. Semua orang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dengan seksama kini memasang wajah horror.
GUBRAK!
"Kau mau berlatih denganku atau membunuhku, sih? Untuk apa mengadakan pertarungan hidup dan mati seperti itu!" teriak Kiba panik. Saking paniknya dia sampai terjatuh dan menabrak meja Neji.
"He… he… he… bercanda. Kau ini polos sekali, sih? Mana mungkin aku bertanding shito denganmu. Aku pun tidak mau." Ujar Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kiba menghela napas lega.
Naruto menoleh pada Sasuke yang diam dari tadi, hendak menyeringai padanya. Tapi yang ditatap hanya menarik kedua sudut bibirnya sedikit.
Refleks Naruto memejamkan matanya.
Ada apa ini?
Kenapa melihat senyumnya itu dadaku terasa perih sekali?
"Kau ada masalah dengan Sasuke?" tanya Gaara setelah menatap Sasuke yang sudah duduk tenang di mejanya. Naruto yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke kursi hanya mengangkat bahu.
"Entahlah."
KRINGG…
"Sebaiknya kau tenangkan pikiranmu sebelum Kakashi-sensei masuk. Kau bisa kena masalah nanti." Ujar Gaara baik hati. Tangannya menepuk kepala Naruto pelan, membuat cengiran lebar merekah di bibir gadis itu.
"Terima kasih, Gaara."
Naruto memandang keluar jendela. Pagi ini agak mendung. Apa nanti akan hujan, ya? Padahal tadi di ramalan cuaca mengatakan kalau hari ini akan cerah. Hah… ternyata langit itu memang tidak bisa ditebak oleh manusia, ya?
Tapi…
Apa manusia bisa ditebak oleh langit?
Lalu tanpa sadar dia beralih menatap Sasuke.
Sasuke…
Kenapa kau tersenyum seperti itu?
.
.
.
"Sst… Naruto! Jangan tidur di kelas! Kurenai-sensei sudah masuk." Bisik Gaara frustasi melihat Naruto sudah membenamkan wajahnya ke dalam kedua lengannya, tertidur.
"Bangun!" tambahnya sambil mengguncang-guncangkan bahu Naruto tak sabaran. Kurenai-sensei sudah masuk dan siapapun tidak ingin melihat guru berambut hitam itu mengamuk.
"Ng?" respon Naruto yang nyawanya belum terkumpul semua. Mana iler bergelantungan di mulutnya lagi!
"Kau ini…" bisik Gaara geli. Lalu dia mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap iler di sudut bibir Naruto. "Kurenai-sensei sudah masuk. Bertahanlah sebentar lagi." Lanjutnya seraya menarik kerah belakang Naruto, memaksa punggungnya terduduk tegap. Naruto hanya cengengesan sambil mengucapkan terima kasih yang tulus. Gaara yang wakil ketua kelas mau bersikap sebaik itu pada Naruto yang, ngg… bisa dibilang bukan murid yang bisa bersikap baik. Lihat saja julukannya, 'The Orange Ghost'. Seorang gadis bernuansa orange yang bisa menjelma menjadi hantu pencabut nyawa kalau dia marah. Gelar yang cocok.
"Anak-anak, hari ini kalian akan mempunyai teman baru." Kata Kurenai-sensei yang entah kenapa masuk di jam pelajaran Kakashi. Mendengar itu dahi Naruto langsung berkerut, sedangkan Gaara menghela napas berat.
"Lagi?" tanya Naruto keras, membuat Kurenai melempar deathglare padanya. Yang dilempar deathglare langsung pundung di pojokan.
"Ya sudah! Langsung saja perkenalannya. Hei kau yang diluar, masuk!" perintah Kurenai kejam.
Tap… Tap…
Terdengar suara langkah kaki.
"Namaku Sai. Aku pindahan dari West Konoha High School. Salam kenal." Kata seorang pria berkulit putih seperti mayat dengan wajah sedatar-datarnya. Sontak langsung terdengar bisik-bisik di kelas, kecuali Naruto yang membelalakkan matanya.
"KAU!" teriaknya kaget. Refleks Naruto berdiri. Tangannya menunjuk Sai yang berdiri mematung dengan senyum kecil di bibirnya.
Semua mata menatap mereka penuh tanda tanya.
"Apa yang…"
"Oh… ternyata kalian sudah saling mengenal, ya?" Ujar Kurenai manis. "Kalau begitu Sensei tinggal dulu, ya. baik-baiklah kalian dengannya." Lanjutnya tenang sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan semua makhluk di kelas itu menatap Naruto dan Sai dengan mulut ternganga.
Brak.
"Kau yang kemarin, kan?" bentak Naruto begitu mendengar suara pintu menutup. Dia meloncati mejanya dan menghampiri Sai yang masih berdiri di depan kelas. "Mau apa kau kesini lagi, heh? Mau menganggu Hinata lagi?" lanjut Naruto seraya mencengkram kerah Sai, tak peduli bisik-bisik menjadi semakin keras.
"Menganggu? Tidak… aku hanya pindah sekolah." Ujar Sai tenang.
"Kau bo-ho-ng!"
"Aku berkata yang sebenarnya, kok. Kau saja yang terlalu sensi. Lihatlah anak itu. Dia baik-baik saja, kan?" tanya Sai sambil menunjuk Hinata. Naruto mengikuti arah tunjukan Sai dan melihat Hinata sedang menunduk sedalam mungkin, seolah ingin menenggelamkan wajahnya ke tanah.
"…"
"Cih!"
Mau tak mau Naruto melepaskan cengkraman tangannya. Dia benar. Mana mungkin anak ini sampai rela pindah sekolah hanya untuk menganggu Hinata?
Ya, tapi dia rela pindah sekolah untuk orang yang telah menendang wajahnya.
"Hah? Kok begini? Kau tidak memukulnya, Naruto?" tanya Kiba tak terima. Dia sudah menantikan momen dimana Naruto akan menonjok anak itu. Wajah Sai menyebalkan sekali, jadinya Kiba ingin sekali wajah tampannya itu hancur lebur dihajar Naruto.
"Tidak ada alasan bagiku untuk memukulnya. Kemarin adalah kemarin, dan hari ini adalah hari ini. Urusanku dengannya sudah selesai." Kata Naruto tenang dan berpaling, hendak kembali ke kursinya.
Naruto menghela napas berat. Anak pucat itu pindah ke sekolah ini? Benarkah kalau pemuda yang pernah ditendangnya itu sekarang sekelas dengannya?
Ck, sudah Sasuke menjadi aneh begitu, sekarang si mayat itu malah datang kesini. Seburuk apa lagi nasibku?
.
.
.
Naruto berlari di sepanjang koridor. Dia sudah telat 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Salahkan Asuma-sensei yang menghukumnya di waktu pulang karena tertidur lagi di kelas. Wah, pasti Sasuke sudah bosan berat menunggunya. Yah… itu salah dia sendiri, sih. Padahal Naruto sudah mengatakan kalau dia bisa pulang sendiri.
"Maaf Sasuke aku tel…"
Kalimat Naruto terhenti.
"Hai, Naruto. Sudah selesai latihan?" tanya Sai ramah. Naruto tidak menjawab, namun hanya menatap tajam sosok Sai yang masih tersenyum padanya.
"Dimana Sasuke?" tanya Naruto cepat begitu mendapati Sasuke tidak ada di ruangan.
"Sasuke?" tanya Sai dengan dahi berkerut. "Tidak. Aku dari tadi tidak melihatnya."
"Ck! Dimana sih anak itu? Katanya janjian di kelas!" gerutu Naruto kesal. Sai yang menangkap kata 'janjian' langsung duduk tegap di kursinya.
"Janjian? Apa maksudmu dengan jan-ji-an?" tanya Sai dengan nada menuntut. Ada apa ini sebenarnya? Jangan-jangan mereka berdua berpa…
"Hei, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya pulang bersamanya, itu saja." Jelas Naruto saat melihat ekspresi Sai. Dia sudah menduga akan mendapat tanggapan seperti itu. Kenapa sih, orang-orang selalu berpikir macam-macam tentang mereka berdua?
Mendengar penjelasan Naruto, Sai langsung menghela napas lega.
"Ngomong-ngomong, kau sedang apa?" tanya Naruto. Sai dari tadi memegang sebuah buku dan pensil aneh di tangannya. Dia pun tak melepaskan buku itu, walaupun ketika dia sedang berbicara.
"Ini?" Sai mengangkat bukunya. "Aku sedang menggambar anime character Sesshomaru." Lanjutnya sebelum kembali menggambar. Mendengar kata-kata 'anime', telinga Naruto langsung bergerak keatas.
"Sesshomaru? Mana? MANA?" tanya Naruto antusias. Dalam sekejap dia sudah menarik kursi dan duduk di depan Sai.
"Ini."
Mata Naruto membesar.
"Wah… mirip sekali! Bahkan lebih keren! Matanya… rambutnya… semuanya sempurna! Kau ternyata bisa menggambar, Sai?" seru Naruto senang, tak lupa dengan puja-puji untuk Sai. Matanya mengamati gambar seorang siluman berambut panjang yang amat digemarinya. Senyum mengembang di bibir mungilnya.
"Iya. Kau suka?" tanya Sai sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya, menikmati wajah Naruto yang amat manis ketika tersenyum.
"Iya! Aku sukaaa sekali! Ini luar biasa!" puji Naruto bersungguh-sungguh. Dia memang amat menyukai karakter anime yang satu ini. Dan dia harus mengakui, bahwa Sai memiliki bakat yang menakjubkan!
"Ya sudah, untukmu saja." Kata Sai ringan.
"Hah? Benarkah? Terima kasih!" seru Naruto saat melihat Sai mengangguk. Matanya berbinar-binar senang. Dia belum punya gambar anime buatan tangan. Yang ada hanya cetakan komputer atau sablon. Dan ini akan menjadi gambar buatan tangan pertama miliknya!
"Dan kalau kau mau, aku bisa memberikanmu ini." Ujar Sai sembari menyodorkan 4 lembar kertas bergambar pada Naruto. Dan Naruto, yang anime-mania nya langsung kumat kala melihat gambar tadi langsung memekik.
"Wow… lihat ini! Ada Teito Klein, Byakuya Kuchiki, Ciel, dan-dan… Light Yagami! WAAA!" jeritnya sambil memeluk gambar-gambar itu di dadanya. "Ini semua untukku?" tanya Naruto segera. Sai mengangguk.
"Terima kasih! Aku benar-benar berterima kasih, Sai!" kata Naruto penuh syukur. Air mata menggenangi pelupuk matanya, terharu.
Sai ternganga. Dia tidak menyangka reaksi Naruto sehebat ini. Padahal ini hanya gambar yang ditirunya dari majalah anime.
"Oh ya. Dari mana kau tahu semua karakter anime kesukaanku?" tanya Naruto tanpa melepaskan matanya dari kertas-kertas gambar itu.
Seringai kemenangan sukses merekah di wajah Sai.
"Insting?" ujar Sai sambil mengedipkan sebelah matanya. Kalau gadis biasa, tentu sudah mimisan dibuatnya. Tapi yang dihadapannya sekarang ini adalah seorang Namikaze Naruto, orang yang menganggap bahwa dunia selain dunia otaku dan dunia bela diri adalah omong kosong. Jadi kedipanmu itu tidak mempan, Sai!
"Kau bercanda." Sergah Naruto tak percaya. " Mana mungkin ada orang yang baru bertemu sekali langsung bisa tahu kegemaran orang tersebut hanya melalui insting?" lanjutnya lagi.
Yup, kau benar, Naruto.
Flashback.
"Ini," kata Hidate sambil menyodorkan sebuah map kuning pada Sai. "Itu adalah data Namikaze Naruto yang sudah kukumpulkan. Kurasa itu cukup." Lanjutnya.
"Bagus. Kerjamu bagus." Puji Sai tulus. Memang sejak kejadian itu, dia segera menyuruh Hidate yang merupakan mantan tetangga Naruto untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang Naruto. Itu amat dibutuhkan Sai untuk mendapatkannya. Mana mungkin hendak PDKT sama seorang gadis kalau kita sendiri tidak tahu apa-apa tentang gadis yang kita incar, bukan?
Lalu tanpa menunggu waktu lama dia segera membuka map itu dan langsung membaca.
"Apa?" seru Sai. "Lihat ini! Ternyata dia sangat hebat. Dengar, dia pemegang DAN 6 di Karate, DAN 7 di Judo,DAN 5 Taekwondo, DAN 3 Aikido, DAN 4 Hapkido! Dia juga menjabat sebagai ketua klub Kendo dan wakil ketua klub Kyudo. Dia menguasai Muay Thai, Kenpo, Brazilian Jui-jitsu, Sambo, dan Wushu! Dia selalu menang di setiap pertandingan semua cabang bela diri yang di pertandingkan!" seru Sai tak percaya plus kagum.
"Yah, begitulah. Dia mendapatkan semua itu dari kedua orang tuanya, Namikaze Kushina dan Namikaze Minato." Jelas Hidate tak peduli, seakan-akan informasi ini sudah basi. Lain dengan Sai yang langsung ternganga.
"Na-Namikaze Kushina dan Namikaze Minato? Para petarung lagendaris itu?" desah Sai tak percaya.
"Iya. Kau kenal mereka?" tanya Hidate acuh tak acuh.
Pemuda berkulit pucat itu menatap foto Naruto yang terlampir di map itu dengan kagum. Jadi orang tuanya adalah Kushina dan Minato? Siapa yang tidak kenal kedua orang itu?
Namikaze Kushina adalah seorang petarung kebanggaan Konoha yang telah diakui kekuatannya hingga dunia internasional. Dia seorang Judan atau DAN X di setiap cabang bela diri Jepang dan pemegang gelar master pada jenis bela diri luar negeri. Kekuatannya luar biasa menakjubkan, sampai-sampai dia bisa menghancurkan balok es setebal 50 cm hanya dengan sekali pukulan saja. Dia juga bisa mengangkat beban seberat 120 kg. Tak hanya kuat, dia juga cantik. Sehingga tidak heran kalau orang yang baru bertemu dengannya tak akan mengira dia sehebat itu.
Sedangkan Namikaze Minato adalah petarung senjata yang melagenda. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Kendo Internasional selama 10 tahun sebelum mengundurkan diri karena dia akan menikah. Dia juga seorang ahli Kyuudo yang bahkan bisa memanah sebuah titik dari jarak 200 meter dengan berkuda. Seni pedang, menggunakan kunai dan shuriken, atau tongkat panjang yang dipelajarinya benar-benar hebat. Minato dapat menggunakan hampir semua benda sebagai senjata. Dia bisa mengubah kerikil menjadi peluru, jarum menjadi pedang, dan pulpen sebagai tombak. Luar biasa!
"Pantas saja dia bisa hebat begitu," komentar Sai mangut-mangut. Lalu dia melanjutkan acara membacanya dengan semangat.
"Hobinya makan ramen, berlatih di gunung, membaca komik, dan-dan dia seorang… otaku?" lirih Sai tak percaya. Naruto, seorang master bela diri seorang-OTAKU?
"Yup. Dia itu anime-mania. Memang bagi orang yang belum mengenalnya itu mustahil terjadi. Tapi percayalah, aku sudah bergaul dengannya selama 6 tahun." Kata Hidate mencoba meyakinkan Sai yang kelihatannya cukup syok dengan informasi terakhir Naruto. Lalu ketika tampaknya Sai masih terguncang dengan kenyataan pahit itu, Hidate angkat bicara lagi.
"Dan yang lebih bagusnya lagi, aku tahu apa yang harus kau lakukan untuk mendapatkannya." tambah pemuda berambut ijuk itu sok misterius. Sai, yang sudah tergila-gila pada Naruto sejak tendangan pertama langsung mendongak.
"Apa?"
End flashback.
'Ternyata Hidate hebat juga. Semua yang dikatakannya benar.' Batin Sai tanpa melepaskan matanya dari Naruto. Semua data yang dikumpulkan anak itu benar semua, begitu juga dengan tips dan triknya untuk mendapatkan Naruto. Sai jadi heran sendiri kenapa Hidate masih jomblo sampai sekarang.
'Dia adalah orang yang hanya menganggap penting 3 hal selain keluarga, yaitu bela diri, anime, dan ramen. Jadi jika kau mau memilikinya, yang harus kau lakukan adalah menarik perhatiannya dengan tiga hal tersebut.' Kata-kata Hidate masih terngiang-ngiang di kepalanya, dan dia bertekad mengingat hal itu sampai mati.
"Oh ya, Naruto…" kata Sai dengan nada basa-basi. Dia ingin menanyakan sesuatu, sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak dia melihat Naruto dan Sasuke untuk pertama kalinya.
Naruto merespon kata-kata Sai tanpa mengalihkan perhatiannya dari komiknya.
"Apa?"
"Kau sudah punya pacar?" tanya Sai to the point.
"Hah? Pacar? Nama makanan apa itu?" tanya Naruto tanpa minat. Dia benar-benar tidak menaruh perhatian sedikitpun pada kata-kata Sai barusan. Dia terlalu sibuk melihat gambar di komiknya.
Sementara itu dahi Sai langsung mengeluarkan bulir besar keringat. Makanan? Makanan katanya?
"Bukan! Pacar itu bukan nama makanan! Pacar itu seseorang yang kau sukai dan kau menjalin hubungan dengannya!" jelas Sai sweatdropped. Dia tidak habis pikir kenapa ada orang sepolos Naruto, yang, bahkan tidak tahu pacar itu apa.
"…"
"…"
"…"
SINGG…
Sunyi senyap.
BRUAK!
"APA?" teriak Naruto histeris dengan muka horor. Tanpa sadar dia langsung berdiri, menimbulkan bunyi bedebum yang keras ketika kursi yang tadi didudukinya terjatuh. Wajahnya bergetar hebat, matanya terbelalak, dan mulutnya ternganga lebar sekali sehingga orang yang melihatnya akan berpikir kalau dia baru saja melihat kuntilanak.
"Eh?"
"Memangnya yang seperti itu ada di dunia nyata? Bukannya pacar itu cuma ada di dunia komik saja?" tanya Naruto dengan panik. Komik yang sedari tadi dipegangnya kini terlempar jauh.
"Hah? Me-menurutmu begitu, ya, Naruto?" tanya Sai sweatdropped, dan segera mengalami double sweatdropped ketika Naruto mengangguk mantap.
"Tentu saja! Mana ada hal begituan di dunia ini!" seru Naruto yakin dengan tangan terkepal.
"Jadi kalau begitu, kau pikir kenapa seseorang bisa menikah?" tanya Sai lagi. Dia hampir speechless begitu melihat reaksi Naruto. Dia mengira pacar itu adalah nama makanan… dia meyakini bahwa pacar itu hanyalah bualan komik belaka…
"Itu kan sudah takdir."
Dan sejak pembicaraan itu, Sai yakin kalau perjuangan untuk mendapatkan Naruto tidaklah semudah yang ia bayangkan…
.
.
.
Naruto memandangi Sasuke yang sedang membersihkan perapian dengan seksama. Matanya dipicingkan dan dahinya berkerut. Ada sesuatu dari pemuda itu yang meresahkan hatinya sejak pertama kali mereka bertemu… suatu hal yang selalu membuat rongga dadanya terasa nyeri.
Dan dia tahu apa itu.
Tidak, dia bukan mengamati Sasuke untuk mencari tahu hal itu. Dia mengamati Sasuke karena ingin menghentikan hal itu.
"Ada yang salah dengan saya, Tuan?" tanya Sasuke yang memang sudah menyadari bahwa dirinya sedang diamati oleh Naruto. Orang yang ditanya hanya memajukan bibirnya.
"Tidak ada." Elak Naruto singkat sambil memasang wajah tak peduli yang gagal total.
"Begitu."
Lalu Sasuke kembali bekerja.
'Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan…' batin Naruto berulang kali seolah-olah dengan begitu dia dapat melenyapkan Sasuke dari dunia ini. Rasa kesal dan prihatin bercampur menjadi kombinasi yang membingungkan. Dia kesal dengan sikap Sasuke, tapi juga prihatin di saat yang bersamaan. Menyebalkan sekali.
"Sudah, kau pergi saja. Biar aku yang membersihkannya." Kata Naruto akhirnya setelah beberapa saat dalam diam.
"Tidak bisa, Tuan. Ini sudah tugas saya." Jawab Sasuke tenang tanpa menoleh pada Naruto, membuat gadis itu menarik punggung kemejanya dan memutar tubuh tinggi itu dengan kasar.
"Aku tidak membutuhkanmu." Hardik Naruto dalam geraman, berbahaya. Giginya sampai bergemerutuk keras. Oke, rasa prihatinnya kalah banyak dibandingkan dengan rasa kesalnya.
Sasuke menatap Naruto dengan pandangan yang amat dingin. Mata onyxnya seolah menembus mata biru Naruto, berusaha mengebor hingga rongga mata terdalamnya.
Lalu dia menarik kedua sudut bibirnya satu senti.
"Tapi sepertinya tidak begitu." Ujar Sasuke tetap mempertahankan tarikan bibirnya kendati wajahnya dan ekspresinya amat sangat tidak mendukung.
BRAK!
"CUKUP!" teriak Naruto dengan suara bergetar. "Cukup! Sudah cukup Sasuke! Kau tidak bisa seperti ini selamanya!" lanjutnya marah. Dia tidak tahan lagi! Senyuman itu membuatnya gila!
"Apa maksud Anda?" tanya Sasuke, setia dengan senyumnya yang memuakkan.
"Aku tidak butuh senyumanmu itu! Kau pikir aku senang melihatmu tersenyum terpaksa seperti itu. hah? TIDAK!" bentak Naruto. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Sasuke. Bibirnya yang selalu tersenyum walau hati berkata lain… mata onyx yang menatap dingin ketika sedang tertawa… kepura-puraan menyedihkan yang selalu ditunjukkannya…
Semua itu membuatnya muak!
Senyum Sasuke langsung lenyap.
"Itu salah satu kewajiban saya." Lirih Sasuke dengan suara sedingin nitrogen cair. Bibirnya kini hanya berupa segaris tipis, membuat wajah sopan yang selama ini dipertahankannya menguap begitu saja.
Naruto mengerang frustasi.
"Masa bodoh dengan kewajibanmu itu! Aku tidak senang melihatmu begitu! Kau tahu, aku ingin mengenal seorang Uchiha Sasuke yang asli, bukan topeng yang kau kenakan!" seru Naruto dengan nada yang semakin tinggi di setiap kata. Dia tidak tahan lagi… Dia tidak sanggup melihat Sasuke terpaksa membohongi dirinya sendiri!
"…"
Sasuke tidak bereaksi. Dia hanya mematung di hadapan Naruto. Dia tampak seperti patung yang wajahnya dipahat dengan kasar, tak jelas bentuknya. Ekspresinya tak terbaca dan dia tidak bergerak sedikitpun.
"Saya tidak bisa."
"Tapi aku bisa," sahut Naruto sembari menatap tajam Sasuke, matanya berkilat-kilat menyeramkan. "Kuperintahkan kau agar bersikap sesuai dengan sifat aslimu, Uchiha Sasuke."
DEG
Mendadak pemuda itu teringat akan masa lalunya.
Darah…
Pisau…
'Sasuke… kenapa kau melakukan ini?'
"Itu tidak semudah yang Anda bayangkan, Tuan. Sebaiknya Anda berhati-hati dengan ucapan Anda." desis Sasuke dingin, berbahaya. Bayang-bayang masa lalu menghantuinya dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Kini giliran Naruto yang tersentak kaget. Sasuke mengancamnya? Dia- yang amat sopan selama ini-mengancamnya?
"Aku sudah berhati-hati. Sebenarnya aku benci melakukan ini, tapi kau tidak memberiku pilihan lain. Dan…" Naruto menggantungkan ucapannya, senyum kecil mengembang di bibirnya. "Kuharap kau menjalani perintah itu dengan baik." Lanjutnya dengan nada kemenangan. Dia dapat melihatnya, wajah asli Sasuke. Dan dia sudah merasa puas walau hanya melihatnya sejenak.
'Sasuke… Tolong kau turuti semua permintaan atau perintah dari Naruto, apapun itu.' Kata-kata Minato terngiang-ngiang di kepalanya. Dia tidak bisa… dia tidak bisa menuruti perintah Naruto yang melanggar prinsipnya. Tapi dia sudah menyanggupi permintaan Minato dan dia bukan orang yang suka ingkar janji.
"Baik," kata Sasuke menyanggupi. "Tapi saya mempunyai versi lain yang mungkin lebih tepat." Lanjutnya pelan. Naruto mengangkat alisnya.
"Apa?"
"Saya akan bersikap seperti yang ada minta. Tapi, saya akan tetap melayani dan melindungi Tuan, bagaimana pun sikap saya kepada Anda." Ujar nya datar, tanpa ekspresi.
"Baik."
"Dan, " sambung Sasuke. "Perintah itu hanya berlaku saat di sekolah saja."
"Ba-Apa?" seru Naruto terkejut. Perintahnya hanya berlaku di sekolah saja? Jadi begitu berada di rumah dia akan memakai topengnya lagi?
JANGAN BERCANDA!
"Kalau seperti itu sama saja bohong namanya! Lagipula ini kan, perintahku! Kenapa kau yang mengaturnya?" bentak Naruto kesal. Sasuke mendengus mencela.
"Saya sudah katakan tadi, saya telah membuat pengecualian untuk Anda. Dan kalau Anda berpikir hal yang saya lakukan itu berarti saya telah melepaskan hak saya, Anda salah besar." Ucap Sasuke super tak acuh sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Matanya menatap tajam Naruto.
Naruto terdiam. Otaknya sedang menimbang-nimbang usul Sasuke. Anak itu hanya merubah sikapnya saat di sekolah saja? Tapi apa itu tidak terlalu membingungkan? Bagaimana dia bisa menyesuaikan sikapnya yang harus berubah sewaktu-waktu? Itu kan, trelalu merepotkan. Lagipula dia sendiri bisa bingung kalau sikap Sasuke harus berubah-ubah.
Namun jika dia menolak usulnya, Sasuke sama sekali tidak akan menuruti perintahnya. Jika seperti itu, berarti dia harus… harus melihat senyumnya itu lagi?
Naruto menatap tegas mata onyx Sasuke.
"Aku terima."
.
.
.
Naruto menghela napas berat dan menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua lengannya yang terlipat. Wajahnya kuyu sekali. Kejadian tadi pagi terus menerus berkelebat dalam benaknya bagai film yang sedang berputar.
Sasuke…
Pemuda itu menurutinya. Dia melepas topengnya dan menampakkan wajah aslinya pada Naruto.
Tapi…
"AKU TIDAK MENYANGKA TERNYATA SIFAT ASLINYA BENAR-BENAR MENYEBALKAN!" teriak Naruto sambil memegang kepalanya dan membenturkan dahinya ke meja dengan brutal. Dia masih ingat betul saat sikap Sasuke begitu sopan nan patuh ketika dia masih berada di rumah, dan berubah 180 derajat begitu sesampainya di sekolah! Si Pantat Ayam itu bersikap tak acuh padanya! Wajahnya begitu datar seperti tidak ada stok ekspresi! Pandangannya juga amat mencela dan dingin! Dan dia masih dendam dengan reaksi Sasuke begitu Naruto menanyakan apakah dia sudah membuat pr Fisika atau belum!
'Bodoh.' Satu kata dari Sasuke cukup untuk membuatnya mematung.
ARGGHH!
"Uchiha Sasuke…" desis Naruto dalam geraman. Tangannya terkepal erat, berusaha menahan gejolak untuk mencabik wajah stoic itu sekarang. Dia sadar, se-menyebalkan apapun, itu adalah akibat dari perintahnya. Itulah sifat asli Sasuke, sifat dingin dan tak peduli. Karena itulah, walau dia agak kaget dengan perubahan sikap Sasuke yang begitu tiba-tiba, dia tetap harus bisa menerimanya.
Tapi…
Tetap saja dia itu amat menyebalkan!
"Kau kenapa, Naruto?" tanya Kiba takut-takut. Orang yang ditanya hanya menggeleng pelan.
"Tidak… tidak ada apa-apa…" sanggah Naruto sambil melirik Sasuke yang sedang membaca buku dengan tenang.
'Cih, sok cool sekali dia.' Batin Naruto kesal. Untuk apa dia bergaya seperti itu. Punggung yang disandarkan ke kursi… tangan kanan yang menopang dagu… dan wajahnya yang serius itu…
Gah!
"Kau tertarik padanya, Naruto?" tanya Kiba yang mengikuti arah pandang Naruto dengan seringai jahil mengembang di bibirnya.
"Lebih baik aku melompat ke jurang dan mati dengan tenang dari pada aku harus tertarik padanya." Sahut Naruto sinis.
"Benar juga. Lagipula kau kan, bukan yaoi dan-ups!" refleks Kiba mendekap mulutnya sendiri, kelepasan bicara. Kiba memang sering lupa kalau Naruto adalah perempuan karena penampilannya yang keren dan lebih-tampan-dari-laki-laki-tulen.
"Kau benar." Timpal Naruto yang rupanya tidak ambil pusing dengan mulut Kiba. Sebenarnya dia senang juga sih, kalau dianggap sebagai laki-laki bahkan oleh temannya sendiri. Tapi dengan suasana hatinya yang sekarang ini…
"Tapi walau kau bilang begitu, dia ternyata sangat popular. Anggota Sasuke FG saja sudah mencapai 300 orang." Celetuk Kiba ember.
"Huh! Mereka hanya para gadis bodoh yang tidak tahu bagaimana sikap Sasuke di rumah. Coba kalau mereka tahu, Sasuke FG konyol itu akan bubar dalam sekejap." Cela Naruto sambil meninju mejanya keras. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang dapat dilihat oleh Kiba.
"Apa? 'Rumah' katamu? Bagaimana kau tahu?" tanya Kiba cepat. Satu kalimat dari Naruto seakan mendukung kecurigaannya. Dia tahu kalau Naruto dan Sasuke selalu pulang-pergi bersama, ke kantin bersama, bahkan ke toilet pun bersama(?). Dia juga menyadari kalau Naruto dekat dengan Sasuke. Tapi dia tidak menyangka kalau…
"Kalian serumah?" tanya Kiba yang sukses membuat Naruto hampir terjengkang dari kursinya.
"A-apa katamu? Kami serumah? Mana mungkin! Hahaha…" sanggah Naruto panik sambil tertawa gugup. Ya ampun, dia keceplosan!
"Benarkah?" tanya Kiba penuh selidik. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto yang sudah berkeringat dingin saking gugupnya.
"Kau tuli, ya? Kubilang itu tidak mungkin, kan?" seru Naruto setengah berteriak. Lalu refleks dia melirik Sasuke dengan ekor matanya. Fiuh…syukurlah, pemuda itu tidak menunjukkan respon apapun.
Kiba menyipitkan matanya penuh selidik. Kenapa Naruto segugup ini?
"Hei, Sasuke!" panggil Kiba seraya meninggalkan Naruto yang langsung membeku. "Kau tinggal serumah dengan Naruto, ya?" bisiknya setelah cukup dekat dengan Sasuke yang mendongak pelan.
Sasuke menatap wajah Kiba tanpa ekspresi. Matanya memandang dingin dan menunjukkan kekerenan seorang Uchiha Sasuke.
"Hn."
"Apa maksudnya?" tanya Kiba yang tidak ngeh dengan bahasa planet Sasuke.
"Maksudnya adalah 'tidak'. Benar kan, Sasuke?" Naruto tiba-tiba telah berdiri di belakang Kiba dengan wajah horror. Matanya memelototi Sasuke yang kembali menekuni bukunya.
"Hn." Responnya tak peduli.
"Makanya kubilang apa maksudnya?" bentak Kiba tak sabar. Sebenarnya apa sih, arti dua huruf yang diucapkan anak ini?
BLARRR!
Glek!
"Sudah kukatakan kalau dia berkata 'tidak', kan? Apa perlu kugunakan cara lain untuk membuatmu mengerti?" tanya Naruto sambil melempar deathglarenya yang paling mematikan. Latar petir, kilat, dan angin topan menyertai punggungnya. Dan entah kenapa, tiba-tiba Kiba mendapat firasat bahwa dia akan menginap di rumah sakit dalam waktu dekat.
"Ba-baik. Aku mengerti." Kata Kiba gelagapan. Keringat mengucur deras dari dahinya. Lalu tanpa menunggu lama, dia langsung menjauh dari Naruto sebelum tulang lehernya patah.
Setelah Kiba pergi, Naruto menggebrak meja Sasuke dengan kesal.
"Apa susahnya kau mengatakan 'tidak'? Orang lain tidak boleh tahu kalau kita tinggal serumah!" bisiknya dengan nada mengancam.
"Aku mengatakan 'iya'." Koreksi Sasuke pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya. Naruto terbelalak kaget.
"Apa? Kurang ajar kau, Teme!" teriak Naruto dengan taring berkilauan. Kemurkaan terpancar jelas dari suaranya. 'Iya'? Dia mengatakan 'iya'? Itu sama saja dengan membongkar aib sendiri, tahu!
Pemuda itu menyeringai sinis.
"Apa kau siap untuk mencabut perintahmu sekarang?" tanya Sasuke lirih sambil menatap mata Naruto dalam-dalam. Wajah tampannya berubah menjadi dingin sekarang.
Deg.
Naruto terkesiap. Bayangan Sasuke saat di rumah dan yang sekarang berkelebatan di benaknya. Betapa wajah itu berbeda… betapa ekspresi itu begitu berbeda…
"Kalau memang inilah dirimu yang sebenarnya, aku akan menerimanya walau aku membencinya." Kata Naruto setelah terdiam beberapa saat. Wajahnya menunduk dalam dan tangannya bergetar hebat. "Kau harus menjadi dirimu sendiri, Sasuke." Katanya lagi sebelum pergi meninggalkan Sasuke yang kini melupakan bukunya.
"Tunggu." Cegat Sasuke. Dia mengejar Naruto dan mengenggam tangannya, mencegahnya untuk pergi.
"Apa?" tanya Naruto.
"Kenapa... kau melakukan semua ini?" tanya Sasuke tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Gadis itu tidak segera menjawab. Dia hanya tersenyum manis dan menatap Sasuke dengan hangat. Lalu jemarinya bergerak dan dia mengetuk dahi Sasuke dengan telunjuknya.
"Itu karena aku tidak ingin kau menderita gara-gara aku."
.
.
.
TBC
Ket:
Chinte: Jurus Tangan Cina
Nojushiho: Jurus Dua Puluh Empat Langkah
Bassai: Jurus Angin Ribut dari Benteng
Geri waza: Ilmu tentang teknik kaki
Uke waza: Ilmu pengetahuan tentang teknik menangkis dan bertahan
Tsuki waza: Ilmu pengetahuan tentang memukul
Ken: Tinju
Kime: Konsentrasi penuh dalam mengumpulkan tenaga
Gimana fic-nya? Membosankan, ya?Hiks, maafkan Rei yang gak bisa buat SasuNaru yang romantis. Soalnya otak Reihaka ntu jauuuhhhh…. banget ama hal yang begituan. Karena itu Rei mohon saran dari para readers sekalian tentang gimana buat adegan romantis, ya? Okelakalobegitu, kita bales review, yok! Hei, Sai, kemari kau dan balas reviewnya!(menyeret Sai pake pentungan)
Haru3173
Yah, memang lama update. Salahkanlah author fic ini yang lebih memilih mudik dan nagih angpao di kampungnya ketimbang nulis fic.(digampar author)
(ngelus-ngelus pipinya yang retak-?-) thanks ya, Haru, atas reviewnya. Jangan lupa pilih aku sebagai pasangan Naru dengan mengetik sms ke radio, ok!(?)
Mizukami fullbustom
Hai Mizu…
Terima kasih telah mendukungku. Ternyata kau orang berhati bersih yang bisa mengerti seleraku, ya? baiklah, aku akan berjuang demi mendapatkan hantu kecilku(HOEEKK). Terima kasih atas review dan dukungannya, Mizu temanku!
NanaMithrEe
Huh! Si Uchiha itu memang agak labil jiwanya, kadang2 OOC kadang nggak(digilas Sasuke FG). Yah, salahkan author yang membuat Sasuke jadi aneh begitu. Aku hanya pemeran utama yang dipasangkan dengan Naruto…(Rei: Kau hanya pemeran figuran gak penting yang kerjanya gak helas doang, tahu! Lagipula kenapa kau jadi OOC begini, sih?)
Arigatou gozaimasu, Nana.(dipaksa bungkuk-bungkuk ama author)
Meg chan
Hm, panjangin ceritanya? Boleh…boleh… asal bagianku diperbanyak. Apa? Sasuke cemburu padaku? Tentu saja, orang seperti dia harus cemburu pada orang sepertiku ini. Dan kau mau tahu apa yang aku lakukan untuk mendapatkan Naru? Tenang saja, aku berhasil mendapat tips dan trik cinta langsung dari Ki Joko Bodo. Aku juga membeli satu set susuk pesona, sepasang boneka voodoo, dan kumpulan teknik menyantet untuk jaga-jaga.(author:Wah, elu mau nembak ato mau jadi dukun, Sai?)
Makasih atas reviewnya selama ini ya, Meg!
uchiha cucHan clyne
Kau mendukung si pantat ayam itu, ya?(mendeathglare Cu). Padahal sudah dibuat OOC sama author ini, kau masih mendukungnya dan bukannya aku?(ngibas-ngibasin rambut-narsis mode on-)
Oh ya. terima kasih atas doa-nya ya. Lihatlah author(nunjuk author yang nangis sampe ngabisin pabrik tisu). Dia terharu banget tuh, dengan doa mu itu. Dia juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu atas reviewnya. Hah… dasar cengeng…
Kazuki NightFlame47
Kenapa banyak sekali yang mendukung anak itu? (nyekik leher Kazuki-plakk!-Sai ditabok author karena menyakiti reader)
Author bilang, Sasuke itu memang punya hubungan ama-engg… siapa namanya? Madara, ya?(nanya-nanya author) Tapi dia bilang belum kehubung aja. Sabar aja bentar lagi, nanti pasti ketahuan hubungan mereka(Sai: Eh, Sasuke ama Madara itu punya hubungan gelap ya?)
Thanks buat reviewnya…
monkey D eimi
Hah? Darknaru itu siapa sih? Hei, author, siapa lagi ini?(nanya pake toa) Kakak Naru, ya?(Author: sudah kau baca saja ini!-nyerahin kertas lecek ama Sai-) 'Suka darknaru, ya? emang Rei juga suka sama darknaru, sih. Tapi Reihaka nggak bisa musnahin naru pagi. Sayang kan, Naru…'
Woi! Apa maksudnya ini? Darknaru itu siapa? Apa hubungannya sama Naruto?(Ngejar-ngejar author) oh,(noleh ke monkey D eimi) hampir lupa. Makasih atas reviewnya, ya!(lanjut ngejar author yang ngacir ke Cina)
Yoseob
Nggak… pairingnya SaiNaru(DUAK). Kata nih author, tenang aja, ga ada NaruHina disini, kok. Yang kemaren itu cuma sebagai penyegar aja…
WOT? Muji Naru manis? HUAHAAHA…(tawa menggelegar) Sasuke si stoic itu mana mau muji begituan! Yang ada hanya aku, yang akan memuji Naruto hingga hatinya berbunga-bunga. Khukhukhu(cuih!)
Thanks for your review, Yoseob!
Nadinn
Emang makin misterius aja nih cerita… sama kayak muka author yang makin misterius(ngelirik-lirik author yang pake cadar dan digotong pake tandu) Padahal harusnya makin jelas, ini malah makin ngawur. Dasar!(author ngebawa sabit dan nusuk-nusuk mata Sai)
Thanks a lot, Nadinn…
Tsuzuka 'Aita
Bener! Gak keliatan banget humornya! Nih orang salah bikin genre kali ya? trus udah salah genre, gak buat tanda TBC atau apalah sebagai the end nya.(author:Elo ini mau ngebales review ato ngehina gue, hah?)
OKELAH, Tsuzuka. Aku harus pergi nih. Liat deh, author udah pesen bom ama Amrozi. Tapi sebelum itu makasih ya, atas reviewnya!(ngacir ke Greenland)
Mind to RnR?
