Two Sides Girl's Butler

Chapter 6: Naruto's Kindness

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXFemnaru

Rated: T

Warning: Gaje,aneh,typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai),de-el-el.

Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!

Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?

DON'T LIKE,DON'T READ!

.

.

.

Matahari baru terbit dari ufuk timur dengan diiringi kokok ayam jantan yang terdengar nyaring. Langit yang tadinya gelap perlahan mulai terang, sembari meninggalkan embun pagi yang membuat udara menjadi segar. Hari yang indah, tapi ini adalah saat dimana orang-orang yang telah tidur sepanjang malam harus bangun dan menjalani aktivitasnya.

Namun tidak untuk pria berambut aneh yang satu ini. Dia sudah bangun saat orang lain masih tidur dan bekerja bahkan sebelum ayam berkokok. Membersihkan rumah, mengelap perabotan, memeriksa ruangan, dan membuat sarapan sudah selesai dikerjakannya. Hah... menjadi seorang butler sebuah keluarga se-wah keluarga Namikaze memang bukan pekerjaan yang mudah.

Apalagi jika tuannya seperti Naruto.

Sasuke menepuk-nepukkan tangannya dengan pelan. Dia baru saja selesai menyiapkan seragam untuk Naruto hari ini. Jas hitam, kemeja putih, dasi hitam, dan celana panjang terlipat rapi diatas meja. Semuanya tertata dengan sempurna.

Nah, sekarang tinggal memeriksa keadaan Naruto.

Sasuke mengetuk pintu kamar Naruto pelan, lalu setelah ada respon dari dalam, tanpa basa-basi lagi dia langsung masuk. Yah... Naruto kan, terkena kutukan, jadi dia tidak tidur sepanjang malam karena jiwanya menghilang dan sosok dirinya yang 'seorang lagi' muncul. Wajar saja kalau dia merasa bingung dan pusing setiap kali kutukan itu lenyap pada pagi hari. Jadi Sasuke harus memeriksa Naruto setiap pagi untuk memastikan apakah dia sudah kembali seperti semula.

"Tuan baik-baik saja?" tanya Sasuke sopan setelah melihat Naruto yang acak-acakan. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Rambut jigrak, baju kusut, dan mata Naruto yang menatap Sasuke dengan bingung cukup membuat pemuda onyx itu yakin bahwa Naruto baik-baik saja.

"Ehe... i-iya." Jawab Naruto berbohong.

"Syukurlah, Tuan. Anda harus berada dalam kondisi prima hari ini."

"Kenapa?"

"Karena hari ini ada ulangan Fisika." Jawab Sasuke enteng.

BRAK!

"Aduh, Sasuke... sepertinya aku sakit. Tolong buatkan surat izinku dan catatkan soal ulangannya nanti, ya?" tiba-tiba Naruto menjatuhkan dirinya ke lantai. Tangannya memegangi kepalanya dan dia meraung-raung seperti orang kesurupan. Berakting sakit, rupanya.

"Tidak bisa. Anda tidak sakit, Tuan." Tolak Sasuke dengan sudut bibir tertarik, tersenyum sinis.

"Apanya yang tidak sakit? Aku ini menderita leukemia, stroke, bronkitis, pneumonia, dan impotensi sejak lahir tahu! Kalau tidak percaya, nih, sentuh dahiku! Panas, kan?" seru Naruto bersikeras. Lalu dia meraih tangan Sasuke dan menempelkannya ke dahinya, mencoba meyakinkan Sasuke.

SET.

"Kenapa? Panas sungguhan, ya?" tanya Naruto heran. Begitu menyentuh dahinya, Sasuke langsung menarik tangannya secepat kilat. Belum pernah Naruto melihat gerakan tangan seperti itu dan dia yakin Sasuke pasti akan sukses sebagai pencopet .

"Sebaiknya Anda bersiap-siap, Tuan. Saya akan menunggu sekitar 10 menit lagi." Ucap Sasuke sedingin es seraya membalikkan badannya, membuat Naruto yang memang notabene LoLa hanya bisa bengong melihat tingkahnya.

BLAM

"Dasar bodoh." Gumam Sasuke dengan tangan terkepal kuat. Punggungnya yang bersandar di dinding perlahan merosot. Kemudian tanpa sadar, dia menyentuh dahinya sendiri.

Flashback

"Kenapa... kenapa kau melakukan ini?" tanyanya pelan, berusaha bersikap senetral mungkin.

Dan Sasuke dapat melihat gadis yang ternyata memiliki ketegaran luar biasa ini menoleh padanya. Senyum manis terukir di bibirnya dan pandangan matanya hangat. Tidak ada rasa marah atau kesal terpancar dari mata safirnya.

Tuk.

Sasuke merasakan telunjuk Naruto menyentuh dahinya.

...

Lalu kata-kata yang meluncur dari bibir Naruto membuat hatinya terasa dingin.

"Hei, kau mengerti Sasuke? Kau mendengar apa yang kukatakan tadi, heh?" tiba-tiba saja sikap Naruto kembali seperti biasa, santai dan menyebalkan.

Sasuke tidak menjawab. Dia hanya menatap Naruto dengan pandangan dingin, sedingin hatinya sekarang ini. Kenapa... kenapa sosok pirang ini mengingatkannya pada seseorang? Seseorang yang selama ini telah dia buang jauh-jauh dari hidupnya?

Deg.

Lagi-lagi masa lalu menguasai pikirannya.

"Woi, Saskay..." panggil Naruto bandel sambil mengibas-ngibaskan tangannya di wajah Sasuke. Dia merasa aneh dengan ekspresi Sasuke yang tumben muncul. Padahal tadi wajahnya tidak ber-ekspresi sama sekali.

"..."

"..."

"..."

"Sasuke?"

Lalu, tanpa menjawab pertanyaan Naruto dan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya, tangan Sasuke yang bebas terjulur ke depan.

SET

"Kau..." gumam Sasuke sambil menyentuh pipi Naruto lembut dengan telunjuknya. Pandangan matanya kosong. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya lagi dengan telunjuk tetap menyusuri pipi gadis itu.

"A-apa?" tanya Naruto setelah loading 5 detik karena kaget dengan tingkah Sasuke. Matanya pasti berdusta! Berkhianat! Mana mungkin orang minim ekspresi seperti Sasuke dapat menatap dan berbicara selembut itu padanya? Mus-ta-hil!

"Kau Sasuke atau bukan?" tanya Naruto merinding disko begitu melihat Sasuke semakin aneh. Mendengar itu Sasuke hanya tersenyum lembut, dan itu membuat Naruto semakin bergidik. Oke, sekarang dia benar-benar takut.

Lagi-lagi Sasuke hanya diam. Jemarinya beralih menyibakkan rambut pirang yang menutupi matanya dan menyisipkan helaian rambut itu di belakang telinga Naruto.

"Sa-su-ke? Kau kerasukan, ya?" tanya Naruto ngeri dengan tingkah Sasuke, namun Sasuke tidak menggubrisnya. Matanya menatap kosong dan pandangannya hampa, membuat Naruto berpikir jangan-jangan Sasuke tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

"HEI! SADARLAH! SADARLAH, SASUKE!" bentak Naruto sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sasuke, berharap setan apapun yang merasukinya segera keluar dan mencari orang lain yang lebih pantas. Orang seperti Sasuke tidak pantas dirasuki hantu lembut seperti ini! Dia ini cocoknya dirasuki hantu psikopat atau hantu pembunuh!(?)

Dan setelah beberapa saat yang penuh guncangan, akhirnya Sasuke mulai menampakkan tanda-tanda kesadaran.

"Fiuh... syukurlah kau sudah sadar. Tadi kau itu mengerikan sekali, tahu?" ujar Naruto kepada Sasuke yang langsung melompat mundur begitu menyadari bahwa jaraknya dan Naruto amat sangat dekat.

"Kau itu kenapa sih?" tanya Naruto sewot, dan menjadi tambah sewot begitu tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sasuke. Dia hanya memandangi tangannya sendiri dengan pandangan tak percaya seakan mengatakan 'apa yang baru saja dilakukannya?'

"Kau dengar tidak? Mana rasa terima kasihmu padaku?" tuntut Naruto kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Sasuke yang lagi-lagi hanya diam.

"..."

"..."

Hening.

'Huh! Apa-apaan dia? Dasar tidak tahu diuntung! Dia selalu saja seperti itu. Padahal dia selalu saja memakai topengnya itu dan bertingkah sok keren, tapi sebenarnya dia-'

Mendadak Naruto menyadari sesuatu yang aneh pada diri Sasuke.

Tangannya...

Gemetaran...

"..."

"..."

"..."

DUK

Eh?

"Tenanglah." Ucap Naruto pelan. "Kau pikir selama ini aku ada dimana? Kan ada aku." Lanjutnya lagi dengan menghembuskan napas sesedikit mungkin. Bahaya kan, kalau Sasuke menghirup CO₂?

Mata Sasuke membesar tak percaya. Bagaimana tidak! Dahinya dan dahi Naruto saling bersentuhan, seperti orang yang memeriksa demam. Tangan kanan Naruto memegang bagian belakang kepala Sasuke dan entah sejak kapan dia mengenggam tangan kiri Naruto.

"Kau sudah merasa lebih tenang?" terdengar suara Naruto begitu dekat(ya iyalah, lihat aja jarak kalian sekecil mana). "Tapi sepertinya belum. Tanganmu masih bergetar." Tambahnya lagi seraya menatap mata Sasuke dalam-dalam.

SIINNGG

Onyx Sasuke bertemu dengan Sapphire Naruto.

"Huh. Kau tetap bodoh." Dengus Sasuke dengan nada mencela. Urat darah spontan bertonjolan di pelipis Naruto.

"APPA?" seru Naruto murka. Cepat-cepat dia menarik kepalanya dari Sasuke dan menampakkan wajah dasar-orang-tidak-tahu-terima-kasihnya. "Apa kau bilang? Bodoh, heh? Kurang ajar! Kutarik kembali kata-kataku! Aku menyesal sudah mencoba menghiburmu! Kau pikir-"

Duk.

Naruto merasa kalau dahinya membentur sesuatu(lagi). Lalu dia baru menyadari bahwa sebuah tangan seputih porselen memegang bagian belakang kepalanya dan menarik kepala pirang itu dengan cepat, membuat dahi mereka bersentuhan lagi.

"Tapi terima kasih..."

End Flashback.

.

.

.

"Aku benci Fisika..." gumam Naruto lirih. Dia baru saja mengikuti ulangan Fisika dan bisa ditebak, dia membuat masalah.

"Dan aku benci Kakashi sialan itu." tambahnya lagi dengan aura hitam yang amat pekat. Orang-orang yang berada di sekelilingnya langsung jaga jarak. Bahaya kalau dekat-dekat Naruto yang sedang murka.

"Wajar saja kan. Siapa yang suka pelajaran Fisika?" respon Kiba sambil menguap panjang.

"Benar! Lagipula aku sama sekali ti..."

"Dan tidak ada yang berteriak histeris ketika sedang menjawab soal dan menyobek kertas ulangannya sendiri di depan guru." Sambung Kiba tanpa perasaan. Dan jleb! Jantung Naruto langsung tertusuk begitu dalam. Berlubang.

"Siapa suruh dia memberi soal yang sesulit itu? Otakku yang pas-pasan ini tidak sanggup menerimanya, tahu!" bela Naruto cepat. Dia merasa kesal dihina oleh Kiba yang nyatanya cuma beda 11-12 dengannya.

"Wah, akhirnya sadar juga. Syukur deh, setidaknya kau masih punya kesadaran diri yang tinggi." Komentarnya lagi. "Lagipula, kau itu kan kurang bisa memakai otakmu. Otakmu itu sebenarnya hanya sebagai hiasan karena..."

SRAK

"Hentikan, atau mati?" ancam Naruto dengan cutter teracung di leher Kiba, nyaris menyentuh kulit pemuda itu. Wah, dari mana dia dapat cutter itu?

Kiba menelan ludah.

"Aku memilih berhenti saja. Sayang anjingku tidak ada yang urus." Elak Kiba secepat kilat. Lalu tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung memiringkan kepalanya dan berlari keluar kelas.

"Woi! Jangan kabur kau! Cih, dari dulu dia memang pandai menghindar!" gerutu Naruto setelah meneriaki Kiba yang sekarang berada entah dimana. Kedutan dan urat darah bertonjolan di dahinya, kesal.

"Hei Naruto. Jangan marah seperti itu. Nanti kecantikanmu hilang, lho." Tiba-tiba terdengar suara salah satu orang yang pernah menjadi musuhnya, Sai, dengan ringan.

"Hah? Kecantikan? Ketampanan, maksudmu?" tanya Naruto yang sama sekali tidak merasa tersanjung. Sai menghela napas.

"Iya deh. Nanti ketampananmu hilang, lho." Ralat Sai dengan memberi irama aneh pada kata 'ketampanan'.

"Apa? Masa' sih? Wah, jangan! Ketampananku tidak boleh hilang! Dimana kalian bisa menemukan ketampanan eksotis seperti ini jika ketampananku hilang? Tidakkk!" teriak Naruto lebay sambil memeriksa wajahnya dihadapan cermin yang entah dia dapat dari mana. Melihat pemandangan itu Sai hanya bisa sweatdrop. Dia kan, perempuan? Kok nggak ada senang-senangnya dibilang cantik?

"Oh, ya, Naruto. Umm... besok sore kau ada acara tidak?" tanya Sai malu-malu dengan pipi memerah. Naruto yang tadinya masih memeriksa wajahnya di cermin menatapnya penuh tanda tanya.

"Tidak. Kenapa?" Naruto menjawab singkat. Sai bergerak-gerak resah di tempatnya.

"Kalau begitu, kau mau menemaniku ke taman bermain tidak?" sambarnya dengan gugup. Mengajak Naruto jalan-jalan adalah salah satu ambisinya yang selama ini terpendam. Sebenarnya dia ingin mengajak Naruto kemarin, tapi dia merasa kalau suasana hatinya kemarin tidak begitu bagus.

"Boleh saja."

"Eh?"

"Jalan-jalan, kan? Aku tidak keberatan. Lagipula aku tidak ada kerjaan besok." Sahut Naruto sambil mengangkat bahu. Wajahnya datar-datar saja, tidak seperti gadis lain yang pasti akan tersipu atau senang kalau diajak pergi oleh orang seperti Sai. Ya, sangat datar.

"Kalau begitu, besok jam 3 sore di Konoha Land. Aku menunggumu di gerbang utama, ya!" seru Sai bersemangat. Matanya berbinar-binar dan bahunya naik turun saking bersemangatnya dia(ya ampun, nih orang OOC banget). Akhirnya... akhirnya dia berhasil mengajak Naruto!

Selamat!

"Oke." Respon Naruto pendek seraya mengacungkan jempolnya pada Sai, membuat pemuda itu serasa melayang di angkasa.

.

.

.

Hari Minggu.

Naruto menatap jam dinding. Pukul 04.45. Sekitar 15 menit lagi dia harus tiba di Konoha Land. Bergegas dia merapikan kaus putih, topi putih dan jaket hitamnya. Tak lupa dia mengenakan sepatu kets hitam bewarna senada dengan celana panjangnya dan tas sandang kecil. Lalu setelah bercermin untuk memastikan penampilannya, dia segera keluar kamar.

"Anda mau kemana, Tuan?" tanya Sasuke begitu melihat Naruto yang berpenampilan rapi. Yang ditanya cuma cengengesan.

"Aku ada janji dengan Sai ke Konoha Land. Kira-kira jam 6 baru pulang." Jawab Naruto sambil memutar gagang pintu dan langsung melesat keluar, meninggalkan Sasuke yang hanya menaikkan alisnya 2 senti.

Sementara itu...

Sai memeriksa jam tangannya lagi. Sudah lewat lima menit. Hatinya semakin tidak tenang. Kenapa Naruto belum sampai juga? Jangan-jangan sebenarnya anak itu tidak mau datang? Tapi bukannya kemarin dia sudah berjanji? Atau mungkin...

"Kecelakaan?" teriak Sai histeris dengan pandangan liar. Para pengunjung yang berada di dekatnya sampai terkaget-kaget. Tapi anak itu sama sekali tidak peduli. Sekarang dia malah mondar-mandir di depan gerbang dengan panik.

'Benar... tidak salah lagi, Naruto pasti kecelakaan! Kalau begitu, aku harus-'

"SAI! Lama menunggu?" terdengar suara Naruto memanggilnya dari arah belakang. Mendengar suara itu badan Sai refleks berbalik.

"Oh. Sama sekali tidak." Jawab Sai cool. Saking cool-nya para pengunjung yang lain sampai kagum melihat perubahan tingkah Sai. Tadi seperti orang gila sekarang sudah bertingkah seperti selebritis, belagu banget. Dasar!

"Kau sudah beli tiketnya?"tanya Naruto setelah berada di hadapan Sai. Pemuda itu mengangguk tanpa suara. "Baiklah! Ayo kita berangkat!" seru Naruto bersemangat dengan tangan meninju udara. Melihat itu Sai hanya tersenyum, karena otaknya sedang memikirkan suatu rencana.

Oke, sekarang, jalankan misi rahasia!

"Kita mau naik apa dulu?" tanya Naruto antusias. "Bagaimana dengan roller coaster? Sepertinya menarik." Tambahnya begitu melihat roller coaster melesat diatas relnya.

"Boleh juga." Respon Sai singkat. Dia sedang mencoba mengingat kembali tips dan trik kencan yang didapatnya dari majalah.

Puji wanita yang Anda incar dengan tulus. Jangan lebay dan Anda harus bisa membuatnya tersipu dengan pujian Anda.

"Ngg... Naruto. Hari ini kau tampan sekali. Topi itu cocok untukmu." Kata Sai dengan bulir besar keringat berjatuhan di kepalanya. Memuji Naruto bukanlah hal yang mudah. Dia suka dipuji jika berhubungan dengan 'laki-laki' dan benci jika dipuji dengan kata-kata yang berhubungan dengan 'perempuan'. Hanya senyum sinis yang akan dia terima jika berani mengatakan 'manis' atau 'feminin' pada Naruto.

"Be-benarkah? Terima kasih." Ucap Naruto dengan wajah merona.

"Iya. Kau terlihat keren." Puji Sai lagi.

"Duh... jangan memuji begitu, ah! Aku kan, jadi malu." Sanggah Naruto sambil terkikik gaje, membuat Sai tambah sweatdrop. A-aPa jangan-jangan Naruto ini sebenarnya reinkarnasi dari pria macho dan kekar di masa lalu? Dia kok, bisa seperti ini?

"Kalau begitu, kita naik itu sekarang?" tanya Sai sambil menunjuk roller coaster. Naruto mengangguk bersemangat.

"Ya!"

.

.

.

"Aku capek..." lirih Naruto mengeluh. Keringat bercucuran dari dahinya. Disana mereka benar-benar lupa waktu! Bermain kesana-kemari, jajan ini-itu, dan lain-lain. Karena itulah, walaupun awalnya mereka berencana pulang jam 6 sore, nyatanya mereka sekarang masih duduk-duduk di bangku taman. Padahal hari menjelang malam.

"Tapi menyenangkan, kan?" kata Sai santai.

"Benar. Kapan-kapan kita pergi lagi, ya?" ujar Naruto ceria.

Sai terperangah. Lagi? Lagi, katanya? Itu... itu berarti dia mau pergi berdua lagi dengannya?

Horeee...

"Sebaiknya kita pulang, Naruto. Sudah malam, nih." Kata Sai dengan suara tertahan, kesulitan menjaga nada suaranya agar tidak terdengar terlalu senang. Dia tidak boleh menampakkan perasaannya dulu sebelum mereka sudah benar-benar mengenal satu sama lain, kan?

"Naruto?" ulang Sai begitu melihat Naruto yang tidak juga menjawab, hanya diam sambil menatap bulan yang baru saja muncul.

"Kau kenapa, Naruto?" tanya nya khawatir. Tidak biasanya Naruto seperti ini. Dia tidak merespon dan dia sama sekali tidak bergerak.

"Naruto, apa kau sakit?" tanya Sai sambil membalik bahu Naruto perlahan, hendak memastikan apakah dia baik-baik saja. Bahaya kalau dia sakit ditempat seperti ini. Jarak dari Konoha Land cukup jauh dan Sai khawatir apakah Naruto bisa pulang nanti.

"Kau siapa?"

DEG.

Jantung Sai seperti ingin melompat keluar.

'A-apa yang terjadi?'

Kenapa dengan wajah Naruto? Wajah yang sekarang tengah dilihatnya ini begitu mencengangkan dan mengerikan, sehingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Wajah ini seperti sebuah lukisan yang dilukis oleh setan, setan yang terkikik nyaring ketika sedang melukisnya... setan yang membayangkan sebuah penderitaan yang amat dalam...

Setan yang menginginkan kematian...

"Na-Naruto?" bisik Sai lirih sambil memejamkan mata. Dia tidak kuat melihat wajah seperti itu.

"Kau siapa?" tanya Naruto datar. Matanya menatap kosong kearah Sai yang kini memandangnya heran.

Mata Sai spontan terbelalak. Kepalanya berputar cepat memandang Naruto. Apa maksud perkataannya? Kenapa dia menanyakan hal yang aneh seperti itu?

"A-apa?" ulang Sai tak percaya.

"Kau tuli," ujar Naruto dingin. "Atau kurasa kau berpura-pura tidak mendengarku." Lanjutnya datar dan tanpa intonasi. Sai tercekat mendengar kata-kata Naruto.

Tidak... dia bukan Naruto. Dia berbeda dari gadis pirang itu...

Tapi kenapa dia bisa seperti ini?

"..."

GREP!

"Apa maksud semua ini? Siapa kau sebenarnya?" bentak Sai sambil mengguncang-guncangkan bahu Naruto dengan kuat. "Apa yang terjadi pada Naruto, hah? Kenapa kau... kenapa dia jadi seperti ini?" teriaknya lagi. Rasa marah mulai menguasainya. Dia merasa marah... marah terhadap kelakuan orang ini. Dia marah pada gadis ini yang membiarkannya merasakan sakit ketika menatap wajahnya. Dia marah padanya karena baru kali ini dia merasa takut pada mata Naruto yang biasanya membuatnya merasa damai...

Bukannya merasa ngeri pada mata yang kini begitu gelap ini...

"Dimana Naruto?" bentak Sai lagi karena gadis itu hanya menatap kosong kearahnya tanpa menjawab apapun. "Siapa yang melakukan ini padanya? Kenapa dia ja-"

GREB

"Cukup," ujar Sasuke dingin. "Sudah cukup kau menyakitinya." Lanjutnya tanpa melepaskan cengkraman tangannya di leher Sai, membuat pemuda itu semakin berang. Sasuke? Apa yang dilakukannya disini? Dan sejak kapan dia datang?

"Ini bukan urusanmu." Kata Sai tak kalah dingin sambil menepis tangan Sasuke yang mencengkram lehernya. Mendengar itu Sasuke tersenyum menghina.

"Justru ini bukan urusanmu. Kau hanya orang luar, dan kau tak berhak mengetahui apapun lebih dari ini." Ultimatum Sasuke dengan pandangan mencela. Alisnya naik 1 senti dan salah satu sudut bibirnya tertarik, menciptakan sebuah wajah tampan tapi menyebalkan. Melihatnya Sai langsung naik darah.

"Memangnya kau siapa? Kau bahkan bukan teman Naruto dan kalian sering bertengkar! Jadi apa hakmu mengatakan hal itu?" seru Sai dengan emosi penuh.

Lagi-lagi sudut bibir Sasuke tertarik.

"Tuan," panggil Sasuke seraya menarik tangan Naruto. "Sebaiknya Anda menjauh dari sini, karena saya rasa situasi ini akan menganggu Anda. Saya sudah menyiapkan mobil di pintu gerbang dan Anda akan merasa nyaman disana." Katanya dengan kesopanan dan keeleganan tingkat tinggi. Wajahnya juga menyiratkan kepatuhan yang amat sangat. Gerak-geriknya teratur dan sepertinya dia sangat menghormati Naruto.

"Baiklah." Kata Naruto singkat. Lalu tanpa menoleh pada Sai maupun Sasuke, dia berjalan dengan tenang kearah gerbang, meninggalkan Sai yang hanya mematung di tempatnya.

"Kau..." ujar Sai tertahan. Matanya menatap Sasuke dengan pandangan tak percaya. Sa-Sasuke... dia...

"Benar," Sasuke mengiyakan. "Inilah hal yang membuatku berhak untuk mencampuri urusan Tuan Naruto." Lanjutnya tenang diantara hembusan angin, rambut dan kemejanya melambai-lambai.

"..."

"Itu karena aku miliknya."

.

.

.

Sasuke membuka jendela kamar Naruto dengan cepat. Semilir angin malam langsung terasa begitu jendela itu terbuka. Langit yang gelap seakan telah menjadi atap dan bulan yang bersinar terang seolah menjadi lampu bagi kamar itu. Sejak Sasuke mengetahui perihal kutukan Naruto, setiap malam dia selalu membuka jendela terbesar di kamar Naruto karena dia tahu kalau si pirang itu akan menatap bulan kala kutukannya aktif. Dia akan terus menatap bulan sepanjang malam walaupun angin membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

"Silakan, Tuan." Sasuke menarik kursi di depan jendela dan mempersilakan Naruto untuk duduk.

"..."

"Kenapa, Tuan?" tanya nya karena Naruto tak kunjung duduk. Anak itu tetap berdiri di samping jendela sambil melipat tangannya. Dia hanya menatap Sasuke dengan matanya yang kosong tanpa berpindah tempat sedikitpun.

"Apa kau mengenalnya?" tanya Naruto balik. Sasuke mengerutkan keningnya.

"Siapa?"

"Kau tahu siapa yang kumaksud." Ujar Naruto dingin sembari berjalan mendekati Sasuke. Matanya yang biru kehitaman menatap mata Sasuke dengan hampa, namun menusuk.

"Tentu saja." Ujar Sasuke menganggukkan kepala. "Anak itu, kan? Tidak, saya sama sekali tidak mengenalnya." Lanjut Sasuke sopan.

"Kalau begitu apa aku mengenalnya?" tanya Naruto lagi. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Sasuke dan itu membuat bulu roma Sasuke meremang. Ya, pancaran aura Naruto sangat gelap. Udara di sekitar mereka terasa berat, terlebih jika Naruto mengeluarkan kekuatan matanya. Udara menjadi sangat sulit untuk dihirup dan suhu menjadi terlalu dingin dari yang seharusnya.

Sasuke terdiam beberapa saat.

"Tidak." Jawabnya dengan senyuman palsunya yang menyebalkan. Dia bertekad untuk tidak mengatakan apapun pada Naruto tentang kehidupan sekolahnya, karena Naruto pasti akan melakukan hal-hal yang dapat membuat teman-temannya tahu bahwa dia terkena kutukan.

Termasuk juga dengan Sai.

Tapi sepertinya dia sudah melakukan kesalahan. Sai telah melihat Naruto 'malam'. Dia telah melihat perubahan Naruto secara langsung dan itu membuatnya cukup kaget.

"Begitu." Respon Naruto singkat, membuat Sasuke terlepas dari belenggu pikirannya.

"Kenapa semudah itu Tuan percaya?" tanya Sasuke. Seharusnya Naruto tidak percaya begitu saja, mengingat Sai sudah bertingkah begitu di depan Naruto. Tapi kena-

"Karena aku percaya padamu."

Mata Sasuke membesar.

"Terima kasih." Hanya itu yang dapat dikatakannya. Perasaannya bercampur aduk. Sebuah kalimat dari Naruto telah mengingatkannya pada masa lalunya lagi.

Ya, masa lalu yang tak akan pernah bisa dilupakannya...

"Istirahatlah. Kau pasti bekerja keras hari ini." Ucap Naruto datar. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu kini berubah menjadi lebih kaku. Urat yang bermunculan di sepanjang pipinya juga semakin banyak. Pokonya wajahnya jadi lebih mengerikan dibanding biasanya. Hm, kira-kira kenapa, ya?

"Tidak apa-apa Tuan. Saya sama sekali tidak lelah." Jawab Sasuke tak jujur. Sebenarnya dia merasa sangat lelah hari ini. Dia telah mengerjakan banyak hal dan dia belum beristirahat. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang menjadi prioritasnya adalah tentang Naruto yang telah keta-

"Jangan berbohong, Sasuke."

Mendengar itu, jantung Sasuke langsung berdegup kencang.

'Jangan berbohong, Sasuke. Aku tidak suka orang yang suka berbohong.'

"..."

Kenapa?

Kenapa Naruto selalu mengingatkannya pada sosok yang dicintainya?

'Istirahatlah, Sasuke. Nanti kau bisa pingsan. Repot, kan, kalau kau harus digendong?'

DUK

"Kau mau beristirahat disini?" tanya Naruto datar. Matanya memandangi kepala Sasuke yang terkulai di bahunya. Sasuke yang awalnya hanya berdiri diam kini meletakkan kepalanya di bahu Naruto yang berada di hadapannya. Dia tidak tahu kenapa dia melakukannya, tapi entah kenapa mendadak dia merasa lelah sekali.

"Apa boleh buat. Mungkin saya sedikit lelah." Jawab Sasuke dengan lirih.

'Bagaimana? Enak beristirahat disana?'

"Ya. Nyaman sekali..." gumam Sasuke seraya menutup matanya pelan.

.

.

.

Bocoran chap depan(sebagai permintaan maaf karena update lama)

"Apa katamu?" Tanya Sai terperangah. Matanya langsung membelalak tak percaya begitu mendengar penuturan Sasuke.

"Kau sudah mendengarku," sahut Sasuke dingin. "Dia dikutuk dan kau tidak akan bisa memilikinya."

To Be Continued

Nyahahaha...(ketawa nista). Akhirnya di publish juga fic ini. Fiuhh... leganya, kira gak selesai karena di sekolah Rei lagi musim ulangan, nih! Mana nilai fisikanya bobrok banget lagi! Jadi para readers jangan marah ya, kalau telat updatenya. Ook, ga usah banyak bacot lagi. Let's we reply the reviews!(nyerahin mike ke Sai yang ogah-ogahan)

NanaMithrEe

Maaf, Nana… Aku tidak bisa menggunakan kekuatan alam maha agungku ini kalau bukan untuk Naru-chan…(dibanting Naruto karena dipanggil chan). Tapi thanks karena dah mau review dan lebih memilih Naruto dari pada Pantat Ayam bego itu…(ngelirik Sasuke sirik)

Meg chan

Hm, caramu mengatakan 'kata-kata terakhir' itu kayak Naruto dah mau mati, deh.(plak!)

Ya, meg chan(sok kul). Aku memang mau PDKT dengannya. Kenapa? Kau cemburu? Wah, tidak bisa…(niru gaya Sule)

(Sai dibekap author pake guling karena banyak bacot)

(author ngerebut mike dari sai.) sori kalo balasan reviewnya norak, Meg. Maklum, orangnya norak and kampungan abis. Dan maafin Rei kalo apdetnya telat. Lain kali Rei akan usahain untuk lebih cepat. Makasih atas reviewnya ya!

uchiha cucHan clyne

Hei, Cu, nih author bilang, dia minta maaf kalo apdetnya lama. Banyak ulangan katanya…(ngelirik author yang jedut-jedutin kepala ke tembok).

WOT? Walau se-nyebelin itu kau masih suka padanya? Wah, si Sasuke itu pasti pake susuk! Atau mungkin kau yang disantet! Jadi kau tidak perlu menyukainya lagi dan pilihlah aku! Pilihlah aku!(tereak-tereak kayak mau kampanye). Lagipula dia itu-(berhenti mendadak begitu ngeliat author)

Eng… arigatou untuk reviewnya, Cu. Aku harus pergi nih!(author lagi gali lobang buat ngubur sai)

Kazuki NightNatsu

Hei, Kazuki, ganti nama, ya?(basa-basi karena rada takut ama ancaman Kazuki)

En ngomong-ngomong soal gimana cara nembak naru, mana mungkin lah, aku bilang kayak gitu sama dia! Palingan aku bilang gini:

Naruto… aku menyukaimu pada saat pandangan(tendangan) pertama. Sosokmu yang polos (macho), jujur (kekar), dan ramah(sangar) itu begitu menarik perhatianku. Maukah kau menjadi kekasih(instruktur senam)ku?

WOI! Author! Ngapain kau buat tanda kurung begitu? Kau mau mempermainkanku, hah?(nyiapin gergaji mesin untuk memutilasi author)

Author: makasih reviewnya, Kazuki! Dan aku akan lebih berterima kasih jika kau mau menolongku! WAA!(ketangkep ama Sai waktu lari sampe Bunaken)

CCloveRuki

Ya… ya…ya… Naru memang keren…(angguk-angguk) dia pantas denganku,kan? Sama-sama orang keren juga…(narsis mode on)

Ok, thanks untuk reviewnya dan baca terus, ya!(melambai-lambaikan tangan gaje)

kyu's neli-chan

huh, dia emang bego, sampe terpana gitu. Mana waktu terpana gitu ilernya nongol lagi(fitnah). Dan soal beladiri itu, nih kan di Jepang, jadi silat mana ada. Merpati juga nggak. Btw, memangnya kau ikut silat? (nanya-nanya sok akrab)

(author:Woi! Ga usah SKSD loe! Dia kan reader gue! Jangan loe sikat juga!)

(ngakak)Arigatou gozaimasu, kyu'!

schiffer gray

ka-kakak? Memangnya umurmu berapa? Dia ini masih SMA, loh.(nunjuk author yang berlagak jadi siswa teladan). Trus dia minta maaf kalo chap ini telat, karena ulangannya bertumpuk dan dia dapet nilai merah 3 pelajaran sekaligus! HUAHAHA!(tawa puas)

Makasih atas reviewnya, schiffer!

Yoseob

APA? Sebenarnya apa yang kau suka dari dia? Udah jelek, sok kul, narsis, ga da ekspresi, pantat ayam, lagi? Apa bagusnya orang macam dia? Pokoknya gak boleh kalo Naru sama dia! Dan gak ada cinta-cintaan! Titik!(treak-treak ga tau diri)

(author:hei, kan aku authornya! Apa urusanmu?)

Hiks,(dimarahin author). Walaupun gitu, thanks untuk reviewnya, Yoseob!(hikzs)

Tsuzuka 'Aita

Seru ya, ceritanya? Pasti karena ada aku, kan?(nunjuk-nunjuk diri sendiri dengan noraknya)

Eits, fic ini ga boleh selesai sebelum aku jadian ama Naruto dan Sasuke mati di kolong jembatan(smirk)

Kata author, gak papa walau telat review. Tsuzuka mau baca aja dia udah senag kok!(nunjuk author yang nangis terharu)

Makasih banyak, Tsuzuka!