My Beauty Rider
.
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong
Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Genre : YAOI/Shonen-ai
Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost ya readers. Dulu ini adalah FF pertama saya didunia perFFan.
.
.
.
Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai
.
.
DOUZO
···
Chap 2
···
Rintik hujan jatuh membasahi jalanan kota seoul malam ini. Menciptakan genangan air dibeberapa sudut jalan. Matahari sudah turun kembali keperaduannya, perlahan berganti dengan pekatnya malam. Dibawah guyuran hujan, seorang namja tengah terduduk lemah disalah satu pohon rindang yang banyak tumbuh di sepanjang kota Seoul. Wajah putihnya tertunduk menatap tanah yang basah. Pakaiannya pun sudah basah menampakkan lekuk tubuhnya. Bibir merah cherrynya terlihat menggigil menahan dingin.
"Jae hyung." seorang berteriak memanggil namja itu. Dengan langkah cepat Junsu-nama namja itu-menghampiri Jaejoong-orang yang tengah terduduk lemah dibawah pohon itu.
"Jae hyung, kenapa kau ada disini?" nampak wajah cemas Junsu.
"..."
"Ayo, kita pulang saja. Lihat badan mu sudah basah dan lagi-" Junsu menghentikan kalimatnya, "Omo, hyung! Bangun hyung, Jae hyung!"
Junsu terpekik melihat Jaejoong tiba-tiba pingsan. Segera diangkat hyungnya itu menuju mobilnya.
.
Junsu POV
Menyebalkan! Hujan begini aku disuruh membeli bahan makanan oleh eomma. Ku edarkan pandangan ku menyusuri jalanan Seoul hari ini, tak banyak orang berlalu lalang disini, kurasa meraka enggan keluar rumah karena cuaca yang tak menentu.
"Lebih nyaman kalau diam dirumah! Huh, eomma menyusahkanku saja!"
Kubelokkan mobilku menuju jalan yang harus kulalui, nampak pohon-pohon besar mendominasi jalanan ini. Rasanya pasti nyaman kalau berteduh dibawah sana, seandainya hari ini tidak hujan, aku yakin pasti banyak orang disana. Sesaat mataku menangkap bayangan orang terduduk disalah satu pohon. Namun mustahil rasanya ada orang yang berteduh disana. Mengingat hari ini hujan turun cukup deras.
"Orang aneh! Memangnya ia tak merasa kedinginan diam disana!"
Kutatap lagi orang itu, sepertinya aku mengenalnya. Karena rasa penasaranku yang tinggi, kubelokkan mobilku hingga bisa melihat wajah orang itu,
"Omo!"aku terpekik kaget saat kulihat wajah orang itu. Jaejoong hyung! Kenapa ia ada disini! Tanpa pikir panjang aku turun dan menerobos hujan.
"Jae hyung." teriakku kencang, berharap ia mendengar dan merespon teriakanku. Namun wajahnya tetap menunduk, perasaanku mulai tak tenang.
"Jae hyung, kenapa kau ada disini?" kembali aku bertanya saat aku sudah didekatnya. Namun lagi-lagi ia tak menjawab.
"Ayo kita pulang saja. Lihat badan mu sudah basah dan lagi-" aku tersentak melihat Jae hyung pingsan saat kubalikkan badannya. "Omo, hyung! Bangun hyung, Jae hyung!"
Tanpa pikir panjang, segera kuangkat tubuh Jae hyung. Memasukkannya ke mobil lalu bergegas membawanya ke rumahku.
Junsu POV end
.
Jaejoong tertidur lemah di kasur Junsu. Mata hitam yang biasanya menatap tajam saat balapan, kini tertutup rapat. Junsu terlihat duduk sambil sesekali mengganti kompres di dahi Jaejoong.
"Kenapa ia belum bangun juga." Junsu sangat cemas melihat keadaan hyungnya seperti itu.
"Emm."
"Hyung, kau sudar sadar hyung?"
"Su-ie, dimana ini? Akh, kepalaku." Jaejoong terbangun dan memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Kau dirumahku hyung. Tadi aku menemukanmu di bawah pohon. Istirahatlah, eomma sedang membuatkanmu bubur."
"..."
"Su-ie, ini bubur untuk Joong-ie. Ah, kau sudah bangun rupanya. Makanlah, eomma sudah membuatkannya untukmu. Setelah itu kau minum obat, agar kau cepat sembuh. Arraseo?"
Jaejoong hanya mengangguk lemah.
"Nah Su-ie, kau suapi hyung mu eoh!"
"Ne eomma. Ayo hyung, makan dulu."
.
Jaejoong POV
Aku terbangun ditempat yang asing bagiku. Perlahan kubuka mata dan kulihat Junsu duduk disebelahku.
"Su-ie, dimana ini? Akh, kepalaku." kepalaku terasa sakit.
Aku tak mendengar jelas apa yang Junsu katakan, kepalaku masih sangat pusing untuk mendengar suara-suara. Kulihat Kim ahjumma membawa nampan yang kuyakin berisi bubur. Mereka mulai berbicara, tapi aku sama sekali tak bisa mendengarkannya. Aku hanya mengangguk saat tatapan Kim ahjumma beralih padaku. Samar-samar kini aku bisa mendengar suara mereka.
"Nah Su-ie, kau suapi hyungmu eoh!"
"Ne eomma. Ayo hyung, makan dulu."
Aku merasa sangat nyaman bila berada dirumah Junsu. Keluarganya sangat harmonis dan terlebih lagi kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Tiap kali aku berkunjung kesini, aku sangat senang. Karena Kim ahjumma selalu memperhatikaku. Dia tak pernah menganggapku ini hanya sebagai teman anaknya. Dia selalu menganggapku sebagai anaknya juga. Karena aku tak pernah lagi bisa merasakan kasih sayang seorang eomma, mungkin karena itu aku jadi bisa dekat dengannya.
Yah, eomma ku bunuh diri tepat dihadapanku. Saat itu ku lihat appa dan eomma tengah bertengkar hebat. Saat itu aku masih duduk di kelas 2 Junior High School.
.
Flash back
Prang
Suara benda pecah terdengar dari ruang tengah. Disusul dengan suara makian dan pertengkaran hebat. Aku tengah mandi saat kudengar suara ribut dibawah, segera setelah selesai mandi, aku turun mencari tahu ada keributan apa. Sesampainya aku diruang tengah, aku bersembunyi di balik tembok dan mengawasi kedua orang tuaku yang ternyata tengah bertengkar hebat disana.
"Dengarkan aku Chae Rim, itu tidak seperti yang kau lihat. Aku dan Minna-ssi sedang membicarakan proyek yang akan dibangun. Hanya saja saat itu ada serangga hinggap dibaju Minna-ssi, sehingga ia terkejut dan spontan memelukku, lalu kau datang disaat yang tidak tepat itu. Akhirnya-"
"Diam! Kalau kau memang ingin bersama dengannya katakan saja."
"Bukan begitu yeobo, dengarkan ak-"
Brakkk
Kali ini meja kayu yang menjadi sasaran eommaku. Meja itu patah setelah eommaku melemparnya.
"Kau brengsek!" umpat eomma ku, segera setelahnya kulihat eomma berlari menuju dapur dan menyambar pisau. Diacungkannya pisau itu pada appa.
"Dengarkan aku Kim Tae Shik, aku memang sangat mencintaimu, tapi bila kau memang sudah tak mencintaiku lagi dan memilih yeoja muda itu, lebih baik aku pergi dari dunia ini."
Kontan aku dan juga appa sangat terkejut mendengar perkataan eomma. Tapi aku berusaha tenang dan terus mendengarkan mereka.
"Ap, apa yang kau katakan yeobo. Kau, kau tak boleh melakukan itu. Ini hanya kesalah pahaman."
"Hentikan! Aku selama ini sudah cukup bersabar, tapi kali ini aku sudah tidak tahan. Aku lebih mempercayai apa yang aku lihat. Kau!" tunjuk eomma ku pada appa, "Dengar! Sekarang bersenang-senanglah dengan kekasih barumu dan biarkan aku pergi."
"Ani, kau tak boleh. Ingatlah Joongie kita yeobo," kulihat appa berusaha untuk mencegah eomma, tangan appa tengah meggenggam tangan eomma yang memegang pisau.
"Lepaskan aku! Bukankah kau akan senang bila aku tak ada lagi eoh? Kau bisa bersenang-sengang dengan kekasihmu itu! Lepaskan aku, kau!" eomma menendang kaki appa, dan kulihat appa merintih kesakitan. Tak cukup sampai disana, eomma lalu menendang selangkangan appa yang menyebabkan appa tersungkur kebelakang.
"Bersenang-senanglah!"
Clebbbb
"Yeobo, andwaeee!"
"Eommmaaaaaaa..."
Flash back end
.
"Hyung, apa yang kau lakukan tadi disana?" pertanyaan dari Junsu menyadarkannku dari kenangan buruk masa laluku.
Entah kenapa, aku sangat sayang pada Junsu. Walaupun kami sama sekali tak memiliki hubungan darah, tapi kami sangat saling menyayangi. Aku serasa memiliki keluarga lagi setelah bertemu dengannya. Setelah eomma ku meninggal dulu, aku sama sekali tak mempunyai teman. Karena aku menutup diri dari semua orang. Hanya dia yang berani mendekatiku dan mengajakku bermain. Walau aku sudah cuek terhadapnya tapi tetap saja ia mendekatiku.
"Ani, aku hanya ingin keluar dari rumah. Tak kusangka hujan akan turun, dan aku lupa memasukkan jas hujanku."
"Aigoo hyung. Kalau aku tak melihatmu, kau bisa mati kedinginan hyung!" Junsu terlihat begitu mencemaskanku.
"Ne Su-ie, gomawo yo!" aku tersenyum berusaha terlihat sehat dimatanya.
"Ne hyung! Kau harus tetap sehat! Aku sangat menyayangimu. Kau sudah seperti hyung ku sendiri." kulihat air mata Junsu sudah mengenang dimatanya.
"Aiss Su-ie, kenapa kau jadi cengeng begini. Lihatlah, sekarang aku sudah sehat eoh! Berkat kau dan juga Kim ahjumma!"
"Panggil dia eomma juga hyung, kau tahu dia sudah menganggapmu anaknya juga!"
Aku tahu itu Su-ie, tapi aku sama sekali tak bisa mengucapkan kata-kata eomma. Sejak aku melihat eomma ku bunuh diri didepan mataku, aku menjadi trauma dan sejak itu aku tak bisa mengucapkan eomma pada orang lain.
"Kau tahu hyung, aku sangat takut saat melihatmu pingsan tadi. Aku takut terjadi apa-apa padamu. Untunglah kau hanya demam karna kehujanan."
"Mian Su-ie, aku membuatmu khawatir. Sekarang kau tak perlu sedih lagi, aku sudah sehat! Ne?"
Kulihat senyum mulai terlihat diwajah Junsu. "Aa, aku masih lapar Su-ie." kubuka mulutku untuk membuatnya ceria lagi.
"Haha, kau hyung. Bagaimana rasa bubur ini?"
"Hemm, lumayan. Tapi jauh lebih enak bubur buatanku."
"Yaa, hyung. Akan kulaporkan eomma ne, kau membandingkannya dengan masakanmu. Eomma, eomma."
Junsu mulai berteriak, tapi kutahu ia hanya bercanda. Dan berikutnya, kami tertawa bersama.
Jaejoong POV end.
.
Junsu POV
Kami tertawa bersama saat kami mulai bercanda. Aku sangat menyayangi hyungku ini. Walau aku dan dia tak ada hubungan apapun. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku sangat ingin mengenalnya lebih jauh. Waktu itu tak ada seorangpun yang berani berteman dengannya, karena ia selalu menutup diri dari semua orang. Kudengar, karna ia baru saja kehilangan eommanya. Jadi kurasa wajar saja ia tertutup. Pasti ia sangat merasa kehilangan.
Suatu hari aku melihatnya duduk sendiri dibangku taman, langsung saja aku menghampirinya dan mengajaknya bicara. Namun apa yang aku dapat, ia memandangku dengan tatapan dingin dan tak ada senyum sama sekali. Namun, seorang Kim Junsu tak akan gentar. Tiap pagi aku selalu menghampiri dan mengajaknya bicara, walaupun aku tahu ia tak akan merespon setiap ucapanku. Tapi aku terus saja bercerita padanya, sampai suatu hari aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
.
Flash back
"Hei Kim Jaejoong, aku Kim Junsu. Marga kita sama, mungkin saja aku adalah saudaramu eoh!"
"..." diam tak ada jawaban dari Jaejoong.
"Ku dengar kau sangat pandai balapan motor, jinja eoh? Aku sungguh ingin melihat langsung balapan liar yang sering diadakan disini."
"..." diam, lagi-lagi tak ada jawaban darinya.
"Yaa, Kim Jaejoong. Apa kau tuli eoh?"
"..."
"Cih, kau benar-benar menyebalkan! Kau tahu, kenapa aku setiap hari datang dan selalu mendekatimu? Aku ingin menjadi temanmu. Aku tahu sejak kau kehilangan eommamu kau jadi pendiam dan pemurung. Padahal awalnya kau adalah siswa yang sangat ramah, aku ingin melihatmu seperti dulu Jaejoong. Walaupun sekarang kau merasa kehilangan semuanya, bukan berarti kau juga harus menghilangkan dirimu juga! Kau masih bisa mencari teman untuk membagi kesusahanmu, dan kau bisa mengandalkanku!"
Jaejoong menoleh. Nampaknya usahaku membuahkan hasil.
"Apa kau serius ingin menjadi temanku?"
"Ne," kuanggukkan kepalaku yakin.
"Baiklah, kalau begitu kau harus mengikuti caraku menikmati hidup!"
Sejak saat itu, aku mulai mengikutinya balapan liar, walau aku tak ikut untuk balapan. Aku hanya menonton, dan ia pun tak pernah memintaku untuk ikut bergabung. Hingga sekarang aku berteman akrab dengannya.
Flash back end
.
"Hyung, apa kau masih ingin menantang Jung Yunho itu?"
"Ne tentu, aku penasaran pada kemampuannya. Bagaimana kalau malam ini kita datang menantangnya?"
"Yaa hyung. Kau masih sakit. Aku tak akan membiarkanmu pergi. Setelah kau sembuh kau bebas melakukan apapun."
"Yaa, kau Kim Junsu! Sudah berani menceramahiku eoh?"
"Ani, aku hanya tidak ingin melihat hyung sakit. Sudahlah, kali ini hyung menurut apa kata ku ne!"
"Akh, baiklah. Aku mengalah. Lagipula, aku juga ingin istirahat."
"Baguslah. Aku turun sebentar ne, mencuci mangkok ini dulu. Hyung istirahatlah."
"Ne Su-ie, Kamshahamnida,"
Junsu POV end
Keesokan harinya
Jaejoong sudah bersiap menaiki motornya. Dibelakangnya Junsu sudah naik bersiap mengikuti hyungnya itu. Pekatnya malam tak menghalangi niat Jaejoong untuk pergi menantang Yunho. Rasa penasaran akan kehebatan Yunho membuatnya melupakan sedikit dingin yang menerpa tubuh kecilnya.
"Su-ie, kau yakin mereka ada disana sekarang?" Jaejoong agak berteriak karena helm yang menutupi sebagian wajahya.
"Ne hyung. Aku mengenal Yoochun, anak buah Yunho. Jadi ia tak mungkin berbohong padaku."
"Baiklah."
Jaejoong memacu motornya lagi, seakan tak sabar ingin melihat kemampuan namja yang katanya tak terkalahkan itu. Tak berapa lama mereka tiba disalah satu kawasan yang memang tempat untuk mengadakan balapan liar. Suara bising motor yang dipacu memekakkan telinga. Sayup-sayup terdengar teriakan orang-orang menyebutkan jagoannya masing-masing.
Disatu sudut, tampak Yoochun dan Changmin tengah tersenyum girang melihat hyung mereka lagi-lagi berhasil mengalahkan penantangnya.
"Yaa hyung. Daebak! Lagi-lagi kau menang!"
"Kita akan berpesta malam ini. Kau menang banyak kan hyung!"
"Yaa Minie, kenapa kau selalu memikirkan pesta eoh!" protes Yoochun.
"Baiklah, ayo kita pergi berpesta. Merayakan kemenanganku ini! Kajja!"
Belum sempat Yunho melangkahkan kaki, seorang namja memanggilnya.
"Yunho-ssi, ada yang ingin menantangmu lagi."
"Aigoo, apa yang dipikirkan orang itu. Berani menantang Yunho hyung lagi. Memangnya dia tak lihat, Yunho hyung tadi sudah menang dua kali." Changmin protes karena acara makan-makannya tertunda.
"Siapa dia? Apa dia orang baru?" Yoochun menimpali.
"Ani, dia sudah sering ikut balapan, tapi ditempat lain. Dia lumayan terkenal didaerahnya, dia sering menang dan kemampuannya tak bisa dianggap remeh. Jadi kurasa, dia lawan yang sebanding denganmu Yunho-ssi."
"Baiklah, aku terima tantangannya. Chunie, minie, tunggu sebentar lagi ne!"
Changmin hanya bisa menurut perkataan hyungnya itu. Walapun sebenarnya ia kesal.
.
.
Jaejoong dan Yunho sudah bersiap ditempat masing-masing. Keduanya sudah bersiap di atas motor. Jaejoong menghidupkan motornya dan berbicara dengan Junsu. Disampingnya, Yunho kembali mengulang kebiasaannya sebelum melakukan balapan. Menatap lurus kearah jalan dan merentangkan kedua tangannya. Jaejoong heran melihat tingkah lawannya itu, ditatapnya Yunho.
Yunho sedikit terusik saat dirasakannya Jaejoong menatap dirinya. Perasaanya tak tenang dan aura buruk tiba-tiba menyergapnya. Perasaan yang tak pernah dirasakannya saat bertanding melawan penantangnya yang lain. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ia memalingkan wajahnya untuk menatap wajah penantangnya, namun sayang hanya mata hitam Jaejoong yang dapat dilihatnya. Sesaat, Yunho merasakan jantungnya berdegup kencang saat matanya dan mata lawannya bertemu, hal yang sama sekali tak pernah dirasakannya. Terlebih lagi mata hitam itu menatapnya dengan tenang, tanpa emosi seperti lawan-lawannya yang lain. Yunho bisa merasakan itu.
.
Yunho POV
Deg.
Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa aura buruk tengah menyelimutiku. Dan kenapa tatapan mata orang ini serasa menusukku. Walau tatapan matanya tenang dan tak ada emosi besar didalamnya, tapi aku yakin dibalik itu ada keinginan besar yang tak terjangkau olehku. Kenapa denganku sebenarnya!
Kurasakan keringat dingin membasahi wajahku. Tatapan mata itu, seakan menelanjangiku dan mengatakan kalau aku akan merasakan apa itu kekalahan. Aku tak dapat melihat wajahnya, karna sebagian helm menutupi wajahnya. Kupalingkan wajahku dari tatapan matanya. Berharap apa yang aku rasakan tadi hanya ilusi. Segera kupakai helm ku dan menghidupkan motorku.
Kulihat seorang yeoja sudah maju sambil mengenggam sapu tangan ditangannya, dan ku tahu pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Baiklah, kusingkirkan semua perasaan tak tenangku. Dan bersiap bertanding. Aku akan tunjukkan, siapa penguasa di sini.
Yunho POV end
.
Pertandingan segera dimulai, seorang yeoja sudah bersiap didepan, memainkan sapu tangan merahnya. Hitungan mundurpun dimulai,
"Ready? Three, two, one!"
Doorr
Bunyi tembakan terdengar bersamaan dengan yeoja itu menjatuhkan sapu tangannya. Menandakan pertandingan sudah dimulai. Pertandingan antara dua orang yang sama-sama tak terkalahkan, dan memiliki ambisi yang berbeda.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Waa, ternyata respondnya nggak sebaik yang aku pikirkan :( apakah kalian semua sudah pernah membacanya atau bagaimana?
Saya jadi bingung sendiri mau melanjutkan repost atau nggak.. Tapi karna sudah kadung repost, ya ada baiknya saya lanjutkan saya ya.. mudah-mudahan setelah ini respondnya semakin membaik.
Saya sempet kecewa karna respondnya buruk, membuat saya down dan merasa bersalah, tapi yoosudahlah,, mungkin kalian semua memang sudah pernah membacanya.#bepositifethink
Ja, ini dia chap 2. Chap selanjutnya mungkin akan saya publish lusa. Review ne~~
