My Beauty Rider

.

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin

Genre : YAOI/Shonen-ai

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Dan ini adalah FF pertama saya di dalam dunia perFFan.

.

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai

.

.

DOUZO

···

Chap 3

···

Deru mesin membelah kesunyian malam disalah satu sudut kota Seoul. Nampak dua orang namja tengah serius memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Mereka tak menghiraukan angin dingin yang menerpa tubuh mereka. Hanya satu tekad yang ada dipikiran mereka, memenangkan pertandingan ini. Jung Yunho, salah satu namja yang mengikuti balapan kali ini, nampak serius memandang jalanan. Berharap rasa gelisah yang tadi sempat dirasakannya hilang. Keringat dingin nampak sedikit membasahi wajahnya. Kembali dirasakannya perasaan gelisah yang tadi menghantuinya. Jantungnya berdetak lebih cepat.

.

Yunho POV

Kurasakan keringat dingin membasahi wajahku. Deg deg deg, kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada apa sebenarnya denganku. Kenapa aku tak bisa merasakan apa yang tengah dipikirkan orang ini. Aku tak tahu kenapa, aku tak seperti aku yang biasanya. Kulirik namja yang menjadi lawanku kali ini.

Deg

Sekilas, hanya sekilas. Dia menatapku juga. Dan aku tak tahu kenapa, jantungku malah berdetak lebih cepat. Saat kulihat matanya yang nyalang melihat sekilas kearahku, pikiranku seakan berhenti. Dan aku tak bisa merasakan apapun. Aku harus menormalkan detak jantungku yang berdetak tak sesuai dengan perintahku.

"Cih!" makiku pada diri sendiri.

Aku harus berkonsentrasi untuk bisa memenangkan balapan kali ini. Aku tak peduli keringat yang sekarang sudah membasahi bajuku, pikiranku hanya satu. Memenangkan balapan ini, dan menunjukkan pada lawanku bahwa akulah raja disini. Aku yang berkuasa.

Yunho POV end

.

Pertandingan semakin ketat, keduanya tak mau mengalah. Nampak Yunho memacu motornya lebih kencang, seperti kebiasaannya sesaat sebelum mencapai garis finis. Senyum sinis tersungging diwajahnya, yakin kalau dirinya akan menang.

"Chunie hyung, ternyata benar lawan Yunho hyung kali ini tak bisa dipandang sebelah mata. Lihatlah, dari tadi tak sekalipun ia tertinggal jauh dari Yunho hyung. Dia menempel terus pada Yunho hyung."

"Ne Minie, akupun berfikir begitu. Yakinlah pada Yunho hyung, ia pasti bisa menang!"

"Ne hyung."

Pertandingan semakin panas. Keduanya semakin dekat dengan garis finish. Yunho semakin kencang memacu motornya, tak mau kalah Jaejoongpun memacu motornya dan mengejar Yunho. Tinggal sedikit lagi mereka mencapai garis finish. Tak seperti biasanya, Yunho sama sekali tak merasakan kehadiran kekuatan tak kasat mata yang selama ini sering membantunya memenangkan balapan.

"Cih, ada apa denganku." Yunho nampak frustasi dengan keadaan. Biasanya ia hanya perlu memacu motornya memcapai batas maksimum, dan iapun akan memenangkan balapan dengan bantuan kekuatan itu, tapi kali ini berbeda. Ia sama sekali tak bisa merasakan kehadiran kekuatan itu. Semakin dekat dengan garis finish, Yunho semakin gelisah. Dilihatnya lawannya semakin dekat dengannya, ia kehilangan konsentrasi, saat dilihatnya mata nyalang lawannya terarah padanya.

Deg

Lagi-lagi jantungnya berdetak kencang. Pikirannya kosong dan ia kehilangan keseimbangan. Kesempatan itu dimanfaatkan Jaejoong untuk memacu motornya. Meninggalkan Yunho yang hampir menabrak pembatas jalan. Semakin dekat dengan garis finish, Jaejoong kian memacu motornya.

Priittt

Sorak-sorai menyambut Jaejoong digaris finis. Semua orang tak mengira bahwa seorang Jung Yunho bisa dikalahkan dengan orang baru yang sama sekali tak pernah mereka ketahui.

"Yaa, Jae hyung, chukae. Chukae." Junsu langsung menghambur kearah Jaejoong. Dipeluknya hyung kesayangannya itu.

Jaejoong hanya tersenyum dibalik helm yang menutupi wajahnya. Matanya menatap tajam pada Yunho. Seringai muncul diwajahnya.

"Yaa hyung, gwencana?" Yoochun segera menghampiri Yunho.

"Hyung, kau kau kalah?" tanya Changmin tak percaya.

"Cih, kenapa aku bisa kalah darinya." Yunho memaki dirinya sendiri. Wajahnya diliputi amarah, dan kesal. Dilihatnya lawannya tengah merayakan kemenangannya.

Deg

Sesaat, mata mereka bertemu. Dan lagi-lagi jantung Yunho berdetak lebih kencang.

"Damn!" makinya.

"Hyung, gwencana? Ayo kita pergi dari sini." Yoochun segera menarik tangan Yunho untuk menjauh dari arena pertandingan.

"Sebentar Chunie, aku ingin melihat wajah namja yang mengalahkanku itu." Yunho segera berjalan mendekati Jaejoong.

"Kyaa hyung, kau hebat. Daebak! Kau bisa mengalahkan namja terkuat disini."

Jaejoong tersenyum sambil melepas helmnya. Menampakkan wajah putihnya. Yunho yang tengah berjalan kearahnya pun langsung terpaku. Matanya terbelalak menatap Jaejoong.

"Dia, seorang yeoja?" Yunho tak percaya orang yang mengalahkannya adalah seorang yeoja. Wajahnya semakin kesal dan tanpa terasa tangannya mengepal. Segera ia berbalik menuju kedua dongsaengnya.

Sementara Jaejoong melihat kepergian lawannya itu dengan tatapan tajam. Matanya tak pernah lepas dari Yunho, sampai namja itu menghilang dengan motornya.

"Ya Kim Jaejoog. Ternyata kau bisa mengalahkan seorang Jung Yunho yang tak terkalahkan disini. Dan ini, hadiah atas kemenanganmu."

Jaejoong menangkap amplop coklat hadiahnya untuk kali ini. Isinya lumayan berat.

"Khamsa." teriaknya karna orang itu sudah pergi.

"Ne Su-ie, ayo kita rayakan kemenangan ku ini. Kajja." keduanyapun bergegas pergi menuju mirotic pub langganan mereka.

Mirotic pub

Suasana hati Yunho yang sedang kacau membuatnya memilih minum-minum di pub. Tangannya tak berhenti mengambil gelas-gelas kecil berisi vodka. Wajahnya sudah merah karna kebanyakan minum. Yoochun dan Changmin tak bisa berbuat apa, karna mereka tahu kalau Yunho tengah kesal.

"Chunie hyung, kenapa Yunho hyung bisa kalah ne? Apa karna lawannya itu memang hebat?"

"Aku juga tak tahu Minie." jawab Yoochun sambil menenggak minumannya.

"Hyung, gwencana? Kau sudah terlalu banyak minum." kini Changmin beralih memandang Yunho. Yunho nampak tak menghiraukan dongsaengnya itu. Ia masih saja sibuk menghabiskan minumannya.

"Yah, kenapa kau tak menjawabku hyung." Changmin nampak kesal diacuhkan oleh Yunho.

"Sudahlah Minie, Yunho hyung tengah kesal. Bisa-bisa kau didampratnya jika banyak bertanya."

Changmin mempoutkan bibirnya kesal. Dilahapnya makanan yang tersaji dihadapannya dengan cepat.

"Kalian tahu, lawanku tadi adalah seorang yeoja. Eoh! Kalian dengar? Seorang yeoja! Hah, aku kalah dari yeoja. Seorang Jung Yunho bisa dikalahkan dengan yeoja! Hahaha," Yunho tertawa. Dia sudah terlalu mabuk.

"Yaa hyung, kau sudah banyak minum. Lihat kau sampai berhalusinasi."

"Ne hyung, lebih baik kita pulang saja. Kau butuh istirahat."

"Diam! Aku tak mau pulang, aku ingin membuat perhitungan dengan yeoja itu. Bisa-bisanya aku dipermalukan oleh seorang yeoja. Aku tak terima itu!"

"Ya hyung, siapa yang kau katakan yeoja eoh?" tanya Yoochun.

"Ne hyung, nugu ah?" tambah Changmin.

"Chunie, siapa nama lawanku tadi eoh?" tanya Yunho tak menjawab pertanyaan dongsaengnya.

"Kim Jaejoong hyung. Waeyo?"

"Aku ingin memberinya pelajaran, sudah berani melawanku."

"Ne hyung, aku akan mencari lebih banyak informasi tentang dia."

"Lihat saja Kim Jaejoong, kau akan mati ditanganku. Orang yang berani melawanku, tak akan bisa lepas." seringai muncul di wajah tampan Yunho.

.

Jaejoong POV

Aku pergi menuju mirotic pub setelah memenangkan balapan kali ini. Entah kenapa aku merasa sangat senang bisa mengalahkan Jung Yunho. Biasanya aku tak pernah merasa senang seperti ini sebelumnya, walaupun aku memenangkan balapan setiap hari tapi itu biasa saja. Tak pernah ada sesuatu yang membuatku merasa puas. Tapi tadi, saat aku berhasil mengalahkannya aku merasa sangat puas. Aku sangat puas bisa mengalahkan namja yang katanya tak pernah terkalahkan itu. Aku sangat ingin melihat wajahnya yang tertunduk kesal karena untuk pertama kalinya kalah.

"Hyung, bukankah itu Yunho, namja yang tadi bertarung denganmu?" kudengar Junsu menyebut nama lawanku dibalapan tadi.

"Eodiya?" tanyaku sambil berusaha mencari keberadaan namja itu.

"Di lantai 2 room VIP. Itu memang tempat langganannya setelah selesai balapan." Junsu memberitahuku tempat namja itu duduk.

"Ayo kita hampiri dia. Aku sangat ingin melihat wajah frustasinya. Kajja!" kuajak Junsu naik menghampiri namja iu. Aku sungguh tak sabar ingin melihat wajahnya. Bisa kubayangkan kalau wajahnya pasti kesal dan marah. Langkah terakhir, aku sengaja menghentakkan kaki lebih keras, agar ia mendongak dan melihatku datang. Benar saja, ia mendongak dan menatap mataku nanar.

Jaejoong POV end

.

"Kim Jaejoong? Apa yang kau lakukan disini?" Yoochun berseru ketika dilihatnya Jaejoong datang.

"Ani, tadi aku sengaja kesini, dan tak ku sangka melihat kalian disini. Aku ingin menyapa lawanku. Apa aku boleh bergabung?"

"Ne, tentu saja. Bukan begitu hyu-" belum sempat Yoochun menyelesaikan kalimatnya, Yunho sudah berdiri dengan wajah merah padam.

"Yak, kau Kim Jaejoong! Masih berani kau menampakkan mukamu dihadapanku? Kau!"

"Wae? Apa salahnya jika aku menyapa lawanku? Oh ya, kau sungguh hebat Yunho-ssi, kau memiliki teknik yang luar biasa." senyum mengembang diwajah putih Jaejoong.

"Kau, dasar yeoja sialan!" umpat Yunho.

"Mwo? Kau menyebutku apa eoh?" teriak Jaejoong tak terima dirinya dipanggil yeoja.

"Ne. Kau yeoja sialan."

"Ya, Jung Yunho. Aku Kim Jaejoong seorang namja! Namja! Apa kau buta eoh?"

"Heh, kau mau membodohi aku eoh? Walau sekarang aku dipengaruhi alkohol tapi aku masih bisa melihat wajah yeojamu itu hah!"

"Yaa, kau!"

"Hyung, tenanglah. Kau sudah mabuk hyung. Jaejoong itu namja, kenapa kau menganggapnya yeoja!" Changmin berusaha menyadarkan hyungnya itu.

"Kau buta Minie, jelas-jelas dia itu yeoja. Lihatlah, wajahnya begitu cantik! Cih!"

"Mian Jaejoong-ssi, kelihatannya Yunho hyung sudah sangat mabuk. Pengelihatannya sedikit terganggu." Yoochun menengahi pertengkaran diantara Yunho dan Jaejoong.

"Cih, ayo Su-ie, kita pulang saja. Aku malas berurusan dengan orang kurang ajar seperti dia." Jaejoong segera meninggalkan mirotic pub.

"Ne hyung. Yoochun-ssi, aku permisi." Junsu berpamitan dan segera menyusul Jaejoong.

"Ya, pulang saja kau. Dasar yeoja sialan!" Yunho masih saja berteriak mengumpat Jaejoong.

"Kau hyung, darimana kau melihatnya sebagai yeoja. Jelas-jelas dia namja. Kau ini hyung." Changmin begitu kesal melihat hyungnya berteriak begitu.

"Sudahlah Minie, lebih baik kita bawa pulang Yunho hyung. Kajja."

Mereka segera pergi meninggalkan mirotic pub. Takut kalau Yunho akan berbuat yang lebih parah.

Sinar mentari tembus di celah gorden kamar Yunho. Membuat sang pemilik kamar sedikit terusik dan menggeliat dikasurnya. Dering telpon mengganggu tidur Yunho, dengan enggan Yunho mengangkat telpon itu.

"Hyung, kau sudah bangun?"

"..."

"Hyung, kau tak mendengarku hyung?"

"..."

"YUNHO HYUNG!" Yoochun berteriak saat Yunho tak menjawab panggilannya.

"Yaa, kenapa kau berteriak eoh! Kau mau mati!"

"Habisnya kau tak menjawabku hyung. Aku punya berita bagus hyung."

"Mwo? Kalau sampai berita ini tak berguna, aku hajar kau!"

"Ne hyung. Aku sudah menemukan informasi tentang Jaejoong. Bagaimana hyung?"

"Jinja? Kalau begitu kau ke rumahku saja. Ajak Changmin sekalian."

"Ne hyung. Aku segera kesana."

Setelah menutup telponnya, Yunho segera membasuh wajahnya. Informasi dari Yoochun sedikit membangkitkan gairahnya.

"Akh, kepalaku!" Yunho merasa sedikit pusing, akibat kebanyakan minum semalam. Keluar dari kamar mandi, Yunho merasa lapar. Dilihatnya bahan yang ada di lemari pendinginnya, hanya ada dua botol bir dan kue sisa kemarin.

"Hah, tak ada yang bisa kumakan." Yunho segera menghubungi Yoochun kembali, menyuruhnya membelikan sarapan untuknya.

"Ne hyung, arasseo." Jawab Yoochun dari seberang.

Sembari menunggu Yoochun, Yunho keluar menuju teras rumahnya. Rumah Yunho terbilang sangat luas. Terlebih lagi ia hanya sendiri mendiami rumah itu. Ia sudah lama terpisah dari orang tuanya. Sejak kecil ia hanya tinggal bersama pengasuhnya.

Greeeggg

Suara gerbang dibuka membuat Yunho bergegas menuju pintu depan rumahnya.

"Hyung, Yunho hyung. Kami datang!" Changmin berteriak saat memasuki rumah mewah Yunho. Ia sangat senang tiap kali berkunjung kerumah hyungnya itu. Biasanya ia akan menghabiskan waktunya bermain PS milik Yunho. Apalagi jika ingin makan sesuatu, ia hanya perlu memintanya pada Yunho.

"Yaa Minie, kepala ku pusing. Jadi jangan berteriak!" dengus Yunho kesal.

"Aa, mian. Nampaknya aku sudah lama tak kesini hyung. Kapan-kapan aku menginap boleh ne?" tanya Changmin sembari menjejari langkahnya masuk kedalam rumah.

"Yoochun, bagaimana?" Yunho tak menghiraukan pertanyaan dari Changmin, membuat Changmin mempoutkan bibirnya kesal.

"Ya hyung, aku sudah mendapatkan informasi Jaejoong. Jaejoong dan Junsu adalah sahabat, dan aku mengenal Junsu ketika kami berada di Junior High School."

"Aiss, aku tak menanyakan soal kau dan Junsu."

"Aa, mian. Aku berhasil mendapatkan alamat rumah Jaejoong. Dia tinggal di perumahan mewah daerah gangnam. Rumahnya paling besar diantara rumah lainnya."

"Begitukah?"

"Ku dengar ia hanya tinggal bersama appanya."

"Menarik!"

"Apa yang akan kau lakukan hyung?"

"Aku ingin sedikit bermain dengannya. Yeoja sialan yang sudah berani menantangku, bahkan bisa mengalahkanku saat balapan." seringai muncul diwajah tampan Yunho.

"Ya hyung, kenapa kau selalu menyebutnya yeoja. Padahal jelas-jelas dia itu namja."

"Kau buta Chunie, dilihat darimanapun dia itu yeoja. Lihat saja wajahnya yang begitu cantik. Kuyakin dia pasti merawat wajahnya dengan baik."

"Aiss, kau ini hyung."

"Kenapa? Apa kau tak tertarik dengannya eoh?"

"Aigoo hyung, aku ini masih normal. Atau jangan-jangan malah kau yang tertarik dengannya eoh? Kau kan tak tertarik dengan yeoja."

"Ya, aku tak akan tertarik dengannya. Yeoja sialan itu!"

"Hyung, dia itu NAMJA!" Yoochun frustasi menyadarkan hyungnya itu kalau Jaejoong adalah Namja bukan yeoja.

"Aiss, kau berani berteriak eoh?"

"Habisnya kau hyung, dia itu namja!" dengus Yoochun.

"Aiss hyung berdua, kenapa berteriak-teriak. Aku jadi tak konsen bermain. Aku lapar hyung, aku makan ne. Apa kalian tak lapar?"

"Yaakk, MINIE!" keduanya kompak berteriak memarahi Changmin.

Changmin pun hanya tersenyum tak memerdulikan kedua hyungnya yang mendelik kearahnya.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Okeh saya kembali membawa chap 3..

Terimakasih atas kata-kata pendukungnya dichap 2 kemaren.. Saya benar-benar berterima kasih.. Saya akan terus melanjutkan post ini sampai selesai.. Mohon kerja samanya ne~~

Dan terimakasih juga bagi Sirayuki Gia yang sudah memberikan masukan dichap kemaren, masukannya saya terima dan semoga bisa memperbaiki tulisan saya kedepannya.. Hontouni arigatou gozaimasu :)

Ja, bagaimana dengan chap ini? Chap selanjutnya saya mungkin post lusa..

Arigatou~~