MyBeauty Rider
.
Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong
Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Genre : YAOI/Shonen-ai
Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost ya. Dan ini adalah FF pertama saya di dalam dunia perFFan.
.
.
.
Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
···
Chap 5
···
Matahari bersinar cukup cerah pagi ini. Secerah hati Jaejoong yang dengan setia menemani appanya di rumah sakit. Ia sudah bertekad ingin memperbaiki hubungannya dengan sang appa. Melihat keadaan appanya yang terbaring lemah di ranjang, membuatnya sedikit merasa bersalah. Andai saja kemarin ia tak menuruti kata Junsu untuk pulang, ia tak tahu apa yang akan terjadi pada appanya.
"Su-ie, gomawo ne. Kemarin kau menyuruhku untuk pulang. Andai saja kau tak menceramahiku tentang appa, mungkin aku tak akan bisa menyelamatkan appa." Jaejoong menatap tubuh appanya diatas ranjang. Airmatanya sedikit menggenang, buru-buru ia menghapusnya agar tak dilihat oleh Junsu.
"Cheonma hyung. Yang penting sekarang, kau harus menjaga appamu ne. Jangan sering balapan dan meninggalkannya sendiri." Junsu berkata sambil melingkarkan tangannya pada bahu Jaejoong.
"Ne Su-ie, aku tak akan meninggalkannya lagi. Aku tak ingin kehilangannya, aku sangat menyayanginya Su-ie." tangan Jaejoong terulur menggenggam tangan appanya. Airmatanya sudah tak bisa ia bendung lagi.
Sekarang ia sadar, kalau selama ini ia sudah begitu jahat terhadap appanya. Sering membangkang dan melawan appanya. Mengingat kelakuannya terhadap appanya, Jaejoong memaki dirinya sendiri.
"Pabo! Aku benar-benar pabo Su-ie. Selalu melawan dan membuat hatinya sakit. Aku memang benar-benar anak yang kurang ajar. Aku tak yakin appa akan mau memaafkanku Su-ie."
"Appamu pasti akan memaafkanmu hyung. Yakinlah, dia itu appamu."
Tanpa mereka berdua sadari, Mr. Kim mendengarkan semua percakapan mereka. Dalam hati Mr. Kim bersyukur karna Jaejoong ternyata masih menyayanginya, dan sudah bisa memaafkan dirinya. Hatinya terenyuh saat Jaejoong menggenggam tangannya.
"Appa, aku sangat menyayangimu. Maafkan aku selama ini sudah menyusahkanmu. Cepatlah sembuh, aku ingin kita memulai kehidupan yang baru. Lepas dari bayang-bayang masa lalu." Jaejoong tersenyum dan mencium kening appanya.
.
.
Kediaman Yunho
Yunho berbaring di kasur king size nya, menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang kembali mengingat Jaejoong. Hanya mengingatnya saja jantung Yunho kembali berdetak kencang.
"Ahh, ada apa sebenarnya denganku! Kenapa aku memikirkan Jaejoong terus!"
Yunho frustasi dengan dirinya. Ia tak tahu mengapa ia sangat merindukan Jaejoong. Ia begitu ingin melihat bibir chery Jaejoong tersenyum padanya.
"Aku harus menemuinya!" Yunho segera mengambil jaket dan menyambar kunci motornya. Pikirannya sungguh ingin bertemu dengan Jaejoong.
Yoochun dan Changmin baru akan masuk ke rumah Yunho, tepat saat Yunho membuka pintu.
"Ya hyung, kau mau kemana? Kami baru akan mengajakmu bermain PS. Aku baru membeli kaset." Changmin begitu ceria memperlihatkan kaset yang baru dibelinya.
"Aku pergi sebentar. Kalau kalian mau bermain, main saja." tanpa banyak bicara Yunho bergegas pergi menemui Jaejoong.
"Hyung, kau mau kemana? Aku ikut ne." Yoochun segera berseru dan mengikuti Yunho yang sudah jauh berjalan.
"Yah Yunho hyung, Chunie hyung, kalian mau kemana? Jangan tinggalkan aku, yaaa hyuuuuunggggg!" Changmin berteriak memanggil hyungnya yang sudah pergi jauh.
"Yaa hyung, kenapa kau meninggalkanku sendiri." ratap Changmin sambil melihat punggung hyungnya. "Tunggu, berarti dirumah ini hanya ada aku? Kyaaa,, aku bisa bermain sepuasnya. Hahaha, gomawo hyung. Pergi yang lama ne." teriak Changmin sambil berjingkrak masuk rumah Yunho.
.
Jaejoong POV
Aku duduk menyebelahi appa yang kini tengah menyantap makan siangnya. Ku lihat appa sudah berangsur pulih. Sedikit demi sedikit hubunganku dengan appa juga sudah mulai membaik.
"Jaejoong-ah, ini appa sudah kenyang." appa menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong.
"Ne appa. Ini minumnya." aku menyodorkan air pada appa, appa mengambilnya lalu meneguk sampai habis.
"Jaejoong-ah, gomawo." aku melihat appa tersenyum padaku. Entah kenapa aku merasa lega dan nyaman mendengar itu dari appa. Sangat lama aku tak mendengar appa mengucapkan hal itu padaku.
"Ne appa. Cheonma."
Hening. Itulah yang terjadi sekarang, aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Dengan canggung aku memberanikan diri berbicara duluan dengan appa.
"Aa, appa." kataku terbata.
"Ne Jaejoong-ah? Waeyo?"
"Appa, aku, aku."
"Katakanlah Jaejoong-ah,"
"Jeongmal mianhaeyo appa." kataku akhirnya. Aku begitu sulit mengatakan satu kata itu. Tapi sekarang aku sudah lega bisa mengatakannya.
"Untuk apa Jaejoong-ah?"
"Untuk semuanya appa. Untuk semua kenakalan dan kebodohanku selama ini."
"..."
"Aku sudah bahyak berbuat salah padamu appa. Aku sering membantah dan bahkan berbuat kurang ajar terhadapmu. Aku tahu tak mungkin appa mau dengan mudah memaafkanku."
"..."
"Aku sadar appa, selama ini aku tidak mengahargai appa sebagai appaku, hanya karna aku masih sakit hati dengan kejadian yang menimpa eomma. Aku tak pernah mau mendengarkan penjelasan appa, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku terlalu egois, hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa melihat perasaan appa. Aku, aku memang anak yang durhaka appa."
Aku menumpahkan semua perasaan yang selama ini aku pendam. Aku merasa semuanya harus selesai agar aku bisa memulai kehidupan baru dengan appa. Air mataku tak mampu aku bendung, hingga kurasakan air mataku membasahi seprai dibawahku.
"Joongie, kemarilah!" kudengar appa memanggilku dengan panggilan kecilku. Hatiku terenyak mendengarnya. Kurasakan tangan appa mengelus kepalaku pelan.
"Ne appa." aku mendekatkan diri menuju appa.
"Kemarilah, peluk appamu." appa menarikku menuju pelukannya. Kurasakan hangat badan appa. Sudah sangat lama rasanya aku tak merasakan pelukan appa. Tangan appa kembali membelai kepalaku, aku membiarkan hal itu terjadi. Aku sangat menikmatinya, sentuhan appa yang tak pernah aku rasakan lagi semenjak kejadian eomma dulu. Ternyata aku merindukan saat-saat seperti ini.
"Joongie, tak ada yang perlu dimaafkan. Semua yang berlalu biarkanlah berlalu. Anggap saja semua itu cobaan."
"..."
"Appa tak pernah menyalahkanmu dengan sikapmu terhadap appa selama ini. Appa sangat mengerti akan perasaanmu. Jadi Joongie, berjanjilah. Sekarang dan kedepannya, mari kita mulai kehidupan yang baru sebagai appa dan anak. Appa sangat menyayangimu, jadilah anak yang bisa appa banggakan ne?"
"Ne, ap..appa." kataku sesenggukan menahan tangis. "Aku berjanji akan bersikap baik pada appa."
"Ne, yaksok?" appa menyodorkan kelingkingnya padaku.
"Um, yaksok." aku melingkarkan kelingkingku pada kelingking appa. Aku tersenyum tulus pada appa. Senyum yang pertama kali lagi aku tunjukkan pada appa. Aku sungguh lega sekarang. Aku sudah bisa melepaskan masa lalu ku yang kelam, dan siap menyambut masa depan bersama appa.
Jaejoong POV end
.
Yunho POV
Aku sampai didepan kamar rawat inap appa Jaejoong, tanganku sudah terulur menggenggam knop pintu. Saat ku dengar suara Jaejoong meminta maaf pada appanya.
"Jeongmal mianhaeyo appa."
Kuurungkan niatku untuk masuk ke dalam. Aku mendengarkan dengan seksama percakapan anatara anak dan appa itu. Yoochun sedari tadi sudah menghilang menggoda suster-suster yang bertugas.
"Untuk apa Jaejoong-ah?" kini suara Kim ahjussi yang kudengar. Setelahnya aku mendengar ungkapan hati Jaejoong yang mungkin selama ini dipendamnya. Rasa sakitnya setelah kepergian eommanya. Rasa sakitnya karena membangkang dari appanya, orang tua satu-satunya yang masih ia miliki. Aku terdiam saat kudengar Jaejoong kembali terisak.
"Joongie, kemarilah." kudengar Kim ahjussi memanggil putranya.
Deg
"Joongie?" aku terpekik mendengar nama itu. Kurasakan jantungku berdetak tak karuan. Aku terdiam cukup lama. Mungkinkah, mungkinkah itu?
Kletekk
Suara pintu terbuka membuatku tersadar. Aku tak tahu seberapa lama aku berdiri mematung didepan sana. Kulihat Jaejoong sudah berdiri didepanku.
"Ya Yunho-ssi, kenapa kau diam disini? Apa kau tak mau masuk?"
"Aa, ani. Aku baru saja datang. Apa Kim ahjussi sudah baikan?"
"Ne, ayo masuk saja."
Jaejoong menarikku masuk, kulihat Kim ahjussi tengah membaca buku. Melihat kehadiranku, ditaruhnya buku itu lalu tersenyum hangat padaku.
"Annyeong ahjussi." sapaku sambil tersenyum padanya.
"Ne, kau teman Jaejoong ne. Siapa namamu?"
"Aku Yunho. Jung Yunho." kataku sambil membungkuk.
"Ah, jadi kau yang menolongku waktu itu. Gomawo ne, sudah menolongku. Kalau tidak ada kau mungkin aku tak akan selamat."
"Cheonma, aku senang bisa membantu."
"Joongie, ajak saja Yunho jalan-jalan. Appa ingin istirahat sebentar. Mian ne Yunho-ah, aku ingin istirahat sebentar."
"Ani. Aku yang seharusnya minta maaf. Berkunjung diwaktu yang salah. Baiklah ahjussi, silakan istirahat."
"Yunho-ssi, ayo kita bicara diluar." Jaejoong mengajakku bicara diluar. Kuikuti kemana ia berjalan. Akhirnya kami sampai di taman belakang rumah sakit.
"Kita duduk disini saja ne." kuanggukkan kepala saat Jaejoong menatapku. Lagi-lagi jantungku berdetak kencang saat aku menatap mata hitamnya.
"Yunho-ssi, mian ne. Dulu aku sempat jahat padamu." kata Jaejoong memulai percakapan.
"Ya, kapan kau berbuat jahat padaku?"
"Saat aku menantangmu balapan. Setelahnya aku membuat keributan di pub."
"Ani. Tak apa. Maafkan aku juga yang sudah mengataimu yeoja." aku sempat melirik Jaejoong saat aku mengatakan yeoja, nampaknya ia sudah tak mempermasalahkannya lagi.
"Ne gwencana. Aku sudah sering dikatakan yeoja. Hah, memang semirip itukah wajahku dengan yeoja?" Jaejoong bertanya padaku. Dan secepat kilat aku mengangguk.
Yunho POV end
.
Jaejoong POV
Aku mengajak Yunho pergi ke taman belakang rumah sakit. Aku ingin meminta maaf padanya. Setidaknya aku ingin memulai kehidupan baru lepas dari sifatku yang dulu.
"Jaejoong-ssi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" kudengar Yunho bertanya padaku.
"Ne, tentu saja. Mwo?"
"Tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Kim ahjussi. Bolehkah aku tahu apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan appamu Jaejoong-ssi?"
"..."
"Ah, mian. Aku terlalau ikut campur urusanmu."
"Ani. Aku hanya belum bisa bercerita masalah pribadiku dengan orang lain. Mian Yunho-ssi."
"Begitukah, baiklah aku tak memaksa. Mungkin kau belum bisa percaya padaku, mengingat kita baru saling menenal."
"Khamsa Yunho-ssi, kau mau mengertiku." aku merasa lega karna Yunho tak memaksaku, sejujurnya aku masih belum bisa membuka hati untuk berteman dengan orang lain.
"Lain kali aku akan bercerita." aku tersenyum padanya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang bercerita?" Yunho menawarkan diri untuk berecerita. Aku tak menolak, karna aku juga ingin tahu lebih banyak tentang dia.
"Ne silakan."
Jaejoong POV end
.
Yunho mulai bercerita.
"Aku disini tinggal sendiri. Aku sudah lama terpisah dari orang tuaku. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama pengasuhku, tapi sekarang aku sudah tinggal sendiri. Dulunya aku tinggal di daerah Gwangju, namun semenjak kuliah aku pindah ke sini. Dulunya aku tak pernah mempunyai teman, karena aku dikenal sebagai namja yang dingin dan angkuh."
"Kau memang sombong!" Jaejoong menyahut sambil tersenyum.
"Aku menjadi sombong bukan karna sifat ku yang memang sombong. Tapi aku menjadi sombong untuk menutupi sifat asliku yang rapuh. Kau tahu Jaejoong-ssi, dulu sebelum aku pindah kesini dan tinggal sendiri, aku mempunyai chingu yang sangat aku sayangi dan cintai. Tapi sayang, aku tak tahu sekarang dia ada dimana. Padahal sebenarnya aku sangat rindu padanya."
"Ne? Apakah dia itu pacarmu Yunho-ssi?"
"Ani. Kami hanya sebatas teman, tapi aku memiliki perasaan yang lebih padanya."
.
Flash back
Seorang namja kecil tengah berlari mengitari padang hijau disekelilingnya. Rambut almondnya bergoyang tatkala tubuhnya diterpa angin. Mata bulat besarnya mengerjap ketika sinar matahari menerpa retinanya. Namja itu lebih terlihat seperti yeoja. Terlebih lagi dengan bibir merah cherry dan kulit tubuhnya yang putih tak bercela.
Dibelakangnya tampak namja lain tengah berlari mengejarnya. Dengan wajah kecil dan mata musangnya yang memicing karena diterpa sinar matahari. Namja itu nampak terengah-engah mengejar namja cantik didepannya.
Saat tengah asik berlari, namja cantik itu tak sadar ada akar pohon yang menyembul ke atas, dan
Brukkk
Tubuh namja cantik itupun sukses jatuh tersungkur ketanah.
"Kyaaaa-"
"Joongie!" teriak namja mata musang.
"Hiks, Yunie. Appo." namja cantik itu menangis tatkala lututnya kini mengeluarkan darah segar.
"Cup cup, Joongie jangan nangis, sini biar Yunie obati luka Joongie." namja cantik itupun menyodorkan lututnya yang berdarah.
"Yunie tiup ne biar lukanya nggak perih lagi. Hufft, hufft." namja mata musang itupun mulai meniup luka namja cantik itu.
"Hihi." terdengar cekikikan kecil dari mulut namja cantik itu.
"Yah, kenapa Joongie malah tertawa?"
"Hihi, mulut Yunie lucu. Mulut Yunie jadi lucu seperti mulut bebek."
"Yah, Joongie." namja mata musang itupun kesal dikatai mirip bebek.
"Joongie cuma bercanda Yunie. Bagi Joongie, Yunie tetap tampan. Walaupun mulut Yunie seperti itu." jawab namja cantik itu. Wajahnya sedikit memerah saat mengatakannya.
"Jinja? Ne, bagi Yunie juga. Cuma Joongie yang paling cantik."
Namja cantik itupun menundukkan wajahnya, "Benarkah itu Yunie? Apa Joongie terlihat cantik dimata Yunie?"
"Ne, tentu saja." namja mata musang itupun mendekatkan dirinya. "Joongie janji ne, tetaplah jadi Joongie seperti sekarang kalau sudah besar nanti. Tetap cantik seperti ini. Arra?"
Namja cantik itu tersenyum sambil mengangguk.
"Yaksok?"
"Ne. Yaksok!"
Keduanya saling mengaitkan janji kelingking, membuat pinky promise.
Flash back end
.
"Begitukah? Lalu dimana ia sekarang?"
"Aku tak tahu, aku sudah kehilangan komunikasi dengannya. Sejak dia pindah karna kehilangan eommanya, aku tak pernah lagi bertemu dengannya."
.
Flash back
"Hiks. Hiks,"
Seorang namja cantik tengah menangis di depan peti jenasah. Wajahnya yang putih sudah basah oleh air mata.
"Joongie, jangan menangis lagi. Biarkan eomma tenang disana. Kalau Joongie menangis terus nanti eomma sedih disana." terdengar suara berat disebelah namja cantik itu.
"DIAM!" Namja cantik itu tiba-tiba berteriak, "Kau tak pantas bicara begitu. Apa kau tak malu eoh mengatakan itu kepadaku? Eomma mati gara-gara kau!" teriak namja cantik itu mengagetkan orang yang berada disebelahnya.
"Mulai sekarang aku tak akan mau mendengarkan apapun lagi darimu, Kim Sajangnim!" namja cantik itupun segera berdiri dan keluar.
"Joongie-" teriak namja lain dengan mata musangnya. "Joongie mau kemana?"
"Diam Yunie, Joongie akan pergi dari sini. Jadi Yunie tak perlu lagi datang mencari Joongie."
"Tapi Joongie," tak sempat namja itu melanjutkan kalimatnya, namja cantik itupun sudah berlari menembus kerumunan orang yang tengah melayat.
Flash back end
.
"Ya, kasihan sekali. Mungkin dia sangat terpukul setelah kehilangan eom-, mwo? Apa kau tadi bilang kalau dia kehilangan eommanya?"
"Ne. Wae?" tanya Yunho sedikit heran dengan teriakan Jaejoong yang tiba-tiba.
"Ani. Hanya saja nasibnya sama denganku." jawab Jaejoong sambil menundukkan wajahnya.
"Jadi kau juga kehilangan eommamu?"
"Ne, saat aku masih duduk di junior high school."
"Mian, aku tak tahu." Yunho terlihat menyesal mengungkit masa lalu Jaejoong.
"Pasti dia seorang yeoja yang cantik ne?" Jaejoong mengalihkan pembicaraan.
"Ne. Dia sangat cantik. Bahkan kecantikannya melebihi seorang yeoja." jawab Yunho sambil tersenyum manis.
"Mwo? Kecantikannya melebihi seorang yeoja?" tanya Jaejoong tak mengerti.
"Ne dia adalah seseorang yang sangat tampan, hingga yang terlihat hanyalah kecantikan darinya."
"Mwo? Tampan? Maksudmu, chingu yang kau cintai adalah seorang, omo apa kau-" Jaejoong tak meneruskan kalimatnya.
"Ne. Dia adalah namja. Aku sangat menyayanginya. Bagiku dia adalah satu-satunya orang yang peduli padaku dan mau berteman denganku."
"Yun, Yunho-ssi. Ap..apa kau seorang penyuka sesama jenis?" takut-takut Jaejoong bertanya pada Yunho.
"Wae? Kau takut Jaejoong-ssi?"
"Ani."
"Ya. Aku tak menyalahkanmu Jaejoong-ssi bila kau takut. Teman-temanku pun malah menjauhiku setelah aku berterus terang. Tapi hanya Yoochun dan Changmin saja yang tidak menjauhiku. Makanya aku sangat menyayangi mereka. Sebenarnya aku bukan seperti apa yang orang-orang pikirkan, hanya saja aku menyukai chinguku itu seorang. Dengan namja lain aku tak memiliki perasaan itu. Dia yang sudah membuatku begini, aku tak menyalahkannya. Telebih karna aku sendiri yang mempunyai perasaan ini. Aku begitu menyayanginya, dia begitu ceria dan lucu."
"Jadi terhadap namja lain kau tidak begitu?" tanya Jaejoong memastikan.
"Ne. Andai saja aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku sangat ingin berterus terang dengannya. Aku juga sangat ingin mendengar jawaban darinya."
"Kau begitu menyayanginya eoh Yunho-ssi?"
.
Yunho POV
"Ne, aku sangat menyayanginya. Dia sungguh menggemaskan, apalagi saat dia tengah tersenyum. Jantungku rasanya berdetak lebih kencang tiap melihatnya." sama seperti yang aku rasakan saat bertemu denganmu Jaejoong.
"Begitukah? Heemm," kulihat ia nampak berfikir sebentar. Kulihat-lihat wajahnya sedikit mirip dengan Joongie ku, rambut almond dan mata besar itu. Dan juga bibir merah cherry nya yang begitu ingin aku rasakan.
"Yunho-ssi, mian. Nampaknya kita sudah terlalu lama disini, aku ingin melihat keadaan appaku." kata Jaejoong membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Ah ne mian Jaejoong-ssi, aku terlalu semangat bercerita. Tak biasanya aku bisa bercerita seperti ini kepada orang yang baru aku kenal." jawabku akhirnya. Kulihat Jaejoong tersenyum kearahku dam sukses membuat jantungku berdetak tak karuan.
"Ne Yunho-ssi, aku juga senang kau mau bercerita denganku."
Lagi-lagi Jaejoong tersenyum kearahku, "N..ne." jawabku terbata. "Kalau begitu, aku pamit pulang. Hari semakin gelap. Sampaikan salam ku pada Kim ahjussi ne."
Lagi-lagi Jaejoong hanya tersenyum padaku, mambuat jantungku tak tahan untuk tak berdisko ria. "Annyeong."
Aku segera berdiri diikuti oleh Jaejoong, lalu aku berjalan kearah lain dari Jaejoong.
Sepanjang perjalanan aku masih diliputi pikiran tentang Jaejoong, Aku tak tahu kenapa, kalau bersama Jaejoong aku bisa merasa nyaman. Perasaan yang jarang sekali aku rasakan kepada orang lain. Terhadap Yoochun dan Changmin sekalipun. Mungkinkah?
"Yah Jung Yunho! Kenapa kau berpikir yang tidak-tidak! Mana mungkin kau menyukainya!" teriakku frustasi. Aku tak tahu kenapa, sebagian hatiku malah membenarkan pikiranku itu. Akh, lelah. Lebih baik aku cepat pulang dan menenangkan diri dikamar.
Yunho POV end
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Saya kembali membawa chap 5~~
Bagaiaman dengan chap ini? Sudah mulai ada titik terangkah? Huhu, mian kalo tambah gaje ne.. Saya nggak ubah apapun dari versi awalnya,, haha
Terimakasih bagi yang kemarin review dan menunggu kelanjutan FF ini.. Arigatou gozaimasu,,
Review lagi ne di chap ini~~
