My Beauty Rider
.
Cast : Jung Yunhk, Kim Jaejoong
Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin
Genre : YAOI/Shonen-ai
Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost namun tidak menutup kemungkinan saya ubah dibeberapa bagian (kalo sempet). Dan ini adalah FF pertama saya di dalam dunia perFFan.
.
.
.
Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
···
Chap 6
···
Seorang namja yang sangat mirip dengan yeoja, tengah duduk sambil menatap hamparan rumput hijau didepannya. Senyum terus mengembang diwajahnya. Disampingnya, seorang namja dengan mata musangnya terus menatap namja cantik itu tanpa berkedip. Namja mata musang itu nampaknya begitu terpesona dengan kecantikan alami dari namja itu. Merasa tengah diperhatikan, namja cantik itupun berpaling dan kedua mata besarnya bertatapan dengan mata musang namja disebelahnya.
"Yun, Yunie. Kenapa Yunie memandang Joongie seperti itu?" tanyanya dengan semburat merah dipipinya.
"Neomu Yeopo Joongie." jawab namja itu sambil tersenyum manis memandang namja cantik dihadapannya. Mata musangnya tak pernah lepas memandang wajah putih namja didepannya.
"Go..gomawo Yunie." jawab namja cantik itu tersipu malu.
"Joongie harus janji ne, jangan pernah pergi dari Yunie. Joongie hanya milik Yunie. Arra?"
Namja cantik itu hanya tersenyum sambil mengangguk. Semburat merah tercetak dipipinya yang putih tak bercela.
Keduanya saling tersenyum memandang satu sama lain. Perasaan hangat menyusup tiap kali ledua namja itu saling tersenyum satu sama lain.
.
.
.
"Joongie, joongie mau kemana?" namja mata musang itu baru tiba dirumah duka. Hari ini pemakaman eomma Joongie akan dilakukan. Namun namja mata musang itu malah mendapati namja cantik itu hendak pergi. Dengan mata merah memendam amarah dan tangis, namja cantik itu berkata ketus menjawab pertanyaan namja mata musang itu.
"Diam Yunie. Joongie akan pergi dari sini. Jadi Yunie tak perlu lagi mencari Joongie."
"Tapi Joongie," namja cantik itupun sudah berlari tanpa mendengar teriakan namja mata musang itu. Tanpa pikir panjang, namja mata musang itu segera berlari menyusul namja cantik itu. Mata musangnya bergerak liar mencari keberadaan namja cantik itu, sambil terus melangkahkan kakinya. Banyaknya orang yang melayat membuatnya sedikit kesulitan mencari keberadaan namja cantik itu. Namun ia tak menyerah, sambil terus melangkahkan kakinya ia berteriak memanggil nama namja cantik itu.
"Joongie, Joongie." teriaknya.
"Joongie, hiks, Joongie tak boleh pergi, jangan tinggalkan Yunie sendirian, Hiks," tangispun tak dapat ia tahan, mata musangnya memicing karna airmata yang memenuhi pelupuk matanya.
"Joongie, hiks, JOONGIEEEEE,"
.
.
.
"Joongie," Yunho tersentak dari tidurnya. Keringat mengucur membasahi keningnya. Rupanya ia bermimpi tentang masa kecilnya. Nafasnya terasa berat. Jantungnya berdetak tak karuan. Disekanya keringat yang jatuh mengenai matanya. Menghirup udara lalu menghembuskannya lagi. Ia ingin menenangkan diri dari mimpinya tadi.
"Joongie," desisnya.
.
Yunho POV
Aku terbangun karna memimpikan Joongie. Entah kenapa aku bisa memimpikan teman masa kecilku itu lagi. Mungkin aku begitu merindukannya, sampai-sampai alam bawah sadarku terus memikirkannya.
"Setengah enam pagi," desisku saat kulihat jam beker yang ada dimeja nakas.
Aku tak berniat melanjutkan tidurku, rasanya lebih baik aku berolahraga untuk menyegarkan pikiranku. Ku ganti baju tidurku dengan kaos biasa dan celana pendek. Ku ambil sepatu dirak, tak sengaja mataku melihat kotak kecil disebelah rak sepatu. Aku tak ingat pernah menaruh kotak itu disana, karna penasaran aku ambil kotak itu dan membukanya.
"Apa ini?" aku menemukan secarik kertas, sebuah bros dan sebuah kalung didalamnya. Kubuka kertas itu untuk melihat apa yang tertulis disana, dan mataku membulat sempurna. Memori ingatanku berputar, membuka kembali cerita itu.
.
Flash back
Mataku terpejam setelah menangis seharian. Hari ini sungguh berat bagiku, orang tuaku meninggalkanku seorang diri disini. Mereka pergi keluar negri untuk melanjutkan bisnis mereka disana. Mereka tak mengajakku karna mereka pikir tak akan ada yang menjagaku disana kalau aku ikut. Karna itu mereka meninggalkanku disini sendiri dan hanya ditemani seorang pengasuh.
Aku sangat kesal karna mereka tak pernah memikirkan perasaanku. Yang ada dipikiran kereka hanyalah bisnis dan bisnis. Aku yang masih kelas 2 Junior High school, tentu saja membutuhkan perhatian lebih dari orangtuaku. Namun apa yang aku dapatkan, mereka justru tega meninggalkanku disini. Sendirian. Mungkin karna itulah, aku berubah menjadi anak yang dingin dan keras. Karna tak ada lagi kasih sayang yang bisa aku dapatkan. Aku jadi suka bertindak semauku.
Sudah berhari-hari aku terbiasa tinggal sendirian dirumah. Sampai suatu hari, aku sungguh bosan dan memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Kulangkahkan kakiku menuju taman dekat rumahku. Disana kulihat banyak anak-anak yang tengah bermain, kulihat mereka bermain bersama teman-teman mereka. Sejujurnya aku iri pada mereka, mereka mempunyai teman yang mau bermain bersama.
"Huh," aku mendengus kesal melihat anak-anak itu. Ku tendang kaleng yang ada dihadapanku.
Brukkk
"Aww,"
Aku tersentak, terkejut karna kaleng itu mengenai seseorang. Segera aku berbalik siap pergi dari sana. Saat hendak melangkahkan kaki, kudengar isak tangis dibelakangku.
"Hiks, appo." aku berbalik dan mendapati seorang yeoja cantik tengah menangis, sambil mengucek-ngucek matanya yang berair. Ia sungguh terlihat seperti bidadari. Dengan matanya yang besar dan bibirnya yang merah seperti buah cherry. Aku terdiam beberapa saat, seperti tersihir aku diam menikmati karya indah yang ada dihadapanku.
"Appo," isaknya. Membuat aku tersadar lalu bertanya padanya.
"Ah, mian. Aku tak bermaksud mengenaimu. Mianhae,"
"Hiks, ne. Gwen, hiks, cana." katanya tersengal-sengal. Sungguh lucu.
"Kau sendirian? Dimana orangtuamu?"
Yeoja itu masih sesenggukkan, matanya mengerjap-ngerjap untuk menghapus airmatanya. Sungguh menggemaskan. Ingin rasanya aku mencubit pipi tembamnya, tapi kuurungkan. Mengingat kami baru saja bertemu.
"Ani, Joongie hanya pergi sendiri kesini." katanya dengan suara khas anak-anak.
"Jadi namamu Joongie?" tanyaku, dan mendapat anggukan darinya. "Kenalkan, aku Yunho." kataku sambil mengulurkan tangan.
"Eum," mata bulatnya mengerjap lucu. "Aku Jaejoong." ucapnya sambil menjabat tanganku. Kulihat ia tersenyum.
Deg
Jantungku berdetak lebih kencang saat kulihat ia tersenyum. Sungguh, ia begitu memikat. Ku beranikan diri untuk memujinya.
"Neomu yeopo," pujiku.
"Eh?" matanya terbelalak lebar mendengar pujianku. Wajahnya memerah. "Jinja? Tapi, Joongie kan namja." jawabnya malu-malu.
"Mwo?" kini giliranku yang terbelalak kaget. Apa aku tak salah dengar? Namja? Jelas-jelas dia itu yeoja. Lihatlah wajahnya yang cantik, rambutnya yang halus, dan kulitnya yang putih halus. Dan jangan lupa, bibirnya yang merah merona.
"Eh, kau bercanda eoh? Kau itu yeoja. Kenapa malah menyebut namja? Kau tak bisa membedakan kata yeoja dan namja eoh?" tanyaku gusar.
"Kenapa Joongie harus berbohong." jawabnya dengan wajah innocent.
"Aiss, sudahlah. Kenapa kita jadi bertengkar begini."
"Ah iya," kulihat ia membongkar tas yang sedari tadi bertengger di bahunya. Lalu ia mengeluarkan kertas dan pensil berbentuk gajah. Kulihat ia mencoret-coret kertas itu lalu setelahnya menyodorkannya padaku. Kulihat beberapa deret hangeul yang terlihat tak beraturan didalamnya. Kubaca sekilas tulisan itu.
"Kim Jaejoong. Kelas 1 Junior High School." kubaca hangeul itu dengan mata memincing. Agak sulit membacanya. "Nama yang bagus." aku tersenyum memandangnya.
"Gomawo." sahutnya. "Itu kartu nama Joongie, Yunie juga bisa memanggil Joongie dengan Joongie." senyum mengembang saat ia mengatakan itu, membuat jantungku kembali berdetak kencang.
"Yunie?" tanyaku saat sudah berhasil mengatasi detak jantungku.
"Ne, kita kan sudah berteman. Jadi Joongie boleh memanggil Yunie dengan panggilan Yunie kan?" ia mengerjapkan matanya lucu saat bertanya padaku.
"Ah, ne. Tentu saja."
"Asik, Joongie punya teman baru." teriaknya girang sambil melompat-lompat, membuat rambutnya bergoyang-goyang lucu.
Aku hanya melihatnya sambil tersenyum, melihat tingkahnya yang begitu lucu, aku semakin tak percaya bahwa dia adalah namja.
Mulai saat itulah, aku kembali merasakan kebahagiaan. Bersama dengan Jaejoong, aku mulai menjalani hari-hari cerah kembali. Dengan kelucuan dan kepolosannya aku menjadi semangat kembali menjalani aktivitas.
Flash back end
.
Tak terasa aku menitikan air mata, mengingat kembali kenangan saat pertama kali aku bertemu dengan Joongie.
"Joongie," aku mendesah. Aku begitu merindukan namja teman masa kecilku itu. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi semakin merindukannya. Ku genggam erat kertas yang baru aku temukan itu, berharap itu sedikit mengobati kerinduanku.
"Em," aku melihat satu benda lagi di dalam kotak itu. Segera kuambil dan kugenggam. Kalung pemberianku untuk Joongie. Kalung yang kuanggap sebagai pengikat antara aku dan Joongie.
.
Flash back
"Joongie, Yunie punya hadiah untuk Joongie." aku sedikit berteriak untuk memanggil namja cantik itu. Karna ia tengah serius membuat gambar di atas kertas.
"Nde?" tanyanya karna nampaknya ia tak mendengarkan aku.
"Ini," langsung saja kusodorkan sebuah kotak padanya. Menyuruhnya membuka sendiri kotak itu.
"Apa ini?" tanyanya dengan mata besarnya mengarah tepat pada mataku.
Deg
Hanya dengan menatap matanya saja, jantungku langsung berdetak kencang. Entah kenapa, aku sendiri tak mengerti.
"Untuk Joongie?" tanyanya lagi sambil tersenyum manis.
"Ne. Bukalah,"
Kulihat ia dengan semangat membuka kotak itu. Matanya membulat sempurna saat dilihatnya isi dari kotak itu.
"Ini untuk Joongie? Yunie membelikannya untuk Joongie?" matanya berbinar. Sangat menggemaskan.
"Ne. Yunie juga membeli untuk Yunie sendiri, lihat!" aku segera mengambil kalung yang sudah kupakai sebelumnya. Kalung yang sama dengan yang kuberikan pada namja cantik itu. Hanha warna bandulnya saja yang berbeda.
"Gomawo Yunie," kulihat wajahnya begitu senang. Matanya berbinar ceria.
"Joongie suka?"
Dengan cepat ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Membuatnya tambah menggemaskan. "Ne, Joongie sangat suka. Gomawo Yunie."
"Sini, biar Yunie pakaikan." aku segera mengambil kalung itu dan memakaikannya. "Joongie berbalik dulu, supaya Yunie bisa memakaikannya."
Ia langsung berbalik. Aku siap memakaikan kakung itu padanya. Sesaat aku terdiam, melihat lehernya yang begitu putih, membuatku menelan salivaku. Ia sungguh-sungguh sempurna. Tak bisa kubayangkan seorang namja bisa memiliki tubuh yang sangat indah seperti ini.
"Yunie, waeyo? Kenapa belum dipakaikan?"
Aku tersadar dan segera memakaikan kalung itu.
"Yap, sudah."
Aku begitu senang saat kalung pemberianku melingkar sempurna dilehernya. Ia semakin cantik. Apapun yang dikenakannya, sangatlah pas untuknya.
"Indahnya, gomawo Yunie."
"Cheonma." aku sungguh senang ia menerima pemberianku yang takseberapa itu. "Joongie," panggilku.
"Ne?"
"Neomu yeopo." pujiku dan sukses membuat wajah cantiknya memerah.
"Go..gomawo." katanya tersipu malu.
"Joongie, kalung itu adalah tanda untuk kita. Yunie memberikannya untuk Joongie karna Joongie sangat berharga bagi Yunie. Kalung itu adalah simbol pengikat kita. Jadi, Joongie jangan pernah melepasnya ne? Arra?"
Ia mengangguk, membenamkan wajahnya kebawah. "Apa, itu berarti Joongie adalah milik Yunie? Begitu?"
"Ne, Joongie mau kan?"
"Ne. Joongie sangat mau. Joongie, mau." jawabnya dengan semangat.
"Kalau begitu," aku maju mendekatinya. "Joongie harus mencium Yunie."
"Ah? Cium Yunie? Un..untuk apa?" kulihat semburat merah dipipinya. Nampaknya ia malu karna aku menyuruhnya menciumku.
"Itu sebagai tanda, kalau Joongie menerima Yunie."
"Haruskah?" tanyanya lagi.
"Ne." kuanggukkan kepalaku untuk meyakinkannya.
"Ba..baiklah." kulihat ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Semakin dekat, semakin dekat, dan..
CUP
Singkat, sangat singkat ia menciumku.
"Joo..joongie harus pu..pulang. Go..gomawo Yunie." katanya bergetar. Segera ia berlari sambil menahan semburat merah yang tercetak diwajahnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sungguh polos dan menggemaskan.
Flash back end
.
Kutatap lagi kalung itu. Mengingatkan kembali cerita manis masa kecilku. ku genggam lalu mengalungkannya dileherku. Kalung itu sangat sederhana. Hanya kalung biasa yang bermatakan box kecil.
"Joongie, apa kau masih mengingatku hmm?"
Yunho POV end
.
.
Seorang namja kecil terengah-engah berlari. Ia tengah menggenggam sebuah bros kecil ditangan kanannya. Matanya yang besar mengerjap tatkala sinar matahari menembus retinanya. Tak dihiraukannya keringat yang sudah membasahi bajunya. Ia terus berlari, dan baru berhenti tepat dihadapan namja dengan mata musang yang tengah memunggunginya.
"Hah, hah," nafas namja cantik itu tersengal-sengal. Perlu waktu untuk ia bisa bicara seperti biasa.
"Yun, hah ha, Yunie." panggil namja cantik itu. Segera setelahnya, namja yang dipanggilpun menoleh.
"Joongie, kenapa nafasmu begitu? Kau habis berlari eoh?" tanya namja mata musang itu nampak khawatir.
"Ani." jawab namja cantik itu sambil tersenyum. Lalu ia menyodorkan tangan kanannya pada namja mata musang itu.
"Apa ini?" tanyanya keheranan.
"Bukalah,"
Namja mata musang itupun membuka tangan kanan namja cantik itu, dan matanya membesar saat dilihatnya bros berbentuk beruang kecil.
"Untuk Yunie?" tanya namja mata musang itu.
" ," namja cantik itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Gomawo Joongie."
"Ayo dipakai. Joongie juga sudah pakai, lihatlah!" namja cantik itu menunjukkan bros berbentuk gajah yang sudah disematkannya di baju.
"Ini hadiah balasan untuk Yunie, karna dulu Yunie sudah memberikan ini pada Joongie." jawab nanja cantik itu sambil mengambil kalung yang melingkar dilehernya.
"Begitu. Ne, gomapta." namja mata musang itu lalu tersenyum dan memeluk namja cantik dihadapannya. Namja cantik itu terkejut atas pelukan tiba-tiba itu, dirinya hanya diam mematung tak tahu harus berbuat apa.
"Yunie," desah namja cantik itu. Semburat merah menghiasi wajah putihnya.
.
.
.
Terik matahari menyinari kota Seoul pagi ini. Seorang namja tengah asik tertidur disebuah sofa. Tubuhnya menggeliat tatkala ia merasa gelisah. Keringat mengucur di dahinya. Wajahnya nampak gelisah, dan sayup-sayup ia mengguman.
"Yunie,"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Saya kembali dengan chap 6 ^^
Hoo. Apakah semakin jelas apa yang terjadi.. Ini full flash back masa kecil mereka.. Mian kalo tambah gaje.. Haha
Arigatou kemaren yg uda review.. Chap ini review lagi ne (^O^)
Chap selanjutnya lusa ne...
Review onegaishimasu...
