Two Sides Girl's Butler
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje, aneh, boring, typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai and Sasuke), Angst Alert! ANGST! Death-Chara here. VERY LONG FIC!
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
.
.
.
Kediaman Uchiha
Sebuah rumah besar yang terletak di sudut desa. Bergaya Jepang Kuno, dengan timbunan debu dan jalinan laba-laba disana-sini. Sampah bertebaran dengan ilalang setinggi pinggul menghiasi halaman. Semak belukar tumbuh subur, serta lumut hijau menempel di dinding rumah besar itu.
Lapuk, dimakan usia.
Satu tahun, 360 hari. Dua tahun, tiga tahun, empat tahun, dan seterusnya bukanlah waktu yang singkat untuk meninggalkan sebuah rumah. Kediaman yang dulunya merupakan kebanggaan bagi desa tersebut kini tak lebih dari sebuah rumah tua yang tak berpenghuni.
Itu jika binatang melata dan serangga tidak diperhitungkan.
Namun kini di salah satu kamarnya, terletak di ujung koridor, di tempat paling sudut dan nyaris tersembunyi seberkas cahaya menyeruak dari celah pintu. Kamar yang luas dan lapang. Berhiaskan tatami mahal dengan berbagai lukisan indah menggantung di dindingnya yang retak.
Dan lukisan itu akan semakin indah, jika saja substansi merah tidak menodainya.
Diantara penerangan yang remang-remang, sesosok tubuh meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh bergetar. Kemejanya sobek di berbagai tempat dan rambut ravennya menjuntai lemas karena keringat. Punggungnya melengkung dalam, sembari memeluk sebuah pigura dengan tangan gemetaran.
"Ibu… ibu…" bisiknya berulang-ulang dengan suara menyayat hati. Dipeluknya pigura itu semakin erat, hingga kacanya sedikit retak dan menggores lengannya.
"Tolong aku… Tolong…" isaknya parau. Digigitnya bibir bawahnya hingga berdarah, merasakan rasa besi mengaburkan pandangannya. "Temani aku disini…"
Hening.
Tidak ada jawaban.
"Kumohon, Ibu… Ayah… Aniki… siapapun, tolong temani aku." Lirihnya tak kalah pedih, berharap ada sebuah tangan terulur padanya. Sebuah tangan yang sudi menarik sosoknya yang gemetaran di lantai, mengenggam tangannya, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Seperti yang bocah pirang itu katakan.
Tersentak, mata Sasuke bergerak liar. Menyusuri setiap sudut kamar dengan cepat dan napas memburu. Dia masih mengingat dengan jelas kamar ini. kamar dimana ia menghabiskan sebagian besar waktu masa kecilnya. Disini dulu dia sering belajar bersama dengan Itachi, bertengkar, bahkan saling berebut remote TV.
Lalu setelah bertengkar kecil mereka akan tertawa bersama, sebelum memutuskan untuk pergi ke dapur dan mencomot onigiri di atas meja makan saat Sang Ibu mencuci piring. Dan Sang Ayah yang sedang meneliti dokumen hanya mengerutkan dahinya dan tersenyum tipis saat Sasuke memeluk ibunya dari belakang dan Itachi menepuk pundak Mikoto, menawarkan bantuan untuk berberes.
Seulas senyum ganjil terpatri di wajah Sasuke.
Ah, betapa dia merindukan suasana hangat itu.
'Naruto…'
Dalam sekejap senyuman anehnya menghilang saat nama itu terngiang di otaknya. Menghela napas getir, cepat-cepat dirogoh saku celananya dan mengeluarkan sebotol obat penenang. Menelan 6 butir sekaligus tanpa air, matanya kembali bergerak liar.
'Naruto…'
Lalu saat dia menyadari tidak ada siapapun kecuali dirinya, dengan cepat dia menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding hingga ia dapat mendengar dengung menyakitkan di telinganya.
Sakit.
Nyeri.
Pedih.
Bercampur menjadi satu.
Berbaur, lalu meledak secara bersamaan di setiap sel tubuhnya.
Membuat raganya semakin bergetar hebat menahan sakit, secara fisik dan batin.
Sakit karena kesendirian, dan juga rasa bersalah.
Memaksanya untuk meracau, berteriak, menjerit, dan menangis.
Dia masih bisa merasakan hangatnya darah Naruto saat cairan merah itu terciprat kearahnya. Dia masih ingat bagaimana ekspresi sekarat Naruto saat hujaman pisaunya semakin membabi buta. Dia masih ingat ketika Naruto berbisik lembut padanya, dan mengecup dahinya.
Menenangkannya…
Mengusap air matanya yang terus mengalir dari matanya yang menyorot hampa…
Ah… betapa ingin dia merasakan kehangatan itu lagi. Kehangatan dari sosok pirang yang berhasil menembus pertahanan hatinya.
Tapi dia tahu, itu tidak mungkin.
Karena dia telah membunuhnya, dengan tangannya sendiri.
Dan meninggalkannya sendirian seperti yang telah dilakukan keluarganya.
"Kalian semua kemana?" isaknya bak anak kecil. Tubuh tinggi remajanya seakan-akan hanya ilusi. Dia meraung, berusaha melepaskan rasa sesak dalam dada. "Kenapa kalian pergi? KENAPA?!" kini ia berteriak frustasi. Dilemparnya pigura sang ibu sekuat tenaga hingga pecah ke dinding seberang.
"Jangan bilang kalian pergi gara-gara aku!" tuding Sasuke seraya mengepalkan tinjunya. Mata onyxnya bergetar, menatap nyalang ke seluruh sudut kamar. "Jangan bilang kalau aku membunuh kalian! Jangan bilang kalau kalian pergi karena ingin menjauhiku! JANGAN BILANG KALIAN MENINGGALKANKU SELAMA INI KARENA KALIAN TAKUT PADA ORANG GILA SEPERTIKU!"
Pemuda itu melolong frustasi. Tubuhnya terhuyung kebelakang sebelum membentur dinding dan merosot lemah. Giginya bergemerutuk keras, lengannya memeluk dirinya sendiri dengan erat.
"Naruto…" nama itu meluncur dari bibirnya yang berdarah dalam bisikan. "Aku tidak membunuhmu, kan?" gemetaran, semakin keras terisak. "Kau masih hidup, kan? Kau… kau tidak mati seperti Ibu, kan?" kali ini ia tertawa kecil saat membayangkan sosok remaja pirang menyeringai kearahnya. Mata biru yang indah… senyum manis yang menyilaukan… pukulan dan bentakannya yang menyakitkan…
Air mata kini tidak sanggup ia bendung lagi. Tidak peduli jika orang mengatakan bahwa laki-laki tidak sepantasnya menangis, masa bodoh dengan harga diri. Yang dia butuhkan sekarang hanya Naruto dan keluarganya.
Hanya mereka.
'Oh, ayolah, Master… Kemana otakmu yang jenius itu?'
PRAANNGG!
Sebuah botol kaca menghantam kepala Sasuke.
"JANGAN LAGI! PERGI KAU!" jeritnya berang. Tak dihiraukannya darah yang mengucur deras dari kepalanya yang sobek akibat ulahnya sendiri. "PERGI KAU KE NERAKA!" botol wine yang baru saja ia teguk beberapa saat lalu kini juga ia benturkan ke kepalanya sendiri, menambah sobekan baru di helai ravennya.
Pedih…
Cih, persetan dengan rasa pedih ini. Persetan dengan pecahan kaca yang menancap di kulit kepalanya. Persetan dengan wajahnya yang terasa lengket akibat guyuran darah dan wine. Persetan dengan semuanya!
Yang dia inginkan hanyalah suara itu menghilang dari kepalanya.
'Heh. Kuberitahu kau satu hal, Master. Percuma saja kau berusaha menghancurkan kepalamu sendiri. Kuakui kalau itu menjijikkan, tapi itu tidak akan menghentikanku untuk selalu menemanimu, Master~' suara lembut nan mendayu itu memenuhi kepalanya. Suara yang manis, namun menyiratkan kekejaman luar biasa.
"Aku tidak butuh kau!" jerit Sasuke lagi, entah pada siapa. "Aku punya Ibu, Ayah, Aniki juga!" lanjutnya liar, penuh pengharapan. Sebuah senyuman lebar nan ganjil tersungging di bibirnya yang sobek disana-sini.
"Dan aku punya Naruto!"
'Ya ampun, kau benar-benar menyedihkan…' suara itu berkomentar. Dalam imajinasi pesakitannya Sasuke dapat melihat sesosok anak kecil berambut pirang mendadak muncul dari ketiadaan, menggeleng-gelengkan kepalanya lelah.
"KAU!" teriak Sasuke begitu keras, hingga lehernya nyaris tercekik. Matanya melebar menatap ke seberang ruangan, di mana seorang bocah manis berjongkok frustasi di sudut ruangan yang ia kenali sebagai kamarnya di Kediaman Uchiha ini.
Hanya halusinasi, tentu saja.
Namun sangat nyata bagi pesakitan gila seperti Sasuke.
'Sadarlah, Master! Mereka tidak akan menemuimu. Mereka. Muak. Melihatmu, itu sebabnya mereka pergi! Kau pikir siapa yang mau menatap sampah gila sepertimu?!'
Tercekat, Sasuke menggeleng kuat-kuat. "Tidak… Tidak mungkin! Kau bohong! Mereka menyayangiku, itu yang selalu mereka katakan!"
'Cih,' sosok itu meludah. Wajahnya yang tertutup topeng di bagian matanya mengeras. 'Kau sangat naïf. Kau pikir setelah semua tingkahmu, mereka masih menyayangimu? Apa kau tidak sadar bahwa segala hal yang ada pada dirimu itu membawa kesialan? Eksistensimu? Hidupmu? Cintamu? Semua itu hanya akan membunuh orang-orang yang kau sayangi!'
"Kau pikir itu karena siapa, Bocah Sial?! Kau yang selama ini selalu menghantuiku! Kau yang selama ini selalu memaksaku membunuh! Kau berbisik, merayu, bahkan menggodaku untuk menyakiti orang-orang yang kucintai! Bukan aku yang pembunuh, tapi KAU!" raung Sasuke marah. Diraihnya pisau lipat dan dilemparnya ke seberang ruangan.
Tapi bocah itu tidak bergeming.
"Mereka bilang-para dokter jiwa sialan yang merawatku dulu- kau hanya imajinasiku! Kau sebenarnya tidak ada! Aku hanya perlu melawanmu dengan pikiranku dan kau akan lenyap, seperti selama 3 tahun belakangan ini!" ujar Sasuke sembari tertawa penuh kemenangan. Matanya menatap nyalang pada sosok bocah kecil yang kini menyeringai seram.
'Kalau memang benar, kau tidak akan melenyapkanku.' Ucapnya dingin. 'Kau tidak punya pilihan lain selain membiarkanku menguasaimu.'
Sasuke menggeram marah. Napasnya memburu menahan tekanan batin. Ini pertama kalinya suara dalam kepalanya itu menampakkan diri, dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa sosok yang mendiami kepalanya itu adalah seorang anak kecil.
"Omong kosong! Kau bahkan tidak pernah ada! Lagipula buat apa aku memeliharamu, HAH?! Kau hanya-"
'Karena kau sendirian.'
Kata-kata Sasuke tenggelam di tenggorokannya.
'Kau telah dibuang. Dibuang oleh keluargamu, Bocah Pirang itu, dan juga takdirmu.'
"Tidak… tidak…" Sasuke menutup kedua telinganya, menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.
'Kau sendirian sekarang, Master. Percuma saja kau berharap. Kau hanya punya aku, hanya aku.'
"TIDAK!" raung Sasuke. Dengan cepat dia beringsut mundur, mencengkram pisau lipat yang berada di sakunya dengan kuat. "TIDAK! KAU BERBOHONG! AKU BAHKAN TIDAK TAHU SIAPA KAU!"
Terkekeh, anak kecil itu menyeringai kejam. Kaki kecilnya melangkah mendekati Sasuke. 'Benarkah? Kau tidak tahu siapa aku?'
Tepat sesaat sebelum Sasuke melemparkan pisau lipatnya ke jantung bocah itu, topeng kecil yang dikenakannya terlepas, menampakkan wajah sosok yang selama ini menghantuinya.
Dan seketika itu juga jantung Sasuke berhenti berdetak.
'Masih bisa bilang bahwa kau tidak mengenalku?'
I-ini tidak mungkin…
'Ah, dari wajahmu, sepertinya tidak.'
Mustahil…
'Hei, hei… berhentilah berwajah menyedihkan seperti itu. Tenang saja, aku akan selalu ada di sisimu. Bukankah kita berjanji akan selalu bersama?' Ucapnya tenang seraya menyentuh pipi Sasuke dengan lembut. Senyum kejam nan dingin tersungging di bibirnya.
TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!
'Bersama-sama, Master. Kau tidak akan bisa lari dariku. Kau tidak akan bisa melepaskan diri dari kegilaan ini.'
Tubuh mungil itu mendekat perlahan, untuk mendekapnya dalam sebuah rengkuhan dalam.
'Karena aku akan selalu menemanimu, Teme.'
'Untuk selamanya...'
Dan dalam pelukan itu, Sasuke meraung sejadi-jadinya.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
PLAKKK! #gampared
Just kidding… ^^v
.
.
.
6 tahun yang lalu…
Kediaman Uchiha.
"Itachi nii-san! Aku pergi dulu, ya!" seru seorang bocah berusia sekitar 10 tahun sebelum berlari kencang menjauhi rumahnya. Kaki mungilnya menyusuri setapak demi setapak jalan menuju ke arah taman kecil di pinggir hutan. Taman yang agak terbengkalai dan tidak banyak pengunjungnya.
Anak itu, Uchiha Sasuke, adalah anak bungsu dari pasangan Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Dikenal sebagai anak pendiam yang suka menarik diri dari lingkungannya. Berotak jenius dan berwajah dingin, berbeda dengan sang kakak yang murah senyum.
Itulah yang biasa dipikirkan orang jika mendengar namanya.
Namun, tak sepenuhnya mereka benar.
Bagaimanapun dia juga seorang anak kecil yang suka bermain. Tapi dia lebih suka bermain 'sendiri'.
Karena dia tahu, orang-orang yang mendekatinya hanya mengincar 'nama' Uchihanya saja.
"Hn, kosong, seperti dugaanku." Gumamnya pelan saat melihat taman itu kosong. Dengan semangat dilangkahkan kakinya ke dalam dan menaiki sebuah ayunan tua tanpa basa-basi.
Baru beberapa menit dia bermain, tiba-tiba matanya menangkap sesosok bocah yang tengah duduk di dekat seluncuran. Bocah tersebut memiliki rambut pirang cerah dan mata biru berkilauan yang kini sedang memandanginya.
Tidak menghiraukan bocah itu, Sasuke terus menjejak tanah, bermain ayunan sendirian. Dalam hati dia merutuk pelan. Dia tidak pernah melihat anak itu sebelumnya. Tapi Sasuke tidak peduli. Anak itu pasti memandanginya karena dia adalah seorang Uchiha.
'Semoga dia tidak kembali kesini lagi.' Batinnya dalam kebisuan.
.
.
.
Aneh. Ini sangat aneh.
Sepertinya nasib benar-benar ingin mempermainkannya.
Setiap petang, saat penduduk lain memilih untuk menutup pintu mereka menjelang malam, Sasuke selalu bertemu anak itu di taman.
Duduk terpekur, tanpa melakukan apapun.
Anak itu seolah-olah menunggunya datang, terserah kalian mau mengatakan dia narsis atau tidak. Tapi hanya keluarganya dan anak itu saja yang tahu bahwa dia selalu 'kabur' kesini setiap menjelang malam.
Dan dia tidak yakin ada orang yang cukup gila untuk bergabung dengannya, apalagi duduk ditempat yang sama setiap hari.
Yah… kecuali anak itu.
Awalnya Sasuke tidak menghiraukan. Hanya menatap tajam dan memberikan deathglare terbaiknya, berharap anak itu pergi. Namun sepertinya sia-sia saja.
Anak itu benar-benar keras kepala.
"Hei, kau." Seru Sasuke menghampiri anak itu. Lama-lama dia jengah juga diperhatikan saat dia bermain ayunan atau bergelantungan. "Pulanglah, ini sudah malam."
Naruto mengangkat wajahnya, mengerucut. "Aku ingin bermain"
"Aku sudah tidak memakai ayunan itu lagi dan kau bisa bermain. Seluncuran, tanah pasir, terserah. Asal kau jangan menatapku." Sasuke berkata dingin. Dilihatnya Naruto menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku memang ingin bermain, tapi tidak ada yang bisa kuajak bermain."
"Maksud-"
"Kau tidak mau bermain denganku, padahal aku tiap hari menemanimu disini." Protesnya dengan suara lirih. "Kau selalu bermain sendiri tanpa mengajakku, bahkan melihatku saja tidak."
"…"
Sasuke terperangah dalam diam. A-apa yang baru saja dia katakan?
"Aku…" Sasuke kehilangan kata-kata. Baru kali ini dia menemukan orang yang seperti Naruto. Disaat semua orang memujanya dan menyanjungnya, anak ini datang tiba-tiba lalu menemaninya sepanjang malam tanpa diminta.
"Aku hanya ingin berteman denganmu."
Dalam keterkejutannya, Sasuke dapat melihat binar biru Naruto agak meredup. Tercekat, dia dapat merasakan suatu ketidaksukaan saat melihat kilau safirnya berkurang.
"Hn, terserah kau sajalah." Sasuke mengangkat bahu dan menarik tangan Naruto, disambut senyum lebar pemiliknya.
"Hehehe…" bocah itu cengar-cengir. Tangannya terulur. "Perkenalkan, namaku Namikaze Naruto! Salam kenal err…"
"Sasuke," dengan malas Sasuke menjabat tangan bocah yang bernama Naruto itu. "Uchiha Sasuke."
.
.
.
Dan sejak saat itu, semuanya berubah.
Uchiha Sasuke, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang terkenal tak acuh, penyendiri, dan kurang bersosialisasi telah berubah menjadi seseorang yang… sedikit lebih riang.
Yeah, hanya sedikit.
Berterimakasihlah pada Naruto yang merubahnya sedrastis itu.
Setiap petang menjelang malam, setelah mengendap-endap dari kedua orang tuanya dan mendapat jitakan sayang dari Itachi, Sasuke akan bermain bersama Naruto. Awalnya terasa sangat aneh mengingat dia selalu bermain sendiri. Namun lama kelamaan, dia jadi terbiasa.
Bahkan terasa amat menyenangkan.
Sedikit demi sedikit Sasuke mulai mengetahui jati diri Naruto. Dia pindahan baru dari Konoha sekitar 2 bulan yang lalu karena mengikuti ayahnya yang ada urusan bisnis disini. Dan dari Konoha, Naruto membawa banyak permainan yang benar-benar baru bagi Sasuke.
"Hei, Sasuke… Kau mau memainkan permainan yang menarik?" tiba-tiba Naruto bertanya padanya pada suatu malam.
"Apa?"
Menyeringai jahil, Naruto mendeplak kepala Sasuke pelan. "Master and Slave."
"Hn?"
"Permainan yang sangat seru. Aturan mainnya mudah saja; kita janken, dan pemenangnya akan menjadi Master, sedangkan yang kalah Slave. Master dapat memanggil Slave dengan meneriakkan namanya dan menyuruhnya melakukan apapun. Bagaimana?" tanya Naruto bersemangat. Dahi Sasuke berkerut sejenak. Hmm… sepertinya menarik.
"Ok."
"Jangka waktunya seminggu, deal?"
Seringai terpampang di wajah cool Sasuke.
"Deal."
.
.
.
"NARUTO!"
"Ada apa, Master?"
"Bawakan aku limun."
"Baik, Master."
"NARUTOO!"
"Ya, Master?"
"Pijat pundakku."
"Yes, Mas-"
"NARUTOOO!"
"Hm?"
"Cium kakiku."
BRUAGGHH!
"Kurang ajar kau, Teme!" teriak Naruto. Kakinya menginjak-injak kepala Sasuke yang tersungkur di depannya. "Ini penjajahan! Ini sudah hari ke 5 dan kau semakin seenaknya!" semburnya lagi. Sasuke langsung beringsut menjauh.
"Hei, bukannya kau itu budakku?" balas Sasuke tak terima. Dahi Naruto berkerut kesal.
"Tapi bukan berarti kau bisa menghinaku seperti ini, kan! Berteriak-teriak nista memanggil namaku di sekolah, menyuruhku mengekorimu setiap hari, dan memberi perintah yang tidak-tidak? .LU!" seru Naruto dengan kepala berasap. Kakinya menginjak-injak punggung Sasuke yang tersungkur di tanah dengan brutal. Lalu tanpa merasa bersalah, Naruto melenggang pergi menjauhinya, meninggalkan Sasuke yang mengaduh karena beberapa tulang retak.
"Dia monster…"
.
.
.
"NARUUU!" teriak Sasuke OOC. Kakinya menyusuri taman seraya terus berteriak.
"APAAA?!" bentak Naruto yang ternyata sedang berlatih Kenpo di sudut taman. Melihat sosoknya, Sasuke menyeringai. Naruto selalu berada disini setiap petang, jadi sangat mudah menemukannya.
"Aku punya perintah untukmu!" seru Sasuke dengan langkah yang semakin mendekati Si Pirang. Wajah Naruto langsung berubah masam mendengarnya.
"Ayolah, ini hari terakhir aku bisa menyuruh-nyuruhmu, kan?" bujuk Sasuke.
Entah hanya perasaan Sasuke atau tidak, wajah Naruto tiba-tiba menegang ketika mendengar kata-katanya. Namun hanya sekejap sebelum wajah kerasnya kembali.
"Baiklah," ucap Naruto nyaris berbisik. Kepalanya tertunduk sedikit. "Apa perintahmu, Master?"
Sasuke terkesiap. A-aneh sekali… Kenapa Naruto mendadak jadi kalem begini? Biasanya dia akan mencak-mencak dulu sebelum mengiyakan. Bahkan terkadang menonjok Sasuke dan menginjak kakinya.
"Temani aku berkeliling, ya? Taman ini lebih luas daripada yang kau kira. Banyak hal menarik yang bisa kau dapati disini." Ucap Sasuke, kesulitan mengatur nada suaranya agar tidak terdengar terlalu bersemangat. Tapi sebenarnya memang iya. Dia sangat bersemangat mengajak Naruto jalan-jalan. Dia ingin menunjukkan betapa indahnya taman ini daripada kelihatannya.
Sasuke menyadari, bahwa keberadaan Naruto kini membawa pengaruh besar bagi dirinya. Sudah hamper 1 tahun mereka berteman, dan Naruto seolah menjadi candu bagi Sasuke. Sasuke sangat antusias dalam menyambut datangnya petang hari, dimana dia akan menemukan Naruto berdiri di taman dengan kilau pancaran matahari terbenam yang terbias di rambut kuningnya.
Menunggunya…
Dan menemani kesendiriannya.
"Ayo." Ajak Sasuke seraya menarik tangan Naruto, tanpa menyadari setitik air mata jatuh dari safir Si Pirang.
"Ya, untuk terakhir kali…"
.
.
.
"Sasuke?"
"Hn."
Naruto menghela napas berat. Wajahnya tertutupi sebelah tangan.
"Siapa orang yang paling kau sayangi di dunia ini?" tanya Naruto dengan nada aneh. Sasuke menaikkan alisnya.
"Kenapa kau menanyakan hal aneh seperti itu?"
Menggeram gusar, kepalan tangan Naruto mendarat di pipinya. "Sudah jawab saja!" bentaknya garang, menatap Sasuke yang terjembab dengan wajah terkubur di tanah.
"I-Ibuku…" Sasuke menjawab dengan terbata-bata. Perlahan diangkatnya wajah tampannya dari tanah, memandangi Naruto dengan tatapan stoic gagal.
"Oh, begitu ?" tanya Naruto, agak terbata. Mata safirnya bergerak-gerak tak beraturan, menolak memandang Sasuke.
"Hei, hei…"
"Su-sudahlah! Lupakan saja!" seru Naruto dengan wajah bersemu menahan malu. "Aku mau pulang!" tergesa-gesa, Naruto beranjak dan berjalan meninggalkan Sasuke.
Sebelum sebuah tangan putih mencekal lengannya.
"Kau menyembunyikan sesuatu." Kata Sasuke dengan suara dalam. Mata onyxnya menyipit tajam, mencari celah didalam kilau safir Naruto. Dan benar saja, dia menemukannya.
Naruto balik memandang tajam Sasuke. Kedua alisnya nyaris bertaut. "Sasuke…" panggilnya tegas.
"Hn?"
"Dulu aku mempunyai seorang teman."
Mengerjap bodoh, Sasuke mendelik. "Hah?"
"Kami sangat akrab, sudah hampir seperti saudara. Lengket seperti lem. Aku pikir, kami akan selalu bersama, sebelum dia pindah ke luar negeri dan meninggalkanku." Ucap Naruto lirih. Matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Naru…"
"Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku sampai membencinya setengah mati, bertanya-tanya mengapa dia tidak pernah menemuiku. Jika aku memang temannya, kenapa dia tidak mengunjungiku?" Suara Naruto bergetar, membuat Sasuke salah tingkah sekaligus sedih karena baru kali ini melihat sisi lemah Naruto.
"Naruto, kau jangan—"
"Diadaptasi dari manga Guilty Crown, episode 43," Potong Naruto dengan nada datar. "Dengarkan dulu sampai habis, Sasuke. Setelah ini dialog puncaknya."
"…"
"…"
"…"
"BAKA YAROU!"
BUGH!
"Ittai!" Naruto menjerit sembari memegangi kepalanya yang baru saja menjadi korban keganasan Sasuke. "Apa yang kau lakukan, hah?! Memangnya apa salahku?"
"Masih berani bertanya?" Sasuke mengancam seraya menunjukkan kepalan tangannya. Oh, betapa OOCnya kau, Uchiha…
"Ti-tidak."
Sasuke menghembuskan napasnya berat. Tahan… tahan…
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
Lagi. Lagi-lagi wajah Naruto menegang. Mata birunya langung bergerak-gerak liar, menghindari tatapan tajam Sasuke.
"Ka-kalau… kalau aku pergi—maksudku bukan pergi ke alam baka—misalnya meninggalkanmu seperti dalam episode 43, apa kau akan membenciku?" tanya nya terbata.
Mata Sasuke membesar sempurna.
"Maksudmu, kau akan pergi dari sini?"
Naruto menghela napas. Ditangkupkannya kedua pipi Sasuke dengan telapak tangannya. "Apa kau menyayangiku?" tanyanya polos, khas anak umur 10 tahun. Matanya tak lepas menatap lekat wajah Sasuke yang langsung dipenuhi semburat merah.
"A-apa yang kau bicarakan?" tanya Sasuke gugup. Jantungnya berdegup kencang.
"Jika aku tidak ada disampingmu, anggap saja aku berada dalam tubuh ibumu, ya? Jadi saat kau melihat beliau, kau seolah-olah akan melihatku. Sehingga kau… tidak akan merasa bahwa aku telah meninggalkanmu." Kata Naruto tiba-tiba dengan nada serius.
"Na-Naruto… Kau-kenapa kau berkata seperti itu?"
"Kalau kau menganggapku seperti itu, kau tidak akan membenciku, kan? Karena kau sangat menyayangi ibumu. Jadi walau aku pergi, kita tetap akan menjadi teman."
"Naruto! Sebenarnya apa yang kau katakan?!"
"Aku berjanji, aku akan selalu menemanimu. Walaupun aku tidak ada disampingmu, walau kau tidak bisa melihatku, aku akan selalu bersamamu. Memang aku dan ibumu tidak mirip, tapi kau tidak keberatan menganggap aku ada disisimu dalam wujud ibumu, kan?" tanya Naruto lagi dengan sedih. Walaupun bibirnya melengkungkan senyuman, tetap saja di mata Sasuke wajah Naruto menyiratkan rasa pedih.
"Namikaze Naruto," panggil Sasuke, dingin. "Sebenarnya. Apa. Yang. Kau. Bicarakan?" tanya nya dengan penekanan di setiap katanya, berusaha mengatur emosi. Dia bingung, takut, dan kesal. Bingung karena tidak mengerti apa maksud kata-kata Naruto, kesal karena merasa dipermainkan.
Dan takut jika apa yang dikatakan Naruto benar-benar terjadi.
Sungguh, Sasuke tidak sanggup membayangkannya.
"Nah, kalau yang itu baru episode 44." Tiba-tiba Naruto nyengir. Ekspresi sedihnya menguap entah kemana.
TWITCH!
"Kan sudah kubilang, dengarkan dulu sampai habis. Dasar Teme."
TWITCH! TWITCH!
"Kau ini…" geram Sasuke dengan tangan terkepal. Jadi dia dipermainkan, begitu?!
"Hahaha!" Naruto tertawa, memegangi perutnya geli. Air mata sampai menetes dari kedua safirnya. "Mana mungkin aku serius! Aku tidak akan meninggalkanmu, Teme! Aku akan selalu menemanimu." Ucapnya sambil terkikik geli.
Sasuke terdiam. Matanya memandang tajam Naruto yang masih sibuk menertawakannya. Dia merasa… ada yang janggal. Tawa Naruto begitu kering dan terkesan dipaksakan. Air matanya juga seperti bukan karena menahan tawa.
Seperti tangisan pedih.
"Berjanjilah…" bisik Sasuke lirih, membuat Naruto mendongakkan kepalanya. "Berjanjilah bahwa kau tidak akan meninggalkanku." Ucapnya lagi. Perlahan dia mendekati Naruto dan memeluknya erat. Dia tidak ingin Naruto pergi, dia tidak ingin Naruto meninggalkannya.
Karena Naruto adalah miliknya…
"Berjanjilah, aku mohon."
Mengulum senyuman miris, Naruto membalas pelukan Sasuke.
"Your wish is my command." ucapnya sembari terkikik kecil dengan air mata yang masih mengalir.
"Master..."
.
.
.
Namun sejak saat itu, Naruto menghilang.
Dia mengingkari janjinya.
Naruto pergi.
Meninggalkan Sasuke sendiri menunggunya di bangku taman saat petang sampai tengah malam menjelang.
Dia tidak pernah kembali, sekeras apapun Sasuke memanggil namanya…
.
.
.
"Okaasan," panggil Itachi dengan nada khawatir. "Apa Sasuke sudah makan?"
Mikoto menatapa Itachi sejenak sebelum menggeleng lemah.
"Sudah 1 minggu, ya…" desah Itachi. Jemari lentiknya menari di helaian rambutnya. "Sudah seminggu Sasuke bersikap aneh." Lanjutnya cemas. Matanya melirik kamar Sasuke yang terletak di lantai dua dengan pandangan tak terdefenisi.
"Dia tidak mau pergi ke sekolah dan tidak mau makan. Selalu mengurung diri di kamarnya tanpa melakukan apapun. Dia bahkan tidak mau bicara." Sambung Mikoto tak kalah cemas.
"Apa Ibu sudah membicarakannya dengan Ayah?" tanya Itachi, memalingkan pandangan dari kamar Sasuke. Mikoto mengangguk.
"Kami berencana membawanya ke psikiater besok. Berubah menjadi seperti mayat hidup dalam waktu sehari bukan masalah sepele, Itachi."
"Aku mengerti," Itachi mengangguk mengiyakan. "Dan sebaikanya Ibu melihatnya sebentar. Siapa tahu dia mau makan."
Serentak mereka berdua memandang pintu kamar Sasuke—lagi. Kekhawatiran tersirat jelas dari wajah keduanya. Pada hari itu—seminggu yang lalu—Sasuke pulang ke rumah saat tengah malam dalam keadaan yang menyedihkan.
Sorot mata kosong, tubuh basah kuyup terkena guyuran hujan, dan wajah yang dingin tanpa ekspresi.
"Dia berbohong."
Hanya kata itu yang mereka dengar terakhir kali sebelum Sasuke berubah drastis seperti sekarang.
"Sasuke…" panggil Mikoto seraya membuka pintu kamar Sasuke. Dilihatnya anak itu sedang menatap langit dari balik jendela tanpa bergeming sedikitpun.
"Makanlah, sudah 4 hari kau tidak makan apapun."
Diam.
Sasuke hanya diam. Bahkan menoleh sajapun tidak.
Menghela napas, Mikoto menghampiri Si Bungsu kemudian ikut duduk disampingnya. Mikoto tidak bertanya tentang apa yang telah terjadi—mereka sudah bertanya sejak beberapa hari yang lalu dan mereka tidak pernah mendapatkan jawaban—melainkan hanya mengelus kepala Sasuke lembut.
"Ibu tidak tahu apa yang terjadi padamu," Mikoto mengecup puncak kepala Sasuke penuh sayang. "Tapi Ibu akan selalu menemanimu."
DEGGG!
Tubuh Sasuke menegang hebat. Matanya yang semula menyorot kosong kini bergerak nyalang. Dengan cepat Sasuke membalikkan badan dan mendapati Sang Ibu tengah melotot kaget.
"Sasuke? Kau kenapa?" tanya Mikoto heran. Elusannya berhenti begitu saja.
Sasuke kecil tidak menjawab. Matanya masih bergerak-gerak liar. Cepat. Napasnya terengah-engah sembari menatap Mikoto dengan tajam.
'Jika aku tidak ada disampingmu, anggap saja aku berada dalam tubuh ibumu, ya? Jadi saat kau melihat beliau, kau seolah-olah akan melihatku.'
"KELUAR!" Sasuke berteriak histeris, membuat Mikoto kaget setengah mati. "KELUAR KAU, DASAR PEMBOHONG!" tangan kecilnya meraih vas bunga dan melemparnya kearah Mikoto.
"Sasuke!" jerit Mikoto seraya menghindar dari lemparan vas bunga. "Kau kenapa?!"
Gigi Sasuke bergemerutuk keras. Matanya melotot. "KUBILANG, KELUARRR!"
PRANGG!
Kini cermin yang tergantung di dinding melayang kearah Mikoto.
"Sa-Sasuke…" bisik Mikoto tak percaya. Syok. Se-sebenarnya apa yang terjadi pada anaknya? Mengapa Sasuke bisa menjadi seperti ini?
Terkesiap, Mikoto memandang Sasuke yang bersiap-siap melempar cutter di tangannya dengan wajah horror. Bergegas dia berlari keluar kamar dan menutup pintu, tepat sebelum sebuah bunyi benda menancap terdengar dari baliknya.
"Sa-Sasuke…" lirih Mikoto, merosot ke lantai. "Sasuke anakku…" bisiknya dengan tubuh gemetaran. Wajahnya tersembunyi dibalik tangannya.
"Apa yang terjadi padamu?"
.
.
.
Sasuke menatap pintu dengan cutter yang menancap di depannya geram. Kepalanya menggelegak panas, napasnya terengah-engah. Naruto! Tadi itu Naruto! Anak itu tadi datang ke kamarnya, mengelus kepalanya!
"Naru…" panggil Sasuke lirih, berharap bocah berambut pirang itu muncul lagi di hadapannya dan bermain bersamanya. "Naru…" panggilnya lagi, kali ini dengan mata yang menyusuri kamarnya sendiri.
Nihil.
Naruto tidak ada.
"Naruto…"
'Kau memanggilku, Master?'
DEG!
Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak.
"Naruto?" Sasuke menatap sekitarnya dengan senang. Matanya berbinar-binar. "Dimana kau?"
'Disini, aku disini, Sasuke.'
"Dimana? Kau ada dimana? Aku tidak dapat melihatmu." Tanya Sasuke penuh pengharapan, sehingga terlihat sedikit menyedihkan saat melihatnya mencari-cari sosok itu dikamarnya sendiri.
'Aku ada di dalam sini, Sasuke. Di dalam hati dan pikiranmu.'
Mengerenyit, Sasuke memegang kepalanya sendiri. "Disini?"
'Iya, disini.'
"Kenapa kau bisa berada disini? Kau bilang… kau bilang kau berada dalam tubuh Ibu."
'Memang benar. Tapi sebenarnya… hihihi—sebenarnya yang ada dalam tubuh ibumu itu bukan Naruto yang sebenarnya. Dia adalah 'Naruto' yang menghasutku untuk pergi meninggalkanmu.'
"Maksudnya?"
'Sebenarnya aku dihasut oleh iblis dalam hatiku untuk meninggalkanmu. Itu lho… yang seperti di kartun-kartun. Dimana ada Sang Iblis di sebelah kiri dan Sang Malaikat di sebelah kanan saling berbisik-bisik. Nah, Si Iblis itulah yang ada dalam tubuh ibumu. Sedangkan Naruto yang asli ada disini!'
"Jadi maksudmu…"
'Maksudku, suatu saat nanti ibumu akan berpikir untuk meninggalkanmu juga. Dia akan menghasut ibumu, seperti yang dia lakukan padaku. Tapi karena aku kuat, aku berhasil mengalahkannya. Namun kalau ibumu…'
"Tidak… TIDAK! Ibu tidak mungkin meninggalkanku!"
'Kau benar-benar tidak mau ibumu meninggalkanmu?'
"Tidak, bukan ibu. Tapi Naruto! Aku tidak ingin Naruto meninggalkanku!"
'He? Aku kan disini? Yang didalam tubuh ibumu itu iblis Naruto yang—'
"Aku tidak peduli! Walaupun iblis… walaupun malaikat… dia tetap bagian dari Naruto!"
'Wah, wah… aku tersanjung. Kalau begitu, bunuh saja ibumu, Sasuke.'
"Sudah kubilang, aku—"
'Dengarkan dulu sampai habis! Begini, kalau kau membunuh ibumu, otomatis iblis Naruto—hihihi… aku menyebut namaku sendiri—akan menghilang dan bergabung denganku disini, begitu.'
"Tapi… aku tidak mungkin menbunuh Ibu. Dia akan mati."
'Bicara apa kau? Dia tidak akan mati. Dia akan selalu hidup di dalam hati dan pikiranmu, seperti aku. Dan bukankah itu lebih baik? Daripada dia meninggalkanmu selamanya ketika dia mati nanti, lebih baik kau membunuhnya sekarang. Jadi dia bisa menemanimu disini seperti yang kulakukan!'
"Benarkah?" tanya Sasuke girang.
'Benar. Percayalah padaku!'
"Huh, terakhir kali aku percaya padamu, kau malah pergi."
'Hahaha… tapi aku kembali kan? Aku kan, sudah berjanji akan selalu menemanimu.'
Tersenyum kecil, Sasuke memegangi dadanya sendiri. Baiklah, dia akan membunuh ibunya!
"Naruto…"
'Apa?'
"… Suki desu."
'…'
'…'
'Suki da yo, Sasu-Teme.'
.
.
.
Dan akhirnya, terjadilah.
Hal yang terakhir Sasuke ingat tentang malam itu adalah tangannya sendiri yang berlumuran darah.
Dengan jasad Mikoto yang terbaring di depannya.
Memandang kosong dirinya yang jatuh terduduk seraya meraung keras diantara suara petir diluar sana…
.
.
.
"Dia menderita skizofrenia—lebih tepatnya pra-paranoia skizofrenia."
Sasuke menatap kosong kearah Dokter Kabuto, psikiater yang memeriksanya. Lalu mata hitamnya bergulir kearah Sang Ayah dan Itachi yang menatap syok padanya.
"Skizofrenia?" desah Itachi tak percaya. "Adikku penderita skizofrenia?"
BRAKK!
"SIAL!" rutuk Fugaku seraya menghantamkan tinjunya ke dinding hingga retak sedikit. Matanya menyiratkan amarah yang amat sangat.
"Ayah…" panggil Itachi berusaha menenangkan. Namun tidak berhasil. Fugaku malah semakin frustasi dan langsung keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun.
Itachi memejamkan matanya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Masih segar dalam ingatannya kejadian malam terkutuk itu, dimana dia berlari kearah kamar ibunya dengan panik setelah mendengar suara teriakan dari sana dan mendapati Sang Ibu sudah tak bernyawa dengan sebuah pisau menancap di dada dan lehernya.
Bersama Sasuke yang terduduk dengan tangan berlumuran darah disampingnya.
"Aku membunuhnya, Aniki…" Sasuke berkata dengan suara bergetar. "Aku membunuh Ibu…"
Itachi memejamkan matanya semakin erat. Bayangan Sasuke terlalu mengguncang batinnya. Heh, siapa sangka bocah berumur 10 tahun dapat membunuh ibunya sendiri yang sedang terlelap sementara Sang Ayah masih sibuk rapat di kantor?
"Kenapa dia bisa terkena penyakit itu?" tanya Itachi. Dia memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Dia memang merasa sangat syok. Saking syoknya dia sampai mengira bahwa semua ini hanya mimpi. Namun dia sadar; ini nyata.
Tapi Sasuke lebih membutuhkan perhatiannya sekarang daripada terus berlarut-larut dalam kesedihan.
"Sepertinya karena keturunan. Sangat jarang kasus anak-anak yang menderita skizofrenia diumur semuda ini. karena itu saya berspekulasi bahwa garis keturunanlah penyebabnya."
"Hn. Aku memang sempat mendengar bahwa Obito Uchiha juga menderita penyakit yang sama."
"Dan perlu Anda ketahui, Tuan Uchiha, bahwa semakin muda usia penderita, maka semakin parah pula penyakitnya nanti. Skizofrenia akan terus berkembang jika tidak ditindak lanjuti lebih lanjut. Halusinasinya akan semakin berbahaya, bahkan bisa sampai membunuh orang lain."
Itachi terdiam. Cih, dokter ini tidak tahu bahwa Sasuke sudah membunuh orang. Walau kematian Mikoto dirahasiakan, tetap saja Itachi merasa kesal karena Kabuto mengatakannya dengan nada ringan.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?"
"Saya sudah memeriksanya," Kabuto melirik Sasuke yang terduduk dengan sorot mata hampa disampingnya. "Dia menderita halusinasi parah. Halusinasi auditorik-visual yang disebabkan karena pemicu stress. Saya menduga ada seseorang yang menjadi pusat perhatiannya selama ini, namun entah mengapa orang tersebut tiba-tiba malah menjadi obyek halusinasinya."
"Begitu." Sahut Itachi dingin. Dia ikut memandang Sasuke. Apakah kejadian ini ada hubungannya dengan perubahan sikap Sasuke beberapa hari yang lalu?
"Satu-satunya jalan adalah menghapus memorinya, Tuan Uchiha. Kita harus menghapus memori Sasuke tentang orang tersebut—obyek halusinasinya. Ini bertujuan agar skizofrenianya tidak kambuh atau bertambah parah. Selain itu, dia juga harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa dengan pengamanan penuh." Kata Kabuto lagi.
"Bagaimana, Sasuke? Apa kau bersedia memorimu dihapus?" tanya Itachi blak-blakkan. Dia sudah terlalu lelah dengan semua ini. Hidupnya berubah total dalam waktu beberapa hari saja dan dia sudah tidak sanggup dengan semua ini.
Tanpa diduga, Sasuke mengangguk lemah.
"Baiklah," Kabuto menghela napas. Dia mengambil pendulum dari balik laci mejanya dan beranjak menghampiri Sasuke. "Kau yakin?"
Lagi-lagi Sasuke mengangguk.
"Jadi… siapa orang yang ingin kau lupakan?"
Kedua onyx Sasuke seketika menggelap. Sorot matanya semakin hampa. Dengan lemah, dia menggerakkan bibirnya.
"Namikaze Naruto," bisiknya lirih. "Tolong buat aku melupakan dia."
.
.
.
To Be Continued. (Beneran ^^v)
Hello… Rei desu! Hehehe… updatenya cepet gak? Cepet dong? Menurut Rei ini udah cepet banget. (tipeorangsukamolor)
Ne, chapter kali ini full flashbacknya Sasuke. jadi gomen buat yang nunggu kelanjutan kisah Naruto atau Sai. Dan bagi yang penasaran tentang masa lalunya si Pantat Ayam #plakk!# udah terjawab disini. #emangnya ada yang penasaran?#
Maafin Rei ya, kalau chap ini berasa angst gagal. Rei gak pernah baca fic angst, malah sok-sok an buat. #dirajam admin FF# Dan Rei juga minta maaf kalau kali ini reviewnya nggak bisa Rei balas. Tapi percayalah! Rei amat sangat bahagia membaca review kalian. Jingkrak-jingkrak sampe mencak sendiri bacanya.
Untuk sekedar informasi, kayaknya 2-3 chapter lagi nih fic bakal tamat deh. Udah gak ada ide lagi, jadi maklum aja ya, kalau makin lama ceritanya makin mengecewakan TmT #pundung#
Yosh! Sampe disini dulu bacotannya. See U at next chap!
Mind to RnR?
