My Beauty Rider

.

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin

Genre : YAOI/Shonen-ai

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost ya readers semua. Dan ini adalah karya pertama saya di dunia perFFan.

.

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

···

Chap 7

···

Pagi yang cerah dikediaman Jung Yunho.

Suara denting sendok dan garpu yang beradu terdengar dari ruang makan kediaman Jung Yunho. Terlihat tiga orang tengah menikmati sarapannya. Suasana canggung terasa kental menyelimuti ruang makan kediaman Yunho itu. Semuanya diam menikmati sarapannya pagi itu. Merasa keadaan yang sangat sepi, terdengar suara berat memulai pembicaraan.

"Bagaimana keadaanmu Jung Yunho?"

Sangat lama Yunho diam sebelum ia menjawab, "Baik." dengan malas dan dingin.

"Appa dengar kau sering balapan eoh? Apa benar begitu?" ya. Orang dengan suara berat itu adalah appa Yunho. Orang tua Yunho semalam baru tiba di Korea, setelah 9 tahun lamanya mereka menetap diluar negri.

"Ne. Benar. Waeyo?" tanya Yunho masih malas, ia hanya mengaduk-ngaduk sarapannya dan menatap tak selera.

"Ck, apa kurang uang yang appa kirimkan tiap bulan sehingga kau harus ikut balapan liar seperti itu eoh?"

"Anio. Aku hanya malas diam dirumah ini SENDIRIAN." jawab Yunho dan menekankan kata sendirian.

"Sudah yeobo, teruskan dulu makanmu. Nanti kita bicarakan masalah ini setelah sarapan." kini Mrs. Jung menengahi perdebatan kedua namja Jung itu.

"Yunho changi, appa dan eomma sangat merindukanmu. Apa kau tak merindukan kami eoh?"

Yunho hanya memandang sekilas pada eommanya, lalu menundukkan kepalanya lagi sambil mengaduk sarapannya.

"Dari kemarin semenjak kami pulang, kau sama sekali tak menyapa kami. Apa kau benar-benar tak merindukan kami?" tanyanya lagi.

"Apa harus aku jawab?" jawab Yunho sambil menatap tajam mata eommanya. "Aku kenyang. Aku mau keluar dulu."

Yunho pergi meninggalkan ruang makan begitu saja tanpa menatap kedua orang tuanya. Sementara appa dan eommanya hanya memandang kepergian putra tunggalnya itu dengan perasaan tak menentu. Perasaan kecewa, sedih dan bersalah bercampur jadi satu. Mereka merasa bersalah telah meninggalkan putra mereka yang masih kecil seorang diri. Sungguh keterlaluan, tapi itu mereka lakukan untuk menjadikan Yunho anak yang mandiri.

Ya, baru mereka sadari, ternyata cara yang mereka lakukan adalah salah. Sekarang setelah 9 tahun mereka meninggalkan seorang Yunho dan datang kembali dengan harapan Yunho akan menerima mereka seperti dulu, mereka tak memikirkan bagaimana perasaan Yunho sekarang.

"Bagaimana ini yeobo, sepertinya Yunho sangat marah pada kita." Mrs. Jung terlihat sangat terpukul melihat kelakuan putra tunggalnya itu.

"Sudahlah yeobo, memang kita yang salah. Dulu meninggalkan Yunho sendirian disini. Kita harus berusaha agar Yunho mau memafkan kita. Bagaimanapun perusahaan kita akan kita wariskan padanya."

"Ne,"

Sementara itu, Yunho yang tengah kesal karna kedatangan tiba-tiba dari orang tuanya memutuskan untuk keluar. Ia sangat lelah, karna kedatangan yang sangat tiba-tiba itu. Ia belum siap untuk bertemu lagi dengan kedua orang tuanya. Ia masih sangat kesal atas kejadian yang menimpanya dulu. Ia belum bisa memaafkan kelakuan orang tuanya dulu yang meninggalkannya sendirian disini.

.

Yunho POV

Aku begitu kesal karna kedatangan eomma dan appa. Yah, kuakui memang aku masih kesal pada mereka. Mengingat perlakuan mereka dulu kepadaku, aku masih belum menerimanya. Meninggalkanku sendiri disini, dan tiba-tiba saja mereka datang kembali setelah 9 tahun lamanya mereka tak pernah mengunjungiku. Mereka hanya mengirimkan surat dan kadang kala menyapaku ku lewat telpon. Aku sungguh tak berselera makan, jadi kuputuskan untuk keluar. Aku masih sangat kesal, ku tendang kaleng yang ada tak jauh dariku, cukup keras. Sampai kaleng itu mengenai seseorang.

"Wakk,"

Aku kaget menyadari seseorang terkena tendanganku, aku segera berbalik dan hendak kabur, namun perasaan aneh menyelimutiku.

Deg

Kurasakan jantungku berdetak, ada apa denganku? Ah, ini.

"Joongie," desisku. Aku ingat, kejadian ini sama dengan 9 tahun yang lalu. Saat pertama kali aku bertemu dengan Joongie. Waktu itu tak sengaja kaleng yang ku tendang mengenai kepalanya, dan saat pertama kali kulihat wajah cantiknya aku mengiranya yeoja.

"Hah, kenapa bisa sama. Pertama kali aku bertemu dengan Kim Jaejoong juga aku mengiranya yeo-, tu tunggu. Kim Jaejoong? Bu..bukankah itu?"

Aku segera berlari kembali ke rumah, karna teringat sesuatu. Segera ku ambil kotak yang kutemukan pagi tadi. Dengan kasar kubuka kotak itu dan mengambil kertas di dalamnya.

"Kim Jaejoong. Benar, nama Joongie adalah Kim Jaejoong. Aku sampai lupa, karna aku lebih sering memanggilnya Joongie. Apakah mungkin Jaejoong itu adalah kau, Joongie?"

Yunho POV end

.

.

Jaejoong tengah membereskan pakaian appanya. Hari ini appanya diperbolehkan untuk pulang. Jaejoong tengah sibuk beres-beres sehingga tak disadarinya Junsu sudah masuk ke dalam.

"Annyeong hyung, annyeong ahjussi."

"Akh, Su-ie, kapan kau sampai?"

"Baru saja hyung, sini biar aku bantu." Junsu ikut membereskan keperluan Mr. Kim.

"Gomawo Su-ie kau mau mengantar kami pulang."

"Ah hyung, jangan sungkan-sungkan. Nah sudah beres. Kajja kita pulang hyung."

"Ne, ayo appa. Joongie bantu berdiri."

Jaejoong memapah appanya hingga berdiri. Setelahnya mereka segera turun untuk mengurus administrasi.

.

Yunho POV

Aku berpikir seharian mengenai kemungkinan Jaejoong adalah Joongie ku atau bukan. Aku sungguh frustasi. Aku sangat berharap kalau memang benar Jaejoong adalah Joongie ku. Karna nampaknya, aku mulai menyukai namja Kim itu.

"Ah, kenapa aku baru sadar. Bukankah ia memang begitu mirip dengan Joongie ku. Rambut almond, wajah putih, dan bibir merahnya. Argghh, apa yang harus aku lakukan?"

Aku menatap nanar kotak yang tengah kupegang ini. Di dalamnya masih terdapat kertas dan bros pemberian Joongie. Otakku berputar memikirkan cara yang tepat untuk membuktikannya.

"Hemm," aku terus berfikir sampai pintu kamarku diketuk seeorang.

"Nuguya?"

"Yunho, ini eomma sayang. Eomma boleh masuk?"

"Ne," jawabku malas. Sebenarnya aku sangat malas harus mengobrol dengan orang tuaku.

"Kau sedang apa changi?" tanya eomma sambil duduk menyebelahiku.

"Tidur." jawabku asal.

"Yunie," kulihat eomma tengah menatapku serius. Matanya sayu memandang kearahku. "Yunie, jeongmal mianhaeyo, maafkan appa dan eomma ne."

Kulihat eomma tertunduk disampingku, wajahnya dibenamkan diantara kedua tangannya. Kurasakan tubuh eomma yang bergetar, nampaknya eomma tengah menangis.

"Eo..eomma." kataku terbata. Sejujurnya aku agak risih melihat eomma menangis begini.

"Yun, Yunie-ah. Mianhaeyo, jeongmal mianhae."

"..."

"Eomma menyesal changi, sangat menyesal. Meninggalkanmu disini sendirian. Appa dan eomma awalnya hanya ingin mendidikmu agar bisa mandiri. Agar nanti saat kau mewarisi perusahaan, kau bisa menjalankannya dengan mandiri. Tapi tak kami kira akan seperti ini. Kau malah membenci kami, sungguh Yunie, eomma dan appa tak bermaksud."

"Eo..eomma." kataku terbata.

"Eomma benar-benar menyesal Yunie, benar-benar menyesal."

Kulihat eomma sangat terguncang, tubuhnya bergetar hebat menahan tangis. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, sebenarnya aku juga tak ingin membuat hati mereka bertambah sakit dengan sifatku yang menjauhi mereka. Tapi rasa kesalku pada mereka masih membekas, dan aku belum sepenuhnya bisa menerima mereka kembali. Selama ini aku hidup seorang diri, yah walau kuakui semua harta ini adalah pemberian dari appaku. Namun setelah lulus sekolah, aku sempat melanjutkan kuliah sambil bekerja. Walaupun hanya bertahan beberapa bulan saja.

"Sudahlah eomma," kataku akhirnya sambil menarik eomma dan memeluknya.

Yunho POV end

.

Jaejoong POV

Aku sedang diperjalanan menuju rumah, hari ini appa diizinkan pulang. Keadaan appa juga mulai membaik. Junsu yang sedang mengantar kami pulang. Sejujurnya aku mengharapkan Yunholah yang mengantarkan ku pulang, entah kenapa akhir-akhir ini dia tak pernah lagi datang menjenguk appa. Mungkin ia sudah lupa dengan kami, mengingat aku yang bukan siapa-siapa baginya.

Kuakui memang, aku sedikit tertarik dengannya. Aku tak yakin sejak kapan, tapi saat dia bercerita denganku beberapa waktu lalu di taman rumah sakit, darisana aku bisa menyelami pribadi Yunho. Entah kenapa, saat aku berada disampingnya, aku merasa aman dan nyaman. Perasaan aneh menyelimutiku saat menatapnya.

"Jae hyung, kau melamun eoh?" pertanyaan Junsu menyadarkanku dari lamunan.

"Ah, ani Su-ie. Waeyo?"

"Kau yakin? Tapi kulihat wajahmu tengah bersedih, ada apa sebenarnya? Kau tak bisa membohongi ku hyung."

Junsu memang sangat peka terhadapku. Aku tak akan bisa berbohong padanya. Entah kenapa ia selalu tahu kalau aku tengah berbohong.

"Kau ini Su-ie, seperti peramal saja." kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Aiss, hyung. Kau mau mengalihkan pembicaraan eoh? Cepat katakan, atau aku tak akan mengantarmu pulang!" Junsu mengancamku.

"Yah, jangan begitu, kau tak kasihan melihat appaku eoh? Yah ya, baiklah aku akan bercerita. Tapi tidak disini ne? Nanti saja setelah kita sampai di rumah." kujawab pertanyaan Junsu dan kulihat ia mengangkuk sambil tersenyum kearahku.

Jaejoong POV end

.

.

Junsu mengantar Jaejoong dan appanya dengan selamat sampai rumah. Jaejoong turun lalu membantu appanya turun dari mobil.

"Gomawo Joongie," kata Mr. Kim pada anaknya.

"Appa istirahatlah, kalau ada apa-apa panggil Joongie ne."

"Baiklah, Junsu-ie, gomawo ne." pandanganMr. Kim beralih ke Junsu.

"Ne ahjussi, cheonmayo." katanya sambil membungkuk.

"Ayo Su-ie, kita bicara diluar. Biarkan appa istirahat."

Merekapun keluar menuju ruang tengah. Sesampainya disana Junsu langsung menagih janji pada Jaejoong.

"Yak Su-ie, bisakah kau pelan-pelan sedikit. Aku masih lelah." jawab Jaejoong berusaha mengulur waktu. Sebenarnya ia tak ingin menceritakan tentang perasaannya yang kecewa terhadap Yunho. Bisa-bisa Junsu akan mentertawakannya.

"Kau kan sudah janji hyung, dan janji itu harus ditepati." kata Junsu tak mau kalah.

"Haa, ne ne. Baiklah, aku akan bererita. Tapi ada syaratnya! Kau tak boleh mentertawakanku, arra?"

Junsu mengangguk dengan cepat. Yang penting Jaejoong bererita, masalah syarat tak perlu dipikirkan.

"Yaksok?" tanya Jaejoong memastikan.

"Ne ne, cepatlah." jawab Junsu kesal karna Jaejoong mengulur-ngulur waktu.

"Haha, begitu saja kau sudah kesal." jawab Jaejoong masih berusaha mengulur waktu.

"Yak hyung! Kapan kau akan cerita! Daritadi kau hanya mengatakan hal yang tak jelas!" Junsu benar-benar kesal sekarang.

"Ya, kau berani berteriak eoh!"

"Aiss, huung ayolah kumohon." kini Junsu memohon-mohon pada Jaejoong.

"Ne, ne. Aku akan bercerita. Emm, sebenarnya, aku, emm,"

"Mwo hyung ah?"

.

Jaejoong POV

"Aku sedang kesal." jawabku pelan.

"Kesal? Dengan siapa hyung?" tanya Junsu lagi. Sebenarnya aku sangat malu mengatakan ini. Aku yakin setelah Junsu tahu siapa orangnya, dia akn metertawakanku dengan kencang. Lihat saja kalau itu terjadi, akan kutendang pantat bebeknya itu.

"Emm, itu, ee dengan, emm, Yun, Yunho." kataku akhirnya. Kutundukkan kepalaku malas melihat mukanya yang pasti tengah menahan tawa.

"Yunho? Yunho hyung yang kau ajak balapan eoh?"

Eh? Apa aku tak salah dengar? Junsu tak mentertawakanku sedikitpun? Kudongakkan kepala untuk memastikan itu, dan benar saja. Wajah Junsu malah nampak bingung dengan jawabanku.

"Hyung? Wae? Benar Yunho hyung yang kau ajak balapan?" tanyanya sekali lagi.

Aku hanya mengangguk lemah tak menatap wajahnya. "Ne,"

"Kenapa kau kesal hyung padanya?" tanya Junsu lagi dengan nada heran.

"Em, itu," aku juga tak tahu kenapa aku kesal padanya. Jadi kuputuskan untuk berterus terang saja pada Junsu.

"Aku juga tak tahu Su-ie, yang jelas aku sangat kesal. Karna beberapa hari ini dia tak pernah lagi datang menjenguk appa. Setelah pembicaraan kami dulu waktu ditaman rumah sakit, semenjak itu juga ia menghilang dan tak pernah datang lagi." jawabku akhirnya. Ku tundukkan kepala berharap Junsu tak melihat air mata yang entah kenapa malah merangsak turun dari pelupuk mataku.

"Hemm, jadi begitu?" Junsu tengah berfikir. Entah apa yang tengah dipikirkannya.

"Emm, hyung. Apa, kau menyukainya?"

Deg

Jantungku berdetak tak karuan mendengar pertanyaan Junsu. Pertanyaan spontan yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa berefek sangat besar bagi jantungku. Aku tak tahu harus menjawab apa, karna otak dan hatiku tak mampu bekerja dengan baik untuk asaat ini.

Jaejoong POV end

.

Junsu POV

Akuu mulai mencerna setiap perkataan Jaejoong hyung. Entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan hyungku itu. Melihatnya begitu sedih hanya karna Yunho hyung tak pernah datang lagi menjenguk appanya. Kuyakin bukan karna itu ia menjadi sedih, tapi karna ia tak bisa lagi melihat Yunho hyung. Aku yakin sekali itu.

Aku sempat berfikir tentang hal itu, jadi kuputuskan untuk menanyakannya saja. Dan apa yang kulihat? Jaejoong hyung diam mematung, dengan mata yang membulat dan ada sedikit rona merah diwajahnya. Yah, aku yakin sekarang. Memang benar Jaejoong hyung menyukai Yunho hyung itu. Namun ia belum sepenuhnya menyadari itu.

"A..apa yang ka..kau katakan Su-ie. Ma..mana mungkin aku me..menyukainya." kudengar jawaban dari Jaejoong hyung yang terputus-putus. Setengah tersenyum aku bertanya lagi.

"Ah, jadi kau tak menyukainya? Tapi kenapa mukamu merah dan kau gugup begitu?" senyum jahil suskes tercetak diwajahku, menambah gugug hyungku yang cantik itu.

Selain sangar dan suka semaunya sendiri, sebenarnya hyung ku itu sangatlah manis dan penyayang. Lihat saja wajahnya yang cantik itu, tak sedikit yang mengira kalau ia itu adalah yeoja. Bahkan Yunho hyung saja menganggapnya yeoja.

"Wae? Kau tak bisa menjawabnya eoh hyung?"

"Bukan begitu Su-ie, aku tak gugup. Hanya saja pertanyaanmu sedikit mengagetkanku."

"Haha, sudah hyung, mengaku saja. Kau memang menyukainya kan?"

"Em, itu. Ee, yah, kurasa aku sedikit tertarik dengannya."

Akhirnya Jaejoong hyung mengakuinya juga. Entah kenapa aku merasa sangat senang. Sejujurnya, sejak awal aku melihat Yunho hyung dan Jaejoong hyung balapan, saat itu juga aku merasa kalau mereka sangat cocok dan serasi. Aku yakin suatu saat mereka akan bersama.

"Ya, kenapa tak dari saja hyung berterus terang. Haha," aku tertawa lepas melihat ekspresi Jaejoong huung yang begitu imut. Walaupun sangar saat balapan, tapi ia tetaplah Jaejoong yang sangat manis yang aku kenal.

Junsu POV end

.

Yunho POV

Aku memandang nanar keluar jendela. Eommaku sudah pergi sejak tadi. Kini tinggallah aku seorang diri di kamar. Sekali lagi aku menatap kotak kecil itu, kuambil bros didalamnya dan melihatnya lebih dekat. Melihat bros itu, aku jadi semakin teringat Joongie. Joongielah yang menghadiahkanku bros beruang ini, katanya ini adalah balasan saat aku memberinya kalung dulu.

"Joongie, bogoshipo." kataku tak tahan mengingatnya. Aku benar-benar sangat ingin mengetahui kebenaran Jaejoong adalah Joongieku atau bukan. Sebuah ide melintas saat aku menggenggam bros itu.

"Ah, bukankah ini pemberian Joongie? Lantas kalau memang benar Jaejoong adalah Joongie, berarti harusnya ia mengingat kalung dan bros ini. Argghhh, yunho. Kenapa otakmu lemot sekali!"

Aku bergegas menemui Jaejoong, tak sabar aku ingin menunjukkan kalung dan bros itu padanya. Aku tak akan terang-terangan bertanya padanya, hanya aku akan sengaja memakai 2 barang itu didepan Jaejoong. Kusambar kunci motor dan segera berlari ke garasi, kunyalakan motor dan etelahnya aku memacu motor dengan kecepatan penuh agar cepat bertemu dengan Jaejoong.

Yunho POV end

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Mianhae karna kemaren saya lupa ngepost, soalnya lagi ada ujian. Dan materi ujian di dua hari terakhir bikin rempong, alhasil saya luoa ngepost.. Jeongmal mianhae.. :)

Chap 7 update, bagaimana? Semakin terbuka bukan kalau mereka sebenarnya saling terhubung ? Dan chap depan bakal membuktikan semuanya.. Haaa

Terimakasih karna sudah review dichap sebelumnya..

Review lagi ne~~

Onegaishimasu