Two Sides Girl's Butler
Chapter 12: This is Not One-Sided Love
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru
Rated: T
Warning: Gaje, aneh, boring, typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai and Sasuke),
Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!
Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya?
DON'T LIKE,DON'T READ!
.
.
.
Minato menginjak pedal gas mobil Marcedesnya lebih kuat. Matanya memandang nyalang kearah jalan raya yang sepi semenatara di sebelahnya, Kushina, sedang menelepon seseorang dengan panik.
"—bawa dia ke kamar terbaik, dan panggil Dokter Shizune untuk menanganinya. Kami akan sampai kira-kira 2 jam lagi. Kami mengandalkanmu, Konan."
"Bagaimana?" tanya Minato khawatir setelah Kushina menutup teleponnya. Yang ditanya hanya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Buruk," suara Kushina terdengar bergetar. "Dia kehabisan darah dan beberapa organ dalamnya terluka. Kata dokter yang merawatnya sementara… mereka bahkan tidak tahu sampai kapan Naruto bisa bertahan." Lanjutnya seraya terisak. Bahunya bergetar halus dan air mata mengalir dari sela-sela jarinya.
Minato menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan umpatan yang sangat ingin ia keluarkan. Rahangnya mengeras menahan amarah dan rasa bersalah yang semakin menyesakkan dadanya.
"Kita hanya bisa berharap sekarang, Kushina," Ucap Minato berusaha menenangkan Kushina dan dirinya sendiri. "Dia anak yang kuat, dan tusukan seperti itu tidak ada apa-apa baginya."
"Tapi—"
"Percayalah," potong Minato tanpa mengalihkan matanya dari jalan raya.
"Dia tidak akan mati semudah itu."
.
.
.
Shizune mengecek denyut nadi sosok pirang yang tergeletak di depannya dengan senyum miris. Lemah. Lemah sekali. Bahkan seandainya dia tidak dibantu oleh alat pendeteksi jantung yang sedari tadi memamerkan garis dengan bukit-bukit kecil di sampingnya, dia pasti sudah mengira pasiennya yang satu ini sudah mati.
Menghela napas, Shizune memijit pelipisnya. Heran sekaligus takjub mengapa ada orang yang masih bisa hidup setelah kehilangan begitu banyak darah dengan lambung yang nyaris robek dan baru ditemukan 3 jam kemudian.
"Apa polisi sudah menemukan pelakunya?" tanya Shizune pada seorang wanita berambut biru yang sedari tadi bersender di pintu. Konan menggeleng pelan.
"Polisi sedang mengejarnya. Uchiha yang satu itu sulit sekali ditangkap." Gerutu Konan diiringi dengusan. Dia tidak habis pikir bagaimana Tuannya yang sekuat nan segarang gorilla itu bisa tumbang di tangan cecunguk tengik macam Sasuke.
Oke, dia memang tidak tahu siapa itu Sasuke, dan bagaimana rupanya. Dia hanya tahu bahwa dia dan seluruh pelayan Namikaze diberhentikan untuk sementara sejak 2 bulan yang lalu dan tiba-tiba dia dikejutkan dengan berita bahwa Naruto ditemukan tetangganya terkapar bersimbah darah di rumahnya sendiri.
Tapi harus dia akui, pemuda itu pasti bukan orang waras.
Memangnya ada orang waras yang berani macam-macam dengan Namikaze Naruto?
"Dari mana kau tahu bahwa orang yang bernama Uchiha Sasuke lah pelakunya?" tanya Shizune lagi.
"Aku menelepon Tuan Namikaze dan dia langsung bertanya dimana Uchiha Sasuke berada. Setelah terdengar suara ribut dari seberang sana, dia segera memerintahkanku untuk melaporkan pemuda ini ke kantor polisi."
Shizune mengerenyitkan dahinya. "Begitu…" gumamnya pelan. "Nah, Konan-san. Tolong Anda jaga dia. Panggil suster jika terjadi masalah dengannya. Saya permisi dulu." Kata Shizune sebelum memutar kenop pintu.
"Ah, Dokter Shizune! Ada yang ingin saya tanyakan."
Shizune menjawab tanpa menoleh. "Ya?"
"Boleh saya tahu siapa yang mendonorkan darah untuk Tuan Naruto? Golongan darah AB dengan Rhesus negative amat sangat langka, Anda tahu." Kata Konan dengan raut muka serius. Dia sangat penasaran bagaimana rumah sakit ini bisa menemukan orang yang bertipe darah sama dengan Naruto hanya dalam waktu 1 jam saja. Padahal mencari golongan darah tipe AB Rhesus negative bagaikan mencari jarum emas dalam tumpukan jerami.
Shizune terdiam beberapa saat. Tangannya menggantung kaku di kenop pintu.
"Dia meminta saya untuk merahasiakan identitasnya."
Konan menaikkan sebelah alisnya. "Begitu? Sayang sekali, padahal keluarga besar Namikaze akan dengan senang hati memberikan imbalan yang fantastis untuk itu." Lanjutnya sedikit takjub.
"Yah… sebut saja dia orang yang tulus. Kalau begitu saya permisi dulu, Konan-san."
KRIETT
Dan pintu pun menutup.
Shizune berjalan menelusuri koridor rumah sakit dengan wajah dingin. Beberapa sapaan yang biasanya dia jawab dengan ramah kini diabaikannya. Matanya menatap tajam kesalah satu pintu di ujung koridor yang tertutup rapat.
Perlahan didorongnya kenop pintu itu. Seketika dia menghembuskan napas lelah saat matanya menangkap sosok yang tengah mendonorkan darahnya dibantu oleh seorang suster.
"Kau akan mati jika kau memberikan darahmu satu kantung lagi saja. Kau sudah mendonorkan 3 kantung dan kalau kau mau tahu, itu lebih dari cukup untuknya." Ucap Shizune dengan muka memelas. Sosok tersebut hanya menyeringai lemah.
"Akan lebih bagus jika aku mati."
Shizune melempar death glarenya. "Ucapkan sekali lagi, dan aku akan menusukkan suntikan penuh asam sulfat di mulutmu." Ancam Shizune sinis. Dilepaskannya jaket dokter kebesarannya dan member kode untuk si suster agar keluar ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya sosok itu lirih. Wajahnya terlihat amat pucat yang menandakan gejala anemia.
"Kau…" Shizune mendesah panjang. "Jangan menanyakan hal yang sudah pasti."
Pemuda itu menyunggingkan seulas senyum hambar. Matanya terpaku pada sebuah pintu di hadapannya. Oh, betapa dia ingin menghempaskan pintu itu, berlari sepanjang koridor sekencang yang ia bisa, dan memeluk sosok pirang yang selalu menghantui pikirannya itu seerat mungkin.
Tapi dia tahu, itu mustahil.
"Sudah kuduga," sosok disampingnya terkekeh pedih. Air mata mengalir dari mata kirinya. "Akan seperti ini jadinya jika aku memberikan hatiku padanya."
"Ini bukan salahmu. Kau tidak bersalah karena mencintainya." Hibur Shizune tanpa melepaskan pandangannya dari Sasuke.
Sasuke tertawa lagi, kali ini lebih perih. "Ya, tapi aku bersalah karena telah hidup di dunia ini."
"Sasuke!"
"Maaf, Shizune," bisik Sasuke seraya bangkit berdiri, agak terhuyung. "Maaf aku telah merepotkanmu. Dan terima kasih atas bantuanmu."
"Itu sudah menjadi kewajibanku. Kalian keluarga Uchiha telah banyak membantuku hingga aku bisa menjadi seperti ini." ucap Shizune sembari mengulum senyuman tipis.
Sasuke mengangguk lemah. Dengan berat dilangkahkan kakinya kearah jendela yang terbuka.
"Mau kemana kau?" tanyanya sedikit khawatir. Kondisi Sasuke yang bisa menyedihkan membuat Shizune menggeleng miris. Kemana Sasuke yang dulu? Kemana Sasuke kecil yang selalu menatapnya dingin saat dia berkunjung ke rumah orang tua angkatnya itu?
Shizune menghela napas berat. Dia sudah mendengar dari Kabuto—partner kerjanya—bahwa Sasuke ternyata pengidap gangguan mental. Jujur dia sangat syok, apalagi setelah mengetahui Sasuke-lah yang membunuh Mikoto.
Dan sekarang, dia nyaris menghilangkan satu nyawa lagi.
"Aku…" suara Sasuke membuyarkan lamunan Shizune. "Akan pulang ke rumah."
.
.
.
Naruto mengerjap-erjapkan matanya saat seberkas cahaya terang menyergapnya. Setelah sedikit menggerutu, dia membuka kelopak matanya dan melihat sebuah danau yang sangat indah. Berair jernih, sebening kaca.
Dan ditengah-tengah danau itu dia melihatnya. Sesosok berambut pirang pendek acak-acakan yang berdiri menatapnya dengan matanya yang bewarna biru gelap. Kulitnya tan pucat, dan tonjolan halus pembuluh vena yang memanjang dari pipi hingga pelipis kanannya membuat Naruto mengerenyit.
Sejak kapan ia punya kembaran yang berwajah menyeramkan seperti ini?
"Hei, yang disana!" Lagi-lagi Naruto mengerenyit. Suaranya terdengar aneh, seperti berasal dari dalam sumur yang dalam. "Siapa kau? Kenapa ada disini?" tanya Naruto seraya mendekat. Agak ragu-ragu dia menyentuh permukaan air danau dengan kakinya, penasaran kenapa orang yang sangat mirip dengannya itu bisa berdiri diatas air.
Sosok itu tidak menjawab.
"Kau bisu?" tanya Naruto dari seberang danau. Suaranya menggema ke seluruh penjuru.
Lagi-lagi sosok itu hanya diam, tidak mengatakan apapun. Wajahnya yang datar dan pandangannya yang dingin membuat Naruto merinding. Dia merasakan sesuatu yang aneh di dasar perutnya saat menatap manik biru suram itu, seolah-olah dirinya tertarik kedalam sebuah labirin.
Naruto menggelengkan kepalanya cepat. Sepertinya anak itu tidak akan menjawab jika ditanya baik-baik.
Karena itu dia harus main kasar.
Entah sadar atau tidak, Naruto melangkahkan kakinya ke danau dan takjub sendiri melihat dia bisa berjalan diatas air. Dengan cepat dia berjalan menghampiri sosok tersebut.
"Hei, kau—" Perlahan Naruto melangkah mundur. Gila, wajahnya tampak lebih menyeramkan jika dilihat dari dekat. Bukan menyeramkan seperti hantu yang sering nampang di televisi. Tapi lebih seperti… mayat hidup.
"Kau… aku ingin bertanya. Sebenarnya tempat apa ini? Aku berasal dari Konoha, dan aku mau pulang. Apa kau tahu jalan menuju Konoha?" tanya Naruto setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Diam.
Sosok tersebut bahkan tidak sudi menggerakkan bibirnya.
"Hei!" Naruto berteriak, kesal. "Aku berbicara padamu! Kalaupun kau bisu, setidaknya berikan isyarat!"
"Aku tidak bisu."
Mata Naruto mengerjap cepat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Suaranya… dingin sekali.
"Oh—eh, maaf kalau begitu. Err… jadi kau tahu jalan menuju Konoha?" tanya Naruto sedikit gugup. Dipandangi dengan muka datar plus mata seseram itu siapa yang tidak merasa takut?
"Kau tidak punya tempat untuk pulang."
"Eh?"
"Kau akan berada disini, selamanya bersamaku."
"Tu-tunggu dulu!" seru Naruto cepat-cepat. "Jangan bercanda! Aku kan bertanya baik-baik! Kalau kau tidak mau menjawab ya sudah, tidak perlu berkata aneh begitu!"
Sosok itu tidak menanggapi lebih jauh. Dia melangkah menjauhi Naruto yang masih ternganga menatapnya. Rambut pirang cepaknya melambai ditiup angin, seolah mengatakan selamat tinggal.
Dan Naruto merasakan suatu perasaan aneh yang menggelitik perutnya. Dia seolah-olah… sangat mengenal sosok itu. Walaupun awalnya dia merasa kesal, tapi entah kenapa dia merasa amat kehilangan saat sosok blonde itu menjauh.
"Jangan pergi!" seru Naruto seraya mencekal lengan sosok itu. Dalam hati dia mengumpat-umpat, merutuki nasib yang membuatnya terdampar di tempat aneh dengan orang yang aneh pula.
"Apa maksudmu aku tidak punya tempat untuk pulang? Dan sebenarnya… kau ini apa?"
Seringai tipis terulas dari bibirnya yang membiru. Dengan gerakan tangan yang seolah melayang, dia mengangkat sedikit baju bewarna putih yang ia kenakan.
Mata Naruto membola sempurna. Keterkejutan menamparnya dengan telak. Disana, di perut anak itu, terdapat luka tusukan yang masih menganga.
"Karena kau dan aku sudah mati," ucapnya datar.
"Dan—" kali ini tangannya menyingkap baju Naruto, menampakkan luka tusukan yang sama persis disana. "Kupikir kau sudah tahu siapa aku."
Naruto memandang wajah suram itu dengan ekspresi ngeri.
.
.
.
Kushina mengenggam tangan Naruto yang tergolek lemah tak berdaya. Dingin. Tangan anaknya dingin sekali seakan tak dialiri darah. Selang infus masih menancap di pergelangan tangannya, mencoba mengalirkan tetes demi tetes harapan untuk tetap hidup.
Sudah 2 bulan Naruto tak kunjung membuka matanya. Sudah 2 bulan kelopak mata itu tertutup tanpa menunjukkan tanda-tanda akan membuka. Sudah begitu lama Namikaze Naruto, terbaring di rumah sakit dengan status yang bahkan tidak sanggup Kushina ucapkan.
Koma.
Namikaze Naruto terbaring koma selama 60 hari.
Air mata perlahan menetes dari manik merkurinya. Dia merasa sangat tertekan dengan semua ini. Dua bulan yang lalu, saat ia dan Minato berada di apartemen Madara untuk membahas mengenai masalah Naruto, dia mendapat telepon dari Konan bahwa Naruto ditemukan dalam keadaan sekarat di rumahnya.
Minato yang mendengar itu langsung menanyakan dimana Uchiha Sasuke, butler yang disewa Minato untuk menjaga Naruto. Namun anehnya, Sasuke tidak ditemukan dimanapun.
Sementara itu Madara, yang mendengar nama Uchiha Sasuke disebut-sebut, langsung memasang wajah pucat dan hal itu berhasil menarik perhatian Kushina. Benar saja, setelah pembicaraan singkat yang amat menegangkan, mereka akhirnya mengetahui sebuah fakta mengerikan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Uchiha Sasuke adalah seorang penderita skizofrenia yang kabur dari Rumah Sakit Jiwa.
Tubuh Kushina bergetar saat mengingat momen itu. Ini semua salahnya. Seharusnya dia sebagai seorang ibu selalu berada disamping anaknya, bukan malah pergi keluar negeri dan menitipkan anaknya bersama orang asing. Dia… dia terlalu percaya pada Naruto. Dia terlalu percaya bahwa anaknya yang memegang ban hitam, bahkan berpangkat shihan di beberapa cabang beladiri bisa menjaga dirinya sendiri. Padahal harusnya dia sadar bahwa… sekuat apapun Naruto, dia tetaplah seorang remaja yang memiliki kelemahan.
"Naru…" panggil Kushina, lirih. "Kumohon, buka matamu." Katanya lagi seraya mengelus pipi pucat Naruto.
Tok… tok… tok…
"Permisi Nyonya Namikaze, tapi kami Nona Namikaze memiliki pemeriksaan rutin." Ucap seorang suster dengan sopan. Kushina mengangguk lemah dan mempersilakan suster tersebut melakukan ini-itu pada Naruto.
"Kira-kira…" Kushina menelan ludah. "Kapan dia akan sadar?"
Suster tersebut menoleh. Tangannya masih mengenggam thermometer yang baru saja digunakan untuk mengecek suhu tubuh Naruto. Raut mukanya seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Kalau boleh jujur, saya tidak tahu," gumamnya tak jelas. "Demikian juga para dokter. Kami tidak tahu kapan Nona Namikaze bisa sadar dalam waktu dekat atau tidak. Maaf, Nyonya." Ucapnya lagi dengan nada menyesal. Kushina yang merasakan hatinya serasa hancur berkeping-keping hanya bisa mengangguk lemah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu."
Kushina menatap punggung suster tersebut dengan mata berkaca-kaca. Dadanya terasa amat sakit. Sesak. Mendengar suatu ketidakpastian seperti itu secara langsung membuat semangat hidupnya padam seketika.
"Minato…" lirih Kushina. Dia berharap suaminya yang tengah membicarakan Sasuke bersama Madara di cafetaria rumah sakit bersama dengannya disini. Dia sangat membutuhkan tempat untuk bersandar.
"Naruto…"
.
.
.
"Jadi…" Naruto menelan ludah horror. "Tempat apa ini?" tanya Naruto pelan. Dia berusaha tidak menyinggung 'dirinya yang lain' ini. Huh, mencari masalah dengan orang seseram dia adalah hal terbodoh yang tak akan pernah ia lakukan.
DarkNaru memutar kepalanya dengan gerakan perlahan yang terlihat seperti slow motion film horror di mata Naruto. Matanya berkilat suram sedikit.
"Inner world."
Mata Naruto mengerjap cepat. Inner world?
"He? Dunia bawah sadar?" tanya Naruto, dan sukses mendapat lirikan tertajam dari dirinya yang lain. "Maksudmu aku benar-benar sudah mati, begitu? Atau masih hidup?"
Dengusan kecil yang terkesan tak ikhlas terdengar. "Tergantung."
"Maksudmu?"
"Tergantung kau mau memilih yang mana. Kalau kau masih ingin hidup, kau akan hidup. Tapi jika kau ingin mati, maka kau akan mati." Ucapnya ringan, seringan bulu burung. Seolah-olah masalah hidup dan mati seseorang itu adalah topic basi baginya.
Naruto sekilas menangkap perubahan ekspresi di wajah suram itu. Yah… tidak bisa dibilang ekspresi juga, sih. Hanya pembuluh vena di pipinya semakin menonjol dan mata biru-hitamnya itu menyorot semakin dingin.
"Tentu saja aku memilih untuk tetap hidup. Memangnya siapa yang akan lebih memilih kematian sementara bulan depan Junjou Romantica episode terbaru akan keluar?" tanya Naruto sarkastis.
Mata kelam DarkNaru melebar sedikit.
"Kau fujoshi?" tanyanya pelan, nyaris seperti bisikan.
Naruto menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung.
"Err… bi-bisa dibilang seperti itu…" ucap Naruto gugup seraya melirik kearah lain. Dia bisa merasakan hawa dingin di tengkuknya saat DarkNaru menatapnya tajam.
"Jangan menatapku seperti itu! Salahkan si Sasuke yang punya tampang uke sehingga setiap kali aku melihatnya aku teringat dengan anime yaoi yang diberikan Ten Ten!" seru Naruto dengan wajah memerah.
"Begitu." Respon sang lawan bicara datar. Atau bisa dibilang 'oh-so-tidak-peduli'.
CTAK!
"Si-sialan…" umpat Naruto geram. Cih, kalau saja dia bukan 'dirinya yang lain', dia pasti sudah menghajar wajah plain itu sampai babak belur sekarang.
Dan bicara soal DarkNaru, mau tidak mau Naruto teringat pada Sasuke. Kira-kira bagaimana keadaan dia sekarang? Apa dia sudah makan? Jangan-jangan dia sedang menggilas semua tomat di kulkas, lagi. Lalu apakah Sasuke sudah merasa lebih baik? Saat terakhir kali bertemu dengannya, Sasuke terlihat tidak sehat, apalagi setelah bertemu Sai di rumah sakit.
'Eh? Kenapa aku memikirkan si uke itu?' batin Naruto tak mengerti. Dengan cepat digeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan bayangan Sasuke dari benaknya.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku adalah dirimu yang lain?" tiba-tiba suara kosong DarkNaru memecah keheningan. Naruto mengangkat bahu.
"Sasuke pernah mengatakan padaku bahwa aku dikutuk menjadi pribadi yang berbeda di malam hari. Dan sesaat setelah aku melihatmu… aku yakin bahwa itu adalah kau." Ujarnya ringan. Semilir angin menggelitik wajah mereka dan membuat kedua surai pirang identik itu melambai indah.
"Dan kau? Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah kau?"
"Insting."
TWITCH!
'Sial, tidak mungkin orang semenyebalkan ini adalah aku.' Batin Naruto kesal. Persimpangan jalan tercetak indah di dahinya.
"Jadi…" kata Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum dia keburu meledak. "Kapan kita akan kembali? Aku sudah tidak sabar ingin menendang bokong Sasu-Teme itu." Tanya Naruto dengan raut serius. Dan dia sungguh-sungguh ingin menghajar bagian belakang Sasuke.
Hah~ di dalam inner world pun kau tetap keji, Naruto…
"Sudah kukatakan. Kita tidak akan kembali."
"YANG BENAR SAJA!" teriak Naruto murka. "Bukankah kau bilang itu terserah padaku? Kalau aku ingin hidup, maka aku akan kembali. DAN AKU INGIN HIDUP, BODOH!" tangan Naruto mencengkram bahu DarkNaru dan mengguncang-guncangkannya kasar.
Wajah DarkNaru tetap datar. Namun Naruto dapat menangkap sepercik kilat aneh di dalam matanya.
"Tapi aku ingin mati."
Tangan Naruto berhenti bergerak. Mata safirnya membola sempurna sesaat setelah mendengar jawaban dingin yang terlontar dari bibir pucat di depannya.
"Ke… kenapa?" tanya Naruto dengan suara bergetar. "Kenapa kau ingin mati?"
Menghela napas, DarkNaru melepaskan cengkraman tangan Naruto di bahunya dan beralih menatap air danau.
"Sejak awal, aku memang tidak seharusnya ada," bisiknya lirih. Ada sedikit nada pahit dalam suaranya. "Aku menyadarinya sesaat setelah aku berada disini, tepatnya setelah Sasuke menusukku—"
"Menu—APA?!"
"Tidak ada interupsi," potong DarkNaru kejam. Naruto yang melihat kilat berbahaya di safir hitam itu segera mengangguk ngeri.
"Aku melihat semuanya. Aku melihat bagaimana aku bisa ada. Aku hanya sebuah eksistensi kosong belaka yang lahir akibat kutukan. Dan aku…" matanya menatap langsung Naruto. "Tidak bisa merasakan apapun."
"Kau…"
"Tapi," sekali lagi suara dingin itu menginterupsi. "Saat pertama kali aku muncul, aku benar-benar merasa kosong. Terkadang aku bertanya-tanya mengapa aku begitu berbeda. Kenapa aku begitu 'suram', dan kenapa aku tidak bisa menangis seperti tokoh telenovela yang aku tonton setiap hari."
"Tapi kemudian aku melihatnya. Aku melihatnya merawatku, melayaniku, dan menemaniku disaat aku bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Dia selalu bersikap baik padaku, walaupun terkadang sifat narsis dan sok dinginnya itu terlihat agak bodoh."
'Baru kali ini ada orang yang mengatai Sasuke seperti itu.' Batin Naruto sweat drop.
"Lalu? Apa hubungannya keinginanmu untuk mati dengan dia?"
"Saat terakhir kali aku melihatnya, saat dimana dia menusukku begitu aku mengetahui penyakit yang dideritanya, aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang membuatku tidak ingin berpisah darinya. Dan tanpa kusadari, kedua sudut bibirku tertarik saat melihat wajahnya." Jelas DarkNaru dengan mata menerawang jauh. Tatapan matanya terlihat melembut daripada sebelumnya.
Naruto bergidik ngeri. A-apa-apaan wajah lembut itu? A-ada apa dengan aura pink yang tiba-tiba muncul itu?!
'God.' Batin Naruto dalam hati. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan. Tentang tusukan, penyakit, dan lain-lain. Tapi karena dia terlalu takut untuk menginterupsi, ya sudah.
"Dan aku tidak akan membiarkanmu bersamanya."
"Eh?"
Hujaman mata penuh determinasi menyerang Naruto. Raut wajah DarkNaru berkali-kali lipat lebih kaku dari sebelumnya. Dan yang lebih mengerikan… matanya berubah menjadi merah.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan ini, tapi yang jelas aku tidak menyukai idemu tentang 'ingin kembali pulang' dan 'bertemu Sasuke'. Hanya salah satu dari kita yang bisa kembali ke dunia nyata, dan karena kekuatanku jelas-jelas jauh dibawahmu, maka satu-satunya jalan adalah menahanmu disini. Kau tidak akan bisa kembali jika aku tidak ingin kembali, dan kau tidak akan bisa hidup jika aku ingin mati."
Mata Naruto terbelalak lebar.
"Kau-kau… cemburu padaku?" tanya Naruto spontan. Tu-tunggu dulu, bukannya DarkNaru itu nggak punya perasaan? Tapi kenapa dia jadi posesif dan cemburuan begini?
TRING!
"Apa kau bilang?" tanya DarkNaru balik. Matanya berkilat-kilat kejam.
O-oh, sepertinya dia dalam masalah.
"Ah? AHAHAHAHA!" Naruto tertawa canggung. "Tidak… aku hanya merasa kau terlihat seperti… err, bagaimana ya? Terlihat seperti seorang gadis tanggung yang sedang jatuh cinta?"
BRUAGHHH!
"Sepertinya kau mencari masalah dengan orang yang salah, Naruto." Ucap DarkNaru dingin dengan aura-aura kegelapan. Tangannya membentuk sebuah tinju dan beberapa otot menyembul dari kepalan tangannya.
Naruto meringis kesakitan. Haha… jadi begini rasanya dipukul oleh diri sendiri, huh?
"Dan sepertinya aku meremehkanmu," bisik Naruto dengan kepala tertunduk, tak ingin memandang DarkNaru yang berdiri di hadapannya.
"Dengar, Bodoh…" perlahan Naruto bangkit. Dengan cepat dicengkramnya kerah kemeja putih yang dikenakan DarkNaru dengan kasar.
"Aku tidak peduli dengan urusanmu, yang jelas aku ingin kembali dan menendang Sasuke tepat di jakunnya! Mau kau ingin hidup atau tidak, aku tidak peduli! Kalau perlu aku akan membunuhmu disini sekarang juga kalau kau menghalangiku!" teriak Naruto tepat dihadapan wajah DarkNaru. Plus hujan lokalnya sebagai bonus.
"Kalau kau membunuhku, kau juga akan mati." Bisik DarkNaru dingin.
Naruto menggeram frustasi. Cukup, sepertinya dia akan benar-benar meledak.
"APA KAU TAHU KENAPA AKU INGIN PULANG, HAH?! KAU TAHU KENAPA AKU INGIN MENGHAJAR SASUKE?! KARENA AKHIR-AKHIR INI DIA MEMBUATKU SELALU MEMIKIRKANNYA! DIA MEMBUATKU MARAH SAAT DIA BERBICARA DENGAN INO! DIA MEMBUAT JANTUNGKU BERDETAK LEBIH CEPAT DAN SUHU BADANKU NAIK SEKETIKA SAAT MELIHATNYA! DAN LEBIH KURANG AJARNYA, DIA MEMBUATKU MENGHAYALKAN YANG TIDAK-TIDAK SETIAP KALI AKU TERINGAT PADANYA! DIA… DIA MEMBUATKU BERTINGKAH SEPERTI OM-OM MESUMMM!"
Plak! Plak! Plak!
"Hosh… hosh…" setelah puas berteriak dan menampar pipinya sendiri, bak sehabis berlari marathon Naruto mencoba mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Dengan murka ditatapnya wajah DarkNaru sekali lagi.
"Aku yakin, dia pasti menaruh sesuatu di makananku selama ini! Mungkin dia sengaja melakukan kudeta karena tidak tahan kuperbudak setiap hari. Semacam ramuan, mungkin? Atau racun syaraf? Cih, apapun itu, pokoknya aku akan menginjak kepalanya dan meminta pertanggung jawaban!" seru Naruto berapi-api. Tangannya terkepal dan sorot matanya membara, diiringi background deburan ombak di belakangnya.
Sementara Naruto asyik dengan imajinasinya sendiri, DarkNaru memandangnya dengan tatapan tak terdefenisi. Pupilnya membesar dan alisnya terangkat tinggi. Bisa dibilang syok, mungkin?
"Heh." Dengusnya sinis.
"Apa?!" bentak Naruto kasar.
"Kau yakin kau seperti itu karena keracunan?" tanya DarkNaru, kembali pada datar mode seperti biasanya.
"Heh? Memangnya apa lagi? Dia itu licik seperti ular, kau tahu."
Menghela napas pendek, DarkNaru menyentil dahi Naruto. "Kau itu jatuh cinta padanya, Baka."
"…"
"…"
"…"
"APAAA?!"
"Diam kau," desis DarkNaru tajam. Dijauhkannya tangannya dari dahi Naruto, tak peduli dengan ekspresi Naruto yang sudah horror banget.
"Ta-ta-tapi, ba-bagaimana… maksudku—tidak, a-anu… Bagaimana kau bisa tahu?" seru Naruto dengan tampang ngeri. Jatuh cinta pada manusia ayam buluk itu?
YANG BENAR SAJA!
"Telenovela memberikan pelajaran lebih dari yang kau pikirkan, Naruto."
Naruto menelan ludah horror. Tidak… ini tidak mungkin. Tidak mungkin dia jatuh cinta!
"Cin-cintaku hanya untuk Sesshomaru seorang…" bisik Naruto, menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi. "AKU TIDAK MUNGKIN SELINGKUH, TAHU! JANGAN MEREMEHKAN KESETIAANKU, YA!"
"Intinya…" ucap DarkNaru, tidak menghiraukan jeritan sarap Naruto. Angin yang berhembus semakin kencang membuat rambutnya berkibar-kibar. Matanya menatap lurus ke danau, dimana sebuah gerbang keemasan mendadak muncul disana.
"Kita berdua mencintai orang yang sama."
Kedua mata Naruto melebar. Gerbang itu tampak semakin jelas, menampakkan suasana sebuah rumah sakit dimana dirinya sedang terbaring lemah di sebuah ranjang dengan selang infus dan alat kedokteran menancap di tubuhnya.
Dan seseorang berambut raven tengah mengecup dahinya.
"Pergilah, Naruto. Kau ingin hidup, kan?" bisik DarkNaru tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Sasuke yang berada di dalam gerbang. Naruto memandangnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau juga ingin hidup?"
Seulas senyum kecil tersungging di bibir DarkNaru, membuat Naruto terperangah sejenak. Entah mengapa… DarkNaru terlihat begitu menakjubkan saat tersenyum.
"Membayangkan kau dan dia bisa tersenyum bersama, membuatku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku. Tapi entah kenapa aku menyukainya." Jawab DarkNaru ringan.
Mendadak, urat yang menonjol di pipi DarkNaru menghilang. Otot wajahnya melemas, dan warna kulitnya berubah menjadi tan. Lalu matanya… berubah menjadi safir biru yang amat jernih.
"Mungkin ini yang dinamakan perasaan bahagia."
Naruto tak sanggup berkata-kata. Mulutnya ternganga saat perlahan-lahan wujud DarkNaru memudar. Wajah DarkNaru yang berubah persis dengan wajahnya pun perlahan menghilang.
"Hei, kau! Ada apa denganmu?! HEI!" teriak Naruto panik. Dia berusaha menggapai lengan DarkNaru, tetapi yang dirasakannya hanya udara kosong.
"Bukankah sudah kubilang, hanya salah satu dari kita yang bisa kembali. Dan kau lebih pantas bersamanya dibandingkan aku, Naruto."
"Tapi—"
"Tenang saja," ucap DarkNaru. Sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya.
"Aku pasti kembali."
Sebelum sosoknya benar-benar menyatu dengan udara kosong.
.
.
.
'Dan tolong, bahagiakan Sasuke untukku, ya?'
.
.
.
Sasuke menatap sendu wajah Naruto yang semakin lama tampak semakin pucat. Sudah 4 bulan Naruto terbaring tanpa kepastian disini. Kesembuhannya tidak dapat dipastikan, mengingat jantungnya semakin lemah. Bunyi alat ECG yang menunjukkan kekuatan denyut jantung Naruto menurun. Semakin banyak jeda dengan statistik yang rendah.
Menghela napas, Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Kushina yang tertidur lelap akibat obat tidur dosis tinggi yang dicampurkannya kedalam makan siang Kushina. Minato juga sedang berbicara dengan para dokter yang menemani Naruto, jadi mungkin dia akan datang sebentar lagi.
Sekarang, hanya tersisa dia dan Naruto.
"Naru…" bisik Sasuke lembut. Dikecupnya ubun-ubun Naruto penuh sayang. "Maafkan aku, maafkan aku. Maafkan aku karena telah menyakitimu, Naruto."
Hening.
Tidak ada jawaban.
Hanya semilir angin malam yang membelai wajahnya.
"Aku sudah ingat, Naruto. Ternyata kita pernah bertemu sebelumnya. Kita pernah bertemu saat kita masih kecil dulu, di taman tua yang menjadi tempat bermainku."
"Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sedari dulu, Naruto. Aku terlalu mencintaimu hingga kau menjadi objek halusinasi gilaku, dan memaksaku untuk melupakanmu sebelum aku menyakiti orang lain."
"Aku yakin kau tidak mungkin mengingatku. Kutukan itu mengambil semua ingatan 'malam'mu, kan? Dan kita selalu bertemu saat matahari terbenam, jadi mustahil kau masih mengingat masa kecil kita."
Sasuke menyentuh sisi wajah Naruto dengan lembut, seakan dia adalah sebuah boneka porselen yang akan rusak jika dikasari sedikit saja. Perlahan, Sasuke mendekatkan wajahnya.
"Aku kemari ingin mengucapkan selamat tinggal. Aku akan kembali ke Rumah Sakit Jiwa di Oto. Mungkin… aku akan selamanya berada disana. Menjauhimu, dan belajar melupakanmu agar aku tidak menyakitimu lagi."
Jarak mereka semakin dekat. Sasuke bahkan bisa merasakan hembusan napas lemah Naruto membelai wajahnya.
"Aku mencintaimu, Naruto."
Tiiittt…
Gerakan Sasuke terhenti.
Tiiittttt…
Tiiitttt…
Tiiittt…
Dengan gerakan lambat Sasuke menatap ECG di sampingnya.
Tiiitttt…
De-denyut jantungnya…
TIITTT…
'Meningkat…'
TIIITTTTTTT!
"Mau sampai kapan kau menjadi orang mesum, Sasuke?"
Kedua oniks Sasuke membesar saat mendengar suara yang terkesan lemah itu. Suara yang ia rindukan. Suara yang tak terdengar selama 4 bulan. Suara yang dulu selalu meneriakinya…
Suara orang yang memenuhi jiwa dan raganya.
"Ah, maaf." Dengan suara bergetar Sasuke menjauhkan wajahnya. Gawat, Naruto koma selama 4 bulan dan hal yang pertama dia lihat adalah Sasuke yang hendak menciumnya?
Oh, crap.
Namun baru beberapa sentimeter wajahnya menjauh, sebuah tangan mencengkram helai rambut ravennya dari belakang dan menariknya dengan cepat.
Membuatnya memperoleh ciuman keduanya dari orang yang sama.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, Sialan…" bisik Naruto setelah kontak mereka terlepas. Hidungnya menyentuh hidung Sasuke. "Tapi kau harus bertanggung jawab dan menjelaskan semuanya. Kenapa aku bisa berakhir di tempat terkutuk ini, dan mengapa kau berpikir untuk meninggalkanku."
Sasuke tak mampu berkata-kata. Dia terlalu syok karena Naruto menciumnya tiba-tiba.
"Bukankah aku adalah Master-mu, Sasuke?"
DEG!
"Kau ingat?" bisik Sasuke tak percaya. Dan makin tak percaya saat Naruto menyeringai lebar.
"Dan sebagai perintah yang pertama, aku ingin kau bertanggung jawab karena telah membuatku merasakan perasaan sialan ini." ucap Naruto ambigu. Wajah super tampan Sasuke menunjukkan kebingungan sebelum Naruto menjitak kepalanya dan melayangkan pandangan kearah ECG.
Lagi-lagi, Sasuke terperangah dengan mata membesar.
"Bisa kau dengar itu, Sasuke?" bisik Naruto diantara kebisingan bunyi ECG yang semakin cepat. Statistik dan frekuensi denyut jantung Naruto sangat cepat, menimbulkan bunyi yang memenuhi seluruh penjuru kamar.
Seulas senyum tipis menghiasi wajah Sasuke.
"Ya, aku bisa mendengarnya."
Naruto menyeringai puas. "Kalau begitu, kau harus bertanggung jawab."
Terkekeh pelan, Sasuke kembali mendekatkan wajahnya. Perasaan bahagia, lega, dan sedikit rasa malu meluap-luap di dadanya.
"As you wish, Master."
.
.
.
"Suki desu, Naruto…"
.
.
.
Do you feel happy enough, 'cause you get your first, second, third, fourth, and next kiss from the same person?
And knowing that, this is not one-sided love?
To Be Continued
FLUFF GAGAALLL! BENER-BENER GAJEEE…!
Hiks, hiks… perasaan chapter ini nggak enak banget deh. Kena WB lagi, sih. Inipun maksa nulis karena banyak yang neror. Pas mau ngetik, mikir lagi. Pas mau mikir, eh, nggak jalan pikirannya. Apa mungkin ada baut yang lepas, ya? #plakk!
Oh ya, mungkin chapter depan bakal jadi chapter terakhir! #tepuk tangan bahagia# wuihh~ nggak nyangka bisa sampe sejauh ini. #ngelap keringat#
Ok, udah cukup ocehannya. Sekarang waktunya bales review ~ \3/
Ini udah lanjut. ^_^
Nah, udah ketauan Sasuke ama Naruto gimana, kan? Mereka hidup! #nari pake pom-pom# Rei emang terlalu baik untuk bikin Naru mati. #muntah jamaah#
Makasih reviewnya, ya~
La-lama update? #syok# Jadi bagusnya updatenya berapa hari sekali, nih? #mandang ngeri#
Itu udah ketauan gimana nasib Naruto. Sinetron banget, yah? Gomen ne, WB merajalela sih… #ngutuk WB#
Arigatou reviewnya~
dwidobechan
suram? Ah, nggak kok. Menurut Rei itu nggak cukup seram buat Sasuke. nyahaha~ #ketawa setan#
oa, gimana fic dwi? Kok nggak update lagi?
Makasih reviewnya~
Fu
E-eh? Bagus, ya? Makasih pujiannya? #blushing-blushing nista#
Ini udah diupdate. Arigatou buat reviewnya, ya?
Scythe no Shinigami
Ini udah lanjut. ^_^
Makasih reviewnya, ya~
NaMIKAze Nara
Alasan Madara ngutuk naruto bakal dijelasin di chap depan… #sok misterius mode-on#
Naruto ngelupain Sasuke karena dia dikutuk, dan karena kutukannya udah ilang, jadi ingatannya balik lagi deh. #kok ribet amay, yah?#
Naruto nggak mati kok. Rei kan berhati lembut lagi penyayang… nggak tega jadinya. #readers kejang-kejang#
Makasih reviewnya, ya…
DheKyu
Sekarang udah ketauan gimana nasib naruto, kan? tenang, dia baik-baik aja kok. Cuma ketularan mesumnya sasuke sedikit… #ngelirik sasunaru#
He? Bikin penasaran? Hehe… gomenasai, nggak maksud gitu kok. Tapi nggak keberatan, kan? #pasang puppy eyes no jutsu#
Arigatou reviewnya~
Zaky UzuMo
KYAAA! Masa' sih? Beneran sampe disimpan di lappy? #blink-blink# Makasih banyak… #super bahagia#
Err… sebenarnya cinta sih, tapi cinta Sasuke ke Mikoto kan cinta anak pada orang tua. Beda sama cinta ke Naru . kalo sama… masa' incest sih? #nggaksanggupbayangin#
Hahaha… typo memang sulit dihindari. Tapi rei berusaha menyempatkan waktu untuk edit. Dan kalo masih ada typo… itu keyboardnya kali yang heng. #digeplak#
Eh? FB? Bukannya kita udah berteman, ya? Udah, lho. Liat aja di profil Rei. ^^
Ini udah diupate. Maaf kalo nggak bisa asap.. #btw, asap itu apa sih? O.0#
Arigatou reviewnya~
Iria-san
Jadi girl in afraidness itu iria-san?
Loading…
Wuaahhh! Rei baca semua fic Iria-san! Bagus semua ceritanya! Sampe beberapa Rei copy ke hape!
Tapi baru-baru ini aja review, soalnya Rei agak… err… malu mungkin. Nggak tau mau review yang baik itu gimana. #mewek# Nggak papa, kan?
Fic Iria-san juga makin bagus. Gokil! Kocak bener. Rei aja pernah baca fic Iria-san sambil makan dimsum sampe keselek karena ngakak. #hayo tanggung jawab!#
Naruto dalam pikiran Sasuke itu hanya halusinasi. Itu karena trauma ditinggal naruto, makanya sampe berbekas gitu…
Udah ketauan gimana nasib Naruto, kan? hampir sekarat, sih, tapi masih hidup. #sujud syukur#
Ah, arigatou reviewnya! Dan buat fic baru lainnya ya, Iria-san! ^^
uchiha cucHan clyne
Rei masih inget kok sama Cu. Sebenarnya heran juga, kok pada ngilang gak ketauan rimbanya #cielah# Rupanya PKL, ya? Hehehe… Rei ngerti kok. Soalnya kakak sepupu Rei gitu juga. Kalo PKL katanya sampe telat pulang. Jadi mahasiswa itu capek, yah? #mikir dua kali untuk kuliah# Mana FB Cu terblokir lagi, pasti susah bgt utk cari kawan lagi, deh. #pernahmengalami hal serupa#
He? Sasuke? huahaahaha! #ketawa setan# dia memang sengaja Rei buat aneh. Rei masih dendam karena dia ninggalin Naru n milih pergi sama orochi! Mana hanura-mu, Sasuke?! #plak!#
Ayo Cu, cium! Cium! #nyiapin kamera buat disebarin di facebook# #disambit Naru#
Ne, Cu… hontou ni arigatou, udah mau nyempetin diri review. Rei senenggg banget deh! #berbunga-bunga# Padahal sibuk PKL tapi… hiks.
Arigatou gozaimasu! #nundukin kepala#
xxruuxx
iya, dia bagian dari masa lalu Naruto. Naru lupa karena dia dikutuk, tapi karena kutukannya udah ilang, jadi inget lagi deh! #tepuk tangan#
Tenang… tenang… Naru nggak kenapa-napa kok. Bisa dibantai Rei sama sasu kali sampe buat yang 'iya-iya' ke Naru.
Makasih reviewnya ya~
Runriran
Iya, Naru yang asli itu Naruto. Yang dalam pikiran Sasuke itu Cuma halusinasi aja kok. Naru lupa karena dia dikutuk, tapi karena kutukannya udah ilang, jadi inget lagi.
Hehe… dia nggak mati kok. Rei nggak tega, sih.
Makasih reviewnya, ya~
Naoru Hasayaka
Hehe… buat happy end gak ya~ #digampar# Rei sih pengennya happy end, tapi kalo tiba-tiba ada 'sesuatu' yang membisiki Rei untuk jadiin sad ending… #Diinjek berjamaah# Iya kok! Bercanda!
Narunya nggak mati kok. Sayang banget kalo sampe dia ko'it. Nanti sasuke sama siapa dong? Udah masa lalu suram, jomblo pula? Ckckck… nista banget. #diraikiri#
Ini rei buat fluff. Walau gagal, tp jangan nangis, ya? Hehe…
Makasih reviewnya!
Xxferessa-TanXx
Yosh! Ini udah diupdate! Makasih reviewnya, ya~ ^^
