Two Sides Girl's Butler

Chapter 13: The End and The New Trouble

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuXFemnaru

Rated: T

Warning: Gaje, aneh, boring, typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai and Sasuke), OC, alur cepat, word kebanyakan, dan VERY LONG LONG FIC!

Genre: Apa yah? Humornya sedikit,sih. Tentuin sendiri aja, deh!

Summary: Bagaimanakah jika Naruto,seorang gadis otaku tomboy dikutuk menjadi gadis berkepribadian ganda? Lalu apa yang terjadi jika seorang butler tampan nan perfect diutus untuk melayani hidupnya? The Last Chap!

DON'T LIKE,DON'T READ!

.

.

.

"Terkutuklah kau dan kelancanganmu, Uchiha."

Sebuah suara dingin mengisi kekosongan di ruangan itu. Ruangan besar yang dihuni oleh 2 orang bersurai blonde dan 2 orang berambut raven terasa begitu dingin, padahal api di perapian berkobar dengan hebatnya.

Satu-satunya subjek yang merasa bahwa dialah Uchiha yang dimaksud hanya bisa menelan ludah.

"Maafkan saya, Namikaze-sama." Bisik Sasuke nyaris tak terdengar. Kepalanya menunduk dalam, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Kushina maupun Minato. Sementara itu Naruto yang duduk tepat diseberangnya hanya diam.

"Kau pikir segala sesuatu bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf?" bentak Kushina makin murka. Minato memegangi lengan istrinya itu dengan muka tak enak. "Kalian para Uchiha memang seenaknya!"

BRAK!

Sebuah sofa terjungkal ke belakang dengan indahnya. Kushina yang kalap nyaris saja melempar sofa yang tengah didudukinya pada Sasuke jika saja Minato tidak menghentikannya.

Sasuke menelan ludah ngeri. Dalam hati dia menyesali kecerobohannya hingga ia bisa terdampar di hadapan keluarga Namikaze secepat ini.

Yah… tapi wajar saja Kushina seperti itu. Jika mengingat insiden 2 bulan yang lalu…

Flashback

Kushina menggerakkan kelopak matanya yang terasa berat. Otaknya seperti macet, memerintahkan tubuhnya untuk tidak melakukan apapun. Tapi entah kenapa dia merasa bahwa dia harus bangun. Harus.

Atau dia akan melewatkan suatu hal yang menarik.

Perlahan, dia membuka kelopak matanya sebelum akhirnya mengerjap cepat. Sinar yang datang tiba-tiba membuat pandangannya memburam sejenak.

Dan hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah bentuk yang disinyalir buntut ayam sedang menunduk di ranjang putrinya.

"Apa-apaan i—" suara Kushina tertelan di tenggorokannya saat buntut ayam itu bergerak dan menampakkan sebuah wajah yang membuatnya bersumpah akan menghajar wajah itu sampai babak belur suatu saat nanti.

"KAU!"

Swing~

"Kaa-san!" pekik Naruto kaget saat melihat sebuah kursi melayang melewati kepala Sasuke. Diikuti lemparan pisau buah, keranjang makanan, dan segala peralatan lain.

"Crap!" umpat Sasuke seraya menghindari sebuah garpu yang nyaris mengenai pipinya. Dengan sigap dia melompati ranjang rumah sakit dan kayang di udara.

"Berani-beraninya kau…" geram Kushina dalam desisan. Tangannya bersiap melemparkan sebuah suntik yang entah ia dapat dari mana. "Menusuk putriku saat kau bertugas menjaganya…" Suntikan tersebut melayang. "Lalu melarikan diri entah kemana—" dengan cepat dia meraih lemari di sampingnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"KEMUDIAN SEKARANG MENDADAK MUNCUL DAN MENCIUM PUTRI SEMATA WAYANGKU?!"

"…"

"MATI KAU!"

Seketika seluruh warna menghilang dari wajah Sasuke ketika meja tersebut melayang kearahnya yang tersudut di pojok ruangan.

End Flashback

.

.

.

Jika saja saat itu Minato dan beberapa orang perawat tidak mendobrak masuk dan menenangkan Kushina, dia pasti sudah berada di kamar jenazah disana.

Sasuke nyaris sujud syukur karena setelah insiden naas itu, Minato yang lebih bijak dan punya hati nurani menyeretnya keluar dan membisikkan sesuatu.

'Temui kami di kediaman Namikaze setelah Naruto benar-benar pulih bersama Madara. Semuanya akan kita selesaikan disana.'

Dan disinilah ia, terjebak bersama seekor singa betina yang mengamuk.

"Yang Anda katakan itu memang benar, Nyonya Namikaze. Tapi kupikir mengucapkan maaf sebagai tanda penyesalan itu bukan sesuatu yang salah." Sebuah suara dalam menginterupsi. Kushina melayangkan pandangan membunuh kearah Madara yang duduk disamping Sasuke.

"Dan kau, Pria Tua!" tuding Kushina dengan telunjuk mengarah ke hidung Madara. "Walau kutukan Naru sudah menghilang 2 bulan yang lalu, kau tetap bersalah dalam kejadian ini! Sekonyol itukah kau sampai mengutuk Naru hanya karena kesal pada Minato?! Kalau begitu kenapa bukan dia saja yang kau kutuk?!" seru Kushina seraya menunjuk Minato dengan sadisnya. Yang ditunjuk hanya menelan ludah gugup.

"Ku-Kushi-chan…"

"Kusumpal mulutmu jika kau memanggilku seperti itu lagi, Idiot," desis Kushina dengan nada rendah berbahaya. "Kau juga bersalah, kau tahu. Kau benar-benar ceroboh dalam memilih butler untuk Naruto."

Seluruh mata kini memandang Minato dengan tatapan kasihan. Pasti berat menjalani hidup dengan istri segarang Kushina.

"Jangan menyalahkan Minato-sama. Sayalah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kejadian ini. Jika saja saya mengakui bahwa saya menderita gangguan mental, Minato-sama tidak akan memilih saya." Ucap Sasuke datar. Namun semuanya dapat melihat rasa penyesalan yang dalam di oniks Sasuke.

Kushina terdiam. Matanya menyipit seram ketika dia memandang Sasuke dengan tatapan menyelidik. Lalu setelah beberapa saat penuh kesunyian yang mencekam, Kushina menghela napas panjang.

"Aku mengerti kondisimu," katanya dengan nada lelah. Sontak kepala Sasuke yang tadinya tertunduk kini tegak kembali. "Madara sudah menceritakannya pada kami saat Naru masih dirawat 2 bulan yang lalu. Walaupun aku merasa sangat marah, aku tidak bisa menyalahkanmu karena kau mencintai Naru. Lagipula… kau adalah orang pertama yang mencintai putriku."

'Tentu saja. Dengan tingkah dan sikap urakan begitu siapa juga yang cukup waras untuk mencintai putrimu.' Batin Madara terkekeh geli, dan langsung terdiam begitu terkena death glare Naruto.

"Tapi…" interupsi Kushina kembali membuat suasana sunyi senyap. "Itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kau nyaris membunuh Naruto. Kau berbahaya untuknya, Uchiha." Lanjutnya dingin. Mendengar itu Naruto bergerak resah di kursinya.

"Tapi Kaa-san, aku tidak apa-apa. Aku punya daya tahan tubuh yang kuat. Lihatlah, sejak keluar dari rumah sakit 2 bulan yang lalu, aku tidak merasakan sakit apapun hingga sekarang." Ujar Naruto berusaha membela Sasuke.

"Itu karena kau beruntung," akhirnya Minato membuka suara. Semua mata kini tertuju padanya. Lagi.

"Kau tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi di masa depan jika kau tetap bersama dengannya. Kali ini kau beruntung karena bisa selamat. Namun bagaimana jika di kemudian hari gangguan mentalnya semakin parah? Kau membahayakan hidupmu sendiri, Naruto." Ucap Minato bijak. Matanya menatap bergantian antara Sasuke dan Naruto.

Sasuke mengepalkan tangannya. Dadanya terasa amat sesak. Mereka benar, dia tidak pantas bersama Naruto. Sebesar apapun rasa cintanya pada Naruto, jika pada akhirnya Naruto hanya akan terluka…

"Aku tidak akan mati semudah itu." Ucap Naruto disertai geraman rendah, nyaris menyerupai geraman singa.

"Kau tidak sekuat yang kau pikirkan. Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri, Naru." Balas Minato tenang. Naruto menyipitkan matanya.

"Tou-san tidak percaya padaku?"

"Aku tidak percaya pada Sasuke, bukan padamu."

"Jangan bercanda!" seru Naruto kesal. "Dia tidak seburuk yang Tou-san kira! Seperti yang diceritakan Pak Tua disana itu, Sasuke tidak punya maksud jahat padaku! Itu semua karena dia 'sakit', dan dia pasti tidak pernah mengharapkan penyakit itu!"

"Tapi bagaimanapun kau terluka, Naru! Dia menusuk dan meninggalkanmu begitu saja!" Minato ikut-ikutan naik pitam. Secara refleks dia berdiri dan menatap Naruto dengan tajam.

"Aku tahu itu! Aku sudah tahu apa yang telah ia lakukan padaku hingga aku bisa terkapar di rumah sakit. Seharusnya… seharusnya kalian sedikit bersyukur. Jika saja aku tidak koma, mungkin aku tidak akan terbebas dari kutukan itu selamanya."

"Kau pikir untuk apa kami menemui Madara jika satu-satunya cara untuk menghilangkan kutukan itu adalah membuatmu sekarat?" tukas Minato tajam, sukses membuat Naruto terdiam.

Sasuke melihat interaksi kedua surai blonde identik itu dengan hati kalut. Dia bisa mengerti bagaimana perasaan Minato dan Kushina. Mereka pasti amat menghawatirkan Naruto. Lagipula… mana ada orang tua yang mau memaafkan orang sepertinya.

"Tunggu sebentar, Namikaze-san," suara Madara memecah ketegangan di ruangan itu. "Saya rasa pembicaraan ini mulai melenceng dari tujuan aslinya. Bukankah Anda memanggil saya dan Sasuke kesini untuk menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai?"

Minato dan Kushina melirik Madara sekilas. "Anda benar," sahut Minato diiringi desahan lega. "Saya punya penawaran untuk Anda." Lanjutnya seraya duduk kembali. Naruto dan Sasuke serempak menajamkan telinga.

"Saya akan mengajukan penawaran yang menarik untuk Anda. Saya akan mencabut laporan saya di kepolisian dan pengadilan tinggi. Keluarga Namikaze akan menganggap kejadian ini hanya sebuah kesalahan, dan nama Uchiha akan bersih kembali. Tapi…" Minato menggantungkan suaranya, membuat Sasuke merasakan firasat buruk.

"Anda harus bersedia mengirim kembali Sasuke ke Rumah Sakit Jiwa agar ia tidak bisa menemui Naruto lagi. Hilangkan ingatannya tentang putri kami, dan kami tidak akan pernah menganggap dia pernah ada. Bagaimana?"

Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak. Matanya dengan nyalang beralih menatap Naruto yang membeku di tempatnya. Wajah anak itu tidak terbaca, namun Sasuke dapat melihat suatu kemarahan di matanya.

"Yang benar sa—"

"Saya setuju."

"Eh?"

Mulut Naruto yang baru saja terbuka untuk protes langsung menutup kembali. Madara balas menatap Naruto dengan pandangan dingin.

"Itu adalah tawaran yang sangat bagus, Namikaze-san," ucap Madara datar. "Tidak ada yang dirugikan dalam tawaran itu dan saya rasa ini kesempatan yang bagus untuk mengobati Sasuke." Lanjutnya seraya melirik Sasuke.

Gigi Naruto menggertak dalam geraman. Telapak tangannya terkepal erat. Pak Tua ini…

"Dia sudah cukup menimbulkan banyak masalah. Membunuh ibunya sendiri, menelantarkan kediaman Uchiha, dan kabur dari rumah sakit. Sekarang dia bahkan nyaris membunuh pewaris dari keluarga Namikaze."

"Kalau kau lupa, Sialan, kau lah yang pertama kali mengutukku dan memulai ini semua." Desis Naruto dengan nada rendah. Matanya berkilat-kilat mengerikan dan suaranya terdengar seperti geraman hewan.

"Kuakui itu salahku," balas Madara tenang. "Tapi itu hanya refleksi dari kekesalanku dan aku sama sekali tidak berencana untuk mengutukmu selamanya. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Namikaze-san. Dan kalau kau belum tahu, aku baru akan mau melepaskan kutukan itu saat mendengar berita kau sekarat di Konoha."

Cukup sudah. Naruto tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Dengan cepat dia melompati meja tamu yang di hadapannya dan dalam sekejap sudah berada di hadapan Madara.

"KAU…"

"Naruto!" bentak Minato dingin, sukses membuat gerakan Naruto yang hendak memukul wajah Madara membeku seketika. "Dia benar. Kau sudah mengetahui dengan sangat jelas penyakit Sasuke. Skizofrenia itu lebih berbahaya dari yang kau kira. Mengirimnya ke rumah sakit jiwa itu demi kebaikannya juga." Jelas Minato panjang lebar. Kushina yang duduk disamping Minato pun mengangguk mengiyakan.

"Kami memutuskan ini juga demi kebaikanmu juga, Naruto."

"Kaa-san!" pekik Naruto tidak terima. Secara refleks dia mencengkram lengan Sasuke yang tertunduk dalam. "Tapi dia telah berbuat banyak padaku! Dia bahkan mendonorkan darahnya dan—"

"Dia mencintaimu," bisik Minato dingin. Sasuke yang sedari tadi tertunduk tanpa berkata apapun mendongakkan kepalanya.

"Dan suatu hari nanti cintanya itu akan membunuhmu."

Tanpa sadar setetes air mata meluncur jatuh dari mata kiri Sasuke. Hatinya terasa amat sakit. Perih sekali. Semua yang mereka katakan benar. Dia adalah pesakitan, orang gila yang hanya akan membahayakan orang yang paling berarti baginya.

Bodohnya dia, berharap bahwa dia masih mempunyai harapan untuk bersama orang yang ia cintai.

"Saya mengerti," seutas kalimat meluncur dari bibir Sasuke yang bergetar. Naruto menolehkan kepalanya cepat.

"Sasuke?"

Sasuke menatap Minato dengan tatapan kosong. Oniks kelamnya terlihat suram, tanpa ada sedikitpun cahaya kehidupan disana. Sangat hitam dan…

Gelap.

Mata itu bahkan terlihat lebih menyedihkan daripada mata DarkNaru.

"Terima kasih atas tawaran Anda. Saya menerimanya dengan senang hati." Lanjutnya seraya maju mendekati Minato, melepaskan lengannya dari cengkraman Naruto. Perlahan dia mengulurkan tangannya.

"Senang berbisnis dengan Anda, Namikaze-sama. Dan jangan lupakan bayaran saya." Ucapnya datar. Minato memandang Sasuke dengan dahi mengerenyit.

"Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau hanya akan menerima bayaran dari majikanmu saja?" tanya Minato dengan pandangan menyelidik. Dapat ia lihat dari ekor matanya tubuh Naruto yang menegang disana.

Sasuke terkekeh pelan.

"Saya berubah pikiran," ucapnya seraya terus tertawa. "Melihat ekspresi kesakitannya saat saya menghujamkan pisau ke perutnya adalah bayaran yang bahkan melebihi harapan saya."

Rahang Kushina mengeras mendengarnya. Dengan tatapan nyalang dia menuding kearah Sasuke. "KAU!"

"Jangan mengatakan kebohongan yang menjijikkan, Sasuke…" sahut Naruto dengan nada datar, tanpa intonasi. Matanya berkilat-kilat berbahaya. "Itu membuatku muak."

Lagi-lagi Sasuke tertawa. Suara tawa kosong yang terdengar amat hampa.

"Well, itu tidak menjadi masalah lagi sekarang. Kontrak kerja kita sudah berakhir." Sasuke melangkahkan kakinya menjauhi anggota Namikaze, diikuti Madara yang sudah mohon pamit. Meninggalkan Naruto yang menatap kepergiannya dengan tatapan sedingin nitrogen cair.

Namun tepat 3 langkah lagi sebelum dia mencapai pintu keluar, Sasuke berhenti.

"Saya mencintai Anda," bisiknya pelan tanpa menoleh pada Naruto, namun sanggup didengar oleh seluruh pasang telinga disana.

"Saya tidak akan mampu untuk melupakan Anda. Karena itu, mulai sekarang saya akan berusaha untuk membenci Anda sedalam saya mencintai Anda."

Semua orang yang di ruangan itu tertegun.

"Jadi…" Sasuke mengangkat tangan kanannya, masih menolak memandang Naruto. "Selamat tinggal."

Dan pintu pun menutup.

.

.

.

Sejak saat itu, Sasuke menghilang.

Dia tidak muncul di sekolah selama 3 minggu sebelum akhirnya Kakashi-sensei mengungumkan bahwa pemuda tampan itu sudah pindah ke Otogakure yang disambut dengan teriakan histeris dari para fansgirl-nya.

Seluruh barangnya di Kediaman Namikaze pun telah diangkut pada malam itu juga setelah pembicaraan mereka selesai. Seluruh pelayan yang tadinya diberhentikan sementara pun dipekerjakan kembali. Minato dan Kushina sudah kembali ke aktivitas mereka yang biasa.

Ya, semuanya kembali seperti dulu.

"Hei, Naruto… Mau makan siang bersama?"

"Oke."

Begitu juga dengan dia.

Naruto berjalan di samping Sai yang membawa dua kotak bento di tangannya. Sesekali remaja putri itu menggerutu tak jelas saat mendapati Sai meliriknya berkali-kali.

"Apa kau lihat-lihat?!" bentak Naruto garang.

"Tidak…" gagap Sai. "Tidak ada apa-apa."

Tak lama mereka sampai di atap sekolah. Setelah memilih tempat yang terlindungi dari sinar matahari, mereka mulai menyantap makan siang mereka.

"Err… Naru?" panggil Sai coba-coba. Entah karena perasaannya saja atau Naruto akhir-akhir ini sedang badmood tingkat akut? Suka men-deathglare siapapun yang memanggilnya, menunggu murid sekolah tetangga untuk mengajak tawuran, dan menantang kakak kelas di dojo judo.

"Hn…" gumam Naruto tak jelas. Mulutnya begitu penuh dengan onigiri buatan Sai sampai dia tidak sanggup menjawab.

"Kau tidak apa-apa? Akhir-akhir ini kau terlihat err… kurang normal?"

BUGH!

Sebuah pukulan telak menghajar hidung Sai.

"Ah, maaf… Tanganku melayang sendiri." Ucap Naruto ringan. Sai yang jatuh tersungkur dengan nasi menyembur dari mulutnya berusaha tersenyum. Pahit banget.

"Kau tetap kuat seperti biasanya, ya?" sahut Sai getir. Sepertinya tulang hidungnya retak.

"Hn."

Sai menghela napas panjang dan mengalihkan perhatiannya ke samping. Sebenarnya dia sudah tahu kenapa Naruto bersikap aneh. Memang dia tidak tahu bagaimana pastinya, tapi yang jelas tidak jauh-jauh amat dari sosok yang bernama Uchiha Sasuke.

Dia sendiri awalnya sempat kaget ketika mendengar bahwa Sasuke pindah ke Otogakure setelah sempat menghilang selama berhari-hari. Sebenarnya dia merasa senang, tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal.

Kenapa Sasuke langsung menghilang tepat saat Naruto masuk sekolah kembali?

Dia hanya tahu bahwa Naruto tidak bisa sekolah selama 6 bulan karena menyusul orang tuanya di Iwagakure demi urusan keluarga. Ia mengetahuinya dari Konan, kepala pelayan keluarga Namikaze yang mengungumkan hal itu di sekolah. Hanya itu.

'Apa ada hal lain yang tidak kuketahui?' batin Sai.

Sementara pemuda di sebelahnya sibuk dengan pikirannya sendiri, Naruto mengalihkan perhatiannya ke lapangan di bawah. Tatapan matanya terlihat agak menyipit seolah sedang menahan sesuatu.

'Saya tidak akan mampu untuk melupakan Anda. Karena itu, mulai sekarang saya akan berusaha untuk membenci Anda sedalam saya mencintai Anda.'

"Shit." Desis Naruto geram. Tangannya terkepal erat, seolah ingin meremukkan jari-jarinya sendiri.

Dia kesal.

Dia merasa kesal karena kedua orang tuanya tidak mau mendengarkannya. Dia kesal pada Madara karena Pak Tua itu menyetujui tawaran ayahnya. Dia merasa kesal pada Sasuke karena pemuda itu pergi begitu saja.

Padahal dia berharap bisa meng-uke kan Sasuke begitu ia keluar dari rumah sakit.

'Jadi dia kabur begitu saja karena takut ku-raep sehingga dia bersikeras untuk meninggalkanku?' batin Naruto dengan urat tertarik. Kekesalannya semakin bertumpuk-tumpuk saat melihat Sai yang kenyataannya mirip dengan Sasuke, sehingga dia harus ekstra menahan diri untuk tidak menonjok Sai untuk melampiaskan amarahnya.

Di tengah pikirannya yang kalut itu, mendadak matanya menangkap sesuatu yang bergerak tepat di balik pohon dekat lapangan. Sesuatu yang bewarna raven dan berbentuk… buntut ayam?

Naruto menggelengkan kepalanya. Hell… dia pasti menghayal. Tidak mungkin Sasuke berada disini sementara—

Trang!

Dahi Naruto langsung berkerut saat melihat sebuah kaleng susu bekas mendarat di dekat lututnya. Gadis itu mengambil kaleng tersebut dan mendongak ke langit.

'Sejak kapan ada kaleng jatuh dari langit?' batinnya bingung. Diamatinya kembali kaleng itu dan terkesiap melihat seutas tali senar terikat di dasar kaleng dan memanjang hingga ke pohon dekat lapangan.

Menaikkan sebelah alisnya, insting Naruto menggerakkannya untuk meletakkan kaleng tersebut di telinganya.

"Do… be…"

CRING!

Seketika mata Naruto berkilat.

"NARUTO!" pekik Sai begitu dia melihat Naruto melompati pagar pembatas dan meluncur turun ke bawah. Dengan panik dia melihat ke bawah dan nyaris terjungkal kala mendapati Naruto sempat-sempatnya akrobat di udara sebelum mendarat dengan selamat di tanah.

Remaja pirang itu tidak menghiraukan teriakan Sai. Dengan cepat dia berlari menyeberangi lapangan. Matanya semakin menajam saat melihat bayangan tinggi di balik pohon dan seutas tali senar disana.

"SASUKE UCHIHA!"

BUAGH! BUK! DUAGGGHHH!

Lalu sesosok pemuda melayang sejauh 3 meter dan mendarat di tanah dengan kepalanya.

"Na-Naru…"

Dengan sigap Naruto menduduki perut pemuda yang diketahui bernama Uchiha Sasuke itu dan mencengkram lehernya.

"Ada kata-kata terakhir?" cengkraman di leher Sasuke menguat. Mata Sasuke terbelalak karena melihat Naruto menjadi tambah sadis hanya dalam beberapa minggu saja. Safirnya berkilat kejam dan seringaian ala psikopat tersungging manis di bibirnya.

Ini sih, lebih parah Naruto daripada penyakitnya!

"Ke… kemari-uhuk-kan… ja-jarimu…" ucap Sasuke susah payah. Naruto menggeram.

"Tidak sebelum kau meminta maaf."

Seandainya nyawanya sedang tidak terancam, Sasuke akan memutar kedua bola matanya dan menyeringai sinis. Tapi karena sekarang dia berada di ambang kematian…

"Ma-ma…-Uhuk! Uhuk!-af…"

Naruto menyeringai kecil, lalu melepaskan cengkramannya. Perlahan dia bangkit dari tubuh Sasuke setelah memberi injakan terakhir di dada pemuda itu.

Sasuke bangkit dengan susah payah. Tangannya mengelus-elus lehernya yang memerah. Gila… sepertinya Naruto benar-benar marah.

"Kapan kau kembali?" tanya Naruto menuntut setelah Sasuke dapat berdiri tegak. Sasuke hanya bisa menelan ludah saat ditatap penuh selidik begitu.

"Aku baru saja sampai pagi ini." jawab Sasuke was-was. Dan akhirnya menghembuskan napas lega karena Naruto tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerangnya lagi.

Naruto memicingkan matanya penuh dendam sejenak, lalu menghela napas dan memejamkan mata. Hembusan angin membuat rambut pendek kuningnya melambai-lambai. Kemeja putih yang tidak dikancing menampakkan kaus hitam polosnya. Dengan sebuah jas hitam tersampir di bahunya dan celana biru tua, Naruto terlihat sangat awesome saat ini.

Membuat dahi Sasuke berkedut kesal.

"Hei, Sasuke…" panggil Naruto.

"Hn."

Perlahan Naruto mengangkat dagu Sasuke dan menatapnya intens.

"Kau semakin cantik saja."

TWITCH!

"Aku pulang sekarang." Tukas Sasuke seraya berbalik secepat kilat. Naruto terkekeh dan memeluk leher Sasuke dari belakang.

"Aku tidak berbohong," bisik Naruto tepat di telinga Sasuke. "Kau bahkan jauh lebih cantik dari 3 minggu yang lalu. Aku sampai merasa bersalah pada Sesshomaru karena aku mengakui kau lebih cantik darinya."

Urat Sasuke semakin tertarik. Jauh-jauh dia kabur lagi dari Rumah Sakit Jiwa di Oto hanya untuk digoda oleh Naruto?!

"Well, jangan terlalu diambil hati," ucap Naruto seraya melepaskan pelukannya. Lalu dia mencengkram kedua bahu Sasuke dan membalikkan tubuhnya.

Hening sejenak. "Kutebak…" bisiknya seduktif. "Kau merasa bersalah karena mengatakan kalimat yang kejam sebelum kau pergi, dan sekaligus merasa kesepian disana. Jadi kau kabur dari Rumah Sakit dan menemuiku. Apa aku benar?" tebak Naruto pede. Sasuke mendengus dengan wajah merona tipis.

Naruto tertawa keras. Fufufu… calon ukenya ini benar-benar menyenangkan.

"Tapi aku punya maksud lain," kali ini giliran Sasuke yang berbisik di telinga Naruto. "Kemarikan jemarimu."

Gadis tanggung itu membelalakkan matanya. "Kalau kau ingin balas dendam dengan memotong jariku, sebaiknya lakukan itu saat—"

Kata-kata Naruto tertelan di tenggorokannya saat Sasuke men-deathglarenya dengan death glare tingkat tinggi.

"O-oke…" Naruto mengulurkan tangan kirinya pada Sasuke. Pemuda ber-style emo itu merogoh sakunya sejenak, lalu memasangkan sesuatu di jemari Naruto.

"Ini…" desah Naruto kehilangan kata-kata, kaget setengah mati. Di jari manisnya tersemat sebuah cincin perak berkilau dengan ukiran indah di sisinya.

"Mereka bodoh," suara Sasuke menyadarkan nalarnya kembali. Ditatapnya Sasuke dengan tatapan so-surprised. "Mereka kira dengan menjauhimu, aku bisa melupakanmu atau bahkan membencimu. Tapi mereka salah. Jauh darimu malah ingin membuatku semakin memilikimu, bagaimana pun caranya." Jelas Sasuke seraya tersenyum tipis. Dielusnya pipi kecokelatan Naruto penuh sayang.

"Aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya."

"Karena itu menikahlah denganku, sebagai bayaranku karena telah melayanimu selama ini."

Mata safir Naruto melebar. Bibirnya bergetar seolah ingin menangis dan pipinya merona merah. Perubahan ekspresi Naruto begitu drastis sampai Sasuke nyaris meragukan penglihatannya sendiri.

'Manis sekali…' batin Sasuke, kesulitan bersikap stay cool. Dia benar-benar ingin memeluk Naruto sekarang.

"Cih," khayalannya seketika buyar ketika mendengar Naruto mendecih. Dilihatnya gadis itu mengamati cincinnya dengan muka bête.

"Seharusnya aku yang melakukan ini padamu." Desahnya kecewa.

"A-apa maksudmu?"

Memutar bola matanya malas-malasan, Naruto menjawab dengan wajah masam. "Harusnya aku yang melamarmu, bukan sebaliknya. Membiarkanmu mengatakan kalimat yang keren seperti itu melukai harga diriku, tahu."

Rasanya seperti ada gunung berapi yang meledak di kepala Sasuke. Kesal, dia menarik kerah kemeja Naruto dan berteriak.

"Apa maksudmu?! Tentu saja aku yang melamarmu, Baka! Aku ini laki-laki!" seru Sasuke tepat di depan wajah Naruto. Mendengar itu, persimpangan jalan tercetak di dahi Naruto.

"Yang benar saja! Aku tidak mau harga diriku diinjak-injak seperti ini! Ayo, kita ulang lagi lamarannya!" sahut Naruto seraya berusaha melepaskan cincinnya, bertekad banget untuk melamar Sasuke.

"Apa-apaan kau?!" teriak Sasuke, OOC. "Aku LAKI-LAKI dan kau PEREMPUAN!"

"TAPI KAU LEBIH KEMAYU DARIPADA AKU!" balas Naruto dengan urat tertarik. Telunjuknya mengarah ke hidung Sasuke. "KARENA ITU COWOK CANTIK SEPERTIMU DIAM SAJA DAN BIARKAN AKU YANG MELAKUKAN SISANYA!"

Twitch!

Oke, Sasuke memang bisa dikategorikan orang yang sabar. Dikatai Teme, Kuso, dan sejenisnya masih sanggup ditahannya. Tapi kalau dikatai kemayu?

Cowok cantik?

Itu sama saja dengan membangunkan gorilla yang tertidur.

"Naruto~" panggil Sasuke dengan aura-aura hitam. Bibirnya menyeringai tajam dan mata hitamnya terlihat berkilat-kilat

Naruto menelan ludah paksa.

"O-Oke, aku mengerti. Kau pelamarnya, dan aku yang dilamar. Puas? Karena itu, bisakah kau berhenti bertingkah seperti psikopat dan pergi ke rumahku untuk meminta restu?" pinta Naruto dengan tubuh berkeringat dingin.

Sasuke langsung kembali ke serius mode. "Aku tidak akan meminta restu orang tuamu. Tidak mungkin mereka merestuiku. Aku sakit, ingat?"

Sang Bocah Pirang mengerutkan alisnya. "Jadi ceritanya kita kawin lari?"

Mendengar itu, Sasuke menyeringai sinis. "Jangan bercanda. Realistislah sedikit. Kau tidak akan bisa hidup berkecukupan tanpa pekerjaan dan dukungan finansial dari orang tua. Tidak ada yang bisa hidup hanya dengan cinta. Jangan kebanyakan nonton anime, Naru."

Dan sekarang kita tahu bahwa Sasuke punya sisi matre juga.

"Lalu? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau memberikan cincin ini hanya sebagai hadiah saja, begitu?" tanya Naruto bingung. Dia benar-benar 'pemula' dalam hal berbau romansa begini.

"Tidak, tentu saja aku benar-benar melamarmu." Ucap Sasuke serius. Dicengkramnya kedua bahu Naruto lembut dan mengecup dahinya.

"Tapi kita harus menerima kenyataan, Naru. Aku sakit. Dan aku akan membahayakanmu jika aku bersamamu lebih lama dari ini. Namun aku juga tidak bisa meninggalkanmu. Aku tidak ingin kehilanganmu apapun yang terjadi, walau kedua wali kita telah bersepakat untuk menjauhkanku darimu."

"Lalu?" sahut Naruto cepat. Kepalanya terasa pusing saat dijejali kata-kata manis dan berbusa seperti itu.

Sasuke menjauhkan wajahnya dan tersenyum sendu. Dibelainya rambut kuning Naruto dan membawanya ke pelukannya.

"Beri aku 2 tahun," ucap Sasuke pelan. Naruto mendongak, bingung.

"Beri aku waktu 2 tahun untuk mengobati penyakitku. Aku akan kembali menjalani rehabilitasi di Otogakure. Walau skizofrenia adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, setidaknya aku ingin 'meringankannya' sedikit." Ujar Sasuke dengan suara bergetar. Oniksnya terpejam dan ia semakin mengeratkan pelukannya.

"Lalu, aku harus menunggumu sampai kau kembali? Tapi bagaimana jika kau tidak diizinkan keluar dari Rumah Sakit Jiwa? Bagaimana jika penyakitmu tidak juga berkurang? Dan… dan… apa yang harus kulakukan selama 2 tahun?" tuntut Naruto berang. Dia paling benci menunggu. Dia sangat tidak suka jika ia harus menanti untuk hal yang tidak pasti dalam waktu yang lama.

Apalagi jika ia harus menunggu Sasuke kembali padanya.

Sasuke tersenyum sedih. Dia tahu itu. Dia tahu segala resikonya. Nyaris mustahil penderita pra-paranoid skizofrenia seperti dia bisa keluar dalam waktu 2 tahun.

Itu benar-benar mustahil.

Tapi…

Tidak ada salahnya berharap, bukan?

"Kau mencintaiku, Naruto?" tanya Sasuke pelan, sukses membuat tubuh Naruto menegang. Dan tinju yang dilayangkan Naruto di perutnya adalah indikasi bahwa gadis itu mengatakan 'ya'.

"Karena itu, tunggulah aku. Aku pasti akan kembali padamu. Kalau perlu aku akan membunuh semua orang yang menghalangiku agar aku bisa bersamamu. Dan untukmu… aku ingin kau membujuk kedua orang tuamu agar merestuiku, sehingga saat aku kembali nanti, segalanya akan jadi lebih mudah." Ucap Sasuke. Perlahan dia melepaskan pelukannya dan tersenyum tipis.

Kemudian dia berjalan menjauh.

"Dan berjanjilah, kau akan belajar menjadi istri yang baik selama 2 tahun, ya?"

Naruto merasakan wajahnya panas. Panas sekali sampai rasanya dia ingin menangis. Sedalam itukah Sasuke mencintainya? Seserius itukah Sasuke hingga ia lebih memilih menjadi bulan-bulanan di Rumah Sakit agar bisa bersama dengannya?

"Sasuke…" panggil Naruto dengan suara lirih. Ditatapnya Sasuke yang berhenti dan menoleh, menatapnya dengan ekspresi sakit yang amat kentara.

"Aku dan diriku yang lain akan selalu menunggumu."

DEG!

Oniks Sasuke melebar dalam keterkejutan. Disana, tepat di samping Naruto, dia melihat sosok yang lain. Sosok yang transparan, dengan senyum lebar tersungging di bibirnya.

'DarkNaru…'

Senyuman tulus mengembang di wajah tampannya. Hatinya terasa amat sejuk sekarang, seolah-olah seluruh beban di pundaknya terangkat saat melihat dua orang yang paling berarti untuknya mendukungnya dari belakang.

Dia akan kembali. Pasti.

.

.

.

6 tahun kemudian…

"Uchiha Ryuuta! Jangan kabur dan cepat habiskan makananmu!" teriak Naruto. Langkah anak kecil yang baru berlari beberapa langkah berhenti seketika.

"Tapi Kaa-san… Syuuta pergi ke taman sendiri. Nanti dia tersesat" Ucap anak itu membela diri.

Wanita yang kini berusia 22 tahun itu menghela napas. Brother complex, heh?

"Dia pergi bersama Tou-san, Ryuu. Jadi tidak apa-apa."

"He?" bocah itu menelengkan kepalanya. "Jadi dia tidak pergi sendiri?"

"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Kaa-san akan membiarkannya? Bisa-bisa dia diganggu sama om-om lagi." Jelas Naruto dengan persimpangan jalan di dahinya. Anaknya yang paling bungsu, Uchiha Syuuta memang dikaruniai wajah yang amat cantik dan manis. Jadi tidak heran banyak orang yang mengincarnya.

Apalagi dia adalah putra Uchiha Naruto, Direktur Utama Namikaze Corp.

"Iya. Wajahnya kan cantik sekali." Jawab anak yang bernama Ryuuta itu polos. Mata birunya yang diwariskan dari sang ibu berbinar sedikit, menampakkan kilauan yang sanggup membuat Naruto memejamkan matanya silau.

"Ya, tapi dia laki-laki." Timpal Naruto dengan wajah masam.

"Biarin. Wajahnya sangaaattt cantik, Kaa-san! Bahkan dia lebih cantik daripada Hiyori!" puji Ryuuta dengan mata berbinar-binar. Naruto yang mendengarnya hanya tertawa pelan.

"Siapa yang lebih cantik dalipada aku?" sebuah suara cadel menginterupsi interaksi ibu-anak itu. Serempak kedua pasang mata yang identik tersebut menoleh kearah sumber suara dan mendapati seorang anak kecil berambut pirang cepak dan bermata biru gelap bersender di pintu.

"Kami membicarakan Syuuta, Hiyo-kun. Kau setuju bahwa dia cantik, kan?" tanya Ryuuta bersemangat. Kaki kecilnya melangkah mendekati anak yang bernama Hiyori itu dan memeluk lehernya.

"Hn."

Naruto memijat kepalanya yang mendadak terasa pusing. Dia menatap anak keduanya, Hiyori, yang balik menatapnya dengan pandangan datar. Terkadang dia heran sendiri kenapa satu-satunya anak perempuan di keluarganya bersikap sedemikian datar, dingin, dan tidak mampu berekspresi.

Padahal umurnya masih 3 tahun, for a God's sake!

"Ada apa, Hiyo? Kau mau makan?" tanya Naruto sembari menghampiri Hiyori dan mengelus rambut pirang cerahnya. Yang ditanya menggeleng pelan.

"Aku mau minta ijin kelual. Aku ingin menyusul Tou-san dan Syuuta di taman." Jawabnya tanpa intonasi, alias datar banget.

Sang Ibu menghembuskan napas, maklum. Putrinya ini memang bersikap lebih dewasa dibandingkan anak seumurnya. Dia tidak mampu berekspresi, mata bewarna gelap yang selalu menyorot kosong, dan nada bicara yang benar-benar flat.

Bahkan Naruto sempat mengira-ngira sendiri apakah Hiyori juga menangis seperti bayi pada umumnya ketika ia lahir.

"Tapi sebentar lagi mereka juga akan pulang. Kau tunggu disini saja, ya? Kira-kira 10 menit la—"

"KAA-SAN!"

Sesosok anak kecil lainnya melompat dan menerjang Naruto hingga ia jatuh terduduk. Sedikit kaget, Naruto mendongak dan melihat putra bungsunya memeluknya erat.

"Syuuta…" desah Naruto sambil terkikik geli. Tangannya mengelus rambut raven panjang Syuuta dengan sayang.

"Sudah puas jalan-jalan dengan Tou-san?" bisik Naruto di telinga Syuuta, membuat anak itu terkekeh dan mengangguk bersemangat.

"Syuu-chan." Ryuuta dan Hiyori memanggil adik mereka secara bersamaan. Yang satu memanggil dengan suara cempreng, yang satu memanggil dengan suara seperti orang nyaris sekarat.

"Ryuu-niichan! Hiyo-neechan!" Syuuta melompat dari pelukan Naruto dan menghampiri kedua saudara kembarnya yang lain. Pipinya yang chubby merona merah dan matanya bekaca-kaca.

'Manis sekali…' batin semuanya, kompak.

"Naru, sepertinya kita kedatangan tamu." Sebuah suara berat menyapa pendengaran Naruto. Uchiha Sasuke berdiri di ambang pintu ruang makan dan menggerakkan wajahnya ke sampan, memberi isyarat agar Naruto beranjak.

"Siapa?" tanya Naruto heran. Tidak biasanya mereka kedatangan tamu di hari sibuk seperti ini.

Naruto melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, diikuti oleh Sasuke dan ketiga anak mereka di belakang.

"Kaa-san? Tou-san?" panggil Naruto saat matanya menangkap helaian merah dan kuning duduk berdampingan membelakangi mereka. Kedua sosok itu menoleh kebelakang dan berteriak.

"Naruto!" Kushina nyaris berlari menghampiri anak semata wayangnya itu dan memeluknya erat. "Lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu?" tanya wanita bersurai merah itu dengan pandangan khawatir. Naruto tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja, Kaa-san. Begitu juga dengan Sasuke dan bocah-bocah ini. Lalu bagaimana kabarmu dan Tou-san? Sudah puas keliling Eropa?" tanya Naruto balik setelah membalas pelukan Kushina.

Minato yang berada di belakang Kushina tertawa pelan. "Ya. Terima kasih padamu yang memutuskan untuk mengambil alih Namikaze Corp sejak 3 tahun yang lalu. Kami bisa liburan kemana pun yang kami suka sekarang."

"Dan senang bertemu denganmu, Sasuke." salam Minato sembari mengulurkan tangannya. Sasuke menjabat tangan ayah mertuanya itu dengan hangat.

"Aku juga, Tou-san."

"Ah!" Kushina terpekik kecil, lalu melepaskan pelukannya pada Naruto dan beralih menatap tajam Sasuke. Dengan cepat dia menggeplak kepala Sasuke dan mencubit kedua pipinya, membuat sang empu meringis. "Bagaimana dengan pengobatanmu, Sasuke? Apa ada kemajuan?" tanya nya dengan nada khawatir.

Sasuke tersenyum diantara ringisannya. Dia tidak menyangka bahwa dia akhirnya bisa diterima di keluarga Namikaze. 2 tahun setelah pertemuan terakhir mereka di balik pohon sekolah, Sasuke kembali ke Konoha dengan mengantongi izin dari pihak rumah sakit. Banyak hal berat yang ia lalui untuk membuktikan bahwa dia sudah cukup 'waras' untuk berkeluarga dan mendapat izin dari Madara serta para staf dokter yang menanganinya. Tapi setelah menjalani pengobatan intensif selama 2 tahun, akhirnya dia diizinkan kembali ke Konoha walau dia tetap harus mengonsumsi obat-obatan dan check-up sebulan sekali.

Sebenarnya dia harus berterima kasih pada Madara. Jika saja Pak Tua itu tidak mendukungnya dari belakang, dia tidak akan bisa keluar selama apapun dia dirawat disana. Latar belakang dan dukungan financial yang kuat dari Madara lah yang sebenarnya paling berperan saat dia di Oto.

'Kau juga berhak untuk bahagia, Sasuke.' begitu jawaban Madara saat ditanya mengapa dia bersedia membantu Sasuke.

Dan betapa bahagianya ia ketika dia bisa kembali menginjakkan kaki di Kediaman Namikaze dan bertemu Naruto. Walau mereka hanya terpisah selama 2 tahun, tapi Naruto sama sekali tak berubah.

Tapi mendapatkan restu dari kedua senior Namikaze tak semudah yang ia kira. Walaupun 2 tahun sudah berlalu, mereka tetap tidak menerima Sasuke.

Sampai pada akhirnya Naruto mengancam akan bunuh diri dengan melompat bersama Sasuke dari atas bianglala layaknya Romeo Juliet, mereka baru mengizinkan Sasuke menikahi Naruto meskipun tak rela.

Dan hanya butuh setahun berselang sejak saat itu ketika mereka dikaruniai 3 anak kembar tak identik. Awalnya Kushina sempat melemparinya dengan pisau daging saat mengetahui Naruto mengandung ketika usianya baru 19 tahun. Tapi setelah mengetahui bahwa yang dikandung Naruto adalah anak kembar, Kushina langsung berubah sikap.

Semua orang juga tahu bahwa Kushina sangat menyukai anak kembar.

Dan kini disinilah ia sekarang. Bahagia bersama keluarga besarnya. Anak pertamanya, Uchiha Ryuuta adalah anak yang penyayang. Dengan rambut raven persis seperti dirinya dan mata biru berkilau, dia sukses memperoleh banyak perhatian sejak ia lahir.

Lalu ada Uchiha Hiyori, satu-satunya anak perempuan mereka. Berambut kuning pendek dan bermata biru gelap, berkulit putih dengan kumis tipis di masing-masing pipi. Dia adalah anak yang paling 'unik' diantara anak mereka yang lain. Bicaranya masih cadel, tapi datar bukan main. Bersikap dingin dan terlalu dewasa untuk anak seusianya. Berwajah tampan dan tidak ada unsur perempuannya sama sekali.

Dan yang terakhir adalah Uchiha Syuuta. Entah anugerah atau malapetaka, anak bungsu mereka ini dikaruniai wajah layaknya dewi di mitologi Yunani. Cantik bukan main, manis tak terkira. Dengan mata hitam, kulit seputih pualam, dan rambut raven lurus yang panjang hingga sepinggang, tidak akan ada yang menyangka bahwa dia adalah laki-laki.

Sikapnya pun sangat lembut dan manis. Beda dengan sang kakak yang sedari kecil sudah menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti jejak ibunya.

'Pasti ada yang salah dengan gender mereka.' Begitulah yang dipikirkan Sasuke saat itu.

Dia sendiri kini bekerja sebagai arsitek bebas yang tidak terlalu terikat dengan perusahaan manapun, walau banyak agen yang menawarinya agar bergabung dengan perusahaan mereka. Sasuke tidak ingin terikat, karena dia khawatir skizofrenianya akan kambuh jika ia merasa stress akibat terkekang peraturan.

Dia tidak ingin membahayakan keluarganya.

"Ryuu-chan! Syuu-chan! Hiyo-chan!" pekik Kushina gemas dan beralih memeluk ketiga dan Syuuta membalas pelukan itu sambil cengengesan, sedangkan Hiyori hanya menatap langit-langit ruangan sambil berdecak. "Belicik, Obaa-chan."

Naruto tersenyum geli melihat reaksi Hiyori.

"Ne, Kaa-san…" panggilnya setelah bersusah payah melepaskan diri dari cengkraman maut Kushina. "Boleh aku pelgi ke taman?"

"Untuk apa? Kakek dan Nenek sedang berkunjung. Tunggulah sebentar lagi." Bujuk Naruto sembari mengusap pipi Hiyori.

"Aku tidak suka kelamaian. Aku akan kembali…" bocah itu melihat jam tangannya. "Kila-kila setengah jam lagi. Dah."

Dan dalam sekejap mata dia sudah berlari ke arah pintu keluar. Meninggalkan Naruto yang cengo ditempat.

'Bocah itu…' batin Naruto geram. 'SESEKALI BERTINGKAHLAH SEPERTI ANAK SEUMURANMU!'

Sasuke terkekeh melihat wajah Naruto yang sudah asem banget. Dengan lembut dia menggamit lengan Naruto dan menyeretnya ke ruang makan.

"Sudahlah, dia akan kembali sebentar lagi." Ucap Sasuke berusaha menangkan Naruto. "Ayo, mereka sudah menunggu kita."

Naruto merengut dan menatap pintu keluar yang baru saja dilalui Hiyori.

"Ternyata kau benar-benar kembali." Bisiknya lirih.

'Diriku yang lain…'

.

.

.

"Kota ini tidak pernah berubah."

Sesosok pria mengamati gerbang masuk bertuliskan KONOHAGAKURE dengan tatapan datar. Tak menunggu lama, dia melangkahkan kakinya memasuki kawasan Konoha dengan sebuah koper di tangannya.

"Tak kukira aku akan kembali lagi kesini." Gumamnya lagi ketika dia melewati KIHS dan berhenti sejenak. Mata hitamnya memandang sekolah tempat ia menuntut ilmu dulu, sekaligus tempat ia bertemu dengan cinta pertamanya.

Dan tempat ia merasakan patah hati untuk pertama kalinya.

"Kira-kira bagaimana keadaanmu sekarang, Naruto?"

Shimura Sai kini adalah seorang pengusaha sukses pewaris Shimura Group yang berpusat di Iwagakure. Dia bukan lagi seorang pemuda tanggung yang mengejar-ngejar Namikaze Naruto sampai rela mengorbankan salah satu asset keluarganya. Dia sudah berhenti mengejar Naruto sejak 6 tahun yang lalu.

Ketika ia mendengar pembicaraan Naruto dan Sasuke di balik pohon waktu itu.

Heh, secinta-cintanya Sai pada Naruto, dia bukan tipe orang yang akan memaksakan kehendaknya pada orang lain. Terlebih jika mereka sama-sama saling mencintai. Tidak ada sedetikpun dia berpikir untuk membuat orang yang ia cintai menderita.

Tapi meskipun begitu, ia tetap tidak bisa melupaka Naruto.

Karena itulah ia belum memiliki pendamping hidup sampai sekarang.

Menghela napas lelah, Sai kembali melanjutkan perjalanannya. Dia kemari karena ada pertemuan bisnis dengan Nara Corp. yang akan berlangsung selama seminggu. Jadi mau tidak mau dia terpaksa kembali ke Konoha.

BUGH!

"Ah, maaf."

Sai terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar telah menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah. Menunduk, Sai mendapati seorang anak kecil berambut pirang sedang menatapnya tajam.

Sai tercekat. Rambut itu… mata itu…

'Heh, kelihatannya kau memiliki keluarga yang bahagia bersama Uchiha itu ya, Naru?'

"Hei, Paman Bibil Jontol, cepat bantu aku beldili." Sebuah suara datar nan menyakitkan menusuk tepat di ulu hati Sai. Pemuda berambut hitam itu mendelik saat mendengar panggilan anak itu untuknya.

"Kau Uchiha, kan?" tanya Sai geram. Dicengkramnya kepala bocah itu dan diangkatnya dengan satu tangan. "Jangan mewarisi sifat jelek ayahmu sementara kau mewarisi wajah ibumu, ya? Itu membuatku kesal." Desisnya tepat didepan wajah anak itu. Yang diancam hanya balas menatap Sai dingin.

"Lupanya Paman seolang penguntit." Komentar anak itu datar. Urat kesabaran Sai nyaris putus dibuatnya.

"Dengar ya, Bo—" Sai mendadak berhenti saat nalarnya menyadari sesuatu. Mata anak ini… berbeda dengan milik Naruto. Lebih kelam dan tampak lebih gelap. Lalu wajah dingin tanpa ekspresi ini…

"DarkNaru…" desis Sai tanpa sadar. Pikirannya langsung melayang saat ia pertama kali bertemu dengan Naruto versi kutukan yang membuatnya kalut setengah mati.

Ba-bagaimana bisa? Dari kabar terakhir yang ia dengar, Naruto sudah terbebas dari kutukannya. Lalu kenapa…

Sai kembali sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia tidak menyadari perubahan ekspresi Hiyori. Kedua bola mata gelap anak itu melebar, kemudian berubah menjadi merah menyala.

"Hmm… Kau adalah olang peltama yang mengenalku selain Sasuke dan Naluto," seringai terukir di wajah Hiyori, membuatnya tampak sangat menyeramkan. "Lama tidak bertemu, ya?"

"Eh?" Sai secara refleks menoleh pada Hiyori dan nyaris terjungkal kebelakang saat melihat mata merahnya.

"Kau… benar-benar DarkNaru? Bagai-bagaimana bi—"

CUP

Sai membeku seketika. Matanya terbelalak, kaget setengah mati dengan kondisinya saat ini.

Dia dicium! Dicium! Dicium! DICIUM OLEH ANAK UMUR 3 TAHUN?!

"Sudah kuputuskan," ucap Hiyori dengan nada rendah. Bulu roma Sai sampai naik dibuatnya. Dan tambah naik saat melihat mata merah itu berubah kembali ke warna aslinya perlahan-lahan.

Untuk pertama kalinya, Hiyori tersenyum manis. Sangat manis hingga nyaris beracun.

"Paman akan menjadi pengantinku."

"…"

"…"

"HEI UCHIHA SASUKE SIALAN! DIMANAPUN KAU BERADA, CEPAT KEMARI DAN AMBIL ANAKMU KEMBALI!"

.

.

.

Dan akhirnya, semuanya pun berakhir bahagia.

.

.

.

FIN

Akhirnya, selesai juga fic yang satu ini! Hurrayyy! #nabur-naburin confetti. Makasih banyak untuk dukungan kalian selama ini. Rei sangat berterima kasih pada para reviewer dan para reader yang sudah mengapresiasi fic ini. Rei gak tau lagi harus mau bilang apa saking terharunya. #mewek sambil guling-guling.

Oh ya, dan untuk penjelasan soal DarkNaru, Hiyori itu OC buatan Rei, dan dia itu reinkarnasi dari DarkNaru! #ketawanista. Pada awalnya dia tidak bisa merasakan apapun kayak dikutuk, makanya walau masih kecil, Hiyori sikapnya agak nista gitu. Tapi begitu dia jatuh cinta, dia akan berubah! Dan Sai, selamat, kau adalah orang yang dicintai Hiyori! Matanya yang merah itu menunjukkan bahwa ingatannya sebagai DarkNaru kembali untuk sementara aja, untuk ngingat siapa si Sai, gitu. Tapi Cuma begitu doang. Sisanya dia kembali jadi anak Naruto dan Sasuke! #digeplak rame-rame.

Sekali lagi terima kasih buat semuanya. Rei nggak akan bisa bertahan di FFN ini tanpa kalian. Dan jika ada yang ingin ditanyakan, PM aja Rei!

Terima kasih banyak buat yang nggak login: , mugiwara eimi,Kujio Anita, Zaky Uzumo,mizz 9264, dyn whitleford, NaMIKAze Nara, dan Salaas ku do.

ARIGATOU GOZAIMASU! m(_ _)m