My Beauty Rider

.

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Other cast : Park Yoochun, Kim Junsj, Shim Changmin

Genre : YAOI/Shonen-ai

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost ya readers semua. Dan ini adalah FF pertana saya di dalam dunia perFFan.

.

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

···

Chap 8

···

Seorang namja tengah memacu motornya menembus senja. Mata musangnya memicing tajam melihat jalan. Sekarang, hanya ada satu keinginan dari namja itu. Secapatnya menemui Jaejoong. Ya, namja itu adalah Yunho. Yunho membelokkan motornya melalui jalan yang harus dilewati. Deretan pohon menyambutnya, hembusan angin senja yang menyejukkan sedikit memberinya kekuatan. Meredam jantungnya yang semakin kencang berdetak.

"Jaejoongie," desisinya.

Tepat diujung jalan, Yunho membelokkan motornya. Diujung jalan sanalah, ada rumah sakit tempat appa Jaejoong dirawat. Yunho semakin melajukan motornya. Sesampainya disana, ia memarkirkan motornya begitu saja. Tak menghiraukan teguran dari satpam yang bertugas disana.

"Hei, jangan parkir motor disini." teriak seorang satpam karna Yunho sudah berlari masuk ke dalam.

Yunho segera naik lift menuju lantai 5, tempat appa Jaejoong dirawat. Tepat di depan kamar no 507 Yunho berhenti dan menekan jantungnya yang mulai berdansa ria lagi.

"Ck, tenanglah Jung Yunho." katanya sambil memegang bros yang ada di dada kirinya.

.

Yunho POV

Aku sudah tiba di depan kamar rawat inap appa Jaejoong. Jantungku kini beretak tak karuan. Ku genggam bros pemberian Joongie yang sudah ku pasang di kaos ku.

Perlahan ku pegang knop pintu 507 itu, kuputar dan kudorong agar aku bisa masuk kedalam, segera setelahnya aku mengucapkan salam.

"Annyeo-, eh?" sapaku terpotong, aku kaget bukan main. Pasalnya, yang kulihat di dalam sana bukanlah Kim ahjussi, ataupun Jaejoong. Yang kulihat adalah dua orang suster tengah membereskan ranjang yang ada di dalamnya. Aku kira aku salah masuk kamar, ku lihat lagi nomor yang tergantung di depan pintu. 507. Benar ini kamarnya, lalu kemana dengan Kim ahjussi serta Jaejoong?

"Ah, mian suster. Aku mencari pasien yang dirawat dikamar ini. Beliau ada dimana?" tanyaku pada salah satu suster.

Kulihat suster itu tersenyum ramah padaku sebelum menjawab pertanyaanku, "Ah, maksud tuan pasien Kim Tae Shik? Beliau baru saja pulang. Hari ini beliau diperbolehkan pulang."

"Oh begitu."

Aku segera keluar dan tak lupa sebelumnya berterima kasih pada suster itu.

Kembali lagi kupacu motorku menembus senja kota Seoul. Matahari perlahan kembali keperaduannya, mencipatakan semburat jingga dilangit. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Jaejoong, dan memastikan kalau dia adalah Joongieku.

Aku memarkirkan motorku saat aku tiba di rumah Jaejoong. Jantungku kembali berdetak saat akan memencet bel rumahnya.

"Tenang, tenang." kataku menyemangati diri sendiri.

Yunho POV end

.

Jaejoong POV

Aku tengah memasak makan malam saat kudengar suara bel rumah berdenting. Segera aku berlari untuk membukakan pintu, masih dengan apron merah yang menempel dibadanku.

Kletek

Aku sungguh kaget saat pintu terbuka lebar. Kulihat seseorang yang diam-diam aku rindukan tengah berdiri tegap didepanku.

"Annyeong." sapanya. Aku mematung dan dengan sekuat tenaga aku memanggil namanya.

"Yunho?"

"Ne, mian mengganggu. Aku tadi sempat ke rumah sakit, namun kata suster Kim ahjussi sudah diperbolehkan pulang. Jadi aku mampir kesini."

Ia menjelaskan kedatangannya ke rumahku, aku yang masih shock tak sadar kalau aku belum mempersilahkannya masuk.

"Ah, ayo masuk dulu Yunho-ssi, maaf aku tak berpakaian rapi, aku tadi tengah memasak. Mari," aku mengantar Yunho masuk dan menyuruhnya duduk diruang tamu.

"Ah, mian aku menggangu."

"Ani. Mumpung kau disini, bagaimana kalau kau ikut makan malam disini." tawarku pada Yunho. Jantungku berdebar-debar menunggu jawaban Yunho.

"Kau bisa masak?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.

"Ne, begitulah. Dulu sebelum eomma ku meninggal, aku sering memasak bersamanya."

"Ah begitu. Emm, baiklah. Aku ingin merasakan bagaimana rasa masakanmu Jaejoong-ssi." katanya sambil tersenyum manis.

"Ah, panggil Jaejoong saja. Agar terdengar akrab."

"Baiklah, kau juga panggil aku Yunho saja."

"Ne, baiklah. Ah, mian Yunho, aku harus melanjutkan masakanku." aku baru teringat masakanku yang tertunda. Gara-gara rindu melihat wajah Yunho aku jadi melupakan semuanya.

"Ayo aku bantu."

Disinilah kami sekarang, di dalam dapurku. Sambil memasak, sekali-sekali aku melirik kearah Yunho. Ya tuhan, ia begitu sempurna. Lihatlah badannya yang tegap dan tinggi itu. Kini ia juga memakai apron merah sama sepertiku, ia nampaknya kesulitan memotong sayuran.

Awalnya aku menyuruhnya untuk membantuku mencuci sayur-sayuran saja, tapi nampaknya ia tak puas jika tak membantuku sepenuhnya. Alhasil, kini ia memotong sayur-sayur itu dengan brutal.

"Aiss, kenapa susah sekali memotongmu wahai tomat kecil." marahnya pada tomat tak bersalah itu. Aku cekikikan melihat tingkahnya itu. Itukah seorang Jung Yunho, namja tak terkalahkan dalam balapan itu?

"Kalau kau terus mengomel, bisa-bisa makananku tak akan jadi. Sini, biar aku saja yang memotong, kau aduk-aduk saja supnya."

Kulihat Yunho dengan wajah ditekuk beralih mengambil spatulaku. Omo, Yunho kau begitu menggemaskan.

"Kalau kau memasak dengan wajah ditekuk begitu, maka masakannya tak akan enak." kataku yang sukses membuatnya ceria kembali.

"Ne ne, aku sudah tersenyum lagi."

Saat hendak memasukkan tomat kedalam sup, tak sengaja tanganku mengenai dada Yunho. Tanganku tak sengaja menyentuh kaosnya, saat aku mengangkat tanganku, mataku tertuju pada benda mungil yang tertempel di kaos Yunho. Dan mataku membulat sempurna melihat benda apa itu.

Jaejoong POV end

.

Yunho POV

Aku tengah memasak bersama Jaejoong, tak kusangka namja cantik itu bisa memasak. Bukankah itu sangat bertolak belakang dengan predikatnya sebagai pembalap? Hah, sungguh lucu.

Jaejoong menyuruhku untuk mengaduk sup yang dibuatnya, karna ia merasa kesal mungkin karna bahan makanannya yang aku hancurkan. Ku aduk-aduk supnya dengan wajah ditekuk. Aku memang tak bisa memasak, tapi setidaknya aku ingin membantunya. Entah kenapa, jika bersama Jaejoong aku merasa bahagia. Tenang dan nyaman. Kini kami sudah lebih akrab, ia sudah bisa bercanda denganku. Akupun begitu. Saat tengah asik mengaduk, tiba-tiba kurasakan tangan Jaejoong menyentuh dadaku. Dan itu sukses membuat jantungku berdetak tak karuan. Melihat tangannya yang putih bertengger manis didada kiriku, membuatku menolehkan wajahku padanya. Saat aku berbalik, kulihat wajah Jaejoong yang sangat terkejut, matanya membulat dan ekspresi itu sangat lucu. Membuatku teringat lagi pada Joongie, ya Joongie juga selalu berekspresi seperti itu jika ia kaget melihat sesuatu.

"Ah, mian." katanya bergetar. Bisa kulihat ia sedikit gugup.

"Gwencana, ayo masukkan saja tomatnya." kataku mencairkan suasana. Sesaat kulihat mata Jaejoong yang terus memandangi dadaku. Aku tak yakin apa yang ia lihat, namun aku sangat berharap ia melihat bros yang tengah aku pakai.

"Jaejoong, kau lihat apa?" tanyaku saat Jaejoong tak mengalihkan matanya dari dadaku.

"Itu,"

Yunho POV end

.

Jaejoong terbelalak. Benda mungil yang tertempel di dada Yunho. Ia meningat jelas benda itu. Saat ia mengalihkan pandangan kesamping, lagi-lagi ia terbelalak kagt. Dilihatnya Yunho tengah memakai kalung, padahal seingatnya Yunho tak pernah memakai kalung itu. Kalung yang dirinya juga punya. Jaejoongpun terpekik tertahan.

"Jaejoong, kau lihat apa?" tanya Yunho menatap heran pada Jaejoong.

"Itu," Jaejoong menunjuk dada Yunho.

"Hmm? Wae? Ada apa dengan dadaku?" tanya Yunho masih dengan tatapan heran,

"Itu, emm, bros dan kalung itu." Jaejoog menggantungkan kalimatnya.

"Ah, ini?" tunjuk Yunho pada bros di dadanya. "Kau masih ingat ceritaku tentang chingu masa kecilku?"

"Ne," Jaejoong mengangguk dan terus menatap Yunho.

"Dia yang memberiku bros lucu ini." jawab Yunho sambil tersenyum.

"Kalau kalung itu?" tanya Jaejoong bergetar karna detak jantungnya yang berada di luar batas.

"Em, ini hadiah dariku untuknya, aku memberikannya kalung dengan model yang sama, hanya berbeda warna."

Deg

Jantung Jaejoong berdetak lebih cepat.

"Yunie," desis Jaejoong hampir tak terdengar.

"Nde?"

.

Yunho POV

Kecil, sangat kecil. Suara Jaejoong sangat kecil, sehingga aku tak dapat mendengar apa yang ia katakan. Segera aku bertanya lagi padanya.

"Kau mengatakan sesuatu Jae?"

Ia hanya menggeleng menjawab pertanyaanku. Hah, Jaejoong. Apa kau sama sekali lupa dengan kalung dan bros ini? Atau memang kau bukan Joongieku? Jawab aku Jaejoong.

"Apa kau tertarik dengan bros ini Jae?" tanyaku karna mata Jaejoong tak lepas dari bros itu.

Lagi-lagi ia hanya menggeleng. Akh, aku semakin frustasi saja. Melihat ia diam tak menjawab pertanyaanku.

"Lalu kenapa kau melihat bros ini terus? Apa kau mengingat sesuatu?" pancingku pada Jaejoong.

Oh Tuhan, jawab pertanyaan hambamu ini. Kalau memang ia adalah Joongie ku, maka cepatlah kau buat ia sadar kalau aku ini Yunie.

"I, itu, a, anu, emm," jawab Jaejoong terbata. Ingin sekali aku memaksanya untuk bicara dengan jelas. Tapi kuurungkan karna dia terlihat gugup.

"Ne, ada yang kau pikirkan Jaejoong?"

Kulihat ia masih setia memelototi brosku, sampai akhirnya ia menjawab, dan jawabannya sukses membuatku merasa terbang keujung langit.

"Itu, emm, sepertinya aku juga mempunyai kalung dan bros itu. Dulu waktu aku masih kecil, chinguku memberikannya padaku, apa mungkin, emm, kau, kau adalah,"

"..."

"Yunie?"

Deg

Jantungku sukses berdansa ria.

Yunho POV end

.

.

"Yunie?"

Yunho yang mendengar Jaejoong memanggilnya dengan nama kecilnya langsung diam mematung. Pikirannya entah pergi kemana, belum lagi jantungnya yang sudah berdansa ria.

"Apa benar kau Yunie?" tanya Jaejoong sekali lagi.

Yunho yang kesadarannya perlahan kembali, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dipandanginya Jaejoong dengan mata musangnya.

"Kau memanggilku apa? Coba ulangi." perintahnya pada Jaejoong.

Jaejoong kenarik nafas sebentar sebelum menjawab pertanyaan Yunho, "Yunie." jawab Jaejoong mantap.

Mendengar itu, Yunho langsung mendekap erat tubuh Jaejoong. Ditenggelamkanhya wajah Jaejoong pada dadanya.

.

Jaejoong POV

"Ternyata ini benar kau, ini benar-benar kau Joongie."

Deg

Kurasakan jantungku berdetak lebih kencang sekarang. Bukan karna Yunho yang tengah memelukku, tapi karna ucapannya barusan. Ia memanggil nama kecilku, nama yang hanya appa dan Yunie yang mengetahuinya. Jadi dia benar-benar Yunie? Akh, kenapa aku bisa tak mengenalinya? Padahal dia jelas-jelas sudah bercerita tentang masa kecilnya. Jaejoong pabo! Benar-benar pabo!

"Joongie, bogoshipo. Jeongmal bogoshipo." Yunho tetap memelukku sambil mengucapkan itu, aku sendiri sudah tak tahan untuk tak menangis. Aku menangis bukan karna sedih, tapi karna aku begitu bahagia, akhirnya setelah sekian lama aku tak bertemu dengan temanku, kekasihku, belahan jiwaku, sekarang aku dipertemukan lagi dengannya. Rasanya sungguh, sungguh, aku tak bisa mengungkapkannya dengan kata apapun. Oh Tuhan terimakasih. Terimakasih karna masih menjaga Yunie sampai kami bisa bertemu lagi.

Jaejoong POV end

.

"Mianhae Yunie, aku tak cepat mengenalimu. Aku benar-benar bodoh!" rutuk Jaejoong pada diri sendiri. Ia begitu merasa bersalah karna tak mengenal Yunienya.

"Gwencana Joongie, akupun begitu. Tak mengenalimu dengan cepat. Walaupun jantungku brdetak tiap kali melihatmu, tapi aku sama sekali tak menyangka kalau kau itu Joongieku." jawab Yunho masih setia memeluk tubuh Jaejoong yang begitu dirindukannya.

"Hiks, Yunie, mianhaeyo." Yunho melepas pelukannya. Ditatapnya Jaejoong yang tengah menangis.

"Wae Joongie, kenapa menangis?"

"Hiks, aku benar-benar bodoh. Hiks, aku sama sekali tak ingin melupakanmu, hanya saja sakit hatiku terdahulu yang membuatku ingin melupakan semua. Aku ingin melupakan semua masa laluku yang kelam itu. Aku sangat ingin melupakan sakit hati terhadap appaku. Aku tak bermaksud melupaknmu juga Yunie, hanya saja, hanya saja aku, ak-"

Jaejoong tak melanjutkan kalimatnya. Karna bibirnya telah dibungkam oleh Yunho dengan ciuman yang hangat. Jaejoong agak kaget dengan perlakuan Yunho padanya, hanya saja ia merasa nyaman dengan ciuman itu, ciuman yang dalam namun sangat hangat dan menenangkan. Membuat perasaan bersalah Jaejoong tadi menguap tak berbekas.

Tangan Yunho perlahan melingkar di belakang kepala Jaejoong, menyokongnya dari belakang agar Jaejoong merasa nyaman. Jaejoong pun perlahan mengaitkan tangannya dileher Yunho, mencari tempat untuk menopang badannya. Perlahan dipejamkannya pula matanya, menikmati ciuman hangat yang Yunho berikan.

Keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Perasaan yang tak mampu mereka utarakan, setidaknya bisa mereka utarakan lewat ciuman hangat yang terjadi. Cukup lama mereka bertukar kerinduan lewat ciuman itu, Yunho melepas tautan bibir mereka.

"Dengar Joongie, aku tak peduli kenapa Joongie bisa melupakan Yunie, yang terpenting bagi Yunie sekarang adalah, Joongie sudah mengingat Yunie lagi dan Yunie bisa melihat Joongie lagi." senyum tulus terukir diwajah tampan Yunho. Matanya tajam menatap mata Joongienya. Terjawab sudah keresahannya sekarang. Ternyata Jaejoong memanglah Joongie kecilnya. Ia tak ingin tahu mengapa Jaejoong tak mengingatnya, karna yang terpenting baginya adalah sekarang ia bisa melihat dan bersama dengan Joongie nya lagi.

"Ne, Yunie. Arraseo," ucap Jaejoong dengan lembut.

Yunho menggenggam erat tangan Jaejoong, sekarang saatnya ia ingin mengutarakan apa yang ada diperasaannya. Perlahan tubuh Yunho mendekatkearah Jaejoong.

"Saranghae," bisik Yunho di telinga Jaejoong, dan sukses membuat wajah namja cantik itu memerah.

Segengah berbisik, Jaejoong menjawab pernyataan Yunho, "Na..nado, saranghae," jawabnya dengan wajah yang sukses memerah dengan sendirinya.

Yunhopun tersenyum mendengar jawaban dari Joongienya, mata musangnya kembali memincing melihat wajah Jaejoong yang terlihat begitu manis saat malu-malu seperti itu. Kembali, Yunho memanggut bibir merah Jaejoong yang memang sangat ingin ia cicipi itu. Tangan kirinya menyangga kepala Jaejoong dari belakang, sementara tangan kanannya memeluk pinggang Jaejoong dan menariknya hingga tubuh Jaejoong menempel pada tubuhnya.

Sementara itu, Jaejoong sangat menikmati ciuman yang diberikan Yunho, tangannya melingkar dileher Yunho. Matanya terpejam menikmati pagutan bibir Yunho pada bibir bagian bawahnya. Desahan halus keluar dari bibirnya tatkala bibir Yunho memanggutnya dengan lembut.

Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka. Mata sayu yang sedari tadi mendapat tontonan gratis pertemuan kembali dua orang yang saling menyayangi. Bibirnya tersenyum tatkala melihat dua insan itu saling bertukar perasaan.

"Appa bisa tenang sekarang Joongie, jika harus meninggalkanmu. Karna sudah ada orang yang tepat yang akan melindungimu dengan seluruh jiwanya."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hooo.. Saya kembali,, maaf untuk keterlambatannya.. Saya ada sedikit masalah dengan internetnya, entah kenapa saya nggak bisa masuk ke ffn, padahal buka situs lain bisa. Jadi saya agak kesusahan untuk update. Hahh, adakah yang mempunyai pengalaman seperti saya?

Chap ini sudah membuka identitas mereka masing-masing, dan mempertemukan kembali dua sahabat kecil itu. Dan Yunho juga sudah mendapatkan jawaban atas rasa cintanya. Ukhh. So sweet ani?

Ja, terimakasih utuk kakian yang sudah review dichap kemaren. Review lagi ne~~

Review, onegai~~