Two Sides Girl's Butler
Chapter Special: Two Sides Girl's Butler—Our Trouble—
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: SasuXFemnaru, SaiXOC
Rated: T
Warning: Gaje, aneh, boring, typo(s),OOC stadium akhir(khususnya Sai and Sasuke), OC alert!, Pedofilia, dll.
Genre: Romance, Family.
Summary: Dia seorang penderita skizofrenia. Istrinya dulu berkepribadian ganda. Rumah tangga yang terkesan mustahil akhirnya ia dapatkan, plus bonus tiga anak kembar yang luar biasa. Ketika ia yakin bahwa tidak mungkin ada keanehan lain yang akan menimpa keluarganya, ia dan Sasuke harus menerima kenyataan bahwa putri balita mereka membawa pulang seorang om-om?
DON'T LIKE,DON'T READ!
.
.
.
Membangun rumah tangga di usia belia dan mengasuh tiga orang anak tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikiran Sasuke. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu, bermimpi saja tidak pernah.
Tapi inilah kenyataannya sekarang. Hidupnya sekarang berubah, statusnya tak lagi single, dan ia menjadi seorang ayah disaat teman-temannya masih melajang.
Sasuke tidak pernah menyesali hal tersebut, bahkan ia sedikit merasa bersyukur karena akhirnya dia memiliki kehidupan yang normal setelah semua masalah yang ia alami di masa lalu. Berumah tangga, bekerja, dan beraktivitas layaknya orang lain.
Lagipula, hidupnya yang sekarang banyak mendapat bonus. Mempunyai istri yang hebat, harta berlimpah, dan anak-anak yang berwajah layaknya tokoh rupawan negeri dongeng. Apa lagi yang bisa ia harapkan?
"Otou-san! Hiyo-chan sudah pulang!"
Menoleh kepada anak tertuanya dengan wajah bahagia, Sasuke tersenyum dan mengacak rambut Ryuuta sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Dia lama sekali. Jii-san dan Baa-san sudah pulang dari tadi." Ucap Sasuke pada anaknya. Ryuuta mengangguk cepat dan mengenggam tangan Sasuke.
"Ada yang aneh dengan Hiyo-chan!" informasi Ryuuta pada ayahnya. Wajahnya berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu dan panik di saat yang sama.
"Ada apa?"
Ryuuta menggerakkan kakinya gelisah, menimbang-nimbang bagaimana ia harus menyampaikannya tanpa membuat Sasuke menyambar pistol kaliber 45-nya dan meledakkan kepala 'tamu tak terduga' itu.
"Err… sepertinya Hiyo-chan membawa teman baru?" ucap Ryuuta tak yakin, sukses menuai pandangan terkejut dari ayahnya.
"Hiyori membawa teman?" ulang Sasuke tak percaya. Anaknya yang itu—yang kaku seperti es balok dan bahkan sering tidak mengacuhkannya—membawa teman?
Air muka Sasuke mencerah sedikit. Sepertinya hari dimana Hiyori bersikap seperti anak perempuan normal lainnya sudah datang.
Dengan tak sabar Sasuke berjalan menuju ruang tamu, bermaksud melihat siapa anak ajaib yang mampu meluluhkan Hiyori—seorang balita yang kabarnya hanya akan memandang tanpa minat jika tsunami menerjang di depan matanya.
"Hiyori, kau sudah pu—"
"Uchiha."
Kenyataan menampar Sasuke dengan kejamnya. Bukan seorang anak kecil berwajah malaikat yang dibawa anaknya ke rumah, melainkan sosok pria berwajah pucat yang memandang penuh amarah padanya.
"Aku membawa anakmu kembali."
Sasuke sekarang berpikir bahwa ada baiknya jika hidupnya jangan terlalu banyak diberi bonus.
.
.
.
"Hei, Hiyo-chan… Katakan sesuatu pada Paman Sai."
Hiyori tidak menyahut. Mata gelapnya menatap Sai dengan pandangan aneh tak terdefenisi.
"Aku ingin banyak walna bilu."
Semua orang di ruangan itu mengerjapkan matanya.
"He?"
"Dengan sedikit walna hitam bial cocok dengan Paman. Kalau pellu yang banyak mawal hitamnya, sedikit walna melah bial sepelti dalah yang mengalil ke laut –"
"Tunggu!" seru Naruto seraya menepuk kepala Hiyori pelan. "Apa yang kau bicarakan, Hiyori?" tanya Naruto bingung. Sementara itu Sasuke yang dahinya berkerut dalam menatap Sai dengan pandangan apa-yang-telah-kau-lakukan-pada-bidadari-kecilku-h ingga-menjadi-aneh-seperti-ini-hah?
Yang dibalas Sai dengan tatapan memang-bocah-itu-dari-dasarnya-aneh-dan-mengapa-ka u-sebut-curut-berwajah-menyeramkan-itu-bidadari?
"Kaa-san bisa membantu mengangkat balang-balang belat, jadi kita—"
"Hiyo-chan!"
"Otousan bisa jadi penelima tamu…"
"Dengarkan Kaa-san!"
"Tamunya tidak usah telalu banyak…"
"Hiyo-cha—"
"Jadi Paman dan aku tidak sakit mata jika melihat meleka."
Firasat Sai mulai tak enak.
"Jadi le… lerhsepsi… umm-lele… sepesi?" gumam Hiyori dengan imutnya. Bibir cerinya mengerucut dan pipinya menggembung dengan dahi berkerut lucu. "Kaa-chan~" panggilnya dengan nada dimanis-maniskan, seram."Kalau pesta untuk pelnikahan apa namanya?"
Gulp.
Oke, sekarang Sai benar-benar merasakan firasat buruk.
Sasuke dan Naruto serempak menjatuhkan dagu mereka ke lantai. Bahkan Sasuke tak peduli lagi betapa tidak kerennya dia saat ini. Yang ada di pikirannya sekarang adalah mengapa anaknya yang sejak keluar dari rahim nggak punya ekspresi itu bisa berubah imut bin amit seperti ini?
Dan sejak kapan anak umur 3 tahun tahu soal pernikahan?!
"Ma-maksudmu resepsi, Hiyo-chan?" tanya Naruto ragu-ragu. Wajah Sai yang sudah pucat makin pucat seperti mayat diceburin di Antartika.
"Hu-um…" Hiyo mengangguk dengan datar-style seperti biasanya. "Aku ingin lhesepssi Paman dan aku dilakukan secepatnya."
"…"
"…"
"…"
"APAAA?!"
Tidak, Saudara-saudara… Itu bukan teriakan Naruto, melainkan teriakan pilu Sasuke yang syok setengah mati dengan mata hampir keluar dari rongganya.
"Err… aku bisa jelaskan…"
"You lowest ba*tard!" seru Sasuke seraya melompati meja tamu di hadapannya dan mencengkram kerah kemeja Sai. "Apa yang telah kau lakukan pada putriku, hah?! Tidak bisa mendapatkan ibunya maka anaknya pun jadi?!" sembur Sasuke OOC sangad. Seandainya dia berada di dunia shinobi maka matanya pasti berubah menjadi Mangenkyou Sharingan.
Naruto membelalakkan matanya.
"Sa-Sai…" ucapnya terbata-bata. Secara refleks tangannya mencengkram bahu mungil Hiyori dan mendekapnya dalam pelukannya. "Kau…"
Sai mulai gelagapan. "Ti-tidak, Naruto… ini semua hanya salah paham. Tidak mungkin aku mengincar anakmu. Aku bukan pedofil."
"Tapi tadi Paman menciumku."
Suhu di ruangan itu langsung menurun drastis.
"Di pinggil jalan, dekat sekolah yang disana itu."
"Ti-tidak…"
"Mengusap kepalaku…"
"Err… sebenarnya aku mencengkram kepalamu…"
"Mengangkatku tinggi-tinggi…"
"Naru, aku hanya mengangkatnya 5 senti dari tanah…"
"Dan memanggil nama Otou-san untuk menyetujui lamalannya."
"Jangan dengarkan dia, Naru—" Sisa kata-kata Sai tertahan di kerongkongannya saat melihat ekspresi Naruto yang merupakan percampuran antara syok, marah, kecewa, dan sakit hati.
"Sai…"
Mulut Sai ternganga tak percaya mendengar nada yang dilontarkan Naruto padanya.
'Selama bertahun-tahun aku tidak mendengar suaramu, dan nada itu bukanlah nada yang ingin kudengar di hari pertemuanku denganmu, Naruto.' batin Sai sakit. Kepalanya tertunduk dan tanpa sadar ia mengusap tengkuknya, merasakan aura-aura neraka menguar semakin pekat dari tubuh kepala keluarga Uchiha.
"Aku permisi." Tanpa banyak bicara lagi Sai beranjak dari sofa, tak sengaja menyenggol bahu Sasuke yang berdiri dengan wajah murka. Sepertinya amarah dari keposesifannya sebagai seorang ayah sangat memenuhi benaknya sehingga ia tak mampu berkata-kata.
"Mau kemana kau? Urusan kita belum selesai." Suara Naruto memecah kesunyian di ruangan itu. Namun Sai tak mendengar. Ia sudah terlanjur menulikan telinganya sebelum ia menyakiti dirinya sendiri lebih dari ini.
Slam!
"Hn." Tanpa banyak kata Sasuke berbalik dan menuju kamarnya. Ia hendak menenangkan diri dan menyelidiki alamat sementara Sai di Konoha melalui laptopnya. Jadi jika ada sesuatu yang terjadi pada Naruto atau putrinya, setidaknya dia tahu kemana dia harus mengarahkan pistolnya.
Setelah Sasuke pergi, Hiyori yang masih berada dalam dekapan Naruto mendongak dan mendapati ekspresi sang Ibu makin tak enak dilihat. Masih dengan tatapan datarnya, Hiyori bertanya dengan suara pelan.
"Kenapa Kaa-san marah?"
Sontak Naruto menundukkan pandangannya, balik menatap Hiyori dengan ekspresi kesal yang tidak ditutup-tutupi.
"Itu karena Paman itu pergi begitu saja, padahal banyak yang ingin Kaa-san bicarakan." Gumam Naruto bête. Hiyori yang sifat dasarnya tak acuh cuma mengangkat bahu dan beranjak pergi.
Naruto menghela napas berat.
'Padahal menurutku akan lebih bagus kalau ditambahkan sedikit warna orange.' Batin Naruto kesal.
.
.
.
Sasuke menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Wajahnya yang penuh kedutan tampak semakin mengeras, sehingga ia lebih memilih untuk menutupinya dengan lengannya. Ia syok, sangat. Tidak ada satu orang tuapun yang akan baik-baik saja ketika mengetahui putri semata wayang mereka dibawa pulang oleh seorang pria, dan sang putri mengatakan secara blak-blakan bahwa pria itu adalah calon suaminya.
Apalagi jika dia masih balita, dan pria itu bahkan lebih pantas untuk menjadi ayahnya!
"Apa yang kau pikirkan, DarkNaru?" desah Sasuke lelah. Sejak pertama kali ia melihat Hiyori di incubator, ia sudah tahu bahwa putrinya itu adalah reinkarnasi dari DarkNaru dan pada saat itu juga, ia menyadari bahwa hidupnya tidak akan berjalan semudah yang ia kira.
"Mau bertaruh?"
Sasuke sontak membuka mata dan menyingkirkan lengannya hanya untuk melihat Naruto menyeringai di depan pintu.
"Sejak kapan kau masuk?" tanya Sasuke dengan alis terangkat. Naruto mendengus meremehkan.
"Sejak kau dan keposesifanmu itu membuatmu merengek seperti bayi?" tanya Naruto balik, membuat mata kanan Sasuke berkedut tak suka ketika pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan pula.
"Aku normal. Tidak sepertimu yang hanya mengangkat bahu ketika Hiyori menjadi mangsa pedofil dan—"
BUGH!
Wajah Sasuke berputar ke samping dengan cepat ketika sebuah pukulan ala Muay Thai mengenai pipinya dengan telak.
"Jadi maksudmu aku ini orang tua yang tidak bertanggung jawab, begitu?" suara gemerutuk gigi yang dikerat mau tak mau membuat Sasuke merinding. Naruto tidak pernah berubah. Tetap garang dan perkasa seperti dulu. Bahkan terkadang lebih parah jika pekerjaan yang bertumpuk membuatnya stress sehingga membutuhkan samsak tinju sebagai pelampiasan.
Bersyukurlah, Naruto mempunyai Sasuke.
"Aku… tidak bermaksud seperti itu." Sasuke membela diri seadanya. Dengan hati-hati ia menyentuh pipinya dan berjengit menahan nyeri.
"Baguslah kalau seperti itu," sahut Naruto tak acuh, bermaksud kembali ke topik awal. "Kau tahu sendiri bahwa Hiyori itu DarkNaru, kan?"
Dalam diam Sasuke mengangguk, menduga-duga kemana larinya pembicaraan sensitif ini.
"Seharusnya kau adalah orang yang paling mengerti dia, mengingat kau melayaninya selama beberapa bulan. Jujur saja, walaupun dia adalah 'aku yang lain', aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Sama sekali." Naruto melanjutkan, masih memandang intens Sasuke yang tampak berpikir keras.
Naruto benar. Bagaimanapun juga Hiyori adalah esensi dari DarkNaru, bukti bahwa dia benar-benar kembali seperti yang ia janjikan. Tapi dia juga tidak bisa terima kalau Hiyori—anaknya—harus memilih jalan yang salah hanya karena ia reinkarnasi dari 'bagian lain' istrinya.
"Ini tidak benar," gumam Sasuke tanpa sadar, membuat Naruto menaikkan alisnya. "Ini salah, Naruto. Hiyori masih sangat muda, dan ia layak mendapatkan yang lebih baik."
"Aku tahu hubungan kalian tidak begitu baik, tapi—"
"Tidak," sanggah Sasuke cepat. "Ini bukan masalah masa lalu. Aku sudah terlalu tua untuk mengungkit-ungkit masalah lama. Tidak. Ini lebih ke hati nuraniku sebagai seorang ayah, Naruto." lanjutnya lagi seraya mendongak menatap istrinya secara langsung.
"Kelemahan seorang ayah adalah putrinya, kau tahu itu."
Naruto terdiam.
"Heh," ia mendengus. Perlahan ia mendekati Sasuke dan mengelus pipinya yang memar. "Ternyata aku tidak salah pilih, huh?"
Sasuke mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kau benar, Sasuke. Hiyori adalah anak kita, putri kita satu-satunya. Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti, jadi anggap saja apa yang ia katakan tadi hanya sebuah lelucon—"
"Tapi—"
"Aku tahu. Kau ingin mengatakan bahwa terlepas dari betapa mudanya ia, Hiyori tetap DarkNaru, kan?" tebak Naruto yang langsung tersenyum puas ketika Sasuke mengangguk pelan.
"Begini saja. Kita tunggu saja hingga ia cukup dewasa untuk memutuskan semuanya sendiri. Dan jika ia tetap bersikeras untuk memilih Sai, maka kita sebagai orang tuanya hanya bisa menyetujui pilihannya." Jelas Naruto memberikan solusi.
Sasuke menyipitkan matanya, berpikir. Secara logika, wajar saja jika Hiyori memilih Sai. Jiwanya adalah jiwa DarkNaru yang kalau ia masih hidup, ia pasti seusia dengan Naruto dan tentu saja ia lebih tertarik dengan pria seumurannya. Yang Sasuke tak mengerti adalah, apakah saat DarkNaru terlahir kembali dalam sosok anak kecil, kepribadian dan seleranya tidak terpengaruh sedikit pun?
Sungguh, Sasuke benar-benar tidak paham dengan sistem reinkarnasi.
Tapi kemudian Sasuke mengingat kenangan-kenangan yang ia lalui bersama sisi Naruto yang lain itu. Ia menyebalkan, tentu saja. Pikirannya tidak bisa ditebak dan menimbulkan rasa tidak nyaman jika berdekatan dengannya. Namun ia mengorbankan dirinya, mengalah demi menyelamatkan Naruto agar istrinya bisa menjalani hidupnya seperti orang normal…
"Tapi dia tetap Hiyori…" gumam Sasuke tanpa sadar.
"Yeah, dan dia juga DarkNaru," sahut Naruto cepat. "Kau tidak bisa mengelak dari kenyataan, Sasuke."
Menghela napas, Sasuke mengangguk kecil. Kepalanya sedikit pusing dan ia memutuskan untuk meminum obat penenangnya sebelum ia membuat masalah.
"Kau semakin dewasa, Naru." Gumam Sasuke setelah menelan beberapa butir obatnya. Matanya menatap penuh kasih Naruto yang kini menaikkan sebelah alisnya—lagi. "Walaupun kau masih suka menganiaya diriku, tapi setidaknya kau membuktikan bahwa orang seaneh apapun bisa berubah. Kau menjadi lebih bi—"
"KAA-SAN! DRAGON BALL-NYA SUDAH MULAI!"
"—jak…"
"Oke, Ryuu-chan!" teriak Naruto dengan cengiran rubahnya. Tanpa menunggu lama ia keluar kamar, tak lupa membanting pintu dan berlari kencang hingga menimbulkan suara gaduh di koridor.
Sasuke tersenyum kecil seraya melirik koleksi komik Naruto di samping lemari pakaian mereka.
"Yah… kurasa aku salah."
.
.
.
Hiyori menyeringai menatap layar komputernya sementara jemari kecilnya masih menari di atas keyboard. Rentetan huruf terpantul dari kedua bola mata biru gelapnya.
"Sedikit lagi…" desahnya pelan. Jemarinya terus melakukan hal yang sama sampai sebuah ikon folder di layar membuat seringainya tampak semakin menyeramkan.
"Konoha Facancy Hotel, room 379, huh?"
Mata balita yang seharusnya masih terlihat polos itu berkilat diantara kekosongan safirnya.
"Akhirnya aku menemukanmu—"
Sepertinya sifat posesif, obsesif, dan segala sifat buruk berakhiran –sif lainnya menurun pada Hiyori.
"Paman Sai."
.
.
.
TBC? THE END?
Holaaa~ Ketemu lagi sama author gaje yang kepedean publish fic nista ini~
Rei mengucapkan terima kasih banyak buat semuanya yang udah baca dan mereview fic TSGB. Rei senengg… banget, karena itu Rei memutuskan untuk membuat sekuel tentang SaiXHiyori. Sebenarnya agak khawatir sih, masangin chara Naruto sama OC. Tapi gak papa, kan? *ngarep. Jadi kalian maunya chap special ini one-shoot atau multi-shoot? Rei bakal voting, deh. Dan maaf kalo Rei publishnya di TSGB, bukan buat new-story. Menurut Rei bakalan repot soalnya gak bakalan nyambung ama ni fic kalo gak baca alur sebelumnya. Jadi biar sekalian, gitu…
So? Mind to review?
