My Beauty Rider

.

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Other cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin

Genre : YAOI/Shonen-ai

Note : cerita ini asli milik saya sendiri, hanya saja dulu saya pernah post di akun teman saya. Bagi yang sudah pernah baca, mungkin kalian masih ingat ceritanya? Ini hanya repost ya readers semua. Dan ini adalah FF pertama saya di dalam dunia perFFan.

.

.

.

Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^

.

.

DOUZO

···

Chap 9 (end)

···

Suara burung berkicau terdengar nyaring di pagi hari dari halaman rumah Kim Jaejoong. Suara kicauannya begitu nyaring, seakan mengerti suasana hati orang yang tengah mendengarkannya dengan seksama. Sepasang mata indah milik Kim Jaejoong tengah menatap burung yang bertengger indah di dahan pohon halaman rumahnya. Sesekali terdengar siulan kecil dari mulutnya. Nampaknya, hari ini namja cantik itu tengah merasa bahagia.

Bagaimana tidak, pasalnya kemarin adalah hari yang sangat membahagiakan baginya. Ia, bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat berarti bagi hidupnya. Orang yang selalu memberikan perhatian dan kasih sayang pada Jaejoong. Orang yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, tempat ia berbagi suka maupun duka. Tempat yang akan memberikannya kenyamanan dan kehangatan disaat ia tengah bersedih. Tempat yang meneranginya saat dirinya dilanda masalah.

Yunho. Dialah orangnya. Teman masa kecil Jaejoong yang sudah ia anggap sebagai tambatan hatinya. Kini, setelah 9 tahun tak bertemu, ia kembali dipertemukan oleh takdir, sesuatu yang tak pernah dipikirkan oleh Jaejoong sebelumnya.

Ternyata, tantangannya pada Yunho waktu itu merupakan cara Tuhan untuk menyambung benang merah yang sempat terputus itu. Kini, kehidupan seorang Kim Jaejoong benar-benar telah berubah. Dulunya ia adalah orang yang sangat dingin, keras dan semaunya sendiri. Tapi kini, semuanya berubah. Ia tak lagi menjadi anak pembangkang, menjadi namja yang arogan dan dingin. Semuanya berubah karna dua hal yang sama sekali jauh dari pikirannya. Dua kejadian yang sangat merubah kehidupannya.

Kini, ia akan mencoba mengulangi semuanya dari awal. Kehidupan bersama appanya yang dulu sama sekali tak akur, kini berangsur membaik. Perlahan, terbentuklah keluarga yang sebenarnya antara anak dan appa. Serta, kehidupannya bersama Yunho. Orang yang sangat ia cintai.

Pagi ini, tak seperti biasanya. Suasana kediaman Jaejoong begitu tenang dan nyaman, tak seperti pagi-pagi sebelumnya yang sangat suram karna kelakuan Jaejoong sendiri. Suasana kali ini begitu nyaman dan tentram.

Kini Mr. Kim dan Jaejoong tengah menikmati sarapannya. Mereka berdua duduk dimeja makan ruang makan. Senyum Jaejoong tak pernah pudar sedikitpun, membuat Mr. Kim memandang putranya dengan heran.

"Joongie, dari tadi appa perhatikan kau selalu tersenyum, apa ada hal yang membuatmu begitu senang eoh?" tanya Mr. Kim pada Jaejoong.

Jaejoong sendiri tak langsung menjawabnya, ia salah tingkah karna ketahuan oleh appanya. "Em, anio. Tidak ada appa. Aku, hanya senang bisa makan bersama appa." jawab Jaejoong.

Mr. Kim tentu saja tak percaya begitu saja, karna ia tahu jelas apa yang terjadi semalam antara anaknya dan juga Yunho.

"Jinja? Baiklah, kalau kau tak mau berbagi dengan appamu ini" Mr. Kim tersenyum lembut sambil memandang anaknya. "Teruskan makanmu."

Jaejoong hanya mengangguk, ia kembali makan sarapannya. Mereka saling diam menikmati sarapan masing-masing, sampai suara Mr. Kim kembali terdengar.

"Joongie, apa kau tak berniat ingin bekerja? Bukankah kini kau sudah lulus kuliah?"

Jaejoong sempat heran mendengar pertanyaan appanya. Ia terdiam cukup lama mencerna apa yang appanya katakan.

"Appa bukannya ingin agar kau bekerja, hanya saja sekarang appa sudah tua. Dan lagi appa tak tahu sampai kapan appa akan bertahan. Jadi, lebih baik sekarang kau mulai berfikir tentang dirimu. Agar nanti jika appa pergi, kau bisa mandiri."

"Apa yang appa katakan. Appa tak boleh bicara seperti itu." Jaejoong terlihat kesal karna appanya berkata yang aneh.

"Bukan begitu Joongie. Lihatlah keadaan appa sekarang, appa sudah tak bisa seaktif dulu untuk bekerja. Pekerjaan appa sudah appa serahkan pada orang kepercayaan appa. Tapi appa pikir sebaiknya pekerjaan itu appa serahkan padamu saja Joongie, bukankah appa masih memiliki kau sebagai anak. Jadi appa pikir akan lebih baik jika kau yang mengambil alih pekerjaan appa."

Jaejoong tampak berfikir keras, sebenarnya ia sama sekali tak berminat pada pekerjaan appanya. Ia lebih menyukai kebebasan tak ingin terkurung dalam ruangan kerja.

"Entahlah appa, bukannya aku tak mau untuk melanjutkan pekerjaan appa, tapi aku sama sekali tak tertarik dengan pekerjaan appa. Aku lebih menginginkan pekerjaan yang aku sukai, bukan pekerjaan yang menuntutku untuk berfikir keras." Jaejoong menunduk saat mengatakan itu. Ia tak sanggup melihat appanya yang pasti sangat kecewa terhadapnya. Baginya, lebih baik ia berterus terang sekarang, daripada nantinya malah membuat perusahaan appanya bermasalah hanya karna dirinya tak becus menjalankannya.

"Baiklah, kalau itu maumu, appa tak akan memaksa. Appa hanya ingin memberikan yang terbaik bagimu. Lalu, pekerjaan apa yang kau sukai?"

"Ah, itu, em itu," Jaejoong gelagapan menjawab pertanyaan appanya. Sejujurnya ia sendiri tak tahu, pekerjaan apa yang ia sukai sekarang ini. Karna ia tak pernah bekerja sebelumnya.

"Jangan katakan kau menyukai balapan eoh Kim Jaejoong, itu bukan suatu pekerjaan!" Mr. Kim nampaknya jengah, takut kalau yang diinginkan anaknya adalah menjadi pembalap seperti yang biasanya Jaejoong lakukan.

"Ania appa. Aku sekarang sudah tak balapan lagi."

"Baguslah, appa bukan melarangmu untuk balapan, hanya saja appa takut terjadi apa-apa denganmu."

"Ne appa, arraseo."

"Baiklah, nanti saja kita bicarakan masalah ini. Pikirkanlah Jaejoong, apa yang terbaik bagimu." Mr. Kim tersenyum pada anaknya, lalu mengusap lembut kepala Jaejoong.

"Ne appa."

Disebuah pusat pembelanjaan ternama di kota Seoul, nampak dua orang namja tengah duduk di salah satu stand makanan. Kedua namja itu sangat tampan dengan postur tubuh yang bisa dibilang proposional. Salah satu dari namja itu tengah asik menyantap makanannya, sedangkan namja satunya tengah memandang liar kearah yeoja-yeoja yang berseliweran didepan mereka. Yah, mereka adalah Park Yoochun dan Shim Changmin, dua sahabat sekaligus dongsaeng dari seorang Jung Yunho.

"Minie, aku merasa sekarang Yunho hyung sudah lama sekali tak pergi bersama kita." terdengar suara husky milik Yoochun bertanya pada Changmin.

"Ne Chun hyung, aku juga merasa begitu." jawab Changmin sambil memasukkan kimbab kemulutnya.

"Sekarang saja kita hanya berdua disini, rasanya ada yang kurang kalau Yunho hyung tak bersama kita. Apa yang sedang ia lakukan ya? Sampai melupakan dua dongsaengnya yang manis ini." kata Yoochun sambil menampakkan wajah aegyo yang sukses membuat Changmin mual.

"Haiss hyung, tampangmu malah jadi seperti idiot daripada aegyo." jawab Changmin dan sukses membuat Yoochun menghadiahinya jitakan gratis.

"Yah hyung, appo!" rutuk Changmin sambil mengusap kepalanya yang dijitak Yoochun.

"Mwo? Mau lagi?" tanya Yoochun sudah siap dengan tangan yang sudah melayang didepan kepala Changmin.

"Ani, khamsa." jawab Changmin cepat, takut kalau hyungnya itu memukulnya lagi.

"Ck, aku sungguh bosan Minie. Apa kita hubungi Yunho hyung saja bagaimana?"

"Ide bagus hyung, atau lebih baik kita langsung kerumahnya saja? Aku sudah lama tak bermain PS disana. Kajja!" Changmin dengan semangat menarik tangan Yoochun menuju mobilnya diparkiran.

"Haiss, tunggu dulu Minie. Sebaiknya kita telpon Yunho hyung dulu, kita pastikan dia ada dimana." Yoochun menarik kembali tangan Changmin agar duduk dikursi.

"Benar juga ya, nanti ia tak ada dirumah kita akan sia-sia pergi kesana. Nah, kalau begitu kau telpon Yunho hyung saja hyung."

"Ne ne ne, cerewet!" dengus Yoochun kesal.

Segera ia menghubungi ponsel Yunho, tak berapa lama terdengar jawaban dari seberang.

"Yeoboseyo,"

"Yeoboseyo hyung, ini aku Yoochun."

"Ne, arraseo. Ada apa kau menelponku?"

"Ani hyung, kami hanya kangen padamu. Sudah lama kita tak keluar bersama. Aku dan Changmin sekarang ada di mall xxx hyung, bagaimana kalau kau kesini?"

"Hemm, baiklah. Aku juga sedikit rindu pada kalaian berdua. Tunggulah disana, aku juga ingin mengenalkan seseorang pada kalian. Jaa,"

"Ne hyung, kami menunggumu."

Tut..tut..tut

"Bagaimana hyung?" tanya Changmin saat dilihatnya Yoochun sudah mematikan sambungan telponnya.

"Yunho hyung akan segera kesini, katanya ia juga ingin mengenalkan seseorang pada kita."

"Jinja hyung? Siapa yang mau dikenalkannya pada kita?"

"Molla, ia tak memberi tahuku. Sudah, sebaiknya kita tunggu saja ia."

"Ne baiklah."

Seorang namja cantik tengah berguling-guling diatas kasurnya. Matanya terpejam sambil memeluk guling. Wajahnya begitu murung. Bukankah tadi sewaktu sarapan, wajah namja cantik itu tengah bahagia?

"Apa yang harus aku lakukan? Hemm," ternyata namja cantik itu tengah berfikir tentang ucapan appanya tadi sewaktu sarapan. Pertanyaan appanya yang menanyakan pekerjaan apa yang disukainya.

"Hemm, apa sebaiknya aku turuti permintaan appa untuk melanjutkan perusahaannya? Ah, tapi aku tak suka jika harus bekerja dikantor begitu."

Jaejoong terus berkutat dengan pikirannya. Ia tak ingin mengecewakan sang appa, tapi ia juga tak ingin melakukan pekerjaan yang tak ia sukai.

"Apa yang harus kulakukan? Argggghhh," Jaejoong mengerang frustasi. "Yunie, apa ya harus Joongie lakukan? Hiks, sebaiknya aku telpon Yunie saja."

Jaejoong segera mengambil ponselnya, bertepatan dengan ponselnya yang berdering. "Yunie? Aiss, kenapa bisa tepat begini." tanpa pikir panjang Jaejoong menjawab panggilan Yunho.

"Yeoboseyo, yunie?"

"Yeoboseyo, ne. Ini aku," jawab suara diseberang.

"Yunie, kebetulan sekali. Baru saja Joongie ingin menelpon Yunie." cerita Jaejoong. Entah kenapa, jika bersama Yunho, sifat Jaejoong berubah menjadi manis.

"Begitukah? Kita memang jodoh." jawab Yunho santai yang sukses membuat wajah Jaejoong memerah. Untung saja Yunho tak bisa melihatnya, kalau saja ia melihat wajah Jaejoong yang sedemikian merah, bisa dipastikan Yunho akan melakukan hal yang lebih. Karna dimata Yunho, wajah Jaejoong yang memerah itu, sangat menggemaskan.

"Ak, Yunie, ada apa Yunie menelpon Joongie?" tanya Jaejoong mengalihkan pembicaraan.

"Ani, aku hanya ingin mengajak Joongie pergi. Apa bisa?"

"Pe..pergi? Be..berdua?" tanya Jaejoong mendadak gugup. Entah kenapa ia merasa Yunho tengah mengajaknya kencan.

"Ne, apa kau tak mau Joongie?" terdengar suara Yunho yang sedikit kecewa.

"Ah, ani. Joongie tentu mau."

"Baiklah, Yunie sekarang kesana ne. Annyeong,"

Tuut..tuut..tuut

Jaejoong tengah sibuk memilih baju yang akan dipakainya untuk pergi dengan Yunho. Rasanya semua pakaian yang ia punya tak cukup bagus untuk ia pakai. Terdengar suara Jaejoong yang tengah bingung memilih baju.

"Terlalu metal." kata Jaejoong saat memakai baju berwarna hitam dengan aksen perak diluarnya. Dilemparnya begitu saja baju itu kekasur.

"Terlalu heboh." lagi-lagi dilemparnya begitu saja kemeja bercorak warna-warni itu ke kasurnya.

"Terlalu formal." kali ini kemeja putih lengan panjang yang mendapat giliran dilempar Jaejoong kekasurnya.

Entah sudah berapa baju yang ia lemparkan karna tak sesuai dengan keinginannya.

"Akhh, kenapa aku jadi seperti yeoja saja. Huh," dengus Jaejoong kesal.

Dipilihnya lagi baju-baju dalam lemarinya, dan sesaat matanya membulat melihat satu baju. Diambilnya baju itu lalu mulai dipakainya.

"Nah, ini cocok." senyum mengembang diwajah Jaejoong. "Sekarang tinggal menunggu Yunie." Jaejoong dengan langkah riang keluar menuju ruang tamu rumahnya.

Ting tong

Suara bel rumah Jaejoong terdengar nyaring. Jaejoong yang tengah menonton sambil menunggu Yunho bergegas membukakan pintu. Dan matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang tengah berdiri didepan pintu rumahnya.

"Annyeong," sapa orang itu ramah.

"Yunie." senyum mengembang diwajah Jaejoong, wajahnya tiba-tiba memanas saat dilihatnya Yunho dengan kemeja lengan pendek warna biru pas body, yang menunjukkan bentuk tubuh Yunho.

Yunhopun demikian, jantungnya berdetak tak karuan saat dilihatnya Jaejoong begitu cantik dengan kaos putih v-neck yang memamerkan leher putihnya. Ditambah lagi kalung pemberiannya yang sama dengan yang tengah ia pakai, melingkar indah di leher Jaejoong, menambah manis penampilan Jaejoong.

"Neomu yeopo," puji Yunho.

Wajah Jaejoong sukses memerah seperti kepiting rebus, ia menundukkan wajahnya tak tahan jika ditatap seperti itu oleh Yunho. Yunho yang memang sudah kengen berat pada Jaejoing, tanpa pikir panjang menyentuh wajah Jaejoong dan menarik dagunya. Segera setelahnya dilumatnya bibir merah Jaejoong yang memang sangat ingin ia cicipi. Merasakan manisnya bibir Jaejoong yang sudah menggodanya sejak awal mereka bertemu.

Ciuman yang Yunho berikan sedikit dalam dan panas. Jaejoongpun sudah sedari tadi melingkarkan tangannya pada leher Yunho dan memejamkan matanya untuk lebih menikmati permainan bibir Yunho. Tangan Yunho sendiri sudah bergerak kebelakang leher Jaejoong, menumpunya untuk memperdalam ciuman mereka. Sementara tangan satunya melingkar dipinggang Jaejoong dan menariknya agar tubuh Jaejoong menempel padanya.

Ciuman Yunho yang awalnya hanya sebatas mengulum bibir Jaejoong, kini sudah berani meminta lebih. Digigitnya sedikit bibir bawah Jaejoong hingga Jaejoong membuka mulutnya dan lidah Yunho bisa bermain didalamnya. Dengan lihai lidah Yunho bermain di dalam mulut Jaejoong. Menjamah deretan gigi Jaejoong dan bermain dengan lidahnya. Sesekali terdengar desahan halus dari Jaejoong.

Cukup lama mereka melakukan ciuman yang bisa dibilang sedikit panas itu, akhirnya dengan berat hati Yunho melepaskan tautan bibir mereka karna desakan Jaejoong yang terus mendorong tubuhnya karna kehabisan udara.

"Hah, ha, hah," Jaejoong segera menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Sementara Yunho dengan wajah kikuk melihat Jaejoong yang terengah-engah.

"Mian," kata Yunho saat dilihatnya Jaejoong masih terengah-engah karna kehabisan pasokan udara.

"Gwen hah, hah, cana." kata Jaejoong terputus.

"Err, kalau begitu ayo kita pergi. Ah, ya, Kim ahjussi mana? Aku harus meminta izin dulu padanya."

"Appa ada di dalam, masuklah."

Yunho segera mengikuti Jaejoong menemui appanya. Sesampainya didalam, Yunho sedikit kaget karna bentakan Mr. Kim.

"Yak, apa yang kalian berdua lakukan eoh? Seenaknya saja berciuman didepan rumah begitu. Apa kata orang jika melihat itu? Untung saja rumah ini dikelilingi pagar yang tinggi, sehingga orang luar sulit untuk melihat kedalam!"

Yah, ternyata Mr. Kim mendapat tontonan gratis lagi pada pasangan muda ini. Dirinya yang tadi ingin menanyakan siapa yang datang, malah disuguhi pemandangan 'hot' dari anaknya dan Yunho.

"Ap, appa, i, it, itu itu, ah," Jaejoong gelagapan menjawab pertanyaan appanya. Ia tak menyangka kalau appanya akan melihat dirinya tengah berciuman dengan Yunho.

"Ah, Kim ahjussi mian. Aku yang salah, tak seharusnya aku berbuat itu pada Jaejoong." Yunho segera meminta maaf pada Mr. Kim.

"Ck, sebenarnya apa hubungan kalian hah? Sampai-sampai kau berani mencium anakku didepan rumahku pula!" tunjuk Mr. Kim pada Yunho.

"Ano, itu, emm,"

"Jawab!"

"Itu, em, aku. Aku mencintai Jaejoong ahjussi." jawab Yunho akhirnya. Sementara Jaejoong, ia hampir pingsan karna Yunho berterus terang pada appanya. Ia hanya diam memandang horor pada appanya. Ia takut appanya akan murka jika mengetahui Yunho mencintainya.

"Mwo? Apa aku tak salah dengar? Kau mencintai putraku itu Yunho-ah?" ulang Mr. Kim.

"Ne, ahjussi. Aku sangat mencintai Kim Jaejoong." jawab Yunho mantap sambil melirik kearah Jaejoong dan tersenyum manis.

"Dan kau Joongie, apa kau juga mencintai namja Jung ini?" tanya Mr. Kim kini pada anaknya.

"Aku, em, aku. Appa, apa appa akan marah kalau aku berkata jujur?" tanya Jaejoong takut-takut.

"Appa akan sangat marah bila kau berbohong. Jadi bagaimana, apa kau juga mencintai namja Jung ini?"

"Aku, emm, ne appa. Aku juga mencintainya. Mian," kata Jaejoong lemah.

"Ck, buat apa kau minta maaf? Memangnya kau berfikir appa akan marah eoh? Ck, kalian ini." Mr. Kim menggelengkan kepalanya melihat tingakah dua anak didepannya. "Kau namja Jung," tunjuk Mr. Kim pada Yunho, "Jagalah Joongieku dengan baik. Jangan kau sakiti dia. Dan kau Kim Jaejoong," kini pandangan mata Mr. Kim beralih ke Jaejoong, "Jangan buat masalah lagi, jangan sampai Yunho kesusahan gara-gara ulahmu! Arra?"

Jaejoong dan Yunho sama-sama bingung atas sikap Mr. Kim, mereka saling pandang meminta penjelasan.

"Kenapa kalian malah bengong? Apa kalian tak senang eoh?"

"Tu, tunggu appa. Jadi, maksud appa, appa-"

"Ne, appa merestui kalian." jawab Mr. Kim memotong pertanyaan anaknya sambil tersenyum tulus pada keduanya.

"Jin, jinjalyo appa?" tanya Jaejoong tak percaya.

"Jinja ahjussi?" timpal Yunho yang juga sama tak percayanya.

"Yah, apa kalian pikir aku ini orang tua yang suka berbohong eoh! Ck, dasar kalian!" Mr. Kim berpura-pura marah. Namun tak lama, senyum tulus terukir diwajahnya. "Appa akan bahagia jika kau bahagia Joongie, apapun yang menjadi pilihanmu, appa akan setuju."

Jaejoong terharu mendengar perkataan appanya, "Lagipula, dia namja yang cukup baik, walau wajahnya sangat mesum." tambah Mr. Kim sambil berisik ditelinga anaknya.

"Ne appa. Gomawo," Jaejoong sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Dirinya sangat bahagia mendapat restu dari sang appa, padahal awalnya ia tak ingin mengatakan ini dulu pada appanya. Ia takut kalau appanya akan kaget dan mengalami serangan jantung lagi, tapi apa yang ia dapat? Appanya malah dengan mudah memberikannya restu.

"Gomawo Kim ahjussi," sahut Yunho yang berdiri disebelah Jaejoong.

"Ah, mulai sekarang panggil aku appa. Arra?"

"Em, ne, appa." kata Yunho dengan sedikit gugup.

"Joongie, apa kau senang hmm?"

Yunho dan Jaejoong kini tengah diperjalanan menuju mall tempat Yoochun dan Changmin berada.

"Ne, aku sangat bahagia Yunie." kata Jaejoong sambil tersenyum manis dan hal itu membuat jantung Yunho berdetak kencang.

"Kau tahu Joongie, tiap kali aku melihat senyummu, jantung ini berdetak tak karuan." kata Yunho sambil memegang dada kirinya.

"Jinja?" tanya Jaejoong lagi sambil tetap memasang senyum manis pada Yunho.

"Aiss, kau ini Joongie. Jangan buat jantungku ini berdetak kencang lagi, apa kau ingin jantungku berhenti gara-gara berdetak kencang terus seperti ini."

"Mian, aku hanya merasa sangat senang." kali ini Jaejoong bergelayut manja di tangan kekar Yunho.

"Nah sudah sampai, kajja turun." mereka kini sudah tiba, Yunho segera menghubungi Yoochun untuk memberi tahu mereka sudah datang.

"Ne hyung, kami ada di foodcourt lantai 4, kemarilah."

"Ne Chunie. Joongie, kajja." Yunho menggandeng tangan Jaejoong saat memasuki mall itu. Ia tak ingin melepaskan genggaman tangannya pada tangan putih nan halus milik Jaejoong itu. Bahkan saat Jaejoong menerima telponpun tangannya tak pernah dilepas oleh Yunho. Sungguh posesive.

"Ne, yeoboseyo Su-ie, nde? Ne aku ada di mall, wae? Mwo? Ha, ha, em, aku sedang bersama Yunho Su-ie. Mwo? Em, ne baiklah, nanti aku kabari lagi."

"Dari siapa?" tanya Yunho setelah Jaejoong memasukkan ponselnya kesaku celana.

"Dari Junsu, kau ingat namja yang selalu bersamaku? Dialah Junsu, sahabat sekaligus dongsaeng yang sangat dekat denganku."

"Ah, begitu."

"Ne,"

"Yunho hyunggggg!" seru seseorang dengan suara tiga oktafnya, mengakibatkan semua mata pengunjung foodcourt itu memandang kesal pada orang itu.

"Yak, Minie, kenapa berteriak. Lihat kau mengganggu pengunjung yang lain." kesal Yoochun sambil memandang orang-orang yang tengah memperhatikan mereka.

"Aiss, biar saja. Toh agar Yunho hyung melihat kita. Tapi, ngomong-ngomong siapa yeoja yang digandeng mesra Yunho hyung itu ne?" tanya Changmin sambil terus memandang kearah Yunho.

Yoochun pun mengikuti arah pandang Changmin dan ia seperti mengenal sosok yamg tengah digandeng mesra oleh Yunho itu.

"Hei Minie, Chunie, bogoshipo." Yunho sudah berdiri didepan dua dongsaengnya itu, lalu mengeluarkan sapaan yang sangat sangat ramah.

Yoochun dan Changminpun sedikit heran dengan hyungnya itu, tak biasanya Yunho akan menyapa mereka dengan lembut begitu.

"Annyeong hyung, nado bogoshipo." jawab Yoochun dan Changmin berbarengan.

"Dia siapa hyung?" tanya Changmin yang memang sangat penasaran. "Yeopo," tambahnya.

"Hais, apa yang kau katakan eoh! Aku namja pabo!" kini Jaejoong mau tak mau harus bicara, ia paling tak suka ada yang menyebutnya cantik. Hanya Yunho saja yang boleh menyebutnya cantik.

"Aiss galak sekali, tapi sepertinya aku mengenalmu, hemm," Changmin tampak berfikir sejenak, sampai Yoochun berseru kaget.

"Omo, apa kau Jaejoong? Kim Jaejoong? Benarkah itu kau?" tanya Yoochun kaget.

Jaejoong dan Yunho hanya tesenyum gaje, sementara Changmin melototkan matanya saking shocknya.

"Mwo? Kau Kim Jaejoong yang mengalahkan Yunho hyung waktu balapan itu? Jinja itu kau?" Changmin masih tak percaya dengan ucapan Yoochun.

"Ne, ini aku. Waeyo?" tanya Jaejoong yang sangat risih melihat Yoochun dan Changmin yang sangat shock itu.

"Tapi, tapi, bukankah kau dan hyung itu, aissss. Kenapa bisa?" tanya Yoochun meminta penjelasan.

"Haha, baiklah akan kujelaskan. Tapi biarkan kami duduk dulu ne,"

Dan mengalirlah cerita Yunho mengenai Jaejoong, dari mulai pertemuannya dengan Jaejoong kecil hingga kini mereka bisa mengingat lagi. Dan tak lupa restu yang sudah mereka dapat dari appa Jaejoong. Yunho bercerita sambil terus tersenyum dan tak melepaskan genggamannya pada tangan Jaejoong.

"Lalu orangtuamu sendiri hyung, bagaimana?"

"Aku belum memberitahu mereka Minie, aku masih kesal pada mereka."

"Yah hyung, bagaimanapun mereka adalah orangtuamu. Terlepas dari perlakuan mereka padamu."

"Benar Yunie, bagaimana kalau besok kita kerumahmu untuk memberi tahu mereka?"

"Entahlah Joongie,"

"Aiss hyung, kenapa hyung jadi penakut begitu? Itu bukan seperti hyung yang kami kenal."

"Ne hyung, ayo semangatlah. Kami berada dipihakmu."

"Aku juga ada dipihakmu Yunho hyung,"

Terdengar suara lumba-lumba yang begitu nyaring menyela percakapan antara Yunjaeyoomin.

"Su-ie, kenapa kau ada disini?"

Jaejoong yang pertama menyadari suara khas milik dongsaengnya itu merasa kaget karna tiba-tiba Junsu bisa ada disini.

"Ani hyung, aku tadi sedang jalan-jalan disini, tak kusangka melihatmu turun bersama Yunho hyung tadi, jadi kuikuti saja kemana kau pergi."

"Yah kau, rupanya saat kau menelpon tadi kau sudah mengawasiku eoh?"

"Hehe, mian hyung. Akk, sudahlah. Apa aku boleh bergabung?"

"Ne tentu saja, ayo duduk!"

Kini mereka berlima tengah larut dalam suasana akrab. Sesekali terdengar suara tawa, dan teriakan kecil dari mereka. Padahal sebelumnya mereka berada disituasi yang sangat bertolak belakang.

Dikediaman Jung Yunho

Sayup-sayup terdengar suara teriakan yang saling bersahutan dari arah dalam kediaman Jung Yunho. Di ruang tamu rumah itu, nampak dua orang namja yang sama-sama gagah dan berpostur tegap tengah beradu pendapat. Salah satu dari namja itu nampak sangat murka, entah apa yang terjadi. Namun kelihatannya, masalah yang menjadi topik utama pertengakaran dua namja itu adalah masalah yang cukup besar. Terbukti dengan suara kedua namja itu yang sangat memekakkan telinga.

"Apa kau buta eoh? Bagaimana nantinya kau mau memberikan penerus bagi keluarga kita kalau kau menikahi seorang namja! Cih, apa yang ada di otakmu itu Jung Yunho!" ya, suara dua orang itu adalah suara Mr. Jung dan Jung Yunho itu sendiri. Nampaknya yang menjadi masalah utama diantara mereka adalah keberadaan namja cantik yang kini tengah duduk diam mendengar pertengkaran hebat antara orang tua dan anak itu.

"Dia," tunjuk Mr. Jung pada Jaejoong, "Apa yang kau lihat darinya eoh? Dia hanya seorang namja bodoh yang terpesona dengan kekayaan dan ketampananmu. Dia hanya namja idiot!" geram Mr. Jung.

Jaejoong yang mendengar jelas perkataan Mr. Jung itu hanya bisa terdiam mendengarnya. Otaknya tak bisa berfikir jernih mendengar perkataan yang jelas-jelas menusuk itu. Bagaiman bisa, Mr. Jung menganggap dirinya hanyalah namja yang tergiur dengan harta seorang Jung Yunho.

"Yak, apa yang kau katakan Jung sajangnim! Jangan sekali-sekai kau menyebut Jaejoong dengan sebutan hina seperti itu. Jaejoong bukanlah orang seperti apa yang kau katakan sajangnim." Yunho sangat gram mendengar orang yang begitu dicintainya, dihina didepan matanya sendiri. Terlebih lagi orang yanga menghina adalah appanya sendiri.

"Kau, berani-beraninya berkata kurang ajar padaku!" kini giliran Mr. Jung yang naik darah. Mendengar anaknya sendiri menyebut dirinya yang notabene adalah appanya, dengan sebutan sajangnim. "Kau, apa yang kau ajarkan pada anakku eoh? Kau menghasutnya supaya membenci appanya sendiri eoh?" kini Mr. Jung membentak Jaejoong. Matanya memerah akibat amarah yang sangat luar biasa.

"Ak, aku, aku tak me,"

"Diaaammm!" belum sempat Jaejoong mengatakan apapun, Yunho sudah berseru lantang membuat kedua orang itu diam karna terkejut.

"Kalau kau memang tak mau memberiku restu untuk bersama Jaejoong, baiklah. Aku tak akan memintanya lagi. Sekarang hiduplah yang baik Jung Sajangnim. Aku, tak akan kembali lagi kesini. Dan sekali lagi, jangan berani kau mengganggu Jaejoong, karna dia tak seperti apa yang ada dalam otakmu itu. Permisi, dan selamat siang."

Yunho segera menarik Jaejoong yang masih shock atas ucapan Yunho barusan. Otaknya tak menangkap baik maksud perkataan Yunho. Dia hanya pasrah ditarik oleh Yunho.

Sementara Mr. Jung, kini seperti tersengat listrik. Ia diam membatu ditempatnya. Tak mampu mengeluarkan suara apapun. Saking kaget dan tak menyangka anaknya sendiri bisa berlaku kurang ajar seperti itu.

Sudah seminggu Yunho pergi dari rumah, selama itupula kedua orang tua Yunho mencari keberadaan Yunho. Sementara Yunho sendiri tengah bermalas-malasan ria dirumah Jaejoong. Ia tak peduli berapa kali ponselnya berbunyi. Seperti sekarang, ia tengah menonton bersama Jaejoong, saat ponselnya kembali berdering untuk yang kesejuta kalinya.

"Angkatlah, siapa tahu itu dari appamu." Jaejoong dengan lembut memberitahu Yunho untuk menjawab panggilan diponselnya.

"Andwe, aku tak akan mau mengangkat telponnya kalau mereka tak memberiku restu juga." kata Yunho sambil menggenggam tangan Jaejoong yang kini bersandar pada bahunya.

"Kalau Yunie terus begini, pasti appa dan eomma Yunie akan sedih." terlihat segurat kesedihan diwajah cantik Jaejoong.

"Sudahlah Joongie, ini adalah keputusan Yunie. Kalau appa dan eomma Yunie tak merestui kita, akan kubuat mereka menyesal."

"Aiss, Yunie ingin melakukan apa eoh?" tanya Jaejoong yang kini sudah duduk tegak disamping Yunho.

Cup

Yunho mencium Jaejoong sekilas, "Itu yang ingin aku lakukan." seringai terlukis diwajah tampannya.

"Ya, apa yang kau lakukan, jika appa melihat kita bisa diceramahi lagi."

"Haha, kalau begitu menikahlah denganku, agar aku bisa puas tanpa harus takut terhadap appamu. Hmm?" tanya Yunho sambil menaik turunkan alisnya dan menyeringai setan. Hal itu membuat bulu kuduk Jaejoong meremang. Yunhopun melihat ketakutan dimata Jaejoong dengan sengaja menakut-nakutinya. Didekatkannya tubuhnya pada Jaejoong sambil menyeringai. Jaejoong sudah pasrah saat dirasakannya tubuh Yunho yang sudah semakin dekat dengan wajahnya. Dipejamkannya matanya sambil meremas ujung bajunya. Tangan Yunho perlahan menyentuh wajah Jaejoon, dan membuat Jaejoong bergidik ngeri.

"Ehemm!" suara dehaman yang keras menghentikan aksi Yunho menggoda Jaejoong. "Sebaiknya kau cepat nikahi anakku namja Jung, jangan samapai anakku hamil diluar nikah gara-gara kelakuan mesummu."

Yunho yang ketahuan berbuat kurang ajar pada Jaejoong, hanya bisa terseyum gaje sambil memandang punggung appa Kim yang barusan menegurnya.

"Rasakan!" dengus Jaejoong sambil berlari dari kejaran Yunho yang tetap setia memasang seringai mesumnya.

Keesokan paginya

Pagi hari dikeluarga Kim Jaejoong hari ini sedikit tegang. Pasalnya, entah mengetahui informasi darimana, sekarang orang tua Yunho sudah ada dikediaman Jaejoong. Mr. Kim yang memang sudah mendengar cerita dari Yunho tentang penolakan orang tuanya pada Jaejoong, kini mau tak mau harus ikut turun tangan.

"Annyeong tuan, apa yang membuat anda datang kemari?" sapa ramah dari Mr. Kim.

"Annyeong tuan. Kedatangan saya kemari ingin menjemput putra kami Jung Yunho. Saya dengar dia ada disini beberapa waktu ini."

"Ah, jadi itu yang membuat anda datang kemari. Baiklah saya akan panggilkan Yunho." Mr. Kim beranjak meninggalkan Mr. dan Mrs. Jung di ruang tamu kediamannya.

Sementara itu, Yunho tengah memandang gelisah kearah Jaejoong, ia sungguh tak siap jika harus berpisah dari Jaejoong.

"Tenanglah Yunie, semua akan baik-baik saja." kata Jaejoong sambil menggenggam tangan Yunho, memberinya kekuatan.

"Ne Joongie," Yunho tersenyum sambil membalas genggaman tangan Jaejoong.

"Yunho-ah, temuilah orangtuamu."

"Ne appa,"

Yunho segera berjalan menemui kedua orangtuanya.

"Tunggu disini Joongie, biarkan mereka bicara." Mr. Kim menggenggam tangan Jaejoong yang hendak menyusul Yunho.

Yunho sampai didepan kedua orang tuanya. Langsung saja Mr. Jung berbicara padanya.

"Pulanglah, appa dan eomma merindukanmu Yunie."

Yunho hanya menatap sang appa tanpa berkata apapun.

"Yunie, jebal. Pulanglah," kini Mr. Jung sudah memohon pada Yunho. Digenggamnya tangan Yunho. "Hanya kau yang akan mewarisi perusahaan appa, jadi appa mohon pulanglah."

"Jadi kau datang kesini hanya untuk menyuruhku untuk pulang? Kalau aku tak mau, kau akan melakukan apa eoh?" tanya Yunho dengan suara yang sangat dingin. Tak ada senyum yang keluar dari mulutnya.

"Apapun yang kau mau, akan appa penuhi Yunie. Apapun itu,"

"Apapun eoh?" tanya Yunho memastikan.

"Ne, apapun Yunie, asalkan kau mau pulang dan mulai mengurusi perusahaan."

"Baiklah, aku ingin kau merestui aku dan juga Jaejoong. Itu saja, cukup simple kan?" jawab Yunho sambil tersenyum licik memandang appanya.

"Aa, tapi Yunie, appa tak mungkin mengabulkannya."

"Ck, kau mau ingkar janji eoh appa? Bukankah tadi kau bilang apapun kemauanku kau akan mengabulkannya?"

"Ne, tapi bukan keinginan seperi itu."

"Baiklah, kalau kau tak bisa mengabulkannya. Akupun tak akan pulang dan menjalankan perusahaanmu. Jadi,"

"Ne ne, baiklah. Appa akan mengabulkan permintaanmu." akhirnya Mr. Jung mengalah. Nampaknya sifat keras kepala Yunho menurun darinya. Maka percuma saja jika ia ingin melawan Yunho.

"Bagus. Kalau begitu, aku ingin kau melamarnya sekarang juga."

"Tapi, Yunie, apa itu tak terlalu cepat? Bahkan appa saja belum mengenalnya."

"Hemm, benar juga. Baiklah kalau begitu, mulai sekarang jangan berani-beraninya memisahkan kami. Apapun yang terjadi, aku tak akan mau berpisah dari Jaejoong. Walaupun kau memohon seperti appaun padaku, aku tak akan mau untuk meninggalkannya. Jadi appa, kau harus pegang kata-katamu ini ne?"

"Ne, appa berjanji Yunie. Dan kau pun harus menepati janjimu untuk mulai mengurusi perusahaan, karna appa sudah mengabulkan keinginanmu."

"Tenanglah appa, aku adalah orang yang sangat menepati janji." Yunho tersenyum penuh kemenangan, "Dan lagi, kau belum mengenal Jaejoong appa, dia itu adalah namja yang sangat baik. Kau tak akan menyesal jika berkenalan dengannya."

"Ne, appa akan berusaha untuk menerimanya dikeluarga kita."

"Baguslah appa, aku yakin appa akan menyukainya dan segera melamarnya dan menjadikannya menantu appa."

Hari yang membahagiakan bagi pasangan Yunjae kini telah tiba. Jaejoong sudah mulai diterima di keluarga Yunho. Sifat Jaejoong yang ramah dan sopan membuat kedua orang rua Yunho terkesan padanya. Terbukti kini ia tengah berada dikediaman Yunho membuat makan malam bersama Mrs. Jung.

"Ternyata kamu bisa memasak juga ya Joongie," ya, kini appa dan eomma Yunho sudah mulai memanggil Jaejoong dengan nama kecilnya. Itu membuat Jaejoong merasa sangat senang karna orang tua Yunho sudah mulai mengakuinya.

"Ne ahjumma, dulu sewaktu eomma masih hidup, Joongie suka membantu eomma menyiapkan masakan." cerita Jaejoong sambil tersenyum kearah Mrs. Jung.

Mrs. Jung sangat senang bisa mengenal Jaejoong, ternyata Jaejoong anak yang sangat menyenangkan. Selain ramah dan sopan, Jaejoong juga sangat manis. Hal itu membuat Mrs. Jung yang memang sangat ingin mempunyai anak perempuan sangat menyayangi Jaejoong, walaupun awalnya ia sangat tak setuju dengan keputusan Yunho itu.

"Begitu, Joongie juga sangat cantik. Yunie memang tak salah pilih." kata Mrs. Jung yang sukses membuat wajah Jaejoong memerah.

"Gomawo,"

"Nah, sudah selesai. Ayo kita bawa makanannya ke meja."

Disinilah sekarang mereka. Tengah menikmati makan malam yang dibuat oleh Jaejoong dan Mrs. Jung. Dua namja Jung yang sedari tadi sibuk membicarakan masalah perusahaan, tiba-tiba diam dan sibuk memasukkan makanan kedalam mulutnya.

"Pelan-pelan Yunie, yeobo. Nanti kalian tersedak." Mrs. Jung sangat kesal melihat kelakuan dua namja Jung itu. Makan dengan cepat seperti orang tak makan selama seminggu saja.

"Makanan ini terlalu enak eomma, aku sudah sangat lama tak makan masakan enak seperti ini." kata Yunho disela makannya.

"Ini semua uri Joongie yang membuatnya. Bagaimana yeobo, enak bukan?" tanya Mrs. Jung pada suaminya.

"Ne, sangat enak. Kau pintar memasak rupanya." jawab Mr. Jung sambil tersenyum pada Jaejoong.

"Gomawo ahjussi, Joongie memang sangat suka memasak."

"Ah, kalau masakanmu enak begini, kenapa Joongie tidak membuka restoran saja. Yunie yakin pasti banyak orang yang akan datang untuk makan ke restoran itu."

"Eh?" Jaejoong hanya diam mendengar perkataan Yunho. Kenapa ia tak berfikir kesana saat ditanya appanya pekerjaan apa yang ia sukai. Ya, ia sangat menyukai masak, rasanya bila ada orang yang mau makan bahkan memuji masakan yang ia buat, ia sangat bahagia.

"Sudah, ayo diteruskan makannya. Jangan sampai makanan ini bersisa."

Merekapun kembali makan malam dengan tenang.

Sesampainya dirumah, Jaejoong segera menemui appanya. Ia ingin memberitahu appanya keputusan apa yang ia buat untuk masa depannya.

Tok tok tok

Jaejoong mengetuk pintu kamar sang appa, perlahan terdengar suara dari dalam.

"Masuk," seru Mr. Kim.

"Appa, ini aku Joongie. Apa appa sibuk?" tanya Jaejoong saat sudah masuk ke kamar appanya.

"Oh kau Joongie, tidak. Appa tak sibuk. Ada yang ingin kau bicarakan eoh Joongie?"

"Ne appa. Aku ingin bicara sesuatu pada appa."

"Baiklah, kita bicara diluar saja ne. Kajja,"

Merekapun kini keluar menuju ruang tengah.

"Nah, kau ingin bicara apa Joongie?" tanya Mr. Kim saat mereka sudah duduk di sofa ruang tengah.

"Appa, aku sudah putuskan mengenai pertanyaan appa dulu, tentang pekerjaan."

"Em? Lalu apa keputusanmu Joongie?"

"Ne appa, mian sebelumnya. Aku sudah memutuskan tak akan meneruskan pekerjaan appa. Aku lebih memilih untuk membuka restoran saja. Karna aku pikir aku akan lebih menyenangi pekerjaan itu daripada mengurusi pekerjaan appa. Aku menyukai masak, dan aku sangat senang bila orang-orang makan masakanku dan menyukainya. Jadi appa, keputusanku adalah aku ingin membuka restoran sendiri appa."

Jaejoong dengan panjang lebar menjabarkan apa yang diinginkannya. Ia menjelaskannya sambil menunduk, tak berani menatap wajah sang appa yang ia yakin pasti kecewa dengan keputusannya.

"Joongie, lihat appa." Mr. Kim menyentuh wajah sang anak agar mau melihat kearahnya.

"Ne appa?"

"Apa Joongie serius dengan ucapan Joongie barusan hmm?"

"Ne appa, Joongie sangat yakin." jawab Jaejoong mantap.

"Baiklah. Appa akan mendukungmu Joongie. Appa juga sudah memikirkan cara jika kau tak ingin meneruskan pekerjaan appa."

"Nde?"

"Appa akan menjual sebagian saham appa dan nantinya appa akan membantumu dalam restoran. Appa juga sebenarnya sudah lelah harus mengurusi perusahaan itu."

"Tapi appa, perusahaan itu appa bangun dari dasar, kenapa appa malah ingin menjualnya?"

"Kesuksesan dan harta itu hanyalah titipan dari Tuhan Joongie, tak selamanya bisa kita bawa. Appa sudah cukup senang sekarang, sudah bisa menyekolahkanmu hingga lulus, dan sekarang appa ingin menikmati masa tua appa dengan tenang Joongie."

"Hm, baiklah appa. Sekarang giliran Joongie yang mengurus appa. Sebagai balas budi Joongie pada appa." senyum mengembang di wajah Jaejoong.

"Ne, kalau begitu, Hwaiting Joongie. Appa selalu mendukungmu!" Mr. Kim memberi semangat pada anaknya. Jaejoong hanya tersenyum sambil memeljk appanya.

"Gomawo appa."

Suara deru motor yang dipacu terdengar di salah satu sudut kota Seoul. Dua orang namja tengah bersiap melakukan balapan kali ini. Keduanya sudah bersiap diatas motor masing-masing. Terlihat seorang yeoja sudah maju dengan menggenggam sapu tangan.

"Ready? Three, two, one. Go!"

Dooorrr

Suara tembakan terdengar brsamaan dengan yeoja itu menjatuhkan sapu tangan yang dibawanya. Dua namja itupun segera memacu motornya, menembus kegelapan sambil membawa ambisi untuk memenangkan balapan.

Disalah satu sudut, nampak lima orang namja yang tengah bebincang ringan sambil sesekali terdengar gelak tawa dari mereka. Satu namja terlihat begitu cantik tengah bergelayut manja pada lengan namja bermata musang disampingnya. Satu namja lagi tengah sibuk memasukkan makanan yang dibawanya, sayu namja lagi dengan jidat yang cukup lebar tengah tebar pesona pada yeojayeoja yang melintas dihadapannya. Dan yang terakhir, namja yang tak kalah imut dari namja cantik itu tengah sibuk melihat pertandingan yang sedang berlangsung.

"Ya, hyung. Apa kau tak ingin kembali memacu motor diarena itu eoh?" tanya namja berjidat lebar itu pada namja mata musang didepannya.

"Anio Chunie. Aku sudah tak berminat lagi untuk balapan."

"Begitukah? Hah, baguslah." jawab namja jidat lebar itu.

"Ne Chunie, tapi aku harus berterima kasih pada hobiku itu. Gara-gara hobi balapanku, aku jadi bisa bertemu lagi dengan Joongie ku." jawab namja mata musang itu sambil memeluk namja cantik disebelahnya.

"Ne hyung. Aku turut bahagia, nah Jae hyung, aku percayakan Yunho hyung padamu, jangan buat dia marah ne." tambah namja jidat lebar itu.

"Ne Chunie." jawab namja cantik kita.

"Yak, dan kau Yunho hyung, aku percayakan Jae hyungku ini padamu. Jangan buat dia sakit hati ne, arra?" sambung namja dengan suara lumba-lumbanya.

"Haha, ne ne Su-ie, aku akan menjaga hyung kesayanganmu ini dengan sebaik-baiknya."

"Bagus. Kalau sampai aku mendengar dia menangis gara-gara kau, akan kupastikan kau menyesal Yunho hyung." ancam namja suara lumba-lumba itu lagi.

"Arraseo Junsu-ie."

Keempatnya tertawa bersama, menikmati suasana hangat yang tercipta. Yah, tak bisa dipikirkan sebelumnya, mereka bisa jadi akrab seperti ini. Padahal awal mereka bertemu adalah dalam suasana perang. Namun sekarang, mereka menjadi sahabat akrab yang saling membantu.

"Baiklah, untuk merayakan ini, bagaimana kalau kita pergi ke Mirotic pub? Sudah lama kita tak kesana? Bagaimana?" tanya namja mata musang pada dongsaeng-dongsaengnya.

"Setuju." jawab mereka kompak.

"Jaa, kajja."

Mereka pun pergi dengan mengendarai motor masing-masing. Namja mata musang itu sangat bahagia, karna kini sudah ada seseorang yang duduk dibelakang motornya. Namja cantik yang begitu ia cintai. Tangan namja cantik itu melingkar diperutnya, dan kepalanya bersandar pada bahu lebar namja mata musang itu. Senyum tak pernah pudar di wajah keduanya.

"Saranghae Joongie." teriak namja mata musang.

"Nado saranghae Yunie."

Yunhopun memacu motornya menembus pekat malam kota Seoul. Ditemani namja cantik yang tengah mendekap erap tubuhnya. Tak dipungkiri, motor ini menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka. Tanpa balapan dan motor ini, mereka tak akan pernah bertemu.

"MY BEAUTY RIDER, JOONGIE."

.

.

.

.

.

.

.

THE END

Kyaaa,, akhirnya end juga ^^

Terimakasih bagi yang sudah ngikutin cerita ini dari awal.. Akhirnya mereka kembali bersama .. Yang awalnya mereka musuhan , tapi sekarang merrka balik bersahabat.

Khamsa bagi yang sudah review kemarin,, jeongmal gomawoyo..

Jangan lupa tunggalkan review untuk chap ending ini yahh~~

Review onegai ^^

.

Denpasar, 8 Desember 2013