Author : lee taisoo

Cast : broken!kaisoo, kaihan

Genre : angst/hurt, family

Rate : T

Desclaimer : kaisoo bukan punya saya, cerita ini punya saya

Warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca

ooo

my lifefor your happiness

"Aku mohon." Ucap Kris ge sambil sedikit terisak. Aku hanya diam, aku tau maksud Kris ge, kita sering membicarakannya.

"Lakukanlah kemoterapi dan pengobatan lainnya." Lanjutnya, dengan wajah memohon.

"Miahae, ge. Aku tidak mau melakukan itu." Kutundukkan kepalaku lagi, menghindari tatapan kecewa dan marah dari Kris ge.

"Jangan keras kepala. Keadaanmu sangat buruk Do Kyungsoo." Sentak Kris ge dengan penekanan pada nama lengkapku. Baru kali ini aku melihat Kris ge membentakku, biasanya ia selalu lembut denganku.

"Percuma saja melakukan kemoterapi. Itu hanya untuk memperpanjang umurku, yang malah membuatku merasakan sakit semakin lama. Bukan untuk menyembuhkan penyakitku agar aku bisa melanjutkan hidupku. Dan lagi, sudah tidak ada alasan untukku melanjutkan hidup, semua orang meninggalkanku." Suaraku sedikit bergetar, menahan air mata.

"Pabbo! Tak bisakah aku kau jadikan alasan untuk hidup?!" Bentak Kris geram dengan kekeras kepalaanku. Aku terdiam akan pertanyaan Kris ge.

"Terserah. Aku tidak akan peduli padamu lagi." Kris ge meninggalkan ruanganku, membiarkan aku menyesali segalanya. Hancur sudah pertahanan yang sudah kubuat. Untuk pertama kalinya setelah 5 tahun, aku menangis. Menangis sendirian tanpa satupun orang yang akan memeluk dan menenangkan.

"Gege~ hiks.. Mianhae.." isakku pilu. Dan pada akhirnya aku tak memiliki seorang pun yang akan menemani dan menyemangatiku untuk bertahan lebih lama. Hari ini aku telah melepaskan satu-satunya orang yang mau menyayangiku.

kyungsoo pov end

Seminggu sudah Kyungsoo menjalani rawat inap di seoul international hospital. Seminggu itu pula Kris tidak lagi memperhatikan Kyungsoo sebagai dongsaengnya, hanya sebatas dokter dan pasien. Tak ada seorangpun yang menjenguk Kyungsoo. Terkadang Kyungsoo diam-diam mengunjungi kamar inap Luhan hyung.

Hari ini Kyungsoo memutuskan kabur dari rumah sakit untuk pergi kelaut dan mengunjungi apartmentnya. Ia takut tidak sempat mengunjungi laut tempat abu kedua orang tuanya ditebar lima tahun silam, karna akhir-akhir ini tubuhnya semakin lemah dan penyakitnya semakin parah.

Kyungsoo pergi menggunakan taxi. Ia membungkus tubuhnya yang kurus dan ringkih dengan beberapa lapis pakaian hangat dan sebuah syal, karna memang sedang musim gugur, dimana suhu udara rendah.

"Apa kabar umma.. Appa.." Ucap Kyungsoo bermonolog di depan bentangan laut biru yang indah.

"Aku yakin kalian baik-baik saja." Kyungsoo tersenyum lembut.

"Mian baru sempat mengunjungi. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Hehe."

"Umma.. Appa.. Apa disana menyenangkan? Aku ingin kesana bertemu kalian. Aku sangat merindukan kalian." Sinar mata Kyungsoo meredup.

"Umma.. Appa.. Besok lusa aku akan melakukan operasi. Apa kalian mau menemaniku? Jujur aku takut." Hening sejenak.

"Ehm, aku harus kembali. Diluar semakin dingin. Sampai jumpa. Saranghae." Ucap Kyungsoo sebelum beranjak dan pergi meninggalkan pantai.

Setelahnya, Kyungsoo pergi ke apartment. Dia hanya membersihkan apartment dan menulis sesuatu, yaitu surat. Entah untuk siapa. Lalu meninggalkannya diatas meja belajarnya. Pukul 5 sore, Kyungsoo baru kembali ke rumah sakit. Dan disambut ocehan dari beberapa perawat dan dokter Suho, dokter yang akhir-akhir ini ia kenal karna suatu hal.

kai pov

Aku sedang menyuapi Luhan hyung, orang tuanya sedang menemui dokter Kim, atau biasa dikenal dengan dokter Suho. Tak lama tuan dan nyonya Xi kembali dari ruangan dokter Kim. Aku melihat raut bahagia dari keduanya.

"Luhan... Baba dan mama punya kabar baik." Kata tuan Xi dengan wajah yang berbinar, tidak lupa senyum yang terus terpatri di wajahnya. Luhan hyung hanya melongo kebingungan, dengan mengerjap-ngerjaakan matanya lucu.

"Ada donor ginjal untukmu. Lusa kau akan menjalani operasi." Lanjut nyonya Xi sambil memeluk Luhan hyung. Kulihat raut tidak percaya dari wajah Luhan hyung, tak lama air mata bahagia menetes dari mata rusanya.

Mendengar kabar itu, aku juga ikut senang. Pasalnya, kemarin dokter Kim -dokter yang menangani Luhan hyung- mengatakan keadaan Luhan hyung semakin memburuk, dan tidak ada donor ginjal. Mendengar kabar ini membuatku bahagia dan tak hentinya bersyukur.

"Kai..." Panggil Luhan hyung membuyarkan lamunanku. Aku segera memeluk Luhan hyung.

"Kai, aku akan sembuh." Kata Luhan hyung dengan suara bergetar. Aku mengangguk dalam pelukan dan semakin kueratkan pelukanku.

'Terima kasih tuhan.' Batinku.

kai pov end

kyungsoo pov

Aku sedang mengintip pada celah pintu ruangan Luhan hyung dirawat. Kulihat kedua orang tua, Luhan hyung, dan Kai sangat bahagia mendapat berita bahwa ada donor ginjal untuk luhan hyung. Aku juga ikut tersenyum mendengar berita itu. Kulihat Kai memeluk Luhan hyung erat. Senyumku berubah miris, aku meninggalkan tempatku menuju taman rumah sakit. Jujur saja, aku cemburu melihat Kai dan Luhan hyung. Luhan hyung sangat beruntung, masih banyak orang yang menemani dan menyemangatinya. Berbeda denganku.

Kupandangi langit malam yang mungkin untuk terakhir kalinya. Kuhela nafasku dan kembali mengingat masa laluku. Segaris senyum tergambar di wajahku. Kunikmati angin malam yang berhembus menerbangkan beberapa helai rambutku. Kehembuskan nafas sedikit kasar sebelum kembali ke kamar inapku.

Hari ini aku harus beristirahat penuh, karna besok aku akan menjalani operasi. Seharian aku hanya berbaring di ruang inapku. Mengisi kertas kosong dengan goresan-goresan pensilku membentuk sosok orang yang selalu kucintai, Kai. Sudah habis sekitar 10 lembar, saat langit berubah menjadi jingga.

Aku turun dari kasur menuju jendela kamar inapku yang terbuka lebar. Menampakkan pemandangan kota Seoul dengan background langit senja sore yang indah. Beberapa burung terbang kembali ke sarangnya. Senyum tercetak di wajahku. Kupejamkan mataku menikmati angin yang berhembus lembut masuk ke dalam kamar inapku. Kuhirup nafas dalam, menikmati udara sejuk di musim gugur yang menghangatkan paru-paruku. Aku menikmati kesunyian yang tercipta, hingga suara pintu yang dibuka sedikit kasar mengalihkan pandanganku.

brakk

Kutolehkan kepalaku melihat apa yang terjadi dengan pintu ruang inapku. Kulihat dokter Wu, atau biasa kupanggil Kris gege, berdiri dengan nafas terengah-engah.

Kuputar kepalaku kembali pada objek awalku, pemandangan dari jendela. Ku dengar suara langkah yang semakin mendekat ke arahku. Lalu, sepasang lengan kokoh melingkar indah di perutku, dan sebuah kepala bersandar di salah satu bahuku.

"Aku mohon... Jangan lakukan itu..." Ucap Kris ge memohon.

.

.

.

TBC

Yayaya~ update... update... Chapter ini semakin pendek aja ya? Padahal aku nulisnya lama banget. Eh, ternyata jadinya cuma segini. Jadi, untuk permintaan pemanjangan cerita kayaknya gak terpenuhi. Hehe. Mianhae.

Setelah liat review para reviewers tercintah /peluk cium satusatu/ aku kayaknya perlu ngerombak ceritanya deh. Aku berterima kasih banyak buat yang udah menyempatkan waktunya untuk menulis review /nangis terharu/ tapi aku takut ngecewain kalian semua. Jadi, aku minta maaf kalo ceritaku ini gak mutu dan mengecewakan /hiks hiks/

Maaf gabisa bales review kalian. Soalnya aku lagi buruburu. Hehe.

Apakah aku boleh meminta review? Kkkkk~