Author : lee taisoo

Cast : broken!kaisoo, kaihan

Genre : angst/hurt, family

Rate : T

Desclaimer : kaisoo bukan punya saya, cerita ini punya saya

Warning : YAOI/BL, OOC, cerita pasaran, typo(s), alur berantakan, alur kecepetan, tidak sesuai EYD, gak suka gak usah baca

ooo

my lifefor your happiness

Annyeong Krong,

Hahaha. Apa kau masih mengingatnya? Aku harap kau masih mengingatnya, meski kau sudah melupakanku.

Oh iya, saat kau membaca surat ini. Aku yakin aku sudah pergi ke tempat eomma dan appa. Kau tau? Aku sangat merindukan mereka.

Aku ingin mengucapkan terima kasih Jongin, untuk segalanya. Untuk segala perasaan menyenangkan yang kau ciptakan. Aku sangat bahagia.

Maaf Jongin, aku tak bisa menepati janjimu untuk menunggumu pulang. Tapi tenang saja, aku sudah memenuhi keinginanmu untuk...

...mati dan pergi dari kehidupanmu.

Jongin, kau sungguh beruntung mendapatkan seseorang sebaik Luhan hyung. Jadi, jaga Luhan hyung baik-baik. Jangan pernah menyakitinya.

Ah, sepertinya hari semakin sore. Aku harus segera kembali. Kalau begitu, aku pamit dulu Jongin. Aku harap kau bahagia. Aku mencintaimu. Selamat tinggal Kim Jongin.

Yang selalu mencintaimu,

Pororo, Do Kyungsoo

.

.

.

Satu tahun kemudian.

Seorang namja tampan dengan kulit sedikit coklat-biasa orang bilang tan-sedang berdiri memandangi laut luas dengan langit biru cerah, yang sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Digenggamannya terdapat surat dari seseorang yang pernah ia sayangi, namun ia lupakan.

"Kyung~" setetes liquid bening turun dari matanya, disusul tetesan-tetesan lainnya.

"Mianhae... jeongmal mianhae. " isakan semakin jelas terdengar.

flashback on

Seorang namja tampan dengan tinggi rata-rata, dan rambut blonde menghampiri empat orang pemuda yang sedang asyik bercengkrama di salah satu meja sebuah cafe.

"Permisi. Apa kita bisa bicara?" ucap Kris ‒namja tampan‒ memulai menyapa empat orang tersebut.

"Ah.. ne. Silahkan duduk." seorang namja manis bermata rusa tersenyum, lalu mempersilahkan Kris untuk duduk.

"Anda ingin memesan apa?" lanjut namja manis tersebut menawari Kris. Kris tersenyum.

"Segelas cappucino latte." jawab Kris. Namja manis bernama Luhan itu segera beranjak untuk memesankan pesanan Kris. Tak berapa lama ia kembali.

"Kanshamnida." ucap Kris berterima kasih.

"Ah, ne. Gwenchana." balas Luhan sopan.

"Ehm... Jadi, apa yang ingin anda bicarakan eh‒" Baekhyun, namja manis bereyeliner sedikit tebal membuka pembicaraan.

"Kris. Wu Yifan."

"‒Kris-sii?" lanjut Baekhyun setelah mengetahui nama Kris.

"Ehm, begini... apakah kalian mengenal Do Kyungsoo?" tanya Kris memulai. Terlihat perubahan pada wajah seorang namja tan dan Baekhyun.

"I-iya. Ada apa dengannya? Dan anda siapanya?" Baekhyun menjawab dengan ragu. Kris merogoh saku mantelnya, mengeluarkan dua buah amplop. Lalu meletakkannya di atas meja, di tengah.

"Saya hyung angkatnya. Saya ingin menyampaikan surat dari Kyungsoo." keempat namja itu menatap Kris tak mengerti. Kris menyerahkan sebuah amplop yang di depannya tertulis 'Untuk Kim Jongin' kepada namja berkulit tan yang ternyata bernama Jongin. Dan amplop lainnya kepada ketiga namja lainnya.

Jongin mulai membaca surat yang ada di dalam amplop tersebut. Begitu pula dengan ketiga namja lainnya. Pesanan Kris datang. Kris meminum sedikit cappucino latte miliknya, sebelum mulai berbicara.

"Kyungsoo telah meninggal dunia setahun yang lalu. Dia menderita kanker lambung selama empat tahun belakangan. Pada tahun pertama, ia masih rutin melakukan berbagai macam pengobatan. Tetapi tahun berikutnya ia mulai jarang, bahkan hampir tidak pernah melakukan pengobatan lagi, karena ia menyadari berbagai macam pengobatan itu tidak berpengaruh terhadaap penyakitnya. Seminggu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia melakukan operasi pendonoran ginjal. Padahal keaadannya saat itu sangat buruk. Dia mendonorkan kepada salah satu temannya. Dia sempat koma setelah melakukan operasi, sebelum akhirnya ia meninggal. Ia meninggal karena ginjal yang ia miliki tidak sanggup lagi menerima obat-obat dari penyakit kankernya. Tiga hari setelah kepergiannya, aku mengunjungi apartmentnya, aku menemukan surat-surat yang ditulis untukku, Kai-sii, dan kalian bertiga. Dia menyuruhku untuk menyerahkan surat ini setelah setahun kepergiannya. Hiks." Kris tak kuat menahan isakannya saat menceritakan itu semua.

"J-jadi, yang mendonorkan ginjalku?" Luhan sangat merasa bersalah.

"Ne. Dialah yang mendonorkan ginjalnya." jawab Kris membuat Luhan dan Baekhyun semakin keras terisak. Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun menenangkan. Kai tampak terpukul. Ia menangis dalam diam. Setelahnya tak ada yang berbicara, hanya ada suara isakan yang berasal dari Luhan dan Baekhyun di meja tersebut. Kai dan Kris terlarut dalam pikiran masing-masing. Semua benar-benar merasa kehilangan, dan sangat menyesal.

"hiks.. dimana abu raganya ditebar?" tanya Kai setelah tak ada yang berbicara, kali ini isakan kecil lolos dari bibirnya.

"Abu raganya ditebar di tempat favoritnya. Kau pasti tau tempatnya Kai-sii." jawab Kris membuat tiga namja lainnya menoleh ke arah Kai dan Kris, meminta penjelasan. Kris hanya menggeleng, sedang Kai mulai terisak.

flashback off

"Hiks... Kyungie~ kenapa harus seperti ini? Kenapa kau tak bilang dari awal?" namja tan tersebut semakin keras terisak diiringi kicau burung yang sedang terbang pulang. Hingga malam semakin larut, Kai ‒namja tan‒ tak beranjak dari tempatnya sampai seorang namja manis datang.

kai pov

"Kyung~" setetes liquid bening turun dari kedua mataku, disusul tetesan-tetesan lainnya.

"Mianhae... jeongmal mianhae. " isakan semakin jelas terdengar dari bibirku. Kembali aku teringat kejadian kemarin, yang membuat aku berada disini.

"Hiks... Kyungie~ kenapa harus seperti ini? Kenapa kau tak bilang dari awal?" isakan semakin keras terdengar di pantai tempat abu raga Kyungsoo ditebar. Aku menangis menumpahkan segala rasa sedih dan bersalah.

Andai waktu dapat diputar, aku tidak akan menyia-nyiakan Kyungsoo. Aku sangat menyesal karna telah melukai dan melupakan Kyungsoo. Setelah membaca surat dari Kyungsoo, aku baru sadar ternyata dia adalah teman masa kecilku, orang yang aku sayangi. Semenjak kepindahanku ke Jepang, aku tidak pernah menghubungi Kyungsoo karna aktifitasku yang sangat sibuk membuat aku lupa. Tetapi setelah lama aku berada disana, aku tidak hanya lupa untuk menghubungi Kyungsoo, tapi aku sudah melupakan Kyungsoo. Saat aku pindah lagi ke Korea, Luhan hyung datang dan membuat aku benar-benar lupa tentang Kyungsoo. Jika aku tau dari awal, aku tidak akan pernah mengusir, membentak, mencaci Kyungsoo. Tapi semua sudah terlambat, waktu tidak dapat lagi diputar. Semua hanya tinggal penyesalan.

Aku hanya duduk sambil melamun dan memandangi lautan yang luas hingga larut menjemput. Malam semakin gelap, dan angin berhembus sangat dingin. Aku tak berniat untuk beranjak. Aku melupakan kenyataan bahwa masih ada Luhan hyun yang menunggu kepulanganku. Aku tak peduli, aku benar-benar terpuruk akan Kyungsoo. Mungkin aku berniat untuk tinggal dan bermalam disini, karna aku ingin terus berada di dekat Kyungsoo.
"Kyungie~ dimana kamu? Aku sudah pulang. Apa kau tak merindukanku?" ucapku bermonolog dan kembali terlarut dalam bayangan akan Kyungsoo.

"Kai~" suara lembut menyapa indra pendengaranku. Aku tau siapa pemilik suara lembut itu, Luhan hyung. Aku tak bergeming. Tetap memandang kosong ke arah laut.

"Kai, ayo kita pulang!" ucap Luhan hyung masih dengan suara yang lembut.

"..."
"Kai..." kembali Luhan hyung memanggil namaku. Aku masih tidak menjawab. Kurasakan pergerakan yang mendekat ke arahku. Tangan Luhan hyung terangkat untuk menyentuhku. Kurasakan kulit lembut dan hangat menyentuh lengan kananku.

"aniyo. Aku ingin disini menemani Kyungie~" ucapku akhirnya.

kai pov end

.

luhan pov

Semenjak mengetahui kenyataan tentang Kyungsoo, Kai benar-benar terpukul. Ia tak henti-hentinya menyalahakan diri sendiri. Aku benar-benar tak tega melihat Kai yang seperti ini. Tapi aku tak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa menghibur, karena aku juga kaget dan sedih. Semua terlalu mengagetkan.

Hari ini Kai bangun lebih pagi. Ia juga berpenampilan sangat rapi. Ia berangkat pagi-pagi sekali. Aku tidak tahu dia akan pergi kemana. Dengan keadaan Kai yang masih shock dan sedih membuatku khawatir. Jadi, aku memutuskan untuk mengikutinya.

Aku mengikuti Kai. Ternyata ia pergi menuju pantai. 1 jam... 2 jam... 3 jam... Kulihat Kai hanya berdiri menghadap birunya lautan yang membentang di depannya sambil menggenggam sebuah kertas, kertas surat dari Kyungsoo.

"Kyung~" suara pertama yang dikeluarkan oleh Kai terdengar begitu lirih.

"Mianhae... jeongmal mianhae." kulihat pundak Kai bergetar, dan aku yakin dia sedang menangis. Tanpa sadar aku ikut meneteskan air mataku, mulai menangis. Hening kembali tercipta, hanya ada suara isakan Kai, desir ombak menyapu pasir pantai, dan kicauan burung. Aku masih terisak tanpa bersuara.

"Hiks... Kyungie~ kenapa harus seperti ini? Kenapa kau tak bilang dari awal?" kembali aku mendengar Kai bersuara, menyalahkan dirinya sendiri. Lalu isakan semakin keras terdengar.

Hari semakin malam, tapi tak kulihat tanda-tanda Kai akan bergerak untuk meninggalkan tempat ini.

"Kyungie~ dimana kamu? Aku sudah pulang. Apa kau tak merindukanku?" lirih Kai bermonolog. Aku sudah tidak tega melihat Kai seperti ini. Kulangkahkan kakiku mendekati tempat Kai duduk.

"Kai~" panggilku. Tak ada jawaban. Kai tak bergeming, ia masih tetap memandang lurus ke lautan.

"Kai. Ayo kita pulang!" ucapku lembut mencoba membujuk Kai untuk meninggalkan tempat ini. Karna udara semakin dingin menusuk kulit.

"..." tak ada jawaban. Akhirnya aku mendekati Kai. Kuangkat tanganku, mencoba menyentuh lengan Kai.

"aniyo. Aku ingin menemani Kyungie~" ucap Kai pada akhirnya. Aku tersenyum miris melihat keadaan Kai.

"Kai, kau harus pulang dan istirahat. Aku tau kau sangat sedih, akupun juga begitu. Tapi, apa dengan kau seperti ini membuat Kyungsoo bahagia? Tidak, dia malah akan merasa bersalah dan sedih." suaraku bergetar. Aku mencoba untuk mebujuk Kai lagi. Setelahnya aku mendengar isakan dari bibir Kai. Ia menundukkan kepalanya sambil terisak.

"hiks... hiks... aku sangat menyesal. Sungguh menyesal, hyung." air mata semakin deras mengalir di wajah Kai. Aku juga ikut menangis bersamanya.

"Kyungie~ mianhae... jeongmal mianhae. Kembalilah!" Kai mulai menangis meraung-raung. Kupeluk tubuh tegap, yang sekarang rapuh itu. Mencoba meredakan tangisannya.

'Kyung~ aku akan memenuhi permintaanmu. Aku berjanji akan menjaga dia untukmu. Tapi aku mohon, lepaskan Kai. Jangan bebani dia lagi.' batinku memohon. Seperti Kyungsoo mendengarkan permohonanku, Kai mulai tenang. Tangisannya mulai mereda. Hanya isakan-isakan kecil yang tersisa. Aku membiarkan dia untuk lebih tenang.

"Kai. Ayo kita pulang." ajakku setelah Kai tenang. Ia mengangguk. Kutuntun tubuhnya untuk berdiri dan pergi meninggalkan tempat ini.

'Gomawo, Kyung. Kita menyayangimu.' batinku sebelum benar-benar pergi.

luhan pov end

.

.

.

Baekhyun's side

Seorang namja mungil sedang melamun di balkon sebuah apartemen. Wajah yang biasa cerah itu, kini sangat lesu. Ia tidak tidur semalaman. Kantung mata terlihat menghitam diantara bekas eyeliner yang luntur akibat air mata. Seharian ia hanya menangis dan melamun.

baekhyun pov

Aku masih terus melamun. Menatap kosong pada pemandangan indah yang tersaji di depan mataku. Bayanganku kembali pada masa lalu.

flashback on

Kelas terakhirku baru saja selesai. Aku segera keluar dan mencari keberadaan Kyungsoo. Saat aku melewati taman, aku melihat sosok Kyungsoo. Kuhampiri Kyungsoo yang sedang berbicara dengan seseorang. Kulihat seseorang itu ternyata Chanyeol. Saat sudah dekat, aku mendengar perkataan mereka berdua, lebih tepatnya Chanyeol, yang membuat aku sangat kecewa.

"ehm, Kyungsoo-ah. Aku bukan orang yang romantis, jadi aku tidak bisa berkata apa-apa. Tapi aku masih bisa berkata aku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Jadi maukah kau menjadi namjachinguku?" ucap Chanyeol, yang membuat mataku memanas. Kulihat Kyungsoo membulatkan mata kaget. Lalu hening melanda keduanya. Kemusian Kyungsoo tersenyum lembut, sangat lembut.

"eh, Chanyeol-ah." ucap Kyungsoo. Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, karna aku sudah tidak kuat untuk mendengar jawaban Kyungsoo.

Selama seminggu aku selalu menghindari Kyungsoo. Tapi pada akhirnya ia berhail mendekatiku.

"Baekkie. Kenapa kau selalu menhindariku? Apa kau ada masalah?" tanya Kyungsoo hanya mendecih mendengar ucapan Kyungsoo.

"apa pedulimu?" tanyaku dingin. Kulihat raut wajah Kyungsoo berubah, tak percaya.

"kau kenapa? Jika ada masalah, ceritakan kepadaku. Aku kan sahabatmu?" tanya Kyungsoo polos.

"cih! Sahabat?" tanyaku sarkartis. Kyungsoo hanya mengangguk.

"sahabat macam apa yang tega menusuk dari belakang?! Kau tau aku menyukai Chanyeol, tapi kau malah mendekatinya dan membuat dia menembakmu. Sahabat macam apa kau?! Mulai sekarang kau bukan sahabatku!" teriakku pada Kyungsoo. Beruntung kampus sudah sepi, jadi teriakanku tidak membuatku diperhatikan. Segera kulangkahkan kakiku meninggalkan Kyungsoo.

"Baek~ kau salah paham." teriak Kyungsoo, tapi aku tidak memperdulikannya.

flashback off

"Kyung~ Bogoshipoyo. Mianhae jeongmal mianhae." ucapku menyesali. Andai saja aku mendengarkan Kyungsoo saat itu, mungkin kita tidak akan berjauhan. Aku masih bisa menemani Kyungsoo di sisa hidupnya. Tapi semua hanya menjadi penyesalan.

baekhyun pov end

"Kyung~ Bogoshipoyo. Mianhae jeongmal mianhae." ucap Baekhyun ‒namja mungil‒ memandang kosong. Seorang namja tampan dengan tinggi diatas rata-rata, menatap miris kekasihnya. Ia mendekati Baekhyun.

"Baekkie~" panggilnya kepada Baekhyun.

"mengapa dia pergi? Mengapa dia meninggalkanku, Yeollie? Hiks." tanya Baekhyun dengan

pandangan yang masih kosong. Baekhyun mulai menangis mengingat Kyungsoo. Chanyeol hanya terdiam mendapat pertanyaan tersebut, tak bisa menjawab.

"seharusnya aku tidak menjauhinya. Seharusnya aku mendengarkannya. Seharusnya aku mempercayainya. Hiks... hiks..." Baekhyun mulai merancau dan histeris. Segera Chanyeol menarik Baekhyun kedalam pelukannya.

"aku orang yang jahat, Yeol. Aku bukan sahabat yang baik. Hiks... hiks..."

"Sssttt... uljima. Kyungsoo orang yang baik. Aku yakin dia sudah memaafkanmu Baekkie~" ucap Chanyeol menghibur. Hatinya sangat miris melihat keadaan orang yang disayangnya. Selama beberapa waktu mereka tetap dalam posisi hingga akhirnya Baekhyun tertidur. Chanyeol memindahkan Baekhyun ke kamar. Dipandanginya wajah Baekhyun, sambil mengelus kepala Baekhyun lembut.

'Kyungsoo-ah. Jangan biarkan kami seperti ini. Maafkan kami. Kami menyayangimu.' batin Chanyeol.

.

.

12 Januari

Lima orang namja berdiri di pinggir sebuah pantai dengan pemandangan yang sangat indah. Mereka adalah Kim Jongin, Wu Yifan, Xi Luhan, Byun Baekhyun, dan Park Chanyeol. Mereka memakai tuxedo hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman. Masing-masing menggenggam setangkai mawar putih.

"Annyeong Kyung~ kami datang. Apa kau merindukan kami? Aku harap kau merindukan kami, karna kami sangat merindukanmu." ucap Luhan pada hamparan laut.

"Kyung~ kami membawa mawar putih untukmu. Kau pernah bilang, mawar putih adalah bunga kesukaanmu. Sekarang kami datang membawakan untukmu. Kami harap kau senang." lanjut Baekhyun berucap.

"Hey dongsaeng, kau benar tentang perawat Tao memiliki perasaan kepadaku. Kyungsoo, apa kau bahagia? Kau pasti bahagia bisa berkumpul dengan Do ahjussi dan ahjumma. Aku sangat merindukan kalian." kali ini suara Kris yang tedengar.

"Kyungsoo, terima kasih untuk segala hal yang kau ajarkan kepada kami. Kami semua menyayangimu." suara Chanyeol menyusul setelah Kris.

Hening, tak ada yang bicara. Hanya suara deru ombak menyapu pasir dan kicauan burung terbang.

"Kyungie, saranghae." ucap Jongin singkat setelah hening. Lalu kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

"saengil chuka hamnida, Do Kyungsoo." ucap Luhan pada akhirnya, lalu mulai meletakkan mawar putih di tepi pantai diikuti lainnya. Mereka tersenyum tulus, saat air laut membawa tangkai mawar putih tersebut menuju tengah laut, atau bahkan menuju tempat Kyungsoo berada.

.

.

.

FIN

Huwaaaa... /gabisa nyante/ akhirnya final juga. Mianhae kalo nunggu terlalu lama, selalu ada godaan saat mau ngepost. Hehehe.

Mianhae juga karena sangat mengecewakan dan ga sesuai dengan apa yang kalian bayangkan u,u aku beneran gabisa bikin ending, jadinya ancur kayak gini /nangis gulunggulung/. Kalo kalian ga seneng endingnya, silahkan bakar saya /eh becanda/. Kalo kalian ga seneng sama endingnya, maafkan saya.

Tak henti-hentinya saya berterima kasih kepada para reviwers dan readers karena telah menyempatkan waktu berharga kalian untuk membaca ff membosankan ini. Gomawo untuk masukan yang reader sampaikan kepada saya. Saya juga meminta maaf atas segala kesalahan yang saya perbuat. Saya menyayangi kalian /tebar cium/.

Thanks to: ChangChang, opikyung0113, PandaPandaTaoris, Domi12, loveHEENJABUJA, Kaisooship, .16, anonymous-sshi, wahyuthetun, hunhanhardcore, Guest, ryanryu, chans, watasiwadjie, KingTerre.

Dengan ini saya nyatakan selesai sampai jumpa di ceritacerita saya berikutnya