Ada temanku yang tinggl di Indonesia pernah berkata,
"Kagami sama Himuro itu cocok buat couple tau. Liat aja, mereka make cincin yang sama. Di jari tengah tangan kiri lagi! Itu kan artinya mereka udah tunangan! Duh, pas itu mereka msh bocah unyu lagi~!"
Walaupun itu benar, aku enggak akan mengakuinya.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
This Fic © Shiori Kurotsu
Rate: T for safe
Genre: Humor, Romance, de el el
Warning! Gaje, OOC, Typos, bahasa nano-nano, Yaoi bertebaran di mana-mana, ga tau humor apa enggak. Tehee~
If you don't like it, it's okay you can click 'back' button. Okay? Because If you don't like don't read.
Kamis, 8 Agustus 20xx
Hm, karena bingung mau pake baju apa, aku akhirnya memakai baju yang seperti biasa saja. Baju lengan pendek dan celana jins. Tentu saja aku memakai jaket. Toh, lagipula aku kan cuma jemput Taiga, ngapain tadi susah-susah milih baju ya?
Sekarang aku ada di depan SMA Teiko. Karena ku pikir datang beberapa menit lebih cepat tidak ada salahnya, di sinilah aku. Menunggu Tatsuya di depan sekolahku seperti seorang cewek yang lagi dimabuk cinta menunggu pacarnya dan akan malam jumatan berdua.
Harusnya malam mingguan ya? Biarin deh. Tapi kalau malam jumatan, pasangan itu enggak akan berdua doang. Kan banyak yang jb-jb ikutan. Itu loh, yang transparan, enggak punya kaki, sama terbang-terbang enggak jelas.
Oke, abaikan.
Untung saja beberapa menit kemudian, Tatsuya datang dengan mobilnya- tunggu. Mobil? Bukankah anak kelas 1 SMA belum boleh bawa mobil ya?
"Kagemi! Udah nunggu lama?" tanyanya ramah saat wajahnya berada dalam satu garis lurus denganku.
Aku ngomong apa sih?
"Enggak, baru kok. Ngomong-ngomong, kamu bawa mobil itu ilegal tau," balasku dengan agak ketus. Ya, habisnya, kalau nanti kita berud ketangkep polisi gimana? Aku enggak mau kena denda, plis. Apa lagi buat polisi-polisi buncit yang kerjanya enggak becus-ups, itu di suatu negara di Benua Asia ya. Bukan di Jepang. Tapi siapa tau aja ntar ketauan terus di denda.
"Maa, maa... Enggak akan ketauan kok. Lagian aku udah bawa mobil dari kelas 1 SMP saat tinggiku sudah cukup. Dan untungnya, aku enggak pernah ketangkep," jelasnya sambil tersenyum simpul.
"Gimana aku bisa tenang coba! Uuuh, enggak nyangka kamu itu badung juga ternyata," sahutku sebal sambil berjalan ke pintu yang buat penumpang. Tentu saja aku duduk di depan.
"Hm~ Amerika itu negara bebas. Lagian jarang ada yang peduli tuh. Paling yang ada malah ngajak balapan liar pas malem-malem. Ah, ayo jalan. Nanti kita terlambat menjemput Taiga," sahutnya tenang.
Uh~ aku lupa dia dari SD tinggal di Amerika yang menganut paham kebebasan dan baru balik ke Jepang saat kelas 3 SMP. Tatsuya itu aslinya Jepang. Tapi karena urusan bisnis ayahnya, dia harus tinggal di Amerika selama beberapa tahun.
Tapi bebasnya kebablasan sumpah. Masa anak baru lulus SD ngendarain mobil enggak ada yang peduli? Kacau enggak sih?
"Ya, ya... Whatever. Aku enggak menaruh minat sama kehidupan Amerika. America is just a shitty country, you know? They make this world in a mess. Arggh, i don't care about that country!" seruku kesal seraya menghempaskan diri ke jok kursi depan di samping Tatsuya dan menutup pintu mobil dengan keras.
Entah kenapa aku marah-marah pake Bahasa Inggris.
"Hey, hey. I know you hate America. But that doesn't make you can break that door. I bought this cat with my own money," Tatuya membalas dengan nada kesal. Ups, sepertinya aku membuatnya marah.
"Ups, I'm sorry. I wasn't think to break this door. Please forgive me," aku minta maaf dengan suara memelas. Serius, aku enggak suka ngebuat orang lain marah sama aku kecuali aku mau dia marah sama aku. Eng... aku bingung.
"Apologize accept. Shall we go now? We spent so much time for this unimportant chit-chat," Tatsuya memaafkanku tanpa berpikir dua kali. Aku bersyukur memiliki teman yang baik seperti ini.
"Un. Nanti Taiga nnggunya kelamaan," balasku sambil melepas jaket dan membuka jendela. Entah kenapa aku tidak suka memakai jaket
Skip time~
"Taiga~! Sini, sini!" seruku saat melihat sosok Taiga yang baru saja keluar bandara. Uwa... dia sekarang bahkan lebih tinggi daripada Tatsuya! Dan, pfft! Ternyata bentuk alisnya enggak berubah ya. Tetap bercabang dua seperti dulu~
Taiga yang mendengar namanya di panggil, sotak menengok ke arahku dan Tatsuya. Aku dapat melihat matanya membelalak kaget sebelum akhirnya dia bergerak menuju tampat kami menunggu.
"Tatsuya! Kagemi! Kalian menjemputku?" tanyanya saat sudah berada di depan kami. Di tangannya terdapat dua koper besar yang aku bisa pastikan kalau koper itu berat.
"Yo, Taiga. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Tatsuya mengabaikan pertanyaan Taiga dan malah balik bertanya. Kasihan Taiga, dikacangin sama orang yang udah dia anggep kakak sendiri.
"Oi Tatsuya! Jangan mengabaikanku! Apa maksudnya ini, Kagemi?!" seru Taiga dengan kesal. Lah, dia balik nyemprot ke aku. Emang dasar Tiger satu ini!
"Tadi Tatsuya bilang, dia ingin menjemputmu. Jadi aku ikut saja. Lagipula, kan kita sudah lama enggak ketemu muka. Jadi boleh saja dong, aku ikut," jawabku santai.
"Yasudah. Tapi memang orang tuamu enggak ngelarang?" duh, pikirannya ni duo sodara-enggak-berhubungan-darah sama aja ya. kalo enggak basket, ya... pokoknya mereka kayak telepati aja.
"Aku males jelasin lagi. Yang penting orang tuaku lagi di Indonesia. Dah, gitu aja," jawabku simpel. Males jelasin hal yang sama dua kali. Apa lagi sama si Baka-gami satu ini.
"Hm..." Taiga cuma ngangguk-ngangguk kayak ayam lagi matokin beras.
"Yuk, pulang. Sudah semakin larut. Kasihan Kagemi, nanti kemalaman," Tatsuya emang cowok paling perhatian yang pernah ada!
"Enggak masalah kok, lagian aku biasa tidur larut. Paling cepet jam 10. Mampir makan dulu yuk, aku laper nih. Belom makan malem dan sekarang udah jam 8. Kita ngobrol kok kayaknya baru sebentar tapi ternyata udah lama ya," sangkalku halus. Lagipula, aku juga belum ngantuk. Ngapain aku pulang kalo di apartemen enggak ngapa-ngapain?
Aku emang tinggal di apatermen milik ayahku. Karena ayahku ada di Indonesia, aku pinjem apartemennya deh. Daripada nyewa apartemen lain? Rugi kan?
"Kagemi, perempuan itu enggak boleh tidur larut. Nanti bisa merusak kulit kalau tidur selarut itu," nasihat Tatsuya. Wajahnya terlihat khawatir. Padahal aku bukan sodara atau sodara-enggak-sedarah kayak Taiga. Tapi dia bisa seperhatian itu! Aw.. aku tersanjung.
"Tatsuya benar, Kagemi. Tapi kan sekarang baru jam 8, makan dulu aja yuk! Aku lapar nih!" yes! Ada yang sependapat! Duh, aku sayang kamu, Taiga!
Aku memasang tampang ayo-cepat-makan-aku-lapar dengan efek bling bling. Ku lihat Tatsuya menghela nafas. Mungkin sedikit jengah melihat tingkah dua orang di depannya. Ehehe...
"Oke, oke... Aku enggak pernah bisa menang dari kalian berdua dalam hal ginian. Yuk, makan," ujar Tatsuya pasrah. Akhirnya! Makaaan!
Skip time~
Sabtu, 10 Agustus 20xx
"Ohayou, Ozuka-cha~n!"
Aku mendengar suara familiar yang meneriakkan namaku tak jauh dari tempatku berdiri. Aku menoleh dan mendapati Momoi-san tengah berjalan dan melambai ke arahku.
Momoi-san adalah satu-satunya alasan mengapa aku berada di depan Cafe Alouette yang berlokasi tak jauh dari rumahku. Masih ingat obrolan duo fujoshi di rumah Momoi-san? Maksudnya itu aku dan Momoi-san. Jika masih ingat, berarti kaian bukan pelupa sepertiku.
"Ohayou, Momoi-san. Bawa koper? Memang mau ke mana? Lagi pula, apakah itu sudah semuanya?" tanyaku iseng. Melihat Momoi-san membawa sebuah koper besar yang kira-kira aku muat jika masuk kedalamnya –isinya tentu saja doujin-doujin koleksinya- yang terlihat sangat menggembung membuatku ingin sekali menggodanya.
"Mou! Ozuka-chan jaha~!" balas Momoi-san sambil menggembungkan pipinya.
Aku hanya terkekek pelan sambil mengajaknya segera bergegas ke, "ayo, tempat tinggalku enggak jauh dari sini."
Walaupun aku enggak bisa lihat Momoi-san, tapi aku bisa merasakan kalau Momoi-san mengangguk mengiyakan. Akupun melangkah dengan riang.
Skip time~
"Tadaima~" ujarku dan Momoi-san bersamaan sembari aku membuka pintu depan apartemenku.
"Okaeri~" ada orang di apartemenku rupanya.
-tunggu. Bukankah aku tinggal sendiri? Lalu, siapa itu? Aku merasakan bulu kudukku meremang. Mungkinkah pencuri? Enggak mungkin. Kalau benar pencuri, sekarang aku sudah terkapat berlumurkan darah. Lalu, hantu? Enggak mungkin juga ya. suara hantu kan parau-parau serak berat gitu.
Aku mendongak untuk melihat siapa yang ada di dalam apartemen milikku –ralat, apartemen milik ayahku yang sekarang ditempati olehku.
Dan aku terkejut dengan apa yang ku temukan.
"Taiga?! Tatsuya?! Luca?!" seruku kaget. Jelas saja. Siapa sih, yang tidak kaget ketika kau hanya keluar sebentar dan saat kembali ada tiga makhluk berjenis kelamin cowok yang mengatakan 'okaeri'? Ih, horor banget.
"Habis ke mana, kak?" cowok berpostur sedang yang sedang duduk di sofa sampil seenaknya saja menonton tv di ruang tengahku bertanya dengan nada malas.
"Luca! Harusnya aku yang tanya! Kamu kenapa bisa ada di sini?! Dan Tatsuya juga Taiga! Kenapa kalian bisa ada di apartemanku, huh?! Kalian masuk dari mana?! Dari jendela?!" aku meneror mereka bertiga dengan berbagai macam pertanyaan.
"Ah, kalau itu... tadi saat aku dan Taiga ingin berkunjung ke apartenmu, kau tidak ada di rumah. Sudah berkali-kali aku menekan bel. Tapi tidak ada yang menbuka pintu. Saat ingin pulang, kami bertemu dengan Luca. Dia mengajak kami masuk ke dalam. Dan, begitulah," terang Tatsuya tenang.
Dan oh iya, Luca punya duplikat kunci apartemen ini. Selain dia, ibu dan ayahku juga punya. Ah, aku lupa tadi. Tapi kenapa dua makhluk lainnya tau letak apartemenku? Apakah aku memberitau mereka?
"Nee Ozuka-chan, siapa itu? Keren deh~" Momoi-san berbisik di telingaku. Uh, emang ya, isi pikirannya fujoshi. Kalo enggak, cowoknya keren, atau enggak cowoknya manis atau cantik.
"Perkenalkan, yang paling tinggi, berambut merah, dan beralis cabang namanya Kagami Taiga. Yang rambutnya hitam dan agak panjang, namanya Himuro Tetsuya. Yang paling pendek dan berambut hitam jabrik itu adikku, Luca," aku memperkenalkan ketiga makhluk absurd barusan pada Momoi-san.
"Kalian, ini Momoi Satsuki-san. Temen satu angkatanku di Teiko. Jangan macam-macam dengannya," kalimat terakhir ku tekankan pada mereka. Tau sendiri kan, bagaimana badannya Momoi-san itu? Bikin cowok manapun ngiler.
"Oke," jawab ketiga cowok itu kompak.
"Momoi Satsuki desu! Yoroshiku onegaishimasi~" Momoi-san memperkenalkan dirinya dengan agak hiperaktif. Pagi ini dia makan berapa banyak gula ya, kira-kira?
"Yoroshiku, Momoi-san. Himuro Tatsuya desu," sahut Tatsuya. Ah, dia emang sopan orangnya. Sebelas-duabelas sama Kuroko-kun.
"Yoroshiku. Kagami Taiga err... desu," Kagami membalasnya dengan canggung. Mana ada yang ketinggalan lagi. Emang ya, si tiger satu ini...
"Hm. Salam kenal," Lucaaa! Kamu enggak sopan banget sih, kenalin diri kamu kek gitu! Dasar bocah!
"Luca! Jangan enggak sopan gitu dong! Momoi-san kan lebih tua dari kamu! Lagian dia itu tamu! Sopan santun kamu ke mana sih?!" aku mengomel pada adikku yang super cuek ini. Demi Aomine-kun yang tiba-tiba jadi transparan! Dia kelewat cuek!
"Sudahlah, Ozuka-chan. Lagipula, aku tidak mempermasalhkannya," Momoi-san berusaha menenangkanku dari kemarahan.
"Tuh, denger kan, kak? Dia aja enggak mempermasalahin. Kenapa jadi kakak yang sewot sih?" Luca membalas sambil tetap tidak menatapku.
Dasar bocah sial!
.
.
Nah, bagaimana dengan keadaan apartemen itu setelahnya?
Apakah akan ada badai yang menghancurkannya?
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Silahkan tunggu chapter berikutnya~
.
.
Balasan Review untuk yang tidak memakai akun:
Akira Yui: Ara~ harus bisa dibayangin dong~ ehehe~ Yup, aku juga mikirnya gitu XD kan kagami sm di dim kayak musuh bebuyutan XD Makasih yaaaa, udah mau baca n meripiu fic ini QwQ aku cinta kamu Akira XD/peluk cuim/ /sksd/ /dibuang/
.
.
/sujud2/ maaaaaaaaaaf! Seminggu kemaren aku enggak bisa publish karena ada penghalang bernama UAS /nangis/ mana yang terakhir itu IPS lagi /nangis/
TAPI ITU SEMUA TELAH BERLALUUUU~~~! /bahagia/
Ini silahkan chapter 3 nya~ Semoga suka ya~ /tebar bunga terus kabur/
Kira-kira besok udah apdet~ doakan yaa~~
~Shiori Kurotsu~
