Banyak yang bilang, Akashi-kun adalah makhluk jelmaan iblis yang turun dari neraka.
Tapi kalau ku bilang, Akashi-kun adalah salah satu makhluk paling imut yang pernah ada.
Jika disandingkan dengan Murasakibara-kun sih, terlihat begitu.
Bukannya aku ngeship mereka. Aku tetep setia sama AkaKuro kok. Tapi aku mulai melirik MuraAka karena melihat beberapa fanart yang enggak ketulungan imutnya.
Oh tuhan, bantu aku memilih...
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
This Fic © Shiori Kurotsu
Rate: T for safe
Genre: Humor, Romance, de el el
Warning! Gaje, OOC, Typos, bahasa nano-nano, Yaoi bertebaran di mana-mana, ga tau humor apa enggak. Tehee~
If you don't like it, it's okay you can click 'back' button. Okay? Because If you don't like don't read.
Senin, 12 Agustus 20xx
Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat sinar matahari menembus jendela apartemenku. Sudah pagi rupanya. Ah, aku masih lelah. Kemarin adalah hari paling melelahkan yang pernah aku alami. Aku butuh istirahat ekstra.
Kau tau, ternyata Taiga, Tatsuya, serta Momoi-san jadi menginap di apartemanku. Entah bagaimana awalnya, pokoknya mereka jadi menginap di apartemen ini. Untung saja ada dua kamar di sini. Satu kamar dihuni oleh ku dan Momoi-san, dan kamar yang satu lagi dihuni tiga makhluk jejadian itu.
Masa bodoh kalau mereka tidur berhimpitan. Memangnya aku peduli?
Tapi aku juga puas karena bisa membaca seluruh, ya, seluruh koleksi Momoi-san. Tawa, tangis dan jeritan bahagia menggema sepanjang hari.
Oh, jangan lupa dengan fan service Taiga dan Tatsuya. Walaupun aku tidak suka pairing mereka, tapi lumayan lah, bayaran karena menginap.
Flashback~
Aku baru dari toko kue terdekat untuk membeli sebuah kue yang ukurannya 'wow'. Susah payah aku membawa kue super itu pulang ke apartemen. Ini semua bermula ketika aku kalah suit dengan makhluk-makhluk nista itu.
Sial sekali sih.
Sudah begitu, saat aku masuk, yang menyambutku adalah terjangan Taiga yang memang sangat cepat tanggap terhadap segala jenis makanan. Sebelas-duabelas sama si Ungu Tinggi Besar yang ada di sekolah dalah hal porsi makan.
Selanjutnya, Tatsuya dan Taiga membantuku memotong kue rasaksa itu. Hey, kan aku tidak setinggi kue abnormal itu yang tingginya ditambah tinggi meja!
Tentu saja Taiga memotong bagiang yang luar binasa untuk dirinya sendiri. Aku sih, bersyukur. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan menghabiskan kue nista itu?
Tapi dia juga yang memesan kue super ini. Jadi aku bingung harus bersyukur atau malah mengutuknya.
Acara makan kuenya dihiasi oleh cerita dan canda tawa. Dan jangan lupakan adegan lempar-lempar kue Taiga dengan Luca.
Setelah itu aku marah besar dan berjanji akan mencincang mereka berdua juga apartemenku tidak bersih seperti sedia kala dalam waktu 10 menit.
Untungnya mereka cepat membersihkannya. Aku jadi tidak perlu mengotori apartemenku dengan darah mereka deh.
Jangan salah sangka. Aku tidak sadis begini setiap saat. Hanya pada waktu-waktu tertentu, yaitu saat aku marah pada seseorang.
"Taiga, di pipimu ada kue tuh," teguran Tatsuya pada Taiga membuat ku dan Momoi-san sontak menoleh. Entah kenapa tapi hati nuraniku menyuruhku untuk menoleh. Mungkin akan terjadi sesuatu yang manarik.
Dan yang terjadi selanjutnya adalah, Tatsuya membersihkan noda kue itu dengan lidahnya, wajah Taiga merona, dan jeritan fujoshi membahana.
.
"Taiga! Jangan-jangan kau suka dengan Tatsuya ya?!" aku memulai introgasi satelah keadaan hening..
"H-Hey! Apa-apaan itu?! Aku bukan gay!" Taiga berusaha membela dirinya sekuat tenaga.
"Tapi itu! Rona di wajahmu menunjukkan hal yang sebaliknya tau! Jangan berbohong padaku!" aku kembali menyudutkannya. Nada yang kulontarkan terdengar mengintimidasi. Bukannya aku kesal karen dia gay, tapi kenapa harus sama Tatsuya?! Enggak! Aku tidak merestui!
"Itu refleks, bodoh! Bukannya memang itu reaksi yang normal ya?!" Taiga balas melawan.
Eh, iya sih. Rona di wajah itu bisa karena refleks akan sesuatu... ARGH! Sudahlah! Kali ini aku melepaskanmu, Taiga! Tapi lihat saja nanti!
"Cih! Sudahlah, lebihh baik bantu aku merapikan piring-piring kotor ini! Kali ini ku lepaskan kau, Taiga."
Flashback end~
Aku mulai bersiap-siap agar tidak terlambat. Hari ini hari senin, bung.
Membereskan apartemen, masak, sarapan, sikat gigi, mandi, mengenakan seragam dan segala tetek bengek lainnya kulakukan dengan cepat.
Mungkin urutan kegiatan pagiku agak aneh untuk kalian. Tapi itulah yang urutan yang biasa ku lakukan saat ada di Indonesia. Dan kebiasaan itu terbawa sampai sini deh.
Aku bergegas berangkat sekolah. Bukannya sudah mau telat sih, tapi ya... kebiasaan aja. Dari dulu ibuku keras sih. Keras banget malah. Cenderung kaku dan gampang tersinggung.
Sesampainya di halte bus, aku melihat Midorima-kun sedang bersama sesorang. Berduaan menunggu bus datang. Serius tuh?! Siapa, siapa?
Tingginya tidak seberapa dibandingkan Midorima-kun. Rambutnya hitam pekat. Senyum ceria yang senantiasa melekat di wajahnya.
-tunggu... Kok kayaknya aku kenal ya? Tapi siapa?
"Ohayou, Midorima-kun dan... siapa ini?" aku menyapa mereka berdua dengan formal. Aku tidak mau imejku jelek di mata orang yang baru ku kenal. Aku masih punya harga diri, kawan.
"Oh, kenalan Shin-chan? Kenalkan, namaku Takao Kazunari! Teman satu sekolah ya? seragamnya sama!"
Ping-pong!
Aku ingat sekarang! Dia adalah ukenya Midirima-kun! Eng... tapi aku juga suka kalo Midorima-kun jadi uke. Ini gimana dong? Ehm, maksudku sejauh yang ku lihat di fanart di Indonesia sih, ada yang MidoTaka, ada yang TakaMido.
Takao-kun membalas sapaanku dengan riang. Tentu saja senyum lima jarinya tetap bertengger dengan manis.
"Salam kenal ya, Takao-kun! Namaku Ozuka Kagemi. Iya, aku teman satu angkatan dengannya. Ngomong-ngomong... kalian ini jadian enggak?" ups, keceplosan. Aku sudah terlanjur pengen tau sih!
Ku lihat kacamata Midorima-kun jatuh dan pecah. Wajahnya memerah dengan hebat dan matanya melotot. Wow, reaksinya biasa dong, mas.
Reaksi Takao-kun juga enggak jauh-jauh dari si Megane Tsundere itu. Sepertinya ia tersedak ludahnya sendiri. Dan lihat, wajahnya merona sampai telinga! Matanya juga melotot. Hey kalian, jangan pasang tampang begitu dong!
Tidak ada yang membuka mulut untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Takao-san mengambil inisiatif memecah keheningan.
"A-A-A-A-A-A-Ano... O-Ozu-chan... K-K-K-Kenapa kau menyimpulkan begitu?" Takao-kun berbicara dengan tergagap. Dan gagapnya parah, asli.
"Enggak kenapa-kenapa sih. Tapi sih, aku berharapnya gitu," aku membalasnya dengan enteng. Aku tidak terlalu peduli jika ada satu orang lagi yang tau hobiku. Toh, si Megane itu juga sudah tau.
"...souka..."
"Ah iya, kalu bukan pasangan, hubungan kalian ini apa dong? Terlihat dekat sekali ya," aku sempat lupa bertanya saat melihat reaksi lebay mereka.
"Kami tetangga dan teman dari kami umur 2 tahun~ Terlihat dekat ya? Kan memang dekat~ Iya kan, Shin-chan?" sepertinya keceriaan Takao-kun sudah kembali dari tempat peristirahatannya.
Apaan sih ini?
"Oh... Pantas terlihat dekat sekali ya... Takao-kun di SMA mana? Bukan di Teiko kan ya?"
"Un. Aku di SMA Shuutoku. Tapi aku mau sekolah bareng Shin-chan!" Takao-kun mengeluarkan nada merajuk dan memeluk lengan Midorima-kun dengan manja.
U-uwaa... fan sevice gratisan... di halte pula... INI DI DEPAN UMUM SODARA-SODARA!
Yakin deh, pasti tampangku aneh banget. Aku ngerasa kalo aku ngablush, mangap, dan ada aura bling-bling menyilaukan sebagai latarnya.
-dan jangan lupakan ponselku yang sedari tadi memotret adegan 'aw' barusan.
Dan lagi... GAYANYA UDAH BEGINI TAPI ENGGAK MAU NGAKU PACARAN GIMANA CERITANYA?!
Mungkin emang enggak pacaran, mengingat reaksi Midorima atas doujin beberapa hari lalu. Tapi kalo dari pihak Takao-kun... aku jamin seribu persen Takao-kun ada perasaan spesial sama Midorima-kun. Tapi masa Midorima-kun enggak nyadar sih? Enggak peka atau gimana?
"B-Bisnya sudah datang...-nanodayo"
Aku tersentak dan menoleh ke arah Midorima-kun yang dari tadi terlupakan. Dan juga bus yang mengintrupsi acara bincang-bincang berhadiah pagi ini.
Berhadiah fan service maksudnya...
Skip time~
Aku memandang ke luar jendela yang posisinya tepat di sebelahku. Kan tempat dudukku ada di samping jendela, di belakang lagi. Jadi kalau sedang bosan dengan pelajaran, aku bisa tidur atau menatap ke luar tanpa harus ketahuan. Tempat yang stategis bukan?
Aku berpikir akan bertanya empat mata dengan Takao-kun. Aku mau menanyakan perasaannya pada Midorima-kun. Tapi nanti pas pulang sekolah.
Habis, melihat tingkah lakunya sepanjang di bus tadi... rasanya agak mustahil dia enggak punya perasaan apa-apa sama Midorima-kun...
"Ozuka, bacakan halaman 27."
Aku langsung buru-buru berdiri dan membuyarkan lamunanku barusan.
"Ha-hai."
Skip time~
Istirahat ini aku lebih memilih makan siang sendirian di atap, salah satu tempat favoritku selain perpustakaan dan kamar. Selain karena tenang, aku juga bisa mendapat privasi.
Namun saat aku membuka pintu atap, aku melihat Akashi-kun merenung sendirian di tepi pagar. Entah apa yang dipikirkannya, tapi sepertinya dia sedang depresi? Citanya ditolakkah? Atau dia mulai menjadi fudanshi dan OTPnya tidak bersatukah?
Sedang asyik-asyiknya mengkhayal, aku mendengar suara Akashi-kun.
"Haaah... Atsushi..."
Apa? Apa yang barusaja dia katakan? Dia memanggil nama Murasakibara-kun?! APA DIA MULAI MENCINTAINYA?!
"Kau... tega sekali..."
Kau. Tega. Sekali. DALAM HAL APA?! Apakah cintamu ditolak Akashi-kun?! APA KAU MENCINTAI SI RAKSASA UNGU ITU?!
"Dia menghabiskan uang klub untuk beli kudapan-kudapan itu. Pokoknya dia harus mengganti uang yang telah dipakainya sejak 3 bulan yang lalu itu."
GUBRAK!
"Adudududuh..." aku mengaduh pelan satelah berhasil jatuh dengan mulus karena ucapan si Kapten Merah yang telah membuatku mikir yang aneh-aneh.
"Hm? Kau... Oh, yang waktu itu. Sakit?" Akashi membantuku berdiri.
Asdfghjkl! Demi Ahomine yang tiba-tiba putih! Akashi-kun yang ngulurin tangan barusan bener-bener...aw... mana tadi Akashi-kun tertimpa sinar matahari lagi. Melipat ganakan pesona banget.
"Akashi-kun... Makasih ya, udah nolongin," kataku sambil membungkuk sedikit, untuk mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama."
"Tau tidak, aku tadi jatoh karena Akashi-kun juga loh," ujarku dengan wajah sok watados.
Kata-kataku barusan membuat Akashi-kun memandangku heran, "Rasanya aku enggak ngapa-ngapain kamu deh. Kok bisa aku yang disalahin?"
"Itu lo~h, tadi Akashi-kun bikin aku mikir Akashi-kun udah jatih cita sama Murasakibara-kun. Eh, tapi ternyata..." jawabku dengan memasang wajah teganya-dirimu-nak!
Sontak Akashi-kun mangap mendengarnya. Foto, foto~ Dijual mahal~
"Ap-apa maksudmu? Hah, memang isi kepala orang semacam kamu ini tidak bisa ditebak. Bahkan akupun tidak bisa menebaknya. Dan ohiya, jangan membayangkan yang aneh-aneh terhadapku. Nanti kau akan tau akibatnya loh," Akashi-kun mengancam dengan memberi penekanan pada dua kalimat terakhir. Nada suaranya terdengar menusuk dan berbahaya.
Bulu kudukku meremang sesaat. Sepertinya bulu kuduk juga memiliki gerak reflieks ya...
"Jangan berharap sama aku sih, kalao enggak mau nyesel," balasku enteng setelah bisa menguasai diri.
Teng teng
"Nah Akashi-kun, bukankah sebaiknya kita ke kelas sekarang?"
Skip time~
Akhirnya aku menolak ajakan pulang bareng Yuu dan berakhir pulang bareng Midorima-kun sama Takao-kun. Herannya, Takao-kun udah nunggu di depan stasiun yang paling dekat sama Teiko. Jadi dia dari tadi nungguin?
Aish, emang calon pasangan yang baik.
"Takao-kun!"
"Ah, Ozu-chan! Dan... Shin-chan! Wah, tumben Shin-cahn mau jalan beruda. Sama cewek lagi~" goda Takao-kun. Haduh, ya ampun Takao-kun...
"Hmp, aku tidak pulang bareng dia. Dianya aja yang dari tadi ngikutin aku-nanodayo," balas Midorima-kun ketus. Sepertinya dia kesal karena dikira pulang berdua sama aku. Alesannya bisa dua. Karena dia emang enggak suka aku, atau... dia enggak pengen dikira suka sama orang lain padahal orang yang dia suka ada di depannya.
Ah, aku enggak ngerti deh, sama teoriku sendiri.
"Takao-kun, bisa ke sini sebentar? Aku... mau bertanya sesuatu nih," ajakku sambil menyeret Takao-kun menjauh dari Midorima-kun. Tepatnya sih bukan mengajak, tapi memaksa.
"Aduuh... Ozu-chan, ngapain narik-narik sih?" Takao-kun mengaduh pelan saat aku berhenti menyeretnya ke tempat yang ku pikir tidak akan terdengar oleh Midorima-kun.
Sedangkan Midorima-kun hanya berdiri sambil cengo di sana.
Biarlah, toh kan ini menyangkut dirinya.
"Takao-kun... kamu... suka sama Midorima-kun ya?" tanyaku setengah berbisik.
Raut wajahnya Takao-kun mendadak berubah kayak orang yang enggak bisa boker berminggu-minggu dan liat aja, mukanya merah banget sampe telinga!
"Jangan-jangan beneran suka ya?! Kyaaaaa~!" aku berteriak kegirangan saat berhasil menyimpulkan hal yang 'wow' kayak gitu.
"Seri-hmp! Hmp!" apa-apaan sih Takao-kun!
"Sssssst! Jangan teriak! Tuh, Shin-chan kan jadi nengok ke sini!"
Ohiya, aku lupa.
Aku menengok ke arah Midorima-kun dan menemukannya sedang dalam keadaan cengo, kaget, enggak percaya... pokoknya mukanya absurd lah.
Jangan-jangan tadi dia denger ya? Waduh, petaka nih.
.
.
Apakah Midorima benar-benar mendengarnya?
Apakah cinta Takao tersampaikan?
Apakah Midorima juga punya perasaan yang sama terhadap Takao?
Apakah fic ini akan update cepat?
Tunggu chapter selanjutnya!
.
.
/sujud/ aduuuuh, maaf ya, yang nungguin /emang ada/! Aku baru sempet apdet sekarnag! Padahal niatnya 2 hari yang lalu /nangis/
Oke, ini apdetannya! Wordnya sih, masih muter-muter di situ aja, orz. Dan masa aku ngerasa ini plotnya makin lama makin cepet. Apakah ada yang merasa?
Semoga suka yaa~!
~Shiori Kurotsu~
