Chapter 3 :

Jika kalian bertanya-tanya mengapa seorang Kise Ryuuka bisa menyukai seorang Aomine Daiki itu, mungkin kalian bisa menemukan jawabannya disini.

.

.

.

For My…

Warning : AU, Fem!Kise, Gaje! +OOC!

Disclaimer : Hanya Milik Fujimaki Tadatoshi-sensei seorang.

Facebook milik Mark Zuckerberg

.

.

.

"Eh? Kenapa For My?" Aomine melihat sebuah tulisan—atau mungkin diary? Yang ditulis Kise dibelakang bukunya. Klise, kertas halaman belakang memang biasanya dipakai untuk mencoret-coret atau menumpahkan isi curahan hati bukan?

Kise segera menutup bukunya, "Lantas?" tanya Kise menantang. Ia agaknya sedang kesal dengan lelaki ini, dikarenakan Kise Ryuuka yang sama sekali tidak bersalah dalam aksi contek-mencotek, jadi ikut bersalah gara-gara dia—Aomine Daiki. Padahal Kise sudah berkali-kali mengatakan pada lelaki itu untuk belajar sebelum ulangan dimulai. Aomine yang mati-matian ingin minta jawaban dari Kise, dengan lapang dada gadis itu memberikannya.

"Tunggu kiriman jawaban?"

Sensei yang mengawas lantas mengetahui transaksi ilegal itu. Aomine hanya nyengir seolah apa yang dilakukannya itu bukanlah sebuah masalah besar.

Aomine tertawa, "Kau masih marah?" Aomine menyikutnya, semakin membuat bibir gadis itu manyun tidak jelas. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas dan memilih untuk mengabaikan lelaki dim di sebelahnya yang sedang memperhatikannya itu. Mengubah arah pandangannya dengan tetap memperlihatkan wajah kesalnya.

"Mungkin, For Our akan menjadi kata yang lebih baik, eh?" Aomine tersenyum.

Kise mengernyitkan dahi, ia kembali menghadap lelaki disebelahnya itu dengan tatapan tidak mengerti, "Dengan siapa?"

Aomine menepuk-nepuk kepala Kise sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadis bersurai kuning itu, ia tersenyum.

.

.

.

—Denganku, tentu saja! Our, aku dan kamu!

.

.

.

Hari itu, Kise yang baru sembuh dari demamnya, akhirnya bisa masuk sekolah seperti biasa. Hanya saja, ia memakai jaket kalau-kalau nanti ia masuk angin dan tiba-tiba flu. Lagipula, sekarang 'kan lagi musim-musimnya sakit, dan perempuan yang satu ini memang rentan sekali terkena penyakit.

Waktu itu, jika seandainya tak ada murid baru.

"Oh iya, kau belum mengenalnya ya? Yang itu namanya Aomine Daiki. Dia dari kelas C yang pindah ke sini." Kise mengangguk, ia kembali menulis catatan-catatan yang tertinggal ketika ia tak masuk selama tiga hari. Tapi—

"Ah dia, mirip kambing."

Kise melirik ke arah suara itu, ia melihat dua orang disana—si Aomine Daiki dan satu lagi Kise belum tau namanya— seakan-akan berbisik mengenai dirinya. Kentara sekali mereka sedang berbisik-bisik tentang Kise. Siapa sih anak baru yang seenaknya berbisik tentang dia itu? Kise menghela napas, sama sekali tidak peduli dengan murid pindahan di kelasnya ini.

Kelas ini spesial, dalam arti bukan karena fasilitas yang lengkap atau karena sering menjadi dambaan para guru, ya memang sih, tapi dalam arti yang lain. Dengan meja yang disusun membentuk huruf U, membuat ruang kelas bagian tengahnya akan kosong, sehingga semua anak bisa bermain atau sekedar makan bersama disana. Kise suka tempat ini, sayangnya, ini membuat anak yang satu akan berhadapan dengan yang lain.

Dan sialnya atau apa, Kise malah berhadapan duduk dengan si anak yang membicarakannya tadi, Aomine Daiki.

Saat jam pelajaran sedang kosong, betapa lincahnya anak itu mengambil hati teman-temannya. Dia cerewet, dengan suaranya yang besar, tapi juga suka sekali lelucon, membuat seluruh teman-teman di kelas tertawa. Aneh jika Kise tidak tertawa, ia menelan tawanya sendiri atau sekedar terkekeh pelan, berusaha menjaga image yang sedang ia bangun di kelas empat nya ini.

Tapi disisi lain juga menyebalkan, kadang ia suka mengerjai anak perempuan, mengintip roknya membicarakan hal mesum—yang tidak sesuai dengan umurnya— dan berakhir dengan julukan baru yang ia dapat, hentai-san.

Kise tertawa dari kejauhan, ia akui, orang ini memang menyenangkan. Kise memang belum akrab dengannya, bicara saja belum pernah, jadi mungkin ia hanya bisa menyimpan rasa penasarannya pada orang ini dalam diam saja. Lagipula, tahun ajaran baru dimulai, jadi wajar-wajar saja jika belum akrab satu sama lain.

Waktu itu, jika seandainya ia tidak duduk denganku.

Kesialan atau malah keberuntungan membuat Kise akhirnya duduk dengan orang paling narsis di kelasnya ini? Saat semester dua, tempat duduk akan diacak. Dan… Seperti yang terlihat, akhirnya Kise duduk dengannya—Aomine Daiki.

"Eh? Boleh pinjam pensil?" Katanya.

Kise mengangguk, mengeluarkan pensilnya dan memberikannya pada Aomine. Setelah ucapan terimakasih yang ia dengar, Kise melanjutkan membaca komik yang ia pinjam dari temannya, sekedar mengisi waktu luang. Kise sempat melirik pada Aomine, lelaki itu ternyata meminjam pensilnya untuk menggambar. Di halaman belakang kertas. Ada banyak gambar disana, mulai dari orang, ninja, monster, sampai makhluk yang tak jelas bentuknya itu ada di gambarannya.

"Suka gambar?" Kise mulai membuka pembicaraan.

Dia mengangguk, "Yah… Isi waktu luang sih. Mau jadi mangaka… Hahaha!"

Kise ikut tertawa, "Semoga berhasil."

Aomine kemudian melempar pandangannya pada Kise, menghentikan pekerjaannya dan menatap Kise, "Kau Kise ya? Kenapa wajahmu mirip kambing?"

Satu pukulan berhasil didapatkan lelaki berambut biru itu. Untung saja Kise tak mengeluarkan tenaga dalamnya, bisa-bisa ia tidak akan melihat matahari terbit besok, "Jangan sembarangan bicara kau! Gini-gini aku muka artis."

Aomine tertawa, sampai-sampai ia memegang perutnya, "Artis? Paling artis di kolong jembatan."

Kise memukulnya lagi, sayang lelaki itu bisa menghindar dengan mudahnya, "Berhenti mengejekku! Dasar sapi perah!"

.

.

.

Waktu itu, andai tak ada ejekan.

Secara resmi, mereka akhirnya mempunyai satu ejekan masing-masing. Kise sebagai kambing, dan Aomine sebagai sapi perah. Jika kalian bertanya, dari sisi mananya mereka dikatai begitu? Entahlah. Secara spontan saja ejekan itu keluar dari mulut mereka. Sama sekali tak tau apa-apa, mereka berdua menjadi pasangan yang sering diganggu oleh teman-teman mereka.

"Sama-sama binatang ternak, sih." Begitu salah satu komentar teman Kise, perempuan dengan iris madu itu sama sekali tak merasakan apa-apa dengan lelaki dim di sebelahnya. Tak ada debaran atau semisalnya yang ia rasakan. Malahan yang ia rasakan hanyalah kemarahan, sebal, kesal, geram, senang, lucu, semua menjadi satu.

Bahkan, guru-guru yang mengajar di sana, sudah mengakui betapa cocoknya si kuning dan si biru tua itu. Habisnya, mereka sering sekali berkelahi di setiap mata pelajaran, APAPUN!

"Bisa tidak kalian diam? Atau mau sensei nikahkan?"

"Lebih baik, aku nikah sama kambing beneran daripada sama dia, sensei!" Aomine mencibir Kise, begitu juga sebaliknya. Tak ada yang mengalah, tapi biasanya, yang kalah si Kise. Kenapa? Karena perempuan tak 'kan pernah menang dari laki-laki bukan?

Waktu itu, andai ia tidak membuatku salah tingkah.

"Heh? Tapi aku dan Kise sudah sepakat untuk duduk berdua, iya 'kan?" Aomine menginjak kaki Kise agar mengiyakan perkataan Aomine, refleks ia mengangguk paksa. Sebenarnya, Aomine ingin tetap duduk dengan Kise karena—

"Dia enak diajak ngobrol ditambah otaknya encer sih. Hitung-hitung ada wadah buat nyontek. Hehe.."

Jika kau bertanya demikian, maka jawabannya akan seperti ini. Kise mulai merasakan ada sesuatu yang menganggu di dadanya.

—Saat semester satu, kelas lima dimulai.

Kise punya kebiasaan buruk. Rambut panjangnya yang ia biasa gerai itu terkadang suka nyangkut sana-sini, dalam arti suka nyangkut di mulutnya ketika rambutnya itu tersibak angin dan masuk melalui celah-celah mulutnya. Saat sedang mendengar penjelasan guru, Aomine sempat melirik ke arah gadis yang serius mendengar penjelasan dari sensei nya itu, lelaki itu terkekeh pelan sehingga menarik perhatian Kise untuk menegurnya.

"Kau makan rambutmu."

"Eh?"

Sungguh, Kise sama sekali tak merasakan ada rambut yang masuk di mulutnya. Refleks Aomine mengambil rambut yang menempel di pipi Kise dan menarik helaian rambut itu keluar dari mulut Kise, "Lihat? Betapa joroknya kau ini."

Ia tertawa.

"Tetap cantik kok."

DEG.

Mungkin jantung Kise tak akan berdetak tiba-tiba jika Aomine tak melakukannya.

.

.

.

Mimpi tentang masa lalunya kembali terulang. Seandainya saat itu insiden rambutnya yang masuk melalui celah-celah mulutnya tak pernah terjadi, mungkin ia tak akan pernah menyukai lelaki itu. Kalau diingat-ingat, itu terjadi saat usianya baru 11 tahun. Masih kecil sudah main cinta-cintaan? Dan diumurnya yang 14 tahun ini malah cinta yang memainkannya? Jangan bodoh! Bahkan kalau kita melihat dari sisi yang lain, menerawang melihat dunia yang lebih luas, anak TK-pun nampaknya sudah mengerti arti cinta—pengaruh globalisasi.

Kise memegangi kepalanya yang agak pusing, lalu keluar dari kamarnya untuk segera berangkat sekolah. Memulai harinya yang baru di sekolahnya ini.

.

.

.

"Iya, aku ditembak. Sama senpai Ichi."

"Wah… Selamat ya!"

"Tadi malam, aku balikan lagi sama dia."

"Begitu?"

"Dia pacar baruku."

Kise menutup telinga mendengar semua obrolan tak jelas yang menggerogoti telinga sucinya itu. Ia lantas keluar dari kelasnya yang berada di lantai tiga dan menggerutu kesal sendiri. Hari ini Momoi tak ada disampingnya seperti biasa, sedang ada rapat OSIS katanya.

'Memangnya aku tidak cantik ya?'

'Kenapa mereka bisa dengan mudah mendapat pacar sedangkan aku tidak?'

'Akh! Kenapa aku masih tidak bisa bergerak maju dari lelaki itu?!'

Banyak gerutuan tidak jelas atau umpatan dalam hatinya itu. Ia sedang tidak tenang hari ini, meski semalam ia sudah berbaikan dengan Aomine, tapi tetap saja tidak ada yang berubah. Mereka berdua bertemu tadi pagi di gerbang, saling melihat, saling menatap, tapi setelah itu melenggang pergi. Tak taukah kau Aomine bahwa gadis ini sedang memikirkanmu saat ini?

Kise menghela napas, seharusnya ia tak usah meraih seseorang yang tak bisa ia dapat. Lagipula, Aomine 'kan terkenal, dia pebasket handal, dan kini ia sudah pintar berbahasa inggris. Sudah merupakan sebuah kemajuan baginya, padahal dulu ia cuma anak ingusan saat masih SD. Yang gemar menumpahkan lawakan saja.

Namanya saja sudah besar. Wajar jika Aomine berubah menjadi sedikit lebih bermutu, sehingga menjadi incaran gadis-gadis angkatannya. Tapi, seperti biasa, Kise selalu menyemangati dirinya sendiri dengan mengatakan "Akulah yang paling mengenal Aominecchi."

.

.

.

"Oh… Haha, kenapa? Kami ikut klub yang sama."

Malam harinya Aomine meng-sms Kise, sekedar nanya kabar. Siapa yang tidak senang? Kise dengan semangat membalas sms demi sms dari pria yang mencuri hatinya itu. Hari ini, mungkin kegalauannya agak mereda.

"Habisnya ada rumor, sih. Kukira kau pacaran dengannya ^^''"

Tentu saja, perempuan mana yang tidak khawatir jika orang yang disuka malah berpacaran dengan perempuan lain. Sakit? Tentu saja.

"Jangan bercanda, -_- aku belum pacaran. Tadi, dia hanya memukulku dengan buku sambil tersenyum. Makanya teman-temanku yang lain mengira kami berpacaran."

Kise bisa bernapas lega, rumor-rumor berbahaya itu untungnya hanya omongan dari mulut ke mulut, dan bertanya langsung dari sumbernya memang adalah yang terbaik, "Um… Lalu, Aominecchi menganggapku bagaimana?" Kise agak ragu mengetik sms itu, soalnya dia takut juga jika lelaki ini diincar perempuan lain. Padahal baru beberapa minggu ini ia kembali berkontak dengan teman lama, kalau tiba-tiba menghilang juga bukan hal yang lucu.

"Kau? Ahaha... Entahlah, tapi mungkin, aku tidak bisa mensejajarkanmu dengan teman-teman perempuan yang pernah kukenal. Kau berada di tingkat yang berbeda."

"Sial! Kenapa wajahku memanas?" Kise melihat dirinya sendiri di pantulan cermin. Wajahnya memerah dengan sendirinya dengan kata-kata yang tertulis rapi di ponselnya itu. Apalagi jika Kise secara langsung mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Aomine? Bisa mati tertusuk panah dia.

"Seperti?" Jawab Kise singkat.

"Hei hei, aku sudah mengenalmu lebih lama dari yang lain, Kise. Jadi jangan bertanya hal-hal yang sudah kau ketahui jawabannya, aku sudah tau kapan kau akan pura-pura bodoh!"

Kise tertawa, "Aku juga! Jadi kau jangan main-main sama teman perempuan yang lain. -_- Masa iya aku yang temanmu sejak lama ini tak bisa berbicara denganmu di sekolah secara normal? Kau jahat Aominecchi!"

Kita semua tau kalau Kise cemburu disini.

"Begitu? Baiklah, aku tidak akan sembarang berbicara dengan yang lain kalau begitu! Aku juga tidak tau, berbicara denganmu terlalu sulit. Bibirku rasanya kaku saat ingin menyapamu."

Apa tidak ada yang sadar disini?

—Mereka memang pasangan bodoh, tidak menyadari bahwa mereka sedang mengungkapkan isi hati mereka.

—Karena? Yah... Semua orang yang sudah berpacaran juga pasti tau.

"Hehe, Aominecchi jangan suka dekat-dekat sama perempuan lain ya? ^^ "

"Ya ya, tapi aku juga tidak bisa mendekatimu! Kapan-kapan ya jika bertemu aku akan mencoba menyapamu!"

—Dasar bocah.

.

.

.

End of Chapter 3

.

.

.

A/N : Maaf jika semakin membosankan -_-a

Yang nunggu, semoga senang! Terimakasih sudah menyempatkan membaca ^^/

Pesan 1 :

Oh ya Minna-san, kalau mau manggil diriku yang unyu ini *ditimpuk emas batangan* jangan panggil author-san atau semisalnya, masih sangat sangat sangat sangat sangat junior soalnya ^w^b. Jadi, panggil Ry-chan/Ry aja, biar merasa dekat dg Minna-san semua :D

Pesan 2 :

Kayaknya bakal hiatus nih .w. jadi jangan kangen ya! *sapa elu?* Padahal Ry masih mau ng-repiu FF Minna-san semua, tapi dunia terkadang kejam ya?

Pesan 3 :

Ry sayang kalian semua! Terimakasih telah menyempatkan membaca ^^/