Chapter 4
"Dan dan kau tau tidak apa yang dikatakan Aomniecchi pas itu?"
"Apa?"
"Aominecchi bilang dia bakal menyapaku kalau bertemu denganku! Kyaaa~ Aku gak sabar nunggu."
Seperti yang terdengar dari potongan percakapan itu, jelas sekali siapa-dan-apa yang tengah mereka bicarakan. Tentunya dengan pelaku si pirang Kise Ryuuka dan si merah muda Momoi Satsuki. Dan objek pembicaraannya tentu si dim Aomine Daiki. Momoi merasa senang dengan atmosfer yang diberikan Kise disekitarnya. Kini gadis yang sempat bermuram durja karena lelaki itu bisa tersenyum dan tertawa kembali, membuat Momoi berpikir, 'Oh, dialah Ki-chan yang dulu.'
Lantas terbesit di otak gadis merah muda itu untuk menanyakan sesuatu yang amat sangat ia penasarankan akhir-akhir ini. Dimana ketika topik pembicaraan mereka berubah menjadi Aomine Daiki, maka secara refleks gadis itu ingin menanyakan sesuatu. Tapi selalu saja tersendat karena beberapa macam hal, dan dilihat dari situasi sekarang, mungkin ini waktu yang tepat untuk menanyakannya!
"Oh iya Ki-chan, semenjak kita sering membicarakan Aomine-kun, ada sesuatu yang membuatku… cukup penasaran." Tanya Momoi gugup. Ia menggaruk pipinya sambil menyunggingkan senyum terpaksanya, syukur Kise tak sedikitpun merasa janggal dengan gadis cantik itu.
Kise mengangguk mantap, mempersilahkan Momocchi-nya untuk mengatakan apa yang membuatnya penasaran. Ia sangat suka, ketika Momoi bertanya kembali dengan ceritanya, ketika tertawa dengan ceritanya, ketika menggodanya dengan ceritanya, apa saja. Asalkan temanya masih sama, Aomine Daiki.
"Ki-chan teman sejak SD Aomine-kun, 'kan?" ia mulai dari pertanyaan yang mudah dulu. Sedang ancang-ancang, tidak baik langsung to-the-point.
Kise kembali mengangguk, dengan tersenyum manis tentunya. Ok, satu pertanyaan lolos.
"Ki-chan… dekat dengan Aomine-kun, 'kan?" dan dibalas kembali dengan acungan jempol Kise dan cengiran khasnya.
"Ki-chan… menyukai Aomine-kun, 'kan?" agak sedikit sesak mengatakannya. Tapi tetap dibalas dengan senyum malu-malu Kise yang membuatnya tampak manis.
Ok, kali ini gadis itu menggigit bibirnya, takut menyinggung untuk pertanyaan yang sebenarnya. Pasalnya, gadis pirang ini sama sekali tak pernah menyinggung—membicarakan pertanyaan yang akan ditanya Momoi nanti—sekarang.
"Lantas— Apa yang membuatmu… tak pernah memanggil dengan nama kecilnya?"
Hening. Momoi melihat perubahan ekspresi yang ditunjukkan gadis pirang itu, terdiam. Ia menatap kosong Momoi, matanya seperti ikan mati. Bersamaan dengan itu, angin tiba-tiba berhembus dengan kuat, menerbangkan helaian rambut panjang Momoi dan Kise.
Saat itu juga, Momoi akan langsung menunduk, atau bahkan berlutut kalau sampai gadis itu marah padanya.
—Tapi sepertinya tidak.
Kise kemudian tersenyum lemah pada Momoi, setelahnya melempar pandangan pada langit tanpa awan itu.
"Aku tidak tau."
Momoi melebarkan matanya, apa maksudnya? Kalau dia mengaku semua-semuanya serba Aominecchi, kenapa dia malah bilang tidak tau? Pertanyaannya malah semakin memperburuk keadaan. Hilang sudah, Kise Ryuuka yang beberapa detik lalu tertawa bersamanya. Ada hawa tidak enak berada di sekelilingnya.
"Um… Momocchi kenapa berekspresi begitu?"
Momoi tersadar dari lamunannya, "A-Ah, e-eh… Jadi?"
Kise tertawa, melepas semua pertanyaan Momoi tadi dengan tawa nyaringnya, "Sebenarnya aku dan Aominecchi—
.
.
.
For My…
Warning : AU, Fem!Kise, Gaje!, OOC!
Disclaimer : Hanya Milik Fujimaki Tadatoshi-sensei seorang.
Facebook milik Mark Zuckerberg
.
.
.
"Aku tak percaya menceritakannya pada Momocchi." Ia berbicara sendiri di dalam kamarnya, lebih tepatnya pada boneka ayam yang ia buat dulu saat masih kelas lima SD. Sesungguhnya, mungkin jika benar pemikirannya sama dengan Momoi, ia memang sengaja menghindari pertanyaan seperti itu keluar. Tapi pada akhirnya— semua terbongkar juga. Padahal itu salah satu rahasia kelam yang ia simpan sampai kelas dua SMP ini. Tak ada obatnya, tak ada penenangnya, itu hanya menjadi penyakit hati untuk Kise yang ia kubur dalam-dalam.
Bosan dengan kegalauannya sendiri, gadis itu memilih membuka laptopnya, membuka internetnya, membuka facebooknya yang sudah lama tak ia buka.
"Sugoii, notif nya penuh."
Kebanyakan kolom pemberitahuan yang disediakan facebook berasal dari kawan-kawan sekelasnya, yang menandainya dengan beberapa foto, juga catatan serta curhat-curhatan mereka yang nyaris membuat tawa Kise lepas kendali. Untung dia sadar ini rumahnya, bisa-bisa dia dimarah lagi oleh ibunya seperti tempo hari, juga beberapa dari grup dan teman-teman dunia mayanya. Setidak aktif-aktifnya Kise, ternyata ia masih dipedulikan. Sebagai balas budi, ia mengkomentari semuanya dan tak lupa memberikan 'suka'. Butuh waktu tiga puluh menit kalau tidak salah. Barulah setelah itu ia berpindah kolom untuk permintaan pertemanan. Balon merahnya bertuliskan angka tigapuluh sembilan. Cukup banyak, dan ia dengan suka hati mengkonfirmasi pertemanan itu tanpa harus memilah-milah terlebih dahulu. Dan kebanyakan dari orang yang tak ia kenali.
Sejurus kemudian, muncul sebuah private message dengan balon merah sebagai tandanya. Kise mengklik ikon itu, ada pesan dari orang yang tak ia kenal.
"Terimakasih, kau Kise Ryuuka kelas 2-H bukan?"
Kise mengernyitkan dahinya, ia tak kenal orang ini. Dengan pemikiran yang mulai melenceng seperti kejahatan di dunia maya mulai menginvasi pikirannya. Atau ini bakal jadi penculikan?
Tidak, Kise menghentikan itu semua. Mungkin saja dia orang baik, "Iya, kenapa bisa tau?"
Secepat Kise membalas, secepat itu pula ia membalas, "Haha… bagaimana ya? Aku Kasamatsu Yukio, kelas 3-A. Salam kenal ya!"
Oh… Cuman kakak kelas toh. Ya sudah, dia kira siapa. Tinggal balas dan ngomong-ngomong baik-baik, maka tak ada yang perlu ditakutkan. Kise terlalu banyak nonton berita macam gitu sih.
"Iya senpai." Tak lupa dengan emoji kedipan mata khasnya atau tertawa untuk menandakan eskpresinya. Bukan Kise namanya jika tidak begitu.
Tapi tetap saja dia takut. Maka setelah mengetik kata simpel itu, ia segera menutup akunnya. Takut terlibat lebih jauh dengan orang yang tak ia kenal, apalagi kakak kelasnya sendiri.
Oh iya, dia 'kan bisa bertanya pada Aomine. Lagipula, kelasnya lelaki itu 'kan 2-A. Jadi dia pasti mengenal kakak kelas itu. Seingat Kise, jam olahraga kedua kelas itu digabung, setidaknya Aomine pasti tau atau ada bayangan mengenai wajah senpai-nya itu. Setelah mematikan laptopnya, ia segera meraih ponselnya dan mengetik smsnya dengan cepat. Kadang, sifat buruknya yang kelewat penasaran memang jarang berhasil dengan baik.
—dan itulah yang terjadi sekarang.
Aomine tak kunjung membalas pesannya. Sudah dua jam perempuan itu menunggu. Ponselnya belum menunjukkan tanda-tanda bergetar seperti biasanya. Dan ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktunya bagi Kise untuk tidur.
"Heh… Tidak dibalas juga." Ia menggerutu kesal. Biarlah, setelah itu ia menaruh ponselnya di samping bantal tidurnya dan mulai tidur dengan perasaannya yang masih mengganjal, terganggu, dan resah. Mengapa?
Lelaki dim itu tak kunjung membalas pesannya.
—Mungkin juga tidak.
Pagi harinya, dimana Kise tak pernah memegang, melihat atau membawa ponselnya ke sekolah, ponselnya bergetar tanpa ia sadari. Salahkan dirinya yang tak pernah memberikan nada dering pada ponselnya! Beginilah jadinya. Sehingga pesan yang belum terbaca itu menjadi lumut hingga sore hari—jam ketika Kise pulang sekolah.
"Warui untuk keterlambatan membalas pesan. Dia di klub basket, satu klub denganku. Kenapa?"
End of chapter 4
TBC or not?
Muncul tokoh baru, si Kasamatsu Yukio~ berhubung ini AU, jadi Kasamatsu-senpai ga takut cewek ya :3
Dan nanti juga bakal muncul tokoh baru lagi~
Dua-duanya bikin Kise ma Aomine kesal.
Oh ya, Ry gak lanjutin ceritanya si Kise sama Momoi yang diawal tadi. Bagi yang penasaran *emang ada?* bakal dijelasin kok~
Terimakasih sudah menyempatkan membaca ^^/
-memoryru
Balasan untuk yang tidak login :
daiKi-chan : terimakasih sudah rajin-rajin me-review :D hehe~ dinikmati saja sampai seperti apa status mereka nantinya ^^
