Title : MINE!

Rated : T

Genre : Fantasy/Romance/LittleHumor/Sad –maybe-

Cast :

-main cast : KrisTao

-slight : NickXTao

-other cast : find by yourself

Claim/Disclaimer : TAO IS MINE!#noprotesplis. Plot is mine/Hogwarts is JKR's.

Warning : YAOI, BL/Boys Love/AU/Crossover/ Hogwarts/abal, Kata kasar nyelip. Typo dimana-mana, alur dipaksakan dan kekurangan lain yang akan chigu temui sendiri. No plagiat. No Flame.

Summary : Siswa baru. Kecemasan akan restu orang tua. Pertandingan Quidditch. Tahun ini mungkin benar-benar membuat Wu Kris ingin gantung diri!

.

©TAOKYU PRESENT

.

MINE!

.

.

Semi telah datang. Lebih cepat seminggu dari perkiraan Chanyeol. Hamparan salju bak selimut putih yang sebelumnya menutupi halaman kastil, kini berganti dengan warna hijau dari rerumputan yang mulai tumbuh. Kuncup bunga Astigel mulai menampakkan dirinya disela-sela semak belukar.

Matahari dengan semangat memancarkan sinarnya kepenjuru kastil. Menerangi tiap ruangan dengan biasnya yang tajam. Kilau bak berlian didanau hitam. Hembusan angin hangat yang menerpa kulit. Wangi segar dari titik embun musim semi.

Tak heran, jika Tao begitu jatuh cinta dengan musim ini.

Ngomong-ngomong soal Tao.

Pemuda dengan rambut raven tersebut sedang menyusuri lorong diujung koridor selatan lantai dasar untuk menuju dapur. Sejak keluar dari Aula besar, tepatnya setelah berpamitan dengan Kris, ia tak pernah memudarkan senyuman yang terpatri dibibirnya. Mata hitamnya berkilau saat menantang sang matahari siang.

Sudah ku bilangkan, Tao benar-benar mencintai musim semi…

Ia tersenyum puas saat kakinya telah berada di ruang kebesaran para peri rumah. Tanpa disangka, manic kelamnya menangkap sekelebat bayangan hitam di lantai batu. Intuisinya yang tajam membuat ia mengeratkan genggamannya pada tongkat dalam saku celana hitamnya.

Tao berjalan mengendap-ngendap mendekati sosok yang juga menggenakan sweter yang sama seperti dirinya. Sebisa mungkin ia menjaga langkahnya agar sol sepatu yang ia pakai tak menimbulkan suara.

Tangannya terangkat untuk menyentuh bahu kokoh didepannya. Namun, belum ia menyentuh seujung jari pun, pemilik surai coklat gelap tadi berbalik menghadap Tao. Indra penglihatan biru sapphire miliknya membulat.

"Tao?!"

Pemuda tinggi semampai di depan Tao bergumam lirih. Alis tebal dan rapinya menyatu. Dahinya berkerut sempurna. Terlalu kaget, sepertinya.

"Nick, sedang apa disini?" bisik Tao terlampau pelan. Bahkan tak jauh lebih lantang daripada suara burung kenari di jendela dapur.

Nick tak membuka suara. Dia diam. Pasif. Membisu. Dan apapun itu substitusi dari kata bergeming. Ia hanya menatap Tao dan membuat kontak mata itu semakin intim.

"Kau kenapa?"

Lagi-lagi penghuni baru Gryffindor tersebut tak kunjung bersuara. Membuat Tao hanya mengangkat bahu cuek dan berniat berbalik badan menuju meja pantry yang lain sebelum merasakan genggaman hangat menyusup di sela-sela jemarinya.

Sepintas, hanya sedetik, Tao menatap genggaman pada tangannya sebelum ia kembali menoleh menatap Nick dengan perempatan yang bertengger di kepala.

"Kenapa?"

"..."

"..."

Tao semakin memiringkan kepala tak mengerti.

"Kau mau ku buatkan sesuatu? Kau ke dapur karena ingin sesuatu, bukan?" Nick bertanya sebiasa mungkin.

"Enghhh... Yeahh..." Tao menarik tangannya dan menyimpannya di balik tubuh. "Sebenarnya, aku tak menyukai menu makan siang kali ini. Dduhhh... Aku merasa sangat menyesal tidak memakan masakkan buatan Dobby..." ucap Tao dengan ekspresi sedih yang luar biasa menggemaskan.

Nick mengulum sebuah senyuman tipis. "Aku akan membuatkan sesuatu untukmu. Duduk disini..." Ia menyeret salah satu dari 10 kursi kayu di meja makan dan mempersilakan Tao untuk mendudukinya. "Kau mau apa?" Nick bertanya seraya menggulung lengan bajunya sebatas siku lalu mengacungkan tongkat sihirnya—sedikit lebih bersemangat daripada yang dimauinya—ke arah seonggok kentang dan beberapa buah wortel serta sebongkah kembang kol dari lemari penyimpanan. Kentang-kentang itu lepas dari kulitnya cepat sekali sehingga beterbangan dan melenting dari dinding dan langit-langit. 3buah wortel membersihkan dirinya sendiri di bak.

"Eungghh... terserah kau saja... Sebenarnya aku hanya ingin makan salad dengan mayonise. Juga semangkuk soup wortel."

"Kau yakin?" Nick memastikan. Ia mengetukkan tongkatnya pada laci perabot, yang langsung terbuka. Beberapa pisau langsung meluncur keluar dari sana dan terbang melintasi dapur, dan mulai memotong-motong kentang dan wortel serta kembang kol yang baru saja terangkat dari baskom berisi air. "Memakan makanan kelinci itu?" bahan masakan yang telah terpotong tersebut lalu meluncur mulus melewati atas kepala Tao dan masuk dengan sempurna ke dalam panci mendidih yang entah sejak kapan telah berisi kaldu kental berwarna coklat terang.

Tao mengangguk cepat meskipun ia tau, Nick tak akan melihatnya. "Kau sangat terampil..."

"Hmmph?" Pemuda berambut coklat tersebut berkata tanpa menoleh. Tangannya sibuk mengarahkan tongkat ke berbagai sudut dapur. Seikat sayuran hijau terbang dari balik rak sayuran yang menjulang tinggi dan kemudian menceburkan diri ke dalam bak air. Diikuti dengan bahan-bahan pembuatan salad yang lain –selada, mentimun dan lainnya– "Aku terbiasa seperti ini. Di Spist, jika aku tak menyukai menu makannya, aku akan memasak sendiri di dapur."

"Benarkah? Bagaimana sekolah Spist?"

"Honestly, Tao–" Nick memutar mata mencari lemari piring, "disana tidak ada pembagian asrama seperti disini..." ia mulai berjalan lalu membuka salah satu pintu lemari kemudian menggeluarkan sebuah mangkuk serta piring berwarna emas dari sana. Ia merapalkan mantra pembersih kearah kedua benda tersebut dan membawanya kembali ke pantry. "Disana hanya di bedakan antara asrama perempuan dan laki-laki."

"Apa kau juga mengikuti klub? Quidditch contohnya..." Kepala Tao berputar mengikuti Nick yang berjalan kesana kemari dengan masing-masing tangan membawa peralatan makan.

"Ya..." Pemilik bibir tipis tersebut mengaduk isi panci berisi soup dan menuangkannya perlahan kedalam mangkuk. Piring di sampingnya ia isi dengan berbagai macam sayuran bersih dan menambahkan saus mayonise diatasnya. "Aku masuk tim Quidditch dan Cheaser adalah posisi yang ku pegang."

"Oh yaaa?!" Tao memekik tak percaya. Matanya membulat kaget. "Aku tak menyangka…" Serunya kelewat semangat. "Kalau begitu, kau harus ikut seleksi Quidditch yang akan diadakan. Ren dan Sir Yunho akan melihat kemampuannmu..."

"Siapa? Ren? Sir Yunho?" Alis milik Nick kembali terangkat tinggi-tinggi.

Tao menganguk antusias "Kapten tim Gryffindor dan pelatih kami."

Nick berjalan menuju meja dan meletakkan hasil karyanya didepan Tao. "Baiklah. Aku akan mencobanya. Nahh... makanlah..."

"Woaahhh..."

Mata berhiaskan berlian hitam itu berbinar menatap semangkuk soup dan sepiring salad di hadapannya. Hasil olahan tangan Nick. Pemuda yang sekarang duduk disampingnya ini.

"Apa di negaramu, seekor kelinci menyukai– " Tao menyendok sesuatu dari atas salad-nya, "well –menyukai keju?" dia terkikik pelan. "Ini pasti enak. Boleh aku memakannya sekarang?"

Tao memandang Nick melewati ekor mata. Mendapat anggukan kepala dari sosok yang diharapkan, membuat Tao buru-buru menyambar sendok yang berada disamping mangkuk. Ia mengaduk isinya dan kemudian menyendoknya banyak-banyak. Kepulan uap begitu ketara saat Tao sedikit meniupnya.

Tak ada pembicaraan dalam ruangan dapur saat ini. Tao sibuk memakan soup buatan Nick. Sedangkan Nick sendiri, menikmati pemandangan indah yang ada didepannya. Siapa lagi jika bukan, Tao. Teman sekelasnya. Teman asramanya. Dan kekasih Kris, sang pangeran Slytherin.

Uuughh...

Ekspresi Nick berubah kaku saat mengingat jika panda disebelahnya ini telah memilik kekasih. Apa lagi beberapa hari yang lalu tanpa disengaja, ia memergoki Kris dan Tao yang sedang berciuman di perpustakaan. Rasanya, ia benar-benar ingin menghancurkan isi ruangan penuh buku tersebut saat itu juga.

Nick mengeram tertahan dan menutupi seluruh wajahnya dengan tangan. Tak dihiraukannya Tao yang tengah memandanginya heran dengan pipi yang masih mengembung lucu.

XxxxxxX

Baekhyun dan Dio segera saja mendudukkan diri di bangku panjang disisi koridor. Tepat di sebelah Chan yang memandangi mereka dengan pandangan bertanya.

"Kau-"

"Jangan bertanya kenapa penampilan kami seperti ini..." Baekhyun buru-buru memotong kalimat yang hendak dilontarkan oleh pemuda bernama lengkap Chanyeol tersebut. Tangannya masih sibuk membersihkan rambutnya dari potongan kertas kecil-kecil dan tepung yang entah bagaimana bisa berada disana. Sedangkan Dio sendiri, sibuk dengan jubahnya yang berantakkan dengan sedikit salju yang menempel di beberapa bagian.

"Peeves menyebalkan!" Gerutu D.o dengan bibir manyun yang berlebih. Membuat Kai serta merta menjepit bibir kekasihnya menggunakan kedua jarinya.

"Apa yang dia lakukan?" Chan membantu Baekhyun membersihkan rambutnya. Sedangkan Kai membantu Dio mengeringkan beberapa bagian jubah yang basah.

"Itu... –begini..."

.

Setelah keluar dari lubang dibalik patung Rowena Ravenclaw yang menjulang tinggi, anggun dan menawan, kedua penghuni Ravenclaw berjalan santai menuju Aula Besar untuk makan siang. Setelah berbelok menuju koridor utama, mereka bertemu dengan Ravenclaw lain yang sepertinya telah menyelesaikan makan siang mereka.

Yaa... Memang makan siang di Hogwarts tidaklah dilakukan secara serempak seperti makan malam atau jamuan makan pagi. Jadwal pelajaran yang padat dan berbeda di setiap kelasnya, membuat aula selalu tampak lenggang disiang hari. Seperti ada shif tersendiri jika telah menyangkut makan siang.

Dari jauh, mereka melihat Lian, teman mereka, berlari tergopoh-gopoh. Seperti menghindari sesuatu. Rambutnya yang pirang terang –biasanya- kini berubah menjadi pink mencolok. Juga sebelah kakinya yang tak memakai sepatu.

"Ada apa dengannya?" Baekhyun berbisik pada D.o yang juga menatap heran ke arah Lian yang semakin mendekat.

"Entahlah... Kurasa –Hheii... ada apa denganmu?" D.o menghentikan langkah kaki Lian dan memandangnya aneh. "Rambutmu..."

"Peeves sialan." Dia memaki. "Hantu kurang ajar itu menjatuhkan Semir Tabur di atas koridor menuju aula. Saat aku marah-marah, dia dengan cepat mendorongku dan menarik sebelah sepatuku..." Salah satu kaki Lian yang tak bersepatu ia julurkan kedepan. Mempertlihatkannya kepada Baekhyun dan D.o. "Sudah ya... Kakiku serasa mau mati rasa. Hati-hati."

Lian segera pergi menuju kamar asrama, dengan sesekali berjinjit karena telapak kakinya yang tak terlindungi oleh sepatu. Masih terdengar gerutuan dan umpatan yang mengiringi langkahnya –hantu brengsek... wajah idiot menyebalkan... Sinting... tak mematuhi prefek... dan masih banyak lagi–

Baekhyun mengangkat bahu. "Jabatan Prefek tidak membuatnya berhenti mengumpat..."

Kekasih Chan dan Kai tersebut lantas segera melanjutkan langkah mereka saat sebuah bola-bola salju meluncur dari depan. Reflek Baekhyun yang bagus membuatnya segera menghindar kesamping. Namun sayang, tidak dengan D.o. Bola salju tadi menghantam jubah bagian dada miliknya.

"Ya ampun!" kata D.o mengibaskan jubahnya kesana-kemari membuat salju yang menempel langsung berjatuhan di sekitarnya. "Siapa yang membuat –oughhh!" D.o berteriak sekali lagi saat ia rasa serbuan bola salju menimpa tubuhnya dari berbagai arah.

Balon besar merah jatuh dari langit-langit ke atas kepala Baekhyun, dan pecah. Membuat isinya bertaburan keluar dari dalamnya. Kertas kecil-kecil itu langsung bersarang di rambut rapi milik lelaki ber-eyeliner. Baekhyun mendongak dan melihat Peeves si hantu jail, melayang di atas mereka. Sosoknya kecil, memakai topi-lonceng dan dasi kupu-kupu berwarna jingga, wajahnya yang lebar mengerut, berkonsentrasi ketika dia siap melempar 2 buah balon ke sasaran.

Dughh...

Peeves berhasil menghantamkan balon berisi tepungnya ke arah Baekhyun dan menghamburkan isinya di atas kepalanya. Rambut coklat mengkilap milik Baekhyun seketika berubah menyadi putih dengan hiasan kertas warna-warni. Siswa-siswa lain yang berada disana segera berhambur dan saling dorong untuk menepi dan bersembunyi dibalik pilar besar. Menghindar dari serangan Peeves.

"Peeves! Cepat turun!" Teriakkan marah dari arah belakang terdengar. "Cepat turun sebelum aku –astaga!" Madame Hyolin terpeleset saat berjalan cepat ke arah kerumuman. Namun tangannya segera menyambar lengan JR.

"Oughh... maaf, ."

"Tidak apa-apa, Profesor." JR membantu Madame Hyolin berdiri. Dan segera menepi saat pengajar ramuan tersebut segera melangkah menuju sisi D.o.

"Ku perintahkan kau untuk segera turun!" Madame Hyolin mengacungkan sebuah perkamen yang telah lusuh kearah Peeves yang masih berputar-putar di langit-langit aula. "Sebelum ku panggil Profesor Jessi kemari!"

"Cckk..." Peeves terdengar berdecak kesal. Ia menjulurkan lidah lalu terbang menembus langit-langit koridor dengan suara kekehan keras yang seperti orang gila.

.

"Ya... seperti itulah..."

"Benarkah? Kau tak apa-apa, Kyungie? Apa kau merasakan sakit? Apa dadamu terluka? Kita harus cepat ke rumah sakit. Kau harus segera di periksa oleh Madame Yerinakhhh..."

Sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya, D.o lebih cepat menyumpal mulut Kai dengan sebutir besar coklat bola api –yang muncul dari udara hampa dengan ayunan tongkat- Ia terkekeh puas melihat ekspresi kekasihnya.

"Ahhaahaa... Kau harus melihat tampang bodohmu itu, Kai. Ckk... Kau terlalu cerewet. Aku tak apa-apa." D.o mengibaskan tangannya kedepan lalu menepuk pipi Kai.

"Ohh... Kris, dimana Tao?" Baekhyun berbalik sesaat setelah sadar bahwa rekan Gryffindornya tak ada. "Dia tidak disini?"

"Berada di dapur..." Pemilik marga Wu tersebut berujar lirih.

Baekhyun mengernyit bingung. Ia berbalik menatap Chan. "Ada apa dengannya?"

Chan menyerahkan selembar Daily Prophet yang dipegangya kepada Baekhyun. Baekhyun hampir tak menerimanya. Namun judul utama headline itu menarik fokusnya.

Lucius Wu, Kembali ke Inggris setelah 6 bulan di Mesir.

"Apa maksudnya ini?!" Lelaki eyeliner itu memekik tak percaya. "Implikasinya?"

"Orangtuanya belum tau jika dia mempunyai kekasih seorang Gryffindor." Pemilik kulit gelap diantara mereka menjelaskan. "Dia begitu –well takut…" lanjut Kai.

"Kau tidak mengirim mail lewat burung hantu kepada ibumu?" celetuk D.o.

"Kurasa…" Chan bersiap menjadi juru bicara Kris. "Mrs. Cissy tak keberatan. Aku tau, dia begitu mementingkan kebagiaan Kris. Tentu saja. Yang jadi masalah disini, hanya tentang ayahmu."

"Status darah sudah dihapuskan. Jika kau lupa, kuingatkan." Baekhyun berusaha membuat suasana hati Kris membaik. "Aku mud-blood. Tentu… tak ada dari kalian yang tak tau itu. Tapi aku dan Chan bisa bersama. Tak ada yang tak mungkin, Kris."

"Masalahnya, dia tidak memiliki watak seperti Mr. Vent Park." Kai menelusuri kolom hari Kamis di daftar pelajarannya. "Semua baik-baik saja, kawan. Aku sangat yakin jika ayahmu akan mengerti."

"Entahlah. Tapi, semoga saja," degung Kris.

Ahh… andai saja cinta bisa semudah yang diharapkan.

Kai sekali lagi membaca seksama jejeran tulisan acak di lembar jadwalnya. "Kelas Madame Sexy itu… kali ini dengan Ravenclaw. Okeee… Kita akan bergabung," Kai menarik Dio mendekat dan memeluk pinggang kekasihnya erat, "dan –apa ini?! Pemeliharaan Satwa Liar?! Aku tak ingat jika ini ada di jadwal hari kamis…"

"Kalau tidak salah, kalian digabung dengan kelas 3 Gryffindor, kan? Apa maksudnya itu?" D.o mengernyit heran.

"Entahlah… Hogwarts sepertinya butuh guru Pemeliharaan Satwa Liar lagi."

"Aku tak tahu jika Pemeliharaan Satwa Liar hari ini," kata Kai masih ribut. "Ya ampun. Aku harus segera membuat essai-ku!" Ia buru-buru beranjak dari duduknya. "Aku akan ke perpustakaan dan menyelesaikan essaiku…"

Saat Kai akan berlari pergi, D.o menahannya dengan mencekram pergelangan tangan. "Aku bantu. Ravenclaw rata-rata lebih cerdas dari Slytherin. Apalagi Slytherin macam dirimu."

XxxxxxX

Dentang bel keras bergaung dari atas menara tertinggi di kastil Hogwarts, menandai akhir pelajaran, dan anak-anak kedua asrama berpisah. Anak-anak Ravenclaw menaiki tangga batu untuk menuju kelas selanjutnya, Herbologi, dan anak-anak Slytherin turun menara menuju ke arah lain, menuruni padang rumput landai menuju pondok kecil di tepi Hutan Terlarang.

Setelah mengucapkan salam perpisahan untuk D.o dan Baekhyun –dengan mencium bibir mereka, yang membuat Kris mendecih tak suka– 3 pemuda tampan itu segera berjalan menuruni undakan-undakan batu.

Sir Midgen terlihat telah berdiri di depan pondok kecilnya ditemani beberapa peti kayu yang terbuka. Disekelilingnya, nampak anak-anak Gryffindor telah membuat kerumuman disana. Seperti mengamati isi peti kayu tadi.

"Selamat sore, Slytherin."

"Yes Sir…" balas Slytherin serentak. Mereka dengan cepat membentuk sebuah kerumuman.

Kris berjalan mendekati Tao dan mencium dengan tiba-tiba lelaki panda tersebut dari belakang. Tao tersenyum geli dan kemudian memutar tubuhnya. Ia berjinjit berlebih lalu mencium bibir Kris.

"Kita digabung, gege," Tao berujar antusias setelah sesaat memberi ciuman selamat sorenya. "Hari ini Sir Midgen membawa itu. Tadi dia menyebutnya Skerett Ujung-Meletup."

"Skrewt Ujung-Meletup,"ralat Midgen, "dan tolong berhentilah menciumi kekasihmu, Wu. Atau ku potong 20 point asrama karena tidak menghargaiku disini."

Midgen mendelik. Namun diabaikan oleh Kris. Penyandang marga Wu tersebut malah mengeratkan pelukkannya pada pinggang Tao. Tak memperdulikan sakit dipinggangya akibat sikutan sang panda.

"Kuharap tidak ada yang seperti itu dikelasku lain waktu. Aduhh… kepalaku. Baiklah, ini disebut Skrewt Ujung-Meletup." Midgen segera membuka kelasnya dengan perkenalan mengenai hewan barunya.

"Menjijikan." Luhan bergidik ngeri meskipun telah melihat isi peti itu sedari tadi.

"Aku tak mau melihatnya. Membuat perutku mual." seru Ketie yang mulanya ada dibarisan depan, namun segera pindah kebarisan paling belakang. Bersama Ren yang juga tengah menutup rapat mulutnya.

Skrewt Ujung-Meletup mempunyai bentuk fisik seperi udang raksasa, berwarna abu-abu pucat. Berlendir dan nampak licin. Seperti tak mempunyai kaki karena ukuran tubuhnya yang besar namun pendek –kira-kira 20cm– kepalanya keluar masuk seperti kura-kura. Diujung kepala ada sepasang capit atau antenna –seperti milik seekor siput namun lebih runcing dan keras– sepanjang 5cm. Mereka saling menindih satu sama lain karena sempitnya kotak ini.

"Mereka herbivora."

Midgen memasukkan rumput besar kedalam peti. Kemudian disusul dengan beberapa buah-buahan.

"Kukira mereka tak bisa memakan buah…" seseorang membuka suara. Membuat Kris reflek menoleh ke arahnya.

"Gigi mereka kecil. Namun tajam dan akan sangat menyakitkan jika kalian menerima serangannya. Berniat memberi makan?"

Beberapa siswa langsung maju untuk mengambil makanannya dan segera menyuapi makhluk aneh tadi. Beberapa siswa lagi, termasuk Tao, memilih tetap pada posisinya.

"Dia, siapa?" Kris berbisik pada Tao. Namun lebih terdengar seperti desahan menggelikan.

Tao terkikik geli dan menjauhkan telinganya dari bibir Kris yang terus meniupkan hembusan nafasnya. "Dia Nick. Siswa baru dari Spist. Ku kira gege sudah tau."

"Jadi dia…" kata Kris.

"Maksud gege?"

"Aku mendengarnya dari kedua orang paling rusuh itu." Kris berdiri tegak setelah puas menghirup wangi lavender dari leher jenjang kekasihnya. "Tidak setampan aku." Matanya menatap remeh ke arah Nick yang ternyata juga tengah menatapnya.

"Jangan seperti itu." Tao berbalik sekilas menatap Nick dan memberikan senyumannya kepada lelaki bertopi bulu merah itu, "jika tak ada dia, aku tak akan makan siang tadi…"

Mata Kris membulat. "Kau makan dengannya?"

Tao menggeleng cepat dan membenarkan jubah milik Kris. "Dia yang membuatkanku soup dan salad tadi. Dia hanya menungguiku makan didapur."

Mata Kris menyipit.

Tao yang melihatnya tak memberikan reaksi apapun. Terlalu biasa untuknya saat mendapati ekspresi seperti itu dari Kris.

"Dia, tak berlaku buruk padamu?"

Tao kembali menggeleng lucu.

"Dia tak menyentuhmu?"

Nyaris Tao akan menggeleng lagi, namun segera mengangguk kalem saat tiba-tiba teringat waktu Nick memegang pergelangan tangannya.

"Nickhun menahanku saat akan pergi. Dia memegang tanganku seperti yang biasa gege lakukan saat tak mau kutinggal pergi." Tao meraih tangan Kris. "Seperti ini..."

Dan tanpa Tao sadari, sang kekasih tangah beradu pandang dengan si mantan siswa Spist. Mata abu-abu miliknya menatap Nick dengan sorot intimidasi paling spektakuler yang belum pernah ia pamerkan. Sorot mata yang semakin lama semakin menyipit. Sorot mata yang semakin lama semakin tajam. Sorot mata yang seakan bisa membunuhmu. Dan Kris merasakan, darah Wu miliknya mendidih. Meluap-luap.

Perlukah Kris berteriak nyaring bahwa ia tidak suka jika Tao-nya disentuh oleh orang lain?

Meskipun itu adalah siswa dari sekolah yang paling disegani.

XxxxxxxX

Chanyeol terhenti dari kegiatan memenuhi piringnya saat seseorang dengan tak berperikepenyihiran menyentuh bahunya dengan tiba-tiba ditambah dengan gucangan kasar. Ia mendongak dan langsung melongo saat didapatinya Kris bersama Tao berdiri di belakangnya. Buru-buru ia bergeser tempat dan mempersilakan panda cantik tersebut duduk disampingnya.

"Ohhh... Tao..." pekik Kai terkejut. Karena tak biasanya kekasih Kris itu berada di meja Slytherin.

"Hhai..." Tao menyapa kikuk. "Tidak apa-apa jika aku makan malam di meja Sly-"

"Tidak-tidak... Tidak apa-apa. Tentu saja. Aku hanya kaget karena tak biasanya kau kemari," sergah Kai buru-buru. Ia lalu berpaling menatap Chan yang masih melongo. Kai melempar sebutir jeruk ke arah Chan dan langsung menghantam dada bidang lelaki tampan tersebut.

Chan buru-buru berkedip dan menutup mulutnya.

"Kris ge memasungku kemari. Dia tidak pergi dari sekitarku sesaat setelah Pemeliharaan Satwa Liar selesai. Saat aku keluar dari ruang rekreasi pun, Kris ge sudah ada di depan lukisan si wanita gemuk," cerocos Tao tanpa di minta. Ia memperhaikan Kris yang sedang mengisi piringnya sambil meringis kecil.

"Hhuh?"

"Tu-tunggu Tao..." suara Carol tiba-tiba menyeruak. "Kau –apa? Baru saja kau memanggil Kris apa?"

"Kris ge?" ujar Tao memastikan. "Ada yang salah?" Tao menggigit apelnya.

"Sekali lagi..." pinta Carol.

"Kris gege..." ujar Tao lagi sembari mengernyit bingung. "Ada apa?"

Carol menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar. "Kenapa saat kau berkata 'gege', seperti desahan merana?"

Mendengar itu, baik Chan maupun Kai tersedak saliva mereka sendiri. Sedangkan Kris, melayangkan tatapan api-nya kepada gadis semampai itu. Seolah-olah berkata jika kau tak menutup mulutmu, jangan salahkan aku jika besok kau kehilangan satu kupingmu...

Maka untuk saat ini, diam lebih berguna bagi si cantik Carol.

"Jangan bilang kau cemburu dengan siswa bekas Spist itu," desis Kai. Bola matanya yang sedari tadi berputar terhenti pada satu titik objek kalimatnya. Mata coklatnya menatap Nickhun yang sedang makan sembari membaca buku dideret meja Gryffindor. Sesekali ia menoleh kearah pintu besar. Lalu bergumam sesuatu seperti kemana dia?

Kris mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Apa?"

"Kau –dengar…" Kai meletakkan sendoknya. Ia memberi intruksi pada Chan untuk terus mengajak Tao untuk berbicara. Sekenanya. Apapun. Sehingga bocah panda itu tidak akan tertarik dengan perbincangan Kai dan Kris. "Dia bekas Spist, sekolah dengan reputasi tinggi. Dan –brengsek aku harus mengakuinya, dia keren. Kemampuan duel dari Spist, tentu, tak ada sekolah sihir yang meragukannya." Kai lalu menusuk daging steaknya kasar.

"Kau berbicara seolah-olah aku sangat payah dalam hal berduel." Kris memincingkan mata. "Kenapa kau keluar dari topic yang sedang aku hadapi sekarang?"

"Apa maksudmu?"

"Bekas Spist itu –sialan dia menyukai Tao." Kris mengepalkan tangannya erat-erat.

xxx

Mereka berjalan menapaki tangga pualam berputar menuju lantai tujuh. Letak dasar dari menara Gryffindor berada. Banyak anak-anak yang melewati mereka. Sekedar untuk kembali ke asrama masing-masing, ataupun para prefek yang sedang berlalu lalang untuk menjalankan tugasnya.

Sesekali banyak dari mereka yang melirik Kris. Dan terkekeh pelan saat telah melewatinya.

Well... pesona Kris tidak bisa diragukan meskipun ada Tao disampingnya.

"Lusa Gryffindor akan mengadakan seleksi pemain. Aku harap tim gege tidak mengacaukan seleksi tim Qudditch seperti beberapa waktu yang lalu." Tao membuka suara. "Dan jangan sesekali pergi ke lapangan…" Ancam Tao.

"Asal gege tau…" Tao buru-buru menambahi sebelum Kris sempat menghirup nafas untuk membalas perkataannya, "aku tak suka gege melihat latihan tim kami." Mata menatap Kris garang.

Setelah melewati 20 anak tangga yang tersisa, mereka berdiri didepan lukisan. Sedetik sebelum Tao bergumam kata kunci, ia melirik Kris. Dahinya berkerut...

"Kau yakin?" Untuk yang kesepuluh kalinya, Kris mengulang pertanyaan yang sama sejak mereka kembali dari halaman kastil. Menghabiskan waktu berdua, tentu saja.

"Sungguh, Kris. Aku tak apa-apa. Cepat kembali ke kamarmu. Ini sudah hampir jam malam Hogwarts."

"Aku serius... Lebih baik kau tidur di kamar prefek. Bukankah kamar prefek milik Sehun dibiarkan kosong?" Kris masih berisikukuh menyuruh Tao untuk tidur di kamar prefek. Menghindari kemungkinan terkecil sekalipun agar kekasihnya tidak bertemu pandang dengan Nickhun.

"Dan kau membiarkanku tidur 1 ruangan dengan Jane?" Tao menatap Kris tak percaya. "Percayalah gege, dia jauh lebih mengerikan daripada Nick." Dia bersandar pada dinding disamping lukisan wanita gemuk yang sudah memejamkan matanya. "Aku tak apa-apa. Nickhun tidak akan menyentuhku lagi, ok?"

"Ckk…" Kris berdecak tak percaya. "Dia bukan tipe yang mudah dipercaya." Kris berjalan mendekat kearah Tao dan berdiri tepat di depannya. Ia meraih sejumput rambut hitam milik kekasihnya dan menyibaknya ke belakang telinga.

Sia-sia, tentu saja.

"Aku bisa jaga diriku, gege… Jadi, biarkan aku tidur dikasurku sendiri." Lelaki manis didepan Kris itu menyilangkan kedua tangannya didada. Bibirnya kembali terpout sebal. Tanda merajuk yang sungguh menggemaskan, ngomong-ngomong.

Sebelah sudut bibir milik Kris terangkat samar. Sangat samar hingga nyaris tak terlihat oleh Tao. Tempat mereka berdiri, jauh dari jangkauan cahaya obor, satu-satunya penerangan yang masih menyala, yang tak bergerak sama sekali. Seolah, tak ada udara disekitarnya.

Kris maju selangkah. Mengeliminasi jaraknya dengan Tao hingga menyisakan seinchi ruang hampa diantara mereka. Ia merunduk sedikit. Menyejajarkan manic abu-abunya dengan berlian hitam milik Tao.

Dia menyelami hazel itu.

Kilau terang yang membuatnya melupakan cara menghirup kebutuhan pokok seluruh makhluk hidup.

Tatap polos yang meruntuhkan kearogansiannya.

Gesture manja namun menawan yang membuatnya jatuh dalam pesona.

Tak ada kedipan.

Masing-masing seakan menahan nafas tanpa komando.

Tiba-tiba tangan Tao terkuai lemas. Terkepal erat meremas celana panjangnya.

Dia gugup. Tentu saja.

Tatapan Kris begitu intens. Begitu dalam. Hangat. Dan lembut.

Segala bentuk curahan hatinya seakan meletup dari dalam pupilnya. Mata Kris. Indra paling mengerikan dalam dirinya, namun penuh pesona.

"Dan –sampai kapan gege akan memandangiku seperti itu terus…" Tao mendesis sebal. Berlagak, tentu saja. Mana ada, penyihir mana pun itu, merasa sebal namun jantungnya tak juga berhenti berdetak tak karuan. Paras Tao memanas. Bukan hanya hembusan hangat nafas Kris yang terasa, namun juga refleksi kecil suaranya yang terpantul dari wajah Kris.

Bisa kalian bayangkan, sedekat apa mereka?

"Aku hanya ingin melihat refleksiku dari bola matamu, sweetheart…"

"Ditengah keremangan seperti ini?" Dahi Tao berkedut.

Kris tertawa tertahan. Tak tau harus menjawab apa. Ia ternyata melupakan fakta bahwa ruang sekitar mereka remang-remang. Bagaimana mungkin pantulannya dirinya bisa terlihat di bola hitam Tao.

"Ohh Tao…"

Tiba-tiba lubang lukisan terbuka dan keluar seseorang dengan rambut coklatnya. "Sedang apa disini?" Sehun, lelaki itu, merapikan jubah Gryffindor yang ia kenakan. Disampingnya, berdiri Jane, juga menggunakan jubah yang sama seperti Sehun. "Lohh... Kris?"

Jane maupun Sehun menatap Kris heran.

"Asrama Slyhterin ada di lantai dasar…" Prefek perempuan itu berujar lirih. Ia melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kanannya.

"Patroli?" tanya Tao. Kris hanya berdiri diam. Ia menarik dirinya dan mundur selangkah. Masih segar diingatannya fakta bahwa Sehun pernah memakan kue amortentianya. Dan itu akan menjadi cerita paling 'luar biasa' dalam hidup Kris untuk diceritakan kepada cucu-cucunya kelak.

Sehun mengangguk. "Sudah ada prefek dan ketua murid yang menunggu." Kekasih Luhan itu menarik tongkatnya dan mengarahkan pada obor yang menyala.

"5 menit lagi. Lekas kembali ke asramamu sebelum aku memotong poin Slytherin…" perintah Jane.

"Ahh… Atas dasar apa kau memerintahku?" Tanya Kris datar. Seperti biasa. Tenang, layaknya genangan air.

"Prefek Slytherin tidak mungkin memotong poin asramanya sendiri. Cepat kembali…"

"Ka-"

"Kris ge akan segera kembali," potong Tao buru-buru sebelum terjadi adu argument antar mereka. "Tenang saja. Selamat bertugas..." Tao menepuk pundak Sehun yang melewatinya dan melambaikan tangan.

"Selamat malam, Tao..." pamit Jane dengan sebuah senyuman yang sangat jelas tertangkap oleh mata tajam Kris.

"Gadis itu... sama saja..." Gumam Kris pelan. Sepelan desiran angin diluar sana.

Tao kembali menoleh menatap Kris setelah punggung kedua rekannya mencapai tangga terakhir dibawahnya. Bibirnya terpout sebal memikirkan sikap Kris hari ini yang kelewat aneh.

"Jangan berkata dingin seperti itu. Gege cepatlah kembali ke asrama. Madame Jessie bisa mengamuk jika tau siswa dari asrama tanggung jawabnya masih berkeliaran jam segini."

Kris menghela nafas pelan. Ia mengangkat kedua tangannya. Simbol universal menyerah. Lalu ia kembali maju dan mendekatkan bibirnya dengan cherry milik Tao. Spontan, hal itu membuat si panda menutup matanya. Memikirkan apa yang terjadi, secara tak sadar jantungnya kembali mengalami ritme tak karuan.

Kembali, hembusan nafas Kris begitu terasa hangat disekitar bibirnya. Aroma mint itu seolah sebagai sinyal akan sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang lumrah untuk sepasang kekasih.

Cup…

Cup…

Kris menciumnya, memang. Namun Tao merasa ada yang aneh. Tao tidak merasakan apapun dibibirnya. Anatomi miliknya yang membuat sebagian besar penghuni Hogwarts ingin merasakannya. Anatomi paling menarik pada dirinya, tentu saja. Selain kedua mata yang berhiaskan bayangan hitam dibawahnya.

"Aku mencintaimu. Bahkan cinta ini lebih kuat dari gravitasi sekalipun."

Mata Tao terbuka. Melempar pandangan tersipu. Kris yang melihatnya tersenyum tipis dan menjepit hidung mancung kekasihnya.

"Ciuman selamat malam…" Kris menunjuk kening Tao dengan telunjuknya. "Dikening dan dipipi…" Ia mengusap pipi gembil Tao.

"Bonne nuit, TaoTu es toujours dans mon coeur." Bisik Kris ditelinga Tao.

Dan setelah itu, sang cassanova Sytherin tersebut berbalik dan menuruni tangga berputar untuk menuju asrama ularnya. Meninggalkan Tao yang tersenyum bahagia di puncak tangga yang mereka pijak.

"Kau selalu ada dalam hatiku…" gumam Tao sebelum masuk kedalam asramanya.

XxxxxxX

.

.

TBC

See you next chapter guy's

.

pesan: chap ini sebenernya semalem udah aku update. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba ilang dari list. Apa FFN menolak ff-ku? Apa pernah kayak gini sebelumnya? #ngenes amat. Mianhae chigu~yaa...


Here's chap 2…

Maaf rentang waktu updet-nya lama banget…#sungkem

Maaf kata-kata yang aku pakai masih sederhana. Maaf jika diksinya aneh. Sumpah… aku gak pinter bikin diksi.#ngumpet.

Maaf kalo masih ada typo. Hhukss… itu hoby banget nyamperin ff saya…#tendang typo

Semangat nulis sempet ilang. Tapi bersyukur banget minggu-minggu ini udah balik.

Semoga chapter ini enggak mengecewakan.

Kemarin sempet bilang mau post dikit-dikit yaa? Wkwkkkwkwk… Once again, I am so sorry. Ternyata bikin 2000-3000 word itu buatku susah banget. Aku nyoba, tapi malah aneh. Tebece-nya kagak pas. Jadi hasilnya tetep aja lebih dari 4.000 word. It's ok, rite? Semoga gak bosen.

Tengkyu buat para chingu yang udah baca dan review. Buat yang PM saya, tengKyu support kalian, dear.

Maaf gak bias bales review. Next chap aku bales. Sueeerrrrr…

BYE #love sign

Happy New Year to all of you

-TaoKyu-