Ia ingat pada seseorang yang selama 10 tahun ini ia tunggu demi menepati janji yang sudah bertaut pada jari kelingkingnya. Ia ingat akan cinta pertamanya yang tak pernah ia lupakan. Dan saat ini, pria tersebut ada tepat di depan matanya.

"Levi-san"

.

.

.

Hatsukoi

Pair : Levi x Eren

Shingeki no Kyojin ©Hajime Isayama

Rate: T

Romance, Hurt/Comfort, Drama

Chapter 2 : We've meet again


Eren hanya bisa terdiam melihat sosok yang selama ini ia cari dan ia tunggu. Sosok yang telah menjerat dirinya pada suatu rasa yang selalu membuat hatinya terus terpacu bagaikan kuda yang berlari dengan kecepatan penuh. Tanpa disadari, air asin yang sudah lama tidak keluar dari kelopak matanya turun secara perlahan membasahi wajahnya.

"Ren…Eren…Oi Eren…"

Otaknya sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Seluruh inderanya mati secara tiba-tiba walaupun sayup-sayup Eren mengetahui ada orang yang sedang memanggilnya dan menyentuhnya.

"Eren! Awas mukamu!" teriak Annie dengan ekspresi 'sedikit' ketakutan

BRUUK…

"Eh?"

Perlahan tapi pasti, kesadaran Eren mulai kembali begitu juga dengan otaknya yang mulai berproses lagi. Hal pertama yang ia sadari adalah sekarang kepalanya menyentuh ubin yang dingin dan kakinya berada di atas kursi. Lebih tepatnya, Eren jatuh ke belakang dengan kepala menyetuh lantai duluan. Hal kedua yang ia sadari ialah ada sesuatu yang menempel tepat di jidatnya. Disentuhnya benda tersebut dan otaknya memberikan repon pada benda yang sering digunakan untuk memebrsihkan papan putih di depan kelasnya.

"Adududuh…siapa sih yang melakukannya!" geram Eren sambil bangkit dari posisinya dan mengusap-usap bagian belakang kepalanya

"Aku yang melakukannya bocah" jawab seorang lelaki 'pendek' yang tengah berdiri di depannya

"Berani-beraninya kau bengong saat jam kuliahku dan tidak mendengarkan apa yang kujelaskan tadi. Kau benar-benar sudah siap mati rupanya" pria raven tersebut menatap orang di depannya dengan tatapan yang mampu melumpuhkan siapa saja yang melihatnya.

"Levi-san"

"Hah?" terlihat alis pria tersebut naik beberapa millimeter.

"Kau Levi-san kan? Ini aku Eren…Eren Jaegar! Akhirnya…akhirnya kita bisa bertemu lagi!" Eren langsung memeluk pria di depannya dan menangis di pundak pria tersebut

"Oi! Lepas! Apa-apaan kau ini!" Levi langsung mendorong Eren menjauh dari dirinya

"Tapi..."

"Cih! Kau membuat bajuku jadi kotor bocah! Menjijikkan! Memangnya kau tidak diajarkan oleh orang tuamu untuk tidak memeluk orang yang baru saja kau temui!" bentak Levi sambil membersihkan pundaknya dengan tisu basah dengan wangi lavender.

"Apa maksudmu? Kau Levi-san kan? Aku Eren, anak yang sering bermain denganmu dulu sebelum kau pindah ke kota Maria 10 tahun yang lalu"

"Aku tidak pernah bertemu dengan bocah kurang ajar dan tidak punya sopan santun sepertimu" jawab Levi dengan sinis

"Tidak pernah bertemu? Apa maksudmu? Kau tidak ingat denganku" jawab Eren tidak percaya

Levi langsung menarik kepala Eren mendekat kepadanya dan hal itu sukses membuat wajah Eren sedikit merona.

"Kukatakan sekali lagi bocah. Aku tidak pernah bertemu denganmu dan tidak pernah mengenalmu. Kuharap pendengaranmu masih berfungsi dan jangan buat aku mengatakannya lagi!" Levi langsung mendorong Eren menjauh darinya dan hal itu hampir membuat Eren terjatuh jika tidak ditahan oleh Connie.

Levi langsung berbalik dan menuju ke pintu kelas yang sudah terbuka sejak awal pelajaran karena menjadi korban kekerasannya. Sebelum keluar dari kelas, langkahnya terhenti sejenak dan ia memberikan tatapan datarnya kepada seluruh mahasiswa didikannya.

"Jangan lupa dengan tugas pertama kalian dan kalau kuperiksa ada jawaban yang sama, kalian akan kuberi hukuman yang tidak akan pernah kalian lupakan seumur hidup."

Semua mahasiswa langsung menegak ludah dan bergidik ketakutan mendengar kata-kata datar nan dingin dari dosen pembimbing mereke tersebut.

"Lalu, untuk kau bocah kurang ajar, setelah ini kau harus menghadap ke ruanganku. Akan kuajarkan bagaimana caranya sopan santun terhadap dosenmu."

.

.

.


Sesaat setelah dosen pembimbing mereka pergi, seluruh mahasiswa di kelas tersebut langsung bernapas dengan lega karena tidak bisa bernapas dengan baik akibat atmosfer berat yang dipancarkan dosen mereka.

"Gila tuh dosen, baru hari pertama masuk saja langsung dikasih tugas."

"Ssshh..jangan keras-keras..Ntar ketahuan loh"

"Apa kita akan baik-baik saja ya?"

Saat itu semua orang yang ada di kelas tersebut memiliki pemikiran yang sama mengenai dosen pembimbing mereka. Ya, jangan pernah berbuat macam-macam dengan dosen killer tersebut kalau masih saying nyawa. Tatapan mereka langsung tertuju pada Eren, satu-satunya mahasiswa di kelas mereka yang berani membuat masalah dengan dosen killer di hari pertama masuk. Saat itu Eren hanya bisa terduduk diam dengan pandangan kosong, tidak memperdulikan orang-orang yang tengah melihatnya saat ini.

"Eren, kau baik-baik saja?" tanya Connie khawatir

Eren lagi-lagi tidak mendengarkan apa yang dikatakan Connie. Ia terlalu larut dalam pikirannya yang tengah kacau karena kejadian tadi

'Tidak pernah bertemu? Tidak mengenalku? Apa maksudnya? Apa Levi-san sudah melupakanku? Apa ini mimpi? Tidak mungkin Levi-san melupakanku kan?'

Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya saat ini. Ia berharap semua ini hanyalah mimpi dan sekarang ia masih tertidur dengan pulas di tempat tidurnya. Tetapi rasa sakit di belakang kepalanya menandakan kalau ini bukan mimpi, ini kenyataan.

"Ah, Eren! Kau sudah selesai perkenalan kuliah? Kita keliling kampus yuk!" tampak Armin dan Mikasa yang tengah melambaikan tangannya kearah Eren

"Maaf Armin, Mikasa...Aku ingin keluar sebentar. Sendiri" Eren langsung pergi meninggalkan kelas.

"Eren, tapi kepalamu terluka. Ada bekas darah di lantai tempat kau jatuh tadi" dapat terdengar nada khawatir dari Annie walaupun wajah yang diperlihatkannya tetaplah datar.

"Eh? Darah? Eren apa yang sudah terjadi? Sini kulihat!" Mikasa langsung menghampiri Eren dan menyentuh kepalanya

"Akan kuobati sendiri." Eren menepis tangan Mikasa dan langsung pergi meninggalkan teman-temannya

"Apa yang terjadi pada Eren?" Armin langsung bertanya kepada Annie yang berdiri tidak jauh di sampingnya

"Dia terjatuh dengan kepala menyentuh lantai duluan" jawab Annie singkat

"Eh? Tapi kalau cuman terjatuh kenapa Eren jadi bertampang murung seperti itu?" Armin bertanya seperti itu karena ia tahu seberapa banyak luka yang Eren dapatkan saat bermain dulu, tidak pernah membuatnya berwajah murung seperti tadi.

"Mungkin penyebabnya karena dosen pembimbing kami. Ia bahkan sampai menangis dibuatnya" jawab Connie yang sedang menuju tempat Armin dan Mikasa berdiri.

"Siapa yang berani membuat Eren menangis! Akan kuhajar orang itu!" geram Mikasa

"Tunggu Mikasa! Jangan emosian dulu! Kenapa Eren sampai menangis?" Armin bertanya lagi setelah menahan Mikasa agar jangan bertindak gegabah karena emosian.

"Entahlah. Eren bilang dia mengenalnya dan sering bermain bersamanya. Tapi dosen kami bilang dia tidak pernah bertemu dan mengenal Eren sebelumnya"

"Lalu, siapa nama dosen kalian itu? Akan kuhajar dia." Mikasa langsung mengeratkan tangannya karena geram pada orang yang sudah berani membuat orang yang disayanginya menangis.

"Levi-sensei. Levi Rivaille-sensei" singkat Annie

'Eh?'

Armin dan Mikasa langsung terdiam dan saling berpandangan saat mendengar nama itu. Mereka tidak pernah lupa dengan nama yang sering Eren ucapkan. Bahkan mungkin sudah jutaan kali Eren menceritakan tentang orang yang baru saja disebut namanya itu.

"Levi Rivaile? Kalau tidak salah itu kan…" Armin langsung menatap Mikasa yang tengah menunduk

"Ya, orang yang menjadi cinta pertama Eren. Levi Rivaille" Mikasa mengatakan hal tersebut dengan nada dan ekspresi sedih

.

.

.


Eren saat ini tengah terduduk diam di bangku taman sambil mengeringkan rambutnya yang basah setelah ia mencucinya dengan air untuk menghilangkan bekas darah di kepalanya. Ia langsung memasukkan tangan ke saku celananya dan mengambil sebuah kotak persegi panjang yang terdapat sebuah gantungan dengan satu sayap berwarna putih. Ia sentuh layar kotak persegi itu dan tampaklah dua wajah yang tengah dikelilingi oleh bunga lavender. Seorang anak dengan rambut coklat dan beriris emerald dan seorang laki-laki besurai hitam yang senada dengan matanya.

.

.

.


TO BE CONTINUED

Gyaaa! Akhirnya selesai juga chapter ini *nangis bahagia

Honma sumimasen! Maaf updatenya lama karena saya baru selesai ujian dan baru selesai dari kerjaan kepanitian di kampus *sujud

Pas nulis fanfic ini, tiba-tiba ide saya macet di tengah-tengah dan saya benar-benar bingung gimana mau lanjutin kata-katanya #sampai berjam-jam lamanya saya nyelesaikan fanfic ini

Maag kalau bahasanya agak kacau balau #bahasa Indonesia saya gak pernah dapat 100 siiiihh *digebukin*

Selanjutnya saya bakalan berusaha lagi untuk chapter berikutnya

Mohon dukungan dan reviewnya ya~ *bows