"Kita mau jalan kemana Levi-san?" tanya seorang bocah bersurai coklat sambil menjilati es krim vanilla yang barusan dibelinya
"Kau sendiri sekarang ingin pergi kemana?" pria disamping bocah tersebut langsung mengambil sapu tangannya dan mengelap bibir sang bocah yang berlumuran dengan es krim
"Hmm…aku ingin ke kebun bunga lavender!" jawab sang bocah dengan mata berbinar-binar
"Kau ingin ke sana? Bukannya kau tidak suka dengan bunga?" pria raven tersebut bertanya dengan ekspresi datar yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya
"Itu…karena tiap kali aku mencium bunga lavender, aku jadi ingat dengan Levi-san" bocah beriris emerald tersebut menjawab dengan memberikan senyuman manisnya
Tanpa disadari, bibir pria raven tersebut naik beberapa millimeter dan wajahnya tampak 'sedikit' merona akibat kata-kata yang dilontarkan oleh bocah polos di depannya
"Kalau begitu, kita ke sana sekarang" sang pria raven langsung mengulurkan tangannya yang besar dan hangat ke hadapan bocah tersebut yang langsung disambut oleh tangan kecil dan senyuman yang mampu meluluhkan hati pria raven bertampang datar tersebut
"Iya!"
.
.
.
Hatsukoi
Pair : Levi x Eren
Shingeki no Kyojin ©Isayama Hajime
Rate: T
Romance, Hurt/Comfort, Drama
Chapter 3 : Is it true?
Eren masih terduduk di bangku taman sambil memainkan 'handphone'nya dan melihat satu persatu foto yang tampak di layar. Kebanyakan foto yang ditampilkan ialah foto dua orang manusia dengan umur yang berbeda jauh, satunya seorang bocah bersurai coklat dan beriris emerald sedangkan yang satunya lagi seorang lelaki bersurai hitam dan beriris yang senada dengan warna rambutnya.
'Apa yang barusan dikatakannya benar? Levi-san tidak mengenaliku?'
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar bagaikan kincir di kepala Eren. Semakin ia memikirkannya, semakin tidak terlihat jawaban yang diharapkan Eren. Apa benar Levi-san tidak mengenalinya? Apa yang dikatakannya bukan sebuah kebohongan? Tapi dari ekspresi pria yang menjadi dosennya itu tidak tampak sebuah kebohongan. Lalu jawabannya apa? Ataukah ia mungkin salah orang? Ataukah itu hanya orang yang mirip dengan cinta pertamanya? Saat memikirkan statement yang tiba-tiba muncul di otaknya, Eren mulai merasa yakin dengan pemikirannya tersebut. Levi-san yang selama ini dia kenal bukanlah Levi-san yang berperangai buruk seperti dosen pembimbingnya tersebut. Levi-san yang ada di ingatan Eren ialah Levi-san yang baik hati walaupun kebaikannya tidak tampak karena tertutupi oleh wajah datarnya. Tapi hanya Erenlah yang mengetahui sisi lain dari cinta pertamanya itu.
"Ya! Mana mungkin dosen pendek itu Levi-san! Levi-san lebih baik dari si pendek itu! Arrghh! Bodoh sekali aku sampai menangis dan memikirkan si pendek tak berperasaan itu!" Eren mengacak-acak rambutnya dan ia langsung berdiri tegak dengan semangat sambil mengepalkan tangannya. Ia mulai bangkit dan membetulkan ekspresi maupun hatinya yang dari tadi kusut gara-gara pemikiran anehnya.
Entah kenapa, ia merasa sepertinya ia melupakan sesuatu yang berhubungan dengan dosen yang lebih pendek 10 cm darinya itu. Tapi ia segera melupakannya dan langsung kembali ke kelasnya.
.
.
.
"Oh Levi, kenapa mukamu makin aneh begitu?" tanya seorang wanita berkuncir kuda dengan jas lab yang selalu terpasang di tubuhnya
"Diam kau kacamata sialan" Levi hanya menjawab tanpa mengubah ekspresi wajahnya
"Apa ada hal yang menyenangkan di kelasmu? Kalau dilihat dari tampangmu sepertinya memang ada sesuatu yaa?" goda Hanji
Tiba-tiba pintu ruang dosen terbuka dan tampaklah seorang pria tegap berambut pirang dengan memakai setelan resmi yang tampak cocok dengan wajah wibawanya
"Levi, sekarang kita akan rapat bersama ketua prodi. Cepat siapkan bahan-bahanmu"
"Ah, Erwin…kau tahu, sejak masuk ruangan tadi tampang Levi berkerut melulu lohh" canda Hanji kepada suaminya yang merupakan 'orang atas' di kampus mereka
"Jarang juga ya…Kau tidak ada mengajar di prodimu, sayang?" tanya Erwin sambil mengelus pucuk kepala sang istri tercintanya
"Sudah selesai kok. Aku hanya diminta untuk mengawasi laboratorium yang berisi 'cadaver' tercintaku" jawab Hanji sambil membayangkan para 'cadaver'nya yang menunggu untuk dibersihkan
"Cepat jalan Erwin! Aku muak melihat kalian yang bermesraan di ruanganku. Membuatku susah bernafas" Levi langsung berjalan mendahului Erwin
"Kalau kau sudah punya seseorang yang kau cintai, kau akan mengerti perasaan ini kok" ujar Erwin
Setelah menutup pintu ruang dosen, Erwin dan Levi segera melangkahkan kakinya ke ruangan ketua prodi untuk membahas kurikulum perkuliahan bagi mahasiswa baru. Selama perjalanannya, Levi hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu yang mengganjal di benaknya
'Kenapa aku sepertinya mengenal bocah itu ya?'
.
.
.
"Eren! Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja kan?" sergah Mikasa yang masih berdiri di depan kelasnya bersama Armin dan kedua teman barunya
"Aku baik-baik saja kok. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil lagi, aku sudah 18 tahun tau" Eren langsung menepuk kepala Mikasa agar jangan khawatir tentangnya namun hal itu malah membuat Mikasa menutup sebagian wajahnya dengan syal merah yang selalu ia pakai setiap saat demi menutup wajahnya yang saat ini merona.
"Eren, aku dengar dosen pembimbingmu bernama Levi Rivaille ya…Apa jangan-jangan dia orang yang selalu kau ceritakan kepada kami?" tanya Armin penasaran
"Mana mungkin! Levi-san itu lebih baik dibandingkan dosen pendek itu! Memang si pendek itu wajah maupun namanya mirip dengan Levi-san, tapi aku yakin dia bukan Levi-san!" jawab Eren sungguh-sungguh
Mikasa menatap Eren dengan mata berbinar-binar dan merasa lega kalau dosen pembimbing Eren bukanlah cinta pertamanya, Armin hanya melemparkan ekspresi 'ya baiklah kalau begitu' tanpa mengucapkannya kepada Eren.
"Lalu kenapa tadi kau menangis? Apa jangan-jangan kau anak cengeng ya?" tiba-tiba seorang cowok dengan tinggi semampai dan dengan wajah mirip 'kuda' datang menghampiri mereka
"Siapa kau? Aku tidak menangis kok!" Eren langsung menjawab pertanyaannya dengan nada sinis
"Namaku Jean Kirshtein. Tidak menangis gimana? Jelas-jelas tadi semuanya melihat kau menangis di pundak Levi-sensei" Jean langsung tertawa meremehkan Eren
"Sudah kubilang aku tidak menangis muka kuda! Air mataku keluar karena menahan sakit di kepalaku tau!" Eren langsung maju dan mengepalkan tinjunya dihadapan Jean
"Sudahlah, akui saja kalau kau menangis"
"Kauuu!"
"Hentikan kalian berdua" tampak keretakan dari tembok kelas akibat ulah dari Mikasa yang langsung meninjunya tanpa peduli kalau itu adalah fasilitas kampus. Mikasa memasang death glare kepada Jean yang sukses membuat semua orang yang menatap Mikasa bergidik ngeri dengan aura yang mengancam itu. Bahkan Eren dan Armin yang sudah kenal lama dengan Mikasa tetap merasa ketakutan kalau Mikasa sudah memasang tampang menyeramkan seperti itu.
"Jaga ucapanmu muka kuda. Akan kurobek mulutmu kalau sekali lagi kau menghina Eren" Jean langsung mengangguk dengan cepat karena takut dengan Mikasa
"Sudahlah…habis ini kau masih ada kuliah Eren?" tanya Armin untuk menenangkan Mikasa
"Cuman satu mata kuliah lagi sih, memangnya kenapa?"
"Ah, kebetulan tadi aku dan Mikasa ketemu Reiner-senpai dan Berthold-senpai, terus mereka ngajak karokean gitu. Kalian mau ikut juga?" Armin langsung menoleh ke arah Connie, Annie, dan Jean
"Eh? Boleh nih?" mata Connie langsung berbinar-binar karena ini pertama kalinya dia pergi karokean
"Boleh kok, teman satu jurusanku juga ada yang ikut kok" Armin langsung melayangkan senyuman malaikatnya
'Eh? Perasaan apaan nih? Kok saat dia tersenyum barusan jantungku langsung berdetak cepat sih?' pikir Jean saat melihat Armin
"Oke, kalau gitu kita pergi semua! Ketemuannya jam berapa?" Eren langsung bersemangat, toh dengan karoke mungkin dia bisa melupakan kegundahannya barusan
"Jam 4, nanti kita pergi sama-sama saja. Ketemuan di gerbang kampus" jawab Mikasa singkat
.
.
.
"Wah, lama gak jumpa ya Eren…wajahmu makin manis saja" goda Reiner yang dulunya kakak kelas Eren yang terkenal dengan sifatnya yang playboy
"Senpai sendiri masih gak berubah, masih suka godain orang…Ntar gak dapat pacar loh" jawab Eren sambil meminum soda yang dipesannya
"Kau sendiri juga sampai sekarang belum punya pacar…Bahkan dekat dengan cewek selain Mikasa saja gak ada" ledek Reiner
"Senpai!" bentak Eren setelah membersihkan mulutnya yang terkena semburan dari minumannya sendiri
"Sudahlah jangan banting meja Eren-kun….Lalu Reiner, hentikan sifat burukmu itu" sela Berthold yang juga kakak kelas Eren dulu
"Iya iya" jawab Eren dan Reiner serempak
"Oh ya sebelumnya perkenalkan ini Berthold-senpai dan Reiner-senpai. Mereka berdua kakak kelas kami saat SMA dulu. Lalu mereka teman-teman satu jurusanku, yang rambut pirang namanya Christa lalu yang rambut coklat namanya Sasha" Armin langsung memperkenalkan dua orang yang duduk disampingnya
"Nya..ma..kyuu..Sa..shhaa..Syyaa..laamm..kyyee…naaal" Sasha memperkenalkan dirinya sambil mengunyah kentang yang selalu dibawanya kemana pun
"Namaku Christa. Mohon bantuannya" sambung Christa sambil memperlihatkan senyumannya yang membuat tampang Reiner membatu tak berkutik
'Aku ingin menikahinya' hanya ada satu orang yang akan mengatakan hal ini
"Ah, sebelumnya perkenalkan. Kami teman sekelas Eren, namaku Connie dan disampingku Annie dan Jean. Salam kenal" Connie langsung memperkenalkan dirinya, Annie, dan Jean tanpa diminta siapapun
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang yang tidak diketahui gendernya sambil menenteng ransel dan sebuah tongkat panjang yang terbungkus kain
"Maaf aku terlambat, Reiner, Berthold"
"Oh iya, perkenalkan dia teman sekelas kami namanya Ymir" Berthold memperkenalkan Ymir yang baru duduk disamping Sasha
"Ymir?" Christa langsung menoleh ke arah orang yang baru saja dikenalkan Berthold
"Hm...eh Christa?! Lama gak jumpa!" Ymir langsung menendang Sasha yang tersedak kentangnya dan langsung menepuk-nepuk dadanya
"Lama tidak jumpa juga. Ternyata kamu kuliah disini juga ya" ujar Christa yang saat ini dipeluk dengan erat oleh Ymir
"Kalian saling kenal?" tanya Reiner tidak percaya dan sedikit melotot ke arah Ymir
"Kami tetangga sejak kecil. Tapi keluarga Ymir harus pindah ke kota lain karena urusan pekerjaan. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu" Christa tersenyum kepada Ymir yang malah membuatnya semakin sesak karena Ymir semakin mengeratkan pelukannya
Entah kenapa Eren merasa de javu dengan adegan ini. Baru saja ia mengalami kejadian yang sama, tapi akhirnya berbeda. Orang yang disangkanya Levi-san ternyata bukan Levi-san yang selama ini dia cari. Hanya orang yang mirip, pikir Eren
"Kau kenapa, Eren-kun? Tiba-tiba mukamu cemberut begitu? Apa kau sakit?" tanya Berthold khawatir
"Ah, aku tidak apa-apa kok senpai. Hanya sedikit teringat sesuatu" ujar Eren
"Yossh! Karena semuanya sudah kenalan, sekarang waktunya KAROKEEEE!" teriak Reiner menggunakan mic yang membuat telinga berdenging
"Senpai, bisakah teriak tidak menggunakan mic?" protes Connie
"Kalau tidak pakai mic, bukan karoke namanya!" teriak Reiner lagi
'Dia tidak waras' ujar Annie dalam hati
.
.
.
Hari kedua semenjak masuk kampus baru dan menyandang status sebagai 'mahasiswa' di Sina University. Eren yang kemarin malam tidur larut gara-gara membaca manga kesukaanya, sekarang sedang terburu-buru menuruni tangga rumah yang ia tempati bersama saudara angkatnya
"Mikasa! Kenapa kau tidak membangunkanku?! Hari ini aku kuliah pagi!" protes Eren sambil memasang kancing kemejanya dan membasahi rambutnya agar tidak tampak berdiri gara-gara habis bangun tidur
"Salahmu sendiri kan, sudah tau hari ini kuliah pagi tapi masih baca manga sampai jam 2 subuh" ujar Mikasa sambil menggoreng telur
"Ah, ya sudahlah. Sekarang jam berapa?" tanya Eren
"Jam 7.50" jawab Mikasa singkat
"Gyaaaaa! 10 menit lagi masuk! Aku pergi dulu Mikasa!" teriak Eren sambil mengambil roti bakar dan mengunyak telur yang baru saja dimasak Mikasa
"Hati-hati di jalan"
'10 menit cukup gak ya sampai ke kampus? Ah, pokoknya mesti cukup. Tatakae Eren!' ujar Eren untuk menyemangati dirinya
.
.
.
"Sampai!" teriak Eren saat memasuki kelasnya
Saat Eren membuka pintu kelas, semua orang yang berada di kelas itu langsung mengalihkan mata mereka kepada orang yang berani telat di pelajaran yang diampu oleh dosen killer mereka
"Berani sekali kau terlambat 5 menit, Eren Jaegar" sang dosen killer langsung menatap Eren datar dan dingin
'Geh! Kenapa si kuntet yang masuk?' Eren kaget saat melihat Levi sedang berada di depan kelas, padahal hari ini dia tidak ingin bertemu dengan pria ini
"1 kesalahan. Duduk, Jaegar" perintah Levi singkat
"Terima kasih, sensei" jawab Eren yang langsung mengambil tempat duduk di samping Jean dan dibelakang Connie dan Annie
"Hahahahahahaha….bisa-bisanya kau telat pagi ini Eren" canda Connie
"Yah, mau bagaimana lagi. Kepalaku sakit gara-gara mendengarkan teriakan Reiner-senpai kemarin jadinya aku menghilangkan stress dengan membaca komik" jawab Eren lugu
"Telingaku saja masih berdenging gara-gara dia berteriak tepat di telingaku" Jean langsung menepuk-nepuk telinganya seakan ada air yang tersumbat
"Tapi kemarin lumayan asyik juga" ucap Annie mengikuti pembicaraan para lelaki di dekatnya
"Yang dibelakang, apa harus kusumpal dulu mulut kalian dengan sampah di halaman baru kalian bisa diam?" Levi menatap tajam keempat orang yang sedang asyik berbicara
'Mampus! Bisa mati aku kalau melihat matanya!' ujar Connie yang langsung menutup matanya seakan-akan tatapan Levi mampu membunuhnya saat itu juga
'Diam aja deh' Jean langsung menundukkan kepala yang entah kenapa memiliki pemikiran yang sama dengan Connie
'Cerewet amat sih si cebol itu' Annie dengan cuek mengalihkan pandangannya ke jendela
'Benar-benar gak mirip dengan Levi-san' Eren memanyunkan bibirnya yang entah kenapa tampak imut saat itu
"Sekarang keluarkan tugas kalian, kalau tidak dikumpulkan dalam hitungan kesepuluh, kalian akan merasakan siksaan neraka dunia" perintah Levi sambil menyilangkan tangannya di dada
Dengan cepat, semua mahasiswa langsung mengumpulkan tugas mereka ke meja dosen yang terletak di depan kelas kecuali Eren
'Eh? Tugas? Emangnya ada' Eren memandang semua teman-temannya dengan pandangan celongo bagaikan anjing yang tersesat
"Oi Connie! Memangnya ada tugas apaan?" tanya Eren saat Connie kembali duduk ke bangkunya
"Hah?! Memangnya kau tidak dengar kemarin? Jelas-jelas kemarin Levi-sensei langsung memberikan tugas saat masuk, makanya kami tahu hari ini Levi-sensei bakalan mengajar" Connie menatap lelaki bersurai coklat ini dengan tatapan tidak percaya
"Gimana dooongg?" Eren menatap Annie, Jean dan Connie secara bergantian dengan tatapan andalannya puppy eyes
"Mana kutahu! Salah kau sendiri kan yang tiba-tiba terpesona bahkan sampai menangis melihat Levi-sensei kemarin" ejek Jean
"Aku gak terpesona dan juga gak menangis!" teriak Eren yang membuat satu kelas menatap ke arahnya
"Kurang 1 orang, siapa orang brengsek yang tidak mengumpulkan tugas yang kuberikan?" tanya Levi sambil menatap ke seluruh ruangan dengan pandangan tajam dan hawa dingin yang dipancarkannya
Semua orang di dalam ruangan hanya bisa terdiam dan tidak berani bersuara karena terlalu takut untuk merasakan siksaan neraka yang dijanjikan oleh dosen ter-killer di kampus terkenal ini
Tiba-tiba tampak sebuah tangan yang menjulang ke atas dengan gemetar sontak hal itu membuat semua orang di ruangan memandang siapa orang yang berani menggali kuburannya sendiri di hadapan sang iblis
"Maaf, sensei…Aku tidak tahu kalau ada tugas..Hehehehe" cengir Eren dengan tatapan tidak bersalah sambil mengusap-usap rambutnya yang lembut
'Cari mati!'
'Bodoh!'
'Begoo!'
'Gali lubang kubur sendiri'
'Nantangin raja iblis'
'Masuk lubang iblis dengan sendirinya'
Begitulah beragam komentar yang diucapkan dalam hati tentunya oleh semua orang yang berada di ruangan tersebut. Entah karena terlalu polos atau memang ajaran dari orang tua Eren yang mendidiknya agar tidak boleh berbohonglah yang membuat Eren berani mengakui kesalahannya itu. Di saat itu, semua orang memiliki satu pemikiran yang sama mengenai sifat Eren polos dan bodoh
"Hoo, berani-beraninya kau tidak mengerjakan tugasku, Eren Jaegar setelah kemarin kau berani memelukku di depan umum dan juga menangis di pundakku, sekarang kau terlambat masuk ke kelasku dan tidak mengerjakan tugas yang kuperintahkan. Sepertinya kau siap kalau lehermu kutebas sekarang ya, hn?" Levi memberikan seringaian iblis ditambah dengan effect imajinasi semua mahasiswa yang melihat ada tanduk serta kobaran api membara yang terlihat di sekeliling Levi
"E..eehh..e..ettoo" gagap Eren yang sekarang baru menyadari betapa menakutkannya Levi
"Setelah pelajaranku selesai, kau harus datang ke ruanganku atau perlu kujemput agar kau tidak lari lari, Jaegar?"
"Saya akan datang sendiri, sensei!" spontan Eren langsung berdiri hormat
"Hn"
'Menarik'
.
.
.
Begitu kuliah selesai, tampak seorang pemuda bersurai coklat yang berjalan dengan lunglai menuju ruang dosen untuk menemui dosen tercintanya
'Ketiban sial banget hari ini' piker Eren sambil berjalan
Eren langsung mengetuk pintu yang bertuliskan nama 'Levi Rivaille' berkali-kali dan langsung membuka pintunya saat mendengar suara bass yang familiar menyuruhnya masuk
"Permisi" ucap Eren se-sopan mungkin
"Eren Jaegar" tanpa berbasa-basi Levi langsung menuju topic pembicaraan "Apa saja kesalahan yang kau perbuat sejak hari pertama masuk"
"Etto.." Eren langsung memandang langit-langit seakan mencari jawaban dan kata-kata yang sesuai untuk menjawab pertanyaan dari Levi
"Kemarin saya tiba-tiba memeluk anda di depan kelas lalu hari ini saya terlambat masuk dan tidak mengerjakan tugas"
"Masih kurang"
"Eh? Masih ada lagi?" celongo Eren
"Kau mempunyai 5 kesalahan Jaegar, hari ini kau terlambat masuk kelasku dan tidak mengerjakan tugas. Lalu kemarin kau sembarangan memelukku dan membuat pakaianku kotor gara-gara tangisanmu lalu kau tidak menghadap ke ruanganku"
Semburat merah langsung tampak di wajah polos Eren. "Saya tidak menangis kemarin!"
"Sekarang kau berani berteriak di depanku ya?"
"Eh?!" Eren langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Sepertinya kau memang harus kuberi pelajaran sopan santun, Eren Jeager" Levi langsung menarik Eren dan menjatuhkan badan pemuda yang 10 cm lebih tinggi darinya ke sofa yang terletak tidak jauh dari tempatnya
"Tunggu! Sensei! Anda terlalu dekat!" pinta Eren dengan wajah yang semakin merah dan saat ini berada di posisi bagian bawah sedangkan Levi menindihnya dan mencengkram tangannya hingga ia tidak bisa bergerak
"Kau tahu Jaegar, aku tidak suka dengan bocah pemberontak jadi sebaiknya kau ikuti saja kata-kataku" ujar Levi seductive di telinga Eren yang membuat pemilik telinga mendesah kecil
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Naru desu~ Akhirnya selesai juga chapter ini
Mohon maaf kepada semua reader yang setia menunggu fanfic saya *terharu* kalau fanfic ini lama updatenya. Soalnya selama liburan semester saya mesti kerja dari pagi hingga sore *nonton anime aja sekarang gak sempat melulu*dan baru selesai deh fanficnya #banzaaiii
Oh ya, mungkin ada yang belum tau cadaver itu apa yang dijadiin mainan(?) sama Hanji, jadi cadaver itu mayat yang diawetkan pakai formalin *entah ide darimana saya terpikir untuk memakai benda ini
Awalnya sih kepengen Erwin sama Armin aja, tapi setelah dipikir-pikir lagi gak buruk juga kalau Erwin dipasangkan sama Hanji *ohohohohohoho
Entah kenapa saya guling-gulingan sendiri pas membayangkan bakalan bergeser atau nggak rate fanfic ini ke T+ ataukah ke M *silahkan gunakan imajinasi kalian untuk membayangkannya
Selanjutnya saya bakalan berusaha lagi~
GANBARIMASUU~
TATAKAEEEEE!
Mind to review?
