Chapter ini terinspirasi dari manga Naruto chapter 469. Di chapter itu Sakura menyatakan perasaannya pada Naruto namun Naruto menolaknya karena ia tahu bahwa Sakura hanya berbohong. Nah disini saya ubah sedikit adegan itu sehingga perasaan Sakura dapat tersampaikan.
Yosh! Selamat membaca!
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: T+
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Manga Naruto chapter 469 © Masashi Kishimoto
Love Always Comes Late
Story by: Akina Takahashi
Chapter 2: She Said
"Sakura-chan..."
Naruto memandang langit luas yang ada diatasnya. Menghirup udara sore, berusaha mengumpulkan tenaganya yang kemarin terkuras akibat latihan taijutsu yang keras bersama Guy-sensei siang tadi.
"Mungkin inilah yang terbaik." Naruto bergumam entah pada siapa. Ia menutup mata birunya perlahan seolah menikmati kesendiriannya saat ini.
Pemuda blonde yang kini telah menjadi pahlawan Konoha itu membaringkan tubuhnya di rerumputan. Melebarkan tangan dan kakinya berusaha mencari posisi senyaman mungkin.
Pikirannya melayang ke masa lalu.
Waktu dimana mereka akhirnya menemukan jejak Sasuke setelah pencarian panjang selama tiga tahun. Saat itu, di tengah salju yang lebat Sakura menyatakan cinta padanya.
Senyum tipis terukir di bibir Naruto ketika mengingat hal itu.
Tapi itu bukan senyum bahagia. Melainkan senyum miris karena ia tahu, kata-kata yang Sakura ucapkan saat itu bukan untuknya.
Flashback five years ago
"Naruto... aku mencintaimu..."
Sakura tersenyum padanya. Salju terus berjatuhan tanpa henti, sedikit membuyarkan pandangannya pada gadis itu.
Naruto tidak percaya pada apa yang didengarnya. Mata birunya membelalak. Dia tidak menyangka Sakura akan mengatakan hal itu padanya.
"Ap... apa yang kau katakan Sakura-chan?" suaranya terdengar shock "Kurasa aku salah dengar tadi. Katakan sekali lagi."
"Naruto..." Wajah cantik Sakura kini bersemu merah. "Aku mencintaimu."
Naruto hanya bisa membatu.
"Kubilang aku mencintaimu. Aku tidak peduli lagi pada Sasuke. Bahkan kupikir aku sudah gila karena aku pernah mencintai orang itu..!" Sakura mulai terlihat frustasi. "Bisakah kau mendengarkan perasaanku saat ini?"
Ah... sudah kuduga...
Dia mengatakan ini bukan karena dia mencintaiku. Tapi karena Sasuke.
Ya... bukan karena aku... tapi Sasuke.
"Tapi kenapa? Kenapa Sakura?" rahang Naruto sedikit mengeras. "Kalau ini adalah lelucon, ini sama sekali tidak lucu Sakura!"
Aa...
Bahkan ia tidak menambahkan suffiks –chan di belakang nama Sakura.
Mata emerald Sakura melebar.
Tidak. Tidak. Tidak.
Ini sama sekali bukan lelucon.
Aku benar-benar mencintaimu Naruto.
Sakura baru saja hendak membuka mulutnya untuk mengatakan hal itu namun Naruto segera memotongnya. "Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
Namun entah kenapa bukan kata-kata itu yang keluar dari mulutnya tapi malah kata-kata yang semakin membuatnya terlihat tidak serius di hadapan Naruto. Uh! Saat ini sepertinya otaknya sudah tidak sinkron dengan mulutnya.
"Tidak ada. Aku hanya menyadari... tidak ada gunanya mencintai missing-nin dan kriminal seperti Sasuke." Sakura berusaha menghentikan mulutnya untuk mengatakan hal-hal yang tidak baik seperti ini. Namun semuanya gagal. Saat ini semua yang ada di kepalanya meluap. Perasaan cinta dan kecewanya pada Sasuke telah menguasai dirinya. Hingga ia tidak sadar ia telah mengatakan hal yang bisa saja membuat Naruto sakit hati.
"Aku bukan anak kecil lagi. Aku hanya berusaha bersikap realistis."
Sorot mata Naruto menajam. Gurat kesedihan terlihat pada wajahnya. Ia berpikir, ternyata sejak awal ia tidak pernah ada di pikiran Sakura. Sejak tadi, nama yang keluar dari mulut gadis itu hanyalah Sasuke, Sasuke, dan Sasuke saja.
"Jadi Naruto, aku tidak butuh janjimu lagi."
Ini dia penyebabnya.
"Kau bisa berhenti berusaha membawa Sasuke kembali"
Naruto menatap mata emerald di hadapannya. "Sebenarnya apa yang terjadi Sakura? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal ini padaku?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku mencintaimu. Itu saja." Sakura menggigit bibirnya. Sebenarnya ia masih bingung akan perasaannya. Memang benar kalau ia masih memiliki perasaan pada Sasuke dan ia mengatakan hal ini pada Naruto agar Naruto berhenti mengejar Sasuke dan membahayakan dirinya.
Tapi...
Di sisi lain...
Ia sadar bahwa saat ini ia benar-benar mencintai Naruto. Bukan hanya sebagai sahabat. Tetapi lebih dari itu. Sejak awal mereka bertemu setelah tiga tahun berpisah, ia sama sekali tidak bisa melepaskan pandangannya pada si blonde itu.
Semakin ia memperhatikannya. Semakin ia menyukai Naruto. Sahabatnya yang selalu ada di sampingnya. Melindunginya. Mencintainya tanpa pamrih.
Ia bahkan berandai-andai...
Seandainya ia tidak jatuh cinta pada Sasuke sejak awal.
Seandainya ia mencintai Naruto sejak dulu.
Mungkin kisah cintanya tidak akan menjadi rumit seperti ini.
Sakura melangkah mendekati Naruto. Berusaha menggapai pemuda itu. Naruto hanya diam ketika akhirnya Sakura memeluknya erat.
Salju masih saja turun dari langit seakan ingin memperhatikan kedua insan itu.
"Sasuke semakin lama semakin menjauh dariku..." Sakura berbisik di telinga Naruto. Air mata menggenang di mata emeraldnya. "Tapi kau..." suaranya melemah. "Kau selalu ada di sampingku, melindungiku..."
Mata cerulean Naruto melebar mendengar bisikan Sakura di telinganya. Ia merasakan pelukan Sakura semakin mengeras. Ingin rasanya ia membalas pelukan gadis kesayangannya. Namun entah apa yang menahannya untuk melakukan itu.
"Aku menyadari... siapa sebenarnya dirimu." Mata emerald Sakura melembut. Ia mempererat pegangannya pada punggung kekar Naruto.
"Kau adalah pahlawan yang berjuang melindungi Konoha." Sakura menghentikan kata-katanya sebelum melanjutkannya kembali. "Seluruh penduduk desa bangga padamu. Dan aku termasuk salah satu diantara mereka."
"Aku melihatmu tumbuh dari seorang anak nakal yang hanya bisa berbuat keonaran hingga menjadi pahlawan mengagumkan yang diharapkan orang banyak."
"Sementara Sasuke..." kini Naruto menggigit bibirnya.
"Sasuke hanya menjadi kriminal yang semakin lama semakin berbahaya." Air mata yang menggenang sejak tadi di mata emerald Sakura akhirnya meluncur melintasi pipi putihnya. "Dan itu semakin menghancurkan hatiku."
"Dia hanya menjadi orang asing yang tidak kukenal."
Sakura menarik napas perlahan. "Tapi kau... kau ada di sisiku. Aku bisa menyentuhmu..." mata emeraldnya tertutup perlahan. "Dari lubuk hatiku yang paling dalam aku..."
Naruto melepaskan pelukan Sakura dengan paksa. "Hentikan Sakura! Ini tidak lucu!"
Sakura hanya terdiam menatap nanar Naruto yang ada di hadapannya. Ia menggigit bibirnya. Memaksakan dirinya tersenyum.
"Memangnya apa yang salah Naruto? Saat ini aku hanya jatuh cinta padamu. Aku sudah tidak mencintai Sasuke lagi." Senyum miris muncul di bibir Sakura. "Kau tahu kan, kalau hati wanita itu mudah berubah."
Naruto mencengkram pundak Sakura erat. "Aku tidak suka pada orang yang berbohong pada dirinya sendiri!"
Tidak. Tidak Naruto.
Aku tidak pernah berbohong pada siapapun.
Aku mencintaimu. Sungguh.
"Jangan berbohong padaku Sakura, kau mengatakan itu hanya karena kau ingin mencegahku membawa kembali Sasuke kan?"
Sakura tersentak mendengar kata-kata yang dilontarkan Naruto padanya. Ia tidak pernah berbohong pada siapapun. Termasuk pada dirinya sendiri. Ia tahu ia mencintai Naruto sejak dulu, namun di sisi lain kata-kata yang diucapkan Naruto tidak sepenuhnya salah. Ia memang ingin mencegah Naruto pergi mengejar Sasuke. Karena ia tahu hal itu akan sangat berbahaya bagi Naruto.
"Aku tidak ingin mendengar kau berbohong lagi Sakura." Naruto pergi meninggalkan Sakura sendirian di tengah padang salju.
Mata emerald Sakura menatap sedih pada punggung Naruto yang semakin menjauh dari penglihatannya.
Seandainya kau tahu perasaanku yang sebenarnya Naruto...
Aku tidak pernah berbohong.
Pada dirimu, bahkan pada diriku sendiri...
Tapi sayang sepertinya Naruto sama sekali tidak menyadari perasaan Sakura yang sebenarnya.
Bahkan sampai sekarang... setelah lima tahun berlalu semenjak kejadian itu.
Flashback end
...
...
"Inilah yang terbaik." Gumam Naruto.
Ia tersenyum miris. Karena sampai kapanpun Sakura akan tetap mencintai Sasuke.
Aku tahu itu sejak awal. Oleh sebab itu aku memilih mundur.
Ya, karena aku lelah.
Lelah mengejarnya.
Karena aku tahu ia tidak mungkin berpaling padaku.
"Sudah kuputuskan." Naruto bangkit kemudian mengadapkan wajahnya pada matahari yang mulai terbenam. Ia mencengkram pergelangan tangannya seolah berusaha memberikan tambahan kekuatan pada dirinya.
Ia perlahan meninggalkan tempat itu. Berlari menyusuri jalan utama Konoha. Berlari ke tempat dimana ia akan mengubah hidupnya untuk selamanya.
Berlari menuju... kediaman keluarga Hyuuga.
...
...
"Naruto, ada perlu apa kau kemari?" Neji mengernyitkan keningnya heran. Tidak biasanya Naruto datang ke mansionnya malam-malam begini. Ia menatap tajam si blonde itu dengan byakugannya.
"Aku ingin bertemu Hinata." Jawab Naruto singkat.
"Hn?" Neji sedikit bingung. Ada apa sebenarnya hingga Naruto mau bertemu Hinata?
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya."
"Silakan masuk." Neji mempersilakan Naruto masuk. Membimbing Naruto menuju ruang tamu mansion Hyuuga yang sangat mewah itu. "Akan kupanggil Hinata." Ia beranjak dari ruangan itu meninggalkan Naruto sendirian di ruang tamu.
Naruto menatap jendela yang terbuka di sampingnya. Disana terdapat kolam ikan koi dan bambu yang saling beradu ketika ada air yang mengalir melewatinya.
Entah kenapa suasana tradisional jepang yang sangat kental di kediaman Hyuuga ini sangat membuatnya nyaman. Ia menggeser bantal duduknya hingga ia merasa nyaman. Menyandarkan kepala pada kedua tangannya yang bertumpu diatas meja kemudian menutup matanya perlahan... hingga...
"Ano... Naruto-kun..." terdengar suara merdu dari seberang meja. "Ada apa mencariku?" suara seorang gadis cantik berambut hitam kebiruan bermata lavender terdengar malu-malu.
"Hinata..." Naruto menghela napas sebelum melanjutkannya kembali. "Menikahlah denganku."
-TSUZUKU-
Haaa gomen karena saya ga bisa cepat-cepat update. Yah begitulah sepertinya saat ini inspirasi tidak datang dengan mudah kepada saya. Entah kenapa rasanya sulit sekali menulis.
Yosh! akhir kata saya berharap teman-teman mau mereview karya saya karena itu dapat menjadi motivasi saya menulis. hehe. review berbanding lurus dengan kecepatan saya meng update.
Regards,
Akina Takahashi
