Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T+

Pairing: SasuSakuNaru

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 3: Love

"Sasuke...-kun..." Sakura memandangi punggung tegap pria berambut raven yang selama ini menjadi cinta abadinya. Sekelilingnya hanyalah ruang gelap yang hampa seolah ruang itu hanyalah ilusi yang muncul di kepalanya. Ia berlari mengejar sosok Sasuke yang semakin lama semakin jauh meninggalkannya di belakang.

"Sasuke, Sasuke, Sasuke, Sasuke..." gumamnya bagaikan mantra sihir yang jika diucapkan berulang-ulang Sasuke akan berbalik dan tersenyum padanya. Sementara Sakura terus memaksa kakinya berlari hingga hampir seluruh napasnya habis karena kelelahan.

"Jangan tinggalkan aku!" jeritnya histeris. Hingga akhirnya ia terjatuh karena tersandung langkahnya sendiri. "Kumohon... jangan tinggalkan aku..." kali ini hanya bisikan lemah yang terdengar. "Aku mencintaimu..." air mata berjatuhan di pipi pucat Sakura. "Aku mencintaimu... aku mencintaimu..." bisikan pilu terdengar berulang-ulang dari bibir pucat gadis pink yang gemetar di kegelapan, berharap pria yang ada di hadapannya berbalik ketika mendengar tangisannya. Ia sama sekali tak berniat bangkit dari jatuhnya.

Apa yang diharapkan gadis itu menjadi kenyataan, Sasuke menghentikan langkahnya, kemudian berbalik. Mata onyxnya menatap mata emerald Sakura lembut.

Mata Sakura membelalak lebar, tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Sasuke tersenyum lembut padanya. Sakura bangkit berdiri kemudian tersenyum. Berjalan mendekati Sasuke. Memanggilnya lembut... "Sasuke-kun..."

Namun seketika senyum di wajah Sakura pudar ketika tatapan lembut Sasuke berubah menjadi tatapan sinis. Senyum lembutnya berubah menjadi seringai jahat yang seolah merendahkan gadis yang ada di hadapannya.

"Kau bodoh Sakura." Ejeknya. "Kau pikir aku akan berhenti dan menerima cinta bodohmu itu?" Sasuke tertawa meremehkan. "Oh, dewasalah Sakura. Jangan seperti gadis kecil bodoh yang tergila-gila pada cerita dongeng."

Mata emerald Sakura melebar. Semua kata-kata kejam yang terucap dari mulut Sasuke menghancurkan seluruh pertahanannya. Hatinya sakit.

"Kau hanya gadis lemah yang menjadi beban bagi tim 7." Sasuke berjalan mendekati Sakura hingga ia tepat berdiri di hadapan gadis itu. "Kakashi sudah tahu hal itu..." tangan kekarnya mengangkat wajah Sakura yang tertunduk. Mata hijau gadis itu dipenuhi air mata yang berlinangan. "Kau tahu kenapa hanya kau yang tidak diajari Kakashi jurus apapun sewaktu kita genin dulu?" Suara bariton Sasuke menusuk hati Sakura tajam. Sakura hanya terdiam dan sedikit tersentak ketika Sasuke menyibak rambut merah mudanya kemudian berbisik di telinga Sakura "Itu karena kau lemah."

...

"Tidak, tidak ,TIDAAAAK!" Sakura menjerit histeris.

...

...

"HAH HAH HAH" Sakura tersentak dari tempat tidurnya. Melempar selimutnya kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjangnya. " Mimpi itu lagi..." gumamnya. Sudah beberapa hari ini tidurnya diganggu dengan mimpi mengerikan itu. Mimpi itu semakin lama semakin terasa nyata. Hingga terkadang Sakura merasa ia harus berobat ke psikiater. Ia takut mentalnya akan terganggu jika hal seperti ini terjadi terus menerus. Ia merasakan dadanya sesak, air mata kembali berjatuhan di wajahnya.

Tanpa sadar ia bergumam. "Naruto... tolong aku..."

Sakura tahu... saat ini ia sangat membutuhkan Naruto.

Hanya Naruto yang bisa menolongnya keluar dari mimpi buruk ini.

Dan sepertinya harapan itu terkabul.

"BRAKK" terdengar suara pintu kamarnya terbuka paksa.

"Sakura-chan! Apa yang terjadi?" Naruto merangsek masuk ke kamar sahabatnya itu. "Oh astaga..." wajah Naruto terlihat khawatir ketika melihat kondisi Sakura yang sangat mengenaskan.

Bibir gadis kesayangannya yang biasanya berwarna pink cerah, kini tampak pucat. Tubuhnya bergetar hebat sementara air mata terus mengalir dari mata emeraldnya.

Naruto segera berlari menghampiri gadis itu. Memeluknya erat. Khawatir dengan kondisinya.

"Sakura-chan, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Badanmu panas sekali."

Sakura menggeleng lemah. Ia masih menenggelamkan wajahnya di dada Naruto.

"Oh ayolah Sakura-chan, kau ini dokter kan? Kau lebih tahu kondisi tubuhmu daripada aku. Jadi..." kata-kata Naruto terputus ketika Sakura menarik lengan bajunya. Seolah ia tidak ingin Naruto pergi membawanya ke rumah sakit.

"...huft..." pemuda cerulean itu akhirnya mengalah. Ia kembali membaringkan Sakura di kasurnya kemudian pergi ke dapur untuk mengambil handuk untuk mengompres Sakura.

Mata emerald Sakura mengamati Naruto lemah, ia tersenyum tipis. Sedikit bahagia karena ia masih memiliki Naruto dalam hidupnya. Hanya Naruto lah yang bisa ia andalkan. Hanya Naruto yang bisa membuatnya melupakan cinta sia-sia nya pada Sasuke. Dan hanya Naruto yang membuat hidupnya berharga. Hanya Naruto...

Terlalu banyak jasa dan pengorbanan lelaki itu untuknya...

Terlalu banyak pula ia menyakiti lelaki itu...

Ia tahu saat itu dirinya dibutakan oleh cinta. Dengan bodohnya mencintai seseorang yang hanya bisa menyakitinya, sementara ia sama sekali tidak menyadari bahwa di sampingnya ada seorang lelaki yang jauh lebih berharga. Lelaki yang mencintainya tanpa pamrih, lelaki yang mencintainya secara tulus, lelaki yang mencintainya apa adanya...

Kini Sakura menyesal...

Menyesal karena telah mencintai Sasuke.

Menyesal karena tidak pernah menghargai cinta Naruto.

Menyesal karena ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan benar.

Sungguh.

Ia menyesal.

"Sakura-chan." Naruto kembali dari dapur sambil membawa semangkuk air dingin dan kompres. Dengan sabar ia meletakkan kompres itu di dahi Sakura.

"Naruto..." panggil Sakura lemah.

"hmmm?" Naruto masih tampak sibuk mengatur posisi kompres yang ada di dahi Sakura.

"Carilah kebahagiaanmu sendiri"

Kata-kata yang keluar dari mulut Sakura benar-benar mengagetkannya. Ia terkejut dan mengangkat alisnya heran. "Apa maksudmu Sakura-chan?"

"Aku ingin kau bahagia jauh melebihi diriku sendiri."

Seketika senyum hangat menghiasi wajah Naruto. "Dan aku pun menginginkan kau bahagia Sakura-chan. Apapun yang terjadi padaku nanti, aku tetap akan ada di sisimu. Melindungimu."

"Bahkan jika kau menikah?" pertanyaan Sakura menohok Naruto. Ia segera teringat akan lamaran pernikahan yang diajukannya kemarin pada Hinata. Tanpa disangka seluruh anggota keluarga Hyuuga menerimanya dengan senang hati dan pernikahan mereka akan diadakan seminggu lagi. Ia bahkan belum sempat membicarakan hal ini dengan siapapun. Termasuk dengan Sakura, sahabat terbaiknya. Dan melihat keadaan Sakura sekarang, Naruto memutuskan akan membicarakannya di lain waktu.

"Ya. Bahkan jika aku menikah." Jawab Naruto tegas.

"Hei, istrimu bisa marah nanti..." Sakura tertawa kecil.

"...!" Naruto sedikit kaget mendengar Sakura berbicara seperti seolah ia sudah tahu masalah pernikahannya dengan Hinata.

"Tentu saja tidak. Karena bagaimanapun kau adalah sahabat terbaikku seumur hidup. Bagiku kau spesial Sakura."

"Naruto... Terima kasih..."

...

...

...


"Neji-niisan!" seorang gadis cantik berambut hitam panjang berlari mengejar pemuda bermata amethyst.

"..." pemuda yang dikejar oleh Hinata hanya fokus pada langkahnya ia bahkan tidak mempedulikan gadis itu hingga Hinata berhasil menggapainya.

"GREPP" Hinata menarik lengan kanan Neji.

"Neji-niisan k-ku-kumohon hentikan..." suara Hinata terdengar lemah.

"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi pelarian Naruto. Aku harus menghentikan rencana pernikahan bodoh ini sekarang juga." Desis Neji. Ia melepaskan cengkraman Hinata kasar kemudian kembali melanjutkan jalannya.

"NEJI-NIISAN!" jerit Hinata histeris.

Dengan terpaksa Neji menghentikan langkahnya. Menatap Hinata dengan tatapan kasihan.

"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu hidup dalam kebohongan Hinata..." Neji terlihat khawatir. "Bagaimanapun juga kau adalah adik sepupuku. Aku harus memberitahu Hiashi-sama tentang..." kata-kata Neji segera terputus ketika sebuah suara bariton menginterupsinya.

"Memberitahuku soal apa? Hmm?" Hiashi tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Kehadirannya yang tiba-tiba sukses membuat kaget Neji dan Hinata. Sepertinya Neji dan Hinata terlalu sibuk hingga tidak menyadari kehadiran Hiashi.

"Ah, Hiashi-sama. Anda membuat saya terkejut." Neji membungkuk memberi hormat pada Hiashi. Bagaimanapun juga ia adalah golongan bunke yang harus menghormati souke.

"Hahaha apa yang terjadi dengan kemampuanmu Neji? Seharusnya sebagai pemilik byakugan kau bisa merasakan cakraku hingga jarak 2 km."

"Maaf, sepertinya saya tadi tidak fokus."

"Apa yang ayah lakukan disini?" pertanyaan Hinata segera memotong pembicaraan mereka berdua.

"Ayah hanya ingin melihat putri ayah yang cantik ini." Goda Hiashi. "Karena sepertinya ayah akan cemburu pada orang yang menjadi suamimu nanti."

"..." Hinata hanya terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.

"Err... ano... Hiashi-sama." Neji tiba-tiba angkat bicara.

"AH, Neji-niisan! Ayo kita lanjutkan urusan yang tadi." Potong Hinata panik. Ia takut Neji akan membuat Hiashi membatalkan rencana pernikahannya dengan Naruto. "Sampai jumpa di rumah, ayah." Hinata membungkuk memberi hormat kemudian menarik tangan Neji, membawanya pergi sejauh mungkin dari pandangan Hiashi.

"Tapi Hinata..." Hiashi terlihat kecewa. "Dasar anak-anak jaman sekarang." Gumamnya.

...

...

...

Hinata menarik Neji melompati atap-atap rumah, berlari menjauh hingga ia akhirnya sampai di pinggir danau yang berada di dekat distrik Uchiha yang kini kosong.

"Apa yang kau lakukan Hinata?" tanya Neji heran.

"Be, berjanjilah kau tidak akan mencampuri urusan pernikahanku dengan Naruto-kun." Hinata sedikit tergagap ketika mengatakan hal ini.

"..." Neji hanya menatap Hinata dengan tatapan yang tidak dapat ditebak.

"Ya, aku tahu. Aku tahu Naruto-kun masih mencintai Sakura-chan. Bukan, mungkin sampai kapanpun ia akan tetap mencintai Sakura-chan karena bagaimanapun juga ia adalah cinta abadinya." Suara Hinata bergetar hebat. Membuat Neji melangkah mendekap adik sepupu kesayangannya itu.

Hinata menenggelamkan wajahnya di dada Neji yang berbalut rompi Jounin. "Sama denganku. Naruto-kun adalah cinta abadiku..." air mata mulai membasahi rompi Jounin Neji. "Begitu pula dengan Sakura-chan... sampai kapanpun ia akan mencintai Sasuke..."

Neji tersentak mendengar perkataan Hinata.

"Niisan... katakan. Sampai kapan kami harus terjebak dalam lingkaran ini?" Neji mengeratkan rengkuhannya pada Hinata ketika mendengar pertanyaan ini keluar dari mulut adik kesayangannya.

"Hinata..."

"Aku tahu, aku tahu, kalau aku egois." Hinata terisak. "Aku tahu kalau aku memaksa. Itulah sebabnya aku menerima lamaran Naruto-kun walaupun aku tahu hal itu hanyalah kebohongan belaka. Aku tidak peduli jika Naruto-kun menjadikanku pelarian belaka. Sejak awal aku tahu akan terjadi hal seperti ini."

"Tapi niisan... harus ada yang berani memutus rantai cinta yang tak berbalas ini."

"Dan itu adalah aku."

Baru kali ini Neji mendengar perkataan yang begitu tegas dan berani keluar dari mulut Hinata.

"Aku mengerti." Neji menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi berjanjilah padaku Hinata. Kau harus bahagia."

Hinata hanya menganggukkan kepalanya perlahan sambil tersenyum hangat. "Tentu saja aku akan bahagia."

-TSUZUKU-


Spoiler for the next chapter

"Aku tahu, sampai saat ini kau masih belum bisa melupakan cintamu pada Sasuke-san. Tapi... carilah cinta yang baru Sakura-chan... aku juga ingin melihatmu bahagia."

...

Dan kau tahu Hinata?

Aku baru saja melakukannya...

Dan kini kau merampas cinta baruku.

...

...

"Kau tahu, Sakura? Setiap orang harus menemukan jalan kebahagiaannya sendiri. Begitupun aku. Mulai saat ini aku akan melepaskanmu. Berbahagialah."

...

"Inikah yang kau maksud dengan jalan kebahagiaanmu Naruto? Jika menikah dengan Hinata adalah jalan yang terbaik, aku akan merelakanmu."

...

"Semoga kau bahagia... Sahabatku..."

...

"Manusia terkadang bodoh ya? Terlalu sibuk mengejar bintang yang tak tergapai sampai-sampai lupa pada bulan yang selalu menerangi di dekatnya"

...

"Mungkin inilah hukum karma, sejak dulu aku selalu menolak cinta Naruto. Namun kini, akulah yang dicampakkan. Tuhan memang adil."

...

"Naruto, berbahagialah untuk bagianku juga. Aku mencintaimu..."

...

"Aah... Kakashi-sensei bagaimana ini? aku patah hati untuk yang kedua kalinya..."

...

"Kau bodoh Naruto, tidak pernah menyadari perasaan Sakura selama ini..."

...

"Dia benar-benar mencintaimu."

...

"Semuanya sudah terlambat"

NEXT!

Chapter 4: Broken

#ps: rambutnya Hinata tuh sebenernya warna apa sih? ya, udah lah ya, anggap aja warnanya hitam hehe

Gomen, gomen, gomenne...

Gomen untuk semua reader yang menunggu update-an fic saya selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun (lebay)...

Keadaan memaksa saya untuk hengkang sementara dari ffn dan terkadang saya hanya menjadi silent reader saja.

Tapi saya janji kok, di tengah kesibukan saya. Saya akan berusaha sekeras mungkin menyelesaikan semua fic saya.

Sekali lagi terima kasih untuk semua reader yang sudah memfave, mereview, dan membaca semua fic buatan saya...

Regards,

Akina Takahashi