Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T+

Pairing: SasuSakuNaru

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi


Chapter 4: Broken

Sakura sibuk mengatur kertas-kertas yang berserakan diatas meja kerjanya. Kondisi mental maupun fisiknya sudah jauh lebih baik daripada beberapa hari yang lalu. Saat Naruto menemukannya hampir tak sadarkan diri. Sakura kini semakin sadar bahwa ia benar-benar membutuhkan Naruto. Bukan hanya sebagai seorang sahabat, melainkan juga sebagai pelindungnya. Naruto lah yang berhasil membuatnya tetap waras hingga saat ini. Naruto yang telah berhasil mengobati luka hatinya.

"TOK TOK" terdengar pintu ruang kerjanya diketuk oleh seseorang.

"Masuk saja, pintunya tidak dikunci."

"KRIEETT" segera saja sesosok gadis berambut hitam panjang, bermata amethyst memasuki ruangan kerja Sakura.

"Ano... Sa-sakura-chan..." Sapa Hinata gugup.

"Aa, Hinata!" Sakura beranjak dari tempat duduknya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. "Lama tidak bertemu." Sakura menghadiahi Hinata sebuah pelukan hangat. "Apa kabar?" tanyanya hangat.

"A-aku baik Sakura-chan..."

"Hahaha jangan tegang seperti itu. Kau kan sahabatku. Santai saja..." Sakura tertawa kecil. "Ayo silakan duduk." Sakura mempersilakan Hinata duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.

"Kau mau minum apa?" tawar Sakura. "Teh hijau, jus, atau-"

Hinata segera memotong perkataan Sakura. "Ti-tidak usah repot-repot Sakura-chan." Hinata terlihat gelisah.

"Aku tidak merasa repot kok." Sakura segera beranjak dari duduknya. "Ano Sakura-chan..." perkataan Hinata sukses membuat Sakura kembali ke tempat duduknya.

"Ada apa Hinata?" kali ini Sakura menatap Hinata khawatir. Ia tak pernah melihat Hinata segelisah ini.

"A-ano..." seperti biasanya, Hinata tidak pernah lancar dalam mengungkapkan sesuatu. Apalagi tentang rencana pernikahannya dengan Naruto yang mungkin saja akan mengagetkan Sakura.

"Hmm? Katakan saja Hinata."Sakura makin terlihat penasaran. Perasaannya kini ikut gelisah.

"Aa... Sakura-chan..." Hinata menghentikan perkataannya sejenak. "Kau tahu kan, bahwa setiap orang berhak bahagia." Sakura mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu Hinata? Ada apa sebenarnya?"

Hinata tersenyum pahit. "Selama ini kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun kan?" Ia kembali memberikan jeda pada perkataannya. "Kau pasti sudah mengetahui perasaanku pada Naruto-kun sejak genin dulu."

"DEG" kini perasaan Sakura makin tak menentu. Mendengar Hinata berbicara mengenai cinta abadinya pada Naruto, hal itu sedikitnya berhasil membuatnya cemburu.

"..." Sakura hanya terdiam.

"Dan aku juga tahu tentang perasaan Naruto-kun padamu..."

"CTARR" betapa sakitnya hati Sakura ketika membayangkan Hinata yang menahan perasaannya karena mengetahui Naruto mencintainya. Karena ia sangat tahu bagaimana rasa cinta yang tak berbalas itu.

Sakit.

Rasanya sangat menyakitkan.

"Sa-sakura-chan... aku tahu... bahwa jika terus seperti ini, tidak ada seorangpun dari kita yang akan bahagia..." Hinata tergagap, suaranya seakan ia menahan tangis. "Aku, Naruto-kun... maupun Sakura-chan... tidak ada yang bahagia."

"Hi-hinata..."

"Hal itu terus saja mengusik pikiranku selama bertahun-tahun..." Hinata menundukkan kepalanya. "dan aku merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa..."

"Apa maksudmu mengatakan semua ini Hinata?"

"Beberapa hari yang lalu Naruto datang ke rumah kami." Hinata mulai berhasil menuju ke topik pembicaraan yang sebenarnya. "Dan dia melamarku, Sakura-chan..."

Perkataan Hinata yang terakhir sukses membuat Sakura membatu.

"Ayahku sangat senang akan hal itu. Tanpa pikir panjang ia secara sepihak langsung menentukan hari pernikahan kami. Aku bahkan belum memberi jawaban saat itu, tapi melihat ayahku dan..." jeda kembali. "Aku menganggap momen ini adalah kesempatan terbaik untuk menghancurkan rantai itu Sakura-chan. Walaupun aku merasa aku egois, tapi setidaknya akan ada yang bahagia diantara kita."

"..." Sakura merasa tenggorokannya tercekat. "Ya, benar... kalian berdua berhak bahagia."

"Aku merasa bahwa aku harus memberitahumu hal ini secara langsung karena aku adalah sahabatmu, Sakura-chan."

"..." Sakura memaksakan dirinya tersenyum. "Hei! Ini adalah berita bahagia, tapi kenapa wajahmu murung seperti itu Hinata? Seharusnya kau senang kan?" Ia tertawa kecil. "Tentu saja aku akan mendukungmu Hinata..."

"Arigatou Sakura-chan..." Hinata tersenyum lembut. "Sakura-chan juga... bebahagialah..."

"Tentu saja..." Sakura mengangguk.

"Ano... Sakura-chan juga harus bangkit..." Hinata menatap Sakura serius. "Sakura-chan juga berhak bahagia."

"Aku tahu, sampai saat ini kau masih belum bisa melupakan cintamu pada Sasuke-san. Tapi..." Hinata merasa bersalah saat ia mengatakan hal ini. "Carilah cinta yang baru Sakura-chan... aku juga ingin melihatmu bahagia."

Dan kau tahu Hinata?

Aku baru saja melakukannya...

Dan kini kau merampas cinta baruku.

Sakura hanya tersenyum pedih saat Hinata mengatakan hal itu. "Aku akan berusaha..."

"Sakura-chan, terima kasih atas segalanya. Kini aku sudah merasa jauh lebih baik." Hinata bangkit dari duduknya membungkuk memberi hormat pada Sakura sebagai rasa terima kasihnya. "Ah, aku hampir saja melupakan ini..." Hinata mengambil sesuatu dari kantung jaketnya. "Aku dan Naruto akan sangat senang jika kau bisa hadir..." Hinata tersenyum tulus. Tangannya menyerahkan sebuah kartu undangan pernikahan berwarna biru muda pada Sakura.

Sakura hanya menerimanya dengan tangan bergetar. "Ya, akan kuusahakan."

"Sampai jumpa lagi, Sakura-chan." Seketika Hinata menghilang dari pandangan Sakura. Meninggalkan Sakura yang jatuh beringsut di lantai.

"Aah..."

"Bagaimana ini?"

"Aku patah hati untuk yang kedua kalinya..."


"Sasuke-kun…"

Suara halus bagai beledu mengganggu Sasuke. Suara itu terdengar sedih.

"Sakura…" Sasuke membuka mata onyxnya berusaha mencari sosok yang dirindukannya. Namun sekeras apapun usahanya tetap saja hasilnya nihil.

Ia hanya dapat melihat pepohonan lebat berwarna hijau tanpa batas, terbentang di sekitarnya.

Sesaat kemudian baru saja akhirnya ia mengetahui bahwa itu hanyalah halusinasinya. Delusi yang timbul akibat kondisinya yang pathetic .

Cih. Tidak disangka.

Ini merupakan ending yang mengerikan bagi klan Uchiha.

Bagaimana bisa, ia, Uchiha Sasuke. Prodigy Uchiha, satu-satunya yang berhasil bertahan hidup. Satu-satunya Uchiha yang tersisa di bumi ini bisa berakhir seperti ini?

Tidak berdaya.

Lemah.

Sampai-sampai ia dapat mendengar delusi-delusi aneh di telinganya. Dan anehnya ia menikmati hal itu. Ia menyukai saat suara bening itu kembali terdengar di telinganya.

Mata onyxnya menutup perlahan. Ia memfokuskan kembali pikirannya. Kembali mencari suara yang ingin didengarnya.

"Sasuke-kun…" suara itu kembali terdengar. "Aku mencintaimu." Mulutnya membentuk seulas senyum tipis. Dengan jujur ia mengakui bahwa ia rela mendengarkan suara ini berkali-kali. Hingga ia mati. Toh, saat ini ia sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi. Sejak dulu ia tahu bahwa ia tidak memiliki kekuatan mental yang tinggi. Ia lemah dalam pengendalian emosi. Ia tidak pernah berpikir secara jernih. Ia iri pada Naruto yang dapat menahan beban yang sangat berat sebagai jinchuriki. Ia kagum pada seberapa keras usaha orang yang biasa dia sebut 'bodoh' itu. Tidak ia sangat mengetahui bahwa Naruto sama sekali tidak bodoh.

Dirinyalah yang bodoh.

Bodoh karena telah menyia-nyiakan cinta gadisnya.

Bodoh karena mau saja mengikuti dendam meaningless nya.

Bodoh karena mau saja menjadi budak Orochimaru demi tujuannya membunuh Itachi. Kakaknya sendiri. Kakak yang ternyata selama ini sangat mencintainya.

Bodoh karena ia hampir saja terpengaruh hasutan Uchiha Madara untuk menyerang Konoha.

Bodoh. Bodoh. Bodoh.

Semakin memikirkannya saja ia semakin merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya dikasihani.

Seorang pemuda kesepian yang lemah.

Seorang pilot yang kehilangan arah. Kehilangan matahari. Sehingga ia terus berjalan dalam kegelapan tak berujung tanpa tahu tujuannya.

Seandainya saja ada jurus yang bisa mengembalikannya ke masa lalu. Ia ingin mengubah segalanya.

Seandainya saja Kami-sama memberikannya kesempatan kedua.

Ya, seandainya saja kesempatan itu ada.


"Sakura-chan, aku ingin bicara denganmu." Naruto menatap Sakura serius.

Sementara Sakura berpura-pura tak mendengarkan. Matanya menatap kosong padang rumput yang ada di hadapannya. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Menimbulkan cahaya indah berwarna kemerahan di langit

Saat ini mereka berada di training field tempat yang sangat bersejarah bagi tim 7. Tempat dimana mereka belajar menjadi ninja yang sebenarnya. Tempat dimana mereka menghabiskan masa-masa bahagia mereka. Sampai saat ini Sakura masih terbayang wajah iseng Kakashi yang tertutup masker, wajah tampan Sasuke yang dingin, dan wajah bodoh Naruto yang menurutnya sangat tampan, cerah, dan berkilauan.

Meskipun Sakura tak menanggapi kata-katanya. Naruto tetap melanjutkan perkataannya.

"Sakura, aku akan menikahi Hinata." Sesaat Naruto melihat bahu Sakura sedikit bergetar.

"Kau tahu, Sakura? Setiap orang harus menemukan jalan kebahagiaannya sendiri. Begitupun aku. Mulai saat ini aku akan melepaskanmu. Berbahagialah."

Naruto tersenyum setelah mengatakan perkataan yang paling tidak ingin di dengarnya saat ini.

Sakura berusaha membuka mulut untuk berkata-kata, namun tak ada sedikitpun suara yang keluar. Hanya gerakan bibir tanpa suara. "…"

"Aku tahu ini tiba-tiba, tapi…" kata-kata Naruto terpotong ketika tiba-tiba saja Sakura mendapatkan kembali suaranya. Naruto dapat mendengar getaran pada tiap kata-kata yang keluar dari mulut Sakura.

"Inikah yang kau maksud dengan jalan kebahagiaanmu Naruto? Jika menikah dengan Hinata adalah jalan yang terbaik, aku akan merelakanmu."

Nada suara Sakura terdengar sedih. Namun sebelum Naruto berkata-kata ia kembali menambahkan.

"Semoga kau bahagia... Sahabatku..."

Naruto membatu ketika mendengar kalimat terakhir yang muncul dari Sakura. Ia memegang dadanya. Rasa sakit yang tidak terperi menyerangnya. Ia tahu ada yang salah. Ada yang salah dengan keputusannya. Tapi ia tak dapat menarik keputusannya kembali.

"Sakura-cha…n" Naruto menghentikan panggilannya ketika ia menyadari Sakura sudah tak ada di sampingnya. Sakura sudah menghilang dengan jurusnya tadi.

Hilang.

Entah kenapa ia punya feeling buruk tentang hal ini. Kini ia dicekam perasaan takut bila tak melihat cinta sejatinya itu lagi.

-Love Always Comes Late-

Sakura berjalan tak tentu arah. Pikirannya yang kosong membuat jurusnya tidak berfungsi dengan baik. Hingga ia tersasar di tempat yang tidak dikenalnya. Tidak hingga ia melihat plang bertuliskan "Uchiha" di hadapannya.

Oh bagus sekali

Seberapa terikatnya ia dengan klan menyedihkan itu hingga jurus berpindah tempatnya yang tak sempurna malah membawanya kesini?

Sakura berjalan dalam kegelapan. Bangunan-bangunan tua menyeramkan berjajar di kiri dan kanannya. Kadang ia berpikir bagaimana keadaan distrik ini sebelum terjadi tragedi massacre legendaris itu.

Kakinya berhenti di depan sebuah rumah yang sangat familiar. Rumah kepala klan Uchiha. Rumah Uchiha Fugaku.

Mata hijaunya menatap ke dalam rumah besar yang kosong itu. Ia mengamati bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumah Sasuke. Sesaat matanya menatap bunga berwarna kuning yang ada di hadapannya. Sebagai ninja medis tentu saja ia mengenali bunga tersebut. Tsubaki atau apapun namanya. Sangat berbahaya karena dapat menyebabkan siapapun yang menghirupnya akan mengalami halusinasi berkepanjangan. Klan Uchiha menggunakannya sebagai latihan untuk menghadapi genjutsu.

Sakura memetik bunga tersebut. Mulai menghirup baunya yang memabukkan. Ia tahu, ia mungkin sudah gila karena melakukan hal yang menurutnya tak masuk akal itu.

Tapi Sakura penasaran. Halusinasi apa yang akan didapatnya?

Sebagian besar pecandu mengatakan halusinasi yang timbul adalah halusinasi menyenangkan yang membuat mereka ketagihan.

Ia berpikir sejenak. Halusinasi apa yang diinginkannya?

Apa angan-angan terbesarnya? Ia terdiam. Menunggu reaksi dari aroma Tsubaki yang dihirupnya.

Hening. Hingga ia merasa melihat bayangan Sasuke memasuki rumah itu.

Ia tidak peduli jika apa yang dilihatnya itu hanyalah halusinasinya saja.

Hatinya telah hancur. Kebas. Ia tidak memiliki rasa apapun lagi. Sakit pun tidak.

Sakura terus menatap ke dalam rumah itu.

Di dalamnya ia melihat Sasuke kecil sibuk bermain dengan mainannya di halaman rumahnya yang besar itu. Mungkin usianya sekitar tujuh tahunan.

Tiba-tiba saja Sakura melihat bayangan seseorang yang mirip Sasuke baru saja melaluinya. Ia sangat mirip dengan Sasuke. Hanya saja rambutnya lebih panjang. Segera saja Sakura mengenali bayangan tersebut. Itu adalah bayangan Itachi.

"Kakaak! Okaeri…"Sasuke kecil berlari memeluk kakak kesayangannya. Senyumannya lebar. Tak ada sama sekali kesan dingin disana. Melihat wajah Sasuke kecil yang sangat damai itu hampir saja Sakura menangis. Air mata mulai menggenangi wajahnya.

"Tadaima…" Itachi tersenyum lembut. Ia menggendong adik kecilnya memasuki rumah.

"Kakak, habis ini kakak mau ya bermain denganku" mata onyxnya terlihat memohon. Wajahnya memang sudah tampan sejak dulu.

"Kakak sedang sibuk. Nanti lagi saja ya mainnya Sasuke." Tolak Itachi halus. Ia menurunkan Sasuke dari gendongannya.

Sasuke kecil menggembungkan mulutnya. "Tapi kakak sudah berjanji padaku!"

"Hhh… Aku tidak bisa Sasuke."

"Tidak mau! Pokoknya aku ingin bermain dengan kakaaak!" rengek Sasuke.

"Ada apa ribut-ribut?" seorang wanita dewasa berambut hitam yang sangat cantik mendatangi mereka.

Uchiha Mikoto tersenyum lembut, di sebelahnya ada Uchiha Fugaku yang menemaninya.

"Baiklah Sasuke, aku akan menemanimu main. Tapi hanya sebentar saja ya.

"Asyik! Terima kasih Itachi-niisan!" Sasuke kecil tersenyum.

"Kami juga boleh ikut kan?" Tanya Mikoto sambil tersenyum lembut. Fugaku yang ada disebelahnyapun tersenyum.

Benar-benar keluarga bahagia. Itulah kesan pertama yang muncul ketika melihat drama singkat ini.

Sakura tersenyum simpul. Ternyata inilah hal pertama yang diinginkannya.

Seandainya saja Uchiha Massacre tidak pernah terjadi.

Tiba-tiba pemandangan yang ada di hadapannya berubah. Dalam sekejap saja kini ia telah berada di ruang kelasnya sewaktu ia masih genin dulu.

Mata emeraldnya melirik kearah kiri dan kanannya. Di sebelah kirinya, Ia melihat seorang remaja laki-laki berambut hitam sedang menatap kearah jendela dengan tatapan bosan. Sementara disebelah kanannya terdapat sesosok pemuda berambut blonde yang sedang mengacak rambutnya. Tampaknya ia sangat kesulitan setelah menjalani ujian tertulis tadi.

Tunggu.

Seingatnya mereka tidak pernah menjalani ujian kenaikan tingkat hingga akhir karena saat itu Orochimaru menyerang Konoha. Dan tak lama kemudian, Sasuke pergi meninggalkan Konoha. Meninggalkannya sendirian. Ia pergi untuk membalaskan dendamnya.

Itulah saat terakhir ia melihat, Uchiha Sasuke, orang yang dicintainya sebelum orang itu berubah menjadi monster yang mengerikan.

Ah, benar juga. Ini kan hanya ilusi. Pikirnya.

Hahaha terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Pada akhirnya Sakura tetap penasaran pada kelanjutan drama indah ini.

"Huaaa! Sakura-chan! Bagaimana inii? Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya sama sekali!" Naruto menjerit histeris. Ia mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Walaupun sebenarnya sudah berantakan sejak awal.

"Tenang saja, kau pasti bisa. Naruto, kau itu kan ninja yang sangat hebat." Sakura tersenyum lembut. Membuat wajah Naruto memerah seketika. Reaksinya diimbangi dengan tatapan tidak suka yang berasal dari Sasuke.

"Ada apa denganmu hari ini, Sakura-chan?" Naruto bingung setengah mati dengan perubahan sikap Sakura yang terlalu drastis. "Tidak biasanya kau bersikap manis padaku."

"Ah…"

Benar juga, seingatnya selama ini ia selalu bersikap ketus pada Naruto. Padahal sejak dulu pria itulah yang selalu ada di sampingnya. Membantunya keluar dari kegelapan selama bertahun-tahun. Sungguh sangat tidak berterima kasih dirinya.

Mungkin inilah balasan dari semuanya.

Seandainya dulu ia tidak menyia-nyiakan Naruto, seandainya dulu ia tidak bersikap ketus padanya…

Sakura tersenyum menatap sahabat blonde nya itu. "Maafkan aku sudah bersikap ketus padamu selama ini."

"Sakura-chan…" wajah Naruto pucat pasi. "Kau kenapa sih hari ini?" ia berbalik menghadap Sasuke. "Oi, teme. Hari ini Sakura-chan bersikap aneh. Lakukan sesuatu!"

Sasuke hanya mengangkat bahu lalu bangkit dari kursinya berjalan meninggalkan Naruto dan Sakura. "Bukan urusanku."

"Kau benar-benar tidak sakit kan?" Naruto meletakkan punggung tangannya di dahi Sakura. "Tidak panas." Gumamnya.

"Tentu saja tidak." Sakura menyentuh punggung tangan Naruto yang ada di dahinya. Ia menggenggam tangan sahabatnya itu erat. Naruto sudah hampir mati karena malu. Jantungnya berdetak tidak karuan seakan ingin melompat dari dadanya.

"Aku hanya berpikir." Sakura berbisik pelan namun cukup untuk didengar Naruto. "Selama ini, aku sangat bodoh…" ia menghentikan kata-katanya sesaat. "Bagaimana mungkin selama ini aku selalu bersikap kejam padamu Naruto?" tanyanya retoris. "Bagaimanapun aku tidak mau kehilanganmu." Ia bergumam.

"A… ayo kita pulang Sakura-chan!" wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Ia segera menghentikan pembicaraan yang mungkin bisa saja menyebabkannya menderita sakit jantung.

Sakura bangkit dari duduknya menyambut uluran tangan Naruto.

Hangat. Menyenangkan.

Tapi tunggu dulu.

Bagaimana dengan Sasuke?

Bagaimana dengan cinta abadinya?

Apakah ini yang benar-benar diinginkannya hingga ia mengalami halusinasi seperti ini?

Pikiran itu terus berputar di kepalanya.

Walaupun ini adalah halusinasi yang menyenangkan tapi tetap saja…

Pada akhirnya ia tetap terjebak diantara Sasuke dan Naruto.

Akhirnya ia sadar, kedua lelaki itu adalah cinta sejatinya.

-TSUZUKU-


Gomennasai, gomennasai, gomennasai... maaf untuk semua yang sudah rela menunggu update-an fic saya... karena satu dan lain hal saya tidak bisa terus eksis di FFN. tapi saya ga berniat untuk hiatus kok. saya berencana untuk menyelesaikan semua karya saya sampai selesai. walaupun saya ga bakal janji kapan semua itu selesai.

Terima kasih saya ucapkan untuk semua yang sudah rela untuk membaca fic ini baik silent readers ataupun para reviewers yang sudah setia menanggapi fic ini.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih

Regards,

Akina Takahashi