Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T+

Pairing: SasuSakuNaru

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 5: Dreams

Sakura tidak peduli bahwa segala hal yang kini dilihatnya hanyalah mimpi belaka. Ia tidak ingin ini berakhir. Mimpi ini terlalu indah untuk diakhiri. Jikalau ia harus mati ia memilih mati karena tenggelam dalam halusinasi indah ini daripada terjebak dalam realita hidupnya yang menurutnya menyedihkan.

Sakura menatap kosong kearah training field dihadapannya. Kata-kata Sasuke di dalam mimpinya saat itu kembali mengusik dirinya.

"Kau tahu kenapa hanya kau satu-satunya yang tidak diajarkan jurus apapun oleh Kakashi saat kita genin dulu?"

"Itu karena kau lemah, Sakura"

Lemah

Lemah

Lemah

Kau orang paling lemah di tim tujuh.

Bahkan Kakashi tidak mau meluangkan waktunya untuk mengajarimu.

UGH

Pathetic

Ternyata di dalam halusinasi yang indah ini ia masih mengingat hal menyebalkan itu.

Sakura menggenggam sumpit di tangannya dengan sangat keras hingga akhirnya sumpit itu patah. Mengagetkan Naruto dan Sasuke yang ada di sampingnya. Mereka dengan segera menghentikan kegiatan makan siang mereka dan menatap Sakura dengan kaget.

"Sakura-chan, ada apa?" Tanya Naruto khawatir. "Bentou mu tidak enak ya? Mau tukar denganku?" pertanyaan polos Naruto sedikit banyak membuat Sakura tersenyum.

"Bodoh." Dengus Sasuke. "Itu hanya alasanmu untuk bertukar bentou dengan Sakura kan?" mata onyxnya menatap bosan "Lagipula itu bukan bentou, itu kan hanya ramen instan." Sasuke menunjuk kotak makanan Naruto yang berisi ramen instan.

"Biar saja. Kau sebenarnya iri padaku kan Sasuke?"

"Mana mungkin. Hal itu adalah hal yang paling tidak mungkin terjadi didunia ini. Bahkan jika Kakashi menikah dengan Guy sekalipun, hal itu tidak mungkin terjadi."

"HAHAHAHAHAHA" Naruto tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata absurd Sasuke. Sementara Sakura hanya tertawa kecil. Sungguh menyenangkan berada diantara mereka berdua.

"Ano, aku pulang duluan ya. Sampai jumpa besok." Sakura bangkit dari duduknya kemudian memasukkan kotak bekalnya kedalam tas merah yang ada di gendongannya.

"Yaah, kenapa cepat sekali pulangnya?" Naruto terlihat kecewa.

"Ada sedikit urusan yang harus kuselesaikan." Sakura tersenyum manis. Sukses membuat kedua pemuda di hadapannya blushing seketika. "Besok aku akan membuatkan bentou untukmu Naruto, jadi jangan makan ramen instan lagi ya."

"AH! Terima kasih Sakura-chan!" teriak Naruto kegirangan. Mata cerulean nya berbinar-binar. "Sasuke! Kau dengar kan? Sakura-chan akan membuat bentou untukku besok!"

"Cih. Bodoh." Gumam Sasuke. Sedikit ada nada kecemburuan dalam nada bicaranya.

"Kau pasti iri padaku kan Sasukee~" goda Naruto.

"Berisik." Sasuke segera memasukkan kotak bentounya ke dalam tas birunya kemudian berjalan meninggalkan Naruto.

...

...

...

Sakura memejamkan matanya. Berusaha mencari keberadaan chakra Kakashi, orang yang paling ingin ditemuinya saat ini. Ia harus memperjelas semuanya.

"Ketemu." Gumamnya saat ia merasakan chakra Kakashi berada di radius 500 meter dari tempatnya berada sekarang. Dengan kecepatan penuh, ia berlari menerobos orang-orang yang berlalu lalang di jalan utama Konoha. Sampai akhirnya ia berada di pinggir hutan terlarang. Ia merasakan chakra Kakashi dari atas pohon yang berada di dekatnya. Dengan segera ia memanjat pohon raksasa tersebut dan menemukan Kakashi yang tengah sibuk membaca icha-icha paradise edisi terbaru di atas dahan pohon.

"Yo! Ada apa mencariku Sakura? Aku sedang sibuk." Kakashi masih sibuk menelusuri halaman demi halaman buku ero tersebut.

"Sejak dulu ada hal yang ingin kutanyakan padamu, sensei." Tanpa pikir panjang Sakura segera mendudukkan dirinya di sebelah Kakashi. Mereka duduk di atas dahan yang mungkin tingginya sekitar 15 meter dari tanah.

Kakashi mengernyit. Ia tidak pernah melihat Sakura seserius ini. Ia segera memasukkan icha icha paradisenya ke dalam kantung rompi jounin nya kemudian menatap Sakura dengan sebelah mata hitamnya. "Ada apa?"

"Apakah menurut sensei, aku ini lemah?"

"Hmph. Pertanyaan macam apa itu Sakura?" Kakashi menahan tawa. Tapi tatapan mata Sakura yang sarat emosi menghentikannya. Tatapan itu… entah apa namanya. Tapi seketika Kakashi melihat mata hijau itu ia dapat merasakan kepedihan yang mendalam di mata itu.

"Kenapa sensei tidak mau mengajari jurus apapun padaku?" bibir Sakura sedikit bergetar. "Apakah sensei tidak mau meluangkan waktu karena sensei pikir akan percuma saja mengajari aku?"

"Hei, hei, bicara apa kau ini Sakura." Kakashi akhirnya mulai mengerti. "Apakah ada seseorang yang mengatakan hal itu padamu?"

" Jawab aku sensei." Sakura menatap Kakashi tajam.

"Sakura, kau itu muridku yang memiliki sense paling tajam daripada yang lain, kau pintar dalam menganalisis pergerakan musuh, dan kau juga memiliki kemampuan penyembuhan yang hebat. Aku tidak pernah berpikir sekalipun kalau kau itu lemah." Jelas Kakashi.

"Lalu kenapa sensei?"

"Bukan aku orang yang bisa mengembangkan potensimu hingga maksimal Sakura. Kupikir jika kau belajar dengan Tsunade-sama potensimu sebagai medic nin akan berkembang dengan cepat."

"Benarkah hanya itu alasannya?" Sakura menatap Kakashi tajam seolah berusaha mengebor mata berlainan warna milik Kakashi.

"Hei tidak perlu seserius itu Sakura." Kakashi menepuk kepala Sakura dengan sayang. "Kau adalah muridku yang paling cantik di dunia ini" gombalnya sambil tersenyum dari balik maskernya.

Sakura hanya tertawa pelan menghadapi kelakuan senseinya yang terkenal playboy ini. "Sensei, jangan bersikap seperti itu. Aku tidak mau jatuh cinta pada orang yang jauh lebih tua daripada aku dan hobinya membaca icha-icha paradise." Candanya. Entah kenapa semua kata-kata Kakashi berhasil menenangkan hatinya yang galau.

Seandainya ia bercerita pada Kakashi di dunia nyata (saat ini ia masih menyadari kalau dirinya sedang berada di dunia halusinasi) apakah ia akan merasa lebih baik? Ia sedikit menyesal karena selama ini ia hanya memendam semuanya sendiri. Ia tidak pernah bercerita pada siapapun tentang perasaannya pada Naruto, tentang perasaannya pada Sasuke dan juga tentang bagaimana pernikahan Hinata dan Naruto memberikan efek yang besar pada kestabilan kondisi kejiwaannya.

"Sensei"

"Hm?"

"Aku ingin bertanya." Sakura menghentikan kata-katanya seolah meminta izin.

"Silakan, tanyakan apa saja. Aku akan menjawab sebisanya."

"Seandainya… seandainya saja Rin-san masih hidup." Sakura menarik napas berusaha melanjutkan perkataannya sementara Kakashi hanya terlonjak kaget mendengar nama Rin disebut-sebut oleh Sakura. Rin, cinta pertamanya juga cinta pertama Obito. Rin, gadis tercintanya yang meninggal karena kesalahannya sendiri.

"Sakura, darimana kau tahu soal Rin?" Kakashi terlihat sedikit shock karena luka lamanya terbuka kembali.

"Maaf aku tidak bermaksud mengungkit hal ini." Sakura hanya menundukkan kepalanya. "Seandainya saja ia lebih memilih Obito-san daripada sensei. Kemudian mereka menikah, meninggalkan sensei sendirian. Apa yang akan sensei lakukan?" tanyanya

Kakashi tersenyum lembut. "Tentu saja aku akan jadi orang yang paling bahagia pada hari pernikahan mereka. Aku akan hadir di barisan terdepan dan aku akan berteriak 'selamat berbahagia!' sekencang-kencangnya pada mereka."

Sakura memegang dadanya yang terasa sakit ketika membayangkan dirinya hadir di pernikahan Naruto dan Hinata. "Ah… ti, tidakkah hal itu akan menyakitkan sensei?" Sakura tidak sadar betapa melankolisnya ia saat ini. "Merelakan Rin-san yang sudah kau cintai selama bertahun-tahun menikah dengan orang lain… sementara kau ditinggal sendirian" suara Sakura bergetar.

"Melihat orang yang kucintai bahagia adalah kebahagiaan terbesar bagiku."

Kata-kata yang keluar dari mulut Kakashi benar-benar membuat Sakura tertohok. Alangkah mulia hati yang dimiliki gurunya ini. Ia bahkan tak pernah berpikir ia bisa melakukan hal semulia ini.

"Sen… sensei, aku…. Aku…" tiba-tiba saja air mata mengalir deras di wajahnya. Sakura kehilangan kendali atas emosinya. Poker face yang selama ini menjadi andalannya runtuh seketika.

"Yosh, yosh." Kakashi menepuk pucuk rambut merah muda muridnya itu kemudian menyandarkan kepala Sakura di bahunya. Membiarkan Sakura menangis sepuasnya.

"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padamu Sakura. Tapi, yakinlah pada satu hal. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian."

"Terima kasih sensei…" Sakura memejamkan matanya.

"Hm"

"Sensei…."

"Ya?"

"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan." Sakura menyingkirkan tangan Kakashi yang mencoba memeluk pinggangnya.

"Ah, haha ternyata ketahuan." Kakashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dan dengan begitu, hilanglah momen romantis antara guru dan murid.

...

...

...


...

...

...

Saat ini Sakura benar-benar tidak ingin sadar dari halusinasinya. Ini semua sangat indah untuk dilewatkan. Kalaupun ia harus mati karena ini, ia rela. Lagipula ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di kehidupan nyata. Di kehidupan nyatanya Sasuke mengkhianati Konoha, membenci dirinya dan Naruto, menganggapnya lemah, dan bahkan ingin membunuhnya yang selama ini mencintainya selama hampir seumur hidupnya. Sementara Naruto akan menikahi Hinata dan meninggalkannya sendirian. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya ketika nanti ia melihat anak-anak berambut blonde dan bermata amethyst berbyakugan berlarian di Konoha. Entah apa perasaannya ketika ia bertemu dengan anak-anak Naruto dan Hinata.

"Sakura-chan! Bentou buatanmu sungguh sangaat lezaat! Terima kasih banyak ya!" Naruto menepuk punggung Sakura, menyadarkannya dari pemikirannya tadi.

Sakura hanya tersenyum. "Sama-sama. Aku sudah terbiasa hidup sendiri jadinya memasak bentou untuk kalian bukan hal yang menyulitkan bagiku."

"Tapi ini super enak! Sasuke bahkan berusaha merebut milikku tadi, padahal ia juga sudah mendapatkan bentou darimu." Cerocos Naruto yang disambut dengan geraman Sasuke.

Sakura hanya terkekeh. "Aku akan membuat bentou untuk kalian setiap hari mulai dari hari ini."

"Benarkaah? Waah asyik! Terima kasih Sakura-chan!" Naruto berlari memeluk Sakura dengan erat.

"Apakah kau akan tetap seperti ini jika tiba-tiba saja Hinata menyatakan perasaan cinta padamu?" bisik Sakura pelan ditelinga Naruto yang membuat Naruto secara refleks melepaskan pelukannya dengan cepat sementara Sasuke menatapnya dengan heran.

"Ap- apa maksudmu Sakura-chan?" Tanya Naruto kaget.

"Tidak jangan dipikirkan. Lupakan kata-kataku tadi." Sakura tersenyum tipis, ia berbalik kemudian berkata. "Ayo, kita ke training field. Kakashi-sensei pasti sudah menunggu disana."

Tanpa disadari mata hitam Sasuke mengamati Sakura dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

Matahari tenggelam secara perlahan di ufuk barat. Menandakan berakhirnya latihan hari ini. Sakura, Sasuke dan Naruto berjalan bersisian. Ketika mereka sampai di pertigaan jalan, Naruto berbelok memisahkan diri dari Sakura dan Sasuke "Aku kearah sini ya! Sampai jumpa besok!" ia melambaikan tangannya dengan semangat.

"Sampai jumpa." Sakura tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Sasuke menatap Sakura diam-diam, memperhatikan wajahnya yang cantik. Berusaha menebak apa yang ada di pikiran gadis itu.

Mereka melanjutkan jalannya. Hingga mereka berjalan di pinggiran danau sebelah distrik Uchiha. Tempat Sasuke berlatih Katon no jutsu bersama ayahnya, Fugaku Uchiha.

Keheningan yang ada diantara mereka runtuh ketika tiba-tiba saja Sasuke mengajukan pertanyaan yang membuat Sakura terkejut. "Sakura, apakah kau…" ia sempat menghentikan perkataannya karena pride Uchihanya berusaha menghentikannya. Namun pada akhirnya rasa penasaran berhasil mengalahkan pride nya. "Menyukai Naruto?"

Sakura seketika saja menghentikan langkahnya. Angin berhembus menerbangkan rambut merah mudanya. Bukannya menjawab ia malah mengajukan pertanyaan balik pada Sasuke. "Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?"

Pertanyaan Sakura bagaikan petir yang menyambar hati Sasuke. Kenapa? Kenapa ia menanyakan hal itu pada Sakura? Ia pun tidak tahu alasannya. Benar juga, Sakura kan bukan siapa-siapa baginya. Lalu kenapa?

Terdiam sesaat namun akhirnya ia berhasil mengeluarkan jawaban sangat standar menurutnya. "Hanya sedikit penasaran."

"Untuk apa kau penasaran padaku?" Sakura menengadah menatap mata hitam Sasuke yang tingginya sekitar 20 cm lebih tinggi darinya. "Bukankah kau membenciku?"

SYUU

Angin berhembus diantara mereka berdua. Langit senja telah digantikan oleh langit malam yang berbintang. Kunang-kunang berterbangan di pinggiran danau. Membuat pemandangan disekitar mereka menjadi sangat indah.

"Aku tidak membencimu. Tidak ada gunanya bagiku." Tatapan Sasuke benar-benar tidak bisa dimengerti. Tatapannya dalam menusuk dipenuhi berbagai emosi yang melintas didalamnya.

"Ya, menurutmu aku memang tidak berguna, lemah, dan menyusahkan." Ucap Sakura dingin. Ia mengalihkan pandangannya pada danau yang dipenuhi kunang-kunang yang berterbangan di sekitarnya.

"Siapa yang berkata hal seperti itu padamu?"

Sakura mengepalkan tangannya erat. Tubuhnya bergetar. Tidak peduli apakah ini hanya ilusi atau bukan tapi bicara berdua saja dengan Sasuke saat ini benar-benar membuat emosinya menjadi labil. Menguar begitu saja. Ia bertekad akan mengatakan semuanya sekarang. Semua perasaan yang ia pendam pada Sasuke selama ini. Ia tidak peduli bahwa ini hanya halusinasinya saja. Ia setidaknya ingin Sasuke mengetahui perasaannya yang sebenarnya.

"Kau yang berkata hal itu padaku."

"Aku tidak ingat, aku pernah berbicara seperti itu padamu."

"Dulu sewaktu aku masih seorang gadis kecil pemalu yang baru saja akan masuk ke akademi. Aku selalu diejek oleh orang-orang sekitarku karena dahiku yang lebar." Sakura mendudukkan dirinya di rumput yang ada di pinggiran danau, Sasuke mengikutinya. Ia duduk di sebelah Sakura. Berusaha mendengarkan cerita gadis itu dengan seksama.

"Aku hanya diam ketika mereka mulai menjahiliku bahkan memukulku, orang tuaku sangat jarang berada di rumah karena mereka sibuk dengan misi mereka sebagai anbu sehingga mereka tidak pernah mengetahui bagaimana keadaanku saat itu. Sampai pada akhirnya aku tumbuh menjadi seorang gadis lemah tanpa rasa percaya diri yang hanya pasrah saja pada keadaan."

Sakura tersenyum tipis.

"Suatu hari di musim panas, ada seorang anak laki-laki tampan berambut hitam yang menolongku dari segerombolan anak berandalan."

Sasuke tersentak.

"Sejak saat itu, aku menganggap anak laki-laki itu adalah pangeran berkuda putih yang selalu aku impikan. Sedikit demi sedikit aku mulai berubah menjadi lebih berani dan lebih percaya diri karena aku ingin ia melihatku sebagai gadis yang kuat, bukan sebagai gadis yang lemah. Aku bahkan nekat memanjangkan rambutku karena aku mendengar ia menyukai gadis berambut panjang."

Sasuke mengepalkan tangannya

"Doaku akhirnya terkabul, saat akan mengikuti ujian chuunin ternyata aku satu tim dengannya. Aku berharap setidaknya ia akan melihatku sedikit saja. Namun, sepertinya aku salah."

"Aku tidak berarti apapun baginya. Bahkan ia lebih memilih dendamnya daripada aku. Ia pernah hampir membunuhku, saat itu ia mengatakan "Aku benci orang lemah sepertimu." padaku."

Sakura meringis. Ia mencengkram dadanya. "Di saat kehancuranku yang terdalam, Naruto hadir di kehidupanku. Membantuku bangkit menghadapi hidupku. Ia menyusun puing-puing hatiku yang telah hancur. Hingga akhirnya tanpa sadar tumbuh perasaan cinta padanya. Walaupun harus kuakui, sampai saat ini di lubuk hatiku yang terdalam aku masih mencintai cinta pertamaku. Ia telah memiliki tempat yang tak tergantikan oleh siapapun."

"Ya, orang itu adalah kau Sasuke-kun." Suara Sakura melemah.

"Ap, apa, aku tidak ingat pernah melakukan itu semua padamu." Sasuke terlihat sedikit panik sekaligus bingung.

"Ya, itulah dirimu yang sebenarnya. Dirimu yang saat ini berada disini hanyalah ilusi belaka. Kau muncul dari halusinasi yang ada pada pikiranku saat ini." Jelas Sakura. "Walaupun kau hanyalah tiruan, setidaknya aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya."

Sasuke hanya terdiam.

"Kalau kau menanyakan tentang bagaimana perasaanku pada Naruto, jawabannya adalah ya, aku menyukainya."

DEG

Entah rasa sakit apa yang menjalar di dada Sasuke tapi yang jelas saat itu telah menjadi saat yang tak terlupakan bagi Uchiha Sasuke. Yaitu saat ia menyadari bahwa ia menyukai Haruno Sakura teman satu timnya.

...

...

...


"SAKURA! SAKURA!"

Sakura segera menghentikan langkahnya ketika ia mendengar namanya dipanggil dari kejauhan. Rambut pinknya bergoyang seiring dengan pergerakan kepalanya yang tengah menoleh mencari sumber suara. Akhirnya ia menemukan sesosok pemuda berambut hitam tengah menghampirinya.

Alis pinknya mengernyit heran akan tingkah pemuda yang menurutnya terlalu ceria untuk ukuran seorang Uchiha Sasuke.

Hahaha

Apakah jika seandainya pembantaian klan Uchiha tidak terjadi Sasuke akan menjadi seceria dan senormal ini? Sakura sadar ia telah menggunakan banyak kata pengandaian. Karena hal yang terjadi saat ini hanyalah ilusi belaka, bukan kenyataan yang sebenarnya.

Ironis.

Ia tidak bisa merasakan kebahagiaan di dunia nyata, oleh sebab itu ia memilih tenggelam dalam ilusi abnormalnya ini.

Sakura segera tersadar dari lamunannya ketika Sasuke berada tepat di hadapannya sekarang.

"Ada apa? Sepertinya hari ini kau terlihat sangat bersemangat." Sakura tertawa kecil. "Tumben sekali… kupikir kau tidak menyukai berlatih di training field denganku dan Naruto." Sakura mengangkat bahu. "Kupikir kau selalu menganggap latihan bersama adalah hal yang tidak berguna."

Sasuke hanya tertegun ketika menyadari sikap skeptis yang diberikan Sakura padanya. Tidak biasanya Sakura bersikap dingin padanya seperti ini.

Akhirnya ia menyerah dan berjalan beriringan dengan Sakura yang berada di sampingnya.

"Aku tidak pernah berpikir bahwa latihan dengan kalian adalah hal yang tidak berguna." Ucapnya pelan. "Jadi tolong jangan ambil kesimpulan sendiri."

Sakura sedikit tersentak mendengar kata-kata Sasuke. Entah kenapa ia bisa merasakan ketulusan dari kata-kata itu. Sedikit merasa bersalah ia bergumam pelan. "Maaf… aku tidak bermaksud…" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Sasuke dengan segera memotong perkataannya.

"Argh, menyebalkan" gerutunya. "Tidak bisakah kau bersikap bodoh seperti biasanya? Itu lebih membuatku merasa nyaman dibandingkan kau yang sekarang." Sasuke mengacak rambut hitamnya frustasi.

Si gadis pink tersenyum tipis. "Kau lebih menyukai diriku yang bodoh?" Ia tertawa kecil. "Kupikir kau benci jika diikuti oleh seorang stupid fangirl dengan dahi lebar dan rambut berwarna bubble gum."

"Kau ini sebenarnya kenapa?" mata obsidian Sasuke menatap mata hijau emerald Sakura. "Kau punya masalah denganku?"

"Oh, tentu saja tidak Sasuke-kun. Aku tidak mempunyai masalah apapun denganmu." Sakura tertawa kecil.

"Hn…" Sasuke mempercepat langkahnya hingga ia berada tepat di depan Sakura. Dengan segera ia menghentikan langkahnya, membuat Sakura dengan terpaksa ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap Sakura dengan cukup lama hingga akhirnya Sasuke berhasil membuka mulutnya dan berkata. "Kalau begitu…" ia menghentikan kata-katanya sesaat sebelum melanjutkannya kembali.

"Hei Sakura, ak-aku hanya berpikir. Kau punya waktu hari minggu nanti?"

Ya beginilah Uchiha Sasuke, selalu straightforward tanpa basa-basi.

Sakura hanya tersentak kaget. "Untuk apa?" tanyanya.

"Hari minggu nanti Itachi akan menikah, aku ingin kau datang bersamaku nanti. Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku"

Hahahaha. Lucu sekali. Uchiha Sasuke mengundangnya untuk pergi menemui keluarganya. Ini benar-benar mimpi yang berlebihan. Sakura bahkan tidak pernah memimpikan hal seperti ini. Efek halusinasi dan euphoria yang ditimbulkan bunga Tsubaki memang luar biasa.

"Aku menyukaimu Sakura." Sebuah kalimat yang terdengar sangat absurd terdengar di telinga Sakura.

"Aku bisa menunggu hingga kau menyukaiku dan melupakan si baka-Naruto." Dan kini kalimat terakhir benar-benar membuat Sakura tertawa. Astaga ini benar-benar absurd.

"Hei, apa pernyataan cintaku terdengar lucu?" Sasuke terlihat kesal. "Aku serius."

"Tidak, hanya saja perkataan yang baru saja kau katakan terdengar sangat aneh di telingaku." Sakura tertawa kecil.

Kini ia berpikir, seandainya…. Seandainya saja hal ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Uchiha Sasuke menyatakan cinta padanya. Apakah ia juga tetap akan mencintai Naruto?

Jika seandainya ia tidak pernah terluka karena Uchiha Sasuke mencampakkannya apakah ia akan tetap menyayangi Naruto?

Jika seandainya tidak ada Naruto di sisinya saat ia mengalami kehancuran apakah ia akan tetap bertahan?

Seandainya, seandainya hal itu semua terjadi apakah ia dapat hadir di pernikahan Naruto dan Hinata dengan senyuman tertulus yang pernah dimilikinya?

Apakah ia akan bahagia ketika melihat Naruto menikahi Hinata?

Apakah ia akan senang ketika melihat bocah-bocah berambut blonde dan berbyakugan berlarian di Konoha?

Jika semua hal ini benar terjadi apakah ia dapat memilih cinta salah satu dari mereka? Naruto atau Sasuke?

"Kau harus bisa memilih Sakura…"

Hahaha, konyol sekali.

Kenyataannya adalah ini semua hanyalah mimpi. Dan kehidupan dunia nyata tidaklah seindah dan semudah ini.

Ya benar ini hanya halusinasi belaka. Oleh sebab itu, ia tidak boleh mempercayai bayangan semu yang ada dihadapannya sekarang. Ia harus bangun. Menghadapi kenyataan.

"Tapi…"

"Aku tidak mau bangun…"

-TSUZUKU-


Gomennnasaai, gomennasaaaii... maaf ya atas keterlambatan saya mengupdate. seperti biasanya, rutinitas kehidupan saya sebagai mahasiswa teknik tingkat akhir benar-benar menyita pikiran dan tenaga saya sehingga pekerjaan saya di fanfiction net sebagai author terbengkalai.

Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada para reader yang sudah setia mengikuti fic-fic saya.

Terima kasih semuanya

Regards,

Akina Takahashi