Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: T+
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Always Comes Late
Story by: Akina Takahashi
Chapter 6: The End of Dreams
"SAKURA!"
"SAKURA SADARLAH!"
Sakura merasakan pipinya ditepuk dengan keras oleh sesosok gadis berambut blonde. Gadis itu terlihat sangat panik. Ia membuka matanya perlahan, membiasakan cahaya yang perlahan mulai memenuhi kornea matanya.
Warna putih…
Bau antiseptik…
Oke, kini ia tahu dimana ia berada saat ini. Rumah Sakit.
Dan suara ini…
"SAKURA! Yokatta!"
Ino?
"Astaga Sakura! Kupikir kau tidak akan sadar! Sudah tiga hari kau tak sadarkan diri semenjak aku menemukanmu pingsan di distrik Uchiha." Ino memeluk Sakura erat. Ia menangis tersedu-sedu. Air matanya membasahi bahu Sakura.
Jadi benar itu semua hanya mimpi
"Hahaha" Sakura tertawa miris. "Ternyata itu semua cuma mimpi."
"Apanya yang lucu?" Ino melepas pelukannya kini suaranya terdengar marah. "Kau itu hampir mati sia-sia karena keracunan bunga Tsubaki tahu!" mata birunya menatap mata emerald Sakura tajam. Namun akhirnya mata itu melembut dan berubah menjadi menunjukkan rasa kasihan pada Sakura.
"Sedepresi itukah dirimu hingga kau nekat menghirup bunga Tsubaki Sakura?" tanyanya sedih. Miris membayangkan sahabatnya sendiri nekat melakukan hal yang sangat berbahaya seperti itu. Ia tahu efek bunga beracun itu sangat berbahaya, sama seperti efek obat-obatan terlarang.
"Kau tahu rasanya Ino?" Sakura tertawa kecil. Ia sudah terlihat seperti orang sakit jiwa sekarang. "Rasanya menyenangkan. " ia mendudukkan dirinya diatas tempat tidur dan mendekat kearah Ino yang telah duduk di kursi yang ada di sampingnya. "Kau harus tahu apa yang terjadi!" kini ia terlihat seperti seorang siswi SMA yang sedang bercerita mengenai kencan pertamanya. "Ino-chan! Sasuke menyatakan cintanya padaku!" Ia tertawa terkikik.
Raut wajah Ino berubah "Itu hanya kebohongan belaka!" Ia berdiri dari kursinya. Rasa marah bercampur kasihan terlihat di wajahnya." Kau menyedihkan Sakura."
Kau menyedihkan…
Sakura, kau menyedihkan.
Kalimat itu bagaikan tombak yang menusuk Sakura tepat di ulu hatinya. Seketika ia teringat akan penyebab ia menjadi seperti ini sekarang.
Pernikahan Naruto dan Hinata.
"Ya, aku memang menyedihkan Ino." Sakura tersenyum miris. "Jadi kumohon, kumohon padamu jangan beritahu Naruto tentang hal ini. Aku tidak ingin dia khawatir." Ia menundukkan kepalanya pada Ino. Memohon agar Ino merahasiakan keadaannya yang miris ini.
Mata Ino melembut. "Ternyata kau benar-benar mencintai Naruto ya?" tanyanya pelan. Ia mengelus kepala Sakura perlahan. Menarik napasnya "Huft…" kini ia berpikir kenapa sahabatnya ini selalu saja gagal dalam urusan percintaan. Jika seandainya Sakura adalah tipe gadis yang mudah melupakan cintanya maka kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi kenyataannya adalah hal yang sebaliknya. Sahabatnya ini adalah tipe gadis setia yang dapat mencintai seseorang hingga ia mati.
"Tenang saja. Saat ini Naruto sedang tidak berada di Konoha." Ino meraih tangan Sakura. Seolah berusaha memberinya kekuatan untuk mendengar kelanjutan dari perkataannya. "Dia pergi keluar kota untuk mempersiapkan pernikahannya. Dan mungkin baru akan kembali beberapa hari lagi." Sesaat ia merasakan tangan Sakura bergetar saat ia menyebutkan kata pernikahan.
"Hm… baguslah kalau begitu…" Sakura memejamkan matanya. "Aku tidak ingin merusak hari terindah bagi sahabat terbaikku. Aku tidak ingin membuatnya mengkhawatirkanku."
"Sakura…" Ino menatap Sakura khawatir.
Sakura bangkit dari tempat tidurnya kemudian ia menaikkan kedua tangannya ke udara. "Yosh! Aku akan pulang ke rumah sekarang!"
"Hei, kau itu baru saja sadar!" Ino terlihat kaget bercampur khawatir.
"Tenang Ino, aku sudah tidak apa-apa kok!" Sakura tersenyum lebar. "Efek bunga Tsubaki kan hanya sebentar."
"Tapi Sakura…"
"Aku ini dokter. Aku yang lebih tahu kondisi tubuhku lebih dari siapapun Ino."
"Oke, baiklah. Aku akan mengantarmu pulang." Akhirnya Ino menyerah.
"Terima kasih Ino." Sakura tersenyum lembut. Ia segera berjalan membuka pintu kamar rawatnya dan bersiap berjalan pulang ke apartemennya.
"Ino, cukup sampai disini saja." Sakura menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Rumahmu masih dua blok lagi dari sini kan?" Tanya Ino heran.
Matahari senja mulai bersinar di ufuk barat. Menandakan hari ini akan segera berakhir. Burung-burung gagak berterbangan di langit. Memenuhi pemandangan langit senja hari ini.
"Kau harus segera kembali ke toko bunga milikmu kan? Lagipula rumahku sudah dekat kok."
"Tapi…" Ino terlihat ragu. Memang benar perkataan Sakura. Ia lupa belum menutup tokonya tadi, bagaimana jika ada perampok yang mausk ke rumahnya? Sedikit kesal karena kecerobohannya Ino menepuk kepalanya sendiri. "Benar juga kata-katamu Sakura."
"Dengar, jangan pernah bertindak sembarangan lagi ya!" Ino mengancam. Sebelum akhirnya ia mengubah arah jalannya.
"Siap komandan!" Sakura memberi hormat pada Ino sambil tertawa kecil. Sesaat setelah sosok Ino menghilang. Sakura segera mengubah arah jalannya menuju training field tempat dimana ia biasa berlatih dengan Sasuke dan Naruto.
Kondisi training field dan matahari senja yang sangat tenang berhasil menenangkan dirinya yang galau. Sakura mendudukkan dirinya di bawah pohon besar sambil memejamkan matanya perlahan. Menikmati angin sore yang menurutnya cukup menyenangkan ini.
"Tidak baik bagi seorang gadis tidur di tempat terbuka seperti ini."
Dengan segera Sakura membuka matanya. Dan begitu matanya menangkap sesosok pria berambut silver dan bermasker ia tersenyum. "Selamat sore Kakashi-sensei."
"Hup." Kakashi melompat dari dahan pohon kemudian mendudukkan dirinya disamping anak murid kesayangannya itu. "Hm…"
Keheningan sempat terjadi ketika tak ada seorangpun dari mereka yang angkat bicara. Hingga akhirnya Sakura memulai pembicaraan.
"Sensei, manusia terkadang bodoh ya? Terlalu sibuk mengejar bintang yang tak tergapai sampai-sampai lupa pada bulan yang selalu menerangi di dekatnya" gumam Sakura pelan namun cukup jelas terdengar oleh Kakashi yang berada di sampingnya.
Kakashi tidak menjawab. Ia hanya mengusap kepala Sakura pelan. Membiarkan muridnya itu mencurahkan segala perasaannya.
"Mungkin inilah hukum karma, sejak dulu aku selalu menolak cinta Naruto. Namun kini, akulah yang dicampakkan. Tuhan memang adil."
Sedikit tersentak Kakashi mengangkat tangannya dari kepala Sakura. Ekspresinya berubah.
Tidak tahu harus bicara apa, ia lebih memilih diam. Membiarkan Sakura melanjutkan perkataannya.
"Tapi, aku akan berusaha seperti perkataan sensei." Sakura menatap Kakashi kemudian tersenyum. Rambut pink panjangnya bergoyang akibat angin.
Kakashi sedikit bingung saat ini. Ia tidak ingat ia pernah mengatakan apapun pada Sakura. Ia tidak mengerti, apakah ada Kakashi lain yang berhasil menasehati anak muridnya ini.
"Pada hari pernikahannya nanti. Aku akan jadi orang paling bahagia di dunia." Tangan Kakashi mencengkram erat ketika ia mendengar kalimat ini keluar dari bibir Sakura. "Aku akan berdiri di barisan terdepan dan akan bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Aku akan berteriak 'Selamat berbahagia' dengan suara paling ceria pada mereka. Pada Naruto dan Hinata."
Tanpa sadar kini Kakashi bergerak memeluk Sakura erat. "Sudah hentikan. Jangan bicara lagi." Bisiknya di telinga Sakura.
"Sensei…"
"Sudah cukup Sakura. Cukup." Kakashi mempererat pelukannya.
Sakura merasakan tubuh Kakashi bergetar saat memeluknya. Sedikit merasa bersalah karena telah membuat senseinya seperti ini, ia berusaha membuat sedikit gurauan. "Sensei, jangan harap aku akan menyukai sensei setelah sensei memelukku seperti ini." Sakura tertawa kecil.
"Ya, kau tidak akan menyukaiku setelah ini. Tapi kau akan mencintaiku." Kakashi membalas gurauan Sakura.
"Hahaha, itu sulit sensei…" mereka masih dalam keadaan berpelukan. Sakura tertawa kecil. "Seandainya jika itu benar terjadi, apakah sensei akan mencampakkan ku juga?"
"Hmm… " Kakashi terlihat sedang berpikir. "Tidak akan." Ia menjawab singkat dan berhasil menyebabkan Sakura sedikit blushing. Namun ia segera melanjutkan jawabannya kembali. "Tapi kupikir aku akan menduakanmu dengan icha-icha paradise." Cengirnya lebar.
Sakura segera melepaskan pelukan Kakashi dan segera menjitak kepala sensei mesumnya itu. "Sensei no baka!" teriaknya yang kemudian segera disambut gelak tawa Kakashi. "Hahahaha…"
Sekarang ia kembali berandai-andai. Seandainya orang yang dia sukai itu adalah Kakashi, apakah pada akhirnya ia akan bahagia?
Setiap ia memikirkan hari pernikahan Hinata dan Naruto yang semakin dekat, hatinya semakin hancur. Ia sadar bahwa sebenarnya di lubuk hati yang terdalamnya ia hanyalah seorang gadis kecil cengeng yang sangat membutuhkan perlindungan. Dan saat ini gadis cengeng itu sedang menangis sendirian di kegelapan.
Ya, sejak awal ia tahu hal ini akan segera terjadi. Baik cepat maupun lambat.
Hanya masalah waktu sebelum semuanya terjadi.
Ya ia tahu itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TOK TOK
Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Tsunade mengangkat kepalanya, meletakkan pena yang baru saja digunakannya untuk menandatangani perjanjian perdamaian dengan negeri Suna diatas meja kerjanya. Dengan sedikit kesal karena pekerjaannya terganggu ia mempersilakan si pengetuk pintu untuk segera masuk.
"Masuk saja. Pintunya tidak dikunci."
KRIET
Sesosok gadis berambut pink muncul dari balik pintu. Ia membungkukkan badannya formal memberi hormat pada Tsunade yang duduk di belakang meja kerjanya.
"Selamat malam, shisou." Sakura memberi salam dengan sangat sopan. "Maaf saya mengganggu pekerjaan Anda."
"Ara?" Tsunade sedikit heran dengan kedatangan Sakura yang sangat tiba-tiba. "Tidak perlu seformal itu padaku Sakura." Alisnya mengernyit, bingung akan sikap Sakura yang menurutnya sangat aneh hari ini. "Ada perlu apa kau menemuiku?" tanyanya.
"Shishou…" mata emerald Sakura menatap mata hazel Tsunade dengan tatapan serius. "Kumohon, beri aku misi tersulit yang sedang dikerjakan Anbu Konoha saat ini." Ia mengucapkan kata-kata ini dengan tegas, jelas dan penuh kesungguhan. Tak ada keraguan sedikitpun di mata Sakura.
"Hei, hei. Ada apa sebenarnya?" Ia akhirnya bangkit dari duduknya, menghampiri Sakura yang berdiri tegak di hadapannya. "Kau datang malam-malam begini dan memintaku untuk menugaskanmu pada misi tersulit yang ada saat ini?" Seolah mengkonfirmasi ulang kata-kata Sakura sebelumnya, Tsunade mengulangi kalimat yang ia dengar sebelumnya tadi.
"Tsunade shishou, beri aku misi level S tersulit yang kau miliki saat ini." Ketegasan dalam suara Sakura tak berkurang sedikitpun. "Misi yang sangat berbahaya hingga hampir tidak mungkin untuk diselesaikan." Lanjutnya seolah memperjelas kalimatnya tadi.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Apa kau yakin dengan permintaanmu?" Tsunade semakin heran mendengar kata-kata Sakura yang seolah ia meminta sebuah misi bunuh diri.
"Beri aku misi yang mungkin saja bisa membuatku terbunuh saat menjalankannya." Dan tebakan Tsunade benar. Sakura meminta dirinya memberikan misi bunuh diri untuknya. "Tugaskan aku di peperangan dimana kita sudah tidak memiliki kemungkinan lagi untuk menang."
"Hei, pikirkan dulu kata-katamu sebelum kau mengucapkannya padaku!" gertak Tsunade marah. Sedikit kesal dengan Sakura yang tiba-tiba saja bicara absurd di depannya. Bagaimanapun juga jika ini hanya lelucon maka inilah lelucon paling tidak lucu yang baru saja didengarnya.
"Aku sudah memikirkannya berulang kali Shishou." Jawab Sakura singkat. "Biarkan aku menjadi tenaga medis di medan perang."
"…"
Tsunade tidak menjawab, ia hanya memegang dahinya dan menghela napas menanggapi muridnya yang keras kepala ini.
TOK TOK
Terdengar pintu kembali diketuk. Tsunade segera mempersilakan si pengetuk untuk memasuki ruangan. "Masuk."
Segera saja pintu kembali terbuka dan memperlihatkan sosok Shikamaru yang terlihat sangat kacau. Tubuhnya dipenuhi luka-luka, rompi anbu yang dikenakannya robek, dan wajahnya terlihat sangat lelah.
"Hokage-sama! Keadaan di hutan terlarang perbatasan Konoha dan Suna sangat parah!" lapornya. Napasnya tersengal-sengal dan matanya terlihat sangat ketakutan. "Aku sudah kehilangan seluruh tim anbu ku. Dan disana masih bertahan 3 tim yang masing-masing berjumlah 10 orang yang diketuai oleh Kiba, Sai, dan Chouji." Ia berusaha mengambil napas dan melanjutkan laporannya kembali. "Mereka dalam keadaan kritis! Uchiha Madara ternyata sangat kuat. Kami bahkan tidak bisa menghalau serangannya. Kalau begini terus, ia bisa menyerang Konoha cepat atau lambat."
Tsunade hanya dapat menggigit jarinya. Tidak bisa menjawab laporan Shikamaru. Ia terlihat berpikir keras.
"Kami membutuhkan tenaga medis untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak lagi." Seru Shikamaru.
"Biar aku saja yang menjadi tenaga medis." Potong Sakura. "Biarkan aku membantu Konoha." Ia menatap Tsunade tajam. Seolah ia tidak memberi pilihan pada Tsunade selain memilihnya untuk menjadi ninja medis di peperangan melawan Uchiha Madara.
"Ugh… baiklah." Tsunade akhirnya menyerahkan misi itu pada Sakura. "Aku tugaskan kau membantu tim anbu Konoha di medan perang."
"Baik. Aku akan melaksanakan misi ini dengan sebaik-baiknya."
Sakura
Haruno Sakura
Apa benar ini adalah yang kau inginkan?
Menghilang dari kehidupannya… apa benar ini yang kau inginkan?
-TSUZUKU-
Oke, dan satu lagi chapter pendek yang terkesan terburu-buru dari saya. Mohon maaf ya semuanya, saya benar-benar sudah berusaha untuk meng-update sebisa saya di tengah-tengah kesibukan saya mengerjakan tugas akhir... tenang aja kok, saya janji saya bakal menyelesaikan fic ini sampe tamat (entah selesainya kapan). tapi idenya sudah saya tulis kok tinggal pengembangan kerangkanya aja.
Akhir kata, terima kasih karena sudah mau membaca fic saya
Regards,
Akina Takahashi
