Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: T+
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Always Comes Late
Story by: Akina Takahashi
Chapter 8: The Lost Love
"Inikah yang kau inginkan?"
Sakura menggelengkan kepalanya gusar berusaha menghilangkan suara yang bergema di telinganya.
"Sakura, kau pengecut!"
Sakura menghentikan langkahnya. Berusaha menutup kedua telinganya. "Diam!"
"Kau hanya ingin lari dari semuanya."
"Hentikan!" jeritnya putus asa ketika mendengar bisikan-bisikan yang terus muncul di kepalanya. Ia menarik napas sesaat. Kembali memantapkan tujuannya. Ia membuka tas merahnya dan memeriksa semua perlengkapan medis yang ada disana. Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengambil kertas peledak yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Sakura memejamkan matanya sesaat. Menarik napas panjang sebelum akhirnya ia memasukkan kertas peledak ke dalam saku bajunya dan menutup kembali tas merah miliknya.
Dengan daya ledak dahsyat yang dapat mencapai hingga radius 500 meter. Ia sangat tahu apa yang akan terjadi pada dirinya jika ia mengaktifkan kertas peledak itu. Hanya dengan satu mantra yang ia ucapkan, segala sesuatu yang berada dalam radius 500 meter dengannya akan hancur. Termasuk dirinya. Sakura tahu, setelah pengakuan cinta yang ia berikan pada Naruto, perasaan Naruto mungkin saja akan kembali goyah. Dan jika itu terjadi, ia akan menyakiti Hinata lebih dari apapun. Ya, bagaimanapun Sakura tahu posisi Hinata sebagai istri Naruto adalah posisi yang sangat penting. Ia tidak berhak untuk mengusik kehidupan pernikahan sahabatnya itu.
Bagaimanapun ia tidak dapat kembali ke Konoha dalam waktu dekat.
Mungkin ia harus menunggu hingga 10 tahun, 20 tahun, atau bahkan 30 tahun lagi. Menunggu waktu menghapus perasaannya dan Naruto. Menunggu hingga saat mereka bisa saling menyapa tanpa beban sedikitpun. Menunggu hingga ia sanggup melihat mereka bahagia. Menunggu hingga ia benar-benar melupakan semuanya.
Ataukah mungkin akan lebih baik jika ia tidak pernah kembali ke Konoha selamanya?
Mungkin mencari kehidupan baru di belahan bumi yang lain.
Atau mungkin berkorban untuk Konoha tidak buruk juga. Mungkin ia dapat menyusup ke tempat persembunyian musuh lalu kemudian meledakkan semua yang ada disana.
Sakura tertawa miris ketika pikiran yang terakhir terdengar di telinganya. "Pahlawan yang gugur di medan perang..."
Ia membayangkan jika benar itu terjadi mungkin saja ia akan dimakamkan di sebelah makam kedua orang tuanya yang gugur saat melaksanakan misi. Atau bahkan mungkin namanya bisa saja muncul di buku sejarah para siswa yang belajar di akademi ninja.
Sakura sadar... ia tidak takut pada kematian.
Ia lebih takut pada kehidupan suram seperti ini.
"Yosh!" Ia melangkahkan kakinya ringan. Sambil tersenyum ia berkata "Akhirnya aku akan berguna bagi Konoha."
Dengan segera ia membentuk segel dengan kedua tangannya kemudian berteriak "KAI" hingga akhirnya ia menghilang menuju ke tempat medan perang dimana ia ditugaskan.
"POOFF"
...
...
...
Love Always Comes Late
...
...
...
Suasana di battlefield sangat menyeramkan. Mayat-mayat bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan akibat terbakar api hitam amaterasu milik Uchiha Madara. Belum lagi kondisi tenda perawatan milik Konoha yang sangat kekurangan medic nin akibat penyerangan secara mendadak yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Sakura berlari memasuki tenda perawatan yang kondisinya sudah sangat mengenaskan itu. Dengan fasilitas yang sangat terbatas ia berusaha mengeluarkan peralatan medisnya dan berusaha melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan racun yang berada di dalam tubuh Kiba.
"Tahan sebentar ya Kiba-san." Sakura menggoreskan pisau bedah pada luka yang ada di bahu Kiba.
"ARGHH" jerit pemuda itu ketika merasakan rasa sakit yang luar biasa pada lukanya.
Sakura mengeluarkan racun yang ada di luka itu dengan cepat dan menampungnya di sebuah mangkuk kecil yang telah ia siapkan sebelumnya. Setelahnya ia segera menjahit luka Kiba dan mengalirkan cakra hijau disana. Setelah kondisi Kiba lebih baik dari sebelumnya, Sakura segera mengambil mangkuk tersebut kemudian pamit pada rekan sesama ninja nya tersebut. "Jangan khawatir, semua racunnya sudah kukeluarkan. Nyawamu aman sekarang. Aku akan membuat penawar racunnya segera, untuk jaga-jaga bila saja ada yang terkena racun selain kau. Kau tunggu disini saja ya."
"Terima kasih, Sakura." Kiba tersenyum. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila kau tidak ada."
Sakura hanya tersenyum lembut. "Sama-sama, Kiba-san"
"Sakura tolong ada yang gawat di sebelah sini!" panggil salah seorang perawat.
"Disini juga!"
Sakura yang merasa kewalahan akhirnya membuat beberapa bunshin untuk membantunya merawat para prajurit yang terluka. Saat ini ia berpikir, seandainya ia memiliki chakra sebanyak Naruto mungkin ia bisa membuat Kage Bunshin sebanyak apapun yang ia mau. Namun saat ini, ia hanya mampu membuat dua bunshin saja untuk membantunya. Sedikit kesal ia berkata pada perawat yang ada disana. "Biarkan bunshin-bunshinku yang akan membantumu. Aku harus membuat penawar racun sebelum ada korban lagi!" ia segera berlari keluar dari tenda perawatan. Dengan cekatan ia melompati dahan-dahan pohon berusaha mencari lokasi tempat tumbuhnya tanaman obat yang bisa digunakan sebagai penawar racun.
Setelah berlari lima kilometer, ia masih belum menemukan lokasi tanaman obat yang bisa digunakan. Merasa lelah karena telah berlari tanpa henti sebelumnya ia segera beristirahat di pinggir sungai yang berada di dekatnya. Sakura segera bangkit dari duduknya ketika merasakan ada chakra yang sangat kuat berada di belakangnya.
Dengan sigap ia mengambil kunai yang ada di kakinya. Rambut pinknya bergerak seiring dengan kepalanya yang mencoba mencari tahu darimana asal chakra tersebut.
Seketika mata emeraldnya melebar, ia menatap horror kearah tersebut.
Rambut hitam panjang, dan mata itu... Sharingan.
Uchiha Madara.
"Selamat pagi, Kunoichi." Sapa Madara sambil tersenyum. Wajahnya tetap saja tampan walaupun ia sudah tidak muda lagi. Tipikal Uchiha.
Sial.
Tidak lagi.
Ia sangat tidak ingin berurusan dengan klan pathetic itu sekarang.
Sakura tidak menjawab, Ia hanya memasang posisi menyerang. Mata emeraldnya berkilat marah.
"Santai saja, aku tidak akan menyerangmu." Gumam lelaki itu sambil tertawa kecil. "Hanya penasaran, seperti apa gadis yang mampu membuat Uchiha Sasuke bertekuk lutut."
Mata Sakura melebar. "Apa maksudmu?"
"Hm..." dengan langkah pelan ia mendekati Sakura. "Kau cantik juga. Pantas saja Sasuke jatuh cinta padamu." Gumamnya seraya mengangkat dagu Sakura keatas. Memaksanya untuk menatap mata onyxnya.
"Kau salah orang." Sakura tertawa sinis. "Sasuke tidak pernah menyukaiku."
"Oh benarkah?" Madara meletakkan tangannya di dagu seolah sedang berpikir. "Kupikir Sharingan tidak pernah gagal membaca pikiran seseorang."
Madara menarik napas panjang. "Bahkan seorang Uchiha sekalipun tidak bisa menyembunyikan perasaannya."
Sakura merasakan tubuhnya bergetar ketika mendengar kata-kata yang diucapkan Madara.
Sakura berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menyerang pria yang ada di hadapannya namun usahanya gagal. Seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan. Ia hanya diam mematung. "Brengsek! Apa yang kau lakukan padaku?!" desisnya marah.
"Sejak awal kau sudah terkena genjutsu." Madara tersenyum penuh kemenangan. "Tubuhmu takkan bisa digerakkan kecuali kau membunuhku atau aku yang menggerakkan tubuhmu."
"Kuso!" Sakura menggertak marah. "Aku tidak menyangka kau sekotor itu Madara."
"Hei, aku kan tidak melakukan apapun padamu Kunoichi." Madara mendekati Sakura dan membelai wajahnya pelan. "Setidaknya belum." Sharingannya berkilat menatap gadis cantik yang ada di depannya itu.
"Hm, jika kau mau bergabung denganku untuk membalas dendam pada Konoha, mungkin kau akan kulepaskan." Senyum licik menghiasi wajah pendiri klan Uchiha itu. "Tapi bila kau menolak, aku akan membunuhmu perlahan dengan siksaan yang tak kan pernah kau bayangkan sebelumnya."
"Tidak akan." Bisik Sakura pelan.
Sudah saatnya.
Akhirnya kertas peledak yang kusiapkan sebelumnya berguna juga.
Hanya dengan mengucapkan satu mantra.
Semuanya akan berakhir.
"BAKUHATSU NO KAI!" Sakura berteriak sekeras yang ia bisa. Mengakibatkan kekagetan luar biasa terpampang pada wajah stoic Uchiha Madara yang biasanya datar itu.
"Kau?!" Pria itu dengan kaget berusaha menjauh dari Sakura. Ia sama sekali tidak menyangka gadis itu membawa kertas peledak berdaya ledak tinggi bersamanya. Seiring dengan senyuman terakhir yang disunggingkan Sakura. Ledakan super hebat beradius hingga 500 meter terjadi.
BLARRRR!
Sayonara
Naruto
Sasuke
Sangking hebatnya ledakan itu gempa bumi kecil melanda Suna dan Konoha. Seluruh prajurit yang tengah bersiaga di basecamp terkejut. Shikamaru yang mempunyai daya nalar yang sangat tinggi dengan segera berlari menuju ke tenda perawatan. "Mana Sakura?" tanyanya panik. Kiba dengan kebingungan menjawab "Tadi ia pergi untuk mencari penawar racun. Namun hingga kini ia belum kembali. Belum lagi, bunshin-bunshinnya menghilang secara tiba-tiba."
"Shit!" gerutu Shikamaru. Ia harusnya sudah memprediksi hal ini akan terjadi.
Mulai dari sikap Sakura yang sedikit aneh.
Permintaannya pada Tsunade untuk mengikutsertakannya pada misi ini.
Dan pernikahan Naruto dan Hinata yang belum lama terjadi.
Kenapa ia tidak pernah berpikir jika gadis pink itu berniat mengorbankan dirinya? Mungkin saja ledakan tadi diakibatkan oleh Sakura yang meledakkan markas musuh. Karena buktinya sejak tadi pasukan musuh semuanya mundur secara tiba-tiba.
"Sakura... kau..." Shikamaru tak mampu menahan air matanya. "Damn!" ia berlari ke tempat pasukan anbu beristirahat.
"Pasukan satu dan dua segera cari Haruno Sakura sekarang juga!" perintahnya gusar. "Bawa kembali Sakura kesini! Hidup atau mati!"
Perkataan Shikamaru saat itu membuat seluruh pasukan anbu tercengang. Sai dan Chouji yang berada diantara mereka juga ikut terdiam hingga akhirnya mereka menghilang dalam kepulan asap.
"SIAP!"
POOFF
...
...
...
Love Always Comes Late
...
...
...
"Ano... Naruto-kun, apa yang terjadi?" tanya Hinata khawatir.
Naruto yang tiba-tiba saja mempunyai bad feeling segera menatap Hinata. "Aku akan ke kantor Tsunade-baachan sebentar. Kau tunggu saja di rumah." Perintahnya sebelum berlari keluar apartemennya meninggalkan Hinata.
"Naruto-kun..." Hinata mencengkram celemeknya erat. Ia baru saja selesai memasak untuk Naruto namun sepertinya pria itu tidak akan memakannya. "Jangan pergi..." gumamnya lemah.
...
Naruto berlari menelusuri jalanan Konoha sebelum akhirnya berhenti di depan kantor hokage.
Tidak mungkin
Perasaan ini...
Sakura-chan, kau baik-baik saja kan?
Dengan tidak sabar ia membuka pintu ruang kerja hokage dan melihat Shikamaru sedang berbicara serius dengan Tsunade.
"Aku sudah memerintahkan pasukan anbu untuk mencari Sakura." Wajah Shikamaru terlihat sangat tegang. "Tapi hingga saat ini kami belum berhasil menemukannya."
"APA YANG TERJADI PADA SAKURA-CHAN?!" tiba-tiba saja Naruto menyeruak masuk dan mencengkram kerah baju shikamaru dengan kuat. "Jelaskan padaku sekarang!" kemarahan menguasainya. Chakra kyuubi mulai keluar dari tubuh pria blonde itu.
"Lepaskan tanganmu dari Shikamaru." Perintah Tsunade tegas.
Dengan cepat Naruto melepaskan cengkramannya pada Shikamaru dan menatap Tsunade serius. "Apa yang terjadi pada Sakura-chan? Obaachan, jelaskan padaku..."
"Haruno Sakura menghilang." Tsunade menghela napas sesaat. "dan di tempat dimana chakranya terdeteksi terakhir kali hancur akibat ledakan yang sangat besar. Jika benar ia berada disana saat kejadian tersebut terjadi maka sudah dapat dipastikan ia takkan selamat."
"Katakan padaku ini tidak benar kan?" Naruto mulai meracau. "Ini hanya lelucon kan?"
"Tidak. Ini benar terjadi."
"TIDAK! Tidak! Sakura-chan, sakura-chan ku..." Naruto menangis meraung-raung sementara Shikamaru dan Tsunade hanya menatapnya kasihan.
Sakura-chan...
Naruto, berbahagialah untuk bagianku juga. Aku mencintaimu... Sahabat terbaikku
"Tsunade-baachan, aku mohon izinkan aku untuk ikut dalam misi untuk mencari Sakura." Wajah Naruto terlihat memelas. "Aku yang menyebabkannya seperti ini... aku akan mencarinya sekuat yang aku bisa, aku tidak akan berhenti sebelum aku menemukannya..."
"Hei, Naruto kau itu baru saja kuberi cuti untuk menikmati bulan madumu dengan Hinata. Bagaimanapun juga dia istrimu. Kau tidak boleh egois."
"Aku tidak peduli!" Naruto terlihat kesal. "Apapun yang terjadi aku akan menemukan Sakura-chan! Jika ia masih hidup aku akan minta maaf padanya, dan kalaupun ia sudah meninggal aku akan menguburkannya dengan layak di samping makam orang tuanya." Tangis Naruto semakin menjadi.
"Tapi bagaimana dengan Hinata?"
"Izinkan aku juga ikut dalam misi ini." Tiba-tiba saja suara lembut menggema di ruangan Tsunade. Alangkah kagetnya Naruto ketika melihat istrinya berdiri di depan pintu. "Aku mohon izinkan aku dan Naruto-kun mencari Sakura-chan. Bagaimanapun juga Sakura-chan adalah sahabatku sejak dulu."
"Hinata..." sedikit merasa bersalah Naruto menatap Hinata dengan tatapan khawatir.
"Ayo kita cari Sakura-chan bersama-sama." Hinata tersenyum sambil menggandeng lengan Naruto.
"Terima kasih Hinata..."
"Baiklah! Kuperintahkan Shikamaru Nara untuk memimpin misi ini. Anggota tim terdiri dari Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, Hyuuga Neji, Shimura Sai, dan Inuzuka Kiba. Kalian berangkat pada esok pagi! Persiapkan fisik dan mental kalian!" perintah Tsunade
"SIAP!"
-TSUZUKU-
Author note:
Minna –san, gomen, maafkan saya yang baru bisa publish sekarang. Salahkan saya yang terlalu malas untuk menulis di tengah kesibukan saya menyusun tugas akhir. Yeah life is hard, specially for final year student like me. Tapi saya janji saya akan tetap melanjutkan fic-fic saya walaupun harus memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Terima kasih untuk para reader yang sudah mau mengikuti fanfic mellow galau bin labil ini.
Kalau ada yang mau disampaikan jangan ragu untuk PM saya. Saran dan kritik akan saya terima dengan senang hati. Apalagi jika kritiknya bisa membangun dan membantu saya untuk meningkatkan kemampuan saya untuk menulis.
Review berupa tanggapan, saran, kritik, atau bahkan hanya sekedar curhatan pun akan saya terima dengan senang hati. Ya, semakin banyak jumlah review semakin semangat pula saya menulis.
Sekali lagi terima kasih banyak.
Arigatou gozaimashita!
Regards,
Akina Takahashi
