Di chapter ini ratednya menjadi rated M. Gomen buat yang ga suka lime. silakan di skip aja limenya.

Ada beberapa reader yang nanya tentang kelanjutan fic-ku yang lain seperti the lost soul, ore no hana, kimi no sei, dll... tenang mereka masih kukerjakan kok. hanya saja masih belum tahu kapan bisa diupdate lagi, tapi semuanya ga ada yang stuck kok, jadi pasti bakal diupdate. hehe

Ja, akhir kata, happy reading semuanyaa!


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: M

Pairing: SasuSakuNaru

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, Dramatic, LIME, dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 9: Choice

Perlahan mata hijau Sakura terbuka. Mata hijaunya bergerak berusaha menangkap bayangan yang ada di sekelilingnya. Seketika itu juga matanya terbelalak ketika menangkap sosok pemuda berambut hitam dan bermata onyx duduk di sampingnya. Sosok pemuda yang telah menjadi cinta abadinya sejak ia masih berada di akademi dulu.

Uchiha Sasuke

Sakura kembali menutup matanya dan tertawa miris. Mengasihani dirinya sendiri karena bisa berhalusinasi seperti ini.

Pathetic.

Ia pasti sudah tidak waras.

Ia mengangkat tangannya, mengusap matanya perlahan. "Astaga, aku berhalusinasi lagi." Gumamnya. Namun asumsinya tergoyahkan ketika sosok itu menyentuh tangannya berusaha menyingkirkannya dari matanya seolah ia ingin keberadaannya diakui oleh gadis itu.

"Sakura, Ini bukan halusinasi." Ujar Sasuke pelan. Suara baritonnya terdengar lebih berat daripada sewaktu mereka bertemu dulu.

"Sa... sa-suke?" suaranya terdengar seolah mencari pengharapan. Ia menggerakkan tangannya menyentuh wajah tampan pemuda yang ada di hadapannya itu. "Benarkah itu kau?" air mata keluar dari pelupuk matanya. "Kau benar-benar nyata? Bukan ilusi akibat genjutsu atau bunga Tsubaki?" Sakura mulai meracau tak jelas. Ia berusaha bangkit dari posisinya yang semula berbaring menjadi duduk namun usahanya itu gagal ketika ia merasakan sakit yang luar biasa dari sekujur tubuhnya. "Ouch!"

"Jangan bergerak." Sasuke membantu Sakura kembali ke posisinya. "Kau masih terluka."

"Apa yang terjadi?" Sakura mengamati dimana dirinya berada sekarang. Sebuah lorong gelap dengan api unggun yang meneranginya, sesaat matanya menangkap bayangan pepohonan hijau di bagian ujung lorong. Dari kondisi ini, ia dapat menyimpulkan jika ia berada di sebuah gua di tengah hutan. Ia kembali menatap pria yang ada di hadapannya. Berusaha memastikan jika orang yang bersamanya kini benar-benar Uchiha Sasuke yang telah menjadi cinta pertamanya.

"Bisa bertahan hidup dari ledakan sekuat itu, kau benar-benar beruntung." Sasuke menjawab singkat. Mata onyxnya menatap mata emerald Sakura dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

Sakura tersenyum miris. Ia memang berniat mati saat itu. Tidak pernah menyangka jika ia akan selamat, apalagi orang yang menolongnya adalah Sasuke.

"Kenapa kau menolongku?" Sakura menatap Sasuke. Memperhatikannya intens. Menyadari betapa tampannya pemuda ini, rambut hitam lurus yang sempurna, mata hitam sendu yang terkesan seksi, kulit putih sehalus pualam, hidung mancungnya yang menggoda, hakama putih yang dikenakannya sangat cocok dengannya, dada bidangnya terlihat dari belahan hakamanya yang sangat rendah. Astaga, inilah pria yang ia gilai seumur hidupnya.

"Hm, tidak ada alasan." Gumam Sasuke. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding gua kemudian duduk bersila sambil memegang pedang kusanaginya. Kini ia berada sejajar dengan Sakura yang berbaring diatas sleeping bag yang biasa digunakan ninja saat melaksanakan misi.

Sakura hanya tertawa miris. "Seharusnya kau tidak usah repot-repot menyelamatkanku." Alis hitam Sasuke sedikit terangkat ketika mendengar kalimat absurd yang diucapkan Sakura barusan. Padahal sebelumnya Sakura terlihat lega ketika melihatnya tapi kenapa sekarang ia malah bersikap skeptis seperti ini? Sungguh moodswing yang benar-benar membingungkan. Sejak kapan gadisnya menjadi seorang yang tak bisa ditebak? Seandainya ia adalah Sakura yang ia kenal saat genin dulu, pastilah gadis itu sudah memeluknya sambil menangis dan mengucapkan terima kasih padanya.

"Aku memang berniat untuk mati sejak awal." Lanjutan kalimat absurd tadi ternyata lebih membuat Sasuke heran. Siapa sebenarnya orang yang telah ditolongnya ini? Benarkah ini Sakura-nya yang dulu?

"Kenapa kau begitu ingin mati?" pertanyaan Sasuke kali ini benar-benar menohok Sakura. Bibirnya sedikit bergetar ketika ia berusaha keras menjawab pertanyaan ini. Namun tak satu pun kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Benar

Kenapa aku ingin mati?

Mata emeraldnya menutup perlahan. Sakura mengambil napasnya sebelum ia menghembuskannya kembali. "Karena aku merasa tak ada gunanya lagi hidup."

Bibir Sasuke terangkat membentuk senyum tipis. "Kau sama denganku." Ujarnya.

Kini gantian Sakura yang mengernyitkan alisnya. "Kau ingin mati?" ia tertawa kecil. "Kukira kau tidak ingin mati sebelum membalaskan dendammu."

"Ya. Sekarang aku sudah membunuh Itachi dengan tanganku sendiri."

"Lalu? Apa yang kau rasakan? Apakah kau senang?" tanya Sakura.

"Tidak." Sasuke menjawab singkat. Tatapannya memandang lurus ke depan. "Aku tak merasakan apapun." Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkannya kembali. "Hanya kehampaan."

Sakura lebih memilih diam. Sedikit banyak mengerti apa yang pemuda ini rasakan. Ditinggal oleh keluarganya, kehilangan sahabatnya, desanya, cintanya. Ya, ia tahu bagaimana rasanya. Terkadang hatinya sedikit perih ketika mengingat bagaimana Sasuke dulu sering mengigaukan ibu dan ayahnya dalam tidurnya. Ia ingat bagaimana wajah pemuda itu ketika ia memilih meninggalkan Konoha untuk mengikuti Orochimaru.

Sakura kembali menutup matanya. Ia tidak ingin melanjutkan percakapan gloomy ini lagi. Terlalu menyakitkan baginya.

.

.

"Kau..." Sakura sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Sasuke memecahkan keheningan yang ada diantara mereka berdua. "banyak berubah."

Sakura membuka mata hijaunya kemudian membalikkan badannya menghadap Sasuke yang kini menatapnya serius. Ia tersenyum tipis. "Kau tahu?" pertanyaan retoris diajukan oleh Sakura. "Pengalaman hidup memberiku pelajaran yang sangat berharga." Kini mata emeraldnya bertemu dengan mata onyx Sasuke. "Sayang sekali saat ini aku bukanlah gadis kekanakan yang tergila-gila dengan Uchiha Sasuke lagi."

"Waktu sudah mengubah segalanya." Mata hijaunya masih mengamati sosok pria tampan yang ada di hadapannya itu.

"Kau..." Sasuke menghentikan kata-katanya sesaat. "masih mencintaiku?"

Sakura tertawa miris. Sedikit tidak mempercayai pendengarannya ia mengulang kembali pertanyaan Sasuke. "Kau tanya bagaimana perasaanku padamu?"

"Hn..."

"Hahaha. Kau lucu Sasuke." Sakura tertawa kecil. "Untuk apa kau bertanya hal seperti itu? Bukankah kau tidak pernah peduli?"

"Tidak." Jawaban Sasuke seketika menghentikan tawa Sakura. "Jawab aku, Sakura."

"Oh, haruskah aku mencintai pria yang telah mencampakkanku berkali-kali dan bahkan pernah mencoba membunuhku?" tanya Sakura retoris.

"Jadi... kau membenciku?"

Bulir airmata memenuhi pelupuk mata emerald indah Sakura. Perlahan air mata jatuh membasahi kedua belah pipinya. "Uchiha-san." Sakura memanggil nama keluarga Sasuke seolah dengan sengaja ia menjaga jarak dengan pemuda ini. Sedikit mengernyit saat ia berhasil mendudukkan dirinya di sebelah Sasuke. Ia kembali melanjutkan perkataannya. "Asal kau tahu. Seburuk apapun perlakuanmu padaku, sekejam apapun perlakuanmu padaku, dan semenyebalkan apapun sikapmu padaku. Aku tidak akan pernah bisa membencimu."

Kata-kata Sakura sukses membuat Uchiha Sasuke merasa tertohok. Ia hanya terdiam. Membatu. Namun akhirnya ia kembali angkat bicara.

"Jika kau tidak membenciku... jadi kau masih mencintaiku?"

"Semuanya sudah terlambat Uchiha. Aku bukan lagi Haruno Sakura yang tergila-gila pada Uchiha Sasuke."

Sasuke hanya terdiam menanggapi jawaban Sakura yang terkesan dingin padanya. Sementara Sakura sedikit heran, apa yang terjadi dengan Sasuke hingga membuatnya cerewet seperti ini?

"Hn." Sasuke menjawab singkat. "Aku mengerti."

"Bagaimana dengan Naruto?" kali ini pertanyaan Sasuke bagaikan pedang yang menyayat-nyayat hati Sakura. Sesaat kenangan bersama pemuda blonde itu kembali muncul di ingatannya. Kenangan yang paling kuat adalah saat ia menyaksikan pernikahan Naruto dan Hinata. Dengan suara bergetar ia menjawab. "Naruto... dia sudah menikah dengan Hinata sekarang."
Sesaat Sakura dapat melihat tatapan kaget dari Sasuke. "Hinata?" tanyanya

"Ya, Hyuuga Hinata. Kau ingat kan? Murid Kurenai-sensei sewaktu genin dulu." Jelas Sakura. Sedikit takut Sasuke melupakan segala kenangan mereka saat genin dulu.

"Ya, aku tahu." Jawab Sasuke. "Gadis yang selalu gagap itu?" ingin rasanya Sakura tertawa mendengar perkataan Sasuke namun karena ia tahu itu tidak sopan ia hanya mengangguk saja.

"Kupikir jikalau si dobe itu menikah, dia akan menikah denganmu."

DEG

Kali ini perkataan Sasuke benar-benar menohoknya. Tanpa aba-aba ia kembali menangis tanpa sesaat sebelum akhirnya Sasuke mengeluarkan suaranya.

"Kau... menyukai Naruto?"

"Maaf bisa tolong pembicaraan ini dihentikan?" Sambil berkata parau ia mengusap air matanya. Sedikit merasa bersalah Sasuke hanya terdiam.

Sementara Sakura yang merasa kesal karena perasaannya dipermainkan berusaha bangkit berdiri. Ia berniat pergi dari gua itu selamanya. Ia lebih baik mati di hutan daripada berada dalam keadaan awkward dengan pembicaraan yang makin mengacaukan hatinya. Namun usahanya gagal. Kakinya yang terluka parah tak dapat menyangga tubuhnya. Sesaat sebelum ia jatuh menyentuh tanah sebuah tangan besar dengan sigap menahannya. Sakura hanya menangis tanpa suara ketika Sasuke menggendongnya secara bridal style.

Baju merah yang dikenakannya sobek di beberapa tempat akibat ledakan yang sebelumnya terjadi. Perban yang ada di kaki dan tangannya terlihat berantakan. Terlihat sekali jika Sasuke berusaha keras memasang perbannya namun gagal karena ia tak memiliki keterampilan yang cukup. Masih berada di gendongan Sasuke, Sakura mengusap air matanya gusar. Sedikit tak menyangka Sasuke akan menggendongnya. Rambut pink panjangnya menjuntai di sisi kepalanya..

"Maaf." Sesaat Sakura tak percaya pada pendengarannya. Hingga akhirnya ia mendengar Uchiha Sasuke yang kini tengah menggendongnya mengulangi perkataannya. "Maafkan aku Sakura." Seketika Sasuke membaringkan Sakura kembali ke atas sleeping bag yang tadi digunakannya. Tangannya memeluk gadis pink itu dengan lembut.

Tanpa bisa berkata-kata Sakura hanya menangis, membenamkan kepalanya ke dada bidang Sasuke. Tanpa sadar ia mengangguk lalu menatap mata onyx Sasuke. "Tak ada yang perlu dimaafkan." Lanjutnya seraya tersenyum. Mata onyx Sasuke menatap serius mata Sakura. Perlahan ia mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Dan entah sejak kapan, bibir mereka saling menempel satu sama lain. Keduanya memejamkan mata seolah menikmati ciuman mereka. Kali ini Sasuke yang memulai, ia menggigit bibir bawah Sakura seolah meminta izin untuk memasuki mulutnya. Sakura mengizinkannya dengan senang hati. Kali ini yang bertindak bukanlah pikiran logisnya melainkan perasaan yang telah dipendamnya selama dua puluh tahun lebih.

Dengan perlahan Sasuke memasukkan lidahnya ke mulut Sakura. Mengobrak abrik apa yang ada di dalamnya. Mengabsen satu-persatu gigi yang ada disana. Sementara Sakura hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi yang ditimbulkan oleh ciuman Sasuke yang ternyata sangat nikmat itu. Sasuke memang lihai mencium wanita. Tangannya tanpa sadar telah bergerak menyentuh hakama putih Sasuke, menurunkan kerahnya hingga akhirnya hakama itu terlepas. Menampilkan Sasuke yang telah bertelanjang dada. Sementara Sasuke semakin kalap menjalankan aksinya ketika ia merasakan tangan Sakura yang telah berhasil membuka hakamanya. Ia tahu, ia membutuhkan lebih dari ini. Inilah yang ternyata ia tunggu-tunggu selama ini. Tangan kirinya masih menyangga kepala Sakura untuk tetap pada posisinya sementara tangan kanannya membuka zipper yang ada di depan baju gadis itu dengan tidak sabar hingga bra hitam yang dikenakan Sakura terlihat jelas. Setelah zipper itu terbuka sepenuhnya, ia memasukkan tangannya ke dalam dan menaikkan bra itu keatas sehingga memperlihatkan kedua dada besar Sakura yang dihiasi puting kemerahan disana.

Merasa sedikit terancam Sakura melepaskan ciuman Sasuke dan bergerak mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Dengan terburu-buru ia merapikan branya dan kembali menaikkan zipper baju nya. Terlihat sekali jika Sasuke sangat kecewa atas tindakannya. Namun akhirnya ia buka suara, sedikit sulit karena bibirnya membengkak akibat ciuman panas tadi. "Maaf Sasuke. Kurasa kita tidak boleh melakukannya lebih jauh dari ini." Wajahnya memerah mengingat kejadian tadi. Ia kesal karena bisa-bisanya ia terbawa suasana tadi. Apa yang akan dipikirkan orang jika mereka tahu ia baru satu hari bertemu Sasuke dan sudah melakukan hal yang tidak-tidak? Bagaimanapun juga ia bukanlah tipe gadis yang melakukan hal itu tanpa ikatan perkawinan. Ia ingin menghadiahkan keperawanannya pada suami yang benar-benar mencintainya kelak.

Sedikit merasa bersalah karena telah terbawa nafsu Sasuke menundukkan kepalanya. "Maaf." Astaga, mungkin hari ini adalah hari dimana Sasuke mengucapkan kata maaf terbanyak dalam hidupnya. Ia sudah mengucapkannya tiga kali hari ini. Dan ketiganya pada orang yang sama. Lucu. Ada apa denganmu Sasuke?

"Tak apa, aku juga sempat terbawa suasana tadi." Jawab Sakura sedikit awkward akibat kejadian tadi. Mereka kini duduk berdampingan.

"Saat ini, kita berada di posisi yang sama." Gumam Sasuke. Sakura hanya berusaha mendengarkan. Sedikit penasaran pada apa yang akan dikatakan oleh sang Uchiha di sebelahnya ini. "Kau dan aku." Sasuke menghentikan perkataannya sebelum melanjutkannya kembali. "Tak lagi mempunyai apa-apa di dunia ini." Sakura kembali tertegun, benar apa yang dikatakan Sasuke. Ia sudah tak punya apa-apa lagi. Keluarga-nya, Naruto-nya, semuanya... ia tak yakin ia bisa kembali ke Konoha dan bersikap seolah tak ada apa-apa setelah ia menyampaikan perasaannya lewat surat pada Naruto. Jangan-jangan jika ia kembali, rumah tangga Naruto dan Hinata yang harusnya bahagia malah jadi kacau balau. Jelas ia tak dapat lagi kembali ke Konoha. Tapi... apalagi yang ia punya? Semua yang ia miliki ada di Konoha. Sejak awal ia menjalankan misi yang diberikan Tsunade toh ia sudah berniat untuk mengorbankan dirinya sendiri.

"Ya. Kau benar Sasuke. Kita tidak punya apa-apa lagi." Jawab Sakura. Matanya menerawang.

"Berada di kegelapan tanpa tahu arah tujuan." Sakura menyadari betapa melankolisnya Uchiha Sasuke sekarang. Apakah pengalaman pahit yang telah dialaminya berhasil membuatnya menjadi seperti ini?

"Aku bosan berada di kegelapan." Kali ini kata-kata Sasuke berhasil membuat Sakura terlonjak. "Aku muak dengan dendam."

"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya Sasuke?" Sakura sedikit penasaran.

"Tidak. Aku hanya berpikir aku ingin mengubah cara hidupku." Ujarnya serius. Mata onyxnya menatap Sakura serius. "Aku ingin bahagia. Aku tidak ingin sendirian lagi."

Bluntness yang diucapkan Sasuke ini sukses membuat Sakura terharu. Ia mulai membayangkan betapa sulitnya hidup dalam kegelapan seorang diri. Sedikit mengasihani Sasuke, ia menggerakkan tangannya mengelus rambut hitam pujaan hatinya.

"Sakura..." Sasuke menggenggam tangan Sakura yang tadi mengelus kepalanya. "Bantu aku mengembalikan klan Uchiha. Menikahlah denganku." Ucapannya lebih terdengar sebagai perintah dibanding permohonan. "A..." Sakura tak bisa menahan tangisnya. Ia menutup mulutnya dengan tangannya. "Mungkin memulai hidup baru di suatu desa tidaklah buruk." Ujar Sasuke. "Hanya ada kita berdua, hidup dalam damai, meninggalkan medan perang..." Tangis Sakura semakin tak terbendung. "Membangun keluarga dengan tiga atau empat anak mungkin."

Tapi kini hatinya kembali bimbang. Bagaimanapun juga setelah semua yang dialaminya tidak mungkin ia menerima lamaran Sasuke dengan mudah, lain halnya jika Sasuke melamarnya saat ia masih tergila-gila padanya dulu. Saat ini, posisi Naruto masih ada di hatinya. Dan itu tak bisa digantikan. Oleh Sasuke sekalipun.

"Hentikan. Jangan bicara apapun lagi." Sakura menutup telinganya. Hal ini berhasil membuat Sasuke shock bercampur kecewa. "Kumohon bangunkan aku. Aku tak mau lagi berharap." Sedikit miris karena sikap Sakura saat ini merupakan akibat tindakannya dulu. Sasuke memeluk erat Sakura. "Ini bukan mimpi. Kau sudah bangun dari tadi." Ia mengangkat dagu Sakura berusaha menatap mata emerald yang masih dipenuhi air mata itu. "Tak perlu lagi berharap Sakura."

Sakura mengusap gusar air matanya. "Semuanya tak sama seperti dulu Sasuke." Ia menajamkan pandangannya menatap Sasuke. "bagaimanapun juga aku tak bisa langsung menerimamu." Ujarnya parau. "Kau tahu? Setiap kali mengingatmu, hatiku sakit. Setiap kali mendengar suaramu pikiranku kosong. Kau tidak tahu, bagaimana aku dihantui bayanganmu setiap malam. Kau tak tahu, aku rela menghirup bunga Tsubaki hanya untuk berhalusinasi tentang dirimu." Kini tangisnya tak tertahankan lagi. "Kau telah menjadi trauma bagiku."

Sasuke hanya menundukkan kepalanya terdiam. "Kumohon, beri aku waktu untuk mengembalikan semuanya."

"..."

"Semuanya tak kan sama seperti dulu, Sasuke..." bibir Sakura bergetar. "Kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi."

Sasuke menarik wajah Sakura dengan tangannya. Memaksanya untuk menatap mata onyxnya yang berkilat. "Kita memang tidak akan kembali seperti dulu." Sakura hanya terdiam ketika Sasuke mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Kita akan memulai dari awal. Memulai lembaran yang baru" Sasuke melepaskan tangannya dari wajah Sakura kemudian bergerak menjauh."Lupakan diriku yang dulu. Anggap saja kau baru mengenalku hari ini." Ujarnya.

"Hahaha... kau lucu sekali." Sakura tertawa miris. "Itu lah yang selama 10 tahun terakhir ini telah kucoba." Ia tersenyum tipis menatap Sasuke. "Setiap hari dalam kurun waktu 10 tahun terakhir aku selalu mencoba melupakanmu. Bahkan pernah beberapa kali aku berniat menjadikan Naruto sebagai pelarianku." Sasuke hanya terkesima dengan pernyataan Sakura yang terdengar begitu jujur saat ini. "Tapi kau tahu apa yang terjadi?" Sakura menutup mata emeraldnya seolah mengingat segala yang pernah ia lakukan untuk melupakan Sasuke. "Semakin keras aku berusaha melupakanmu, semakin besar pula rasa cintaku padamu." Mata onyx Sasuke membelalak lebar saat ini. "Kalau kau begitu mencintaiku, kenapa kau menolak lamaranku?" tanyanya heran. Ia semakin tak mengerti pola pikir Sakura.

Gadis pink ini hanya berujar pelan. "Kau tahu Sasuke, Manusia bisa tahan jika ia disakiti dan dikecewakan akan tetapi setiap manusia mempunyai batas ketahanan sendiri. Jika batas itu terlewati, bukan hanya pikiran saja yang dipengaruhi melainkan juga hati dan perasaan."

"..."

"Aku merasa batasku sudah terlampaui olehmu." Sakura membuka matanya kembali. "Kini, bukan lagi perasaan bahagia ataupun perasaan suka atau cinta yang muncul seperti dulu saat aku berada berdekatan denganmu." Entah kenapa Sasuke semakin merasakan perasaan aneh ketika melihat ekspresi Sakura saat ini. "Entahlah... saat ini aku bahkan tak bisa mendeskripsikan perasaanku padamu. Terlalu rumit untuk dijelaskan. " Sakura mengangkat kepalanya mendekatkan diri dengan Sasuke yang ada di sebelahnya.

"Sebagian dari diriku yang tersimpan di lubuk hatiku terdalam ternyata tetaplah gadis kecil yang tergila-gila padamu. Namun, sebagian lagi dari diriku adalah Haruno Sakura yang lain, Sakura yang menyimpan rasa benci dan muak padamu. Sebagian lagi adalah Sakura yang lemah, cengeng, dan penakut. Ia takut akan tersakiti lagi olehmu."

Ya, aku tidak bisa menganggap tidak terjadi apapun diantara kita

Aku tidak bisa melupakan semuanya

Kau sudah menjadi trauma bagiku, Sasuke.

Berbagai pikiran muncul di benak Sakura.

Apa yang kau pikirkan Sakura? Yang ada di sampingmu saat ini adalah Uchiha Sasuke yang kau cintai sejak 20 tahun yang lalu. Jangan pikirkan apapun lagi! Terima saja lamarannya! Bukankah ini yang selalu kau impikan sejak dulu? Apakah salah jika kau memulai hidup baru dengannya? Bukankah kau tak punya apa-apa lagi?

Kau benar... tidak ada salahnya aku memulai yang baru...

Apa kau mau seperti dulu Sakura? Disakiti, dipermainkan, tak dianggap, tapi kau tetap berharap selama hampir 20 tahun? Tapi apa yang terjadi? Dia bahkan tak pernah menerima cintamu.

Tangan Sakura terkepal keras ketika memikirkan kata-kata yang muncul dalam benaknya.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus pergi darinya?

Sambil berujar pelan, Sasuke melontarkan pertanyaan yang membuat Sakura terlonjak. "Jika kau berpikir untuk pergi meninggalkanku. Kau bodoh Sakura."

"Kau akan mati jika pergi dengan kondisi terluka seperti itu. Belum lagi kau kehabisan chakra saat ini. Dan tak ada yang tahu kapan chakramu bisa kembali seperti dulu." Ujar Sasuke.

Sakura hanya mengangkat bibirnya sedikit. "Jadi, dengan kata lain saat ini kau menjadikanku sebagai tawananmu Uchiha?"

"Tidak. Aku hanya menjelaskan kebenaran padamu."

"..."

"Baiklah. Setidaknya beri aku waktu untuk berpikir." Akhirnya Sakura menyerah.

"Hn..."

-TSUZUKU-


Pasti udah mulai ketebak ya jalan ceritanya? hoho saya akan membuat kejutan di chapter depan. Jadi persiapkan mental kalian! (apa sih?)

Terima kasih sudah mau membaca!

Regards,

Akina Takahashi