Halo, halo akhirnya saya kembali lagi di fanfic galau ini.

Sekali lagi saya peringatkan bagi yang tidak suka cerita dramatis ala sinetron atau drama korea sebaiknya segera tekan tombol back yang ada di pojok kiri browser kalian karena saya yakinkan fanfic saya ini mengandung unsur dramatis yang terkesan lebay yang mungkin akan membuat kalian pusing membacanya.

Oh, sedikit cuap-cuap dari saya nih, buat kalian yang ga suka pairing ini sebaiknya jangan membaca fanfic ini, kalaupun mau, jangan menghujat pairing di review ya. Saya paling tidak suka dengan war pairing karena saya menghormati semua pairing yang ada di fandom Naruto, se-crack apapun itu. Jadi tolong ya hormati pairing yang telah ada.

Di chapter ini mulai terlihat pairing yang sebenarnya itu apa. Jadi jangan ada yang bingung atau protes lagi ya.

Dan buat oknum-oknum tertentu yang mereupload fanfic Love Always Comes Late di website lain tanpa sepengetahuan saya, saya mohon untuk segera menghentikan kegiatan Anda. Saya mohon untuk menghormati saya sebagai Author yang memiliki hak cipta dari jalan cerita fic ini (hanya jalan cerita saja lho). Saya menulis fanfiction hanya untuk kesenangan dan kepuasan belaka, saya tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari fanfiction ini jadi saya mohon untuk menghormatinya ya. Jikapun Anda ingin mereupload fanfiction saya sebaiknya segera PM saya. Jika alasan Anda bagus dan Anda menyertakan nama dan link profil saya sebagai Author saya pasti mengizinkan dengan senang hati kok.

Terima kasih buat readers yang rela menunggu kelanjutan fanfiction ini... maaf telah membuat kalian semua menunggu. Kesibukan saya di dunia nyata benar-benar menghalangi saya untuk mengupdate fic ini.

AN: di chapter ini Sasuke terkesan OOC karena emosinya yang labil (tapi di manganya juga dia labil kan?) tapi sudah saya kurangi sebisa saya kadar OOC-nya, karena saya juga tidak ingin melakukan pembunuhan karakter. Jadi tolong dipahami ya ...

Kalau ceritanya sih memang makin galau dari chapter ke chapter... seiring dengan kegalauan saya yang meningkat ketika menyusun bab baru dari skripsi (tugas akhir) saya. Maklum lah mahasiswa tingkat akhir memang kerjaannya kalau ngga labil, ya galau. Hahaha (Apa sih?)

Nah, akhir kata... Selamat menikmati!

Regards,

Akina Takahashi


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T+

Pairing: SasuSaku & NaruHina

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, Dramatic, NO LIME di chapter ini, Mood swing, Galau, Emosi yang labil dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 11: Ikatan

"Sakura! Sakura!"

Sebuah tangan besar mengguncang tubuh Sakura.

Mata emerald Sakura terbuka perlahan. Ia menatap sayu pemuda yang mendekapnya. "Sasuke? Kaukah itu Sasuke-kun?"

"Bangunlah. Kau bermimpi buruk tadi."

"Ini bukan mimpi kan?" Sakura menggerakkan tangannya menyentuh pipi putih Sasuke perlahan, mengusapnya, memegang rambut hitam pemuda tampan itu.

"Tentu saja bukan." Sasuke menghentikan tangan Sakura yang menyentuh pipinya.

Tanpa basa-basi Sakura segera memeluk pemuda itu erat. "Sasuke-kun... Sasuke-kun..." ia sudah tidak peduli lagi pada dirinya yang terlihat sangat pathetic sekarang. Ia hanya membutuhkan Sasuke-kun nya.

"..." Sasuke hanya terdiam, membiarkan Sakura memeluknya. Ia membalas pelukan gadis itu. Mengusap rambut pinknya perlahan berusaha menenangkan gadis yang sepertinya baru saja mendapat mimpi yang sangat buruk seumur hidupnya itu.

.

.

"Sasuke-kun..." panggil Sakura ketika ia merasa lebih tenang.

"Hn?"

"Aku menerima lamaranmu." Sakura menatap dalam mata onyx Sasuke. "Nikahi aku." Pintanya tanpa ragu.

"Kenapa kau tiba-tiba saja berubah pikiran?" tanya Sasuke heran.

"Tidak ada apa-apa." Sakura menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Karena hanya dengan cara inilah semuanya akan terselesaikan tanpa menyakiti siapapun lagi. Sakura kembali mencengkram erat haori yang dikenakan Sasuke ketika bayangan wajah Hinata yang telah menjadi mayat kembali muncul di benaknya.

"Pikirkan kembali baik-baik, Sakura..."

Sakura menarik napas panjang sembari menutup matanya seolah berusaha memikirkan kembali keputusannya. Bayangan Hinata yang muncul di nightmare nya semalam kembali mengganggunya. Tubuhnya bergetar saat ingatan itu kembali muncul.

"Ini pilihanku, Sasuke-kun." Sakura mengangguk pelan. "Aku akan berusaha mencintaimu seperti sewaktu kita masih menjadi genin dulu. Aku akan berusaha meyakinkan diriku yang lain untuk tetap mencintaimu. Lagi."

"..."

"Dan kali ini, jika kau pergi dariku lagi..." suara Sakura kembali bergetar. "Aku akan hancur."

Kalimat terakhir yang diucapkan Sakura berhasil membuat seorang Uchiha Sasuke membeku. Ia tersentak, ketika ia menyadari saat ini gadisnya sedang berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Dan ini adalah akibat dari kesalahannya dulu.

Dengan suara pelan, Sasuke berbisik di telinga Sakura. "Hn... percayalah padaku." Sakura kembali membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Tangannya yang masih mencengkram haori Sasuke kembali bergetar. "Arigatou... Sasuke-kun"

.

.

.


Love Always Comes Late


.

.

"Kiba! Apa kau sudah menemukan jejak Sakura-chan?" Naruto segera melompat ke arah Kiba. Wajahnya terlihat panik. "Aku tidak bisa mendeteksi chakranya sama sekali padahal aku sudah menyebar bunshinku ke segala penjuru."

Saat ini mereka tengah berada di hutan terlarang yang terletak di perbatasan antara Suna-gakure dan Konoha-gakure. Matahari mulai beranjak dari langit menuju ke peraduannya, menandakan bahwa malam akan segera tiba. Hal ini semakin membuat panik Naruto karena hal ini menandakan bahwa satu hari kembali terlewat dengan sia-sia. Sudah hampir satu minggu mereka menelusuri jejak Sakura, namun hasilnya nihil.

"Aku dan Akamaru tidak menemukan jejak apapun yang tersisa disini." Kiba mengangkat bahu. "Sepertinya misi kali ini akan berakhir sia-si-" kata-kata Kiba terhenti ketika Naruto dengan penuh emosi mencengkram kerah baju si pemuda anjing itu. "Jangan pernah mengatakan hal itu di depanku!" teriak Naruto gusar. "Sakura-chan masih hidup dan aku pasti akan menemukannya!"

"Yare-yare..." Shikamaru tiba-tiba saja muncul diantara mereka berdua. Berusaha memisahkan Kiba dan Naruto. "Dinginkan kepala kalian." Ujarnya dengan nada serius. Sementara Neji dan Hinata yang berada tidak jauh dari mereka hanya terdiam. Sesaat Neji melihat tangan Hinata mengepal erat. Ya, ia sangat paham bagaimana perasaan sepupunya saat ini. Bagaimanapun juga melihat suaminya berjuang begitu keras untuk menyelamatkan gadis lain bukanlah hal yang menyenangkan bagi Hinata.

Neji menarik tangan Hinata untuk menjauh dari tempat itu. Memberi isyarat bahwa ia ingin membicarakan hal yang serius dengan sepupunya itu. Hinata hanya pasrah saat Neji menariknya menuju ke belakang batang pohon oak yang berukuran sangat besar.

"Jadi... apa kau telah berhasil memutus rantai cinta yang dulu pernah kau katakan?"

Pertanyaan Neji benar-benar membuat Hinata tersentak. "Untuk saat ini memang masih belum ta-tapi..."

Neji segera memotong perkataan Hinata. "Bagaimana jika kau tidak berhasil?"

Mata lavender Hinata membulat. "Ak-aku akan berusaha hingga aku berhasil... tidak peduli sampai kapan aku... aku... aku akan berusaha keras membuat Naruto-kun mencintaiku."

Neji tersenyum lembut ketika melihat sikap optimis Hinata. "Berjuanglah." Ia mengusap kepala sepupu terdekatnya itu. "Kalau sampai si baka Naruto itu menyakitimu, aku akan membunuhnya." Hinata sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Neji. Tapi ia yakin kalau perkataan tadi hanyalah gertakan belaka dan lagipula ia yakin bahwa Naruto tidak akan mungkin pergi meninggalkannya.

Benar kan? Kau tidak akan pergi meninggalkanku kan Naruto-kun?

.

.

"Naruto, ada yang ingin kubicarakan denganmu." Neji menatap Naruto dengan serius. Api unggun yang menjadi satu-satunya penerangan mereka saat ini menerangi wajah pemuda tampan itu. Saat ini mereka yang bertugas untuk berjaga di sekitar tenda tempat persembunyian mereka sementara Shikamaru, Kiba, dan Hinata kini tengah terlelap di tendanya masing-masing.

"Ada apa Neji?"

"Bagaimana sebenarnya perasaanmu pada Hinata?" Naruto tertegun, ekspresi wajahnya mengeras. Ia tak berani menatap mata Neji secara langsung. "Apa kau mencintainya?"

"Neji, aku..." Perkataan Naruto segera terpotong oleh Neji. "Jawab pertanyaanku Naruto."

"Jujur saja saat ini aku bahkan tidak mengerti perasaan apa yang kurasakan terhadap Hinata." Kali ini Naruto menjawab dengan jujur. Ia tidak ingin berbohong pada siapapun kali ini. "Kau tahu kan? Aku mencintai Sakura sejak dulu. Perasaan itu masih ada... bahkan hingga saat ini." Naruto memberanikan dirinya menatap Neji. "Tapi aku akan berusaha keras untuk menghilangkan perasaanku pada Sakura dan mencintai Hinata dengan setulus hatiku. Bagaimanapun juga Hinata adalah istriku"

"Kalau kau tidak mencintai Hinata, kenapa kau melamarnya?!" Neji mencengkram kerah baju Naruto. Byakugannya berkilat marah.

BUAGG

Ia mengepalkan tinjunya, memukul wajah Naruto hingga hidungnya mengeluarkan darah.

Naruto yang terlalu kaget tak sempat untuk membela diri. Ia jatuh tersungkur sambil memegangi hidungnya yang berdarah. "Jangan menjadikan sepupuku sebagai pelarianmu!" Neji masih terlihat tak bisa menahan emosinya. "Kalau kau sampai menyakitinya... aku tidak akan segan-segan membunuhmu."

Naruto hanya terdiam. Tak berani mengatakan apapun lagi. Semua perkataan Neji adalah fakta. Memang benar faktanya ia hingga saat ini masih mencintai Sakura, memang benar bahwa ia menikahi Hinata hanya karena ingin lari dari kenyataan, memang benar bahwa ia mungkin akan menyakiti Hinata jika ia seperti ini terus. Naruto menatap punggung Neji yang berjalan menjauh darinya untuk memasuki tenda yang ada di belakangnya.

Tanpa ia sadari ada sepasang mata amethyst yang mengamatinya dari balik tenda. Mata itu mengeluarkan air mata hingga membasahi wajah putih pemiliknya.

"Naruto-kun..."

.

.


Love Always Comes Late


.

.

Sasuke berjalan membelakangi Sakura. Membiarkan gadis itu terpana sesaat ketika melihat punggungnya yang tegap dan tampak berkilauan di matanya. Sakura menghela napas panjang, terakhir kali ia melihat punggung pemuda itu adalah saat sang Uchiha terakhir memilih pergi untuk meninggalkannya. Masih tergambar jelas di benaknya bagaimana ia menangis memohon pada pemuda itu agar tidak pergi meninggalkan Konoha, mengatakan perasaan cintanya, seolah itu bisa menghentikan langkah sang pemuda untuk pergi. Namun bagaimanapun ia berusaha, pemuda dingin itu takkan pernah mendengarnya. Entah sejak kapan Sakura merasa hatinya berdenyut nyeri ketika memikirkan hal itu.

"Selamat datang, Uchiha Sasuke-sama" lamunan Sakura terhenti ketika ada suara yang mengagetkannya.

"Hn..." Sekilas ada senyum tipis yang tersungging di bibir sang Uchiha. "Hisashiburi... Neko-baa." Sapanya kepada sesosok kucing ninja yang baru saja menyapanya. Sakura sedikit kaget ketika melihat sesosok kucing yang bisa bicara baru saja menyapa Sasuke. "Ohayou gozaimasu." Sakura membungkukkan badannya memberi hormat pada kucing itu. Memang bukan hal yang aneh melihat binatang yang bisa bicara. Contohnya saja, Pakkun anjing milik Kakashi, Gamabunta milik Naruto, dan Katsuyu milik Tsunade. Namun tetap saja bagaimanapun juga Sakura tetap merasa kaget melihat sosok kucing yang bisa bicara ini. Sakura menatap kucing hitam bermata emas kemerahan dengan bingung.

"Ada keperluan apa Anda datang kemari?" tanya sang kucing. Matanya mendelik tajam menatap Sakura dengan tatapan tidak suka. Sekilas Sakura merasakan hal yang sangat tidak enak ketika melihat mata kucing itu. Tiga tomoe yang berputar di matanya menandakan bahwa ia bukan kucing sembarangan. Ya benar, mata itu adalah... Sharingan.

Sasuke tiba-tiba saja maju menghalangi sang kucing untuk menatap Sakura lebih jauh lagi. Ia menepuk pelan kepala si kucing hitam itu. "Jangan gunakan Sharinganmu terlalu sering Neko-baa." Kini ia kembali mengusap pelan kucing yang berdiri di atas tembok di depan rumah peristirahatan milik klan Uchiha yang terletak di pinggir Ame-gakure ini. "Mulai hari ini, Aku dan Sakura akan tinggal disini."

Neko-baa terlihat sangat menikmati sentuhan Sasuke di kepalanya. Sangat terlihat bahwa ia sangat menyukai pemuda itu. Mungkin karena itulah ia merasa sedikit cemburu pada Sakura tadi. "Oh, jadi nona ini yang akan menjadi pasangan Anda, Sasuke-sama?" Matanya menatap sinis Sakura.

Sakura merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Ia tanpa sadar mencengkram haori Sasuke dari belakang. Rasa gugupnya tiba-tiba saja hilang ketika Sasuke menarik tangannya kemudian menggenggamnya erat. "Ya benar. Oleh sebab itu kau harus bersikap baik padanya, Neko-baa." Sedikit kesal Neko-baa menggeram pelan. "Dia yang akan membantuku membangun kembali klan Uchiha." Kalimat terakhir yang diucapkan Sasuke sukses membuat Sakura membeku. Wajahnya memerah, "Sas... Sasuke-kun!" sementara Neko-baa kembali menatap Sakura dengan pandangan tidak suka sebelum akhirnya ia pergi melompat ke pohon yang ada di dekatnya.

Sasuke hanya tersenyum simpul melihat hal itu. Ia berjalan memasuki mansion kuno yang terlihat mewah yang ada di hadapannya. Sakura berjalan tergopoh-gopoh berusaha mengimbangi langkah Sasuke yang jauh lebih cepat darinya. Sejenak mata hijau emeraldnya mengamati keadaan mansion yang sepertinya sudah lama tidak dihuni itu. Suasana tradisional jepang yang sangat terasa serta bunyi bambu yang beradu akibat aliran air di kolam ikan koi yang terletak di halaman mansion membuat Sakura merasa nyaman. Ia segera melepas sepatu boots hitamnya dan menggantinya dengan geta kayu kemudian berlari kecil menyusul Sasuke yang telah lebih dulu masuk ke dalam.

"Ini adalah salah satu rumah peristirahatan milik klan Uchiha." Ucap Sasuke seolah mengerti ekspresi wajah Sakura yang kebingungan. "Dulu ayah dan Ibuku sering datang kesini." Sakura merasa hatinya berdenyut. Ia sangat tidak suka jika Sasuke mengungkit kembali keluarganya, klannya, atau apapun yang terkait dengan pembataian klan Uchiha. Hal itu sangat menyakitkan, baginya dan tentu saja bagi Sasuke.

"Klan kami membantu Ame-gakure untuk menghentikan pemberontakan yang terjadi saat itu. Mansion ini adalah tanda terima kasih mereka pada ayahku sebagai pemimpin klan Uchiha." Sekilas Sakura dapat melihat mata hitam onyx Sasuke meredup beberapa saat. Ia yakin bahwa saat ini Sasuke sedang tidak ingin mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Tapi entah kenapa pemuda yang ada di hadapannya ini masih saja melanjutkan ceritanya. "Sebagai rasa hormat mereka selalu mengirimkan petugas untuk merapikan dan membersihkan mansion ini." Perkataan terakhir Sasuke berhasil membuat rasa penasaran Sakura hilang seketika. Ia menjelaskan semua yang menjadi pertanyaannya secara singkat dan jelas.

Sakura hanya mengangguk kecil. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sebelum matanya membelalak lebar ketika melihat sebuah potret kuno yang terpampang di dinding. Potret keluarga yang terlihat sangat bahagia. Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto serta kedua anak mereka yang tersenyum tulus. Walaupun terlihat sebagai sosok pemimpin yang dingin dan tegas namun sorot mata Fugaku memancarkan tatapan yang lembut saat ia memandang istri dan kedua anaknya. Itachi yang berdiri di samping ayahnya terlihat dewasa, walaupun umurnya mungkin baru dua belas tahun saat foto itu diambil. Sementara Mikoto terlihat sebagai seorang istri yang sempurna. Cantik, baik hati, dan sangat lemah lembut terlihat jelas bahwa ia sangat menyayangi kedua anaknya. Sasuke kecil terlihat sangat bahagia di gendongan ibunya, ia tertawa lepas sambil memeluk lengan ibunya.

"..." Sakura hanya terdiam. Ia meremas ujung baju merahnya. Sial. Kenapa ia melankolis sekali sih hari ini? Harusnya bukan dia yang merasa sakit hingga ingin menangis. Sakura segera melangkahkan kakinya pergi dari ruang tamu sambil menarik ujung baju Sasuke, tak ingin membiarkannya kembali mengingat kejadian pahit itu lagi. "Bisa tunjukkan padaku dimana kamarnya?"

"Hn..." Sasuke hanya bergumam pelan. Ia tahu apa penyebab Sakura tiba-tiba saja mengajaknya pergi. Konyol jika Sakura mengira ia tidak melihat potret keluarganya yang terpampang jelas disana. Sharingan bahkan bisa melihat aliran chakra seseorang apalagi sebuah potret besar yang terpampang jelas di satu hal yang ia tidak mengerti. Kenapa gadis itu bisa merasakan apa yang ia rasakan saat ini? Kenapa bahkan disaat ia sudah mati rasa, gadis itu masih bisa merasakan perasaan sakit itu? Kenapa? Padahal gadis itu tidak punya jurus manipulasi jiwa seperti milik Yamanaka Ino. Kenapa? Pikiran itu terus berputar di kepalanya. Kali ini bahkan si jenius Uchiha Sasuke tidak mengetahui jawabannya.

Langkah Sasuke berhenti ketika ia melihat Sakura menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. "Aku akan menyiapkan futon untukmu beristirahat, setelah itu aku akan membuatkanmu makan malam." Dengan segera ia membuka lemari yang ada di hadapannya. Mengeluarkan gulungan futon berukuran sedang dari dalamnya. Sasuke segera menyusulnya, mengangkat futon yang cukup berat itu dengan sebelah tangan. Sakura hanya tersenyum kecil "Terima kasih." Setelah futon terpasang dengan baik ia segera melangkah ke dapur untuk memasak. "Tidak ada bahan makanan di dapur." Perkataan Sasuke menghentikan langkah Sakura. Ia berbalik menghadap Sasuke, menepuk dahinya pelan "Ah, benar juga." Sasuke hanya tersenyum tipis melihat tingkah Sakura yang menurutnya unik ini. "Kita akan makan diluar. Sebaiknya kau segera mandi dan bersiap-siap."

Sakura mengangguk pelan. Ya, mandi berendam di ofuro memang hal yang sangat ia butuhkan saat ini untuk menjernihkan pikirannya. "Di lemari pakaian ada kimono milik ibuku. Kau bisa memakainya jika kau mau." Sasuke menunjuk lemari pakaian yang terletak di ujung ruangan. Sakura segera berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan Sasuke. Mengambil beberapa potong pakaian yang ia butuhkan kemudian segera melesat menuju ke kamar mandi.

.

.

Sakura baru saja muncul dari kamar mandi saat Sasuke hendak memanggilnya. Kimono merah muda dengan motif bunga sakura yang dikenakannya terlihat sangat pas di tubuh gadis itu. Rambut pinknya yang sedikit basah digelung ke belakang. Malam ini ia tampak sangat anggun, bahkan di mata Sasuke yang dulu biasanya tidak pernah tertarik pada wanita atau apapun namanya itu. Ia terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara membalas dendam hingga lupa pada hal lain.

"Kau sudah mandi, Sasuke-kun?" pertanyaan Sakura kembali menyadarkan Sasuke dari lamunannya. "Hn... aku baru berendam di onsen yang ada di halaman belakang tadi." Jawabnya. Sakura mengangguk, mata hijaunya menatap Sasuke yang telah berganti baju dengan yukata biru muda dengan lambang kipas di bagian belakangnya. Rambut hitamnya terlihat sedikit basah, menambah kesan dewasa pada pemuda itu. Wajahnya lebih segar dan tampan dibandingkan sebelumnya.

"Ayo pergi..." Sakura menarik pelan yukata Sasuke. Membimbingnya pergi meninggalkan mansion itu.

"Hn..."

.

.

Suasana malam di Ame-gakure sedikit berbeda dengan suasana di Konoha-gakure. Jalanan terlihat lebih sepi, tak ada hingar bingar seperti yang ada di tengah kota pada umumnya. Hujan rintik-rintik menambah kesan romantis malam ini. Hujan memang merupakan hal yang sangat biasa di Ame, hampir setiap hari kota ini dilanda hujan baik deras maupun rintik-rintik seperti sekarang ini.

Sasuke dan Sakura berjalan menuju ke restoran yakiniku yang terletak beberapa meter di hadapan mereka. Sasuke memegang payung biru berlambang Uchiha, membaginya dengan Sakura. Berharap gadis itu tidak basah terkena hujan. Sementara wajah Sakura yang merasa tubuh Sasuke berada sangat dekat dengannya hanya memerah malu. Mungkin saat ini perasaan yang muncul di hatinya adalah perasaan ketika ia masih menjadi fangirl Sasuke saat berada di akademi dulu. Sudah lama ia tidak merasakan ini, dan ia sangat menyukainya. Ia tahu, tak lama lagi ia akan kembali jatuh ke pesona pemuda Uchiha yang ada di sampingnya ini.

Lagi.

Dan kali ini ia tidak akan menolak perasaan itu. Bagaimanapun saat ini Tuhan telah berbaik hati padanya. Tuhan telah menjawab doa-doanya dulu.

Sasuke mempersilakan Sakura untuk segera duduk di bangku yang terletak di dalam restoran yakiniku yang baru saja dimasukinya ini. Sakura tersenyum kecil kemudian mendudukkan dirinya di bangku yang posisinya berhadapan dengan Sasuke yang baru saja duduk di hadapannya. "Silakan, Anda mau pesan apa tuan?" tanya pelayan yang baru saja datang ke meja mereka.

"Yakiniku dua." Jawab Sasuke singkat. "Ah, aku ingin Anmitsu dan Channyaku! Kau mau juga Sasuke-kun?" Sakura segera menambahkan. "Tidak. Aku tidak suka makanan manis. Beri aku ocha saja."

"Baik. Pesanan akan segera kami antar. Silakan tunggu sebentar."

"Hn..."

"Waah, aku suka suasana malam disini... sepi, nyaman, dan menyenangkan." Sakura tersenyum kecil. Ia sedikit salah tingkah ketika melihat mata onyx Sasuke menatapnya dengan serius. Ia tidak suka ketika Sasuke menatapnya seperti itu. Rasanya seperti ditelanjangi. Apalagi ia tahu Sasuke memiliki Sharingan.

"Sakura..." suara berat Sasuke membuat hati Sakura kembali berdesir.

"Ada apa Sasuke-kun?"

"Apa perasaanmu ketika melihat potret keluargaku tadi?" Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepala Uchiha terakhir itu keluar juga dari mulutnya.

"Ah... ternyata kau menyadarinya..."

"Tentu saja. Kau lupa aku memiliki Sharingan? Kau tidak bisa berbohong di hadapanku."

"Hm, bagaimana kalau pertanyaannya kubalikkan padamu. Apa yang kau rasakan saat melihat potret keluargamu tadi?" Sakura mencengkram pergelangan tangannya.

"Tidak ada."

Mata emerald Sakura melebar. "Kau pasti bohong kan Sasuke?" bagaimana mungkin pemuda ini tidak merasakan apapun saat melihat potret keluarganya tadi? Ia saja yang notabenenya adalah orang luar merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya. Ya siapapun yang tahu kisah ironis keluarga patethic ini pasti akan merasakan hal yang sama dengannya. Lalu kenapa Sasuke malah tidak merasakan apa-apa?

"Tidak." Sasuke menutup matanya perlahan. "Hatiku sudah kebas sejak kejadian itu."

"Mati rasa." Sasuke mengangkat bahu. "Ya, kau tahu kan jika kau terlalu sering merasa sakit, lama-lama rasa itu tidak akan terasa lagi."

"Sasuke-kun..." Sakura tak tahu harus bicara apa. Sejujurnya ia kasihan pada pemuda yang ada di hadapannya ini. Tapi ia tahu bahwa Sasuke sangat tidak suka dikasihani.

"Saat aku melihat reaksimu tadi aku merasa sangat heran. Kenapa kau bisa merasakan perasaan itu sementara aku tidak?" Sasuke menautkan jari-jarinya di depan dagunya. "Aku memikirkannya dengan keras namun aku tetap tidak mendapatkan jawabannya."

"Kau tahu Sasuke..." Sakura akhirnya angkat bicara. "Setiap orang yang punya ikatan denganmu pasti bisa merasakan apa yang seharusnya kau rasakan. Bahkan disaat kau mati rasa sekalipun mereka pasti bisa merasakannya."

Sasuke hanya terdiam membiarkan Sakura menyelesaikan penjelasannya. "Aku, Naruto, dan Kakashi-sensei contohnya... kau tanpa sadar telah membentuk ikatan yang sangat kuat dengan kami. Sedikit banyak kami bisa merasakan apa yang kau rasakan, mengetahui apa yang kau pikirkan, itulah sebabnya mengapa kau tidak perlu berkata apapun pada kami agar kami mengerti apa yang kau pikirkan."

"Ikatan..." Sasuke bergumam pelan. "Ikatan apa yang ada di antara kita?"

Sakura sedikit tersentak ketika mendengar pertanyaan pemuda itu. Ia menelan ludahnya. "Ya, walaupun kau tidak menganggapku sebagai teman. Setidaknya aku adalah rekan satu timmu dulu. Kita sudah menghabiskan banyak waktu bersama, jadi mau tidak mau pasti aku bisa membaca gerak-gerikmu dan mengetahui apa yang kau pikirkan."

"Hn..."

"Kalau menurutmu, ikatan apa yang ada diantara kita berdua Sasuke-kun?" Sakura akhirnya menanyakan pertanyaan yang sejak dulu ingin ia utarakan. "Kau menganggapku sebagai apa?"

Sasuke hanya terdiam. Terlihat jika ia berusaha memikirkan jawaban dari pertanyaan Sakura dengan keras. "Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu."

Sakura hanya tersenyum simpul. "Tidak usah dipikirkan terlalu keras Sasuke. Aku sudah tahu kalau aku tidak berarti apa-apa bagimu."

"Tidak! Bukan begitu!" tanpa sadar Sasuke menarik keras lengan Sakura. Ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu. "Tidak! Bukan itu maksudku!" Sakura hanya mengangkat alisnya heran. "Lalu? Apa maksudmu?"

"Aku..."

"Silakan ini pesanan Anda. Silakan menikmati." Perkataan Sasuke kembali terpotong saat pelayan kembali datang mengantarkan makanan pesanan mereka. Hampir saja ia mencaci pelayan itu karena mengganggunya disaat yang sangat krusial. Untung saja ia masih sadar diri sehingga tidak melakukan hal itu.

"Terima kasih." Sakura tersenyum pada pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan mereka. Pelayan itu tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

"Ayo makan Sasuke." Sakura seolah ingin mengalihkan perhatian Sasuke dari objek pembicaraan sebelumnya.

"Aku... aku tidak pernah mengerti... kenapa aku selalu memikirkanmu? Kenapa saat aku sekarat di tengah hutan yang terpikir dalam benakku adalah dirimu? Bukankah seharusnya aku senang karena jika aku mati, mungkin saja aku bisa bertemu dengan keluargaku di surga. Kenapa aku malah memilih bertahan hidup di dunia yang menyedihkan ini? Katakan Sakura! Kenapa? Kenapa?"

"Sasuke-kun..." Sakura kini kembali salah tingkah ketika menghadapi Sasuke yang tiba-tiba saja emosinya memuncak seperti saat ini. "Maaf Sasuke-kun aku tidak bermaksud..."

"Sejak dulu aku tahu... kau dan aku... kita telah memiliki ikatan." Sasuke mengacak rambut hitamnya dengan kasar. "Dan aku terlalu bodoh karena berusaha memutuskan ikatan itu demi obsesiku untuk membalas dendam." Mata onyxnya memandang mata emerald Sakura dengan tatapan sendu. "Aku membuang segala yang kumiliki hanya untuk hal yang sia-sia. Pikiranku bertambah kalut saat aku mengetahui bahwa Itachi terpaksa melakukannya demi Konoha. Kebencian semakin menyelimutiku saat aku bertemu dengan Danzo yang dengan teganya merampas semua Sharingan milik klan Uchiha. Aku semakin membenci Konoha dan semua yang ada di dalamnya ketika aku memikirkan kalian. Maksudku, Konoha bisa berada dalam keadaan aman dan tersenyum bahagia karena pengorbanan Itachi. Saat itu aku berpikir, kenapa mesti klan kami yang harus berkorban? Bukan klan Hyuuga, klan Yamanaka, klan Nara, atau klan berbakat lainnya? Kenapa mesti aku yang menderita sementara kalian bahagia?"

Saat ini Sakura tak bisa lagi menahan tangisannya. Pengakuan Sasuke yang begitu menyakitkan ini sangat mengganggunya. Ia merasa bersalah, tak tahu harus bagaimana. Tangannya bergetar saat ia berusaha menyentuh lengan Sasuke. Matanya melebar saat Sasuke menepisnya dengan kasar. "Aku tidak suka dikasihani."

Sakura terdiam, ia menarik napas panjang berusaha mengumpulkan keberaniannya. Akhirnya ia bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju Sasuke dan memeluknya. Sesaat ia merasa Sasuke akan berontak dari pelukannya namun ia tak patah arang ia segera mempererat pelukannya pada pujaan hatinya itu. "Aku tidak mengasihanimu." Suaranya serak karena menahan tangis. Ia tidak peduli jika Sasuke kembali menolaknya seperti dulu. Ia hanya akan terus mencoba lagi dan lagi seperti dirinya saat genin dulu. "Aku akan selalu mendukungmu walaupun seluruh dunia berbalik menjadi musuhmu." Bisiknya di telinga Sasuke. "Karena..." kata-katanya tersendat. Tubuh Sasuke menegang saat ia merasakan ada air mata yang jatuh membasahi bahunya. "aku mencintaimu."

Sakura melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Sasuke lalu tersenyum lembut. "Aku akan berusaha lebih keras untuk melupakan semuanya, aku akan berusaha keras untuk memaafkanmu, dan membangkitkan lagi rasa cintaku padamu. Aku akan berusaha menjadi lebih kuat lagi hingga akhirnya kau akan kagum padaku."

"Sakura..."

"Nah, ayo sekarang kita makan!" Sakura berjalan kembali ke kursinya dan segera mengambil sumpit untuk memakan Anmitsu kesukaannya. "Oishii! Kau harus mencobanya Sasuke! Makanan manis baik untuk kesehatan jiwamu." Ia berusaha menyuapi Sasuke. Sasuke hanya tersenyum kecil sebelum akhirnya membuka mulutnya tanpa komplain sedikitpun sampai akhirnya...

"Agh! Rasanya terlalu manis sampai membuat kepalaku pusing!"

"Ha? Yang benar saja? Rasanya enak kok." Sakura kembali memakan Anmitsunya.

"Kau bisa mati muda akibat diabetes kalau makan makanan manis seperti itu."

"Hahaha, tenang saja Sasuke... kalau aku mati aku akan mengajakmu ikut pergi ke akhirat bersamaku!"

"Jangan berkata hal bodoh Sakura, bagaimanapun aku tidak akan membiarkanmu mati."

"Heeh, Sasuke-kun! aku kan hanya bercanda! Jangan membuatnya terdengar serius begitu!"

.

Saat-saat damai seperti ini Sakura tidak ingin mengakhirinya. Ia berharap kehidupannya di masa depan bersama Sasuke dapat terus berjalan seperti ini...

Tapi... Bagaimana dengan Naruto? Bagaimana dengan perasaannya pada pemuda blonde itu?

-TSUZUKU-


Gimana? masih ada yang bingung antara mana yang delusi dan mana yang kenyataan? sudah ngga bingung lagi kan?

Sedikit spoiler dari saya, kemungkinan fanfic ini akan berakhir dalam dua chapter ke depan dan chapter selanjutnya adalah klimaks terakhir dari cerita galau ini. Jadi... jangan lelah untuk menunggu update-an selanjutnya yaaa...

Review berupa kesan, kritik, dan saran sangat saya nantikan. Saya menerima flame dengan lapang dada asalkan ada alasan yang jelas dan Anda mencantumkan ID Anda di review.

Saya berterima kasih atas semua apresiasi yang kalian berikan untuk fanfiction ini, baik itu melalui review ataukah hanya dengan menjadi silent reader.

Terima kasih atas semuanya

Love,

Akina Takahashi

Bandung, 6 Agustus 2013

Anmitsu: a Japanese dessert that has been popular for many decades. It is made of small cubes of agar jelly, a white translucent jelly made from red algae or seaweed. The agar is dissolved with water (or fruit juice such as apple juice) to make the jelly. (sumber: wikipedia)